Ryu : ... *nangis di pojokan*
Gumi : Ng... itu Ryu-kun kenapa?
Len : Biasa, nyesel karena telat update.
Gumi : Kamu kenal sekali dengan author kita ini...
Len : Tentu saja! Aku sudah 'bekerja' dengannya sejak dia membuat first fic-nya. Makanya, setelah fic ini selesai, aku diberi cuti! Jadi aku tidak akan muncul di fic berikutnya...
Ryu : Enak saja! Kamu tetap muncul, tapi bukan jadi tokoh utama kayak biasanya! *lemparin Len pakai kacang*
Len : Yah, terserah deh... Minna, aku mau mengabarkan bahwa Ryu punya gaya penulisan baru (lagi)! Bisa dibandingkan dengan chapter-chapter sebelumnya. Lalu semua review (mungkin hampir semua) sudah Ryu balas lewat PM.
Gumi : Lalu, Ryu juga minta maaf sebesar-besarnya karena dia telat update. Sudah begitu, plot chapter kali ini mungkin agak kurang bisa dimengerti. Selain itu, words chapter kali ini juga lebih sedikit.
Ryu : Sekali lagi, gomen ne... Tapi kuucapkan, selamat membaca
Your Doll
Disclaimer : Vocaloid Yamaha Corporation & Crypton Future Media ; Story Ryu Kago
Warning : OOC, AU, Typo(maybe), dll ;-)
Aku hanyalah bonekamu yang hanya bisa melihatmu, tanpa bicara, tersenyum, dan tertawa bersamamu. Kuharap, suatu saat nanti akan datang keajaiban yang bisa membuatku hidup di sisimu, selamanya.
Chapter 7 : I'll Always be Your Doll
Aku terus berjalan mengikuti Gumi dari belakang menyusuri padang rumput yang jarang terdapat perumahan. Kalaupun ada, pasti itu adalah rumah milik petani atau warung kecil yang terletak di pinggir jalan.
Sudah kurang lebih satu jam kami berjalan, tapi Gumi tidak membuka mulutnya sama sekali untuk membuka pembicaraan. Ini tidak seperti Gumi yang biasanya.
Aku pun menghela nafas dan membetulkan posisi tas ransel besar yang berada di atas punggungku.
"Ada apa, Gumi-chan? Kenapa dari tadi kau diam saja?" tanyaku untuk membuka pembicaraan. Jujur saja, aku tidak begitu terbiasa dengan suasana seperti ini.
Gumi terlihat terkejut mendengar pertanyaan dariku. Sebenarnya, ada apa dengannya?
"Ah, t-tidak ada apa-apa. Sudahlah, kita lanjutkan saja perjalanan ini. Kita masih sangat jauh dengan tujuan kita," kata Gumi sedikit gelagapan.
Sebenarnya, ada apa dengan Gumi? Tingkahnya barusan sangat mencurigakan.
Lagi-lagi terjadi keheningan di antara kami berdua. Aku hanya bisa menatap punggung Gumi dari belakang. Entah kenapa, Gumi terlihat seperti menghindar dari tatapanku.
"Len..." Akhirnya Gumi membuka mulutnya juga.
"Nani?"
"Nanti, saat sampai di rumah Rin, jangan kaget ya..." kata Gumi membuatku kebingungan, sekaligus sedikit terkejut.
Apa maksud dari perkataannya tadi? 'Jangan kaget'?
Tapi, belum sempat aku membuka mulut untuk menanyakan maksud dari perkataan Gumi tadi, dia sudah menghilang begitu saja.
Sontak aku terkejut menyadari Gumi sudah tidak lagi berada di depanku. Aku menengok ke sekelilingku, tapi aku masih tetap tidak menemukan Gumi.
"Argh!" tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dari belakang sehingga membuatku berteriak.
"Ini aku, Len. Kau tidak perlu kaget begitu." Hah... ternyata yang menepuk pundakku tadi adalah Gumi.
Aku hanya menghela nafas sambil membetulkan letak tas besar di punggungku. Yah, tas ini mulai membuat punggungku sakit.
Aku hanya menghela nafas dengan panjang dan kembali menatap Gumi.
"Kau dari mana saja? Aku mencarimu tadi..."
"Gomenesai... tadi aku beli makanan sebentar," kata Gumi sambil menunjukkan dua buah bungkus plastik yang dibawanya tadi. Senyuman tipis menghiasi bibirnya, seakan tadi tidak terjadi apa-apa.
