"Your ilness does not define you. Your strength and courage does. Be Brave, Be Humble."


CHAPTER 6

[-][-]

SPELL MY NAME


Summer 2018, June.

"Terima kasih karena sudah sempat meluangkan waktu untuk hari ini. Meski aku tahu ini bukan waktu yang tepat karena kita semua sedang berduka, namun Direktur mengamanatkan bahwa hal ini harus segera… dilaksanakan."

Chanyeol duduk dalam diam, wajah Ibu tirinya— Kwon Boa—seperti meleleh dalam make up tebalnya di mata Chanyeol.

Ia berpikir keras selama beberapa saat meski kepalanya pening, mencoba untuk mengingat-ingat nama pria yang tengah berdiri di ujung meja di samping kirinya—Sekretaris Ayahnya. Chanyeol tidak ingat. Tapi mungkin marganya adalah Yoo.

Sehabis setelah selesai memakamkan Ayahnya, Chanyeol mengikuti pria tua itu untuk masuk ke mansion besar mereka dan duduk di meja makan marbel. Meja makan marbel itu bentuknya memanjang, berwarna krem.

Di hadapan Chanyeol—duduk dengan mata yang memelototinya—adalah Siwon dan Ibunya Kwon Boa. Di sebelah pasangan Ibu dan anak itu ada Han Jisoo dan anaknya Chaeyoung. Chaeyoung memakai topi bundar berwarna hitam yang disematkan jaring berwarna serupa dan kacamata gelap, sibuk mengutak-atik ponselnya sementara Han Jisoo melirik mereka semua bergantian dengan ekspresi gugup. Kemudian, di samping kanan Chanyeol adalah Sehun dan Sejun lalu ibunya, Kim Hyoyeon.

Hanya Chanyeol sendiri yang tidak memiliki Ibu.

Pemikiran itu membuatnya terkekeh, mengundang tatapan mengerikan dari duo Ibu dan anak di hadapannya.

Beberapa pelayan mulai muncul dan membawakan mereka beberapa pot teh hangat dan berbagai macam makanan kecil.

"Tuan muda," pelayan di sampingnya menawarkan handuk kecil. Chanyeol mengangguk, meraih handuk itu. Ia menyadari bahwa pakaiannya hampir basah kuyup dan sepatunya terselimuti oleh lumpur.

"Ibu, lihat bajingan ini. Dia mabuk di hari Ayah meninggal."

Chanyeol memutar bola matanya, berhenti mengusap rambutnya yang basah dan melemparkan handuk basah tersebut kepada Siwon dengan kekuatan penuh—tepat di muka tololnya.

"Hei!" Siwon memukul meja dengan keras dan berdiri.

Chanyeol mendongak dan menatap tajam Siwon. "Kalau kau mau bergosip dengan Ibumu, maka lakukan dengan benar. Aku masih bisa mendengarnya."

Chanyeol merasakan sedikit tepukan di lututnya—Sejun, atau mungkin Sehun, Chanyeol tidak tahu—memberinya dua jempol dari bawah meja. Sudut bibir Chanyeol terangkat ke atas.

Kemudian, Chanyeol mengedarkan pandangannya pada sekelompok orang yang duduk di meja marbel, "lagi pula memangnya aku tahu pria itu bakal mati hari ini?"

"Tutup mulut!" Kwon Boa menuding Chanyeol geram. "Kau anak tidak tahu diri. Apakah kau tahu sebarapa banyak uang yang Direktur habiskan untukmu? Tapi kau dengan mudahnya—"

"Eonni," Han Jisoo memotong, memegangi lengan Boa. "Sudahlah. Bukan waktu yang tepat untuk hal sepert—"

Boa menepis tangan wanita itu begitu kuat hingga ia berteriak. "Siapa yang kau coba panggil eonni? Kau juga dan anakmu, membuatku muak."

Untuk pertama kalinya, Chaeyoung mendongakkan pandangannya dari ponsel genggamnya dan balas menatap Boa sengit. Namun sebelum ia mengatakan apapun, pria tua di ujung meja berdeham dengan sangat keras.

"Maafkan aku, Nyonya sekalian, Tuan dan Nona Muda. Aku sungguh-sungguh tidak punya waktu untuk ini."

Kwon Boa menarik tangan Siwon dan pria itu segera duduk di kursinya, masih menatapi Chanyeol dengan penuh kebencian sementara Chanyeol sendiri hanya berusaha untuk tidak kolaps di tempat ia duduk karena kepalanya terasa sangat berat.

"Ini adalah surat yang ditinggalkan oleh Direktur—"

"Baca suratnya nanti saja." Boa mengibas-ngibaskan tangannya. "Sekarang beri tahu aku siapa yang akan meneruskan perusahaan—oh, sebenarnya, tidak perlu." Ia mengelus kepala Siwon dengan sayang setelahnya, "tentu saja yang akan mengambil alih perusahaan adalah Siwon. Anakku adalah anak tertua dan yang paling berkompeten." Boa melirik Chanyeol setelah ia mengatakan itu—jelas sekali sedang mengisyaratkan bahwa Chanyeol adalah kebalikan dari semua yang ia katakan tentang Siwon.

Kim Hyoyeon berbunyi untuk yang pertama kalinya. "Kurasa tidak begitu, eonni. Bisa saja salah satu dari anakku." Ia tersenyum, bersedekap dengan gaya santai.

"Ha!" Kwon Boa tertawa, begitu juga Siwon yang terkekeh dengan gaya merendahkan, "jangan buat aku tertawa. Sehun dan Sejun masih sekolah. Dan mereka sering terlibat masalah." Matanya beralih kepada Chanyeol. "Tapi kau lebih parah, tentu saja. Jadi peluangmu—bahkan untuk mendapatkan secuil saham perusahaan adalah nol besar."

Chanyeol mengangguk. "Benar sekali. Terima kasih. Aku anggap itu sebagai pujian."

