Suasana diantara ibu dan anak ini kembali seperti semula, tak ada rasa canggung maupun rasa bersalah maupun menyalahkan. Semuanya normal seperti tak pernah terjadi apa-apa. Seberapapun kesalahan seorang ibu terhadap anaknya, sang anakpun pasti akan memaafkan dan mencintainya dengan tulus sampai akhir hayat. Tak ada satu orang pun yang bisa menandingi kasih sayang ibu kepada anak-anaknya.

"Lalu siapa nama temanmu, apa Ibu mengenalnya?" tanya Haruka tiba-tiba.

"Ahh, itu,,dia,,, namanya Namikaze Naruto. Ibu tidak mengenalnya, dia teman baruku," jelas Hinata malu-malu.

"Teman baru atau pacar baru? Hinata kapan kau akan mengenalkan pacarmu kepada Ibu. Banyak pria yang datang melamarmu tapi kau selalu menolak mereka. Ibu ingin melihat kau segera menikah."

Hinata benci setiap berbicara dengan ibunya selalu membahas tentang pernikahan. Hinata sama sekali belum berpikir tentang itu semua, yang ia inginkan adalah mendapat pekerjaan yang layak dan bisa membahagiakan ibunya.

JOURNEY OF SPRING/ CHAPTER 7

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Naruhina

Rating : T

WARNING

DON'T LIKE DON'T READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL. KARAKTER HINATA DISINI SANGATLAH KUAT DAN SANGAT OOC.

.

.

~Sekedar penjelasan~

Agoraphobia Naruto akan kambuh jika ia berada dijalan raya dan berada diantara kerumunan orang-orang yang berlalu lalang dijalan raya. Saat dikantor dan lain sebagainya phobianya nggak begitu tampak, dia masih bisa mengontrol rasa takutnya. Ya kalau ini tak masuk akal, anggap aja masuk akal heheh.

.

AKU SAMPAI SAAT INI TAK TAHU SIAPA NAMA IBU HINATA #PLAAK

.

.

Kicauan burung terdengar nyaring dipagi hari. Bunga-bunga masih bermekaran dengan semarak dimusim semi yang penuh warna nan indah. Pukul tujuh pagi Hinata sudah bergegas keluar dari rumah, kali ini bukan untuk kabur, namun dia akan menepati janjinya kepada Sabaku Gaara. Ketika di Nakagawa, Hinata sudah berjanji akan mulai bekerja dengan Gaara sebagai asistenya. Hinata terus berjalan menyusuri kawasan komplek elite disekitar daerah Meiji. Meiji merupakan daerah elit di Tokyo, daerah ini sering disebut-sebut sebagai Beverly Hills-nya Jepang.

Jejeran butik mahal dan mewah dari designer terkemuka memadati daerah ini. Tentunya terdapat banyak sekali brand-brand fashion ternama di sini. Sampai detik ini Hinata tak pernah berbelanja dikawasan Meiji, karena kawasan ini khusus untuk orang yang berduit yang rela menghabiskan uang ratusan ribu yen demi sepasang pakaian. Meiji terkenal sebagai tempat berkumpul atau hang out-nya para artis Jepang. Sudah beberapa kali Hinata melewati daerah ini namun tak pernah sekalipun dia bertemu seorang artis, malah dia bisa bertemu dengan artis setenar Sabaku Gaara di daerah yang sederhana dan di pinggiran jalan yang dipenuhi bunga sakura.

Disebelah komplek elit ini terdapat sebuah komplek perumahan yang tergolong perumahan elite. Hinata mencocokan tulisan dikertas dengan nomer atau alamat yang tertera dipagar-pagar rumah. Tak lama dia mencari, akhirnya alamat rumah Sabaku Gaara sudah ia temukan. Hinata memencet bel pagar berkali-kali namun tak ada seorangpun yang menanggapinya. Hinata teringat sesuatu, Gaara pernah berkata padanya jika dia susah bangun dipagi hari. 'Mungkin Gaara masih tidur,' pikir Hinata. Hinata mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dia mengetik nomer yang tertera nama Gaara.

"Moshi-moshi Gaara-kun, ini aku Hyuga Hinata. Aku sudah ada di depan rumahmu-apa? kau sudah ada di kantor Que Group untuk menghadiri rapat bersama staff. Baik-iya baik aku akan datang kesana, maafkan aku baru bisa menghubungimu sekarang-iya aku mengerti, arigatou."

Hinata menutup telfonnya diirngi dengan nafas panjang, susah payah dia mencari alamat rumah Gaara, ternyata Gaara sudah berada di kantor Que Group untuk meeting. Ini baru permulaan, bagaimanapun dia harus lebih semangat menjalani semuanya. Untung saja jarak antara komplek rumah Gaara dengan kantor Que group tak jauh, hanya membutuhkan waktu lima menit dengan jalan kaki.

