Happy reading yeoreobun... ^^,

.

.

.

Sorry for typo

.

.

I hope you'll like my story

My (x) Boyfriend

Cast : Baekhyun (GS)

Chanyeol

Kyungso (GS)

Kim Jongin

Sehun

Luhan

Kris

CHAPTER 7

What We Used To Be

Baekhyun tidur dengan kaki yag terbuka lebar, tidak ada manis-manisnya sebagai wanita. Bantal dan selimut sudah berantakan, seperti baru saja terjadi perang di atas kasurnya. Sesekali Baekhyun menggeliat menggerakan tubuhnya seperti ulat. Astaga, harus ada yang mengajarkan Baekhyun tidur dengan lebih rapi dan manis. Layar handphone Baekhyun berkedip-kedip sejak tadi. Suara getar handphonenya sendiri bahkan tidak terasa, Baekhyun benar-benar tidur seperti orang mati. Mungkin yang seperti ini yang disebut 'tidur dengan damai'.

Handphone Baekhyun terus bergetar tepat di samping telinganya. Baekhyun masih sama, masih tertidur seperti orang mati. Sekarang giliran suara alarm jamnya yang tepat berada di meja kecil samping ranjangnya yang berbunyi begitu keras. Baekhyun, masih, 'tidur dengan damai'. Sampai akhirnya Ny. Heechul masuk ke dalam kamar Baekhyun karena sejak tadi mengetuk pintu Baekhyun tidak ada respon juga. Betapa kagetnya Ny. Heechul melihat bagaimana Baekhyun tidur.

"Aigu...aigu... Baekhyunssi, ireonaseyo", Ny. Heechul membangunkan Baekhyun sambil menepuk-nepuk pantat anaknya. Berkali-kali ia lakukan, Baekhyun masih 'tertidur dengan damai'. Sehun menghampiri ibunya, berdiri di pintu kamar Baekhyun sambil memegang sehelai roti.

"Eomma, kalau eomma membangunkan nuna seperti itu tidak akan berhasil". Sehun mendekat, dengan membawa sehelai roti lainnya. Sehun mendekati nunanya, mendekatkan roti yang ia bawa tepat di depan hidungnya. Dan berhasil Baekhyun bereaksi. Sehun semakin mendekatkan rotinya sampai Baekhyun terbangun. Begitu Baekhyun terbangun Ny. Heechul lalu memukul lengan anak perempuannya itu.

"Aaa!", teriak Baekhyun. Sehun yang melihat nunanya hanya tertawa bahagia.

"Aigu, karena makanan kau baru terbangun? Lihatlah adik iparmu sudah banyak melakukan pekerjaan sebelum ia pergi, sedangkan kau...", omel Ny. Heechul sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sehun yang melihat kejadian itu hanya tertawa bahagia melihat nunanya dimarahi oleh ibunya. Baekhyun belum sadar sepenuhnya. Matanya masih sedikit terpejam. Baekhyun meirik adiknya yang sedang menertawakannya sejak tadi.

"Ya, sikkeureo!".

"Astaga, nunim... kapan kau akan menjadi wanita sesungguhnya. Cepatlah bangun sebelum eomma kembali dengan membawa pisau ditangannya untuk membangunkanmu".

Mata Baekhyun terus melirik sinis ke arah Sehun. Sehun keluar dari kamar Baekhyun dengan senang, karena pagi-pagi ia sudah mendapat hiburan dari nunanya. Baekhyun melihat jam, sudah hampir pukul 9, pantas saja ibunya mengomel. Lalu Baekhyun melihat handphonenya. Ada 5 panggilan tak terjawab dan 5 pesan. Baekhyun cek dari siapa. Panggilan tak terjawabnya dari Choi sajangnim tentu saja, lalu ada dari Kyungso, dan paling atas nama Chanyeol yang paling banyak menghubunginya. Baekhyun menaikan sebelah alisnya, ada apa sampai Chanyeol meneleponnya sampai berkali-kali. Setelah mengecek panggilan tak terjawab, Baekhyun mengecek pesan masuknya. Ada dua pesan masuk dari Kyungso dan sisanya 4 pesan masuk dari Chanyeol. Baekhyun membuka pesan dari Chanyeol, ia baca pesan terakhir yang Chanyeol kirim. Ia lihat waktunya, ini sejam yang lalu. Lalu ia baca isi pesannya.

