LavenderKu
Chapters 7
Pair . NaruHina . GaaHina
Rate . M (kekerasan)
Genre . Romance . Action
Disclaimer . Masashi Kishimoto
~o0o~
Ada perasaan ragu dalam benak Hinata untuk menceritakannya namun disisi lain ia tak mau melihat teman-temannya yang terus mengkhawatirkannya, Hinata menghembuskan napasnya secara perlahan dan menjelaskan semuanya.
"Sejak aku lahir aku sudah memiliki fisik yang lemah dan sering jatuh sakit lalu saat aku berumur tujuh tahun aku terkena penyakit kelainan jantung,,"
Semua hanya mampu terdiam mendengar penjelasan Hinata.
Hinata menghembuskan napasnya pelan dan melanjutkkan penjelasannya.
"Saat itu penyakit ku belum parah dan masih dapat di obati namun semakin hari tubuh ku semakin melemah.."
"Hinata,, kenapa kamu tidak cerita ke kami, kami semua sahabat mu Hinata." Sakura meraih tangan Hinata yang duduk disampingnya dan menggenggam telapak tangannya erat.
"Aku tak ingin kalian sedih." elaknya.
"Lanjutkan Hinata." pinta Gaara.
"Ayah ku meminjam uang kepada perusahaan tempat ia berkerja karena ayah ku hanya satpam disana dan gajinya juga tidak terlalu besar,, ayah meminjam uang untuk pengobatan ku."
"Hingga dua minggu yang lalu ayah ku kembali meminjam uang untuk operasi ku karena jantung ku telah rusak total, president direktur akan menganggap semua hutang ayah ku lunas dan akan membiayai seluruh pengobatan ku asalkan.."
"Asalkan kau menikah dengan president direktur Namikaze Naruto." Potong Sasuke cepat yang telah paham akan permasalahan yang Hinata hadapi saat ini yang membuatnya cukup prihatin mendengarnya.
"Iya begitulah." Kata Hinata menanggapi ucapan Sasuke yang memang benar adanya.
Diluar rumah, mobil Naruto terparkir di halaman depan.
Yuura keluar dari mobil dan di ikuti Naruto dan bersama memasuki rumah.
Yuura masih mengenakan mantel Itachi ditubuhnya dan tanpa ia kehendaki pipinya merona walau sedikit.
Naruto melirik Yuura dan tersenyum kecil melihat rona dipipi Yuura.
"Baru kali ini aku melihat wajah mu merona" Sindir Naruto terkekeh pelan.
"Tidak." Yuura memalingkan wajahnya tak ingin Naruto melihat pipinya yang merona.
Naruto terkekeh pelan melihat Yuura salah tingkah dan langkah kakinya berhenti setelah indra pendengarannya mendengar suara Hinata dan teman-temannya dari ruang tv.
Naruto menghampiri ruang tv dan memilih berdiri dibelakang lemari kaca yang cukup besar dan tentunya Yuura mengikutinya dari samping.
"Ceraikan dia dan akan aku lunasi semua hutang ayah mu." ujar Gaara meyakinkan Hinata dengan penekanan disetiap katanya.
Naruto terkejut dan geram mendengarnya lalu mengepal tangannya kuat siap menghajar setan merah bertato Ai yang duduk dihadapan Hinata namun lengan nya di tahan Yuura agar tidak gegabah dan memilih diam untuk mendengar jawaban dari Hinata yang masih duduk dalam diam.
"Maafkan aku,, Gaara tapi aku hanya ingin menikah sekali dalam hidup ku." Sahut Hinata mantap dengan perkataannya walaupun hatinya terasa sakit jika melihat Naruto terus bersama Yuura dan menyimpan sebuah rahasia yang ia tidak ketahui apalagi beberapa hari ini banyak orang yang ingin mencelakai mereka tanpa alasan yang tidak ia ketahui dan yang membuatnya terkejut bukan main adalah Yuura memiliki senjata api dan entah untuk apa.
"Tapi Hinata,, Gaara mencintai mu! Naruto? Dia pria yang misterius dan tidak ketahui siapa dia, bahkan lihatlah rumah mu dijaga ketak bak dipenjara!" Ujar Sai menjelaskan.
