BRAKK

Pintu apartemen dibanting begitu saja. Luhan bahkan tidak percaya dengan apa yang baru ia lakukan beberapa detik yang lalu. Dadanya naik turun seiring dengan nafasnya yang memburu karena emosi.

Luhan masih terdiam di posisinya, dengan Ziyu yang masih berada di pangkuannya.

Belum ada penjelasan apapun yang ia dengar, semuanya masih berdasarkan apa yang ia lihat. Tangisan Ziyu pun masih terdengar, perlahan setelah ia menurunkan Ziyu dari gendongannya, Luhan merosot dibalik pintu. Ia memeluk kedua lututnya kemudian membenamkan kepalanya disana.

"Eo.. Eomma…" Lirih anaknya disela tangisan, tapi Luhan tetap bergeming, ia masih setia di posisinya tadi. "Appa tidak calah hiks… Ziyu yang calah eomma…"

Luhan mengerutkan keningnya pening, tangisan anaknya, ketukan di pintu dengan suara yang memanggil manggil namanya, semua itu membuat kepalanya pusing. Benar-benar pusing.

Pada akhirnya ia bangkit dari posisinya, berjalan perlahan ke arah kamarnya lalu menutupnya erat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Title: So My Wife Is A Guy?

Author: sunsehunee / seukkhy

Main Pairing: HunHan

Genre: Romance, family, comedy gagal, AU, Yaoi

Rating: T+ kayanya._.

Leght: Chaptered

Summary:

Hidup Oh Sehun berubah drastis setelah menemukan seorang anak -kandungnya- di pintu rumahnya. Dan parahnya, ibu dari anak itu seorang namja!

WARNING: INI CERITA BL, KALAU GA SUKA PLIS JANGAN BACA. DAN TOLONG REVIEW THANKS

Note: Anak Luhan dan Sehun diganti jadi Ziyu ya ^^ Mohon maaf dengan kelabilan saya

Slight pairing juga akan bertambah seiring berjalannya cerita

.

.

.

Chapter 6: Forgive

.

Tidak ada yang bisa mendeskripsikan bagaimana pagi Luhan keesokan harinya setelah kejadian semalam. Kejadian dimana dia menyalahkan semua masalah pada Sehun –pada akhirnya ia mengakui bahwa Sehun tidak salah.

Lelaki itu menguap sambil memegang mug berisi kopi panasnya, ekor matanya melirik objek lain di ujung meja. Ia mendesah pelan, anaknya masih marah padanya. Bahkan sekarang lebih parah dari sebelumnya. "Ziyu," Panggilnya pelan, tapi anak itu masih tetap pada pendiriannya.

"Ku mohon jangan seperti ini sayang," Desahnya, ia menaruh mugnya di meja lalu berjalan mendekati Ziyu. Ia berlutut, matanya menatap lurus ke dalam bola mata Ziyu yang bening. "Mianhae, tolong katakan apa yang harus eomma lakukan agar kau tidak marah lagi."

Ziyu menatap eommanya dalam, "Eomma jangan malah lagi cama appa, kemalin halusnya Ziyu tidak kabul. Kacian appa eomma." Pintanya penuh harap, ia menatap Luhan dengan tatapan memohon.

Luhan menatapnya tiga detik sebelum bangkit dari posisinya, ia menghembuskan nafas yang sangat panjang, berat dan berisik. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan juga otaknya yang terus berperang dengan hatinya mengenai jawaban apa yang harus ia berikan pada permintaan Ziyu.

"Baiklah, eomma akan lakukan." Katanya akhirnya, setelah berpikir sekitar semenit lamanya. Ziyu yang mendengarnya hampir melompat dari kursinya jika Luhan tidak memperingatinya dengan tatapan matanya (tatapan mata Luhan benar-benar menyeramkan).

"Kalau begitu ayo cepat telepon appa eomma!" Ucap Ziyu dengan sangat menggebu-gebu, senyuman lebar terpampang di wajah manisnya. Ia sangat senang, karena —tentu saja dengan begitu artinya masalah yang disebabkan olehnya sudah bisa terselesaikan.

"Arraseo… Arraseo…" Ujar Luhan mengalah, namja itu bangkit dari posisi berlututnya tadi –yang mana benar-benar membuat kakinya kram meskipun hanya sebentar. Ia mengambil ponselnya di kamar kemudian hendak mendial nomor Sehun, namun tiba-tiba ekspresinya berubah datar.

Ia tidak punya nomor telepon Sehun.

Bodoh sekali dia. Yap, sangat bodoh.