Kantor Que Group terlihat mewah namun minimalis. Bangunan tiga tingkat itu terlihat cantik dengan ornament-ornament bola bambu yang didalamnya terdapat bola lampu berwarna kuning. Arsitektur kantor Que Group ini agak sedikit aneh dari bangunan-bangunan pada umumnya. Bentuk pinggiran atap bangunan itu bergelombang jika dilihat dari samping. Saat melihat dari depan, tepat ditengah-tengah dinding ada sebuah barisan kaca tembus pandang.

Semua itu terlihat sangat unik. Hinata memantapkan hatinya untuk masuk kedalam dan menunggu Gaara dilobi seperti pesan pria itu kepadanya. Banyak sekali orang berlalu lalang didepannya, bahkan sesekali ada beberapa artis kenamaan yang datang mengunjungi kantor ini. Memang tak bisa diragukan kalau Que group adalah perusahaan drama dan bisnis ternama di Jepang. Ingin sekali Hinata bisa berlari, meminta tanda tangan dan foto dengan mereka namun itu mustahil karena mereka terlihat sibuk. Dari jauh Hinata melihat Gaara datang dengan setelan jas mahal berwarna silver. Gaara melambaikan tangan dan tersenyum ramah pada Hinata.

"Apa kau sudah menunggu lama?" tanya Gaara ramah.

"Tidak, aku baru saja datang. Kalau boleh tahu tugasku apa?" jawab Hinata.

"Hahahaha apa kau ingin diberi tugas. Aku pikir kau datang kemari karena kau merindukanku," canda Gaara. Hinata membalas candaan Gaara hanya dengan senyuman. "Baiklah ikutlah denganku."

Hinata mengikuti kemana Gaara pergi. Mereka berdua menaiki lift menuju lantai dua. Suasana didalam lift sunyi dan terkesan canggung. Mereka menghabiskan waktu tanpa sepatah katapun. Dalam kurun waktu beberapa detik mereka sudah sampai dilantai dua, Gaara membawa Hinata ke sebuah ruangan dengan lebar lima meter. Ruangan itu penuh rak-rak sepatu dan beberapa lemari pakaian. Mulut Hinata ternganga melihat ruangan sebesar ruang tamunya ini hanya berisi baju dan sepatu. Ruangan itu berantakan, pakaian berserakan dimana-mana. Sepatu juga tak jelas dimana pasangannya.

"Ini tugasmu yang pertama. Semenjak aku tak punya asisten, semuanya jadi berantakan dan tak ada waktu untuk merapikannya. Maaf kalau ini terlalu berat untukmu."

"Tidak, sama sekali tidak berat. Aku sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah," ucap Hinata.

"Baiklah kalau begitu, aku lanjutkan meeting dulu."

Gaara pergi meninggalkan Hinata sendirian. Hinata sedikit tak percaya melihat tumpukan baju yang menggunung. Semua terasa berat jika dia mengerjakan semua ini sendiriab tapi ini adalah resiko dari pekerjaannya, bagaimanapun dia harus mengerjakan semuanya dengan baik dan rapi. Hinata mulai melipat baju dan jas satu per satu. Tak lama kemudian, ada seseorang yang membuka pintu ruangan tanpa pamit tanpa rasa canggung.

Terlihat sosok pria tampan berjas hitam. Dia mulai melepas jas yang dikenakannya, namun pria itu tak bisa melepaskan dasinya. Hinata sangat mengenal siapa pria tampan berjas hitam itu. Iya dia adalah uzumaki Naruto. Ada perasaan bahagia yang luar biasa biasa ketika dia bisa bertemu kembali dengan Naruto. Pria berambut pirang ini tak menyadari jika ada seseorang diruangan ini. Hinata tak langsung menyapa, dia mematung melihat tingkah laku Naruto. Naruto terkesan frustasi karena dasi yang ia kenakan tak kunjung lepas dari lehernya.

"Apa perlu aku bantu melepaskan dasi itu dari lehermu?"ucap Hinata santai.

"Astaga!" Naruto sangat terkejut dengan munculnya Hinata secara tiba-tiba. Kedua tangan Naruto menutup bagian dadanya karena malu. Padahal dia sama sekali belum membuka kancing bajunya. "Hinata kenapa kau ada disini? sedang apa kau?" tanya Naruto bingung.

"Apa kau lupa kalau aku sekarang sudah menjadi asisten Gaara." Hinata berucap sambil berjalan mendekat kearah Naruto. "Lalu untuk apa kau kesini?"

"Aku menggantikan ayah rapat dengan para investor asing. Aku tak punya jas jadi aku meminjam jas Gaara. Sekarang rapat sudah selesai jadi aku mengembalikannya."

Naruto merasa takut, sedikit demi sedikit dia berjalan mundur agar menjauh dari Hinata. Sayang sekali barubeberapa langkah, Naruto sudah dihadang oleh lemari pakaian yang berukuran besar. Hinata tesenyum sinis padanya, seolah mau menerkam Naruto dalam-dalam. Banyak sekali hal buruk yang dipikirkan Naruto tentang Hinata saat ini. Apakah Hinata akan memperkosanya atau akan membunuhnya karena kelakuannya yang semena-mena terhadap Hinata selama berada di Nakagawa ataupun Nagoya.