Dan dibalas anggukkan setuju oleh yang lain.
Hinata tau akan hal itu, ia juga penasaran siapa Naruto dan Yuura dan apa rahasia diantara mereka namun ia lebih memilih diam dan tidak bertanya takut Naruto akan marah jika ia bertanya.
"Iya." Ucap Hinata mengerti.
"Apa yang kalian bicarakan BOCAH?!" Ketus Naruto yang akhirnya muncul dari belakang lemari diikuti Yuura dibelakangnya.
"Naruto-kun." Ucap Hinata lembut.
"Tidak ada hanya mengobrol." Jawab Sakura acuh.
"Kami bukan BOCAH!" Ketus Gaara tajam.
"Naruto-kun, tadi ada seorang pria namanya Jiraya, dia menitipkan kotak ini padaku katanya berikan padamu." Hinata berdiri menghampiri Naruto, tangan nya menyerahkan sebuah hitam berbentuk persegi panjang.
Naruto menerima kotak hitam itu dan membuka tutup kotak itu dan betapa senangnya ia setelah melihat benda didalamnya sedangkan Hinata terkejut melihatnya hingga tanpa sadar ia melangkahkan kakinya kebelakang menghindari Naruto membuat yang lain merasa aneh dan juga ikut berdiri.
"Aku suka." Ujarnya dan memperlihatkan nya kepada semua orang yang ada diruangan.
Sebuah pistol jenis Springfield dengan peredam suara berukuran kecil berwarna hitam.
"Hei kau!" Naruto mengangkat pistol itu dan mengarahkannya tepat di kepala Gaara dengan seringai diwajahnya.
"Kau tau, kau akan segerah mati jika peluru yang ada dipistol ini menembus kepala mu." Naruto menyeringai dan menurunkan pistolnya lalu menyimpannya disaku jas yang ia kenakan.
"..." Gaara terdiam dan mengepal tangannya kuat menatap Naruto penuh kebencian terlihat jelas di sepasang jade nya yang hijau.
Yuura hanya diam tanpa ekspresi diwajahnya dan seditik kemudian dia melepaskan mantel Itachi yang ia kenakan.
"Bukan nya itu mantel aniki." Sasuke melihat Yuura menanggalkan mantel Itachi yang ia ketahui itu adalah mantel kesayangan Itachi hadiah dari sang ibu Uchiha Mikoto.
Mantel berwarna hitam kebiruan itu adalah hadiah ulang tahun Itachi yang ke17 dari Uchiha Mikoto.
Itachi jarang mengenakan nya ia hanya akan memakainya jika peringatan hari kematian orang tuanya atau hari ulang tahunnya namun sekarang dipakai oleh Yuura dan tentunya Sasuke heran dan aneh melihatnya.
"Benar." Sahut Yuura.
"Naruto! Yuura!" Dari luar rumah Itachi turun dari mobilnya lalu berteriak memasuki rumah.
"Hah..hah..hah.." Itachi sampai diruang tv dan mengatur napasnya yang ngos-ngossan.
"Ada apa?" Tanya Naruto.
"Aniki sedang apa disini?" Tanya Sasuke heran melihat kedatangan sang kakak.
"Hy Sasuke!" Sapa Itachi dan tersenyum kecil melihat sang adik.
"Aku punya kabar gembira untuk kita semua.."
"Hei hei jangan promosi kulit manggis oke." Ketus Naruto cepat ia tahu bahwa Itachi sering membuat lelucon bahkan iklan ekstrak kulit manggis pun dijadikan lelucon baginya apalagi dengan kalimat 'Aku punya kabar gembira untuk kita semua kulit manggis kini ada ekstraknya.' bahkan Naruto pernah melempar kepala Itachi dengan buku karena saat orang serius membahas Akatsuki ia malah melenceng ke kulit manggis.
"Jangan bercanda." Ucap Yuura dingin.
"Hehehehe tidak akan." Itachi hanya terkekeh pelan mengingat kejadian sebulan yang lalu kepalanya dilempar buku oleh Naruto namun dapat ia hindari.
