Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Into the New World
© Lucine Fiorenza. 2011
Chapter #7 'Aneh'
"Apa maumu kali ini?"
Suara seorang wanita yang merupakan hokage kelima ini terdengar tajam dan begitu mengintimidasi. Berusaha memberitahukan bahwa kali ini; dia sedang tidak dalam mood yang baik, pada sosok lelaki yang berdiri di depan sisi lain mejanya.
"Misi." Jawaban yang begitu singkat namun tepat sasaran.
Sang Godaime lalu menyipitkan matanya, mengamati lekat-lekat lelaki yang jauh lebih muda darinya ini. "Kau kira kau itu siapa? Mudah sekali kau meminta misi dariku?" tanya Tsunade, sang Godaime. Kata-katanya cukup menyakitkan. Tapi, apakah mempan untuk seseorang di hadapannya ini?
"Aku Uchiha Sasuke, shinobi di desa ini."
Suara kikikan pelan keluar dari bibir Tsunade. "'Shinobi di desa ini katamu'?" kini suara Tsunade terkesan mengejek. "Yakin sekali kau ini."
Sasuke mengerutkan keningnya, menatap wanita di depannya ini dengan kesal. "Kalian yang telah menerimaku."
Tsunade menghentikan tawa kecilnya. "Memang benar. Tapi, kau yakin masih bisa menyebut dirimu sebagai 'shinobi Konoha', heh?"
"Hentikan omong kosong ini dan berikan misi untukku," perintah Sasuke
"Aku hanya bercanda." Tsunade menggelengkan pelan kepalanya. "Bersabarlah sedikit, Uchiha," ujar Tsunade, "aku yakin jika kau tak sabaran seperti ini, misi ranking D pun pasti akan gagal di tanganmu."
Kali ini Sasuke memilih diam. Malas untuk menanggapi perkatan Tsunade.
"Baru dua minggu keluar dari penjara, kau sudah ingin menjalankan misi?" Tsunade menyandarkan punggungnya ke kursi. "Padahal kudengar dari Sakura, kesehatanmu masih buruk."
"Aku akan mati jika aku terus-terusan terkurung di dalam rumah," komentar Sasuke
"Kenapa? Apa karena ada Sakura?" Seringai tipis muncul di bibir Tsunade. Melihat wajah Uchiha di depannya yang tampak begitu kesal, cukup membuatnya terhibur. Sasuke tampak membuka mulutnya, mencoba memberi pembelaan atas pernyataan yang dilontarkan Tsunade barusan. Namun, belum sempat satu patah katapun terucap, Tsunade kembali melanjutkan pembicaraannya. Tak memberi kesempatan kepada Uchiha muda ini untuk mengatakan apapun. "Apa dia masih suka menggodamu, heh? Apa kehadirannya membuatmu jadi salah tingkah?"
"Bukan urusanmu."
"Berarti iya." Nada kemenangan dan kepuasan terdengar dari ucapan Tsunade barusan. Masalah pribadi murid terbaiknya itu memang bukan urusannya. Tapi kali ini, entah mengapa dirinya cukup tertarik untuk sedikit mengungkit hal tersebut pada lelaki muda di hadapannya. Lelaki yang menjadi pemeran utama dalam kisah hidup muridnya.
Sasuke mengepalkan kedua telapak tangan yang berada dalam sakunya. Siapa wanita ini? Berani sekali mengomentari hal yang tak sangkut paut dengannya. Dia memang hokage, tapi tetap saja dia tak punya hak untuk ikut campur dalam urusan hidupnya. Apa selama ini Sakura sering membagi cerita pada wanita tua di hadapannya ini? Apa yang telah dikatakannya? Menjelek-jelekkan dirinyakah? Apa setelah itu mereka menertawakan dirinya?
Dan mengapa aku harus peduli?
Sasuke melupakan perdebatan alot dalam dirinya itu saat pintu di belakangnya terbuka.
"Tsunade-sama. Kau memanggilku?" suara berat terdengar dari arah di mana pintu terbuka tadi. Suara yang berasal dari lelaki yang tampak telah berumur.
Tanpa berbasa-basi, Sasuke memutuskan untuk pergi. "Permisi."
"Tenang saja, Sasuke," ucap Tsunade saat Sasuke hampir mencapai pintu, "aku akan mengabarimu secepatnya jika ada misi untukmu, lewat Sakura."
"Aa."
.
