Disclaimer: Persona 3 & 4 owned by ATLUS


"...Kau menyimpan benda-benda menarik, ya? Naoto-sama..." seorang pria berseragam memainkan revolver milik Naoto. "Gadis nakal... benda apa lagi yang kau sembunyikan di balik jaketmu itu?" pria itu tersenyum keji.

Naoto hanya terdiam sementara ia menggigit bibirnya. Memberontak juga percuma. Kedua pergelangan tangannya terikat ke belakang dan kedua lengan atasnya dicengkeram kuat oleh pria yang lain. Walaupun gadis itu berusaha terlihat tenang, ia cukup sulit menyembunyikan suatu perasaan khawatir... jika pria itu menemukan sesuatu yang lain di balik jaket sekolahnya.

Pria itu kembali meraba-raba apa yang ada di balik jaket sekolah Naoto yang tidak terkancing di tubuhnya tersebut. Pria itu tiba-tiba menyunggingkan senyuman, dan Naoto merasakan suatu firasat buruk.

"Ah... benda apa ini? Hm...?" ucap pria itu pelan seraya tangannya menarik sebuah botol obat kecil berisi cairan transparan. Sementara tangan lain pria tersebut kembali merogoh jaket sekolah sang gadis dan menarik benda lainnya lagi... sebuah jarum suntik. "Hmm... botol obat dan jarum suntik... kau punya suatu penyakit, Naoto-sama? Atau kau hanya bermain dokter-dokteran? Ahahaha!" pria itu mulai tertawa, sementara ia memasukkan kedua benda itu ke saku seragamnya.

"...Ja-jangan..." Naoto bersuara pelan, ia tampak sangat gelisah sekarang, "kembalika—mmph...!" kalimat Naoto terputus ketika pria yang menahannya menyelipkan sebuah kain ke dalam mulut gadis itu dan mengikatnya kuat di belakang kepala.

"Sudah kami katakan untuk tidak bersuara, Naoto-sama..." pria yang mengikatnya mendesis pelan.

"Cukup ikuti kemana kami membawa anda, dan tidak ada lagi yang perlu anda lakukan setelah itu... tugas anda di dunia ini akan segera berakhir." Pria di hadapannya tersenyum licik. Perhatiannya tiba-tiba mengarah ke sekitar lantai tempat mereka berpijak. "Ah, masih ada benda lainnya..." gumam pria itu sementara satu tangannya meraih benda yang ia maksud. Pria itu memperhatikannya secara seksama. "WCM key card... sepertinya benda ini bukan milikmu... aku yang akan menyimpannya."


Liebe und Rache

Chapter 6

Bloody Party Part II: Unleashed


Segalanya terasa berjalan begitu cepat.

Tanpa disadari Souji yang tengah sibuk mencari-cari WCM key card miliknya, pembunuhan massal telah terjadi di sekitar tempat ia berpijak. Kembang api masih menari menghiasi langit kelam, cantik dan berwarna-warni, tetapi apa yang ada di bawah bentangan langit tersebut adalah sesuatu yang sangat berlawanan.

"AAARRGH!"

Itu adalah teriakan yang ia dengar kesekian kalinya dalam kurun waktu lima menit.

Segalanya dimulai lima menit yang lalu, Seta Souji masih berjalan pelan menelusuri jalanan berukir yang tengah ia pijak, sambil sesekali bertanya pada orang-orang apakah mereka melihat sebuah benda tipis seperti key card, dan tak satupun dari mereka menemukan apa yang dicari Souji. Di tengah kegiatan pencarian pemuda itu, sepasang gendang telinganya tergetar dengan jeritan histeris seorang wanita.

Souji dan orang-orang yang berdiri di sekitarnya menoleh, dan mendapati seorang pria tua yang mati tertembak, dengan seorang wanita pendampingnya yang menangis tak keruan. Darah mencemari tanah itu... tanah sekolah.

Dan pria tua itu ditembak oleh seorang pria lain... pria berseragam prajurit Letzvetrie.

Lima menit selanjutnya adalah kekacauan. Orang-orang, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, murid, guru, pengunjung dan petugas... semuanya mati terbunuh. Pria-pria dengan seragam militer membungkus tubuh mereka berdatangan ke sekolah tersebut, menembaki setiap mahluk hidup (kecuali rekan mereka sendiri) dengan senapan-senapan mereka.

Souji tengah berdiri di antara mayat-mayat yang bergelimpangan. Saat pembunuhan itu berlangsung, sang pemuda berambut abu-abu itu segera bersembunyi di balik pepohonan di pekarangan sekolah. Ia hanya mendengar jeritan-jeritan dan bunyi tembakan yang berulang-ulang. Souji seakan melihat peristiwa yang mirip dengan pembunuhan ayahnya terjadi berkali-kali di tempat ini dalam kurun waktu singkat.