Dasar Gumi, selalu saja seperti ini...
Kami pun duduk sebentar di tengah-tengah padang rumput yang luas ini di bawah pohon besar yang rindang.
Aku melepas tas yang sedari tadi sudah membuat punggungku sakit, dan merasakan angin semilir yang berhembus di wajahku.
Rasanya nikmat sekali... Angin segar ini, seakan memberiku kehidupan baru.
Tapi, entah kenapa aku merasa kalau sebelumnya pun aku sudah pernah merasakan hembusan angin seperti ini. Padang rumput dan perbukitan ini pun bagai masih tersimpan di dalam memoriku.
Aku pun menengok ke atas untuk melihat pohon yang menjadi tempat kami berteduh.
.
.
.
DEG!
Padang rumput ini...
Hembusan angin ini...
Pohon besar ini...
Tempat ini adalah... tempat yang sering kudatangi bersama Rin!
Mataku terbelalak ketika menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Saat ini, aku sudah sangat dekat dengan tempat di mana Rin berada! Ingin sekali rasanya melompat kegirangan mengetahui hal ini.
Sebentar lagi, Rin... Sebentar lagi kita akan bertemu lagi...
"Um... Len?" Tiba-tiba Gumi memanggilku. Aku pun melirik ke arahnya dan dia menyodorkan salah satu dari bungkusan yang dipegangnya.
"Makanlah, kau pasti lelah." kata Gumi dengan dihiasi senyuman yang hampir selalu melekat di wajahnya itu.
Aku pun mengambil bungkusan yang diberikan Gumi kepadaku dan membukanya.
Ternyata isinya nasi beserta lauk pauknya, dan... pisang?
Aku mengambil pisang yang berada di dalam bungkusan itu dan menatapnya lekat-lekat. Jujur, aku belum pernah makan sekalipun, apalagi makan pisang. Melihatnya saja hampir tidak pernah.
Karena dulu aku hanya boneka yang tidak bisa melakukan apapun, termasuk makan dan minum. Tapi sekarang aku sudah menjadi seorang anak manusia yang bisa melakukan hal-hal selayaknya manusia biasa.
"Makanlah pisang itu, Len. Aku rasa, pasti kau menyukainya!" kata Gumi sambil mengambil makanan yang berada di dalam bungkusannya, dan mulai memakannya.
Aku pun membuka kulit pisang itu dengan perlahan-lahan, dan mulai memakannya.
.
.
.
Rasanya... sangat enak!
Rasanya yang manis ini langsung menyebar di seluruh mulutku. Makanan pertamaku ini, mungkin akan menjadi makanan favoritku.
Setelah menghabiskan pisang yang diberikan Gumi padaku tadi, aku pun memakan nasi dan lauk pauk yang ada di dalam bungkusan yang diberikan Gumi tadi.
Aku dapat merasakan senyuman Gumi yang tertuju padaku. Sepertinya dia merasa kalau cara makanku agak lucu.
"Len... kau ini benar-benar seorang 'manusia baru', ya!" kata Gumi sambil diselingi dengan tawa kecil yang tertahan. Aku menatap Gumi heran.
"Cara makanmu itu, sama seperti cara makan seorang anak kecil. Suatu hari nanti aku akan mengajarkanmu cara makan yang baik," kata Gumi lagi dan melanjutkan makannya.
Lagi-lagi terjadi keheningan di antara kami berdua. Masing-masing dari kami hanya memakan makanan yang sudah dibeli Gumi tanpa bercengkrama sama sekali.
Tiba-tiba muncul sebuah topik pembicaraan di kepalaku. Jujur, aku tidak merasa nyaman dengan semua keheningan ini.
"Ng... Gumi, kenapa tadi kau berkata kepadaku agar tidak kaget melihat apa yang terjadi nanti? Memangnya apa yang sudah terjadi?"
Dan di saat itu juga, angin berhembus di sekitar kami, dan terjadi keheningan lagi di antara kami.
Gumi meletakan bungkusan miliknya di pangkuannya dan menatapku dengan tatapan sedih. Ada apa sebenarnya?
"Len..." katanya, "Yang pasti, kau harus siap menghadapi apapun yang terjadi nanti. Jangan kaget setelah kau sampai di tempat kediaman keluarga Kagamine nanti."
Aku hanya mengangguk pelan mendengar perkataan Gumi. Sepertinya Gumi tidak ingin menceritakan apa yang terjadi padaku, jadi aku tidak bisa memaksanya.