"Cepatlah!" Ketus Naruto sweatdrop melihat Itachi dan pikirannya pun sudah sangat jauh jika Itachi bercanda lagi maka Naruto akan menguji coba pistol barunya dikepala Itachi.
"FBI menemukan Pain didaerah Sunagakure desa pasir." Ujar Itachi dengan raut wajah serius.
"Itachi nii sebenarnya apa hubungan mu dengan Namikaze dan FBI?" Tanya Sasuke yang juga ikut penasaran.
"Sasuke, aniki akan memberitahu mu nanti tidak sekarang karena aniki tidak mau membebani mu karena kau harus fokus belajar terlebih dahulu." Ujar Itachi.
"Apa kita harus pergi sekarang?" Tanya Yuura.
"Tentu saja." Jawab Naruto.
"Pain dilindungi oleh beberapa anak buahnya disebuah gedung tapi tidak ada Obito dan Konan." Ujar Itachi.
"Sertinya Akatsuki sudah tau keberadaan ku dan tau aku sudah menikah." Kata Naruto.
"Naruto-kun." Ucap Hinata pelan dan takut.
"Tapi bukannya rumah mu sudah dipasang beberapa sinyal khusus agar rumah mu tidak mudah dilacak oleh satelit." Ujar Itachi.
"Mereka genius dan tidak mudah untuk dibodohi." Sambung Yuura.
"Kita pergi sekarang dan Hinata tetaplah dirumah dan jangan keluar rumah walaupun sebentar." Ujar Naruto.
"Hinata bukan barang yang harus kau simpan di dalam rumah, dia manusia biasa dan ingin hidup bebas." Sindir Gaara.
"Ini demi keselamatan Hinata, Gaara." Timpal Itachi.
"Kenapa banyak yang ingin mencelakai kita." Ujar Hinata menatap mata suaminya penuh harap agar suaminya mau menjelaskan.
"Kita pergi sekarang." Ucap Naruto dingin lalu berbalik kebelakang dan beranjak pergi.
"Saya harap nona mengerti." Ujar Yuura kemudian pergi mengikuti Naruto.
"Sasuke! Jangan pengaruhi Hinata oke." Seru Itachi dan juga ikut pergi.
Hinata menundukkan kepalanya, ia tak tau harus berbuat apa dan hanya bisa berdiam diri.
Sakura menghampiri Hinata dan menyentuhnya pundak nya pelan memintanya duduk di sofa disampingnya berdiri.
"Kau tidak akan bahagia kalau terus seperti ini." Ujarnya dan memeluk Hinata.
~o0o~
SunaGakure pukul 10.30
Seorang pria bersurai pirang berdiri di atas sebuah gedung tua yang tak terpakai dan terlihat kumuh.
Bahkan cat yang melekat didinding banyak yang mengelupas dan dindingnya telah terlihat retak bahkan hancur dibeberapa bagian.
Angin berhembus pelan menerbangkan helaian rambut pirangnya merasa bosan ia pun melangkahkan kakinya berbalik kebelakang menuju pintu masuk.
Siapa sangka gedung yang terlihat kumuh, tua, dan terlihat hancur ini cuma luarnya saja dan bagian dalamnya terlihat bersih rapi.
Keramik berwarna putih cerah tertata rapi dilantai dan cat yang ada didinding masih terlihat bagus dan mulus.
Langkah kakinya terhenti didepan sebuah pintu yang terbuka dan seorang perempuan bersurai biru berparas cantik telah menunggunya.
"Ada apa Konan?" Tanyanya dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan.
"Pain, mereka telah menemukan kita." Jawabnya.
Pria yang bernama Pain hanya menutup mulutnya dan duduk disofa dengan tenang.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil dan meraih sebuah pistol yang tergeletak dimeja panjang dihadapannya.
"Obito akan membuat ledakkan kecil area KonohaGakure." Ujarnya dan kembali menaruh pistol itu diatas meja.
"Inti tugas kita adalah mengambil ahli pabrik itu dan menghancurkannya." Sambung Pain.
