proudly present :
An EXO Fanfiction
KISS ME IF YOU CAN
Main Cast : Oh Sehun, Kim Jongin
Remake dari novel yang berjudul sama karya Charlie Philips
Terjemahan Indonesia : bacanovelonline
.
Happy Reading!
.
Sehun orang yang lihai, tiba-tiba mengganti topik pembicaraan dan berharap yang lain tetap dapat mengikuti, pikir Jongin. Baiklah, kalau begitu. Ia memang ingin tahu lebih banyak tentang kalung neneknya sama seperti Sehun, tapi ia juga tidak akan melupakan begitu saja pembahasan tentang mantan istrinya.
Pramugari yang selingkuh, pikir Jongin frustrasi. Jadi tidak heran kalau dia tidak menyukai pilihan gaya hidup Jongin, ya kan?
"Kalungnya?" Sehun memancing Taeyeon, mengembalikan pikiran Jongin ke masalah yang tengah mereka bicarakan.
"Aku dan suamiku sudah menikah selama kira-kira tiga tahun dan anakku berumur satu tahun waktu dia memberikan kalung ini padaku," kata Taeyeon dengan suara murung.
"Apa kakek bilang dari mana ia mendapatkannya, Nek?"
Tatapan Taeyeon beralih ke foto almarhum suaminya, Kim Henry, dalam seragam militer yang ia letakkan di atas meja dekat kursi kesayangannya. "Dia menerima kalung ini sebagai bayaran atas pekerjaannya. Kau tahu kan, sebelum pecah Perang Korea, kakekmu kerja sebagai sopir keluarga kaya, tapi suatu hari mereka bangkrut. Kakekmu, semoga dia tenang di alam sana, setuju untuk dibayar dengan perhiasan sebagai ganti uang." Ia mengusap kalung di lehernya dengan penuh rasa sayang.
"Apa kau tahu nama keluarga yang memberikan kalung itu padanya?" tanya Sehun.
Jongin tidak terpikir untuk menanyakan itu. Tapi memang Sehun-lah yang reporter.
"Astaga, tidak. Ingatanku sudah tidak sebagus dulu."
Jongin mengernyit. Pikiran neneknya masih tajam dan ia punya daya ingat luar biasa untuk sebagian besar hal.
Mendadak, satu kenangan yang cukup lama muncul di benak Jongin. "Aku ingat Jessica dulu pernah bilang kalau Kakek bekerja sebagai sopir keluarga Jung. Masih ingat waktu mereka menyatakan bangkrut? Karena mereka punya banyak aset real estate di kota ini, beritanya muncul di surat kabar." Ia melirik neneknya.
Taeyeon menggeleng. "Tidak, aku tidak ingat sama sekali," jawabnya lalu berpaling ke Sehun. "Bagaimana dengan cincin yang diberikan si pemilik toko padamu. Apa dia bilang asalnya dari mana?" tanya Taeyeon.
Jongin sudah bertanya persis seperti itu pada Sehun.
Sehun menggeleng. "Wanita itu tidak bilang apa-apa tentang cincinnya."
Dan karena mereka sudah sepakat untuk tidak mengungkit bahwa perhiasan itu dulu pernah dicuri, ia tidak membahas lebih jauh.
"Nah apa aku bisa melihat cincin itu? Aku tadinya tidak tahu cincin itu ada, tapi karena sekarang aku sudah tahu…" Wanita tua itu berpaling ke Sehun dengan tatapan memohon.
"Ada di kotak penyimpanan di bank."
Taeyeon menghela napas kecewa.
"Yah, mungkin kapan-kapan," hibur Sehun.
Bagi Jongin, tampaknya Sehun sudah memadamkan minat neneknya.
Namun bujukan Sehun rupanya membuat Taeyeon kembali bersemangat, karena tiba-tiba dia langsung merangkul pinggang Sehun. "Oh, terima kasih!" serunya.
Dengan canggung Sehun menepuk-nepuk punggung Taeyeon, sambil mengirim sinyal SOS pada Jongin.
"Oke, Nenek, kau bisa melepas Sehun sekarang. Sudah waktunya dia pulang."
Taeyeon melepas pelukan dengan enggan.
"Lebih baik Nenek berbaring dulu," saran Jongin, masih khawatir setelah mendengar neneknya punya masalah kolesterol dan tekanan darah tinggi. "Aku akan mengantar Sehun keluar lalu nanti biar kubereskan semuanya."
"Boleh saja kalau kau tidak keberatan…"
Jongin memeluk Taeyeon, berusaha meyakinkan diri bahwa neneknya tidak terasa lebih rapuh daripada biasanya hanya karena sekarang ia tahu tentang masalah kesehatan wanita tua itu.
"Terima kasih untuk makan malamnya, Nyonya—maksudku Taeyeon. Makanannya lezat, dan suasananya menyenangkan." Sehun mengecup punggung tangan Taeyeon.
Sikap santun itu membuat getaran menjalari tulang punggung Jongin. Meskipun ia pikir bisa menilai orang dengan cukup baik, Sehun membuatnya kebingungan sejak siang ini. Mulai dari ciuman panas pagi tadi sampai cara dia menjaga jarak sehabis makan siang, lalu kesediaan mengejutkan lelaki itu untuk datang makan malam di apartemen neneknya, Jongin tidak tahu lagi di mana posisinya sekarang.
Ia adalah rekan Sehun dalam penyelidikan tentang cincin tersebut—yang itu ia tahu pasti. Sedangkan untuk urusan asmara, ia sama sekali tidak tahu. Hampir sepanjang malam ia berhasil menahan hasrat yang bangkit akibat Sehun. Namun begitu neneknya masuk ke kamar dan mereka tinggal berdua, setiap senti tubuhnya begitu. sadar akan keberadaan lelaki itu. Sehun mengamatinya dengan mata biru yang tajam dan Jongin ingin luluh dalam pelukan lelaki itu.