'Aku ada di bandara'.

Baekhyun meneliti kembali apa yang ia baca. Bandara? Apa yang dilakukan Chanyeol di bandara? Kenapa Chanyeol memberi tahunya kalau dia sedang di bandara?. Apa Chanyeol akan pergi?. Barulah Baekhyun tersadar 1000% dari tidurnya. Ia lalu pergi ke kamar mandi dengan buru-buru. Tidak perlu mandi, cukup bersihkan muka dan menggosok gigi saja. Di meja makan Ny. Heechul, Sehun dan Luhan sedang menikmati sarapan, bingung melihat Baekhyun yang terburu-buru masuk ke kamar mandi. Ny. Heechul menggelengkan kepalanya.

"Tsk...tsk... aigu, lihatlah nunamu. Luhanssi, mianhae. Nanti kau akan terbiasa dengan Baekhyun yang seperti itu".

"Ah, gwaenchana eommeoni", jawab Luhan dengan suara lembut.

Setelah selesai urusannya di kamar mandi, masih terburu-buru Baekhyun kembali ke kamarnya untuk mengganti baju. Ny. Heechul yang melihat Baekhyun keluar begitu cepat dari kamar mandi langsung tahu bahwa Baekhyun tidak mandi, dan tentu berkomentar.

"Ye, Byun Baekhyun kau tidak mandi?".

"Biarkan saja eomma, dia pasti terlambat", ujar Sehun sambil menyuapi dirinya dengan sesendok penuh nasi.

Baekhyun bersiap-siap dengan terburu-terburu. Ia akan ke bandara, siaa tahu ia masih bisa bertemu dengan Chanyeol walau hanya beberapa detik. Sambil bersiap-siap ia mencoba menghubungi Chanyeol, tapi teleponnya tak juga diangkat. Baekhyun semakin panik. Selesai memaki pakaian, Baekhyun membawa tasnya dan keluar. Mengambil sepotong roti dari meja makan, menyeruput sedikit coklat panas yang dibuat ibunya. Lalu berpamitan dan pergi.

"Na, galke".

"Kau tidak sarapan dulu?", tanya Ny. Heechul sedikit berteriak. Baekhyun menjawab dengan lambaian tangan.

Baekhyun berlari menuju halte. Baru sekarang Baekhyun mengomel kenapa jarak rumahnya menuju halte begitu jauh. Padahal selama ini tiap hari ia berjalan dari rumah menuju halte atau sebaliknya tidak pernah mengomel tentang jarak. Tapi sekarang, entah kenapa jarak dari rumahnya menuju halte begitu jauh, bahkan ia sudah berlari ia masih belum juga sampai. Sesampainya di halte Baekhyun langsung naik bus yang akan segera pergi. Baekhyun mencari kursi kosong, lalu ia berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah karena lari.

Baekhyun kembali berusaha menghubungi Chanyeol tapi masih belum ada jawaban. Teleponnya tidak di angkat dan pesannya tidak ia balas. Baekhyun semakin tidak tenang.

"Ya, Park Chanyeol cepat angkat teleponku", gumam Baekhyun.

Setelah merasa jarak rumah dan halte bus begitu jauh, sekarang Baekhyun merasa bus yang ia naiki berjalan seperti siput, lama sekali. Bus berhenti karena lampu merah. Baekhyun meminta supir untuk menurunkannya di sini. Baekhyun turun dari bus yang menurutnya berjalan seperti siput, sekarang ia mencari taxi. Siapa tahu taxi bisa berjalan lebih cepat seperti kuda. Setelah memberhentikan taxi Baekhyun meminta supir taxi untuk sesegera mungkin mengantarkannya ke bandara. Kali ini berhasil, taxinya benar-benar berjalan seperti kuda. Akhirnya Baekhyun sampai di bandara. Baekhyun kembali berlari, matanya sibuk melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok jangkung bernama Park Chanyeol. Baekhyun masih mencoba menghubungi Chanyeol. Diangkat. Chanyeol mengangkat teleponnya.