Ziyu yang melihat Luhan hanya diam daritadi langsung menatap bingung 'eomma'nya itu.

"Eomma~ Ayo cepat telepon appa!" Ziyu yang mulai tidak sabaran kemudian menarik-narik ujung baju Luhan. Tarik-tarik-tarik terus, semakin lama semakin cepat dan semakin bawah. Oh, baru setelah anak itu berteriak Luhan kembali ke alam sadarnya. Ia mengetik sesuatu kemudian menempelkan ponselnya itu di telinga kanannya.

"Halo Jongdae," Sapa Luhan sedikit berbasa-basi, tentu saja biasanya ia tidak akan mengucapkan salam atau semacamnya. Sopan-santun tidak berlaku bagi mereka, bro.

"Eh−Luhan, kau sudah memaafkanku?!" Pekik Jongdae tak sadar dengan suara cemprengnya, membuat Luhan mengernyit. Astaga, awas saja kau Jongdae kalau telingaku kenapa-kenapa, batin Luhan setelah telinganya berdenging.

"Tidak−maksudku belum. Kau pikir kesalahanmu itu tidak fatal apa?" Sembur Luhan, sedikit melenceng dari niat awalnya untuk menelpon Jongdae. Oh, mendengar suara Jongdae ia jadi ingat kelakuannya yang menyebalkan kemarin, membuat emosinya meluap lagi.

Terdengar Jongdae meringis, "Kalau begitu kenapa kau menelponku kalau belum memaafkanku, huh?" Tanyanya kemudian, nadanya agak sinis. "Kenapa kau jadi ketus begitu? Ah terserah, tapi aku minta kirimkan padaku nomor Oh Sehun sekarang."

"Aww… Lihat siapa yang meminta nomor Sehun padaku sekarang." Kata Jongdae dengan nada menggoda dan sedikit girang. "Jadi kau akan menerima lamarannya yang kemarin begitu?"

Luhan memutar bola matanya malas, tidakkah mahkluk satu itu bisa membaca situasi?

"Tidak. Apa kepalamu terbentur sesuatu sampai kau berpikir aku akan menerima lamaran anak ingusan itu?" Ketusnya, Jongdae terkikik.

"Ew, jangan terlalu memilih-milih Lu. Aku juga tahu kau pasti mau menikahinya, kan?"

"Ya Tuhan, bisakah kau berhenti bicara sesuatu yang tidak penting dan hanya mengirimkan nomor Sehun sekarang? Aku bukan mau menerima lamarannya kemarin, dan jangan banyak bicara lagi atau akan aku adukan kau pada Xiumin karena kau menggoda gadis di kafe waktu itu."

PIP.

Luhan menutup sambungan itu sesaat setelah ia mengatakan kalimat ancaman itu. Hal yang ia tidak ketahui adalah setelah ia mengatakan aib temannya itu, Jongdae menatap horror ponselnya dengan bibir yang bergumam. Bagaimana bisa ia tahu?

"Kenapa eomma malah menelpon Jongdae ajussi?" Tanya Ziyu bingung ketika Luhan beres dengan acara menelponnya. Luhan menghela nafasnya berat, ia mengangkat tangannya dan ia taruh di puncak kepala Ziyu –mengacaknya pelan. "Eomma lupa kalau eomma tidak punya nomor Sehun."

"Oh jinjja?" Tanyanya polos. Luhan mengagguk singkat kemudian kembali berkutat dengan ponselnya ketika ia merasa benda itu bergetar.

Sebuah pesan diterima.

Dari Jongdae, dan kalau kau mau tahu apa isi pesannya:

Ini nomor Sehun 010-8828-60xx.

Semoga kencanmu menyenangkan :*

Luhan memijit pelipisnya pelan, ia tidak menyangka akan mempunyai seorang teman –bahkan sahabat- yang berkelakuan absurd begitu. Apakah ia kurang jelas tadi saat mengatakan bahwa ia tidak akan berkencan atau menerima lamaran atau yang semacam itu kepada Jongdae? Atau memang Jongdae sengaja ingin menggodanya? Mungkin opsi terakhir lebih logis, karena jika tidak ia bersumpah akan membawanya ke dokter. Dokter apapun itu, yang penting Jongdae sembuh.

Pemuda itu menggerakan jemarinya di atas ponsel pintarnya dan beberapa saat kemudian ia menempelkan benda itu di telinga –menelpon. Nada sambung ke tiga baru di angkat oleh pemiliknya. "Halo?" Tanya sesorang di seberang sana, suaranya serak dan berat khas orang bangun tidur. Kalau biasanya Luhan akan meledek orang yang baru bangun di jam 7 pagi, maka kali ini tidak. Alih-alih meledek, sekarang seluruh tubuhnya mendadak blank dan tidak tahu harus melakukan apa hanya karena suara yang terdengar begitu err… seksi di telinganya.

