"Iya, aku ingin tahu. Siapakah dia sebenarnya ayah?" Fugaku berhenti membaca buku lalu menapa Sasuke dalam-dalam.

"Dia itu Hinata, Hyuga Hinata."

"WHAAAAT?"

.

.

DEVIL AND THE BAD BOY

.

.

.

Sasuke akui jika ayah semata wayangnya tersebut sangat suka memberi kejutan. Dan itu hanya terjadi satu kali dalam satu tahun untuk Sasuke, yaitu ketika ia berulang tahun. Lah, sekarang? Tidak ada hujan, tidak ada badai, tidak ada Syahrini, Fugaku tiba-tiba memberikannya sebuah kejutan yang begitu cetar membahana ulala~

Ehm, oke. Mari Sasuke perbaiki situasi. Dengan kepala dingin pemuda berambut bak ekor ayam tersebut menutup bibirnya yang sempat mengekspos seluruh isi rongga mulutnya, berdehem pelan dan memperbaiki posisi duduknya yang kurang berwibawa. Sambil memasang ekspresi cool, beberapa saat kemudian Sasuke mulai membuka pembicaraan.

"Tapi ayah, bukannya syarat bangsa iblis menikah itu harus memiliki sertifikat tanda masuk Sekolah Iblis? Sedangkan Hinata, dia bahkan tidak lulus tes masuk Sekolah Iblis sampai sekarang ayah." timpal Sasuke dengan diberkahi oleh otak encerrnya.

Fugaku hanya berdecak pelan dan menatap Sasuke dengan remeh. "Untuk masalah yang itu, kau tidak usah khawatir Sasuke. Ayah tahu jika Hinata memiliki otak yang cerdas! Jadi, kita cukup menunggu saja." Fugaku kembali berkutat dengan buku yang sempat menemaninya. Lain halnya dengan Sasuke yang tampak berpikir ditunjukkan dengan bertambahnya kerutan di keningnya.

Sasuke membenarkan ucapan ayahnya jika Hinata itu cerdas. Lalu, kenapa Hinata tidak bisa lulus tes masuk Sekolah Iblis? Apakah Hinata tidak menghapal pelajaran sebelum ujian? Ck, itu tidak mungkin, bahkan balita manusia dapat mengerjakan soal itu dengan mudah. Lalu, apakah Hinata sengaja tidak lulus tes tersebut? Tapi kenapa ia sengaja? Seketika ingatan Sasuke mulai melayang,

"Tapi Sasuke jika aku kembali sekarang. Itu sama saja aku bunuh diri."

"Aku akan pulang saat pesta pernikahanmu dan Sakura belangsung. Jadi, jika kau ingin cepat pulang maka cepatlah urus masalah percintaanmu ini!"

Bola mata Sasuke membulat sempurna saat kemampuan menganalisanya begitu bekerja dengan optimal. Rasa terkejutnya ia simpan dalam-dalam sebelum ayahnya bertanya terhadap perubahan ekspresinya. Dengan cepat Sasuke beringsut dari furniture mewah di ruangan kerja sang ayah dan melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Selang beberapa detik, pemuda itu telah berada di kamarnya dan menatap pantulan dirinya di kaca berukuran besar. Kembali pesan Hinata terngiang di benak Sasuke,

"Suatu saat nanti kau akan mengerti Sasuke."

Terlihat iblis keturunan Uchiha itu mengepakkan sayap hitamnya hingga beberapa helai bulu mengawang indah di udara hingga akhirnya jatuh ke tanah. Tak ia pedulikan teriakan-teriakan iblis lain yang terperangkap akan pesona dan ketampanan dirinya. Karena kini, ia harus bertemu dengan Hinata dan mengungkapkan betapa besarnya pengorbanan iblis cantik tersebut akan kelangsungan hidupnya. Dengan suara kecil, pria itu bergumam,

"Ya, kini aku mengerti Hinata."

.

.

Naruto tak tahu pasti berapa menit ia habiskan waktu hanya untuk mencari toko kue yang kini tengah terbakar. Padahal, jika ia menatap ke langit dan memperhatikan kepulan asap hitam legam yang tampak pekat, maka ia akan menemukan toko itu dengan mudah. Tapi, karena cara berpikirnya yang jauh dari kata baik. Maka Naruto menemukan toko kue tersebut dapat dikatakan dalam jangka waktu yang sangat lama.