Bocah di sebalah Chanyeol—Chanyeol yakin sekarang bahwa ia adalah Sehun karena ada tanda lahir di belakang telinga sebelah kirinya—menoleh dan menatapi Chanyeol dengan mata berbinar, seakan kagum. Chanyeol mungkin saja salah, tapi Sehun dan Sejun adalah orang yang paling ttidak pernah mencari masalah dengannya.

"Sayang sekali, Nyonya," Sekretaris Yoo bersuara, "Siwon harus terus fokus di rumah sakit karena ia baru saja mulai sebagai dokter intern." Pria itu mengenakan kacamata yang tadinya ia gantung di leher, lalu membaca dokumen yang ia pegang, "alasan lain yang dituliskan oleh Direktur adalah karena Siwon tidak punya kemampuan untuk memimpin perusahaan."

Chanyeol terbatuk—berusaha untuk menyembunyikan tawa sarkasmenya, sementara Sehun dan Sejun merasa bahwa mereka sama sekali tidak perlu menyembunyikan tawa tersebut, malah merayakannya dengan ber-high five ria. Kim Hyoyeong lebih parah—Chanyeol yakin wanita itu sedang histeris sekarang.

Wajah Siwon dan Ibunya memerah.

"Tidak mungkin!" Boa berdiri, merampas kertas yang sedang dipegangi oleh Sekretaris Yoo. Ia membacanya dengan cepat, lalu menyobek-nyobeknya dengan brutal dan menghamburkannya ke wajah Chanyeol.

"Dia." Kwon Boa menuding Chanyeol dengan telunjuk bengkok yang kukunya dihiasi kutek merah darah. "Direktur ingin dia yang mengambil alih perusahaan."

"Apa?!" Kim Hyoyeon berdiri. "Eonni! Kenapa kau robek kertasnya?!"

Sehun menepuk lengan Chanyeol dan berbisik, bersamaan dengan Sejun yang menatapinya antusias, "aku sudah menduganya. Selamat, hyung."

Chanyeol tidak yakin bahwa apa yang ia dengar barusan adalah sesuatu yang benar, jadi ia menoleh ke arah Sekretaris Yoo dan kepada si kembar identik—Sehun dan Sejun—secara bergantian.

Han Jisoo adalah yang paling tenang. Ia sudah menduga bahwa hal semacam ini—menentukan ahli waris dan perusahaan hanya akan diberikan kepada anak laki-laki, sementara ia memiliki anak perempuan—bukan berarti ia menyesalinya. Sebaliknya, Kwon Boa dan Kim Hyoyeon sangat jarang menargeti mereka. Han Jisoo sudah cukup puas dengan kehidupannya, terlebih karena Chaeyoung sudah debut menjadi idol, ia tidak punya kekhawatiran lain. Jadi wanita itu mengangkat tangannya dengan kalem. "Bagaimana dengan Chaeyoung?"

"Nona Chayoung dan Nyonya akan mengambil alih departement store di Gangnam, sementara Sehun dan Sejun diberikan apartemen Hyundai di daerah Myeong-dong sebagai investasi."

"Ta-tapi," Siwon mulai berusara, "dia ini terbelakang." Ia menunjuk Chanyeol. "Nilainya di sekolah bahkan tidak bagus! Aku yang berhasil masuk ke Universitas Seoul jurusan kedokteran. Aku cakap dan mampu! Ayah tidak bisa melakukan ini."

"Tuan Muda Siwon, kau tidak lulus masuk ujian."

Kwon Boa hampir pingsan begitu ia mendengar kalimat Sekretaris Yoo. Syukurlah Siwon dengan sigap meraih Ibunya sebelum wanita itu menghantam lantai. "Sekretaris Yoo, jangan lakukan—"

Sekretaris Yoo menurunkan kacamatanya dan mengusap keningnya yang berpeluh, "Kau bisa masuk karena koneksi Ayahmu. Kau tidak lulus ujian, Tuan Muda."

"Apa?" Siwon terperangah, lalu menatapi Ibunya curiga. "Ibu… kau tahu tentang ini?"

Chanyeol yakin wajah Kwon Boa baru saja dirasuki hantu karena wajah wanita itu mendadak berubah menjadi pucat. Bahkan make up tebalnya tidak bisa membantu untuk mengembalikan rona wajahnya.

"A-aku melakukan yang kubisa sebagai Ibumu, Siwon. Ayahmu menyetujuinya. Kau seharusnya berterima kasih—"

"Kau yang meminta Ayah untuk meluluskanku?"

"Aku hanya—"

Siwon menyentakkan tangan dari Ibunya dan berderap pergi dari ruang makan, wajahnya merah padam. Wanita itu terlihat sangat bingung. Keinginannya terbagi dua—antara hendak mengejar Siwon dan tetap berargumen di meja makan. Namun ia memilih opsi nomor dua karena selanjutnya ia berkata, "Sekretaris Yoo, kau tidak bisa melakukan ini. Kau juga tahu bahwa bocah ini tidak bisa melakukan apapun, dan apa kau bilang? Direktur ingin ia yang mengambil alih perusahaan? Kita semua bisa hancur!"

"Nyonya, tolong tenangkan diri Anda." Sekretaris Yoo menyuruhnya duduk, namun wanita itu menolaknya dengan kasar. Sekretaris Yoo membuang napas lelah. "Aku hanya melakukan apa yang ditugaskan. Posisiku disini adalah sebagai seseorang yang menyampaikan amanat. Aku menyampaikan semuanya persis seperti yang Direktur inginkan—dan benar, Tuan Muda Chanyeol belum memenuhi persyaratan sebagai seseorang yang akan mengambil alih perusahaan, namun setelah ini ia akan diberikan pelatihan intens hingga ia bisa mencapai standar yang Direktur inginkan."

"Kami tidak masalah dengan itu." Sehun dan Sejun menyahut secara bersamaan, yang kemudian dihadiahi tepukan keras di belakang kepala oleh Ibu mereka sendiri.