"Halo? Ku tutup kalau kau–" "–TIDAK! Eh,ma… maksudku jangan ditutup dulu." Potongnya cepat, tak sadar sampai ia berteriak.

"Oke, siapa?" Terdengar suara Sehun yang melontarkan pertanyaan lagi. Luhan meneguk liurnya dengan susah payah. "Luhan."

Hening selama beberapa detik, Luhan bisa menebak kalau Sehun sekarang sedang blank karena tiba-tiba ia menelponnya.

"O…Oh hai hyung… Ada apa menelponku?" Suara Sehun terdengar ragu dan canggung ketika mengatakannya, tidak beda jauh dengan Luhan yang sekarang sedang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Well, sebenarnya ini tidak akan sesulit dan secanggung ini jika saja ia tidak seenaknya menampar pipi Sehun tadi malam sebelum membiarkan anak itu menjelaskan. Dan sekali lagi ini adalah karena kebodohannya.

"Eung… Aku mau minta maaf soal semalam." Ya, sesuai permintaan Ziyu yang kini tengah menatapnya intens dari kursi sebelahnya.

Sehun terdengar tidak percaya, "Apa?"

"Aku mau minta maaf, dan bisa kita bertemu?" Oke yang terakhir diluar rencana. Luhan langsung merutuki dirinya yang kenapa bisa dengan bodohnya mengatakan hal itu tanpa dicerna dahulu?

"Mau apa hyung? Aku bisa saja."

Benar.

Mau apa dia bertemu Sehun?

Menerima lamarannya?

Oh saja bukan. Lalu apa?

"Ada yang ingin aku bicarakan." Katanya. Dan jika kau bertanya apa yang akan ia bicarakan dengan Sehun, maka itu perkara 'nanti'. Yang penting sekarang ia sudah menemukan jawaban untuk pertanyaan sebelumnya.

"Baiklah, kapan?" Luhan memutar otaknya sebentar, memikirkan kapan dan dimana mereka akan bertemu.

"Besok sore jam 4 di Nabi Café bisa?" Terdengar gumaman tidak jelas sebelum ia mendengar Sehun menyetujui ajakannya itu.

Ponselnya sudah ia masukkan ke dalam saku jaket knit nya, kemudian ia beralih menatap Ziyu. "Lihat, eomma sudah minta maaf. Jadi, jangan marah lagi dan ayo bersiap sebelum berangkat sekolah ne?"

Ziyu mengangguk patuh. "Ne eomma."

.

Mereka sudah sampai di depan gerbang TK tempat Ziyu sekolah. Di dalam mobil tampak Luhan yang sedang menceramahi Ziyu dengan apa yang harus dan tidak boleh ia lakukan setelah anak itu turun dari mobilnya. Ia agak parno jikalau kejadian seperti kemarin terulang lagi.

"Ingat, jangan lupa dengan apa yang eomma bilang tadi!" Teriak Luhan dari mobil yang jendelanya tidak di tutup. Ziyu mengangguk paham sambil melambaikan tangannya ke arah mobil eommanya.

"Iya eomma… Hati-hati di jalan…" Dan setelah itu tubuh mungilnya sudah masuk ke pekarangan sekolahnya. Luhan yang masih diam di sana menghembuskan nafasnya. Tubuhnya ia sandarkan di jok lalu ia menutup matanya sejenak, sekedar menghilangkan berbagai pikiran yang tengah mengganggunya saat itu.

"Kenapa sekarang menjadi rumit?" Monolognya dengan mata tertutup.

.

.

.

"Wow, lihat siapa yang pagi ini begitu ceria." Sindir Chanyeol ketika melihat Sehun masuk dapur dengan wajah yang benar-benar baik dan bahagia. Seperti ia baru saja mendapat harta karun. Sedangkan Sehun hanya mengendikkan bahunya cuek.

Suho mengangkat kepalanya dari tablet yang dari tadi ia tekuni. Alisnya mengernyit ketika mendapati atmosfer di sekitar Sehun berbeda 180⁰derajat dari semalam setelah ia pulang dari mengantar Ziyu pulang. Tidak ada lagi raut wajah depresi seperti semalam.

"Aku bingung kenapa mood mu bisa cepat berubah Hun." Ujar Joonmyeon heran. Sempat terlintas dibenaknya bahwa akhir-akhir ini mungkin saja Sehun penderita mania baru, tapi langsung ia tepis jauh-jauh. Mengerikan jika hal itu benar-benar terjadi.

