Saatnya balas review!
Billa Neko
Iya, lagi buntu nih idenya~ butuh banyak review! Makasih ya atas review-nya~
Karen White
Iya, Chris itu OC saya, bisa anda lihat di profile saya. Bukan kok~ wkwkwk harus itu! Okay~ makasih!
Hime
Hahahaha~ Okay deh!
Namikaze Kyoko
Hahaha~ okay deh! Makasih ya udh mau review
Fujiwara Maki
Okay! Sudah update! Makasih review-nya!
Arnetta : hai~ saya telah kembali!
Kaiko : fic-mu kemarin pendek banget!
Arnetta : *pundung dipojokkan*
Kaito : jangan mendiskriminasi dia, Kaiko-chan.
Luka : fic-mu yang lain itu gimana? *nunjuk2 fic Netta yang lain*
Arnetta : yah, belum selesai lah... *nyantai dan innocent*
Len+Rin : *sweatdrop*
Arnetta : *baca Disclimer and Warning-nya sendiri*
Arnetta : Disclimer : Saya tidak akan pernah memiliki Vocaloid. Saya akan memiliki Vocaloid ketika dunia kiamat. Vocaloid hanya milik Yamaha Corporation.
Semua yang ada disitu (min Arnetta) : *cengo*
Arnetta : Warning : OOC, OOT, Abal, Bikin Gila, Alur cepet bener, bahasa campur-campur, pakai 'aku' dan 'kamu', tapi kata 'tidak' berubah jadi 'gak', pokoknya kacau deh.
Semua yang ada disitu (tetap min Arnetta) : *bisik-bisik* tumben dia gak minta tolong orang...
Arnetta : check this out, minna~
All Vocaloid, All OC : enjoy, minna~
Keterangan :
"Abc" = berbicara biasa.
"Abc" = ngomong bahasa asing (selain Indonesia)/ penerimaan telepon.
'Abc' = judul sebuah lagu atau ungkapan.
'Abc' = perkataan dalam hati.
'Abc' pernyataan lampau.
"Abc" = penekan kata/kalimat.
The Singer and The Writer
Chapter 7 : First Kiss, dikejer-kejer(2), nge-gombal dan terjebak
Normal POV
Tap! Tap! Tap!
Suara kaki mereka sangat terdengar jelas. Len dengan reflek memeluk Rin untuk melindunginya dari serbuan para fans. Bagaimana dengan Rin? Yah, yang pasti dia sekarang sedang blushing dipeluk oleh Len. Tiba-tiba ada seseorang yang mendobrak pintu tempat mereka bersembunyi dan membuat Len serta Rin kaget.
Rin merasakan sesuatu yang hangat.
Apakah itu?
Ternyata itu adalah bibir maskulin milik Len yang bersentuhan dengan bibir lembut milik Rin.
APAAA?! *BGP kilat*
Oh My God! First Kiss-nya Rin diambil sama Len. Whaaatss?
Len dan Rin saling terdiam dan menatap satu sama lain dengan posisi mereka masih saling berciuman. Len sudah mulai waspada jika Rin akan mendorongnya dan berteriak sekencang-kencangnya di ruangan sekecil ini, yang pasti membuat Len mengalami ketulian untuk sementara. Len menggenggam kedua tangan Rin dengan posisi sama, mengisyaratkan jangan bergerak. Rin 'pun hanya menurut diperlakukan Len.
Para fans mereka masih ada di depan ruangan itu yang membuat Len memperdalam ciumannya dengan cara menekan bibir Rin agar Rin tidak berbicara sama sekali. Rin? Tetap masih blushing dicium sama Len. Akhirnya, terdengar langkah kaki mereka menjauh dari tempat tersebut. Len dan Rin merasa sedikit lega.
Len melepaskan ciuman mendadak itu dari Rin. Len tidak menyadari wajah Rin yang sekarang sudah akut blushing-nya karena disitu sangat gelap, hanya cahaya dari cela-cela pintu yang bisa masuk kedalam. Len menggenggam tangan Rin dengan erat lalu membuka pintu itu dengan perlahan. Len memastikan sudah tidak ada orang lagi di lorong tersebut.
"Sudah aman, Rin. Kita bisa keluar sekarang," kata Len dengan nada waspada.