"Eodiya?", tanya Baekhyun dengan nafas terengah-engah.

"Nan? Aku di bandara. Kau sudah baca pesanku?".

"Aku tahu kau di bandara, tapi di mana?".

"Aku di terminal keberangkatan luar negeri".

"Kau jangan pergi dulu, tunggu aku". Baekhyun menutup teleponnya. Chanyeol terheran-heran ada apa dengan Baekhyun.

Setelah mengetahui di mana Chanyeol Baekhyun kembali berlari untuk menyusul Chanyeol. Akhirnya Baekhyun melihat Chanyeol, sedang berdiri dekat pintu masuk keberangkatan luar negeri. Dengan nafas yang belum sempat ia atur Baekhyun lalu memegang lengan Chanyeol. Chanyeol jelas terkejut saat ada yang tiba-tiba memegang lengannya. Chanyeol semakin terkejut saat tahu itu Baekhyun, dengan nafas terengah-engah dengan keringat yang mengucur dari keningnya.

"Ya, wae yeogi wasseo?".

"Hati-hati...", ujar Baekhyun sambil berusaha mengatur nafasnya.

"Hati-hati?".

Baekhyun mengangguk. Ia memegang lututnya, membuat tubuhnya menunduk. Chanyeol yang berdiri di sampingnya benar-benar heran melihat Baekhyun yang tiba-tiba datang dan mengatakan hati-hati. Chanyeol terus memandangi Baekhyun. Baekhyun mengangkat kepalanya, masih dalam posisi tertunduk.

"Kau masih belum pergi?".

"Pergi? Eodi?", Chanyeol menjawab dengan pertanyaan.

Baekhyun menegakkan tubuhnya. Ia mengambil handphonenya menunjukkan pesan yang Chanyeol kirim. Baekhyun menunjukkan pesan dari Chanyeol tepat di depan mata Chanyeol. Chanyeol melirik ke arah Baekhyun.

"Oh... kau takut jika aku pergi?". Sekarang Baekhyun yang heran. Kenapa Chanyeol berkata seperti itu. Baekhyun menurunkan tangannya yang memegang handphone.

"Heh?".

"Lalu kenapa kau datang kemari, kau bahkan berlari". Chanyeol mengeluarkan saputangan dari sakunya lalu mengelap keringat Baekhyun. Baekhyun lalu mengambil paksa saputangan Chanyeol dan mengelap sendiri keringatnya.

"Bukankah kau akan pergi? Jadi aku kemari untuk mengucapkan selamat tinggal". Tawa Chanyeol pecah mendengar perkataan Baekhyun.

"Kenapa kau tertawa?", tanya Baekhyun.

"Kau ini lucu, Baek".

"Mwo?"

"Kau membaca pesanku sebelumnya?".

Baekhyun mengernyitkan keningnya. Pesan sebelumnya? Baekhyun baru teringat, ada 3 pesan lainnya dari Chanyeol dan ia hanya membaca pesan terakhir yang Chanyeol kirim, yang isinya 'Aku di bandara'. Baekhyun terlanjur panik lebih dulu membaca pesan itu dan langsung terburu-buru menyusul Chanyeol. Baekhyun memeriksa handphonenya, membuka inboxnya dan membaca pesan Chanyeol yang belum sempat ia baca. Wajah Baekhyun mulai memerah setelah membaca pesan Chanyeol. Isi pesan Chanyeol yang tidak sempat Baekhyun baca.

Pertama : "Kau sudah bangun?"

Kedua : "Kau hari ini selesai bekerja jam berapa?"

Ketiga : "Nanti sepulang kau bekerja aku traktir kau makan ramyeon".