"...Ho... masih ada yang hidup?" sebuah suara pelan dan keji terdengar di dekat pemuda berambut kelabu itu. Souji menolehkan kepalanya dan melihat seorang pria berseragam dengan senapan telah mengarahkan senjata padanya. "Sayang sekali, kau harus ma—"

Belum sempat pria berseragam itu menyelesaikan kalimatnya, kepalanya telah terlubangi oleh peluru. Satu lengan Seta Souji menggenggam pistol yang terarahkan tepat pada kepala pria tersebut. Ujung pistolnya menghasilkan asap yang segera menyatu dengan udara. Souji menurunkan pistolnya dan meniup ujungnya perlahan, untuk mengusir asap yang masih mengepul. Ia kemudian kembali memperhatikan pria tidak bernyawa dengan darah mengalir di sekitar kepalanya tersebut.

"...Kaulah yang harus mati, Verstannia... beginilah cara kalian membunuh ayah..." Souji berjalan ke arah mayat pria tersebut, ia kembali mengarahkan pistolnya, "untuk memastikan kau telah mati..." dan Souji kembali menarik pelatuk dan menembak tepat ke arah jantung.

Setelah ia mencabut nyawa pria di hadapannya, Souji segera berlutut di depan mayat pria itu dan mengambil senapan miliknya, juga satu set peluru dari seragamnya.

"Hei! Siapa kau?" terdengar teriakan lain. Souji menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan mendapati pria berseragam lain. Kedua mata pria itu membelalak lebar melihat mayat rekannya. "Apa yang kau laku—"

Souji kembali mengangkat pistolnya dan menarik pelatuk, menembak pria itu pada bagian perut. Namun pria tersebut tampaknya masih bertahan hidup. Souji kemudian mendengar derap langkah prajurit lain sebelum ia menembakkan peluru kedua yang tepat mengenai jantung. Pemuda berambut kelabu itu berlari ke arah semak-semak dan pepohonan, kemudian bersembunyi di baliknya. Sekumpulan prajurit tersebut memperhatikan sekeliling mereka, dengan senjata siap di tangan setelah mereka mendapati kedua rekannya tewas. "Hei! Aku tahu kau ada di dekat sini!" salah seorang prajurit tiba-tiba berteriak. "Beraninya kau membunuh kedua rekan kami! Kau akan segera tahu akibatnya!"

Souji, yang bersembunyi di balik pepohonan menyunggingkan senyuman tipis. "Akibatnya?" pemuda berbola mata perak itu tertawa kecil. "Akibatnya adalah, kalian juga akan mati..." Souji bergumam pelan, "UFoND akan merasa malu memiliki seorang anggota yang tidak mampu menghadapi prajurit biasa seperti kalian..." dengan mengatakan itu, Souji melangkah keluar pepohonan dengan cepat dan memperlihatkan sosoknya pada prajurit itu—sosoknya yang telah siap dengan senapan di tangannya.

"Sterben (mati)..." gumam Souji pelan sebelum senapannya mulai ditembakkan secara beruntun dan menembus tubuh para prajurit di hadapannya.


"Itu dia..." ucap Iori Junpei dari dalam WPM ketika mereka telah sampai di tempat tujuan mereka: Koheitlich High. Chie membelalakkan kedua matanya.

"A-aku tidak percaya—sama sekali tidak ada tindakan lebih lanjut dari Letzvetrie di tengah kekacauan seperti ini?" Chie mengusap berkali-kali kedua matanya. Apa yang ia lihat pada layar di hadapannya adalah kembang api yang cantik, namun di bawah kembang api itu darah telah mewarnai sebagian besar tanah.

"Mereka terkecoh," Junpei berpendapat, "seluruh kekuatan dipusatkan pada kerajaan, mereka tidak menyangka bahwa target Verstannia adalah sekolah dibandingkan kerajaan."

"...Oh... hei! Itu Souji-kun!" Chie tampak terkejut ketika ia melihat rekannya, Seta Souji, berdiri sendirian di tengah mayat-mayat yang bergelimpangan. Chie segera menggerakkan WPM miliknya menghampiri Souji.

Souji menyadari bunyi cukup kencang dari WPM raksasa Chie, dan mendongakkan kepalanya. Pemuda itu melihat sebuah robot raksasa bertubuh warna emas yang diselingi putih perak pada bagian pinggang, tangan, kaki dan kepala. Mesin raksasa itu dihiasi enam buah besi cukup tipis yang melingkari pinggang. Kabel-kabel tipis hitam halus nyaris seperti rambut terurai hingga ke bagian pinggang mesin raksasa itu, sementara pada bagian kepala terhiasi sebuah helm putih berbentuk kerucut (menurut Seta Souji, ini salah satu bagian teraneh dari WPM milik Chie). Salah satu ke-khas-an dari WPM milik Chie adalah sebuah double blade naginata yang setia digenggam satu lengan WPM tersebut, dengan kedua ujung naginata yang menyala bagaikan api.

Tomoe Gozen, itulah nama WPM Chie.