Keluar dari ruangan Tsunade, Sasuke memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya, lagipula untuk saat ini ia tak tahu ke mana hendak dituju -jika tidak kembali ke rumahnya sendiri.
Ia melangkahkan kakinya tanpa beban, tak ambil pusing dengan tatapan tajam dan bisik-bisik warga yang berada di sekitarnya -di sepanjang jalan yang diambilnya. Sasuke hanya menatap ke depan, dengan kedua tangannya sengaja dipendam ke dalam saku. Tatapannya datar. Sambutan yang kurang nyaman ini memang pantas diterimanya, itu semua telah disadarinya. Meski begitu, ia tak akan peduli. Ia tak akan memikirkan apa yang orang-orang lakukan padanya. Baginya, sesuatu bukanlah masalah jika orang-orang yang tak mengerti apapun itu belum sampai mengusik kehidupannya. Kalau hanya umpatan atau ejekan, hanya akan berlalu seiring langkahnya menjauh.
Beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti. Bukan di depan mansionnya. Bukan di depan distrik klannya, melainkan di depan sebuah gedung yang cukup besar. Gedung bercat putih susu, dengan tanaman hijau dan bunga-bungaan yang menghiasi pekarangannya.
Sebuah rumah sakit, Rumah Sakit Umum Konoha.
Tanpa sadar, Sasuke terdiam sejenak di sana. Matanya meneliti bangunan itu, bangunan yang dulu tentu saja sering dilihatnya. Namun kini tampak asing di matanya. Bertahun-tahun meninggalkan Konoha, ternyata mampu mengikis sedikit demi sedikit ingatan tentang kampung halamannya ini dalam memori otaknya. Lagipula, rasanya ia memang tak punya waktu untuk memikirkan hal yang satu ini. Apa lagi yang ada difikirannya kalau bukan; balas dendam? -dan keinginan untuk membangun kembali klannya?
Dua hal itulah yang menjadi tujuan hidup dari seorang Uchiha Sasuke.
Menit-menit telah berlalu percuma, namun ia masih tertahan di sana. Ada sesuatu yang menahan dirinya agar tak beranjak dulu, agar diam lebih lama lagi di sini. Ia seolah menunggu. Menunggu kejutan kecil yang mungkin akan didapatinya dari muka pintu rumah sakit itu. Tapi rupanya, Uchiha tampan ini bukanlah seseorang yang sangat sabar menunggu. Karena detik berikutnya ia telah melangkahkan kakinya masuk ke dalam area rumah sakit tersebut. Area dengan keadaan yang kurang disukainya; keramaian. Di mana, tempat itu saat ini tengah dipenuhi dokter dan perawat yang sedang sibuk, juga pasien-pasien yang tentu saja merupakan penghuni dari rumah sakit tersebut.
Sasuke kembai berhenti, kali ini di depan resepsionis berseragam perawat yang tampak terkejut dengan kedatangannya. Itu terlihat dari mulutnya yang menganga lebar, namun cepat-cepat dikatupnya dan juga matanya yang membulat besar. Seolah lelaki tampan yang dilihatnya ini merupakan makhluk menakutkan yang hendak melahapnya.
"Ah, ma-maaf, Uchiha-san," ucap perawat itu terbata, "ada yang bi-bisa kubantu?"
Sasuke mengerutkan dahinya. Bagaimana mungkin perawat ini bisa mengenalnya? Apa dia telah mengenalnya sejak dulu? Atau, dirinya memang telah menjadi orang populer yang selalu dibincangkan selama tiga tahun ke belakang ini?
"Aku..." Sasuke sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya. Ia sendiri bingung; apa tujuan sesungguhnya ia berkunjung ke sini? Ia bukanlah orang yang hendak menjenguk keluarganya yang sedang sakit. Ia juga saat ini tidak sedang dalam kondisi buruk yang membutuhkan penanganan serius. Jadi, apa yang sebetulnya ia cari, hingga rela membuang waktunya yang berharga hanya untuk sampai ke sini? Oh ayolah, pasti ada sesuatu yang ia cari. "-aku ingin bertemu... Sakura," lanjutnya
Perawat itu terlihat bingung, "Sakura yang mana?"
Sasuke mengumpat kesal dalam hatinya, mengapa perawat ini begitu bodoh? Memangnya ada berapa banyak 'Sakura' di sini? Apakah selama tiga tahun kepergiannya, banyak wanita yang mengubah nama mereka menjadi 'Sakura'?