Kami pun kembali melanjutkan makan kami. Setelah makanan kami habis, kami bangkit berdiri kembali untuk mulai melanjutkan perjalanan kami lagi.
Aku mengambil tas besar itu lagi dan memakainya di atas punggungku. Tas ini memang benar-benar berat.
"Ayo!" seruku sambil berjalan mendahului Gumi. Aku sudah sangat hapal jalan ini, jadi buat apa aku masih mengikuti Gumi dari belakang?
Bukannya terkesan sombong dan sok tahu juga, tapi aku hanya sudah tidak sabar lagi untuk dapat bertemu lagi dengan Rin. Bukan sebagai boneka yang hanya dapat menemaninya tanpa dapat melakukan apapun, tapi sebagai seorang anak laki-laki manusia yang dapat melakukan banyak hal bersamanya.
"Ah, Len! Tunggu dulu!" seru Gumi memanggilku. Dia langsung berlari menyusulku, dan tiba-tiba saja dia sudah berjalan di sampingku.
"Biar aku saja yang membawa tas ini," kata Gumi tiba-tiba. Jujur, aku kaget mendengar perkataan Gumi barusan. Kenapa tiba-tiba dia menjadi 'baik'?
"Tidak usah," kataku dengan halus. Yah, aku menolak sebuah 'kesempatan emas'.
Aku memang sudah sangat kelelahan, tapi aku juga merasa tidak enak hati kalau membiarkan seorang gadis membawa tas yang berat sendirian.
Aku dapat merasakan tatapan keheranan Gumi yang tertuju kepadaku. Wajar saja, karena aku barus aja menolak sebuah kesempatan yang mungkin tidak akan datang lagi.
"Kau ini... walaupun merupakan seorang 'manusia baru', tapi kau sudah memiliki hati seorang laki-laki." Aku menatap Gumi setelah mendengar perkataannya barusan.
Hati... seorang laki-laki? Benarkah?
Aku dapat merasakan wajahku yang tiba-tiba terasa memanas. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku masih belum terbiasa dengan semua gejolak di dalam hati ini.
Dulu aku hanyalah boneka yang tidak dapat merasakan perasaan-perasaan seperti ini, tapi sekarang aku sudah menjadi seorang manusia yang harus menahan semua perasaan yang bergejolak di dalam hati ini.
"Ah, tidak juga. Sudahlah, ayo kita lanjutkan saja perjalanan kita!" kataku untuk mengalihkan pembicaraan.
Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Tapi, kali ini kami berjalan bersebelahan, berbeda dengan tadi saat Gumi berjalan di depanku dan aku hanya mengikutinya dari belakang.
Sampai... ketika kami tiba di sebuah jalan bercabang.
Sebenarnya itu bukan masalah, karena aku sudah sangat hapal kalau jalan yang harus dilewati adalah jalur kiri. Tapi, Gumi terus bersikeras kalau jalan yang harus kami lewati adalah jalan yang kanan.
"Hah... Dengarkan aku, Gumi-chan. Aku sudah sangat hapal semua jalan ini. Aku tahu pasti kalau jalur kiri yang benar," kataku sambil menghela nafas pelan dengan menekankan pada kata-kata 'sangat hapal'.
"Bukan, Len-kun. Aku juga sudah tahu pasti kalau jalan yang harus kita lewati adalah jalur kanan!" seru Gumi.
Ini hanya perasaanku saja, atau kata-kata Gumi terdengar sedikit mencurigakan?
Aku pun menghela nafas sekali lagi dan berjalan sendiri ke arah jalur kiri.
"E-eh, tunggu Len-kun! Yang benar... jalur kanan!"
"Sudahlah, Gumi. Aku sudah sangat hapal jalan ini. Kalau kau tidak mau, kau bisa pergi melewati jalur kanan sendiri."
Aku pun berjalan lagi tanpa mempedulikan Gumi yang masih terdiam di tempatnya. Entah kenapa aku merasakan ada yang aneh dengan tingkah laku Gumi barusan.
"Ah, tunggu Len!" serunya sambil mengejarku. Dia segera menarik tanganku dan menggenggam tanganku erat-erat.
Gumi menatapku dengan tatapan serius sambil terus menggenggam kedua tanganku. Ada apa dengannya?