"Dimana Hinata?" gumam Naruto khawatir, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan iblis cantik yang telah berhasil membuatnya merasakan jatuh cinta. Walau dulu ia sering berkencan dengan wanita di klub, tapi tak pernah sebesitpun perasaan cinta tumbuh dalam hatinya. Dan, jika kini Hinata tak bisa ia temukan, maka dapat dipastikan benih-benih cinta yang mulai mengakar dalam dirinya akan segera mati. Dan Naruto tidak menginginkan itu terjadi.

"Hinata!" panggil Naruto. Sayangnya, tak sepatah katapun yang mengiyakan panggilan Naruto. Berulang kali Naruto memanggil Hinata, tapi tetap saja hasilnya nihil. Merasa tak ada pilihan lain, Naruto mencoba menerobos police line dan melangkah masuk ke dalam toko kue yang kini tengah dilahap si jago merah.

"Maaf, Anda tidak bisa masuk ke dalam toko ini." tukas seorang polisi sambil memegang lengan Naruto.

"Kau pikir aku peduli dengan ucapanmu itu, ha? Cepat lepaskan aku!" Naruto mulai memberontak dan mencoba melepaskan tangan kekar polisi itu dari lengannya.

"Saya mohon tolong berdiri di belakang garis polisi, ini demi keselamatan Anda." ucap polisi tersebut dan menarik paksa Naruto ke belakang. Sedangkan Naruto malah meronta-ronta seperti anak kecil yang dilarang untuk memakan permen.

"Apa pedulimu dengan keselamatanku! Aku tetap akan masuk!" lawan Naruto bersikeras untuk masuk.

"Tapi Anda tidak punya izin…"

"Omong kosong dengan izin! Aku akan tetap masuk ke dalam!" sela Naruto kesal dan berjalan maju ke depan dengan langkah kaki yang besar.

"Hey, jangan masuk…"

"NARUTO!"

Naruto terdiam dan menoleh ke sumber suara. Tampak seorang gadis berambut indigo dengan sekantung plastik yang ia jenjeng di tangan kanannya tengah menatapnya dengan cemas. Naruto berlari mendekati Hinata dan memeluk gadis bermata lavender itu dengan erat, seakan-akan ia tak mengizinkan Hinata lepas dari dekapannya. Sedangkan Hinata yang terkejut dengan amat sangat merasa salah tingkah. Pipinya tadi berwarna putih menjadi bersemu merah, semua anggota geraknya merasa lumpuh hingga kantung plastik yang ia pegang jatuh dalam sedetik.

"Hinata, kau baik-baik saja?" bisik Naruto dalam, spontan darah Hinata berdesir hebat seakan suara Naruto itu adalah tegangan listrik yang begitu tinggi.

"A…apa?" balas Hinata dan mencoba menetralisirkan detak jantungnya yang bertempo cepat. Kedua tangannya mencoba melepaskan pelukan Naruto yang terlalu diumbar di depan umum.

"Kumohon, biarkan aku memelukmu untuk beberapa menit…" Hinata yang merasa diperintahkan hanya bisa diam. Matanya tampak enggan berkedip, dan sesekali ia membasahi bibir bawahnya gelisah. Merasa canggung, Hinata mulai mengelus punggung Naruto dengan pelan, seakan tengah mencoba menenangkan perasaan Naruto.

"Na… Naruto,"

"Hm?" balas Naruto dengan gumamam.

"Bi… bisakah kita tidak berpelukan disini? Tempat ini terlalu ramai." bisik Hinata pelan. Naruto malah lebih mengeratkan pelukannya dan menggeleng.

"Aku tidak mau. Aku ingin seperti ini terus."

"Ta…tapi, aku malu Naruto." ujar Hinata risih. Naruto melepaskan pelukannya dan menatap Hinata lurus. Tangan kanannya mengambil plastik putih milik Hinata yang sempat terjatuh dan menarik gadis itu menjauh dari keramaian. Lalu kini, di sinilah Naruto. Di depan kios-kios yang berjejer, tepatnya di tempat pertama kali Naruto dan Hinata bertemu.

"Hinata," panggil Naruto, Hinata menoleh ke arah pria tersebut.

"Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu." sambung Naruto seraya menggenggam jemari Hinata dengan hangat.

"Sebenarnya aku…" ucapan Naruto terhenti saat tatapan Hinata tak lagi tertuju padanya, melainkan ke seberang jalan.