"Haruno Sakura," jawabnya singkat
"Oh! Dokter Haruno!" perawat itu tampak riang. Entah apa yang membuatnya jadi begitu. Lagipula hal itu tak penting bagi Sasuke. Karena yang penting saat ini; apa yang akan dilakukannya jika bertemu Sakura di rumah sakit seperti ini? Bagaimanakah ekspresi wanita berambut merah jambu itu saat melihat dirinya nanti? Bahagiakah? Apa wajahnya akan memerah?
Dan, Sasuke, sejak kapan kau jadi penasaran begini, huh?
"Ruangannya ada di sana, di sebelah dekat tangga," ucap perawat tadi, sambil menunjuk ke arah di mana ruangan Sakura berada.
"Hn."
Baru saja hendak melangkah, perawat itu malah menahannya, "Ah, Uchiha-san, jika dia tidak ada di ruangannya, berarti saat ini dia masih ada di taman," meski Sasuke tak berbalik untuk mengetahui lebih lanjut tentang info ini, tapi si perawat tetap melanjutkannya, "taman yang berada di belakang rumah sakit."
.
Sasuke berjalan menyusuri koridor rumah sakit itu dengan santai. Meskipun sebetulnya ia tak suka bau obat-obatan yang menguar di sekitarnya, bau yang identik dengan orang sakit.
Sasuke berhenti saat melihat tulisan 'dr. Haruno' yang tertulis di sebuah papan kecil yang dikaitkan di sebuah tiang. Tiang yang berada di samping sebuah pintu bercat sama dengan cat rumah sakit; putih.
Sasuke menghela nafasnya pelan sebelum memutar knop pintu itu. Ia siap untuk menerima suara khas Sakura jika tahu bahwa orang yang berani masuk ke ruangannya, tanpa mengetuk pintu adalah dirinya; Sasuke.
Klik.
Pintu terbuka dan mata Sasuke membayangkan saat ini Sakura tengah duduk di belakang mejanya. Dengan jas putih yang mungkin dikenakannya, mengingat dia adalah dokter saat ini. Sasuke menyeringai tipis, akan seperti tampang Sakura saat ini?
Tapi, rupanya Sasuke harus menahan diri dulu. Karena saat ini ia tak bisa menemukan Sakura di dalam ruangannya sendiri. Kecewa memang, tapi seorang Sasuke tak mungkin akan mengakuinya. Wajahnya tetap datar. Datar tanpa ekspresi apapun.
Sasuke menutup kembali pintu yang tadi dibukanya. Ia belum mau pulang, sebelum bisa menemukan orang yang dicarinya. Ia pun memutuskan untuk melangkahkan kembali kakinya. Menuju ke tempat lain yang telah disebutkan perawat tadi. Taman.
.
Sasuke tak pernah tahu jika taman yang ada di sini lumayan indah. Ia dulu memang sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit, tapi ia tak pernah menyempatkan diri untuk mengunjungi taman ini. Dan selama sembilan belas tahun usianya, inilah pertama kalinya ia menjejakkan kaki di taman ini. Taman yang tidak hanya diisi oleh bunga-bungaan, tapi juga berbagai jenis tanaman obat.
Sasuke menyusuri pemandangan di hadapannya itu dengan mata hitamnya. Hingga ia menemukan warna rambut yang tak asing di matanya. Tak ada senyum di bibir Sasuke, namun rasa puas timbul pada dirinya saat berhasil menemukan sosok yang dicarinya.
Memperpendek jarak, ia melangkah mendekat. Hingga saat jarak mereka hanya sekitar lima belas meter, Sasuke menyadari bahwa Sakura tidak sendiri, melainkan saat ini ada sosok lain yang menemaninya. Sasuke sempat mengira orang itu adalah wanita saat melihat rambut panjangnya tergerai. Namun saat memperhatikan wajah orang itu baik-baik; dia adalah lelaki, dan Sasuke tahu itu siapa.
"Hyuuga," desisnya pelan. Entah mengapa sesuatu yang tak nyaman terasa menyekap dirinya saat melihat lelaki Hyuuga itu duduk di samping Sakura, menatap Sakura dari jarak dekat dan mampu mengukirkan senyum di bibir Sakura. Padahal Sasuke masih punya kekuatan untuk pergi dari sana, tapi ia menahan kakinya. Ia masih ingin di sini, masih ingin melihat apa yang dua orang itu lakukan. Meski apa yang diperbincangkan mereka tak bisa didengarnya, Sasuke masih saja berusaha mencari tahu.