"Ma..mau apa kau?" ucap Naruto sedikit ketakutan.

Hinata menarik dasi dileher Naruto dengan kasar. Dia juga mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Hinata menatap Naruto dengan tatapan sayu dan seolah merayu. Hinata berniat mengerjai Naruto. Gadis ini semakin mendekatkan wajahnya, tangan kanannya membelai pipi Naruto dengan lembut. Tak disangka Naruto memejamkan matanya menerima belaian Hinata. Tangan Hinata dengan terampil melepaskan ikatan dasi dileher Naruto. Hinata mendekatkan bibirnya ke telinga Naruto dan membisikan sesuatu.

"Aku sudah melepaskan dasimu." ucap Hinata secara pelan. "Ahahaha kau ini mesum sekali."

Naruto sontak membuka kembali matanya. Dia melihat Hinata menggoyang-goyangkan dasi tepat didepannya. Naruto sadar kalau Hinata hanya menggodanya. Dari awal Naruto sudah curiga karena tingkah laku Hinata yang sedikit aneh. Hinata kembali melakukan tugasnya tanpa rasa bersalah. Ingin sekali Naruto protes atau marah kepada Hinata namun jika ia marah, maka Hinata merasa senang karena dia berhasil menggodanya. Naruto mulai mengganti setelan jas dengan baju santai dan mencoba melupakan semuanya. Usai berganti pakaian Naruto tak langsung keluar, dia berniat membantu Hinata. Walaupun Hinata tadi sedikit keterlaluan kepadanya namun Naruto sama sekali tak marah. Ada hal yang lebih penting yang ingin dia bicarakan kepada Hinata.

"Hinata-chankenapa kau tidak lekas menghubungiku saat aku pergi dari Nagoya?" tanya Naruto.

Hinata mengalihkan pandangannya kearah Naruto. Lagi-lagi hatinya mencelos bahagia mendengar nada dan cara Naruto memanggil namanya. Jantungnya kembali berdebar tak beraturan. Hinata tak tahu kenapa perasaan ini selalu ada didalam dirinya.

"Kenapa aku harus menghubungimu?" tanya Hinata polos.

"Apa kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu. Banyak sekali pria jahat didunia ini apalagi ditransportasi umum. Kalau ada apa-apa denganmu siapa yang bertanggung jawab? siapa yang mau menolongmu?" omel Naruto tak karuan.

"Itu,,itu,,," Hinata bingung harus menyanggah perkataan Naruto bagaimana karena yang diucapkan pria tampan ini benar. "Lagipula tidak terjadi apa-apa denganku kan. Kau bisa lihat sendiri sekarang. Kenapa kau tiba-tiba marah seperti itu?"

"Aku marah karena aku mencintaimu,"ucap Naruto spontan.

Hinata tak percaya dengan pendengarannya. Apa dia tidak salah dengar? apa benar Naruto mengatakan kalau pria tampan ini mencintainya? Bagaimana mungkin pria dua puluh satu tahun mencintai seorang wanita dewasa berumur dua puluh tujuh tahun. Jujur Hinata senang mendengar ucapan Naruto namun logika dipikirannya masih meragukan itu semua. Apa benar Naruto mencintainya, cinta yang sesungguhnya dan selamanya bukan cinta sesaat seperti para remaja pada umumnya.

Tak hanya Hinata yang terkejut, Naruto sendiri juga tak tahu kenapa dia spontan mengatakan hal seperti itu. Namun memang itulah yang Naruto rasakan. Naruto tahu debaran jantungnya, rasa bahagianya dan rasa khawatirnya bahkan ciuman itu, karena dia mencintai Hinata. Mungkin Naruto terkesan konyol karena mencintai wanita yang umurnya tujuh tahun lebih tua darinya. Apapun kekonyolan itu dia tak peduli, yang jelas dia mencintai Hinata.

"A..apa yang kau katakan?" tanya Hinata tak percaya.

"Aku tak tahu sejak kapan perasaan cinta itu tumbuh dihatiku. Setiap melihatmu jantungku selalu berdebar-debar, saat aku menggandeng tanganmu aku merasa nyaman dan seperti terlindung dari hal-hal buruk. Saat perjalanan pulang dari Nagoya menuju Tokyo, aku selalu memikiranmu. Bahkan debaran jantung itu sudah aku rasakan sebelum aku menciummu," jelas Naruto panjang lebar.

Hinata tak menyangka kalau Naruto juga merasakan hal yang ia rasakan. Sebenarnya Hinata tahu perasaannya kepada Naruto itu adalah cinta, namun Hinata belum yakin, apakah ini benar-benar cinta atau hanya sekedar terbawa suasana karena selama beberapa hari mereka selalu berdua. Hinata tak mau buru-buru menjawab pernyataan cinta Naruto. Dia Ingin meyakinkan hatinya terlebih dahulu.