"Hei, Souji-kun! Di mana WCM milikmu?" tanya Chie menyalakan radio komunikasi yang hanya terdengar antara dirinya dan Souji.

"Aku kehilangan WCM key card, aku akan mencarinya... Chie, untuk sementara kuserahkan padamu!" dengan itu, Souji berlari menjauhi Tomoe.

"Apa...? Diserahkan padaku? Sendirian? Tidak, masih ada Junpei..." Chie berusaha menenangkan dirinya. Setelah sosok Souji menghilang dari balik layar dalam mesin tersebut, Chie membalikkan tubuh WPM miliknya dan mendapati Hermes terbang melaju ke arahnya.

"Chie, segalanya kacau! Pembunuhan besar-besaran! Dan aku tidak menyangka mereka mengincar murid sekolah..." suara Junpei mulai memasuki jalur komunikasi radio milik Chie.

"Ya, itu—"

Suara Chie terputus ketika mereka mendengar bunyi pukulan kecil bertubi-tubi seperti air hujan membentur WPM mereka masing-masing dari bawah. Junpei tampak menyadari apa yang terjadi.

"Keberadaan kita disadari juga oleh prajurit-prajurit bodoh itu... yah, wajar memang, ahaha..." Junpei tertawa kecil, "Apa mereka bodoh? Menembaki WPM raksasa kita ini dengan senapan-senapan kecil itu? Jangan membuatku geli—"

Seketika Junpei hampir menyelesaikan kalimatnya, di dekat mereka berhembus angin yang sangat kencang dan bahkan nyaris menerbangkan WPM mereka jika masing-masing pilot tidak berinisiatif untuk melawan angin tersebut. Junpei tampak sangat terkejut, begitu juga dengan Chie.

"Whoa! A-angin apa barusan?" Chie membuka mulutnya, kedua mata gadis berambut coklat pendek itu membelalak.

"Tidak mungkin... 'Garu'?" suara Junpei menjawab. Chie mengangkat satu alisnya.

"G-garu? Kalau begitu—"

"Tepat sekali, bodoh! 'Garu' itu berasal dariku!" sebuah suara tiba-tiba memenuhi alat komunikasi dalam mesin mereka. Kedua pilot itu tersentak kaget. Mereka dapat melihat beberapa buah shuriken besi raksasa terbang ke arah mereka. Junpei dan Chie sama-sama berhasil menghindari senjata raksasa itu, yang terbang menancap sisi tembok besar di sekitar sekolah.

"Nya-nyaris..." Chie bergumam, sementara satu tangannya mengelus dada. Ketika ia kembali mengalihkan perhatiannya pada layar, Chie terkesiap, gadis itu segera mengendalikan WPM miliknya untuk menghindari serangan kedua: lemparan kunai raksasa.

"Wow... sepertinya musuh baru kita satu ini adalah maniak ninja..." Junpei berkomentar di dalam Hermes, walaupun Chie tidak melihat senyuman menghiasi wajah Junpei yang ditampilkan di sisi kecil layar lebar di hadapannya.

"Hm... kalian lumayan juga..." suara itu terdengar lagi dari alat komunikasi mereka. Mata Junpei seketika membelalak lebar.

"...Suara ini..." Junpei terdiam sejenak. Chie mengangkat satu alisnya.

"Suara... apa?" Chie bertanya ragu. Belum sempat Junpei menjawab, sebuah WPM melaju kencang ke arah Hermes dengan kecepatan tinggi. Chie dapat melihat Junpei menggerakkan Hermes untuk menahan tebasan pisau dari WPM tersebut dengan lengan WPM milik pria bertopi baseball itu.

Sebuah WPM yang menyerang Junpei adalah WPM yang menurut Chie, penampilannya sedikit mengingatkannya pada katak. WPM itu berwarna putih perak pada bagian tubuh, memiliki bagian kaki dan bagian lengan terhiasi warna hijau dengan motif seperti pada seragam militer, kaki putih dengan ujung berwarna hitam. Besi melingkar dengan tebal sekitar tujuh sentimeter pada tangan dengan shuriken emas raksasa di kedua belah telapak tangan. Pada bagian dada terdapat bentuk menyerupai huruf 'V' berwarna emas, dan pada bagian kepala, sepasang shuriken emas seperti menggantikan kedua matanya. WPM itu memiliki 'telinga' (atau sepertinya adalah mata) yang bagi Chie, mengingatkannya pada mata katak atau justru telinga tokoh 'Mickey Mouse'. Syal merah sepanjang lutut melingkari leher WPM tersebut. Bagi Chie, WPM itu mungkin adalah salah satu WPM ter'unik' yang pernah dilihatnya.

"Ahah! Kita bertemu lagi, Apple!" suara tersebut terdengar semakin jelas dalam alat komunikasi mereka. Chie tampak kebingungan.

"...'A-apple'...?"