Sehun menjawab acuh-tak-acuh sembari mengigit roti panggang di piringnya, "Entahlah hyung, yang pasti jangan membuat moodku turun drastis di pagi hari."

Nah, lihat kan? Perubahan mood yang drastis dan dalam waktu yang singkat. Akhirnya ia dengan segenap keberaniannya membuka suara, "Kau tidak sedang mengidap mania kan?"

Hening.

Kemudian terdengar suara tawa yang menggelegar di dapur. Dan sudah pasti itu adalah tawa dari mulut Chanyeol, karena Sehun sekarang sedang menatap datar Joonmyeon dengan roti yang menggantung di tangannya.

"Serius hyung? Mania?" Tanya Sehun sarkatik, mencoba mengabaikan suara tawa Chanyeol yang diselingi dengan ejekan untuknya. "Ya ampun, kau kejam sekali kepadaku."

Joonmyeon menatap Sehun dengan tatapan bersalah. Serius, dia juga tidak benar-benar menganggap sepupunya itu seorang penderita mania. Hanya saja…Sudahlah, lupakan.

"HAHAHAH–uhuk uhuk." Chanyeol tersedak potongan roti karena Sehun dengan teganya menjejalkan potongan roti –yang sengaja ia potong kecil-kecil– ke dalam mulutnya yang tengah terbuka lebar. Dan seperti apa yang kalian bayangkan sebelumnya, Chanyeol tersedak.

Namja jangkung itu mengambil gelasnya yang berisi air dan langsung meminumnya dengan bringas. Setelah merasa terbebas dari 'ajalnya' tadi, ia melayangkan tatapan tajam ke arah sepupunya yang sedang menikmati kembali sarapan rotinya.

"Ya! Kau mau aku mati tersedak hah?" Sungut Chanyeol tidak terima, ia menatap sengit Sehun yang membalasnya dengan tatapan datar.

"Salahmu menertawakanku." Dan ia melanjutkan aktivitasnya lagi. Chanyeol yang merasa tidak akan menang pun beralih menatap Joonmyeon. "Hyung~" Rengeknya dengan suara manja yang demi Tuhan siapapun yang mendengarnya pasti akan langsung merinding. Suara berat seperti om-om melakukan rengekan, hell no.

"Kau tidak akan membela sepupu kesayanganmu ini? Lihat Sehun hampir membuatku mati."

Tapi respon yang diberikan Joonmyeon –yang sangat berpihak kepada Sehun– membuatnya ingin mengubur diri dalam-dalam saja. Terlebih sekarang Sehun yang tengah memeletkan lidah ke arahnya, tanda bahwa ia sudah kalah.

"Kalian benar-benar jahat kepadaku."

.

.

Menjadi seorang pengusaha muda bukanlah hal yang mudah, tidak seperti di drama-drama yang menunjukkan bahwa seorang CEO bisa melakukan hal seenaknya tanpa takut ada yang memarahi, ia justru berbeda.

Joonmyeon tidak akan meninggalkan pekerjaan jika belum selesai, karena demi Tuhan pekerjaannya saat ini sangat sulit untuk didapatkan.

Jadi sekarang apa yang sedang dilakukannya pada jam 10 pagi di pinggiran kota Seoul? Membolos? Tentu tidak. Bukankah sudah ku katakan tadi bahwa ia bukanlah tipe orang seperti itu?

Joonmyeon menghentikan langkah kakinya di depan sebuah toko roti. Well, mungkin ada baiknya ia membeli beberapa kudapan setelah turun melihat 'lokasi' yang menguras tenaga tadi. Ia melenggang masuk ke dalam toko itu, hal yang paling pertama menyapanya adalah wangi roti-roti dan kue yang baru dipanggang.

"Selamat datang—Eoh, Joonmyeon? Sudah lama tidak melihatmu nak." Sapa seorang wanita paruh baya yang baru keluar dari dapur dengan nampan yang penuh dengan roti di tangannya. Ia tersenyum sambil menyusun roti-roti itu.

"Jadi, katakanlah kau mau roti apa nak?" Tanyanya masih dengan nada ramah.

"Aku ingin roti yang sama seperti biasa aku beli setiap berkunjung kemari ahjumma." Jawabnya sambil mengamati roti-roti yang ada di sana. Ahjumma pemilik toko itu mengangguk paham. "Arraseo, kau tunggu sebentar. Masih ada roti yang harus ku angkat dari oven."

