Janji Setangkai Mawar Putih
"Ayato-kun wa akai bara, Kanato-kun wa murasaki bara, Raito-kun wa midori bara, Shuu-san wa kiiroi bara, Reiji-san wa aoi bara, soshite... Subaru-kun wa shiroi bara."
Yuki mengerutkan kedua alisnya. Rasanya ia pernah mengatakan kalimat itu sebelumnya, mengenai Sakamaki yang mirip dengan berbagai macam warna mawar sesuai dengan mereka. Sayang, otaknya tidak mau diajak bekerja sama kali ini karena terlalu lelah. Ia menghela napas panjang dan membuka mulutnya, untuk yang kesekian kalinya.
"Bisakah kalian melepaskanku?" tanya Yuki. "Aku lelah dan ingin segera pulang. Aku tau kalau kalian juga ingin cepat – cepat pulang."
Yah, tanpa mendengar jawaban dari Sakamaki bersaudara Yuki memang berniat untuk pulang saat itu juga. Oleh karena itu, ia segera mengangkat kakinya untuk keluar kelas. Tak lupa pamitan pada Yui yang sejak tadi terus diam, menatap Yuki dengan khawatir. Ketika ia melewati lorong sekolah, ia baru menyadari bahwa hampir semua murid sudah pulang kerumah masing – masing. Helaan napas kembali keluar. Sudah pasti limusin yang menjemput mereka tidak ada, memaksanya untuk pulang sendiri. Ditambah dengan jarak yang lumayan jauh dari sekolah hingga mansion Mukami makin membuatnya malas. Tapi yah, hitung – hitung sebagai jalan – jalan karena ia selalu berada dimansion dan tak pergi kemana – mana.
Dengan ditemani player-nya, ia berjalan melewati kota yang terlihat seperti kota mati. Itu hal wajar mengingat sekarang dini hari dan toko – toko sudah tutup, kecuali mini market yang buka 24 jam. Apalagi tak banyak orang yang berlalu lalang. Hanya orang – orang, yang ia yakini bukanlah orang baik. Tapi, bukan Yuki jika ia ketakutan berjalan sendirian malam hari begini. Meski tak ahli, setidaknya ia bisa membela dirinya jika ada yang ingin mencelakai dirinya. Kakinya sempat berhenti ketika ia sampai disebuah taman kecil yang terlihat cukup menakutkan karena gelap sekali disana. Ia tak yakin apa itu, tapi ia seperti melihat sesuatu. Matanya sedikit menyipit, berusaha melihat apa yang ada disana. Sosok hewan berkaki empat dan cukup besar, mungkin seukuran dengan anjing. Ia bisa melihat kalau hewan itu menatap dirinya. Sedetik kemudian, sosok itu menghilang kedalam semak daun yang ada dibelakangnya.
"Mungkin anjing liar," gumamnya.
xxx
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya ia sampai juga dimansion Mukami. Dengan langkah gontai, ia masuk kedalam dan berniat untuk pergi kekamarnya. Namun, dikoridor ia melihat Azusa yang sedang duduk disebuah sofa panjang. Begitu Azusa menyadari kehadirannya, ia langsung berjalan kearahnya.
"Ada apa, Azusa-san?" tanya Yuki.
"Ruki... menunggumu... katanya... ada yang... ingin dibicarakan..."
Yuki mengangguk mengerti dan segera mengikuti langkah Azusa yang membawa mereka berdua keruangan yang nampaknya sering dijadikan tempat berkumpul. Disana sudah ada Ruki, Kou, dan Yuuma yang sedang asyik bersantai. Ruki yang terlihat sedang membaca buku langsung menutup bukunya dan menoleh pada Yuki yang masih berdiri disamping Azusa.
"Nee nee Yuki-chan, kau habis bertemu dengan Sakamaki?" tanya Kou yang tahu – tahu sudah berada dibelakang Yuki. "Ada hubungan apa denganmu?"
"Justru aku yang ingin bertanya," rajuk Yuki. "Tiba – tiba datang dan menanyakan hal yang kuketahui."
"Apa maksudmu?" tanya Ruki.
"Mereka bertanya, apa aku mengenal dengan orang yang bernama Cordelia."