Rin hanya membalas dengan anggukkan kecil pertanda 'iya'. Mereka berdua sambil bergandengan berjalan keluar. Terjadi keheningan disitu. Akhirnya, Len memutuskan untuk memecahkan keheningan. Cepat banget ya akrabnya.
"Rin," ujarnya.
"Iya?"
"Apa...itu first kiss-mu?"
"U-umh... Iya..."
"Berarti kita sama ya."
"A-apa? Itu j-juga first kiss milikmu?"
"Iya."
Setelah bercakap-cakap mengenai masalah first kiss, mereka berjalan disepanjang mall. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Namun, dunia serasa milik berdua, mereka tidak menghiraukan orang-orang yang melihat mereka.
Rin baru sadar ketika ia melewati tempat waktu mereka belanja accesories tadi.
"Len, kau lihat teman-temanku tidak?" tanya Rin dengan agak takut.
"Teman? Tidak. Memang siapa teman-temanmu?" Giliran Len yang bertanya.
"Lukanee, Kaitonii, Lin, Chris, dan Lilianne," jawab Rin.
Degh!
Hati Len terasa nyut-nyutan ketika mendengar nama Chris disebut disitu. Namun, Len berusaha menutupi kekesalan dan segala perasaan mengganjal itu dengan bersikap biasa saja.
"Luka Megurine dan Kaito Shion maksudmu?"
"Iya."
"Aku sih tidak lihat mereka," jawab Len.
"Aduh, mereka kemana sih! Baru ditinggal sebentar aja sudah pada menghilang," gerutu Rin.
"Ya sudah, mungkin mereka sudah pada pulang kali," kata Len.
"Sebentar," ujar Rin sambil mengeluarkan handphone-nya dan mulai menekan-nekan tombol di sana.
"Halo?"
"Ah, Lin, kalian ada dimana?"
"Ah, kami sudah pulang."
"Hah?! Dari kapan?"
"Sejak kau meninggalkan kami berlima. Karena kami berlima gak ada kerjaan, jadi mendingan jalan-jalan sebentar dan pulang. Kaitonii dan Lukanee juga lagi ada proyek mendadak dari manager mereka," jelas Lin panjang lebar.
"Ah, baiklah. Sekarang aku sudah bertemu Len. Aku tutup dulu."
"Okay, salam buat Len!"
"Sip!"
Akhirnya, Rin dan orang yang diteleponnya, Lin menutup teleponnya secara bersamaan. Rin menghela nafas dan menggandeng tangan Len dengan agak kasar.
"Ayo pulang. Jangan lupakan tentang akting kita menjadi sepasang kekasih," ujar Rin dengan galak namun dengan suara yang kecil.
"Baiklah," kata Len sambil menggandeng tangan Rin.
Mereka, Rin dan Len kembali menggumbar kemesraan didepan orang-orang banyak. Orang-orang yang melihat mereka hanya bisa tepar kehabisan darah. Para fanboys-nya Rin hanya bisa adu deathglare dengan Len. Sementara, Rin sedang adu deathglare dengan fangirls-nya Len. Ini 'pun mereka lakukan agar ceritanya mereka cemburu dengan para fangirls or fanboys mereka. Hahaha.. Emang lucu ya couple yang satu ini.
Rin POV
Tiba-tiba ada segerombolan orang yang berteriak sehingga membuatku dan Len kaget setengah mati. Dan yang mereka teriaki adalah,
"RIN! LEN! KAMI FANS KALIAAAN!"
"Kita kayaknya bakal mati deh, Len," ujarku.
"Iya, Rin. Aku setuju. Mendingan kita..." kata Len.
"Kabur," ujar kami berdua.
Kami langsung berlari menuju kemana saja. Aku bisa merasakan wajahku kembali memanas akibat genggaman tangan kekar Len yang menggenggam erat tanganku. Aku dan Len berlari-lari disekitar area lantai yang sekarang kami berdua pijaki. Len menarikku ke sebuah toko kecil menjual jajanan ala Indonesia dan mengajakku untuk bersembunyi.
"H-hei!" teriak pedagang penjual jajanan itu sementara itu kami masih sibuk mencari tempat yg pas untuk sembunyi.
"Here!" ucap Len spontan yang membuatku terasa kaget.