Aneh.
Tanpa sadar, mata hitamnya berubah menjadi kemerahan.
Perubahan itu tidak dirasakannya, hingga timbullah rasa pening di kepalanya, dan kemudian disusul rasa perih yang begitu sakit di matanya. "Ahh," rintih Sasuke pelan. Ia cepat-cepat menutupi kedua matanya dengan tangan saat menyadari cairan kental hangat dari sana. "Aarghhh," kini rintihan pelannya berubah menjadi erangan.
"Aaarrgghhh." Saking perihnya, membuat Sasuke kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke tanah. Ia tak lagi memikirkan soal pengintaian ini. Tak peduli lagi jika dua orang itu akan mengetahui keberadaannya. Akan membuatnya kedapatan tengah memata-matai mereka.
"AARGHHH." Erangan itu semakin jelas terdengar. Dan saat kesadaran diri Sasuke hampir hilang, samar-samar ia merasakan sesuatu yang hangat memeluknya dengan bau cherry yang familiar, serta suara wanita yang menyebut namanya-
"Sasuke! Sasuke, bertahanlah!" dan setelah itu semuanya menjadi hitam.
.
Sasuke merasakan seseorang tengah menggenggam tangan kirinya saat perlahan kesadaran dirinya pulih kembali. Ia tahu saat ini ia tak lagi berada di taman belakang rumah sakit tadi. Dari suasananya, ia tahu saat ini ia telah berada di kamarnya. Dengan pelan, ia membuka matanya. Meski agak sedikit perih, tapi ia tak mau terus-terusan menutup matanya itu.
Tampak Sakura dengan wajah khawatirnya. Tampak pula saat ini wanita itu tengah menggenggam tangan kiri Sasuke.
"Sasuke," gumam Sakura
Sasuke menarik tangannya, membuatnya terbebas dari tangan Sakura.
"Kau sudah baikan?" tanya Sakura
"Hn." Sasuke lalu memijit pelan dahinya, meski matanya telah membaik, namun kepalanya masih terasa pusing.
Sakura hanya terdiam menatap Sasuke. Ia tak berani mengambil langkah apapun. Ia takut malah akan membuat lelaki itu kesal. "Sa-sasuke, aku ambil-"
Greb.
Tangan kekar menahan Sakura. "Tetap di sini," perintahnya, "hilangkan rasa pusing di kepalaku ini."
"Ba-baik." Sakura lalu mendudukkan dirinya di atas kasur. Kemudian memindahkan kepala Sasuke dengan pelan ke pangkuannya. Jantung Sakura langsung berdegup tiga kali lebih kencang. Bisa berada dalam kamar Sasuke saja telah mampu membuat hatinya meledak, apalagi jika ia diberi kesempatan berharga yang seperti ini? Tentu saja ia sangat bahagia. Hanya saja, saat ini harus ditahan dulu rasa bahagia itu. Ingatlah bahwa Uchiha tampan itu sedang dalam keadaan kurang baik. Janganlah berbahagia di atas penderitaan orang lain, Sakura.
Sakura mengusap pelan kening Sasuke, lalu berjalan ke ubun-ubunnya, seraya mengeluarkan chakra kehijauan dari telapak tangannya. Sasuke tak mengerti apa yang Sakura lakukan, tapi jujur ia sangat menikmati sentuhan lembut itu. Sentuhan yang perlahan membuat matanya ingin mengatup. Rasa hangat yang menyelimuti sekitar kepala Sasuke, membuat rasa pusing itu berangsur-angsur hilang. Namun juga mampu membuatnya tertidur dalam pangkuan ninja medis handal ini.
.
Saat Sasuke membuka matanya kembali, ia tak lagi ditemani Sakura. Sosok itu telah pergi sejak beberapa jam lalu, saat ia tak menyadarinya, saat Sasuke tengah tenggelam dalam alam mimpinya. Sasuke lalu bangkit dari kasurnya. Ia tak lagi merasakan berat di kepalanya. Melirik ke arah jam beker di mejanya, Sasuke mendapati bahwa saat ini sudah pukul sembilan. "Berapa lama aku seperti ini?" fikirnya.
