Harry Potter dan segala seluk beluknya milik JK Rowling.

no plagiarism, no copy paste.

Warning : AU, femHarry, cerita mungkin membosankan dan mungkin idenya agak pasaran, banyak typo bertebaran, ada tata bahasa maupun penulisan yang tidak sesuai EYD, etc,etc.

Sekali lagi ini femHarry. Bagi yang tidak suka Harry tercasting menjadi perempuan, silakan pencet back button.


JANJI


Draco pulang bersamaan dengan James. Pria setengah baya itu terlihat lelah, namun masih memperlihatkan wajahnya yang ceria, seperti biasa. James tersenyum melihat Draco yang sigap langsung membantunya menurunkan beberapa perabotan yang digunakannya untuk bekerja, serta beberapa hasil karyanya.

"Terima kasih, Draco. Ah, dengan begini kita bisa segera minum teh lebih awal," ucap James sambil masih tersenyum lebar, Draco mengangguk sambil ikut tersenyum.

"Uncle mau kuseduhkan teh sekarang?" tanya remaja itu.

"Aku tidak menolak!" ucap James jenaka, sambil membuka sebuah bungkusan dan menatanya dalam cake tier dua tingkat, serta meletakkan sebotol selai di dekatnya.

"Bibimu mengatakan bahwa ia kehabisan kudapan untuk minum teh, jadi tadi uncle membeli beberapa raspberry macaron dan scone, kurasa ini cukup untuk kita berdua," lanjut James sembari mencomot satu potong kudapan lezat itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Draco hanya tersenyum melihat ulah pria setengah baya di depannya.

"Bagaimana dengan sekolahmu, Draco?" tanya James disela kegiatan mengunyahnya.

"Lancar, Uncle. Aku sudah punya beberapa teman baru," jawab Draco sambil dengan terampil menyiapkan dua cangkir teh di atas meja.

"Baguslah, Uncle takut kau tidak kerasan dengan sekolah barumu itu. Hei, apa kau sekelas dengan Harry?" lanjut James.

"Tidak Uncle, aku di kelas Slytherin,"

"Persis dengan Lucie dan Cissy, kau benar-benar duplikat mereka," James memandang kagum kepada Draco.

"Oiya Uncle, aku tadi menurunkan beberapa guci keramik, apakah semuanya buatan Uncle?" tanya Draco dengan sorot mata penuh keingintahuan.

"Hmmm, kenapa? Apakah kau tertarik?"

"Aku sejak dulu sangat mengagumi seni membuat keramik. Kapan-kapan tolong ajari aku. Aku benar-benar ingin membuat satu karya hasil buatan tanganku sendiri,"

"Jangankan satu, kalau kau benar-benar tertarik, aku akan mengangkatmu menjadi asistenku," James tertawa lebar.

"Benarkah? "

"Kapan aku bohong, Nak? Oiya, ngomong-ngomong, mana tehku?"

XX

Malam sudah cukup larut, tapi kebetulan Harry masih belum cukup mengantuk. Bahkan setelah mengerjakan satu esai untuk pelajaran geografi yang cukup memeras otak, matanya masih juga enggan dipejamkan.

Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu penghubung kamarnya dengan balkon. Menghirup udara malam sesaat mungkin akan merilekskan otaknya yang tengah penat.

Harry tersenyum saat semilir angin malam yang sejuk menyapa kulit wajahnya. Gadis itupun terus melangkah menuju pagar pembatas balkon dan menyandarkan diri dengan nyaman di sana.

"Hai," namun tiba-tiba ketenangannya terusik dengan sebuah suara anak laki-laki yang mulai tidak asing di telinganya. Siapa lagi jika bukan Draco Malfoy. Remaja itu rupanya sudah mendahuluinya malam ini.

"Kau ini mengagetkanku, seperti hantu saja!" ucap Harry sedikit kesal karena nyatanya ia memang kaget dengan aksi pemuda Malfoy itu barusan.

"Sorry!" ucap Draco singkat.

Selama beberapa menit kemudian tidak ada percakapan antara keduanya. Hanya desau angin yang bertiup sepoi, yang mengisi keheningan, selain suara binatang malam yang bersahutan.

Entah mengapa, tiba-tiba Harry teringat kejadian sepulang sekolah antara dia dan Draco. Ia teringat bagaimana Draco menolongnya, dan bagaimana ucapannya yang alih-alih mengucapkan terima kasih, tapi justru terdengar begitu menyakitkan mungkin.