Setelah itu wanita paruh baya itu kembali kembali menghilang di balik pintu dapur. Joonmyeon kembali menyapukan pandangannya ke rak-rak roti di sana. Dulu saat ia masih kecil sampai perguruan tinggi, ia biasa membeli roti ke sini bersama orang tua atau Sehun dan Chanyeol. Ah mengingat nama kedua sepupunya ia jadi merasa perlu membelikan roti kesukaan mereka.

Ia melangkahkan kakinya untuk mencari roti isi bacon—kesukaan Chanyeol— dan muffin coklat dan kacang almond untuk Sehun.

Roti kesukaan Chanyeol sudah ia dapatkan, berarti tinggal untuk Sehun saja. Ia mencoba mengingat dimana roti itu biasa di taruh dan matanya menangkap sebuah muffin coklat almond di rak pojok. Hanya tinggal sebuah.

Tangannya terulur untuk mengambil muffin itu berbarengan dengan tangan lain yang mengincarnya juga.

"Eh?!" Ucap kedua orang itu hampir berbarengan. Joonmyeon menelengkan kepalanya untuk melihat siapa yang berani mengambil bagiannya. Dan ketika matanya bersibobrok dengan mata hazel orang itu, Joonmyeon bersumpah bahwa ia merasa waktu telah berhenti.

Dugeun. Dugeun.

Dadanya bertalu-talu dengan sangat brutal ketika orang dihadapannya tersenyum dan mempersilahkannya untuk mengambil muffin itu.

"Silahkan untukmu."

Joonmyeon merasa lidahnya sangat kelu untuk menjawabnya. Bahkan niatan untuk beradu argumen tentang kalimnya sebagai orang pertama yang melihat muffin itu lenyap entah kemana.

Melihat tidak ada tanda-tanda respon dari pria berambut blonde itu, pemuda tadi melambaikan tangannya di depan wajah Joonmyeon. "Gwaenchana tuan?"

"G…gwaenchana." Gagapnya. "Ohiya tadi kau mengatakan apa?"

Pemuda tadi tersenyum, "Untukmu saja."

"Oh tidak, kau bisa mengambilnya jika kau menginginkannya. Lagi pula aku bisa membelikan yang lain untuk Sehun." Katanya ramah. Alis pria di hadapannya terangkat. "Sehun? Oh Sehun?"

Sekarang giliran alis Joonmyeon yang terangkat, bukannya mereka pernah berkenalan saat ia mengambil ziyu waktu itu? Kenapa ia terlihat seperti terkejut saat ia menyebut nama Sehun?

"Ngg... iya, aku kakaknya." Jawab Joonmyeon ragu, ragu apa itu perlu dijawab atau tidak. Tapi melihat raut wajah pemuda tadi berubah ceria ia jadi merasa kalau memang jawaban itu yang diinginkannya.

"Oh jinja? Kalau begitu namaku Zhang Yixing, tapi angry ge selalu memanggilku Lay. Salam kenal." Ia membungkukan badannya.

.

.

Luhan menyeruput jus stroberi di gelasnya dengan perlahan, jemari tangannya sesekali membalik halaman buku dan matanya bergerak lincah membaca dengan teliti kalimat per kalimat di setiap halaman.

Matanya tertutup dan terbuka setiap kali ia mencoba untuk menghafal bahan-bahan untuk ujiannya sore nanti.

Bibirnya mengerucut lucu ketika sampai di materi yang cukup sulit ia hafal. "Aish, kenapa ini sulit sekali." Kemudian Luhan kembali menutup matanya sambil menggumamkan materi itu bagai sebuah mantera.

"Baca tiga kali, kemudian hafalkan tiga kali. Kalau masih belum berhasil, kau bisa menyingkatnya menjadi sebuah kode atau apapun itu yang mudah kau ingat." Luhan tersentak dan segera setelah ia mengenali siapa pemilik suara itu ia membuka matanya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya heran dan agak sinis. Orang yang ditanyainya hanya mengendikkan bahunya acuh.

"Aku hanya sedang menikmati waktu luangku sebelum memulai kelas." Luhan menatapnya tidak percaya.

Orang itu melayangkangkan protesnya, "Ada apa dengan tatapan itu? Aku serius!"

Luhan menghela nafasnya, "Bukan itu maksudku. Hanya, kenapa kau menghampiriku? Bukankah kita berencana bertemu besok?" Tanyanya.

"Eyy... Tidak boleh memangnya? Lagipula aku duduk disini karena menunggu pesananku." Ujar Sehun sedikit merajuk. Luhan memutar bola matanya malas. "Masih banyak meja kosong sepertinya."