"Kalian tidak dalam posisi bisa ikut senang seperti ini, anak-anak." Kim Hyoyeon berbisik sengit.

"Bagaimana jika dia menolaknya?" Boa menatap Chanyeol.

Sekretaris Yoo mengangkat bahunya. "Kalau begitu—"

"Maafkan aku," Chanyeol memotongnya kalimat pria tua itu dengan cepat. "Tapi aku sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menolak posisi ini." Salah satu sudut bibirnya naik ke atas, membentuk senyum sombong, "selamat bersenang-senang dengan rasa kecewamu—dan oh, serta rajukan anakmu."

"Ka-kau…" kedua telapak tangan Boa mengepal erat di samping tubuhnya, tapi ia tidak mampu berkata apapun.

Jadi ia berbalik dan berderap dengan marah, meninggalkan bunyi gema high heels-nya yang menghantam lantai marmer.

"Kau akan menyesali ini, nak." Kim Hyoyeon berdiri, kedua tangannya menyentak Sehun dan Sejun dengan paksa agar mereka segera berdiri.

"Bu!" Sejun beteriak protes, tapi Hyoyeon sama sekali tidak mengindahkan teriakan protes itu.

Mereka mengikuti Kwon Boa dan berderap pergi keluar dari ruang makan. Tak lama setelahnya, Han Jisoo dan Chaeyoung juga pergi. Ibu dan anak perempuan itu sama sekali tidak mengatakan apa-apa kepada Chanyeol. Hanya pergi begitu saja. Chaeyoung bahkan tidak repot untuk menoleh. Wajahnya menyiratkan seakan topik tentang warisan ini membuatnya bosan dan ia hanya ingin pulang dan berbaring ke kasurnya.

Hanya Chanyeol dan Sekretaris Yoo yang tertinggal di sana.

"Yah, kurasa itu berjalan dengan cukup baik." Sekretaris Yoo mengusap peluhnya lagi dengan lengan jas hitamnya. "Tuan Muda Chanyeol," kata pria itu ketika ia mengemasi dokumennya ke dalam map, "pelatihanmu akan mulai minggu depan. Aku mohon, dengan sangat, berusahalah dengan baik. Direktur mempercayaimu, dan aku yakin ia punya alasan yang kuat kenapa ia memilihmu."

Chanyeol tidak menjawab, namun ia tersenyum begitu lebar. Kepalanya terasa ringan.

Mereka semua akan berada di bawah kakiku. Chanyeol membatin. Aku akan menghancurkan mereka seperti yang sudah mereka lakukan kepadaku dan Ibu.

Tapi Chanyeol tidak tahu bahwa semua keinginan untuk balas dendam itu hanya angan-angan. Karena untuk 24 jam kedepan, ia tiba di rumah sakit jiwa, masih menggunakan jas hitam yang ia kenakan saat memakamkan Ayahnya.


Semuanya berjalan dengan buruk.

Baekhyun tahu seharusnya ia tidak tersenyum kala itu.

Ketika Perawat Lee memegangi lehernya sambil melengkung di lantai ruang makan, Baekhyun tahu mereka akan berada dalam masalah besar.

Perawat Lee terbatuk dan mulutnya mengeluarkan darah—belasan perawat berbondong-bondong memasuki ruang makan dan beberapa diantara mereka menggotong pria itu ke atas tandu.

Mereka semua disuruh untuk memasuki kamar lebih awal dari biasanya karena semua pasien mendadak panik dan keadaan menjadi tidak terkontrol.

Ketika mereka berjalan beriringan menuju lorong untuk kembali ke kamar, Baekhyun mendengar Jongin berbisik halus kepada Chanyeol; "hyung, apa kita membunuhnya?"

Chanyeol hanya memberinya seringai lebar. "Tenang saja. Aku akan mengurusnya."

Baekhyun ingin berteriak dan memaki pria itu. Bagaimana mungkin ia bisa bersikap begitu tenang?

Ketika mereka sampai di kamar, salah seorang perawat segera mengunci pintu kamar mereka yang berteralis. Lalu Baekhyun mendengar perawat lain berteriak bahwa mereka harus memberikan pil karbon aktif kepada Perawat Lee untuk mengatasi keracunan yang dialaminya—serta besar kemungkinan bahwa kerongkongan Perawat Lee iritasi karena ia batuk darah.

Sesuatu menghantam Baekhyun begitu telak ketika ia duduk di tepian kasurnya, membelakangi Chanyeol yang segera berbaring di kasurnya sendiri sambil bersiul rendah.

"Kita semua akan mati." Kata Baekhyun, suaranya bergetar, "begitu Perawat Lee pulih, dia akan membunuh kita semua."

"Baekhyun," Junmyeon terlihat sama resahnya, "kau tidak membantu."

Minseok duduk bersila di atas kasurnya dengan tangan di paha dan mata yang dipejamkan. "Sekiranya kau lupa," kata Minseok, "aku tidak bisa mati, ingat? Aku Tuhan."

"Apa ini salah Jongin?" Jongin bersuara, berjongkok di kasur Junmyeon dengan wajah memelas.

"Tidak." Chanyeol menjawab pertanyaan itu dengan mantap. Ia kembali duduk di atas kasurnya. "Dengarkan aku. Kalian akan baik-baik saja."

Baekhyun berbalik menghadap pria itu. Wajahnya memerah. "Aku sudang bilang padamu bahwa itu bukan ide yang bagus!"

Chanyeol berdiri, ekspresi wajahnya keras. "Lalu apa aku harus diam saja setiap kali dia menganggumu seperti tadi pagi?!"

Baekhyun mulai mengutis kutikulanya. "Tapi… kalian akan…" suaranya memudar, "karenaku, kalian akan…" Ia hampir berlari menuju wastafel ketika ia melihat sudut jempolnya berdarah. Seperti yang sudah sering ia lakukan, Baekhyun akan menuangkan sabun ke tangan lalu menggosoknya begitu kuat—seirama dengan detak jantungnya yang menggila.