"Kita hanya akan menguasai pabrik mereka dan menjual setiap senjata yang mereka ciptakan untuk para penjahat diluar sana." Timpal Konan kemudian duduk disamping Pain.
"Madara apa yang ia inginkan?" Kata Konan menatap Pain dengan tanda tanya.
"Uchiha dan Namikaze adalah dua klan yang sejak dahulu bermusuhan dan selalu bersaing bahkan saling membunuh." Ujar Pain menjelaskan.
"Lalu? Itu sejak kapan?"
"Sejak jaman dinasti kerajaan hingga saat in tapi Namikaze Dan ingin berdamai dengan Uchiha Madara karena menurutnya itu tak ada gunanya namun Madara tidak terima namun Fugaku putranya sangat menyetujuinya.."
"Begitu yaa.."
"Kita ini Akatsuki kita bergerak dibawah pemerintah dan tugas kita adalah membunuh orang korupsi uang negara, dan kejahatan lain tapi Madara mengambil alih kita agar menuruti semua printahnya."
"Jadi Madara.."
"Kau anggota baru jadi ku maklumi jika kau tidak tau."
"Tolong lanjutkan cerita mu, Pain."
"Yah Fugaku dan Minato meresmikan perdamaian mereka dan akan menikahkan anak mereka jika berbeda gender untuk mempererat mereka tapi Madara tidak setuju dan memilih membunuh keluarga Namikaze dan anak serta menantu nya sendiri menyisakan kedua cucunya Itachi dan Sasuke dan putra tunggal Namikaze, yaitu Naruto.."
"Tapi siapa Yuura?"
"Yuura dan Yuuto aku kurang tau tentang mereka tapi mereka juga Namikaze walaupun bukan Namikaze berdarah murni."
"Blasteran dengan klan lain?"
"Begitulah."
"Apa kita akan segerah mati?"
"Jika Naruto menemukan kita."
"Akatsuki telah membunuh kedua orang tuanya dan juga kakek dan neneknya tentu dia dendam."
"Itachi juga ikut memburu kita kan?"
"Ia juga tau kita telah membunuh kedua orang tuanya atas printah Madara."
"Apa ia juga akan membunuh Madara? Kakeknya sendiri?"
"Ya begitulah mungkin."
"Konan,," Panggil Pain.
"Iya." Konan kembali menatap Pain yang memanggil namanya dengan lembut.
"Pergilah keluar negeri dan bersembunyilah."
"Tapi.."
"Kau sudah operasi wajah mu kan?"
"Sesuai printah mu ketua tapi untuk apa?"
Pain tersenyum kecil dan meraih tangan Konan yang kecil dan menggenggam nya erat.
"Ubah warna rambut mu jadi warna hitam pasti bagus." Pain membelai rambut Konan lembut dan menatapnya penuh kasih sayang.
"Aku mencintai mu dan aku tak ingin orang yang aku cintai mati bersama ku, aku ingin ia hidup bahagia meskipun aku tak dapat melihatnya." Ujarnya bijak dan berhasil membuat hati Konan tercubit hatinya dan sesungguhnya Konan juga mencintai Pain secara diam-diam tapi pernyataan Pain tadi cukup membuat hatinya terasa sakit.
"Pergilah ke Wongshinton DC disana aku telah membuat identitas mu dan semua perlengkapan untuk mu." Ujarnya.
"Percuma mereka akan tetap mencari ku." Ujar Konan.
"Tidak akan karena kemarin aku telah menculik seorang perempuan lalu wajah di operasi agar persis seperti kamu dan mengubah warna rambutnya."
"Lalu dia saat ini berada di salah satu ruangan di gedung ini, dia akan ku tembak mati, dan mereka mengira aku telah membunuhmu jadi mereka tidak akan mencari mu, dan sekarang aku akan memberimu sebuah nama yang baru."
"Siapa nama baru ku, Pain?"
"Aku suka dengan nama Caroline dan kita bertemu pada saar musim salju, jadi nama mu,,"
"Yuuki Caroline." Ucap Konan mengerti.
"Benar." Pain menatap lembut Konan dan perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan Konan.
"Aku mencintai mu, Yuuki."
Cup.