Harry menarik nafas panjang dan dalam. Memejamkan mata sesaat dan menyusun kata untuk sedikit menebus perbuatannya siang tadi. Bagaimanapun pemuda itu mungkin perasaannya sudah tersakiti oleh omongan pedasnya.

"Malfoy…" ucapan Harry terputus, menunggu respon dari lawan bicaranya.

"Ada apa?" jawab Draco tanpa mengalihkan pandangannya dari kumpulan bintang yang berkelap-kelip di atas sana.

"Sorry untuk ucapanku siang tadi," sambung Harry saat ia sudah benar-benar siap dengan kalimatnya.

"Hnn?" respon singkat Draco sambil menolehkan kepalanya kepada Harry.

"Ucapanku yang mungkin membuatmu tersinggung," tambah Harry.

"Aku sudah melupakannya, Potter. Mungkin aku harus membiasakan diri menerima ucapan seperti itu," senyum getir Draco sambil kembali memandang ke arah bintang-bintang.

Harry merapatkan matanya. Ia benar-benar tidak habis pikir kepada dirinya sendiri. Mengapa bisa bicara sedemikian kasar kepada Malfoy. Benar-benar di luar dirinya.

"Lain kali … aku akan berusaha menjaga ucapanku," lanjut Harry, sedikit mencuri pandang ke arah Draco yang masih saja mengunci matanya pada gugusan bintang di atas sana.

Terdengar tarikan nafas panjang dari arah pemuda itu.

"Seandainya kita bisa berteman," sambung Draco, masih menengadahkan kepalanya.

Harry terdiam mendengar ucapan Draco, tapi hati kecilnya sebenarnya tidak tega juga kalau terus menerus memusuhi remaja itu. Mengingat kondisi keluarga Draco dan semua yang terjadi pada diri pemuda itu.

"Aku tidak bisa mengiyakan, tapi setidaknya aku akan berusaha sedikit merubah sikapku kepadamu," lanjut Harry.

"Hmm," jawab Draco singkat.

"Meskipun kita tidak berteman, tapi kita satu sekolahkan? Jadi bolehkan aku bertanya?" lanjut Draco. Kali ini ia merubah posisi berdirinya hingga menghadap ke arah Harry.

"Katakan saja. Mumpung moodku sedang baik,"

"Apakah klub sepakbola di sekolah kita ini mempunyai gengsi yang cukup tinggi dan punya popularitas yang bagus?" tanya Draco serius.

Harry terdiam sejenak, sedikit berpikir dan mengingat.

"Kurasa lumayan. Favorit siswa laki-laki. Ada beberapa alumni yang bahkan bergabung di klub professional. Kenapa, kau tertarik ikut?" tanya balik Harry.

"Sedang mempertimbangkan, tapi sayangnya anak Slytherin tidak terlalu banyak yang di sana. Kalau menurutmu apakah aku akan cocok masuk klub itu?" sambung Draco.

"Jangan tanya kepadaku, aku tidak tahu menahu tentang sepakbola,"

"Kau kan anggota klub cheers, masak tidak tahu menahu sih?"

Harry mendeathglare Draco. Sedikit kesal dengan kebiasaan tengil pemuda itu yang mulai ia hapal.

"Oiya Potter. Kalau boleh memberi saran, kupikir kau harus segera putus dengan pacarmu itu," ucap Draco sambil berjalan menuju kamarnya.

"Apa maksudmu, Malfoy. Jangan bilang kau merasa iri dengan…"

"Ini hanya saran, terserah kau mau mengikutinya atau tidak. Aku tidur duluan ya!" dan Draco mendahului Harry menuju ke kamarnya untuk tidur malam itu.

XX

"Rry …"teriakan memekakan telinga di gerbang sekolah itu, siapa lagi pelakunya kalau bukan si kembar Weasley, kakak dari teman akrab Harry, Ron Weasley, yang sudah gadis itu anggap seperti saudaranya sendiri.

Kedua laki-laki jangkung dengan cirri fisik yang identik itu berlari pontang-panting mendekati Harry yang dengan wajah tidak mengertinya kemudian berhenti dan menunggu keduanya mendekat.

"Kalian kenapa?" tanya Harry masih bingung melihat kedua pria yang masih ngos-ngosan itu menyodorkan undangan berwarna biru kepadanya.

"Datanglah bersamaku," ucap keduanya nyaris bersamaan.

"Hei, a…apa ini?" Harry mengambil kedua undangan itu.