Aku hanya menggangguk sambil berkata 'ha'i' dan segera menuju tempat yang di tunjuk oleh Len. Kami sekarang sudah berada dibawah tumpukkan kardus-kardus. Gimana caranya ya? Jadi gini, aku dan Len melihat tumpukan kardus yang sangat banyak dibelakang. Lalu, aku melihat Len yang sepertinya sedang berpikir keras. Lalu, Len menarik tanganku dan menyuruhku berjongkok. Dia, berjongkok disebelahku dan menutupi diri kami dengan kardus.
Aku dapat mendengar suara perbincangan para fans kami didepan. Begini isi pembicaraan mereka.
"Hei! Mereka ada dimana?" tanya seorang perempuan dan ku yakini dia adalah fangirls-nya Len.
"Iya, mereka tiba-tiba menghilang," sahut seorang laki-laki yang ku yakini juga dia fanboys-ku.
"Sudah lah, mereka mungkin sudah pergi," sahut yang lain.
"Baiklah, mending kita bubar," sahut orang lain.
Akhirnya aku mendengar langkah-langkah kaki mereka yang berjalan pergi. Pasti kalian heran, aku dan Len yang berada di belakang bisa mendengar suara langkah kaki mereka. Jangan salah, aku ini memiliki pendengaran yang tajam bahkan setajam silet (?). Kok jadi kayak infotaiment sih? Authornya baka banget sih, sukanya nonton infotaiment itu aja sih.
"Sepertinya sudah aman, Rin. Kita bisa keluar sekarang," kata Len.
Aku hanya menggangguk mengiyakan pernyataannya. Dari tadi dia terus menggandeng erat tanganku. Bodoh, aku 'kan gak akan pergi kemana-mana (-_-"). Dia menyingkirkan kardus-kardus besar tersebut dan mulai membantuku berdiri. Aku agak-agak blushing gitu. Len langsung membawaku keluar dari toko kecil itu. Sebelumnya, kami mengintip dulu apakah mereka semua sudah benar-benar pergi.
Aku melihat jajanan indonesia yang menarik. Dari dulu, aku ingin banget pergi ke Indonesia dan melihat-lihat di sana. Cuma, menurutku belum ada timing yang tepat untuk berjalan-jalan kesana. Aku menarik tangan Len untuk melihat jajanan-jajanan khas Indonesia. Aku membeli cireng, kotak-kotak goreng, dan lemper. Lumayan lah bisa buat mengganjal perutku yang lapar.
Lalu, kami melihat mereka semua berbelok ke arah pintu keluar utama. Kami bertiga -maksudnya- berdua langsung menghela nafas lega.
"Akhirnya kita bisa selamat dari kejaran para orang-orang yang brutal itu," ucap Len sambil menghela nafas lega.
"Iya, kalau gak kita bisa disate kali sama gerombolan fans," tambahku dengan suara agak keras.
Len POV (cepet banget ganti POV-nya)
Rin ngomongnya keras banget ditelingaku. Gila, itu si Rin 'mah suaranya cempreng banget. Bikin sakit telinga tau! O, iya! Hei! Ketemu lagi dengan si ganteng, kece, dan keren ini. Siapa lagi kalo bukan penyanyi terkenal Len Kagamine~ (a/n : banggain diri sendiri, pede banget -_-"). Sekarang, aku dan Rin sedang berada di mall dan abis dikejar-kejar sama orang-orang brutal itu. Yang 'tak lain dan 'tak bukan adalah para fans yang brutal.
Aku merasakan firasat buruk yang menghantuiku. Aku menggenggam tangan kiri Rin dengan erat. Membuat dia terperanjat dan hampir menjatuhkan makanan kecil yang agak kenyal dinamakan lemper itu. Dia langsung menghabiskan lempernya dan memukulku.
"Aduuuh..." rintihku kesakitan. Meski badan Rin itu kecil, namun tenaganya tidak bisa diremehkan. Mungkin tenaganya bisa membuat seorang dewasa terjatuh dengan posisi yang tidak elit sama sekali.
"Salah sendiri kau mengagetkanku. Sudah tahu aku lagi makan!" sinisnya yang mematikan disertai death-glare yang membuat bulu kudukku merinding.
"Iya..iya.. Maaf deh... Aku yang salah," sahutku.