Dengan lembut Pain mencium bibir Konan yang kini bernama Yuuki.
Konan memeluk leher Pain dan memperdalam ciumannya, setetes air matanya mengalir membasihi pipinya.
Perlahan Pain mendorong tubuh mungil Konan kebelakang sehingga Konan tertidur di sofa dengan dirinya menindih tubuh Konan.
Merasakan posokan oksigen habis, Pain melepaskan ciumannya dan menatap Konan dengan lembut.
"Jadikan aku milik mu sebelum kau pergi dariku, berikan aku sebuah kado kecil yang berharga agar dapat menemani ku disuatu hari nanti, dan agar aku tidak kesepian." Pinta Konan penuh harap kepada pria yang kini menindihnya.
"Akan ku berikan dengan satu syarat,,"
"Apa?"
"Jaga dia dan sayangi dia dan buatlah dia bahagia walau tanpa aku."
"Akan aku laksanakan syaratnya dengan sepenuh hati ku."
Pain tersenyum mendengarnya dan kembali mencium bibir mungil Konan penuh kasih sayang.
Dan selanjutnya hanya ada suara desahan Konan yang terdengar dan Pain dari dalam ruangan itu.
~o0o~
Beberapa orang telah berdiri di halaman rumah Naruto dan bersenjata laras panjang, mereka tengah bersiap-siap begitu juga Naruto yang kini mengenakan Jeans warna hitam dan kaos warna putih dan dilapisi jaket warna hitam, ia duduk berdampingan dengan Itachi dan dihadapan mereka ada Yuura dan dua orang berpakain berwarna hitam.
Hinata dan yang lainnya masih duduk di kursi di teras rumah melihat Naruto tengah berdiskusi dengan orang-orang itu.
"Mencurigakan." Ucap Gaara.
Naruto berdiri dari duduknya dan meraih sebuah pistol jenis Beretta 92 di atas meja dihadapanya.
Yuura menyimpan pistolnya QSZ 92 disaku mantelnya dan menyerahkan pistol berjenis Glock kepada Itachi.
"Kita berangkat kalau semuanya sudah beres." Ujar Naruto dan memandang semuanya yang telah bersiap.
"Oke kita berangkat!" Seru Itachi.
~o0o~
Sekitar dua jam telah berlalu, perjalanan menuju SunaGakure membutuhkan waktu tiga jam.
Dari arah berlawanan sebuah mobil Honda Jazz warna merah melintas dengan cepat, tanpa mereka ketahui bahwa wanita yang mengemudi mobil itu adalah Konan yang mengenakan kaca hitam.
Air mata Konan kembali jatuh membasahi pipinya setelah melihat beberapa mobil melintas disampingnya tadi.
"Ku harap kau selamat Pain." Ujarnya.
Setelah sampai dikota Konan mengembalikan mobil yang ia sewa di sorum mobil dan segerah menuju bandara untuk meninggalkan Jepang kota kelahiranya dan mungkin untuk selamanya.
1 jam kemudian.
Mobil yang Naruto kendarai telah sampai di desa SunaGakure sebuah desa mati yang tidak mempunyai penduduk dikarena pada jaman dulu sekitar 400 tahun yang lalu desa ini dikutuk oleh seorang wanita karena anaknya di jadikan uji coba sebuah sihir agar menjadi seekor monster dan pada akhinya satu persatu penduduk mati secara misterius lalu dua tahun yang lalu desa ini kembali dibangun menjadi sebuah kota namun tidak berjalan lancar karena saat kota ini ditinggali penduduk selama satu bulan mereka merasa dihantui oleh penduduk 400 tahun yang lalu dan akhirnya pindah dari kota ini dan pada akhirnya kota ini dijadikan markas Akatsuki selama bertahun-tahun.
Yuura melangkahkan kakinya keluar dari mobil Naruto yang ia tumpangi, begitu juga yang lainnya yang keluar dari mobil masing-masing.
Naruto mengeluarkan pistol miliknya dan mengedarkan pandangannya kesegala arah.
"Tak kusangka Akatsuki betah tinggal di tempat seperti ini." Ujar Itachi, sepasang mata elang miliknya hanya melihat sebuah kota mati yang dipenuhi pasir.