"Kau pergi bersamaku atau George di malam terakhir festival akhir tahun ini?" tanya salah satu kembar itu, Fred dengan wajah termemelas yang dia bisa.

"Apakah acara yang kalian maksud adalah acara pesta penutup festival musim semi yang akan diselenggarakan seminggu lagi? Dan hei, bagaimana kalian bisa mendapat undangan ini lebih dulu dari yang lain?" Harry membaca salah satu undangan lalu mengembalikan kepada kedua pemuda itu.

"Kami, siswa tahun ke 11 dan kami berdua panitia, Harry. Sudah pasti kami yang mendapat undangan lebih dulu dari siswa tahun di bawah kami, " kali ini mungkin George yang menjawab. Entahlah, Harry kurang bisa membedakan keduanya meskipun sudah sangat sering berinteraksi dengan mereka berdua.

"Jadi, bagaimana?" tanya kembar yang lain.

"Kalian lupa? Aku ini sudah punya Cormac. Jadi bisa dipastikan aku akan datang ke acara itu dengan dia. Maafkan aku Fred, George. Kuharap kalian mendapat pasangan yang lebih baik dariku untuk kalian ajak ke pesta,"

"Kau tega, 'Rry!" ucap keduanya lemas sambil pergi meninggalkan Harry yang masih menggeleng bingung dengan ulah kembar Weasley yang kadang agak aneh itu.

Tapi ngomong-ngomong, Harry jadi mulai terpikir juga, mengapa ia sampai lupa pada acara sebesar itu. Memang di aula besar belum sempat diumumkan, tapi seharusnya dia tetap harus ingat bukan?

XX

Acara istirahat kali ini berlangsung cukup hening. Hening karena sang kepala sekolah tengah membacakan sebuah pengumuman menggunakan mikrofon tua yang suaranya bergema di dalam aula luas itu.

Inti dari pengumumannya tentu saja adalah mengenai Festival Musim Semi Tahunan yang akan digelar seminggu lagi. Pada acara itu akan diadakan pameran hasil karya siswa, stand kelas serta panggung besar untuk unjuk kebolehan masing-masing kelas, selama kurang lebih tujuh hari, pada malam puncaknya akan diumumkan hasil lomba kedisiplinan dan kebersihan kelas yang sudah diadakan selama satu tahun ajaran, serta pesta dansa untuk siswa dari tahun ke 9 hingga tahun ke 11. Maka dari itu semua kelas harus bersiap menyambut acara tersebut.

Keriuhan kembali terjadi sesaat setelah Mr Dumbledore selesai dengan pengumumannya, di mana undangan berwarna biru itu dibagikan. Semua siswa mulai membuat planning, baik untuk keperluan kelas maupun dirinya sendiri. Dan khusus untuk siswa tahun ke 9, mereka sangat antusias menyambut pesta dansa yang merupakan acara pesta pertama mereka selama bersekolah di Hogwarts.

"Bagaimana kalau kelas kita menampilkan drama untuk acara panggung terbuka?" usul Seamus, salah satu teman sekelas Harry.

"Kurasa bukan ide yang buruk. Tapi masalahnya kita harus mempersiapkan semuanya dalam waktu seminggu. Naskah saja kita belum punya, aku takut hasilnya nanti kurang bagus," sahut Hermione.

"Aku bisa minta bantuan Mommyku untuk itu. Aku yakin beliau bisa membantu," ucap Neville dengan ekspresi sedikit gugupnya.

"Kau yakin Neville?" Ron memandang menyelidik, membuat pemuda itu semakin gugup saja.

"Aku rasa Neville bisa diandalkan. Bagaimanapun Neville tidak pernah mengecewakan," Harry berucap bijak.

"Kau yakin, Harry?" tanya Seamus tak yakin.

"Aku juga percaya kepada Neville. Tapi kuharap, besok naskah itu sudah siap, jadi kita bisa segera membagi peran dan berlatih bersama," kali ini seorang gadis Asia, Parvati yang menyahut.

"Kurasa, aku bisa menyelesaikannya semalam. Kalian jangan khawatir," Neville tersenyum kecil.

"Lalu, untuk stand pamerannya?" tanya Seamus sambil menyendok pudding cokelatnya.

"Sebaiknya semuanya kita bicarakan di kelas saja, nanti sepulang sekolah. Tidak semua anak kelas kita ada di sini sekarang," ucap Harry.