Ia bergumam sesuatu, kalimatnya sulit dimengerti, tapi Chanyeol menangkapnya sebagai aku kotor, serta kalimat lain yang berupa rengekan.

Baekhyun terus menggosok tangannya namun pikirannya tak kunjung tenang.

Chanyeol jelas tidak bisa berdiam diri ketika Baekhyun melakukan hal semacam itu lagi, jadi ia membuang napas dan berjalan pelan, lalu berdiri tepat di belakang Baekhyun. Tidak terlalu dekat, namun Chanyeol bisa melihat wajahnya dengan jelas dari pantulan cermin retak di hadapan mereka.

Sosoknya tinggi dengan bahu yang lebar. Baekhyun nampak mungil jika dibandingkan dengan pria itu—kepalanya bahkan hanya sampai dada Chanyeol saja.

"Lihat aku." Kata Chanyeol, suaranya lembut

Baekhyun tidak menggubris kalimat itu dan masih menggosok tangannya.

"Baekhyun," katanya lagi, "lihat aku."

Baekhyun mendongak begitu ia mendengar suara Chanyeol, pandangan mereka terkunci dari pantulan cermin.

Chanyeol memberinya senyum.

Senyum itu lagi.

"Bagaimana kau mengeja margamu?"

"Apa?"

"Margamu. Bagaimana kau mengejanya?"

Baekhyun memiringkan kepalanya, tanpa sadar gosokan pada tangannya melambat. Ia jelas kebingungan dengan pertanyaan itu. "B, Y, U, N." kata Baekhyun, menjawab pertanyaan Chanyeol dengan menuturkan tiap hurufnya.

Baekhyun yakin mata Chanyeol baru saja berbinar. "Lalu bagaimana kau mengeja namamu?"

"B-A-E-K-H-Y-U-N?"

"Bagus." Balas Chanyeol, jelas sekali dengan nada yang puas. "Kalau begitu, sudah waktunya membasuh tanganmu."

"Apa?"

"Sudah saatnya kau membasuh tanganmu." Kata Chanyeol sekali lagi. "Kau sudah menggosoknya cukup lama dengan mengeja namamu sendiri." Ia mengakhiri kalimatnya dengan cengiran lebar.

Baekhyun menatap pria itu seakan ia terhipnotis. Matanya hanya menatap mata Chanyeol dari pantulan cermin, namun ekspresinya tidak menunjukkan emosi apapun. Senyum Chanyeol… mengerikan. Bukan dalam artian buruk, tapi Baekhyun memiliki firasat bahwa Chanyeol bisa melakukan apa saja dengan senyuman itu—entah itu tulus atau tidak—Baekhyun masih tidak bisa memutuskan.

"Baekhyun?"

"Ya?"

"Basuh tanganmu."

Bahkan tanpa menyadarinya, Baekhyun mengangguk.


Penghuni kamar 614 berdiam diri setelahnya. Waktu berjalan begitu mengerikan ketika manusia tak saling berbicara. Jongin terlelap di kasur Junmyeon sambil memeluk kakinya ketika jam bahkan belum menunjukkan pukul sepuluh. Ketika Baekhyun menoleh, Junmyeon ternyata juga sudah memejamkan matanya.

Minseok masih duduk di posisi yang sama sambil menggumamkan kalimat yang ia katakan sebagai 'balasan doa' untuk umatnya—sementara Baekhyun, ia melakukan hal yang seringkali ia lakukan untuk menenangkan diri; menyusun botol sabun dan hand sanitizer-nya.

"Berhenti menatapiku." Baekhyun meletakkan satu botol lagi di atas meja kecilnya.

"Aku tidak sedang menatapimu." Balas Chanyeol, yang jelas-jelas adalah suatu kebohongan.

Baekhyun menggerutu kesal setelahnya. Ia bisa merasakan hawa panas dari tengkuknya hanya karena Chanyeol menatapinya—atau lebih tepatnya mengawasi gerak-geriknya, sedari tadi.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol setelahnya.

Baekhyun tidak berani menoleh, namun ia yakin Chanyeol sedang duduk di tepian kasurnya sembari memandangi Baekhyun.

Baekhyun menghancurkan susunan botolnya dan kembali mulai dari awal, kali ini dengan susunan dari ukuran yang terbesar hingga terkecil. "Kau tidak perlu terus-terusan melakukan itu."

"Aku tidak mengerti."

Tapi Baekhyun berusaha untuk tidak menggubris Chanyeol. Ia menyelesaikan susunan terakhirnya dan baring ke kasur, bergelung dalam selimutnya lalu memejamkan matanya.


Ia menghancurkan susunan botolnya lagi, pikir Chanyeol. Itu sudah yang ketujuh kalinya.

Sampai kapan ia akan terus melakukan itu?

Kenapa pula ia selalu melirik kanan dan kirinya dengan gugup?

Chanyeol tidak tahu berapa lama ia menatapi Byun Baekhyun yang sibuk dengan dunianya—keningnya berkerut seakan ia sedang berkonsentrasi penuh, sementara tangannya tak berhenti mengatur susunan botol-botol.

Chanyeol baru sadar bahwa ia mungkin menatapi Baekhyun terlalu lama ketika pria itu memintanya untuk tidak menatapinya lagi. Jadi Chanyeol membalasnya dengan sebuah kebohongan—bahwa ia tidak sedang memperhatikan Baekhyun.

Merasa tertangkap basah, Chanyeol merasakan tenggorokannya kering.

Baekhyun jauh lebih rapuh dari yang Chanyeol bayangkan. Ia melakukan hal-hal rumit berulangkali untuk menenangkan dirinya, dan kalimat yang paling Chanyeol benci adalah ketika Baekhyun mengatakan dirinya kotor. Baekhyun menggumamkannya seperti mantra—seakan ia memaksakan dirinya untuk mempercayai hal tersebut.