Begitu banyak bangunan tua disini yang terbengkalai dan hampir hancur tidak terawat.
"Ku dengar disini berhantu." Seru Yuura sambil melirik beberapa agen FBI yang berdiri dibelakangnnya dengan tubuh bergetar.
"Jangan takut Akatsuki saja mampu tinggal disini selama delapan tahun terakhir ini, dan tidak ada hantu yang menggangu mereka." Ujar Naruto.
"Gak malu sama kucing meong meong." Itachi terkekeh menahan tawanya.
Naruto sweatdrop mendengarnya dan hampir menembak kepala Itachi sedangkan Yuura hanya menggelengkan kepalanya.
"Berhentilah menonton acara tv Indonesia." Ucap Naruto mulai geram.
"Hei hei aku jarang menonton, beberapa orang yang memfollow twitter ku orang Indonesia dan status mereka itu loh yang lucu." Timpal Itachi.
"Keberadaan Pain telah ditemukan, ia berada di menara jam yang ada dipusat kota." Ujar Yamato selaku agen FBI.
"Ayo!" Seru Itachi dan mulai melangkahkan kakinya berjalan menyusuri jalanan kota menuju menara jam diikuti yang lain. Beberapa anak buah Pain berdatangan menghalangi mereka dan adu tembak tak dapat dihindari.
Naruto menerjang tiga orang yang menghalanginya dan menghajar mereka satu-persatu ada sekitar lima belas orang yang menyerang mereka kelima agen itu kualahan menghadapinya. Yuura mengajar satu orang pria namun tidak mudah dikalahkan.
Pria itu mengarahkan pistol di depan Yuura sambil menyeringai namun dibalas senyuman mengerikan oleh Yuura.
Dorr!
Seketika kepala pria itu tertembak dsn pelakunya adalah Itachi yang tersenyum penuh kemenangan diwajahnya.
"Kau berhutang pada ku nona." Ujarnya.
"Hn." Gumam Yuura dan Itachi hanya terkekeh mendengarnya.
"Kyaaa!" Seorang pria mengarahkan sebuah kayu balok ditangannya kepada Itachi namun dengan cepat Yuura menedang kaki pria itu hingga tersungkur di tanah berpasir dan lansung ia tembak mati.
Dorr!
"Sudah ku bayar hutang ku tuan." Ujar Yuura dengan tersenyum kecil diwajahnya.
"Kau licik nona." Seru Itachi.
"Hei kalian kita sudah selesai dari tadi!" Seru Naruto seweatdrop.
Krik.. krik..
"Hehehe.." Itachi tertawa kecil mendengarnya.
~o0o~
Pertempuran dimulai, meraka telah sampai di menara jam dan langsung masuk begitu saja dan menembaki setiap anak buah Pain yang menghalangi mereka.
"Naruto." Gumam Yuura melihat sebuah pitu yang akan mempertemukannya dengan Pain dan Konan.
Dorr!
Suara tembakkan terdengar dari dalam ruangan itu namun perlahan Naruto membuka pintu itu dan blue sapphire nya menemukan seorang wanita bersurai biru telah mati tertembak dilantai.
"Akhirnya kau tiba Namikaze..."
"Naruto." Ujar Pain.
"Kau akan segerah mati Pain." Ucap Naruto yakin.
"Kalian tunggu diluar, aku akan menghadapinya." Ujar Naruto dingin dan mereka menurutinya dan keluar dari ruangan itu tanpa menutup pintu untuk mengawasi Naruto dan lama pertarungan mereka dimulai, hanya perkelahian tanpa mengluarkan senjata api.
Pai berusaha untuk memukul wajah Naruto namun dapat dihinidari, Naruto menerjang tubuh Pain hingga jatuh tersungkur dan menginjak perutnya, Pain memegang kaki Naruto yang berada diatas perutnya dan memelintirnya lalu menghempaskan tubuh Naruto. Dengan cepat Pain berdiri bersamaan dengan Naruto.
Naruto menendang kaki Pain namun Pain melompat keatas untuk menghindarinya lalu menendang kepala Naruto hingga jatuh kelantai disamping wanita bersurai biru yang diketahui bernama Konan.