"Hei, Naruto-kun apa kau gila? kau pikir aku kan tertipu dengan rayuanmu. Kau mau mempermainkan aku ya? Ingat, aku jauh berpengalaman darimu jadi kau jangan macam-macam padaku," ucap Hinata penuh kepura-puraan. Hinata bergegas kembali menata baju-baju yang masih berantakan.

"Aku tidak punya niat mempermainkanmu tapi aku memang mencintaimu," ucap Naruto berusaha meyakinkan Hinata.

Hinata tak berkomentar lagi, dia tak tahu harus menanggapi keseriusan Naruto diatas keraguannya seperti apa. Walaupun dia juga jatuh cinta pada Naruto, namun semuanya harus diyakinkn terlebih dahulu. Hinata tak mau bermain-main dengan cinta mengingat umurnya yang sudah menginjak dua puluh tujuh tahun. Diumur seperti ini, dia harus menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius tepatnya pernikahan, tentunya dengan orang yang lebih tua darinya. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, seseorang dengan jas silvernya masuk ke dalam untuk mengecek semuanya. Gaara kaget melihat Naruto dan Hinata berduaan diruangan seperti ini.

"Hinatasekarang tolong siapkan aku beberapa pakaian casual dan sepatunya. Hari ini aku akan shooting acara reailty show dipantai. Pilihlah baju yang cocok dengan tempatnya. Kita berangkat satu jam lagi," perintah Gaara.

"Tapi aku belum selesai membereskan ini semua," ucap Hinata.

"Kau boleh melanjutkannya besok," jawab Gaara, matanya beralih memandang Naruto. "Naruto apa kau sudah mengembalikan setelan jas dan dasiku?".

"Sudah, semuanya sudah aku kembalikan."

"Kalau begitu untuk apa kau masih disini. Kau mau menganggu Hinata bekerja?" sindir Gaara. Tak banyak bicara, Naruto kemudian pergi meninggalkan Hinata. Hinata merasa lega dan tak tertekan lagi.

ooOOoo

Hinata dan Gaara berangkat ke lokasi shooting reality show-nya Gaara yang berjudul
"Celebrity's sport". Tema dari acara reality ini adalah olahraga yang dilakukan oleh beberapa selebritis. Yang menarik dari acara ini, adalah semua selebriti harus melakukan olahraga apapun, tentunya mereka tak begitu mempunyai skill dari olahraga-olaharaga tersebut. Selain olahraga, ada juga ada tantangan-tantangn lain yang menarik dari acara ini. Ini adalah episode perdana acara celebrity's sport.

Kali ini Hinata menyetir mobil Gaara, awalnya Gaara nyetir sendiri namun Hinata sadar kalau tugas asisten artis adalah membantu sang artis, jadi apapun yang dilakukan Gaara, dia siap membantunya. Setelah menempuh perjalanan lebih dari setengah jam, Hinata dan Gaara sampai ditempat tujuan. Pantai yang mereka kunjungi begitu ramai, khususnya kaum hawa yang berteriak-teriak kegirangan. Hinata tak menyangka sekumpulan suara perempuan bisa sebising ini.

"Gaara! Gaara!" teriak segerombolan wanita yang membawa beberapa spanduk dan kertas karton yang bertulis nama Sabaku Gaara.

Dua security sudah berjaga-jaga untuk mengamankan mereka berdua. Hinata tampak bingung dengan dirinya sendiri. Kedua tangannya penuh membawa baju dan perlengkapan Gaara untuk shooting. Gaara dan Hinata berlari-lari kecil menuju tempat peristirahatan para artis dan staff acara ini. Bagi Hinata ini sungguh luar biasa, sejenak dia bisa merasakan atmosfer menjadi seorang bintang. Dimana-mana dikepung oleh segorombolan fans yang meneriakan nama idolanya bahkan ada beberapa fans yang menangis karena bahagia bisa bertemu sang idola.

Suasana ditempat peristirahatan ini tak kalah ramai. Hinata bisa melihat secara langsung artis, aktor maupun penyanyi yang selalu ia lihat di TV. Ada satu hal yang menarik perhatian Hinata, seorang artis cantik bernama Hotaru sedang berdandan dan menata rambutnya yang indah. Selain Gaara, Hinata juga mengidolakan Hotaru. Akhirnya Hinata bisa bertemu secara langsung dengan idolanya. Semua ini benar-benar keren, usai shooting Hinata berencana untuk meminta tanda tangan sekaligus mengajak mereka foto bersama. Menurut Hinata dunia entertaint begitu menyenangkan.

"Hinata ikutlah denganku!" ucap Gaara tiba-tiba.

"Iya baiklah," jawab Hinata.

Gaara mengajak Hinata menuju ke ruang ganti, tentunya Hinata tidak ikut Gaara kedalam ruangan. Dia hanya menunggu Gaara di luar dan bertugas untuk membawa pakaian yang akan dikenakan Gaara saat Shooting nanti. Gaara masuk kedalam ruangan dan mulai melepas kemeja beserta bajunya. Hinata menunggu Gaara tanpa beban dan melakukannya dengan senang hati.