"Ternyata benar itu adalah kau, Orange..." Junpei menjawab. Lelaki bertopi baseball itu menyunggingkan senyuman kepuasan. Chie akhirnya sweatdrop.

"...Hei, kalian saling kenal...?" Chie bertanya bingung.

"Aku memang tahu dia, tapi dia adalah musuh, Chie... bantu aku." Junpei membuka mulutnya, ia tampak serius kembali.

"Uh... baik?"


Souji telah memiliki firasat bahwa WCM key card miliknya tidak jatuh, melainkan dicuri oleh seseorang. Pemuda itu kemudian teringat kembali pada Naoto, dan ia berlari secepat kakinya dapat membawanya. Ia telah sampai di depan gedung sekolah, napasnya terengah-engah.

"...Seta-san...!"

Niat Souji untuk memasuki gedung itu terhenti seketika ia mendengar sebuah suara yang familiar memanggilnya. Ia menolehkan kepalanya dan melihat Aigis, tengah berlari ke arahnya dengan beberapa prajurit yang mengejarnya. "Masuklah! Masih ada beberapa prajurit di sini, aku akan membereskan mereka! Setelah itu aku akan menyusulmu masuk!"

"E-eh? Apa...? Tunggu, aku akan membantumu—"

"CEPAT!" Aigis akhirnya berteriak, Souji tampak berpikir sejenak, kemudian berlari memasuki gedung tersebut.

Setelah Souji masuk ke dalam gedung sekolah, Aigis bergumam pelan, "Aku... terpaksa sekali lagi mempercayakan Naoto-san padamu, Seta-san..." android berambut pirang itu tampak menyesal. Tetapi tidak lama kemudian pandangannya kembali terfokus pada para prajurit, beberapa dari mereka berseragam militer, beberapa berseragam sekolah, dan mantan sahabatnya, Takeba Yukari, telah mengepung dirinya. Aigis mengangkat tangannya, lurus sementara jari-jari tangannya mulai terbuka.

"...Aku dapat menembak seluruh rekan-rekanmu, Yukari-san..." Aigis berkata pelan.

Yukari tersenyum, walaupun ia terlihat lelah. Satu tangannya menggenggam erat luka tembakan dari Aigis pada bagian bahu kirinya.

"...Kau merepotkan... tidak pernah berubah..." itulah jawaban singkat Yukari.


Chie mengendalikan WPMnya dengan penuh semangat dan melancarkan tendangan kuat ke arah Jiraiya, WPM milik Hanamura Yosuke.

"Kerja bagus, Chie!" Junpei menyemangati, ia kemudian menekan suatu kombinasi tombol dan meluncurkan lima buah misil ke arah Jiraiya. Tetapi sekali lagi, Yosuke menggerakkan WPM miliknya untuk mengangkat kedua lengannya, kemudian mengayunkan kedua lengan Jiraiya ke depan dan menghasilkan angin kuat yang menyebabkan misil-misil tersebut terbang tak tentu arah, yang berakhir kelima misil itu saling bertubrukan di udara dan meledak cukup jauh dari mereka.

"Hmm... 'garula'... ya? Tapi jangan harap aku juga tidak memiliki kemampuan yang mirip denganmu!" ucap Junpei cukup keras. Satu tangan pemuda itu meraih salah satu tuas dan tangan lainnya mengetik suatu kombinasi keyboard. Dari ujung sayap emas Hermes, kobaran api mulai terbentuk dan menyatu. "Agilao!" teriak Junpei seraya Hermes melemparkan bola api yang berkobar-kobar ke arah Jiraiya. Yosuke tidak dapat menghindar karena Chie menggunakan Tomoe untuk menahan tubuh Jiraiya dari belakang dengan kedua lengannya.

Kobaran bola api itu membentur tubuh Jiraiya dan Yosuke memejamkan mata karena guncangan kuat pada WPM miliknya. "Ck..." Yosuke tampak kesal, dan ia memutar tubuh Jiraiya kuat dan sedikit menghasilkan angin dari tubuhnya yang berhasil mendorong Tomoe menjauhinya. Yosuke kemudian terbang sedikit menjauh dari mereka, walaupun WPM miliknya masih menghadap kedua WPM musuh tersebut.

"Sir Hanamura! Perintah anda!" radio komunikasinya bergetar. Yosuke menyunggingkan senyuman.

"Kau mengharapkan apa dari perintahku? Kau sudah tahu, kan?" Yosuke menjawab, tatapannya tampak waspada dengan gerakan tiba-tiba Tomoe yang siap menerjangnya. "Totschlagen (bunuh)." Yosuke mengumumkan perintahnya.


Naoto duduk bersandar pada tembok. Kedua kakinya juga terikat sekarang. Gadis itu sesekali melirik kedua pria yang sekarang sibuk memperhatikan dunia luar lewat kaca jendela sekolah di koridor. Mereka menyeret Naoto hingga ke lantai empat gedung sekolah itu. Sedikit lega karena pria tersebut hanya memeriksa jaketnya, kedua tangan Naoto yang terikat mulai bergerak dengan sedikit susah payah untuk merogoh saku rok sekolahnya, yang masih menyimpan sebuah cutter.