Mata Yuki menyipit begitu menyadari perubahan suasana yang ada didalam ruangan. Ia menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan pelan. "Kalian mengenalnya," ucapnya yang berupa pernyataan, bukan pertanyaan. Karena tak ada yang menjawabnya, ia berniat untuk kembali kekamar dan beristirahat. Matanya sudah tidak bisa diajak bekerja sama lebih lama lagi. Begitu sampai dikamar, tanpa mengganti bajunya dan melempar tasnya kesembarang arah, ia langsung merebahkan dirinya diatas kasur. Aroma manis yang ia hirup membuat kelopak matanya semakin berat. Ah... rasanya ia pernah mencium aroma ini, entah dimana. Disaat kesadarannya sudah terbang kealam mimpi seutuhnya, kamarnya telah dipenuhi dengan mawar hitam.
xxx
Setelah Yuki keluar pun masih bisa dirasakan rasa tegang didalam ruangan tersebut. Termasuk Ruki yang cukup terkejut, meski ia berhasil menutupinya. Ia melirik kearah Kou yang mata kanannya sempat berubah menjadi merah. Merasa diperhatikan, Kou langsung memberikan penjelasan apa yang baru saja ia lihat.
"Dia tidak bohong saat menjawab tak tahu siapa itu Cordelia," ujar Kou.
"Kenapa si Sakamaki menanyakan hal itu padanya?" tanya Yuuma sedikit penasaran.
"Yuuma, kau bertemu dengannya dibelakang sekolah tadi," ucap Ruki. "Apa kau tau kenapa dia berada disana?"
Yuuma tidak langsung menjawab, ia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Namun, pada akhirnya ia menceritakan atau lebih tepatnya melaporkan apa yang dialami dirinya saat bertemu dengan Akatsuki Yuki dibelakang sekolah. Ruki langsung kembali diam, memikirkan semua kemungkinan yang ada. Pastinya terjadi sesuatu antara Akatsuki Yuki dan Sakamaki diruang kesehatan. Karena menurut Yuuma, cowok itu mencium aroma Sakamaki bersaudara juga Komori Yui dari sana meski samar. Jika Akatsuki Yuki diserang oleh Sakamaki, pasti mereka berempat dapat merasakan kehadiran Sakamaki dalam tubuh gadis itu.
"Yang tak kumengerti," lanjut Yuuma, mengalihkan perhatian Ruki. "Kenapa ia berkata seperti itu padaku?"
"Apa yang Yuki-chan katakan padamu?" tanya Kou.
""Yokatta... yokatta... kau masih hidup..." begitu."
"Masih... hidup..." gumam Azusa.
Kou mengeluh sambil menyandarkan punggungnya kebelakang sofa yang didudukinya. "Mou, kenapa rasanya banyak sekali yang misterius dari cewek itu?" ujarnya. "Menyebalkan."
Mereka semua setuju dengan ucapan Kou. Tak bisa dipungkiri bahwa sosok Akatsuki Yuki masih sangat misterius bagi mereka. Dalam data yang mereka terima hanya dijelaskan bahwa Akatsuki Yuki adalah yatim piatu disebuah panti asuhan. Selang berapa tahun kemudian, ia diasuh oleh pasangan muda yang kelihatannya cukup kaya raya. Namun, tak lama setelah itu, ia dipindah asuhkan oleh saudara pasangan muda tersebut, sebelum akhirnya tinggal bersama mereka. Mereka sebenarnya sama sekali tak ada hubungan apa – apa dengan mantan orangtua asuh Akatsuki Yuki. Mereka hanya menerima perintah dari orang itu untuk tinggal bersama, entah sampai kapan.
Selain latar belakang yang nampak biasa itu, tak ada hal lain lagi. Riwayat hidupnya sungguh terperinci seolah diatur seseorang. Yang bersangkutan juga nampaknya mengatakan hal yang sebenarnya ketika Ruki menanyakan kebenaran perihal latar belakangnya. Tak ada kaitannya dengan mereka, Sakamaki bersaudara, maupun orang itu.
"Padahal tidak ada hubungannya, tapi kenapa ano kata mengirimkan Yuki-chan kemari?" tanya Kou pelan yang sepertinya ditunjukkan untuk dirinya sendiri.
xxx
"Apa yang kau tanam, ...-kun?" tanya seorang anak perempuan, memperhatikan anak laki – laki yang masih sibuk dengan tanaman yang ia tanam.
"Bunga mawar."
"Mawar? Apakah bunga yang memiliki duri ditangkainya itu?" tanya anak perempuan itu lagi.
"Ya. Lagipula, mawar kan bunga yang indah," ujar anak laki – laki itu. "Aku yakin kau pasti akan menyukainya."