"Tapi kau kan ketua kelasnya, 'Rry! Kita buat bahasannya dulu tidak masalah kan,"

"Harry benar Ron, sebaiknya kita tidak membuat keputusan sendiri. Semua siswa kelas kita harus diajak berdiskusi," dan semua kemudian setuju untuk menunda obrolan ini di kelas mereka sepulang sekolah nanti.

XX

Sementara, di kubu Draco juga terjadi perbincangan yang tak kalah seru. Beberapa siswa sekelas yang kebetulan duduk satu gerombol mulai membuat rencana kecil untuk panggung kelas mereka.

"Bagaimana kalau band saja? Kau bisa main gitar kan Theo? Atau mau akustik saja? Kebetulan aku ini kan vokalis," sombong Blaise sambil menepuk dadanya bangga.

"Vokalis kamar mandi pastinya," sahut Pansy mengejek.

"Kau ini tukang iri Pans! Iri tanda tak mampu …" balas Blaise tak kalah mengejek.

"Aku iri denganmu? Maaf saja ya, aku jauh lebih oke, tak mungkin aku iri hanya dengan pria berandalan sepertimu!"

"Sudah hentikan! Aku punya ide yang bagus tentang apa yang akan ditampilkan kelas kita nantinya! Akan kukatakan nanti di kelas, " senyum Theo sambil memandang sekilas ke arah teman-temannya.

XX

Siang itu, selesai acara diskusi untuk persiapan Festival Musim Semi, Harry nampak berdiri sendirian di tepi danau. Gadis itu terlihat seperti tengah menunggu seseorang. Dilihat dari gelagatnya yang sesekali memandang berkeliling dan berulang mengecek arlojinya.

"Mac … ini sudah jam berapa?" gumam Harry saat kembali memandang ke arah arlojinya sambil mondar-mandir tidak beraturan.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, rupanya telepon dari Mommynya.

"I know Mom! Beri aku sepuluh menit lagi. Aku masih ada urusan penting!" ucap Harry dengan sorot wajah bingung.

"Ok, thank you Mom," tutup Harry.

"Ini namanya keterlaluan, Mac," gumam Harry lagi.

Gadis itu kemudian mencoba menelpon kekasihnya, namun ternyata ponsel Cormac tidak aktif. Harry tidak menyerah dan tetap mencoba menelpon Cormac selama sisa sepuluh menit dari Mommynya. Namun hasilnya nihil. Gadis itu begitu kesal dan putus asa dibuatnya.

Harry menghela nafas dalam, kemudian memutuskan untuk pulang. Dan demikian, selama satu hari itu, untuk pertama kalinya selama berpacaran, Harry tidak bertemu dengan Cormac di sekolah.

XX

"Kau kenapa,Potter?" sapa Malfoy saat mereka berdua tengah berada di ruang keluarga. Harry menonton televisi tanpa minat pada acara yang dilihatnya, sementara Draco tengah memotong kertas untuk dibuat lampion. Dan kebetulan kedua orang tua Harry tengah pergi menghadiri acara minum teh di rumah salah satu seniman sahabat James. Jadilah mereka kembali ditinggal berdua saja di rumah.

"Tidak ada apa-apa. Urusi saja urusanmu, Malfoy!" ucap Harry sambil masih mengganti channel televisi secara brutal.

"Urusanku sudah pasti kuurus dengan baik, Potter. Aku sebenarnya tidak peduli dengan masalahmu, tapi aku hanya kasihan pada remote dan televisi yang menjadi korban amukanmu," Harry mendengus kesal sebagai jawaban.

"Apa tentang pacarmu?" tebakan jitu dari Draco yang otomatis membuat Harry kaget.

"Darimana kau tahu kalau aku sedang memiliki masalah dengannya?" tanya Harry kesal bercampur heran.

"Aku bisa membacamu!" Draco menatap Harry tajam.

"Be..benarkah?"

"Tentu saja tidak, aku hanya bercanda," Draco tertawa penuh kemenangan.

"Sialan kau, Malfoy!"

"Sebenarnya aku hanya menebak saja. Makanya, sebaiknya ikuti saranku semalam. Sebagai sesama lelaki, aku bisa merasakan gelagat kurang baik pada kekasihmu itu," sambung Malfoy, kembali menekuni lampionnya.

"Kau jangan asal tuduh. Selama 4 bulan pacaran, Cormac tidak pernah mengecewakanku!" bela Harry pada kekasihnya.