Pintu ruang ganti terbuka, tampak Gaara yang berpenampilan topless, keluar untuk memilih baju-baju yang dibawa Hinata yang bergelantungan ditangan gadis itu. Hinata tampak shock, dia menundukan kepalanya karena malu. Menurut Hinata, tubuh Gaara sangatlah seksi dan atletis, dia memiliki tubuh ideal. Hinata berani taruhan kalau pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus.

"Hinata menurutmu aku lebih cocok pakai warna biru atau kuning?" tanya Gaara.

Hinata tak menjawab, dia hanya menyodorkan tangan kanannya kearah Gaara. Tangan kanan Hinata membawa sepasang pakaian khusus pantai yang berwarna biru. Gaara memperhatikan gerak –gerik Hinata, pria itu tertawa kecil melihat tingkah Hinata yang menurutnya aneh. Gaara tahu, gadis didepannya ini malu melihatnya seperti ini. Memang dimanapun wanita akan selalu salah tingkah jika melihat pria bernampilan seperti ini.

Gaara meraih pakaian yang Hinata pilihkan. Tanga kanan Gaara mengacak-acak rambut Hinata dengan mesra dan penuh senyuman, lalu kembali ke ruang ganti. Hinata tertegun, hatinya gembira saat setiap orang memperlakukan dirinya seperti itu. Dalam gambaran Hinata, jika ada orang yang mengacak-ngacak rambutmu dengan mesra dan tersenyum maka orang itu sangat sayang dan peduli dengan kita. Sentuhan itu bagi Hinata, seperti sentuhan seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.

Lamunan Hinata buyar ketika dia mendengar suara langkah kaki berhak tinggi menuju kearahnya. Saat Hinata mencari sumber suara, ternyata itu adalah suara langkah kaki Hotaru. Dia berusaha masuk kedalam ruang ganti Gaara dan mengabaikan Hinata.

"Maaf tunggu sebentar, Gaara sedang ganti baju didalam," jelas Hinata.

"Aku tahu," jawab Hotaru cuek. Park Hotaru berusaha membuka pintu namun Hinata menghadangnya. Wajah Hotaru tampak kesal dan marah.

"Kau ini mau apa?" tanya Hinata bingung dan heran melihat tingkah Hotaru yang berani.

"Aku ingin bertemu Gaara," ucap Hotaru ngotot.

"Tapi kau bisa menemuinya setelah dia selesai ganti baju," bantah Hinata tak kalah ngotot.

Hotaru memandang Hinata garang, baru pertama kali ini ada seorang wanita biasa yang berani melawannya. Semua kalangan artis, aktor, maupun penyanyi segan padanya karena prestasi dan kecantikannya didunia perfilman.

"Aku tidak peduli. Jadi lebih baik kau minggir!"

Hotaru mendorong Hinata dengan kuat dan membuat Hinata hampir jatuh. Hotaru pun berhasil masuk kedalam ruang ganti Gaara. Hinata tak percaya kalau sifat asli Hotaru seperti itu. Kalau dia didepan publik tampak begitu baik tapi ternyata sifat asli Hotaru sungguh menyeramkan. Dia sadar kalau dunia perfilman dan drama penuh dengan orang-orang yang pintar akting tentunya juga pintar menyembunyikan sifat aslinya. Hinata tak sengaja mendegar percakapan antara Hotaru dan Gaara.

"Sedang apa kau disini? apa kau tak lihat aku lagi ganti baju," omel Gaara.

"Aku tahu, bisahkah kita memulai hubungan ini dari awal lagi? aku masih mencintaimu Gaara. Aku tak bisa hidup tanpamu."

Hinata membekap mulutnya, ternyata gossip-gosip itu benar kalau Gaara menjalin hubungan dengan Hotaru tapi didepan public mereka selalu mengelak dan berkata hanya mengenal sebatas teman biasa. Mungkin mereka seperti itu, karena baik Gaara maupun Hotaru tak ingin hubungan pribadinya menjadi konsumsi publik.

"Aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini denganmu. Ingat Hotaru kau telah mengkhianatiku. Tanpa memikirkan perasaanku kau menjalin hubungan dengan Utakata. Aku tahu kau mendekati dia karena Utakata artis naik daun kala itu kan, dan dulu aku masih belum menjadi apa-apa. Iya memang akusudah menjadi seorang aktor tapi tak setenar Utakata. Kau benar-benar picik, memanfaatkan popularitas seseorang demi karirmu," jelas Gaara panjang lebar.

Ternyata, saat hubungan Utakata dan Hotaru tersorot kamera dan dipublikaskan ke publik, saat itu Hotaru sudah berpacaran dengan Gaara. Hinata benar-benar tak percaya jika ada seorang wanita yang dengan mudah bisa merebut hati beberapa pria. Kecantikan bisa membuat pria lupa diri dan lupa segalanya.