"Hinata, kau ingin makan es krim?" tanya Naruto ketika mengetahui objek apa yang dilihat Hinata.

"Iya, aku ingin memakan es krim strawberry." balas Hinata dengan polos. Naruto mengusak pelan surai indigo Hinata dengan gemas dan melepaskan tautan tangannya dengan jemari Hinata. Mungkin saja, jika ia membelikan es krim maka suasana akan semakin mendukung.

"Ya sudah, aku akan membeli es krim dulu. Kau tunggu disini ya." Hinata merasa senang dan mengangguk mantap. Dengan mata berbinar-binar ia menunggu Naruto dan bersiap-siap merasakan dinginnya es krim yang akan mendinginkan sistem pencernaannya. Sesekali ia mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke trotoar, sambil memasang senyum bahagia tatkala akan mendapatkan es krim.

Lain halnya dengan Naruto yang tertawa gemas melihat tingkah Hinata. Ingin rasanya ia kembali dan mencubit pipi Hinata hingga memerah dan menyuruhnya untuk tidak memasang ekspresi yang begitu imut. Tapi, yah… sayangnya Naruto telah terkepung di dalam antrian untuk membeli es krim. Dengan sabar pemuda itu berdiri dan maju ke depan jika antrian di depannya telah mulai berkurang. Beberapa menit kemudian, Naruto telah mendapatkan es krim strawberry yang Hinata inginkan. Dengan perasaan bangga dan bahagia, pria itu hendak melangkahkan kaki menyebrangi jalan dan memberikan es krim strawberry tersebut kepada sang pujaan hati.

Namun, saat ekor matanya bertemu dengan paras Hinata semangat Naruto mulai terkikis. Bukan tanpa alasan Naruto berkecil hati. Bagaimana tidak, kini Hinata tengah dipeluk oleh seorang lelaki berambut hitam dengan wajah bak model. Tak hanya itu saja, hatinya semakin sakit saat Hinata membalas pelukan lelaki tersebut dan tersenyum. Seakan mereka adalah pasangan kekasih yang tak berjumpa sekian lama, dan kini mereka meluapkan betapa besar rasa rindunya hingga tak memperdulikan seorang pemuda berambut kuning dengan es krim strawberry di tangan kanan yang tengah menahan rasa pahit kisah percintaannya.

Seakan tak ada tenaga, es krim strawberry yang sedari tadi ditopang oleh tangan Naruto jatuh begitu saja. Lelaki beriris biru itu tersenyum getir, berusaha menertawakan nasibnya yang begitu menyedihkan. Tapi tetap saja, itu sangat mustahil. Air mata yang telah menggenang di pelupuk mata mulai jatuh bebas, tak ia pedulikan tatapan aneh dari pengguna jalan atau tawaan kecil dari siswi sekolah terhadap dirinya. Naruto menatap Hinata dengan sendu dan berucap,

"Tadi saat aku memelukmu kau bilang kau sangat malu. Tapi sekarang, kau tampak bahagia jika dipeluk oleh orang itu."

Ia mulai melangkah masuk ke dalam apartemennya yang tak jauh dari sana. Perasaannya kini telah seperti es krim strawberry yang ia beli. Terjatuh begitu saja dan pejalan kaki yang melihatnya merasa jijik. Ya, Naruto sangat jijik dengan dirinya yang lemah ini.

.

.

"Jadi, kenapa kau datang ke bumi Sasuke?" tanya Hinata seraya melepaskan pelukannya. Jujur, ia sangat rindu dengan Sasuke. Bukan dengan orangnya, melainkan dengan kepala Sasuke yang enak untuk dipukul.

"Untuk mengucapkan terima kasih padamu."

"Terima kasih? Untuk apa?" sambung Hinata bingung. Sasuke yang mendengarnya tersenyum simpul dan menatap Hinata dengan teduh.

"Aku tahu, kenapa kau tidak lulus masuk sekolah iblis." Hinata terperanjat kaget dan menatap Sasuke dengan horror.

"A…apa maksudmu Sasuke? A…aku ti…tidak mengerti." elak Hinata dengan gagap. Sasuke terkekeh pelan jika teman masa kecilnya itu telah berbicara dengan terbata-bata. Dia tahu, jika Hinata kini tengah berbohong dan berusaha menutupi sesuatu.

