Anne Garbo

Nightfall Summer

Disclaimer :Kuroko no Basukemilik Fujimaki Tadatoshi

Warning : peringatan warna warni ada disini. Tapi yang paling saya ingatkan adalah

Saat anda menemukan ranjau typo, dimohon agar jangan diinjak

Di ujung senja mereka duduk bersebelahan di teras kuil. Memandang keramaian jauh diujung jalan. Tangan saling bertaut. Senja ini begitu dingin, namun dalam hati terasa hangat.

Mereka sama-sama tidak mengerti kenapa tak ada satu kata pun yang mampu terucap. Hanya mata yang silih berganti melirik satu sama lain. Waktu yang berjalan lambat terasa begitu sakral. Keheningan ini justru menambah keintiman.

Seijuuro mengeratkan genggaman tanganya pada sang kekasih. Menyalurkan kehangatan lebih dibandingkan yukata tipis yang mereka pakai di musim panas ini. Merasakan kontak itu, reflek Kouki menengok ke jari mereka yang bertaut. Rona merah di wajah itu, Seijuuro menyukainya.

Keramaian di ujung jalan sana semakin terdengar. Hal itu cukup digunakan Kouki sebagai pengalih perhatian daripada mata dwi warna yang menatapnya dalam. Jantungnya berdetak bak irama taiko yang sedang dipertontonkan di keramaian sana. Tatapan mata itu, sebenarnya Kouki menyukainya.

Dikala angin khas musim panas berhembus melalui mereka, ujung lengan yukata mereka berkibar. Kouki menutup matanya, merasakan hembusan angin menabrak wajahnya lalu kembali membuka mata saat angin itu pergi memasuki celah pepohonan. Namun sebuah beban terasa di puncak kepalanya. Kouki melirik ke atas dan mendapati tangan Seijuuro yang entah sejak kapan tak lagi tertaut dengan tangannya kini membelai rambutnya pelan. Merapihkan mahkota coklat itu yang sempat berantakan akibat angin. Kouki menyukainya. Diperhatikan seperti ini, Kouki suka.

Mendapatkan senyum termanis dari kekasihnya, jantung Seijuuro seakan berhenti dalam sekian detik lalu kembai berdetak dua kali lebih kencang. Rongga dadanya terasa sakit, tapi ini sakit yang membuatnya tak keberatan. Justru ia menyukainya.

Tangan yang Seijuuro letakkan di kepala Kouki, ia gerakkan perlahan ke bawah. Menelusuri tubuh itu hingga kembali menuntun kepada jemari yang sempat ia genggam. Mendekatkan diri, Seijuuro menatap Kouki lebih dalam. Ia ingin menyampaikan sesuatu.

"Kouki.." panggil Seijuuro.

Kouki menatap balik mata dwi warna itu. Tangan satunya lagi menggenggam kuat ujung kayu - lantai kuil yang mereka duduki - kuat-kuat. Mungkin dengan itu bisa meredam detak jantungnya yang menggila.

Rangkaian kata itu tertahan begitu saja di kerongkongannya. Itu hanya beberapa rangkai kata mudah, tapi entah kenapa sulit terucap. Mungkin karena keintiman ini. Mungkin karena tangan Kouki membalas genggaman tangannya. Mungkin juga karena mata itu lurus memasuki dirinya.

Namun begitu menyadari wajah yang sangat ia suka itu mengeras, Seijuuro sadar bahwa Kouki telah menahan nafasnya, mungkin karena tegang. Seijuuro tersenyum tipis. Sifat canggung kekasihnya ini, justru adalah hal pertama yang ia suka.

Seijuuro memajukan wajahnya. Menyatukan kening mereka. Senyum tipis itu masih belum ia buang dari wajahnya. Melihat Kouki yang secara refleks memejamkan matanya, membuatnya terkekeh pelan.

Kelopak mata itu terbuka perlahan. Memandang kekasihnya penuh tanya. Kekehan Seijuuro terhenti dan kembali menyelami setiap yang tersaji di depannya. Mata itu, alis itu, hidung itu, pipi itu, bibir itu. Semua yang ada pada Kouki, Seijuuro menyukainya. Sangat menyukai bahkan mungkin kata suka saja sudah tidak cukup.

"Tak pernah terpikirkan di benakku, aku bisa menyukai seseorang sedalam ini" Seijuuro bersuara. "Tidak, sampai aku bertemu denganmu."