"Kau akan mati." Ujar Pain dan mengarahkan pistolnya di kepala Naruto.
"Kau bercanda." Naruto terkekeh mendengarnya.
Dengan cepat Naruto mengankat kakinya keatas dan menerjang tangan Pain hingga pistol ditangan Pain terlempar jauh dan dengan menggunakan kedua tangannya Naruto menahan berat badannya lalu melompat menerjang tubuh Pain dan menduduki perutnya, kedua tangan Pain ia pegang dengan kedua tangannya dan memelintirnya dengan kuat.
"Aaaaarrrrgghhhhh." Pain berteriak menahan sakit ditangannya.
Traakk..
Tangan Pain patah seketika.
"Aaaaaarrrghhhh.."
"Ini saatnya." Naruto mengeluakan pistol dari sakunya jaket yang ia kenakan dan menembak kepala Pain sebanyak ai bisa.
Dorr! Dorr! Dorr!
Darah muncrat di baju Naruto namunai tetap menembak kepala Pain hingga hancur.
~o0o~
Mobil sport Naruto terparkir dihalaman rumah, red eyes Yuura melihat mobil Sasuke, Sai dan motor Gaara masih terparkir dihalaman rumah.
dilihatnya jam yang melingkar ditanganya dan menunjukkan pukul 04.00
Yuura melihat wajah damai Naruto yang jatuh pingsan setelah menghabisi nyawa Pain tadi, wajahnya terdapat beberapa luka gores dan lengan Naruto yang perban asal karena terkena peluru.
"Kita sudah sampai." Gumamnya.
Yuura membuka pintu mobil dan keluar kemudian menutupnya kembali lalu menghampiri pintu yang sebelahnya dan membuka dan bersyukurlah teman-teman Hinata telah keluar dari rumah bersamaan dengan Hinata juga, semuanya terlihat ceria dan tertawa bersamaan.
"Besok kita akan sekolah dan menghadapi ujian semester,, yosshh ganbatte minnaaa.." Seru Ino bersemangat.
"Hei Hinata kau ini tidak pernah mencontekki kami kau pelit!" Ketus Sakura.
"Hinata kalau ujian selalu menutupi kertas jawabannya kayak bikin benteng takeshi." Sindir Sai.
"Hahahaha benar.." Ino dan Sakura tertawa mendengarnya namun Hinata hanya ikut tertawa mendengar sindiran Sai.
"Hei kalian!" Seru Yuura.
Semua mata teralih melihat Yuura bingung.
"Ada apa Yuura?" Tanya Hinata lalu berjalan menghampiri Yuura dan yang lainnya juga ikut menghampiri Yuura
"Tolong bawa Naruto-sama,, masuk kekamarnya." Pinta Yuura.
"Kenapa apa dia tidak bisa berjalan." Sindir Gaara.
Yuura hanya diam tanpa ekspresi lalu berbalik kebelakang dan membuka pintu mobil memperlihatkan Naruto yang tidak sadarkan diri dengan tubuh yang penuh luka. Mereka terdiam melihat keadaan Naruto yang amat mengerikan dimata mereka, tubuh penuh luka, baju kotor oleh darah dan wajah, lengan penuh luka maupun lebam.
"Naruto-kun!" Pekik Hinata.
Bersambung~
Oke minna bagaimana? Apa kurang greget huum?
Oke balas review dulu...
Virgo24 : heh aku gak ero jadi gak terlalu bisa soal lime -_-
: apanya yang dipenjarah?
Withachan : fufufu apa yaaa :v
Hana : oke (y)
Hikari AA : terimakasih ^^v ya hehehe kalau read jangan lupa tinggalkan review yaaaa
Hiru nesaan : yang jadi kakeknya Namikaze Dan
.1 : oke terimakasih atas sarannya dan soal Yuura dia itu OC character yang aku buat.
Oke untuk semuanya makasih udah mau review ^^v review kalian sangat berarti.
Oke sampai jumpa di chapters selanjutnya bye bye
Salam hangat Mitsuki HimeChan