Selang sekitar lima belas detik, Naoto berhasil menarik cutter tersebut dari saku rok sekolahnya. Gadis itu mencoba memposisikan cutter itu dengan kedua tangan untuk mengarahkan sisi cutter pada tali pengikat tangannya. Perlahan-lahan, Naoto mencoba memotong tali tersebut menggunakan sisi dan ujung lancip cutter, tetapi usahanya sangat sulit dilakukan berhubung tali pengikatnya cukup tebal dan cutter tersebut sepertinya belum bisa dikatakan tajam. Posisi kedua tangannya juga kurang mendukung.

"Ada beberapa WPM..." gadis itu mendengar salah satu pria yang menangkapnya berbicara di tengah usaha gadis itu melepaskan diri, "dan kurasa dua di antaranya adalah musuh... berhubung pilot WPM di negara kita yang diutus kemari hanya Hanamura."

"...Begitu? Apa mereka akhirnya sadar bahwa serangan di kerajaan hanya pengecoh? Ataukah..." rekannya terdiam sejenak, "ada beberapa tamu tak diundang kemari? Tapi daripada itu..." rekan pria itu melanjutkan, ia kemudian kembali menolehkan kepalanya pada Naoto yang segera menghentikan usahanya ketika menyadari pria tersebut masih mengawasi gadis itu, "sepertinya gadis kecil kita ini berbuat kenakalan..."

Pria tersebut berjalan ke arah Naoto. Jantung gadis itu berdegup sedikit lebih kencang ketika pria itu berjalan semakin dekat. Ia memperkuat cengkeramannya pada cutter tersebut. Itu adalah benda terakhir yang dapat ia andalkan untuk menyelamatkan dirinya.

Pria itu menyunggingkan senyum kejamnya ketika ia telah berada di dekat Naoto. Secara tiba-tiba, ia menarik lengan gadis itu dengan kasar untuk memaksanya berdiri. Kaget dengan gerakan mendadak itu, kedua tangan Naoto sempat melemas dan berakhir menjatuhkan cutter tersebut dengan suara tubrukan halus pada lantai koridor.

"Oh... cutter? Kau berusaha memotong tali pengikatmu dengan cutter tumpul ini?" rekan pria yang menarik Naoto secara paksa itu meraih benda 'terakhir' milik Naoto dengan tawa mengejek.

Tawanya terhenti ketika ia melihat kedua pergelangan Naoto yang terikat. "Ah... usahamu bagus juga, gadis kecil... tali itu nyaris terpotong..." ucapnya dengan tawa kecil, "sayangnya, kami akan memberimu sedikit 'hukuman'..." ia melanjutkan sementara tangannya bergerak ke arah saku celana yang ia kenakan, mengeluarkan seutas tali lain yang sedikit lebih tebal sekaligus kasar, dan mengikatkannya pada kedua pergelangan tangan gadis itu tanpa melepaskan tali pengikat yang nyaris terpotong sebelumnya. Naoto meringis kesakitan ketika pria itu mengikatkan tali itu terlalu kuat hingga sebercak darah gadis itu mulai mengalir dan membasahi tali tersebut akibat gesekan dan tekanan.

"Kita tidak punya banyak waktu lagi... cukup lemparkan gadis kecil ini ke dalam 'ruangan itu' dan tugas kita selesai..." salah seorang pria itu memberitahu. Sementara rekannya mengangguk.

"Baiklah ka—ARGH!" pria itu tiba-tiba berteriak kesakitan dengan suatu pukulan keras pada bagian kepalanya dari belakang. Ia terjatuh ke lantai dengan darah dari kepalanya mengalir keluar. Naoto menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat sosok Seta Souji yang tampaknya memukul kepala pria itu dengan pegangan pistol yang ia genggam.

"Yo, Shirogane-san..." Souji menyapa dengan senyuman tipis. Pria berseragam satu lagi langsung menarik Naoto dan menyelipkan satu lengannya di sekitar leher gadis itu.

"...Mmph..." Naoto bersuara kecil seraya ia memejamkan mata dengan gerakan tiba-tiba tersebut, dan jantung gadis itu berdegup sedikit lebih kencang ketika ia membuka kembali matanya, mendapati ujung pistol telah ditekan di samping kepalanya.

"Jangan mendekat..." pria itu mengancam sementara ia mengencangkan dekapan lengan di sekitar leher Naoto. Gadis itu mulai tercekik dan merasa kesulitan bernapas.

Souji terdiam sejenak, ia kemudian menutup kedua matanya sekitar dua detik dan membukanya kembali. Pemuda itu kemudian menjatuhkan pistol dan senapan yang dibawanya ke lantai. "Lihat... aku menjatuhkan seluruh senjata yang kubawa... lepaskan dia."