Chanyeol hampir mau tertawa. Bukan karena hal tersebut lucu, tapi karena hal tersebut membuatnya kesal.

Bagaimana mungkin ia bisa mengira dirinya kotor?

Wajah Baekhyun memang agak pucat, namun kulitnya halus dan matanya jernih, bahkan tubuhnya beraroma seperti pewangi pakaian. Bagaimana mungkin manusia semanis Baekhyun kotor? Maksudnya, ia jelas jauh dari definisi itu.

Meski merasa sedikit malu setelah tertangkap basah (terlebih karena ia menyangkalnya), Chanyeol tetap bertanya kepada Baekhyun tentang keadaannya. Ia tidak terlihat baik ketika ia mulai menggosok tangannya dengan sabun atau gel pembersih tangan, atau ketika ia menyusun botol-botolnya seperti itu.

Tapi Baekhyun mengatakan sesuatu yang membuat Chanyeol memutar otaknya. "Kau tidak perlu terus-terusan melakukan itu."

Kening Chanyeol berkerut. Melakukan apa?

"Aku tidak mengerti."

Tolong jelaskan padaku.

Belum sempat ia megutarakan kegelisahannya, Baekhyun berhenti menyusun botol-botolnya dan menyembunyikan dirinya ke dalam selimut.

Mulut Chanyeol sudah akan membentuk kalimat protes, namun tidak ada suara yang keluar dari sana. Tangannya bahkan terhenti di udara. Chanyeol mungkin berpikir bahwa Baekhyun kesal tentang insiden hari ini, Chanyeol bisa mengerti. Meski Baekhyun tidak memintanya, ia bersedia melakukannya lagi dan lagi—melindungi Baekhyun, maksudnya.

Ia tidak bisa membiarkan Perawat Lee sialan itu melakukan hal-hal buruk lagi kepada Baekhyun.

Pria itu mengusak rambut silvernya frustasi, membuat rambutnya mencuat ke segala arah. Ia tidak bodoh, ia tahu bahwa hal yang ia lakukan berisiko, dan dari karakternya, Lee Sangkyun adalah manusia busuk yang senang menyimpan dendam.

Baekhyun mungkin benar—mereka akan tamat ketika Perawat Lee pulih. Pria itu jelas bukan tipe yang akan diam begitu seseorang melakukan kejahatan kepadanya.

Masalahnya, Chanyeol adalah orang dengan tipe yang sama—barangkali lebih buruk.

Ia tidak akan membiarkan siapapun terluka, termasuk Baekhyun—meskipun ia harus menanggung semuanya sendiri.

Chanyeol melirik jam di dinding kamar mereka dan menyadari bahwa ruangan telah sunyi. Sudah lewat tengah malam ketika ia mendengar suara napas Baekhyun yang teratur. Pria mungil itu berbaring menyamping menghadap Chanyeol—selimutnya menutup hingga pundak. Keningnya tertutupi oleh surai hitam yang sedikit berantakan, dan wajahnya terlihat tenang. Sebelah tangannya mencuat dari selimut ke tepian kasur.

Chanyeol tersenyum lembut ketika ia melihat itu.

Dengan langkah kaki perlahan, ia mendekati Baekhyun dan duduk bersila di samping kasurnya. Kasur kayu itu tidak terlalu tinggi, bahkan ketika Chanyeol duduk bersila dengan tegak, tepian kasurnya masih berada di bawah dagunya.

Chanyeol mungkin sudah pernah mengatakan ini sebelumnya, dan ia jelas akan mengatakannya lagi. Cahaya lorong rumah sakit dan kamar mereka temaram. Bulan di luar jendela berteralis memberi sedikit cahaya, namun wajah Baekhyun bersinar lebih terang dari apapun di hadapan Chanyeol.

Ada dorongan kuat yang aneh dari dalam diri Chanyeol. Sebelum ia menyadarinya, sebelah tangannya sudah terangkat dan menyentuh halus poni gelap Baekhyun, menyibaknya sedikit agar matanya tidak terhalangi oleh rambutnya.

Tapi ia masih tidak puas.

Punggung jemarinya turun ke pipi, mengusapnya selembut kapas.

Chanyeol terkekeh halus ketika matanya terpaku pada sebelah tangan Baekhyun yang mencuat dari tepian kasur. Dengan sangat hati-hati, Chanyeol menyelipkan tangannya di bawah tangan Baekhyun—terdiam beberapa detik untuk menimbang tangan tersebut, tersenyum lembut ketika ia sadar bahwa tangan Baekhyun sangat mungil jika dibandingkan dengan telapak tangannya—lalu membawanya kembali ke dekat tubuhnya.

"Kau tahu, nak, kau tidak boleh melakukan itu."

Chanyeol terlonjak, lengannya menubruk kaki meja di sampingnya.

Matanya melotot panik, melihat bergantian kepada Minseok dan Baekhyun. Ketika ia melihat napas Baekhyun masih teratur dan matanya yang terpejam, ia melepaskan hembusan lega.

"Apa-apaan?!" Chanyeol berbisik sengit, memicingkan mata untuk melihat Minseok yang berbaring dengan mata yang terbuka lebar. Chanyeol yakin pria itu balas memelototinya dengan sorot menuduh.

"Apa yang baru saja kau lakukan, anakku…" Minseok tiba-tiba saja bangun dan duduk bersila di atas kasurnya, "adalah sebuah pelecehan seksual. Cukup bagiku untuk menjebloskanmu ke neraka."

Chanyeol menggigit bibirnya. "Aku tidak melakukan apapun!" ia masih berbisik, melirik bergantian kepada Minseok dan Baekhyun. Syukurlah, si mungil itu tampaknya masih terlelap.

Minseok menggelengkan kepalanya tak setuju, bibirnya mencebik. "Berdoalah pagi-pagi sekali. Aku akan mempertimbangkan dosamu yang satu ini."