Tapi Sehun tidak menanggapi sindiran itu. Ia hanya diam menunggu pesanannya.

.

.

Tuk tuk

'Abaikan, tetaplah berkonsentrasi pada bukumu Lu' Batin Luhan sembari memegang bukunya erat.

Tuk tuk tuk

Tangan Luhan semakin erat memegang –atau mungkin mencengkram karena kini kuku-kukunya seperti menancap di sampul buku itu. Yeah, Luhan masih mencoba mengatur nafas dan emosinya.

TukTuk Tuk

Sudah. Habis sudah kesabarannya.

Luhan membanting bukunya cukup keras di meja, hal itu cukup untuk membuat Sehun terperanjat dari duduknya yang tenang tadi.

"Cukup Oh Sehun, ku pikir kau bisa pindah dari meja ku sekarang." Desisnya sambil menatap tajam Sehun dengan matanya. Sedangkan Sehun, anak itu hanya menatap bingung ke arah Luhan. "Ap−Kena− Hey, aku bahkan tidak melakukan apa-apa." Protesnya setelah mendapat kata-kata yang pas untuk membalas Luhan.

Luhan mendengus, apanya yang tidak melakukan apa-apa.

"Baiklah jika mengganggu ketenanganku kau sebut tidak melakukan apa-apa. Tapi bagaimana pun alasanmu, aku ingin kau pindah Sehun."

"Mengganggu apa…" Gumamnya pelan. Otak cerdasnya mencoba mengingat hal apa yang ia lakukan tadi sehingga sang rusa manis marah, dan ketika ia mendapat jawabannya ia langsung tertawa kecil.

"Maksudmu dengan mengganggu ketenanganmu itu adalah suara ketukan jariku di meja?" Tanya Sehun langsung dan mimik wajah Luhan berubah menjadi kusut. " Ya Tuhan, serius kau bisa mendengarnya? Tempat ini bahkan sangat berisik tapi kau mempermasalahkan suara ketukan jariku yang nyaris tidak terdengar itu? Apa kau Do Min Joon sampai bisa mendengar suara yang sangat kecil?" Lanjutnya dengan berlebihan. Wajah Luhan semakin kusut saja, dia merutuki namja albino menyebalkan di hadapannya.

"Terserah, tapi tolong dengar aku tuan Oh Sehun yang menyebalkan. Jam tiga nanti aku ada ujian, dan aku tidak sempat belajar jadi ku mohon berhenti menggangguku karena demi Tuhan aku butuh untuk belajar!" Katanya gemas, dalam hati ia sudah berjanji jika makhluk di hadapannya tidak melakukan perintahnya maka ia akan memukul kepalanya dengan gulungan kertas atau buku tebal di tangannya.

Sehun menatapi wajah marah Luhan yang entah kenapa tampak lebih imut dari sebelumnya, kemudian ia tertawa kecil. Ia tidak habis pikir kenapa ada pria seperti Luhan, sifat dan pemikirannya saja yang dewasa, tapi kelakuannya masih seperti anak kecil.

Tawanya masih berlanjut sampai Luhan melancarkan aksinya. "Aww…" Ringisnya ketika buku tebal itu mencium kepalanya dengan sangat romantis. Dia langsung memicingkan matanya ke arah Luhan.

Tapi Luhan hanya balas menatapnya dengan tatapan santai dan melanjutkan membaca bukunya.

"Salahmu sendiri tidak menuruti perintahku."

.

.

Sehun adalah anak yang penurut. Meskipun ia tampak seperti pembangkang atau anak kurang ajar dilihat dari tingkahnya sehari-hari, sebenarnya tidak seperti itu.

Sehun selalu mendengar kata-kata orang tuanya. Bahkan hal kecil pun ia mengingatnya dengan sangat baik. Contohnya saja pulang ke rumah segera setelah urusannya selesai.

Bicara soal orang tuanya, ia belum mengunjungi mereka sejak kepulangannya dari Amerika. Well semua ini karena kesibukan kuliah dan kesibukan 'lainnya'. Dan karena hari ini ia memiliki banyak waktu luang, sepertinya ada baiknya ia mengunjungi mereka sebelum ia dicap sebagai anak tidak tahu diri.

Sehun menyalakan mesin mobilnya dan langsung menjalankannya ke daerah Gangnam. Ia menyalakan musik agar suasana mobilnya tidak terlalu hening.

Di balik kaca mata hitamnya, mata Sehun sesekali melirik pinggiran kota Seoul untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Memang, ia belum berkeliling Seoul lagi. Sekali lagi ini karena kesibukannya.