"Tapi, kenapa kau memutuskan untuk menanam bunga mawar? Kata ... nii, kau tidak terlalu suka dengan bunga."
Anak laki – laki itu tersenyum lebar dan kembali menanam tangkai bunga mawar yang sudah ia siapkan sebelumnya. Ia baru menyadari bahwa anak perempuan itu masih menatapnya, menunggu jawaban darinya. Ketika ia mengatakan alasannya menanam bunga mawar itu, anak perempuan tadi langsung berlari yang ternyata mengambil sebuah tempat penyiram air. Dengan senyum polosnya, ia berjanji akan merawat bersama anak laki – laki itu hingga bunga mawarnya bermekaran dengan indah.
Biasanya, musik klasik yang Yuki dengarkan lewat player-nya dapat menghilangkan perasaan gundah, sama seperti saat ini. Tapi nampaknya hari ini tidak berhasil dan makin membuat dadanya bergerumuh tak karuan. Angin siang menjelang sore itu sungguh sejuk, setidaknya membuatnya sedikit lebih baik. Karena tak ingin mengganggu, atau lebih tepatnya disuruh untuk membantu Yuuma diladang, ia meminta izin untuk menjelajahi taman mereka. Ruki sendiri tidak begitu keberatan asalkan Yuki tidak membuat masalah. Ia bersorak riang dan segera mengangkat kakinya menuju taman mereka yang kelihatannya sungguh luas.
Ia berhenti melangkah, menatap langit yang nampak sangat luas dengan warna birunya yang sungguh cantik. Rambut hitam pendeknya pun ikut bergoyang mengikuti arah angin yang berhembus dengan lembut. Rasanya sungguh aneh ia berdiri dihamparan rumput hijau dibawah langit biru, seolah – olah ia memang tak pernah melakukannya. Ketika ingin melanjutkan penjelajahannya, mata birunya menangkap sesuatu yang menarik. Disepanjang garis penglihatannya, ia bisa melihat semak yang ia yakini sebagai tanaman mawar. Ia sedikit kecewa karena bunga mawar yang ditanam belum memperlihatkan tanda akan mekar.
"Kira – kira, mawar ditaman ini berwarna apa ya?" gumamnya. "Hng... aku yakin pasti merah."
Ia menyentuh daun tanaman mawar itu dengan hati – hati, takut tertusuk oleh duri tajamnya. "Seandainya ada yang mekar berwarna putih, pasti tak kalah cantik ya dengan yang merah."
"Bunga yang melambangkan awal dan akhir."
Yuki langsung menoleh kepalanya, mengelilingi tempat dirinya berdiri. Alisnya sedikit berkerut, merasa aneh. Ia yakin dirinya hanya sendirian ditempat ini. Tapi, kenapa ia mendengar suara seseorang. Mendadak, pening hinggap dikepalanya.
Meski sudah dirawat dan diberi air setiap hari, bunga mawar yang ditanam sama sekali tidak terlihat akan mekar. Justru terlihat sangat layu bahkan nyaris mati. Suatu pagi, setelah memberinya air yang cukup, anak perempuan itu terus menatap bunga – bunga mawar yang ditanam oleh anak laki – laki itu. Ia merasa sedih.
"Apa yang sedang kau lakukan, ...?" tanya anak laki – laki itu yang datang menjemputnya.
"Oh... ...-kun. Tidak, aku sedang memperhatikan bunga mawarmu," jawab anak perempuan itu. "Kenapa mereka tidak mau mekar ya?"
"Mungkin bukan waktunya mereka untuk mekar," sahut anak laki – laki itu asal.
"Tapi, aku ingin melihat mereka mekar," anak perempuan itu merajuk. "Pasti akan indah sekali karena ...-kun yang merawatnya."
Anak laki – laki itu tersenyum lebar sembari mengelus lembut puncak kepala anak perempuan itu. "Aku yakin pasti akan mekar," ujarnya. "Oh iya, bagaimana kalau kita menanam bunga mawar putih bersama?"
"Mawar putih? Apakah mawar memiliki warna yang berbeda – beda?" tanya anak perempuan itu polos.
"Tentu saja. Ada banyak jenis warna yang bisa dihasilkan oleh mawar," ujarnya bangga. "Selain itu, aku yakin sekali kau akan menyukai mawar putih."