Sasuke melangkahkan kakinya keluar kamar, berusaha mencari sosok Sakura yang kemungkinan belum berangkat ke rumah sakit. Dan perkiraannya benar, saat Sasuke tengah menuruni tangga, wanita itu terlihat tengah membaca sebuah kertas sambil berdiri, hanya menyandarkan punggungnya ke dinding. Wajahnya terlihat serius, wanita itu juga tampaknya tak sadar akan kehadiran Sasuke di dekatnya.
Tok Tok Tok
Sasuke tak berniat membukakan pintu bagi tamu yang datang terlalu pagi itu. Namun melihat Sakura yang tak bergeming, membuat Sasuke terpaksa harus melakukannya. Mendesah pelan, ia lalu berjalan menuju arah sumber suara itu.
Dan saat pintu itu dibuka-
"Hyuuga," desis Sasuke pada lelaki berambut panjang di depannya.
"Aa. Selamat pagi, Uchiha," sapa Hyuuga Neji, "maaf mengganggumu sepagi ini."
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sasuke dingin
Neji diam sejenak. Ia menatap lekat-lekat lelaki yang ada di depannya itu. Bukankah ia telah bersikap baik? Tapi mengapa sambutan dari Sasuke sedingin ini? Mengapa lelaki itu tampak kesal?
"Aku," Neji menghela nafasnya, "ingin bertemu dengan Sakura."
-bersambung-
HYAAAAAAAA... akhirnya chapter tujuh jadi juga DX.
Udah nyampe sebulanan ya fict ini terlantar, jujur aku lagi kehilangan semangat soalnya -_-V
Bales Review non login dulu,
MemelSasusakuLove: Apa di sini Sasu udah berubah? :o
Uchiha ney-chan: Sakura itu tahan banting, dibilang 'menyebalkan' sama Sasu ga bakal kenapanapa :p
DheCha-chan: Nangis? :o iya nanti Sasu bakal baik kok ;) tapi ga tau kapan *plak*
Akira: Jujur aku lupa Saku manggil Naru itu pake 'kun' atau enggak -_- okelah, ntar aku edit yaaa. Masukan yang baik :*
Kikyo Fujikazu: 'hub SasuSaku belum ada kemajuan'? -_- di sini udah ada belom? :p
Chini VAN: yang ini ga singkat kan? :D
Chie Akane Etsuko ga login: ini udah panjang kaaaan? Mereka nikah ga yaa? belum tau juga. Yang jelas endingnya SASUSAKU!
NenSaku: ini udah panjangan kan? Iya, ntar mereka samasama kok endingnya :)
Chiken pink: AHAHAHHA, iyaiya, yang nyebelin itu kan si sasu! :p
Daishuke Gabriel Rein Megumi: ahhhh, senangnya aku baca reviewmu, adikku sayangg~ baguslah kalo kamu nyesek :p hehehe
darkflash: salam kenal juga, aku mila :) gapapa baru review. aku tau kamu baca aja udah bikin aku seneng :)
Syl. ciel. sasu: AIhhh, makasihh :* iya ini udah panjang kaaaannn? setelah ini review lagi dong :p
Aya kazuichi: salam kenal juga :) ini sudah kuapdet!
Uchiha Saku Chan: mikirin apa ya si ayam itu...? mungkin isi dari Icha Icha Paradise-nya Kakashi XD ini udah diapdet :)
Thanks to you all! Ini udah diapdet Review lagi dong :p
And also thanks to: Eunike Yuen , Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Haza ShiRaifu , Diggory Malfoy , choco momo , gieyoungkyu , Miki Yuiki Vessalius , sasuke fans , Hanazawa Ayumi , phantomhive19 , Just Ana , chezahana-chan (makasih udah mau nemenin aku ngobrol gaje di FB -_-V), Kanami Gakura , karikazuka RestuChii SoraYama , arisu sashura , Uchiha Michiko-chan 'Elf . cek PM kalian ya :D
Semoga chapter ini ga mengecewakan kayak chapter sebelumnya (_ _")
Soal chapter, mungkin fict ini akan tamat di chapter 14-16 deh
Oh ya, aku mau promo. Kalo ada waktu, RnR fict terbaru aku dong. Twoshots. semicanon tapi FANTASY. Nah lho, penasaran ga? Kalo iya baca ya, judulnya Genie, pairingnya SasuSaku. :) makasih
.
Mau tau lanjutan fict ini? Review!
Salam, Lucine Fiorenza.