Aku merasakan hawa buruk itu semakin mendekat. Please.. aku bukanlah paranormal dan orang yang memiliki kekuatan supernatural. Aku mendengar derap kaki orang-orang dibelakangku. Aku merasa, Rin juga merasakan hal yang sama denganku. Aku sudah mengambil ancang-ancang untuk segera berlari.
"Rin, jika aku bilang lari, kau harus lari," bisikku.
Sudah terdengar suara langkah kaki mereka dengan sangat jelas. Aku bisa melihat bayangan-bayangan orang-orang dibelakangku. Rin dan aku saling bertatap-tatapan mengisyaratkan agar bersiap-siap.
"LEN KA-GA-MI-NE DAN RIN CLA-RIS-SA! KAMI FANSMUU!" teriak mereka serempak.
"Lari!" teriakku.
Kami berdua kembali berlari-lari menyusuri mall besar tersebut. Kami mencari-cari lift untuk membantu kami keluar dengan cepat dari sini. Hampir semua lift yang ada disini sudah penuh oleh orang-orang. Aku menghela nafas untuk menenangkan diriku sejenak.
"Rin genggam tanganku dengan erat," kataku pelan.
"Baik, Len," jawabnya sambil menggenggam erat tanganku.
Aku mencari tempat persembunyian sementara yang bisa aku dan Rin pakai. Aku dan Rin bersembunyi di balik sebuah tembok besar. Kami merasa kami sudah aman disana. Kami bisa melihat bayang-bayang para 'zombie'fans itu. Aku merasakan bayangan mereka yang semakin mendekat ke arah kami bersembunyi. Aku sudah merasakan tempat ini sudah tidak aman lagi dijadikan tempat persembunyian. Aku kembali membisikkan beberapa kata kepada Rin.
"Rin kau harus memasang posisi nyaman, karena sebentar lagi kita akan berlari," bisikku pelan.
"Iya," jawabnya singkat.
Normal POV (cepeet... -_-")
Para orang-orang yang mengejar Len dan Rin sudah berada sangat dekat dengan tempat mereka bersembunyi. Len langsung berancang-ancang menarik tangan Rin.
"Len-samaa, Rin-sama, dimana kalian?" kata para fans Len dan Rin yang sekarang sudah mirip sama psycopath.
"Lari, sekarang," ujar Len sambil menarik tangan Rin.
Rin yang agak kaget ditarik oleh Len, mencoba untuk mengikuti kecepatan Len dalam berlari. Wajar saja, Rin tidak bisa mengikuti kecepatan berlari Len. Len itu cowo, dia tinggi, kakinya panjang, kecepatannya juga pasti bakalan lebih cepat dari Rin yang seorang perempuan, lebih pendek dari Len, yang sudah pasti kakinya akan juga lebih pendek, pasti kecepatannya lebih lambat dari Len. Ehem.. kok jadi kayak teori gitu sih? Maaf ya.. hehe~
Len dan Rin terus berlari tidak berhenti. Rin menemukkan sebuah pintu berwarna merah. Rin lalu memberi petujuk agar Len mengikutinya. Len yang sekarang gantian menurut kepada Rin. Sebenarnya, Len tidak yakin akan tempat yang ditunjuk Rin untuk bersembunyi. Tapi, daripada mereka berdua mati di keroyok oleh para fans yang brutalnya nauzubliah dah. Len dan Rin masuk ke dalam pintu merah tersebut. Mereka menemukkan banyak sekali barang disitu. Disitu ada meja-meja yang tidak terpakai, kursi yang tidak terpakai juga, ada speaker masjid(?) yang sudah agak rusak, toa disekolahan author(?) yang sudah pecah ujungnya kayak toa 'World is Mine' itu yang dibanting sama Hatsune Miku sampai ujungnya pecah. Terus, disitu ada tempat tidur(?), AC(?), dan perlengka- WOY! BUKAN HOTEL! Pokoknya disitu ada bermacam-macam barang yang gak mungkin ada digudang. Ternyata, ini adalah gudang ajaib, pemirsaaaah~ Maaf, authornya lagi agak gila gara-gara dia lagi jalan-jalan waktu nulis chapter in- KOK CURHAT SIH? OOT BANGET DEH! Okay minna, back to story.
"Kau pintar juga, Rin," puji Len setelah mereka berdua masuk ke dalam pintu merah itu.