Chanyeol memutar bola matanya, menggumamkan astaga dengan jengah, tapi ia akhirnya mengibas-ngibaskan tangannya kepada Minseok. "Ya, ya, terserah saja."

Masih duduk bersila di atas kasurnya, Minseok menatapi Chanyeol beberapa saat. Kemudian, "anakku." panggilnya lagi.

"Aku mulai berpikir apakah aku harus menonjokmu atau tidak, Tuhan. Jadi berhentilah memanggilku anakmu. Aku bukan—"

"Apa kau menyukainya?"

Chanyeol berhenti mengoceh.

Ada keheningan yang aneh untuk beberapa detik setelah itu. Chanyeol memecahnya dengan tawa sumbang—lalu panik dan segera menutup mulutnya saat ia sadar bahwa dirinya mungkin tertawa terlalu keras, namun Baekhyun tetap tidak bergerak. Napasnya masih teratur.

"Kau tahu—"

"Tutup mulut." Potong Chanyeol cepat. Telapak tangannya terkepal kuat.

Pria berambut silver itu tidak berani melihat Minseok yang ia yakini sedang menatap dirinya dengan intens sekarang. Alih-alih, matanya tertuju lurus pada Baekhyun yang sedang tertidur lelap.

Pertanyaan itu bergema nyaring di kepalanya seperti bunyi sirine.

Apa kau menyukainya?

Chanyeol merasakan sesuatu membuncah di dadanya. Rasanya asing. Menggelitik. Menyenangkan. Mendebarkan. Nafasnya mulai tidak beraturan begitu matanya terpaku pada bibir Baekhyun yang mengatup lembut.

Ia ingin…

Apa yang kau inginkan?

Ia teringat bagaimana ia mencoba mengerjai Baekhyun dengan mencium (menjilat) bibirnya dengan tidak senonoh di halaman rumah sakit kala itu. Perasaan itu menggelitik bibirnya seakan hal tersebut baru saja terjadi.

Chanyeol mendengar gema itu lagi. Lebih kuat. Lebih lantang. Lebih jelas.

Apa kau menyukainya?

Pria itu, dengan peluh yang dapat ia rasakan mengalir di tengkuknya, mengangkat jari telunjuknya. Seluruh tubuhnya—beserta jari telunjuk yang menggantung di udara—bergetar hebat. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, tapi ia tahu bahwa ia tidak punya kontrol untuk hal ini.

Untuk perasaan ini.

Ia yakin semuanya menjadi jelas begitu ujung telunjuknya menyentuh bagian bawah dari bibir Baekhyun yang sedang tertidur pulas. Sentuhan itu menjalarkan arus listrik yang membuat seluruh tubuh Chanyeol menggelenyar hebat.

Chanyeol tanpa sadar tersenyum.

Pria dari seberang kasur, yang sedari tadi memasang mata dengan teliti memperhatikan untuk gerak-gerik Chanyeol, mengangkat sebelah bibirnya ke atas. Hanya sebuah senyum samar, dan ia tahu bahwa ia tidak lagi memerlukan jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan tadi.


Dalam mimpinya, Baekhyun mendengarkan kegaduhan—pintu besi teralis dibuka dengan kasar sehingga besinya menghantam dinding, lalu ada teriakan protes dan sumpah serapah.

Baekhyun!

Ketika seseorang memanggil namanya, barulah ia sadar bahwa dirinya tidak bermimpi.

"Baekhyun!"

Matanya otomatis terbuka—ekspresinya keruh dan jantungnya berdebar tidak beraturan.

Meski tidak fokus, matanya menangkap wajah Junmyeon yang buram, diiringi makian Jongdae yang melengking—tunggu dulu. Jongdae selalu berbicara dengan sopan. Ia hampir tidak pernah memaki, lain cerita jika yang memaki adalah Jongin.

Baekhyun duduk tegak dengan kecepatan cahaya, melihat seisi penghuni kamar 614 tengah porak-poranda dengan tiga perawat yang memegang batol dan pistol setrum.

"Apa yang—"

Kalimat Baekhyun terhenti ketika ia melihat Jongdae duduk bersimpuh dengan menautkan tangannya ke hadapan salah satu Perawat. "Bawa aku saja. Sungguh. Ini semua ide Jongin. Jongin adikku! Bukan dia yang melakukan ini." Kalimat akhir ia tujukan kepada Chanyeol yang tengah diapit oleh dua perawat lainnya, tangannya menyatu di depan tubuhnya, terikat oleh tali strapping.

Baekhyun mendongak, menatap ekspresi Chanyeol yang sulit diartikan.

"Mundurlah sebelum aku terpaksa melakukan ini padamu." Perawat di hadapan Jongdae menodongkan pistol setrumnya kepadanya.

Junmyeon dengan cepat mendekati Jongdae dan membungkuk, berusaha meraih lengan pria itu agar ia berdiri dan menjauh. "Jongdae, sudahlah, ayo kita—"

"Tidak!" Jongdae menyentakkan lengannya dari Junmyeon dan kembali bersimpuh, meremas celana putih Si Perawat. "Semua ini tidak akan terjadi kalau tidak ada Jongin. Kumohon, kau harus membawaku—"

"Sayang sekali, bukan kau yang Perawat Lee inginkan." Lalu dengan kalimat itu, Si Perawat menerjang bahu Jongdae hingga ia terjengkang ke belakang sembari berteriak kesakitan.

Baekhyun perlu beberapa detik sebelum ia memproses kejadian di hadapannya—ia melihat Minseok mulai mengepalkan tangan, dan Junmyeon yang bersimpuh membantu Jongdae yang tengah kesakitan. Yang paling membuatnya bingung adalah kenyataan bahwa tidak ada sinar matahari menembus jendelanya. Masih dini hari untuk memulai sebuah keributan.

"Tidak!"