Sehun menurunkan rem tangan ketika lampu lalu lintas berubah merah. Para pejalan kaki mulai memadati jalan itu.

Ketika lampu sudah berubah warna menjadi hijau lagi, ia segera melesat lagi.

.

Suasana rumah Sehun selalu sepi, ditambah sejak ia pergi ke Amerika. Sehun memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah kemudian ia langkahkan kakinya memasuki rumah mewah tersebut.

Cklek

Tidak ada siapapun yang menyambutnya, sesuai dugaannya, rumahnya selalu akan tampak tidak berpenghuni.

Sehun menghela nafas panjang, ia kemudian mendaratkan bokongnya di sofa yang empuk. Ia menatap langit-langit ruang tamu rumahnya, inilah alasan kenapa dia memilih untuk hidup mandiri tanpa orang tua nya dan tinggal terpisah dari mereka. Jika suasananya sama seperti tinggal sendirian, kenapa tidak memutuskan tinggal sendiri saja? Well, setidaknya itulah yang ada di pikirannya.

Ia menolehkan kepalanya ketika mendengar suara pintu salah satu ruangan dibuka disertai suara ribut percakapan dua orang yang menuruni tangga. Ia menebak bahwa itu adalah kedua orang tuanya.

"...Sudah kubilang dia bukan anak yang berbakti!" Percakapan mulai terdengar jelas di telinganya.

"Jangan menyebutnya seperti itu yeobo..."

"Bagaimana bisa Jehoon pergi dengan wanita sial itu?! Dia bahkan membangkang padaku untuk meneruskan perjuanganku!"

"Kau bisa menyerahkannya kepada Sekyung kan? Dia sudah cukup dewasa —"

"Menyerahkan pada seorang wanita? Tidak."

"Lalu kau mau apa? Menyusul Jehoon? Atau apa?"

"Aku bisa menyusulnya atau—" Ucapan ayahnya terpotong, "...Sehun?"

Alis ayahnya bertautan, "Apa?" Ayahnya tahu, bahkan sangat tahu bahwa demi menghindari kejatuhan wewenang meneruskan perusahaannya anaknya yang paling kecil itu—Sehun— sampai memilih jurusan seni sebagai studi utamanya. Dan sekarang istrinya sedang menyebut nama Sehun di perdebatan mereka?

"Kau tahu Sehun itu—"

Istrinya memotong ucapannya -lagi-. "Ya Tuhan Sehun, sejak kapan kau di sini sayang?"

Wanita paruh baya itu segera berlali ke arah anaknya yang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.

"Belum terlalu lama eomma." Ibunya langsung melepas pelukannya dan menatap anaknya penuh kerinduan.

"Kau menjadi sangat tinggi kau tahu? Berapa tinggi mu sekarang?"

"Mungkin 181 cm?" Jawab Sehun ragu, karena terakhir ia mengukur tinggi badannya itu sekitar 1 tahun yang lalu. Ibunya berdecak kagum, "Bahkan sekarang kau lebih tinggi dari appa mu. Nah tunggu sebentar ibu akan ambilkan minuman dulu."

Sehun baru saja akan duduk jika ayahnya tidak datang. Ia menundukkan kepalanya pelan sebagai tanda hormat kepada pria itu.

"Bagaimana kabarmu Sehun?" Tanya ayahnya setelah ia duduk di kursi seberang Sehun. Anak itu tersenyum simpul. "Aku baik abeoji."

Sehun melirik ke arah lantai dua di mana kamar-kamar berada. "Jehoon hyung dan Sekyung noona dimana abeoji?" Tanya nya penasaran, karena setahunya sesibuk apapun kedua kakaknya itu pasti mereka akan pulang pada sore hari.

Ekspresi ayahnya langsung berubah seram, Sehun merutuk dalam hati kenapa ia langsung bertanya tentang itu. Beruntung ibunya langsung datang dengan segelas jus jeruk dan sepiring kue di nampan bawaannya.

"Sekyung sedang menghadiri rapat di Busan, mungkin sebentar lagi pulang. Dan Jehoon..." Ibunya menatap khawatir ke arah suaminya. "Dia kabur bersama kekasihnya karena kami menentang hubungan mereka." Lanjutnya dengan lirih. Sehun langsung merubah ekspresinya menjadi terkejut.

"Kenapa kalian menentangnya?" Tanya Sehun hati-hati. Ekspresi ayahnya makin mengeras.

"Karena dia mamacari wanita yang bekerja di club! Dia ingin mencoreng nama keluarga kita. Dan sialnya hyungmu telah menghamili gadis itu." Jawab ayahnya marah, ia kembali emosi mengingat hari dimana anaknya itu meminta restu akan hubungan mereka dan mengatakan bahwa gadis yang ia bawa itu tengah hamil anaknya.