"Wah, itu mah pasti atuh," ujar Rin. (Lah kok pakai bahasa daerah?)
"Gak salah abang milih calon tunangan, eyih," kata Len dan mendapatkan cubitan 'cinta' dari Rin.
NYUUT!
"Aduuh..." Len meringis kesakitan akibat cubitan 'cinta' dari Rin.
"Salah sendiri! Menggodaku terus," sahut Rin dengan nada ketus.
"Aih, aih.. Kau 'kan calon tunanganku, wajarlah aku goda~" kata Len lagi.
BUAGH!
"Aduuuh... Itai," ringis Len yang kedua kalinya setelah mendapat pukulan 'sayang' dari Rin.
"Meski aku jadi tunanganmu, Aku gak akan pernah mencintaimu titik," sahut Rin dengan nada yang dingin dengan disertai dark aura yang sangat-amat-teramat kelam.
"I-iya..a-am-pun-ampun..." Len bergidik ngeri melihat Rin sampai bicaranya tergagap.
"Dan tunangan itu 'pun, kita hanya berpura-pura. Ingat, berpura-pura dan tidak lebih," tegas Rin dengan menekankan kata -berpura-pura dan tidak lebih-.
"Iya, iya.. 'Gak mungkin juga aku suka sama orang kayak gitu," gumam Len pelan.
Tanpa Len sadari ternyata Rin bisa mende-
BLETAK!
-ngar apa yang dikatakan Len. Karena, di sana cuma ada Len dan Rin dan suasana disana sangat sepi. Pasti, salah satu dari mereka ada yang berbicara, meski sepelan apapun akan terdengar. Rin memberikan jitakkan 'kasih' kepada Len. Len kembali meringis kesakitan akibat jitakan Rin. Ingat! Badan Rin emang kecil. Tapi tenaganya, jangan main-main.. Sudah kayak kuli!
"Ah~ Hmm... Bapak kamu seorang pemanah ya?" tanya Len.
"Iya, 'kok tau?"
"Karena kamu telah memanah-manahkan hatiku dengan panah cintamu!" Len menggombal.
Len tambah senang menggoda dan menggombali Rin. Rin? Lagi menampakkan(?) rona-rona merah dipipi mulusnya.
"Eaaaa~ cieee, Lennii dan Rinnee~ Lennii ngegombalin Rinnee," kata Author yang tiba-tiba muncul seperti jin dari jamban bekas yang ada di FF sebelah.
Len dan Rin tidak mempedulikan si Author yang datang tidak diundang dan pulang tidak diantar ini (emang jelangkung?). Len dan Rin sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Mari kita lihat apa yang sekarang Len gombalkan kepada Rin.
Yang pertama ada :
"Rin-chan~" kata Len.
"Iya, Len-kun?" jawab Rin.
"Ibu kamu tukang nyambel terasi ya?"
"Kok tau?"
"Karena kamu telah mengulek-ngulek hatiku," jawab Len.
Rin langsung nge-blush mendengar gombalan dari Len. Author 'pun kicep dan cengo dibuatnya.
Yang kedua :
"Hmm... Bapak kamu, tukang jualan es campur ya?"
"Iya, kok tau?"
"Soalnya kamu telah mencampur adukkan cinta kita~"
"Eaaaa~ Lennii sama Rinnee co cuit banget~" timpal si Author sambil duduk di atas lampu(?).
Yang ketiga :
"Hmm... Kakak kamu tentara ya?"
"Iya, kok tau?"
"Karena kamu telah menembak-nembakan hatiku," gombal Len.
"Cuiit~ cuiit~! Mantaaap~!" Author berkata lagi.
Yang keempat :
"Bapak kamu polisi ya?" tanya Len.
"Kok tau, Len?" jawab Rin.
"Karena kamu telah memenjarakan hatiku ke hatimu," lanjut Len.
"Eaaaaak~ Lennii emang keren banget!" teriak Author yang suka banget sama Len setelah Valshe dari Nico-Nico Douga tentunya. (Lah, sekalian numpang promosi.. hehehe).