Baekhyun yakin suara itu keluar dari mulutnya. Ia sendiri kebingungan dari mana ia bisa mendapatkan keberanian dan kenapa suaranya bisa terdengar begitu keras.

Perawat itu melihat Baekhyun jengah. "Apa lagi, sekarang?"

"Aku…" Baekhyun menunduk, menatapi kulit tangannya yang tipis dan kemerahan, "apa yang akan kalian lakukan kepadanya?"

"Ya ampun. Itu sama sekali bukan urusan kalian. Orang gila satu ini berusaha mencelakai seorang perawat. Hukuman adalah sesuatu yang wajar."

"Aku!" Baekhyun mendongak, berteriak lagi, matanya mulai berair. "Aku yang memintanya melakukan itu. Chanyeol tidak mau, tapi aku yang memaksa. Aku benci Perawat Lee!"

"Kalau begitu bagaimana kalau kalian semua masuk kurungan saja? Masalah selesai."

Chanyeol menatap Baekhyun dengan panik, pupilnya bergetar. "Tidak! Mereka semua tidak ada hubungannya dengan ini." Chanyeol kemudian menyikut salah seorang perawat yang tengah memegangi lengannya, "bukankah aku yang Perawat Lee inginkan?"

"KAU TIDAK BISA MELAKUKANNYA! AKU YANG AKAN—"

Baekhyun tahu napasnya memburu. Perasaan itu kembali. Ia melirik kanan dan kirinya, menyadari bahwa gumpalan-gumpalan awan berbau seperti tikus mati mulai merayap di atas langit-langit—ia bisa merasakan tubuhnya menggigil.

Chanyeol tahu reaksi itu. Jika Baekhyun mulai melakukan gerak-gerik itu, sesuatu yang buruk akan terjadi dan Chanyeol tidak mengiginkannya. Jadi ia memanggil nama Baekhyun dengan lantang. "Baekhyun."

Baekhyun terlonjak, matanya kembali fokus kepada Chanyeol.

Pria berambut silver itu tengah tersenyum. "Benar begitu. Lihat aku saja."

"Chanyeol, aku—"

"Aku hanya akan menginap di kamar lain, untuk—ah, untuk berapa lama kau bilang tadi?" Chanyeol menoleh ke kirinya, menuntut jawaban dari salah seorang perawat.

"Selama yang Perawat Lee inginkan."

Baekhyun tahu Chanyeol hampir menggeram, tapi matanya kembali kepada Baekhyun dan ia memaksakan sebuah senyum.

"Aku yakin itu tidak akan lama." Katanya ringan, suaranya ceria. "Kita sudah menghapus kebijakan Ruang Bermain dan pukulan hingga babak belur, kan? Aku akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja."

Baekhyun menarik napasnya, ia hampir sesengukan, namun ia berusaha menahan kuat tangisnya dengan mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Baekhyun, bagaimana kalau begini saja—"

"Tutup mulut, bocah. Waktunya pergi. Ayo." Kedua perawat itu berusaha menyeret Chanyeol, namun Chanyeol memberinya senyum sehangat matahari yang bahkan masih belum muncul di ufuk barat.

Ketika mereka keluar kamar dan Chanyeol diseret melewati lorong, kepala pria itu tetap menoleh ke belakang. Ia berteriak, dan suaranya menggema di penjuru lorong. "Baekhyun! Eja namaku lain kali jika kau sedang mencuci tanganmu, ya?"

Baekhyun berdiri di ambang pintu, tangannya terkepal di dada, namun ia akhirnya mengangguk.

Chanyeol menangkap anggukan itu dan memberinya cengiran lebar.


Ketika matahari meninggi, Baekhyun sudah siap dengan sepatu boot, sarung tangan plastik dan maskernya. Tidak ada jas hujan kali ini karena ia berada di dalam ruangan.

Baekhyun tidak tahu berapa lama ia mengepel lantai ruang makan. Tubuhnya sedikit pegal, sesungguhnya.

Minseok dan Junmyeon bertugas mengumpulkan sampah pada tiap kamar pasien, dan Jongdae barangkali tengah berada di halaman depan rumah sakit untuk menyirami tanaman. Pria itu hampir lupa bahwa mereka masih harus melakukan pekerjaan sosial—sebagai hukuman karena sudah 'berusaha untuk kabur' tempo hari.

Baekhyun sudah bertanya kepada salah satu perawat tentang mengunjungi pasien yang dikurung, tapi perawat tersebut tidak memberinya izin.

"Tidak ada kunjungan." Baekhyun masih ingat nada ketusnya.

Ia banyak memikirkan tentang Chanyeol saat ia mengepel lantai. Chanyeol akan terkurung dan makan hanya dengan sehari sekali, untuk entah berapa lama.

Satu hal lain yang Baekhyun tahu adalah ia tidak melihat Perawat Lee dimana pun. Biasanya ia akan mengganggu salah satu pasien, menjahili, atau memukuli mereka. Yang terakhir mungkin sudah agak jarang karena peraturan baru—terima kasih kepada pasien kamar 614, tentu saja.

Tapi tetap saja, Baekhyun tahu pria itu tetap melakukannya dengan sembunyi-sembunyi.

Baekhyun berhenti mengepel dan menghembuskan napas lelah. Semua ini salahnya.

Tidak akan ada yang menyayangimu jika kau kotor.

Kalimat itu adalah kalimat paling buruk bagi Baekhyun. Kalimat itu tertato di kepalanya dan menusuk hatinya bagaikan belati. Kali ini, Baekhyun tidak perlu melirik sudut matanya untuk mengetahuinya. Bahkan baunya saja menggantung di bawah hidungnya. Tidak peduli ia menggunakan masker, atau bahkan membekap mulut dan hidungnya, bau itu tidak mau hilang.

Kali ini baunya beraroma tajam alkohol.

Ia kenal bau ini.

Bau tubuh ayahnya di malam sebelum ia mati. Sebelum Baekhyun membunuhnya.