"Apakah kau yakin? Apa kau selalu bersama dengannya 24 jam?" tanya Draco, sedikit menyudutkan. Membuat gadis itu terdiam tidak bisa menjawab.

"Tapi aku percaya kepadanya," ucap Harry pelan, tapi masih terdengar di telinga Draco.

Draco menarik nafas dalam.

"Aku tahu, Potter!" Draco menghentikan aktivitasnya, kini pandangan matanya terkunci kepada Harry. Gadis itu sendiri tengah memandang televisi dengan pandangan mata kosong. Dan tanpa Harry ketahui, sebuah desiran aneh tengah dirasakan oleh pemuda itu.

"Entah apa yang kau pikirkan tentangku, tapi aku bisa menjadi teman bertukar pikiran. Jika kau mau…" sambung pemuda itu tidak yakin.

"Kau akan mentertawakanku bukan?" tuduh Harry, membuat Draco mendengus kesal.

"Kau selalu saja berperasangka buruk kepadaku, kalau kau tidak mau bercerita, aku juga tidak rugi," jawaban yang membuat Draco sedikit menyesal karena selalu menawarkan pertemanan kepada gadis keras kepala itu. Pemuda itupun kemudian acuh dan lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya.

Hening beberapa saat. Harry yang tadinya menonton televisi memilih mematikan benda itu. Gadis itu pergi ke kamar dan kemudian mengambil kertas origami warna-warni lalu membawanya ke ruang keluarga. Harry menggambil sebuah kertas berwarna hijau dan mulai melipatnya menjadi bentuk burung. Draco mengamati apa yang Harry lakukan dari sudut matanya.

"Apakah itu untuk festival besok?" tanya Draco tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.

"Hmmm," jawab Harry sambil tetap berkonsentrasi dengan kertas origaminya.

Hening kembali beberapa saat.

"Setelah ini mungkin beberapa temanku akan kemari," sambung Harry.

"Apa? Kenapa kau tak bilang dari tadi? Hah, aku harus membereskan semua barang ini,"

"Untuk apa? Kau tetap di sini saja. Hermione sudah tahu tentangmu. Dan kurasa beberapa temanku yang akan datang kemari tidak akan menggosip atau membuat lelucon konyol tentang semua ini," ucap Harry cuek.

"Kau yakin, Potter?"

"Tentu saja, Malfoy," bersamaan dengan jawaban Harry, bel rumah berbunyi.

"Kau tetap di sini, aku akan membukakan pintu," Harry kemudian beranjak menuju pintu depan, sementara Daraco masih kurang mengerti dengan kelakuan Harry.

'Bukankah dia tidak ingin teman-temannya tahu tentang keberadaanku di rumahnya?' bathin Draco bingung.


Bersambung ...


Ugh... akhirnya sampai chapter 7 juga ... waktunya saya mulai membuat kembang-kembang cinta di antara mereka (upsss... spoiler ... wkwkwk)

Tapi please jangan harap ada adegan yang gimana-gimana. Semuanya akan saya buat so soft dan implisit ...

Sebenarnya saya merasa fanfic ini kurang feel westernnya, justru lebih mirip drama-drama asia .. wkwkwk ... maafkah saya ya ... sudah niat bikin fic Harry Potter tapi malah feel ceritanya jadi kayak gini ...

Ah iya, tentu saja saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah memfollow, memfavoritkan, apalagi mereview.

Luna : ah, emang Harry nya belum jinak. ntar kalo dah jinak pasti nurut ampe klepek-klepek ama si abang Draco ... hehe. makasih reviewnya ...

askasufa : wahaha ... kalo adegan romantis itu sudah biasa, jadi saya bikin yang agak luar biasa ... duh, udah kecium baunya ya ... tapi belum nampak wujudnya kan? maaf ga bisa komen dulu, ntar tambah spoiler lagi ... hehehe... iya... Draco mah komplit and spesial ... Makasih semangatnya. Makasih udah review setiap chap ... semoga ga bosen ngikutin fanfic saya ini ... hehehe

jeshicchi : hehe ... gimana ya, tetep harus ada konflik nya, jadi silakan tunggu di chap selanjutnya ... Harry dan Cormac ... hmmm... tapi mereka kan serasi ... putus ga ya ? hehehe ... makasih ya reviewnya ...

nampaknya ada satu review lagi, tapi kok ga muncul ya ... walaupun gitu saya tetep ngucapin makasih atas reviewnya ...


Mohon reviewnya lagi untuk chap ini ... Makasih... Thank you ..