Itu isi pesannya, tidak ada satu pesanpun yang bilang Chanyeol akan pergi dan meminta Baekhyun datang menyusulnya ke bandara untuk mengucapkan selamat tinggal. Sial, Baekhyun benar-benar malu, pipinya memerah sekarang seperti tomat, ia tutup wajahnya dengan sebelah tangan. Ia membalikan badannya menghindari Chanyeol. Chanyeol tersenyum melihat Baekhyun yang begitu khawatir kalau Chanyeol akan pergi. Baekhyun berjalan tanpa berkata apapun pada Chanyeol. Chanyeol mengikuti langkah Baekhyun.

"Kau tidak ingin tahu kenapa aku ke bandara?", tanya Chanyeol dari belakang. Baekhyun menghentikan langkahnya. Benar, setidaknya Baekhyun harus tahu kenapa Chanyeol pergi ke bandara. Baekhyun membalikan tubuhnya menhadap Chanyeol dengan wajah sedikit tertunduk karena malu.

Chanyeol tersenyum meihat tingkah laku Baekhyun. Chanyeol maju satu langkah, sekarang ia berada tepat di depan Baekhyun.

"Aku mengantar Minseok nuna". Baekhyun mengangkat langsung kepalanya melirik sinis ke arah Chanyeol yang berada di depannya. Chanyeol melanjutkan perkataannya.

"Minseok nuna itu sepupuku, ia sedang liburan ke Korea. Saat hari Sehun menikah ia baru saja tiba di Korea, dia memintaku menjemputnya di bandara. Lalu aku bilang kalau aku akan pergi ke pernikahan Sehun, dia memaksa ingin ikut. Itu sebabnya saat itu aku datangbterlambat karena aku harus menunggu Minseok nuna berdandan", jelas Chanyeol.

Betapa leganya Baekhyun saat mendengar kata 'sepupu'.

"Tapi kenapa kau tidak mengatakan apapun saat itu? Kau malah membiarkan aku dihantui pikiran macam-macam".

"Karena melihatmu marah tanpa sebab seperti itu aku suka... Jamkkan, kau berpikir macam-macam?".

Baekhyun terdiam.

"Oho, kau berpikir Minseok nuna itu kekasihku? Lalu kau tidak rela aku memiliki seorang kekasih?".

"Dwaesseo". Sekarang pipi Baekhyun semakin memerah. Baekhyun dengan cepat membalikan tubuhnya berjalan agak cepat agar cepat menjauh dari hadapan Chanyeol. Chanyeol dengan cepat mengikuti Baekhyun. Chanyeol terus memanggil nama Baekhyun untuk memperlambat langkahnya. Tapi tentu saja Baekhyun tidak akan mendengarkan, karena sekarang ia benar-benar malu.

"Ya, Byun Baekhyun gidaryeo", seru Chanyeol sedikit berteriak.

Chanyeol dan Baekhyun sudah di dalam bus. Mereka menuju kursi agak belakang. Baekhyun duduk dekat jendela lalu Chanyeol mendekat, berdiri di samping kursi tempat Baekhyun duduk. Baekhyun yang sadar melihat ke arah Chanyeol.

"Apa yang lakukan?".

"Duduk".

"Duduklah di kursi lain, jangan di sebelahku".

"Eyy, nanti kau akan membutuhkan aku".

"Mwo? Andwae, duduk di kursi lain", ucap Baekhyun sambil menghalangi kursi sebelahnha dengan kedua tangan.

Chanyeol mengalah. Ia duduk di kursi belakang tepat si belakang Baekhyun. Chanyeol mendekatkan tubuhnya ke kursi di depannya.

"Baekhyuna, kita makan bibimbap".

"Aku harus ke kantor". Chanyeol mempouting bibirnya kecewa dengan jawaban Baekhyun.

"Arasseo, kalau begitu pulang kau bekerja kita pergi", ajak Chanyeol.

"Aku banyak pekerjaan, tidak tahu pulang jam berapa".

"Aku tunggu".