"Itu hanya masa lalu. Yang terpenting adalah sekarang, aku tahu kau sangat mencintaiku dan aku yakin sampai detik ini tak ada satu gadispun didunia ini yang bisa menggantikan posisiku dihatimu Gaara ," ucap Hotaru penuh percaya diri.

Hinata masih setia menguping pembicaraan pribadi antara Gaara dan Hotaru. Tak disangka pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Gaara keluar dengan baju santainya yang bermotif bunga-bunga. Hinata tertegun dan berpura-pura membersihkan debu dipakaian Gaara yang dibawanya. Wajah Hotaru tampak cemberut bahkan terkesan akan menangis sedangkan wajah Gaara santai dan ekspresinya datar-datar saja.

"Kata siapa aku tak menemukan penggantimu," Gaara merangkul bahu Hinata dan mendekatkan tubuh Hinata pada tubuhnya. "Gadis ini yang menggantikan posisimu dihatiku Hotaru. Apa kau masih menganggap dirimu adalah segalanya bagiku?"

Hinata mengerutkan kedua alisnya dengan mulut sedikit ternganga. Dia sama sekali tak percaya dengan semua ini. Sebenarnya hal apa yang sudah merasuki Gaara sehingga dia berkata sesuatu yang mustahil seperti ini. Gaara menyukainya itu tak mungkin, dia dan Hotaru bagaikan lagit dan bumi. Hotaru begitu cantik dan memiliki kaki yang panjang serta indah sedangkan dirinya kakinya pendek bahkan terkesan sedikit gemuk.

"Apa? gadis ini yang menggantikan aku dihatimu, apa tidak salah?" tanya Hotaru tak percaya. Mana mungkin gadis yang tak secantik dirinya bisa merebut hati Gaara.

"Aku tidak salah memilih karena hatinya jauh lebih mulia daripada kau. Ayo kita pergi honey." Gaara menggandeng erat tangan Hinata dan pergi meninggalkan Hotaru sendirian.

"Hei, mau kemana kalian?!" teriak Hotaru

Hinata bingung, kaget dan shock, kenapa dia dilibatkan dalam masalah pribadi Gaara dan Hotaru. Kenapa Hinata harus ada diantara masalah mereka. Masalah apalagi yang akan menimpa dirinya. Gaara terus menggandengnya dan membawanya ke suatu tempat yang tak banyak orang. Mereka berada di pinggiran pantai yang jauh dari kerumunan. Gaara dan Hinata duduk diatas bebatuan besar dipinggir pantai. Terik matahari membuat kulit mereka terasa panas namun panasnya sinar matahari tak terasa karena angin laut yang kencang.

"Hinata, aku minta maaf sudah berbuat hal yang konyol kepadamu," ucap Gaara. Tangan Gaara tak mau berhenti, dia melemparkan kerikil-kerikil kecil ke arah laut.

"Aku tahu bagaimana perasaanmu jadi aku memakluminya," jawab Hinata santai.

"Jika tadi ada orang lain selain kita bertiga. Pasti artikel akan menyebar kemana-mana." Gaara menatap Hinata ragu tapi dia yakin dengan apa yang akan dia katakan. "Hinata, apa kau mau berpura-pura menjadi pacarku?"

"Nanniiiii!"

ooOOoo

Senjapun berganti malam. Jam menunjukan pukul sembilan. Hinata pulang dengan muka kusut karena banyak pikiran. Gang menuju rumahnya juga tampak sepi dan lengang. Tak ada seorangpun yang lewatm hanya ada beberapa mobil yang terparkir rapi. Pikiran Hinata kacau dan bingung. Ada dua hal yang sama sekali tak ia sangka sebelumnya. Kejadian ini benar-benar lucu dan membuat dirinya penuh dilema. Naruto menyatakan cinta kepadanya sedangkan Gaara menyuruhnya untuk berpura-pura menjadi pacarnya.

Dia bisa menolak tawaran Gaara, namun sayang Gaara tak mau tahu dan memaksa dirinya. Dan jika Hinata menuruti perasaan yang ada, bisa saja dia menerima pernyataan cinta Naruto tapi Hinata masih belum yakin dengan perasaaanya. Hari ini pikiran Hinata benar-benar kacau. Dari jauh trelihat satu mobil mewah yang terparkir tepat didepan rumahnya. Hinata sama sekali tak mengenali mobil itu, tiba-tiba terlintas pikiran buruk dibenaknya.

Dia takut jika ada beberapa orang penagih hutang dari bank yang akan menyita apa yang ibunya punya. Hinata bergegas berlari menuju rumah. Saat ia masuk rumah, pikiran buruk yang ia gambarkan sama sekali tak terjadi. Di dalam rumah, ada tiga orang pria berjas bertemu ibunya. Seorang pria setengah baya meneguk secangkir teh dengan santai sedangkan pria yang sedikit lebih muda darinya duduk terdiam dan tersenyum melihat kedatangannya. Namun pria ketiga duduk membelakanginya, jadi Hinata tak tahu bagaimana wajahnya.