"Len, maafkan aku... tapi kau harus berjanji agar tidak terkejut ketika melihat apa yang akan terjadi nantinya," kata Gumi. Tatapannya saat ini terasa begitu serius, tidak seperti Gumi yang biasanya.
"Gumi..." Tanpa sadar aku telah memanggil namanya. Dia pun melepaskan genggamannya secara perlahan-lahan, dan tatapannya mulai melembut.
Tapi sekarang, akulah yang memegang pundaknya dengan erat sambil menatapnya tajam.
"Tolong, Gumi-chan. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku dengan nada menyelidik. Kulihat Gumi hanya menghela nafas.
"Yang bisa kukatakan hanya... bersiap-siaplah menghadapi kenyataan."
.
.
.
DEG!
Mataku terbelalak dan jantungku berdegup kencang ketika mendengar perkataan Gumi barusan.
Dan di saat itu juga, angin berhembus di sekitar kami dan membawa suara debaran jantungku. Aku menatap Gumi, dan Gumi menatapku.
Tatapan Gumi terlihat menampakkan kekhawatiran dan ketakutan. Sebenarnya, apa yang telah terjadi?
Tapi aku tahu, sepertinya Gumi benar-benar tidak ingin menceritakannya kepadaku. Jadi aku hanya menghela nafas perlahan dan melepaskan peganganku pada pundak Gumi.
"Baiklah, aku mengerti..." jawabku sambil berusaha tersenyum lembut, walaupun aku tahu bahwa sebenarnya aku tidak bisa tersenyum, karena di dalam hatiku masih terdapat rasa penasaran yang besar.
Kami pun kembali berjalan menyusuri jalur kiri, sesuai keyakinanku. Karena aku yakin kalau tadi itu Gumi hanya berbohong.
Tapi... untuk apa Gumi berbohong? Apa dia tidak ingin aku dapat bertemu dengan Rin? Apa... Gumi merasa... cemburu?
Hahaha... rasanya tidak mungkin. Sudahlah, lebih baik aku cepat-cepat berjalan menyusuri jalan ini, rumah kediaman keluarga Kagamine sudah sangat dekat.
Kami pun terus berjalan menyusuri jalan yang ada. Tidak ada kelokan sama sekali. Kami berjalan melintasi padang rumput dan bukit kecil yang sudah sangat tidak asing lagi bagiku. Tempat yang kulalui saat ini... adalah tempat yang selalu kami -aku dan Rin- lalui.
Hingga... di hadapanku saat ini berdirilah sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu. Memang hanya sebuah rumah kecil dan kumuh dengan kayu yang sudah agak lapuk, tapi melihat rumah ini sudah membuatku merasa sangat bahagia.
Ini... adalah rumah Rin.
Yah, rumah Rin. Rumah yang kucari-cari... dan merupakan tujuan dari segala usahaku.
"Gumi..." kataku lirih, "Kita sudah sampai... rumah Rin..."
Tanpa menunggu aba-aba dari siapapun, aku segera berlari menerobos pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya.
Masih sama seperti dulu, hanya saja... kenapa suasana di sini begitu sepi? Lantai dan perabotan di sini pun terlihat begitu berdebu. Padahal setahuku Rin tidak mungkin membiarkan rumah ini menjadi kotor.
.
.
.
Apa jangan-jangan...
"RIN!" Aku pun berteriak keras sambil memeriksa setiap ruangan yang ada.
Di kamarnya... tidak ada.
Di kamar Leon... tidak ada juga.
Di ruang makan... tidak ada juga.
Di gudang... tidak ada juga.
Aku terus mencari, tapi aku tidak dapat menemukan Rin maupun Leon di manapun!
Aku pun jatuh terduduk karena merasakan kakiku lemas hingga tak mampu lagi menopang tubuhku.. Sebenarnya, ke mana perginya mereka? Apa semua usahaku ini sia-sia...?
Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang menepuk pundakku.
"Rin!" seruku, karena aku mengira orang itu adalah Rin. Tapi ternyata dia Gumi...
"Len, maaf sudah merahasiakannya padamu..." ucap Gumi lirih. Aku dapat melihat titik-titik air mata di ujung matanya.
Merahasiakan apa? Jadi benar Gumi merahasiakan sesuatu dariku?
"Len... ini..." Gumi memberikan sebuah surat kabar kepadaku. Padahal, dia kan tahu kalau aku tidak bisa membaca.
Tapi, saat aku membuka surat kabar itu... aku melihat hal yang tidak ingin kulihat.