Mendengar itu Kouki seakan dapat kehilangan jantungnya sesegera mungkin. Ia melirik ke bawah. Tangan yang tadinya ia gunakan sebagai tumpuan di teras kuil, ia letakkan di pundak Akashi, meremas kain yukata disana. Seolah takut ia mungkin akan jantuh entah kemana jika tak berpegangan. Seolah takut tubuhnya akan lumer hanya dengan dua rangkai kata tersebut.

Bibirnya bergetar saat mengucapkan kata, "A-aku juga" . Namun gemetar itu segera digantikan dengan sebuah tekanan lain yang bahkan bisa sekaligus meninju rongga jantungnya.

Ciuman itu terasa begitu lembut dan sarat akan afeksi. Mereka berdua sama-sama memejamkan mata. Mendalami perasaan masing-masing. Menyampaikan perasaan masing-masing.

Hingga sebuah dentuman keras dan disusul kilau cahaya menyirami mereka. Terkejut akan keributan yang tiba-tiba, mereka melepaskan sentuhan bibir mereka, lalu sama-sama memandang langit yang tadinya muram kini berubah ceria.

Wajah Kouki sama cerianya. Bagaikan anak kecil yang begitu antusias. Senyumnya merekah lebar. Wajah Seijuuro juga ceria meski dengan tingkat yang berbeda. Tersenyum tipis sambil menatap Kouki dengan tatapan penuh rasa.

"Lihat Sei! Sepertinya yang tadi itu adalah kembang api yang paling besar!" ucap Kouki sembil menunjuk pada langit.

'Kembang api yang kulihat bersamamu, aku menyukainya.'

Lalu Sei melihat pada tautan jari mereka.

'Waktu yang kuhabisnya hanya denganmu, aku sangat menyukainya.'

Kemudian kembali menatap langit. Memandang kumpulan bunga langit yang bermekaran. Bercahaya. Kemilauan. Menghidupkan muramnya malam dengan kelopaknya.

'Saat-saat bersamamu seperti ini membuatku merasa lebih hidup, sama seperti kembang api di langit sana.'

Kouki menghela nafas lega saat pertunjukan kembang api selesai. Suaranya serasa akan habis karena terlalu antusias berteriak kesenangan tadi. Ia tau seharusnya tidak perlu bertindak terlalu kekanakan seperti itu.

Matanya membola saat mendapati Seijuuro menatapnya. Masih terkena efek ceria dari kembang api, Kouki tersenyum lebar sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Seijuuro. "Kau menyukainya?" tanya Kouki bermaksud menanyakan perihal kembang api pada Seijuuro.

Tapi Seijuuro menggeleng kemudian menjawab. "Aku menyukaimu."

Kouki meninju pelan baku Seijuuro karena malu, dan juga dengan wajahnya yang memerah itu juga sudah cukup meninju dada Seijuuro untuk berdetak lebih gila lagi. Tapi Seijuuro malah tertawa pelan dan menyentuh puncak kepala Kouki untuk mengacak rambutnya.

"Sei, ayo kita pulang." ajak Kouki.

Sei mengangguk. Lalu mereka berjalan meninggalkan kuil menuju keramaian di ujung jalan. Tangan masih bertaut. Tak peduli orang mau berpikir apa.

Ini hanya sepotong malam pada musim panas. Namun sepotong itu sudah cukup mewakili seluruh perasaan dan kebahagiaan yang mereka bagi.

Ini hanya sepotong malam yang pernah mereka habiskan berdua. Tapi rasa suka itu tak pernah habis karena masih ada waktu lagi untuk mereka bersama.

'Karena kebahagiaan ini, kebahagiaan mencintai seseorang yang begitu dalam ini akhirnya kutemukan.

Yaitu saat aku menemukanmu.'

Tamat←

Dan percayalah aku nulis ini sambil gegulingan. Ini apah?! Anne emang bukan spesialis fluff, jadi maaf aja klo semisal ini basi atau semacamnya.

Ide cerita ini dari lirik Little Summer milik Spyair. Bang Ikeeeeee aku kangeeeennn TtwTT *salah fokus

Note : engga di baca ulang, jadi klo semisal typos yaa...

Udah ada yang gabung ke CAFEIN? Main-main kesana atuh~ Community of Akashi and Furihata Enthusiast Indonesian dan ramein sama-sama~!