"Kau sudah pulang, kemari, cepatlah duduk disebelah Ibu." Haruka tampak begitu senang dengan kedatangan mereka berdua. Hinata berjalan pelan dan duduk disebelah ibunya. Hinata shock melihat sosok wajah pria yang membelakanginya, ternyata dia adalah Naruto. Tak hanya Hinata yang shock namun Naruto juga demikian

"Astaga, sedang apa kau disini?" tanya Hinata penasaran.

"Kau sendiri sedang apa disini?" tanya balik Naruto.

"Tentu saja aku disini karena ini rumahku," jawab Hinata. Naruto terdiam, iaq tak bisa membantah omongan Hinata. "Ibu, ada apa ini?" tanya Hinata bingung.

Hinata semakin bingung dengan semua ini. sepertinya Naruto juga tak tahu maksud kedatangannya kemari jadi percuma jika Hinata bertanya kepadanya. Pria setengah baya itu meletakan cangkirnnya, dia terdiam dan memandang Hinata lekat-lekat. Hinata sedikit salah tingkah jika dilihat orang dengan cara seperti ini. Pria itu memberi kode kepada temannya. Kemudian, pria yang lebih muda itu mengangguk dan memberikan sesuatu kepada Hinata sebuah amplop coklat.

"Bukalah," ujar pria setengah baya itu.

Hinata membukanya dengan perasaan takut dan ragu. Dia terkejut saat tahu isi dari amplop itu adalah foto-foto dirinya dengan Naruto. Naruto sendiri juga heran melihat fotonya sendiri bersama Hinata. Bahkan saat mereka berciuman pun, ada disalah satu foto itu. Hinata semakin tak mengerti apa maksud pria ini memperlihatkan ini semua. Apa pria ini akan memberinya uang dalam jumlah yang besar lalu menyuruhnya untuk menjauh dari Naruto seperti halnya didrama-drama Jepang pada umumnya. Hinata tahu orang ini adalah Namikaze Minato karena dia pernah sesekali baca tentang biografinya. Dia yakin pasti ayah Naruto menyuruhnya untuk menghindari dan menjauhi putranya

"Sebenarnya tujuan anda kesini untuk apa tuan?" tanya Hinata.

"Aku kesini mau menyampaikan sesuatu yang penting untukmu," jawab orang tua itu. Pria setengah baya itu sesekali batuk sambil memegang dadanya. "Aku tahu kau begitu dekat dengan putraku Naruto. Sepertinya dia nyaman denganmu tapi,,,,,,"

"Apa anda menyuruhku untuk menjauhi Naruto karena aku hanyalah rakyat biasa yang tak memiliki harta melimpah?" sanggah Hinata tiba-tiba. Pria setengah baya itu kaget dengan ucapan Hinata. Dia dan seorang temannya sejenak saling pandang lalu melanjutkan perkataannya.

"Bu,,bukan seperti itu nona Hinata, kau salah paham. Kedatangan saya kesini bukan untuk menjauhkan kalian tapi sebaliknya, saya ingin lebih mendekatkan anda dengan putra saya," jawab Minato. Hinata semakin tak paham dengan maksud perkataan ayah Naruto.

"Apa maksud dari perkataan anda. Saya tidak mengerti?" tanya Hinata.

"Di usia saya yang sudah tak muda lagi dan kondisiku yang memburuk, aku ingin Naruto didampingi oleh seorang wanita yang bisa menjaganya, melindunginya dan menasehatinya. Umurnya masih sangat muda jadi pemikirannya masih sangat labil. Dia butuh sosok orang yang bisa menyemangatinya untuk belajar lebih giat lagi tentang bisnis didunia film dan drama," ucap Minato panjang lebar sambil sesekali melirik putranya. Wajah Naruto tampak bingung, dia tak tahu dan tak mengerti maksud dari ucapan ayahnya.

"Jadi intinya apa tuan?" sekarang giliran Haruka yang bertanya.

"Aku ingin menikahkan putraku dengan putri anda nyonya," jawab Minato tanpa ragu.

"Apaaa!" pekik Hinata, Naruto dan Haruka bersamaan.

"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Haruka tak percaya.

"Hei, apa ayah serius dengan semua ini? apa ayah lupa kalau umurku masih dua puluh satu tahun. Ayah jangan bercanda seperti ini denganku. Ini sama sekali tidak lucu," protes Naruto.

"Tidak mungkin, bagaimana bisa aku dan Naruto menikah?" ucap Hinata.

"Pernikahan tak memandang umur apa kau mengerti Hinata Aku tidak mau tahu alasan kalian. Bagaimanapun reaksi atau tanggapan kalian, aku tetap berencana akan menikahkan Naruto dengan Hinata. Permisi masih banyak pekerjaan kantor yang harus aku koreksi,". Minato pergi tanpa ada beban. Dia dan sekertarisnya beranjak keluar dari rumah Hinata.