Pria itu masih tampak waspada, ia masih menekan ujung pistolnya dan semakin memperkencang lengannya. Naoto semakin sulit bernapas dan ia mulai terbatuk. "A-aku..." pria itu tiba-tiba berkata, "tidak memiliki lebih banyak waktu lagi. Aku harus meninggalkan gedung ini..." ia kemudian mulai tertawa kecil, "...tenang saja, gadis ini akan kulepaskan di 'saat yang paling tepat'..."

"Lepaskan dia sekarang." Souji mulai melangkahkan satu kakinya, dan pria tersebut menekan sedikit pelatuk di pistol yang ia arahkan pada Naoto.

"Sudah kubilang... jangan mendekat..." pria itu mengancam sedikit lebih keras. Souji menggigit bibirnya. Ia merasa ia dikejar waktu... membiarkan Naoto terlalu lama tercekik seperti itu juga dapat berisiko fatal.

'Kalau begitu... sepertinya aku harus... mengadu kecepatan...' batin Souji dalam hati. Pemuda itu kemudian langsung menggelengkan kepalanya. 'Tidak... terlalu berisiko...'

"Sebentar lagi..." pria itu kembali membuka mulutnya dan menarik perhatian Souji. "Sebentar lagi... waktunya akan tiba... pada saat itu aku akan melepaskan gadis ini dan mengembalikannya padamu... tetap seperti itu hingga waktunya tiba..."

'...Apa yang ia bicarakan sejak tadi? Waktunya tiba...?' Souji masih bertempur dalam pikirannya. Souji kembali memperhatikan Naoto. Gadis itu semakin terlihat kelelahan dan terbatuk-batuk, sementara nafasnya mulai tidak teratur.

Tiba-tiba, mata Souji membelalak lebar. Perhatiannya teralih pada kaca jendela besar di belakang pria itu dan Naoto. Ia melihat cahaya kemerahan yang sangat familiar. "A-apa...?" pemuda itu tidak tahu bagaimana ia harus bereaksi. Souji melihat kobaran api mulai membakar daerah sekitar sekolah itu, pekarangan dengan pepohonan dan bunga-bunga itu mulai ditelan kobaran api yang mengamuk. Seketika ia kembali teringat pada masa lalu.

Kobaran api... orang-orang yang berteriak ketakutan sementara tubuh mereka terbakar...

Melihat reaksi Souji, pria itu secara otomatis ikut menolehkan kepalanya ke belakang, kaget melihat amukan api yang melalap setiap bangunan, dan ia percaya, gedung sekolah ini juga akan terpanggang dalam hitungan menit.

Souji segera tersadar dari lamunannya dan melihat suatu kesempatan ketika pria itu menolehkan kepala ke belakangnya. Dengan cepat, Souji segera menerjang pria itu dari depan hingga ia melepaskan Naoto dan terjatuh. Gadis berambut biru yang masih sesak napas itu juga ikut terjatuh ke lantai.

"Kau...!" pria itu berteriak, sementara Souji kembali memukul kepalanya dengan ujung pistol untuk membuatnya pingsan. Ia segera berdiri dan berlari ke arah Naoto, melepaskan ikatan gadis itu dengan susah payah. Simpulnya sangat rumit dan kuat.

"Kau tidak apa-apa, Shirogane-san?" Souji bertanya ketika ia melepaskan kain yang terikat di sekitar mulut gadis itu.

"Aku... tidak... apa-apa..." gadis itu menjawab lemah. Ia berlutut dan kepalanya tertunduk. Sekilas, Souji melihat pergelangan tangan gadis itu. Pemuda itu baru benar-benar menyadari bahwa ada yang aneh dengan pergelangan tangannya. Memang membentuk bekas ikatan, tetapi ia melihat beberapa bekas goresan hingga bekas-bekas luka lain yang tampaknya terbentuk tidak hanya karena terikat beberapa lama.

"Ahahah! Inilah semi-climax! Kau menyukainya?" mereka tersentak kaget ketika mendengar suara samar di tengah suara amukan api yang menyala-nyala di balik kaca jendela mereka yang terbuka. "Whoa, tunggu dulu, ini bukan salahku, kau melemparkan bola api itu dan aku menghembuskannya dengan garu! Sama sekali bukan salahku!" suara itu kembali terdengar, "Tetapi kau telah melakukan kerja bagus, kau mewarnai lebih lagi pesta darah ini, 'bloody party'!"

"Cih... Yeah, 'Verdammt party' (pesta sialan), dasar keparat!" suara kedua terdengar. Souji mengenalinya sebagai suara Junpei.

"...Junpei?" Souji sulit memercayai pendengarannya. Apa kobaran api ini disebabkan pertarungan mereka? Bagaimana dengan Chie?

"T-terbakar..." suara Naoto terdengar lemah di samping Souji. Pemuda itu menolehkan kepala pada gadis di sampingnya, "...A-aku... gara-gara aku..."