Percakapan mereka berhenti sampai situ. Chanyeol yang terus memandangi Baekhyun dari belakang. Diam-diam Chanyeol berdiri dari kursinya, mendekat ke kursi Baekhyun. Ia intip Baekhyun. Ternyata benar dugaannya, Baekhyun tertidur. Baekhyun selalu seperti ini jika naik bus. Chanyeol dengan hati-hati duduk di samping Baekhyun. Seminimal mungkin Chanyeol bergerak agar Baekhyun tidak terbangun. Chanyeol berhasil duduk di samping Baekhyun. Hanya naik bus, tapi Chanyeol begitu senang. Tiba-tiba bus mengerem mendadak. Baekhyun yang kepalanya bersandar di pundak Chanyeol hampir mengenai kursi di depannya. Tapi Chanyeol berhasil menahannya sehingga kening Baekhyun mengenai telapak tangannya. Baekhyun terbangun sambil mengusap-usap keningnya. Baekhyun terkejut melihat Chanyeol sudah duduk di sampingnya dengan posisi tangan yang sedang menahan.

"Apa yang kau lakukan?".

"Inilah gunanya aku duduk di sampingmu, jika tidak keningmu itu sudah terbentur cukup keras".

Baekhyun merapikan rambutnya dan kembali mengelus-elus keningnya. Baekhyun sampai di halte dekat kantornya. Chanyeol mengikuti Baekhyun dan ikut turun, padahal Chanyeol baru turun di tiga pemberhentian berikutnya.

"Kenapa kau ikut turun?".

"Aku mau mengantarmu".

"Gomapta, tapi aku bisa pergi sendiri".

"Aku senang, kau begitu khawatir aku akan pergi", ucap Chanyeol sambil tersipu.

"Lupakan tentang tadi, anggap aku tidak pernah seperti itu".

"Tidak akan, aku akan selalu ingat".

Baekhyun mulai berlari menuju kantornya yang sudah dekat, menjauh dari Chanyeol yang terus menggodanya. Jika Baekhyun terus mendengar perkataannya bisa-bisa pipinya semerah warna apel. Kali ini Chanyeol tidak mengikuti Baekhyun berlari. Chanyeol melambaikan kedua tangannya mengucapkan sampai jumpa. Chanyeol tetap melakukan itu sampai Baekhyun masuk ke dalam kantornya. Masuk ke kantor Baekhyun menepuk-nepuk kedua pipinya yang memerah. Kyungso tiba-tiba mengagetkan Baekhyun.

"Ya!", kaget Kyungso.

"Ya, Do Kyungso apa yang kau lakukan".

"Pantas kau datang telat", ucap Kyungso.

"Mwo?".

"Aku tadi melihatmu datang bersama Chanyeol. Ah... kau kencan dulu dengannya sebelum pergi ke kantor?", goda Kyungso.

Baekhyun memukul lengan Kyungso, Kyungso lalu berlari menjauh dari Baekhyun. Akhirnya Baekhyun menceritakan apa yang terjadi dengannya pagi ini, dan kenapa ia bisa telat datang ke kantor. Kyungso seperti sedang dimelihat badut sedang menari-nari di depannya. Kyungso tertawa hingga puas, ia bahkan hampir menangis mendengar cerita Baekhyun.

"Akhirnya kau mengakui perasaanmu pada Chanyeol?", Kyungso masih tertawa.

"Ya, siapa yang mengakui perasaan?".

"Apa yang kau lakukan pagi ini itu sama saja kalau kau tidak ingin ia pergi jauh".

Baekhyun terdiam.

"Geumanhae, berhentilah tertawa".

.

.

.

.

Sudah pukul 5. Kantor mulai sepi, Kyungso sudah pulang terlebih dulu tadi dengan Jongin. Baekhyun masih duduk di ruang kerjanya. Handphone Baekhyun bergetar. Ada pesan masuk. Itu dari Chanyeol.

'Baekhyuna, kau sudah selesai?'

Baekhyun membalas, 'aku sibuk'.

Chanyeol tak membalas pesannya lagi. Baekhyun membereskan meja kerjanya bersiap untuk pulang. Baekhyun berjalan lemas. Baekhyun merasa lapar. Ia baru ingat sejak pagi ia baru memakan sepotong roti dan menimum sedikit susu, setelah itu ia belum mengisi perutnya lagi. Baekhyun sampai di lobi kantornya. Ia melihat seorang pria duduk di kursi tempat tamu menunggu, di sebahnya ada empat gelas mocca float. Baekhyun seperti kenal pria itu. Perlahan Baekhyun menghampiri pria itu.