"Ck, ayolah Hinata. Aku tahu jika kau sangat menyukai pelajaran teater, tapi kau tidak bisa mengecohku dengan ilmu teatermu yang tinggi itu." tangkis Sasuke sambil mencolek dagu Hinata. Hinata yang merasa bodoh, mulai hilang akal.

"Menurutmu, kenapa aku tidak pernah lulus?" Sasuke berdecak pelan dan menyuruh Hinata untuk duduk dan mulai menenangkan pikirannya. Hinata hanya mengangguk patuh dan menatap Sasuke dengan tatapan serius.

"Menurutku kau tidak pernah lulus, karena kau memang tidak ingin lulus." balas Sasuke spontan, ingin rasanya Hinata menyela ucapan Sasuke itu. Tapi pria bermarga Uchiha tersebut langsung meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir tipis Hinata seakan member kode agar Hinata tidak berbicara.

"Dan kau tidak ingin lulus karena…" ujar Sasuke menggantung. Tampak jelas di inner mata Sasuke jika Hinata sangat ingin tahu akan jawabannya.

"Karena kau tidak ingin menikah denganku."

Ting!

Hinata diam tak berkutik, bibirnya yang sedari tadi ingin melawan kini mulai terkatup rapat. Tatapannya lurus menatap Sasuke yang kini tengah tersenyum manis ke arahnya. Suasana begitu hening, tak ada niat sedikitpun bagi Hinata untuk membuka pembicaraan, sedangkan Sasuke menunggu emosi Hinata sampai benar-benar stabil.

"Terima kasih Hinata, kau telah berkorban demi temanmu yang tidak peka ini. Seandainya saja aku tahu rencana ayahku untuk menikahkan kita berdua dari dulu, akan akan langsung menikah dengan Sakura tanpa persetujuannya dan kau bisa bersekolah tanpa menggagalkan setiap tes yang diberikan." tutur Sasuke lembut, gadis bermata lavenderpun tertegun.

"Bagaimana kau tahu tentang hal ini Sasuke?"

"Ayahku yang memberitahuku jika ia sangat ingin menikahkan kita berdua. Ditambah lagi, seantero kerajaan iblis juga tahu jika kau adalah iblis yang cerdas. Terasa janggal jika kau tidak bisa lolos tes masuk sekolah iblis dengan otak brilianmu itu." Sasuke menyentil dahi Hinata hingga gadis itu mengerang kesakitan. Hinata memanyunkan bibirnya dan mengelus keningnya dengan pelan.

"Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau tahukan, jika ayahmu itu tidak rela jika kau menikah dengan gadis yang strata lebih rendah dibanding Uchiha." ucap Hinata yang masih mengelus keningnya.

"Aku tahu, dan ayahku juga ingin menantu yang pintar." timpal Sasuke.

'Karena itulah dia menginginkan ku untuk menikahimu.' ujar batin Hinata.

"Jadi?" sambung Hinata.

"Jadi, sebenarnya sekitar seminggu lagi Sakura akan dilantik menjadi dokter. Dan dengan begitu aku akan membujuk ayahku agar ia mau menikahiku dengan Sakura. Kalau ayahku menolak, aku akan berkata 'Ayah, apa ayah tidak mau jika tua nanti menantu ayah akan merawat ayah saat ayah sakit?' dan aku yakin ayahku akan tercenung dan mensetujuiku menikah dengan Sakura." lapor Sasuke dengan semangat yang menggebu-gebu. Hinata tersenyum bahagia dan puas. Bahwa pengorbanannya tidak berakhir dengan sia-sia.

"Baiklah kalau begitu. Aku akan membunuh sesuatu dan datang ke hari pernikahanmu lalu menyelesaikan urusan sekolahku."

"Tapi, kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang masalah pernikahan ini Hinata?" kata Sasuke.

"Awalnya saat aku masih berumur 7 tahun, ayahmu datang ke rumahku dan mengatakan jika ia ingin menikahimu denganku saat melihat aku bisa mengerjakan semua tugas sekolah nii-san. Dan ia berpesan agar aku tidak memberitahukan mu tentang rencana pernikahan ini, berhubung sejak dulu aku tidak ada minat untuk menikahimu. Jadi, yah… seperti itulah…" desah Hinata di akhir kalimat.

"Ya ya ya, aku paham. Lagipula, jika Hanabi tidak datang ke kamarku aku tidak akan tahu rencana kolot ayahku. Lalu, bagaimana dengan kisah percintaanmu Hinata?" pancing Sasuke penasaran.