Anak perempuan itu tersenyum senang dan langsung memeluk anak laki – laki itu. Ia mengacungkan jari kelingkingnya. "Kalau begitu, janji?"
Anak laki – laki itu langsung mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik anak perempuan itu.
"Bunga... yang melambangkan... awal... dan akhir?" gumam Yuki pelan.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya seseorang. Yuki menoleh kebelakang dan nyaris melompat ketika melihat wajah Yuuma yang begitu dekat dengannya. Ia yakin jantungnya akan berhenti saat itu juga. Maka dari itu, ia segera mengambil napas panjang untuk menormalkan kembali detak jantungnya.
"Mou, berhentilah membuatku kaget Yuuma-san," protes Yuki. "Kau hampir membuatku terkena serangan jantung."
"Aku bertanya padamu," sahut Yuuma. "Apa yang sedang kau lakukan disini, hah?!"
Yuki tersentak kaget mendengar nada tinggi yang dikeluarkan oleh Yuuma hingga tak sadar kakinya mundur satu langkah. Ia takut, tapi segera bisa mengendalikan rasa takutnya seolah memang sudah terbiasa dengan wajah garang khas cowok itu. "Aku hanya berjalan – jalan disini. Tadi kan aku sudah meminta izin pada Ruki-san," ujarnya membuka suara.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan berbuat macam – macam disini, jika itu yang Yuuma-san khawatirkan," lanjut Yuki yang melihat raut tak puas dari Yuuma.
Yuuma mendelik tajam pada Yuki yang masih tersenyum lebar kearahnya. Pada akhirnya, ia menyerah dan memilih untuk kembali merawat ladang kebun kebanggannya. Baru beberapa langkah yang diambil Yuuma, suara serius yang didengarnya membuatnya berbalik menghadap gadis berambut hitam pendek itu, memandang semak tanaman mawar miliknya.
"Kalau boleh tahu, kenapa Yuuma-san menanam bunga mawar?" tanya gadis itu. "Melihat karakter Yuuma-san, rasanya tidak cocok jika Yuuma-san menanam bunga. Apalagi bunga mawar."
Ditengah keheningan yang mendadak datang menyelimuti mereka berdua, angin bertiup cukup kencang hingga menerbangkan beberapa daun yang berada ditanah. Yuki pun menutup matanya agar terhindar dari debu yang masuk. Ketika ia membukanya kembali, matanya melebar karena melihat sesuatu yang rasanya tak akan pernah ia lihat dari seorang Yuuma.
Bukan. Lebih tepatnya lagi, ia pernah melihatnya namun sangat membencinya.
"Kutanam mawar ini sebagai penghormatan pada temanku," jawab Yuuma pelan. "Juga sebagai janji yang tak akan pernah bisa kutepati."
Yosha! Akhirnya bisa update cepat juga! Hahaha, yah meski harus kuakui mungkin ini agak sedikit lama untuk minna. Tapi, demi minna, sesibuk apapun semester ini pasti deh akan kuusahain buat update terus ampe fanfic ini kelar. Doakan aku minna~
Hng... gimana nih chapter ini? Mulai terasakah konfliknya apa? Atau malah udah pada nebak nanti akhirnya kayak apa? Apapun itu, tetap stay tunned difanfic milik Author nggak jelas ini ya. Semua review berupa saran, kritikan akan ditunggu.
Ah iya, ada satu hal yang mau aku jelaskan sedikit untuk minna mengenai bahasa bunganya mawar putih.
Yang kudapet dari berbagai sumber (termasuk mbah g***le) bahasa bunganya mawar putih itu adalah cinta yang tulus dan kemurnian. Pokoknya yang berhubungan dengan murni dan tulus. Nah, kenapa aku mengartikan mawar putih sebagai "Bunga yang melambangkan akhir dan awal" karena warna putih itu warna dasar dari semuar warna. Bisa sebagai warna awal sebelum dicampur warna lain, bisa juga sebagai warna akhir setelah dicampur warna lain. Sesimple itu hehehe. Sengaja kupakai arti itu karena hampir semua jalan cerita difanfic ini berdasarkan konsep itu loh #bocorin ceritanya hehehe. Jadi, yang kiranya masih bingung dengan arti sebenarnya mawar putih bisa langsung cek sendiri di mbah g***le yak.
Cukup segini dulu deh kayaknya buat Author Note. Kalo kepanjangan kasian bacanya hahaha.
Sampai jumpa dichapter selanjutnya minna~