"Chanyeol?".

Chanyeol menengok ke arah suara itu berasal.

"Oh, kau sudah selesai?".

"Neo yeogiseo mwo haneun geoya?".

"Menunggumu".

"Astaga, kau sudah minum 4 gelas? Berapa lama kau menungguku?".

"Belum lama, baru satu jam".

"Lalu kenapa kau baru menghubungiku tadi?".

"Kau bilang kau sibuk. Ah... kau menunggu aku menghubungiku?", Chanyeol melirik jahil.

"Aaa...annn...anniya. Gaja, aku lapar. Kau bilang akan mentraktirku".

"Geurae, gaja".

Baekhyun mengajak Chanyeol makan di tempat Kris. Kris yang melihat Baekhyun datang bersama Chanyeol terus memandangi temannya itu. Baru beberapa hari yang lalu temannya itu selalu tidak peduli tentang Chanyeol, dan sekarang tiba-tiba ia mengajak Chanyeol.

"Chanyeoli?", tanya Kris.

"Ah, sunbae. Apa kabar?".

"Kabarku sangat baik. Bagaimana denganmu?".

"Na do".

"Kenapa kau baru datang kemari?".

"Aku baru tahu kalau sunbae memiliki cafe".

"Geurae? Padahal kalau kau datang sebelumnya aku akan kenalkan kau dengan temanku yang sering menghabiskan waktunya di sini memikirkanmu", ujar Kris sambil melirik ke arah Baekhyun.

"Ne?", Chanyeol merespon dengan kembali bertanya karena ia tidak tahu apa yang dimaksud Kris.

Baekhyun yang merasa dirinya sedang di bicarakan langsung melototi sunbaenya itu.

"Kita lebih baik pesan makan". Terdengar ada penekanan Baekhyun mengatakan itu. Baekhyun takut Kris mengatakan hal-hal aneh yang akan membuat Baekhyun kembali menunjukkan pipi tomatnya karena malu. Dengan senyum jahil Kris pergi meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol.

.

.

.

.

Chanyeol dan Baekhyun selesak dengan makan malam mereka. Chanyeol mengantar Baekhyun pulang. Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan menuju ke rumah Baekhyun. Mereka saling diam. Tak ada satu pun dari merek yang memulai pembicaraan

Keheningan pun hilang saat Chanyeol bertanya.

"Aku penasaran".

"Tentang apa?".

"Teman Kris sunbae yang katanya sering menghabiskan waktu memikirkan aku di cafenya".

Baekhyun menelan ludahnya. Kenapa ia membahas tentang ini. Jantung Baekhyun berdegup. Baekhyun mulai salah tingkah.

"Ah, geurae. Nanti aku akan katakan pada sunbae untuk mengenalkan dia padamu".

Mereka sampai di depan rumah Baekhyun. Mereka masih membicarakan tentang hal tadi.

"Sekarang saja aku berkenalan dengan dia", ucap Chanyeol.

"Heh? Apa maksudmu? Kenapa mengatakan itu di depanku?". Chanyeol tersenyum pada Baekhyun.

Sekian buat chapter ini. Maafkan reader chanpter-chapter sebelumnya minim chanbaek moment. Jeosonghabnida...

Ditunggu chapter selanjutnya yeoreobun... ^^,

Semoga ga bosen baca ff ini :)

Dan selalu ditunggu reviewnya...

Review juseyo yeoreobun... *deep bow*

Kamus kecil ̴

Ireona : Bangun

Sikkeuro : berisik

Eodi : dimana

Nan : kependekan dari naneun yang artiny aku

Ya, wae yeogi wasseo : Kenapa kau ada disini

Andwae : tidak boleh

Gomapta : terima kasih

Geumanhae : hentikan

Neo yeogiseo mwo haneun geoya : apa yang kau lakukan disini

Na do : aku juga