Baekhyun terhuyung mundur, pinggangnya menghantam meja.

Awan kelabu menggantung tebal dari langit-langit, semakin rendah.

Baekhyun menunduk dan menutup telinganya, berteriak dengan meninju-ninju udara.

"C, H, A, N," katanya, mulai bergumam, "Y, E, O, L."

Ia mengulangi ejaan itu, berkali-kali.

Namun ketika ia mengintip dari balik lengannya, sulur-sulur hitam itu masih menggantung di sana, bergerak dalam irama pelan yang tidak beraturan.

Baekhyun menggigit bibirnya, mulai menangis.

Ia sadar akan satu hal; bahwa mantra itu tidak berguna jika Chanyeol tidak berada di sampingnya.


Dalam beberapa hari ke depannya, Baekhyun mengalami episode berkali-kali. Ia tidak tidur ketika malam dan hanya menyusun botol-botolnya, karena ketika ia memejamkan mata, yang ia lihat hanyalah siluet seorang pria berkepala botak dengan bau tajam alkohol di seluruh tubuhnya.

Ia ingin berbicara kepada Profesor Choi, namun pria itu tidak berada di rumah sakit saat ini dan Baekhyun tidak tahu kemana ia harus mencarinya.

Baekhyun takut dirinya menjadi lebih buruk. Baekhyun takut karena ia tidak mendengar berita dari Chanyeol.

Baekhyun ingat bahwa sesi terapi mereka dikurangi menjadi dua minggu sekali, karena pria itu percaya bahwa Baekhyun sudah membaik.

Sekarang, Baekhyun tidak lagi percaya dengan kalimat itu.

Ia tidak akan pernah sembuh.

Baekhyun tidak memegang suatu agama tertentu, tapi untuk pertama kalinya ia merasa dirinya perlu berdoa. Jadi setelah ia membantu mengumpulkan piring kotor di ruang makan (kali ini ia memakai jas hujan karena tidak mau terkena cipratan kuah sup) ia memutari gedung rumah sakit untuk mencari tempat yang pantas untuk berdoa.

Rumah Sakit Jiwa Sowon menyediakan gereja, kuil (dalam ruangan) dan sebuah ruangan kecil untuk umat muslim beribadah—tapi Baekhyun tidak pergi ke salah satu dari tiga tempat yang sudah tersedia itu.

Ia merasa tidak pantas.

Kakinya berhenti di ruang baca, dan ia menghembuskan napas lelah.

"Baiklah. Daripada tidak sama sekali." Katanya.

Ia masuk ke sana, melihat beberapa orang pasien tengah duduk sambil membaca, menggambar, menyusun balok-balok dengan berbagai warna dan membuat pesawat kertas.

Baekhyun mengambil kursi paling pojok, tertutupi oleh dua rak buku setinggi kurang lebih dua meter.

Ia duduk di meja bulat, kursinya rendah seperti kursi anak-anak hingga membuat lututnya tertekuk hingga dada, lalu ia mulai memejamkan mata dan menautkan tangannya.

Baekhyun yakin ia belum pernah berdoa selama masa eksistensinya, dan ia tidak yakin apa ia melakukannya dengan benar, namun ia tetap melakukannya tanpa ragu.

Baekhyun mulai berbisik halus. "Tuhan, jika kau memang di sana—aku tidak bicara tentang Minseok—tapi Kau, Tuhan yang sesungguhnya, jika kau mendengarkanku, tolong aku. Aku harap Chanyeol dan teman-teman sekamarku baik-baik saja. Dan… aku ingin sembuh. Kuharap aku sembuh. Kuharap… aku tidak melihat Ayahku lagi. Aku tahu ini hukumanku karena telah membunuhnya. Tapi aku harap semua ini berhenti—"

Baekhyun berhenti membisikkan doanya ketika ia mendengar kekehan kecil, tepat di samping telinganya.

Bulu kuduknya meremang tatkala penciumannya disergap oleh bau busuk mulut seseorang.

Baekhyun membuka matanya dan seketika itu juga pupilnya melebar.

"Halo." Sapa pria itu, "lama tidak jumpa."

Ia tersenyum, dan Baekhyun merasakan hawa dingin merayapi tulang belakangnya.

Baekhyun tidak mampu bereaksi ketika pria itu membungkuk dan menyelipkan sebelah telapak tangannya ke dalam selangkangan Baekhyun dan meremas bagian dalam pahanya.

"Apa kabarmu? Masih sakit mental seperti biasa?"


A/N: I AM SO HAPPY THAT I FINISHED MY FINAL EXAMS.

And the fact that I also finished this chapter (sighs, such a battle).

HALO! Apakah chapter ini telat? Iya kayaknya. Tapi semoga aja terbayar, ya.

TINGGAL TIGA HARI SEBELUM DO KYUNGSOO WAMIL:)

Pada siap mental dan fisik kan? Semoga aja.

Sejujurnya aku hanya berharap Asylum Breakout makin kesini nggak makin ngaco dan ngebosenin. Rencananya ini tuh bakal berapa chapter doang, tapi akhirnya panjaaaang lagi, panjaaaang lagi. Gapapa kan, ya? Huhu. Feedbacknya juga bakal aku bacain satu satu (SELALU INI MAH).

Terima kasih buat yang sudah menunggu dan menyempatkan diri buat baca.

Aku tau kalau Asylum Breakout cuma cerita fiksi, namun diluar sana beneran ada orang yang lagi struggle dengan masalah yang sama seperti di cerita ini. Buat kalian yang punya struggle seperti ini, tolong ingat kalo aku selalu berada di pihak kalian. Kalian luar biasa hebat dan spesial, dan kalian nggak perlu merasa sendiri. Ada banyak orang yang sayang dan peduli sama kalian. Terima kasih karena sudah menjalani hari-hari kalian meski sulit.

Lots of love from Prim xoxo