Chapter VII
This Is Love
.
.
"A…- Shun dan June sama-sama ingin berbicara.
"Douzo… silakan duluan… June…" kata Shun.
"Rambutmu jadi agak pendek…" kata June tersenyum.
Shun memainkan poni rambutnya sejenak lalu tertawa kecil.
"Ahaha… iya, ngg… yah…"
"Hmm… aku terkejut Shun…"
"Ya… aku juga terkejut, seperti yang sudah kutulis disuratku, pernikahan ini wasiat dari Mitsumasa-jiicchan jadi ya…"
"Aku mengerti Shun…"
Diam sejenak…
"June… itu… Aku minta maaf, aku lupa akan janjiku padamu waktu itu, mengenai kembali ke pulau Andromeda dan membantu semuanya… Aku mengerti jika kau tidak mau memaafkanku untuk hal itu…"
"Tidak apa Shun… aku tidak semarah itu kok… Oh ya, selamat atas pernikahanmu… Aku begitu senang jadi aku tidak bisa menunggu, aku datang hari ini juga seperti yang kau minta hehe…" kata June, bohong pada dirinya sendiri untuk beberapa kalimat terakhir dari ucapannya.
"Te… Terima kasih June… Oh ya, mari kutunjukkan kamarmu… Kau pasti lelah kan, silakan istirahat dulu, aku harus ke Kido Mansion untuk beberapa jam…"
"Ya… tentu, sudah pergi saja, aku bisa sendiri kok, tunjukkan saja kamarku hehe…" kata June mencegah Shun mengangkat kopernya.
Namun Shun tetap mengangkat koper June.
"Ayolah June… ini bukan hal yang merepotkan…"
Lalu mereka beranjak ke lantai atas, barulah Shun sadar hanya terdapat dua kamar di rumahnya yang memang kecil dan sederhana itu.
"Aahh… June, maaf, kalau tak keberatan pakai kamarku saja, soalnya tidak ada kamar lain, aku bisa pakai kamar niisan Ikki…"
"Eh… jangan, nanti niisan Ikki bagaimana?"
Shun diam sejenak.
"Terus kalau gitu kamu mau tidur dimana…?" tanya Shun bingung.
"Aku bisa pesan kamar hotel, Shun…"
"Hah? Gak gak… jangan, sudahlah pakai kamarku saja. Kamu pikir aku akan membiarkanmu sampai tinggal dihotel selama dijepang, kalau begitu caranya akan sulit bagiku untuk mengawasimu. Kalau kau sampai kenapa-kenapa dan aku tidak sempat na-
"Aku bukan anak kecil Shun, lagipula aku seorang saint…"
"Sudahlah, tuh, kopermu sudah kuletakkan dikamar. Nah aku pergi ya June, kalau lapar… Silakan buat apapun yang kamu mau, bahannya ada di kulkas…" kata Shun seraya mengusap kepala June.
Tak sadar, Shun mengusap kepala June terlalu kasar sehingga menyebabkan topeng June terlepas dari wajah gadis itu. Begitu terdengar bunyi topeng itu terbanting…
PLAAAKKK!
June segera menutup kedua mata Shun dengan tangannya.
"Jangan lihat!"
"Aduuhh June… sakit… peraturan baru itu kan sudah kau ketahui, kau pasti bohong jika kau belum mengetahui peraturan itu, sekarang semua saint perempuan tidak lagi mengenakan topeng June…" kata Shun mengeluh.
June memungut topengnnya dan segera memakainya sebelum Shun berhasil melihat wajahnya.
"Aku memilih untuk tetap memakainya sampai aku menikah…" kata June.
"Me…nikah…?" tanya Shun. "Dengan siapa…? kenapa tidak pernah memberitau ku…?"
"Kau berisik Shun, aku belum memutuskan, tapi aku berniat menikahinya tahun ini jika memang-
"Siapa orangnya…?" tanya Shun.
June menatap Shun.
"Nanti akan kukirim kok, undangannya… Tunggu saja biar jadi kejutan…" kata June sedikit dengan nada genit, yang sebetulnya adalah bohong.
Shun menatap June serius…
"Terserah deh, aku pergi dulu ya June… Oh ya, kalau kau mau, bagaimana kalau malam ini kita mencari gaun untuk kau pakai ke pernikahanku…?" tanya Shun.
Pernikahan Shun…
… Pernikahan Shun
Kata-kata yang menyakitkan, pikir June.
"Baiklah… aku memang belum membeli gaun untuk kukenakan nanti…"
"Kalau begitu, sampai nanti…"
Dan Shun pun pergi. Begitu Shun pergi, June segera menutup pintu kamar Shun dan melepas topengnya. Memperhatikan seisi kamar Shun, rapi… Shun memang rajin…
Ah…
"Ya ampun… jadi dia masih menyimpan foto ini…" kata June.
"Kurang ajar… kenapa gak dibuang aja sih menyebalkan! Foto ini, foto yang ia jadikan lelucon… SHUN! Menyebalkan!" kata June lagi.
Dan June pun segera menelungkupkan bingkai foto tersebut. Memperhatikan ke arah luar sebentar dan segera beristirahat, June merebahkan tubuhnya ditempat tidur… Memeluk sedikit bantal yang ia gunakan… Hmm… wangi Shun… Dan June pun tertidur.
Sore 17.00
Blam…
June terbangun begitu mendengar ada suara pintu tertutup, segera ia mencari topengnya dan mengenakkannya dan beranjak keluar kamar.
"Shun…? Shun…?"
"Eh…?" sahut sebuah suara dari kamar yang bersebrangan.
Lalu keluarlah sesosok lelaki tampan bermata biru menatap antara kaget dan bingung ke arah June.
"Si… siapa…?" tanya Ikki bingung.
"Nii… niisan Ikki kan…?" June balik bertanya.
"Ya… Eh… tunggu, oh! June ya? June kan…?" tanya Ikki.
"Ya, saya June… Shun, belum pulang…?"
"Belum… belum… tunggu aja bentar lagi…" jawab Ikki sambil memperhatikan jam tangannya.
"Ngg… June, maaf saya mau istirahat, ngg kalau mau makan silakan ambil terus bawa ke kamar Shun atau… Ya sesukanya saja ya, sorry…" kata Ikki.
BLAM… Pintu kamar Ikki kembali tertutup. Terdapat tulisan disana 'One knock = one phoenix genma ken'
June tertawa sedikit… Ternyata kakaknya Shun lucu juga, gak se'seram' yang sering ia dengar dari Shun. June pun kembali menunggu Shun pulang.
Menunggu…
.
.
.
-to be continue-