Di dalamnya, terdapat foto wajah Rin dan Leon...
"Gumi, apa maksudnya ini...?" tanyaku pelan. Kumohon, semoga saja perkiraanku salah...
"Len, ini adalah daftar korban kecelakaan yang terjadi 2 minggu lalu. Rin... dan ayahnya... sepertinya turut menjadi korban dalam kecelakaan tersebut." Kata-kata Gumi barusan membuat jantungku seakan hendak berhenti berdetak.
Jadi, Rin...
.
.
.
sudah meninggal?
Aku tidak dapat menahan air mataku lagi.
Aku menangis keras, sambil meremas surat kabar yang ada di hadapanku.
Ternyata segala usahaku sia-sia... sepertinya aku memang ditakdirkan untuk tidak dapat bertemu dengan Rin lagi...
.
.
.
Tunggu dulu...
Aku masih bisa melakukan sesuatu. Ya, bukankah tujuanku adalah pergi ke tempat di mana Rin berada? Tujuanku adalah dapat terus bersama-sama dengan Rin, kan?
"Gumi, tolong katakan. Di mana Rin dimakamkan saat ini?" tanyaku tanpa ragu-ragu lagi.
Aku dapat melihat wajah Gumi yang terlihat kebingungan. Mungkin dia berpikir kalau aku sudah gila, sehingga mau bertemu dengan jasad Rin. Tapi tenang, aku masih memiliki akal sehat.
"Gumi?" tanyaku lagi dengan memanggil nama Gumi. Gumi pun bangun berdiri dan berjalan ke luar ruangan.
"Ayo ikuti aku," kata Gumi sambil terus berjalan.
Aku pun mengikuti ke mana Gumi pergi. Dia berjalan ke luar rumah, melewati beberapa rumah lain, hingga akhirnya sampai pada sebuah tanah lapang yang sangat luas. Jika dilihat baik-baik, kita akan tahu kalau tanah itu adalah blok-blok kuburan tempat banyak orang dimakamkan.
"Keluarga Kagamine dimakamkan di sana," kata Gumi sambil menunjuk ke arah sebuah blok makam yang terletak di pinggir.
Benar, di batu nisan yang terlihat tua itu tertera nama 'Kagamine'.
Aku pun berjalan menuju makam tersebut dan duduk di sebelah makam dengan nisan bertuliskan 'Rin Kagamine'.
Aku mengelus nisan itu dengan halus sambil terus berusaha tersenyum tipis.
"Rin..." kataku, "Sekarang aku sudah menjadi manusia. Tapi, kita belum sempat bertemu... sebagai sesama anak manusia. Tapi perlu kau ketahui. Walaupun wujudku sudah menjadi manusia, selamanya... aku akan terus menjadi bonekamu. I always be your doll..."
Aku mengusap air mataku yang perlahan mulai menetes.
"Aku akan terus bersamamu, seperti dulu. Aku akan terus menemanimu di sini. Jadi jangan khawatir, aku akan menjadi bonekamu yang setia."
Setelah berkata demikian, aku pun duduk bersandaran dengan nisan itu dan merangkul nisan bertuliskan 'Rin Kagamine', seakan-akan batu yang keras dan dingin itu adalah Rin.
Aku pun kembali berbisik dengan suara lirih.
"Aku akan selalu menjadi bonekamu, yang akan terus berada di sisimu... selamanya..."
The End
Ryu : YEAH! Akhirnya fic ini jadi juga! 7 Chapter...
Rin : Aku akhirnya mati... T^T
Ryu : Gomen ne... habis memang rencananya mau sad ending sih... padahal readers mengharapkan happy ending ._.
Len : Tapi akhirnya gantung banget, ya... Nasibku gimana tuh? Diam di kuburan sampai meninggal?
Gumi : Nah, nasibku juga gimana, hayo?
Ryu : Untuk Len, betul. Kamu di situ terus tidak tahu sampai kapan. Untuk Gumi, mungkin kau kembali ke rumah Miki dan tinggal di sana sendirian... ;-)
Len+Gumi : Kok menyedihkan banget?
Ryu : Tidak apa-apa, toh? Sudahlah, yang perlu kusampaikan... pasti typo bertebaran di mana-mana. Jadi tolong beri tahu kalau ada typo, ya~
Rin : Dan tunggulah fic selanjutnya dari Ryu, pairing MikuKaito, genre Romance! -promosi
Ryu : Akhir kata, review please? ;-)