"Ayah,,,Ayah!"

ooOOoo

Di taman bermain anak-anak, Hinata dan Naruto duduk diayunan dengan wajah galau. Kaki Hinata mengayun-ayun kecil ayunan yang dinaikinya. Naruto terdiam dan menatap langit yang dihiasai oleh gemerlap bintang. Pria muda itu melihat Hinata yang tampak murung dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Sebenarnya Naruto sama sekali tak keberatan dengan pernikahan ini karena dia mencintainya tapi tak tahu bagaimana dengan tanggapan Hinata.

"Apa kau menyetujui keputusan ayahku untuk menikahkan kita?" tanya Naruto.

Hinata terkejut dengan pertanyaan Naruto. Dari lubuk hatinya yang paling dalam dia sama sekali tak keberatan tapi lagi-lagi dia ragu dengan perasaanya dan masih banyak hal yang ia pertimbangkan kalau dia memutuskan akan menikah dengan Naruto. Jika Naruto menjadi suaminya, apa bisa menyatukan prinsip dan menyatukan pola pikir, karakter dan sikap mereka yang jauh berbeda. Dia masih tak mengerti kenapa ayah Naruto ingin sekali menikahkan dia dengan putranya.

"Aku masih belum tahu harus setuju dengan keputusan ini atau tidak," ucap Hinata bimbang.

Naruto berdiri dari ayunannya kemudian menghampiri Hinata. Dia duduk berjongkok tepat didepan Hinata, tangan Naruto meraih kedua tangan Hinata. Pandangan mata Naruto seolah mengatakan kepada Hinata kalau dia memang benar mencintainya dan tak ada niatan sedikitpun untuk mempermainkannya.

"Hyuga Hinata dengarkan aku, aku benar-benar mencintaimu. Tak pernah sedikitpun aku berniat untuk mempermainkanmu. Jujur aku sama sekali tak keberatan dengan keputusan ayah ini. Dia benar, harus ada seseorang yang bisa mendampingiku, membimbingku dan mendampingiku. Setiap aku memegang tanganmu seperti ini aku merasa seperti memegang tangan ibuku sendiri. Menikahlah denganku Hinata."

"Itu tidak akan mungkin Naruto. Kita berbeda pola pikir, karakter, sikap bahkan mungkin hal terpenting seperti prinsip hidup pun berbeda. Sulit bagi kita untuk menyatukan segalanya. Menikah itu bukan sebuah permainan Naruto. Menikah itu adalah hal yang sakral," jelas Hinata panjang lebar.

"Apa kau masih berpikir kalau umur menjadi penghalang pernikahan dan cinta?"tanya Naruto. Gadis didepannya terdiam dan tak menjawab pertanyaan Naruto.

"Aku tidak tahu. Lebih baik kau pulanglah Naruto."

Hinata beranjak dari ayunannya. Dia berjalan perlahan meninggalkan Naruto. Jawaban dari pertanyaan Naruto adalah tidak, umur tidak menjadi halangan cinta ataupun pernikahan. Tapi keraguan Hinata lebih besar daripada rasa cintanya kepada Naruto. Iya cinta, dia memang mencintainya tapi dia ragu dengan semuanya. Naruto pasti akan menjadi bahan olok-olokan orang disekitarnya karena harus menikah dengan wanita yang pantas ia panggil sebagai bibi.

"Hinata aku tau kau sebenarnya juga mencintaiku tapi kau takut dengan keraguanmu sendiri. Kau takut dengan perbedaan yang jauh diantara kita. Aku akan membuktikan padamu kalau aku benar-benar mencintaimu!" teriak Naruto dari jauh.

Hinata tak menghentikan langkahnya, dia terus berjalan. Entah kenapa hatinya terasa sakit saat ia meninggalkan Naruto sendirian disana. Air matanya menetes. Kenapa cinta seperti ini, kenapa Tuhan menakdirkan dirinya mencintai pria yang masih berumur dua puluh satu tahun. Semunya terlihat konyol. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seeorang yang membuntuti dirinya. Greeeb! dua buah tangan yang panjang dan kekar memeluknya dari belakang. Hinata bisa mendengar nafas Naruto yang terengah-engah. Hinata diam mematung, tak ada yang bisa ia lakukan. Ingin sekali kakinya bergerak menjauh tapi raganya tak bisa digerakan.

"Aku akan membuktikan padamu kalau cinta ini tak main-main. Ingat itu Hinata."

Setalah mengatakan sepatah kata, Naruto melepaskan pelukannya dan melangkah pergi meninggalkan Hinata. Suasana disekitar Hinata sangatlah sunyi sepi, suara langkah sepatu Naruto pun terdengar jelas dijalanan yang beraspal. Hinata mengela nafas panjang dan mengusap air matanya. Dia melangkahkan kakinya dengan penuh keyakinan. Jika memang Tuhan ingin Naruto bersamanya, apapun rintangan yang dia hadapi pasti akan menyatukan mereka.

TO BE CONTINUE

Taruhan pasti sebelumnya pada nebak kalau ayah Naruto tak merestui hubungan Naruto dan Hinata karena umur Hinata yang jauh lebih tua dan status sosial yang rendah, hehehehe.