"Maksudmu?"

"Maksudku, apakah kau tengah menyukai seseorang?" Hinata mulai tersipu malu. Dengan berusaha keras ia memendam rona merah yang akan mencuat di pipinya.

"Hey hey hey, sepertinya ada yang sedang jatuh cinta." goda Sasuke. Hinata menjadi sangat malu.

"Jadi, siapa pemuda beruntung itu, wahai Nyonya Hyuga?" tanya pemuda berwajah tampan. Hinata mulai berpikir.

"Hm… ia sangat dekat denganku. Dan jika kau bertanya apa kelebihannya, akupun tak tahu. Yang aku tahu ia adalah pemuda yang suka pergi ke klub malam dan pulang dengan kondisi mabuk, tidak suka dengan kebersihan dan pemalas, pemaksa dan suka menggoda, dia tak peduli dengan lingkungannya. Bahkan mengenai seekor anjing di dalam mesin cuci saja ia tidak tahu."

"Kedengarannya, aku lebih baik dibanding dirinya." komentar Sasuke.

"Mungkin kau benar. Tapi, aku tidak peduli dengan semua itu. Aku suka mendengar suaranya saat ia memanggil namaku, bahkan suara itu lebih merdu dibanding penyanyi seriosa terkenal. Aku suka saat aku bangun tidur dan melihat wajahnya yang setengah mengantuk, itu bagaikan hiburan tersendiri bagiku. Aku suka memandangi wajahnya yang tertidur lelap dengan polos seakan ia adalah pangeran tampan yang dikirimkan dewa kepadaku untuk bersamanya. Dan yang terpenting, aku suka saat ia berada di sisiku walau terkadang ia tak peduli dengan keberadaanku."

"Ckckck… kau belajar pujian maut dari siapa, eoh?"

Hinata yang merasa tersinggung menjitak kepala Sasuke hingga pemuda itu berhenti tertawa. Hinata mulai berlari disaat pria berambut hitam itu telah mengejarnya. Rambut indigonya yang terurai menambah kesan jika Hinata tengah mengiklani sebuah produk shampoo. Lain halnya dengan Sasuke yang seperti aktor drama dengan ekspresi cool dan masih tetap dipasangnya. Dan jika kita melihat lebih teliti ke sebuah apartemen, dapat dipastikan raut seorang pemuda yang begitu sendu tengah memandang acara kejar-kejaran antara Hinata dengan Sasuke. Jikalau kita melihat lebih teliti lagi, maka akan tampak seorang gadis kecil yang tersenyum bahagia di atas atap apartemen sambil mengepakkan sayap putih mungil di belakang punggungnya.

"Yes! Dengan begini, tugasku akan selesai dengan cepat!"

.

.

Hinata menapaki lorong apartemen dengan langkah ringan, beban yang telah ia pikul beberapa tahun itu sirna sudah. Dengan volume kecil iblis cantik tu menyanyikan lagu seperti memperlihatkan suasana hatinya yang berbunga-bunga. Saat di depan pintu kamar Naruto, perasaan Hinata yang tadi layaknya kebun bunga berubah menjadi Kerajaan Iblis tempat tinggalnya. Karena, beberapa tas yang berisi pakaiannya terletak di luar begitu saja. Merasa tidak terima, Hinata mengetuk pintu kamar pemuda beriris biru itu beberapa kali.

"Ada apa?" tanya Naruto malas.

"A…apa maksudmu meletakkan semua barang-barangku di luar Naruto?"

Naruto tersenyum miring, "Karena aku tidak ingin kau berada di kamarku lagi. Aku sudah terlalu bersabar, tapi rasa muak ku kepadamu tak kunjung hilang. Lagipula kau telah punya pekerjaan, jadi untuk apa kau menumpang di kamarku? Dan kulihat, pacarmu itu termasuk orang kaya. So, tidak ada lagi yang harus ku jelaskan bukan?"