Tubuh Sehun menegang tanpa sadar, wajahnya juga memucat. Sial, baru mengetahui hamil saja reaksi orang tuanya sudah seperti itu. Bagaimana jika ia membawa Luhan dan Ziyu dan mengatakan bahwa ia telah memiliki anak? Mungkin ia akan langsung dikubur hidup-hidup oleh ayahnya.

Sehun mendesah. Memikirkannya saja sudah membuatnya susah menelan saliva.

"Padahal abeoji sudah merencanakan tahun ini ia menjadi CEO karena aku sudah sering sakit." Desah ayahnya kecewa, ia tersenyum kecut ketika istrinya mengelus punggung tangannya pelan.

Jehoon memang tidak mengambil jurusan ekonomi untuk mata studinya, tidak seperti Sekyung yang memang menyukai bidang itu. Tapi ayahnya yakin bahwa setiap laki-laki ditakdirkan sebagai pemimpin, apalagi nilai akademik Jehoon selalu membuatnya bangga.

Ia tersenyum miris, padahal ia sudah membayangkan jika anaknya itu sudah menjadi CEO maka ia akan menikahkannya dengan anak salah satu rekannya yang sudah sangat ia dambakan sebagai menantu karena gadis itu punya kemampuan mengurus perusahaan dengan sangat baik.

Oh SeHyuk menatap anak bungsunya dengan pandangan menerawang. Anaknya itu kini tumbuh menjadi sosok yang begitu sempurna, tubuh tegapnya, wajah rupawannya, dan otak cerdasnya membuatnya lebih sempurna. Sehyuk jadi terpikirkan sesuatu.

"Kau kemari naik apa Sehun?" Tanya ayahnya tiba-tiba. Sehun menautkan alisnya heran.

"Mobilku abeoji."

"Kau membelinya sendiri?" Kerutan di dahi Sehun makin dalam. "Ne, aku membelinya dengan uang hasil bekerjaku sendiri abeoji."

Ayah Sehun tersenyum, "Kau bekerja apa?"

"Kerja paruh waktu di restoran atau kafe dan selama di Amerika aku mengajar sebagai guru privat." Jawab Sehun ragu. Senyuman Sehyuk semakin lebar dan kini berubah menjadi senyuman senang. Tidak salah ia membiarkan anaknya itu mencoba hidup mandiri tanpa campur tangannya. Dan sekarang mungkin ia bisa sedikit memaksakan egonya.

Sehun mendadak waswas di duduknya, melihat senyum sang ayah yang tampak seperti merencanakan sesuatu mau tak mau membuatnya khawatir.

"Kau tahu Jehoon pergi dari rumah dan aku tidak bisa percaya pada Sekyung..." Ayahnya menjeda kalimatnya—menunggu reaksi Sehun. Sehun berubah semakin tegang di kursinya. Ia merasa kalau tiap detiknya ayahnya bisa bicara sesuatu yang mengancam ketenangannya.

"Jadi... Aku ingin kau yang menggantikanku memimpin perusahaan." Kata Oh Sehyuk dengan seringaian di wajahnya.

.

.

.

TBC

.

Preview fr next chapter:

"...menjadi penerusku atau menikah dengan Jihye sebagai gantinya."

.

"Sial, Oh Jehoon kau harus membayar segalanya."

"Eomma, ciapa noona cantik yang belcama appa itu?"

.

"Aku tidak ingin menikah dengan seorang anak kecil, Sehun."

.

.


A/N:

Selamat menjalankan UN bagi kelas 6,9, dan 12!

Ini apa? Bahkan gw juga ga kepikiran masih bisa nulis ff disaat mau UN gini -

Maaf untuk kelamaan dalam mengupdate fanfict, chapter ini aku berjuang biar bisa mengetik di tengah kesibukan. Semoga chapter ini bisa menebus lamanya update. Sekali lagi maaf dan semoga kalian masih dalam minat untuk membaca fanfict ini.

P.S;: aku hiatus sampai selesai UN SMP, doakan aku ya xD Ohiya ff ini, match maker, B in Trouble, sama I'm Not Cinderella juga bakal diselesaikan secara beruntut setelah beres UN.

Terimakasih untuk siapapun yang membaca, khususnya bagi yang sudah review, fav/foll. Aku bisa apa tanpa kalian -sobs-

Adakah yang bisa menebak gimana chapter depan?

Last,

MIND TO REVIEW? THANKS!