"Bukan... sama sekali bukan salahmu..." Souji berusaha meyakinkan. Mengapa gadis ini justru menyalahkan dirinya sendiri? Souji merasakan tubuh gadis itu bergetar hebat. Ia menaruh satu tangannya di pundak gadis itu, berusaha menenangkannya.

"...Ya, ini salah...mu..." terdengar suara pria yang baru saja mencekik Naoto dengan lengannya. Pria itu terbangun kembali. Ia tampak lelah dan pria itu hanya berlutut, sementara di belakangnya api mulai berkobar semakin terang. "...Kau... Kau...! Uhuk..." pria itu menahan tubuhnya dengan kedua tangan agar tidak terjatuh. Ia memuntahkan darah dari mulutnya. Souji terkejut, apa pemuda itu memukulnya terlalu keras barusan?

"...Darah...?" suara Naoto kembali terdengar.

"Eh?" Souji kembali memperhatikan Naoto. Gadis itu menatap kosong pada pria tersebut. Di luar dugaan Souji, gadis itu tiba-tiba menyunggingkan senyuman tipis.

"Da-darah..." Naoto bersuara pelan. Souji tampak kebingungan. "Apakah... darah itu keluar cukup banyak untukku... agar aku dapat membunuhmu?"

Kedua mata Souji membelalak lebar ketika ia mendengar pertanyaan gadis itu. Senyuman gadis itu semakin melebar. Souji merasa yang berada di samping pemuda itu sekarang tampaknya bukan lagi Naoto. Sorot matanya terkesan sangat berbeda. Souji melihat suatu sorot mata kekanakan dan polos memancar dari mata safir berkilauan kelabu itu. Sorot mata kepuasan dan kebahagiaan, tetapi entah kenapa membuat tubuh pemuda itu merinding dan mendapatkan suatu firasat buruk.

Kemudian, dengan tawa seperti anak kecil, Naoto segera berdiri dan berjalan mendekati pria itu. Ia kemudian meraba saku seragam pria itu dan mengeluarkan benda-benda yang telah diambilnya tadi. Souji dapat melihat sebuah revolver, jarum suntik, botol obat cair... dan WCM key card miliknya!

Apa yang paling tidak diduga Souji adalah tindakan Naoto selanjutnya. Gadis itu masih tersenyum dan tertawa layaknya anak-anak yang baru mendapatkan mainan baru, dan dengan tawa cerianya itu, ia mengarahkan revolver miliknya ke arah kepala pria itu. Gadis berambut biru itu menarik pelatuk dan melubangi kepala pria tersebut dengan peluru. Darah mengucur keluar dari kepala pria tersebut yang tidak lagi bernyawa, tetapi tindakan Naoto tidak sampai di sana saja, gadis itu kembali menembakkan revolvernya berkali-kali ke bagian tubuh lain. Darah pria itu memuncratkan tubuh mereka hingga mengenai wajah Naoto.

"A—pa...?" mulut Souji terbuka lebar. Ia tidak dapat memercayai penglihatannya. Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

"Ternyata benar! Kau monster! Kau tidak layak hidup di dunia ini! Kau harus dilenyapkan!" Souji menolehkan kepalanya dan mendapati rekan pria tersebut, yang telah sadarkan diri, menunjuk Naoto dengan tatapan penuh amarah tetapi juga ketakutan.

"Apa... yang terjadi...?" hanya itulah reaksi yang dapat Souji berikan.

"Kau pembunuh! Pembunuh keji! Kau dan kelompokmu, kau pantas mendapatkan kematian! 'Dunkel Technologie', kelompok parasit seperti kalian akan tidak akan kami biarkan hidup barang seorangpun, kami akan memenggal kepalamu, 'boneka pembunuh'!" pria itu berteriak semakin kencang. Ia meraih salah satu pistolnya dan mengarahkannya pada Naoto, dan pria itu langsung berniat menarik pelatuk.

Tetapi ia belum sempat melakukan itu, karena Naoto telah menarik pelatuk revolver miliknya terlebih dahulu. Souji mengalihkan perhatiannya pada Naoto, tatapan matanya mendingin... sedingin es... dan tampak seperti seorang pembunuh keji.

"Tolong..." gadis itu tiba-tiba bersuara pelan.

"...E-eh...?" Souji tampak sangat kebingungan. Ia terkejut melihat air mata mulai membasahi pipi gadis itu.

"He-hentikan... aku... hentikan 'monster' dalam diriku... tolong..." air mata yang mengalir dari mata biru keabuan jernih itu semakin deras. Tetapi selain mata gadis itu, Souji justru melihat senyuman kembali tersungging di bibir sang gadis. Souji segera berdiri, sepertinya ia tahu apa yang harus dilakukan.