Rin sudah blushing aku digoda-godain sama Len. Len mah hanya cengar-cengir menandakan kemenangannya untuk menggoda Rin. Len ini emang parah juga. Orang digodain malah seneng.. emang aneh-aneh aja. Len meng-stare Rin terus untuk menambah kesan bahwa di dalam gudang yang sangat-sangat gelap tapi lumayan besar ini menjadi lebih romantis gitu. Rin berusaha menutup blushing-nya dengan bersikap biasa saja seolah 'gak terjadi apa tadi. Tidak lama kemudian, mereka mendengar suara-suara orang di depan gudang itu. Len dan Rin kembali ngeri. Mereka juga gak mau kalo kejadian di chapter ini dibagian awal terulang lagi. Yang paling gak mau sih sebenarnya Rin.
Tidak terasa sudah 1 jam mereka menunggu dan mereka berdua sudah terlelap di dalam gudang itu. Dengan posisi Len dan Rin yang duduk bersebelahan, kepala Rin yang bersandar di bahu Len, dan kepala Len yang berada di atas kepala Rin, serta tangan mereka yang saling bertautan atau bergandengan. Ciee elah, posisinya so sweet banget!
Author sih yang tadi dateng gak diundang itu, cuma ngeliatin aja. Iri getoh (baca : gitu), biasa 'kan Author-nya masih kecil..gak boleh pacar-pacaran dulu. Terus si Jin Author ini mendengar suara pintu yang dikunci. Jin Author ini ngeri juga. Dia melihat Len dan Rin yang tidur dengan antengnya. Jadi, kasihan juga mau diganggu. (Len+Rin : kita gak perlu dikasihanin! | Author : I-i-iya..m-maaf..). Akhirnya, si Author baka ini membiarkan pintunya dikunci dan menunggu Len dan Rin bangun.
Jam 06.30, Len dan Rin terbangun dengan si Jin Author itu sudah tertidur. Pada mulanya, Len yang terjaga duluan. Len melihat Rin yang bersandar di pundaknya. Len mengusap-usap kepala Rin dengan lembut. Emang nih cowo, masih 17 tahun, perhatiannya selangit. Rin yang saat itu masih tertidur, menggenggam erat baju Len seakan tidak mau kehilangan pemuda ekor kuda(?) tersebut.
"Len..." Gadis itu mengigau.
"Iya?"
"Jangan pergi dari sisiku," kata Rin sambil mengeratkan genggamannya.
"Aku...gak akan pernah pergi dari sisimu, Rin," jawab Len.
Tak lama kemudian, Rin terbangun. Len mengusap-usap kepala Rin dengan lembut. Rin yang masih setengah sadar, hanya diam saja menikmati tangan Len yang mengusap rambutnya. Len hanya tersenyum. 3 menit kemudian setelah Rin sadar dan Len masih merangkulnya, Rin merasakan hal aneh.
Mari kita hitung mundur dari :
3...
2...
1...
"GYAAAA! LEN KAGAMINE SEORANG SHOTA PERVERT*!" teriak Rin.
"Aduuuuh..." Len yang lupa menutup telinganya mengaduh kesakitan.
"Dasar cowo shota pervert," kata Rin.
"APAA?!"
Rin tidak memperdulikannya dan berjalan mendekati pintu serta mencoba membuka knop pintunya. Namun, tidak bisa terbuka. Rin mencoba tenang dan kembali mencoba membuka knop pintunya. Dia lalu memanggil Len dan mencoba menyuruhnya membuka pintu tersebut. Namun, sama saja dengan Rin. Nihil. Len dan Rin merasakan hal yang ganjal. Len dan Rin berpikir apa yang mengganjal dipikiran mereka. Akhirnya, Rin baru menyadari sesuatu yang dapat membuat mereka terkunci.
Mau tahu apa itu?
Yakin?
"Len, aku baru ingat kalau mall ini akan tutup jam 6 karena ada hal yang harus pemimpin mall ini lakukan," kata Rin.
"APAA?!"
To Be Continue...
Arnetta : Konnichiwa minna~ bagaimana?
Kaito : abal
Luka : typo(s)
Lilianne : gak nyambung
Chris : OOC
Lin : OOT
Kaiko : alur cepet
Len : ancur
Rin : *mengiyakan semua komentar mereka (min Arnetta)*
Arnetta : HUWEEE! *pundung di pojokkan gudang*
Gumiya : pake ada acara jin-jin-an segala lagi.
Lilianne+Chris : reviewnya minna~
R
E
V
I
E
W
.
v