Hinata mencoba menahan emosinya yang tengah berada di tingkat maksimal. Mata lavender itu tampak menahan air mata yang telah menggenang, deru napasnya tampak tak beraturan. Tidak ada yang perlu dijelaskan? Hey Naruto, gadis rapuh ini begitu membutuhkan penjelasanmu! Kenapa kini Hinata diusir seakan ia adalah binatang peliharaan yang merepotkan majikannya? Kenapa Naruto tidak memberitahu sebelumnya jika ia muak akan keberadaan Hinata? Kenapa lelaki jabrik itu seakan memberikan Hinata harapan untuk mencintai dirinya dan malah memeluknya di depan umum? Dan kenapa kini Naruto menatapnya dengan datar seperti ia tak merasa bersalah akan sikapnya kepada Hinata?

Kami-sama, tak tahukah pemuda itu jika Hinata begitu mencintainya? Tak tahukah pemuda itu jika gadis yang kini berada tepat di hadapannya merasakan sakit yang amat sangat saat ia mengusirnya? Apa Hinata harus berteriak hingga Naruto tahu perasaan cintanya yang telah tertanam terlalu dalam?

"Sekarang pergilah. Aku tidak ingin melihat wajahmu yang sok polos itu lagi." perintah Naruto dan menutup pintu kamarnya dengan keras. Meninggalkan Hinata yang kini telah berurai air mata dan menatap pintu kayu itu dengan nanar. Dengan perasaan sakit, Hinata menenteng tas miliknya dan berjalan menjauh dari kamar Naruto dengan langkah tertatih. Hatinya telah koyak semenjak Naruto mengatakan jika ia tidak ingin Hinata berada di kamarnya lagi.

Tak beda dengan Naruto yang kini bersandar di daun pintu kamarnya. Naruto sangat ingin membuka pintu dan mengejar Hinata lalu memintanya untuk tidak meninggalkannya sendiri. Ingin rasanya Naruto merangkul Hinata dan mengungkapkan perasaannya yang telah dihancurkan Hinata sekejap mata. Tapi apa daya, yang Naruto tahu Hinata telah memiliki kekasih dan pasti akan memilih lelaki tersebut.

Kedua insan itu dirundung kesedihan yang begitu mendalam. Hinata yang kini berada di seberang jalan apartemen Shiori menatap jendela kamar Naruto yang telah ditutupi gorden. Sedangkan Naruto memandang Hinata yang berada di seberang jalan dengan tatapan sedih. Dalam detik itu juga, Naruto dan Hinata bergumam pelan,

"Aku yang terlalu bodoh untuk mencintaimu, atau kau yang tidak peka?"

.

.

.

TBC

Assalamu'alaikum readers… *Megumi lagi tobat #plaaak!

Gimana nih chap kali ini? Apa masih terlalu pendek? Apa typo masih suka nyungsep sana-sini? (kebiasaan lama, bikin fic tanpa beta) Apa alurnya semakin kesini semakin aneh? Apa jalan ceritanya terlalu mengada-ada? Silahkan jawab di kotak review readers! Kalau enggak, hehehehe… *Megumi enggak jadi tobat, langsung lari ke dapur *nodong pisau chef Juna ke readers *Chef Juna enggak jadi masak *Megumi dilempar ama bakiak sama fans chef Juna. (Ini lagi, ngapain bahas-bahas chef Juna?!)

Lupakan obrolan di atas, kalau ada yang enggak 'ngeh ' sama salah satu fict absurd dari beberapa fic Megumi yang terkenal dengan ke-absurd-annya yang judulnya Devil and The Bad Boy (dari judulnya aja udah jelas ni author enggak kreatip *biarin suka-suka gue mwahahaha….) silahkan bertanya lewat review. Lewat PM juga boleh ^_^

En zen, kayaknya ni fic akan tamat pada chap depan. Jadi, tunggu aja gimana jadinya kisah cinta Naruto x Hinata di fic ababil karya remaja labil ini. Apakah happy ending atau sad ending? Apakah Hinata bisa pulang ke kerajaannya? Apakah Hinata akan bertemu dengan orang tua Naruto? Apakah pernikahan Sasuke benar-benar berlangsung? Apakah tugas Hanabi dapat terselesaikan? Apakah Megumi makin cantik? #Plaaak! *narsis mode on.

Alrait, kalau gitu thanks buanget sama readers/review/follow/fav!

BIG THANKS TO :

The KidSNo OppAi, blackschool, Himamura Kiimomaru, Artazen, Ammaya, linkinpark . hoobastank, fjuknii . lotogg, OneKyuuChan, Misti Chan, Hayati JeWon, Ms . X, guest, hqhqhq, siapa aja boleh, I-ExNeko-I, mito senju.