"Hentikan, Shirogane-san—"

Souji belum sempat menyelesaikan kalimatnya ataupun bertindak, sementara Naoto telah mengarahkan revolver dan menembak bagian kaki, bahu, lengan, perut, dan dada berturut-turut. Naoto menyelesaikannya dengan tembakan di kepala pria itu. Naoto lalu berlari mendekati pria tersebut, meraih cutter yang tergeletak di lantai, kemudian menusukkan benda itu pada jantung sang pria berkali-kali dengan tawanya yang kekanakan.

"Hentikan! Hentikan—Shirogane-san!" Souji berteriak semakin keras. Pemuda itu berlari dan menahan satu tangan gadis itu yang menggenggam cutter.

"Cih... lepaskan!" Naoto memberontak sangat kuat dan tampak terganggu. Namun Souji mempererat cengkeramannya, walaupun masih berhati-hati dengan pergelangan tangan berlumuran darah itu. Seragam putih gadis itu telah ternodai dimana-mana dengan darah yang mengalir keluar dari tubuh pria di hadapannya.

"Jangan kau lakukan itu—Naoto!" Souji berusaha menenangkannya, tanpa menyadari ia memanggil nama kecil sang gadis.

.

"Rache ist... (revenge is...)"

.

Gerakan Naoto terhenti. Kedua mata gadis itu membelalak ketika ia menyadari apa yang telah ia lakukan. Gadis itu segera menjatuhkan cutter tersebut, tetapi pandangan matanya belum dialihkan dari mayat pria di hadapannya. Air mata membanjir membasahi pipi hingga lehernya. Souji masih menggenggam tangannya, tetapi ia akhirnya melepaskan tangan itu setelah mengetahui Naoto mulai tersadar.

.

"...töten... (kill)"

.

"Seta...san... a-aku..." Naoto terisak semakin keras, "maafkan aku... maaf... es—tut—mir leid..." gadis itu melingkarkan kedua lengannya di sekitar tubuh. Souji menghampiri Naoto, pemuda itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya, tetapi ia tahu gadis ini perlu ditenangkan. Souji melingkarkan kedua lengannya di sekitar tubuh gadis itu... dan gadis itu merasakan suatu kehangatan yang membuatnya merindukan sesuatu... sesuatu sebelum itu... dan Naoto menangis tanpa menahannya lagi.

'Apa yang harus kulakukan... Aigis...?' batin Souji pelan. Sewaktu itu ia melupakan bahwa Naoto adalah musuh... gadis yang ada di hadapannya hanyalah seorang anak kecil yang membutuhkan kasih... kasih yang hilang... sama seperti dirinya.

.

"...Blut... Blut~ süßes Blut~ köstlichen Blut~ (..Darah... darah~ darah manis~ darah lezat~)"

Naoto kecil bernyanyi pelan tanpa ekspresi di tengah mayat-mayat yang bergelimpangan.


A/N: Ohha... :D

*swt*

tambah gaje ya? ah... lagi" saya bikin ini nge'rush'... kembali mengingat chap ini paling terlambat di-update dibanding yang lain... dua minggu lebih...? tiga minggu...? berapapun itu -dicekek- dan subuh waktu saya ngerjain ini... jadi otak saya masih rada" error kali... saya juga sadar betapa sotoynya saya ini... saran perbaikan boleh disumbangkan...

Ah ya, terima kasih untuk kalian yang telah membaca hingga di sini, dan terima kasih sebanyak"nya atas review yang kalian berikan: NeeNao, Kuroka, toganeshiro-chan, CaNiNeZ, Tetsuwa Shuuhei, DeathCode, dan heylalaa! :D

Maaf, saya belom sempet bales reviewnya, tapi akan dibales ASAP... waktu ga memungkinkan... -ditimpuk-

dan ini balasan untuk CaNiNeZ: terima kasih banyak~ dari apa yang bisa dilihat sejauh ini, Naoto berada di pihak Akihiko dan Mitsuru (Letzvetrie), lalu soal cerita jadi kayak Romeo dan Juliet... hmm... diliat nanti ya *plak* Nein! agak beda dengan kisah RnJ sih (Romeo n Juliet) ah, terima kasih banyak! Good luck untuk anda juga :)

Ah, sedikit penjelasan tambahan, 'Verdammt party' yang diteriakkan Junpei di chapter ini bersifat... apa namanya...? ambigu (lebih dari satu makna? -sotoy-) ? karena kata 'Verdammt' juga bisa diartikan 'bloody', pada cerita di atas, Junpei mengatakan 'Yeah', pertanda setuju, tetapi bersifat sedikit menyindir, yaitu dengan menerjemahkan 'Bloody party' menjadi 'Verdammt' party yang dapat berarti sama, tetapi juga mengandung arti lain, yaitu salah satu slang word yang biasa kita dengar: 'sial' ato 'd***' (kalo ga disensor... w takut dikeroyok =_= -beneran dikeroyok-)

Ah ya, seperti biasa, komentar, saran dan kawan-kawannya boleh disampaikan lewat review. Really appreciate them! :D

See ya on the next chap!

Best Regards,

Snow Jou