Namun Jongin justru bersedekap. "Jadi begitu ya caramu membantuku meyakinkan nenek kalau kita tidak bertunangan."
"Aku sudah coba! Tapi dia memang keras kepala sekali. Persis seperti satu orang lagi yang aku kenal." Rasa geli campur takjub membayang di wajah lelaki itu. "Sebetulnya aku tadi sudah siap bertarung, tapi dia menyebut-nyebut tentang kesehatannya dan aku tidak mau membuatnya sedih."
Sialan. Kenapa dia harus begitu seksi, peka, penuh perhatian sekaligus tidak menyukai wanita-wanita yang senang bepergian? Dan itu mengingatkan Jongin pada satu lagi bibit pertengkaran yang harus ia tuntaskan dengan Sehun. "Mantan istri?" tanyanya.
"Bukannya aku mau merahasiakan hal itu darimu. Secara teknis, ini baru kencan kedua kita." Sehun mengulurkan tangan dan menarik gadis itu ke arahnya sampai menempel rapat.
Ia melingkarkan dua tangan di pinggang Jongin dan memandang mata gadis itu. "Kita dua orang yang sangat berbeda."
Jongin mengangguk. "Yang menginginkan hal-hal sangat berbeda dalam hidup ini."
Sehun diam sejenak, terus menatap mata Jongin sampai dia merasakan getar gairah lelaki itu menjalari perutnya. "Apa kau akan pergi jauh dalam waktu dekat ini?" tanya Sehun.
Gadis itu menggeleng. "Tidak sampai ulang tahun nenekku akhir bulan ini."
Ia juga belum memilih tujuan kepergiannya. Saat waktunya tiba nanti biasanya rasa tidak betah akan menguasai dan ia akan pergi dari kota ini, tapi sekarang ia berada persis di tempat yang diinginkan.
"Pertanyaannya sekarang adalah, bisakah kau menerima itu?" Jongin merangkul leher Sehun. "Karena jika iya, sampai saat itu tiba, aku milikmu."
Sehun menjawab cepat, mengunci bibir Jongin dengan ciuman yang amat nikmat tapi singkat. Bibirnya terus di sana cukup lama untuk menggoda gadis itu dengan sentuhan hangatnya.
"Kuanggap itu jawaban iya," gumam Jongin.
"Memang iya. Tapi aku akan pergi sebelum melakukan sesuatu yang amat tidak pantas di ruang tamu nenekmu," ujar Sehun, matanya berkilat-kilat merayu.
"Aku tidak akan keberatan."
"Aku juga tidak," gumam Sehun. "Jadwalku penuh selama beberapa hari ke depan, tapi bagaimana kalau kau ke tempatku sekitar jam delapan Jumat malam?"
"Untuk bekerja atau bersenang-senang?" tanya Jongin sambil mengantar dia ke pintu.
Sehun tersenyum lebar. "Kalau kau beruntung, mungkin dua-duanya."
.
.
Sehun pulang ke apartemennya yang bersih dan rapi, otaknya penuh dengan ide segar dan siap menulis. Kebersamaan dengan Jongin dan neneknya membuat semangatnya pulih. Alih-alih ke tempat tidur, ia malah duduk di depan komputer meja, yang untung tidak ikut diambil oleh si pencuri, dan mulai bekerja.
Ia menghabiskan banyak waktu membuat kerangka cerita yang kurang lebih didasarkan pada pencurian cincin berharga oleh seorang sopir keluarga. Lalu satu jam berikutnya ia curahkan untuk mencari informasi tentang perhiasan itu dan keluarga Jung, pemilik perhiasan yang dicuri.
Jung.
Nama itu sama persis seperti yang diingat Jongin. Tubuh Sehun menegang, tapi ia terus mencari sampai menemukan satu lagi berita tentang pencurian di keluarga Jung, menjelaskan bahwa semua orang di pesta tersebut sudah ditanyai polisi namun kemudian dibebaskan dari tuduhan. Kecuali staf rumah tangga sementara, yang jejaknya menghilang. Salah satunya adalah sopir yang mengantar teman-teman keluarga Jung keluar dari pesta malam itu.
Leher dan bahu Sehun pegal, ia lalu berdiri dan meregangkan badan. Namun bukan sakit fisik yang paling mengganggu Sehun. Jongin teringat nama keluarga Jung meskipun Taeyeon bilang tidak ingat. Dan Taeyeon mengaku kalung itu diberikan pada suaminya sebagai bayaran atas pekerjaan kakek Jongin. Kerja sebagai sopir. Mungkinkah semua kemiripan ini kebetulan belaka? Atau mungkinkah kakek Jongin ternyata pencuri?
Sehun menggeleng, sadar bahwa ia tidak bisa memberitahu Sehun tentang hal ini sebelum punya informasi lebih lengkap. Mungkin ayahnya bisa memberi akses ke berkas-berkas kasus yang sudah dibekukan dan ia akan menemukan hal baru yang luput dari perhatian polisi. Sesuatu yang bisa membersihkan nama baik kakek Jongin. Sampai memiliki sesuatu yang pasti, ia tidak akan membebani Jongin dengan spekulasi macam-macam.
Sehun melirik jam tangan, keheranan melihat waktu. Tiga jam berlalu tanpa terasa. Ia tidak ingat kapan terakhir kali bisa hanyut dalam keasyikan menulis dan melakukan penelitian begini lama. Ia tahu harus berterima kasih pada Jongin karena sudah mengobarkan lagi gairahnya, dan itu membuatnya makin merasa bersalah atas hasil akhir penyelidikannya nanti.
Sehun mengerang dan menuju tempat tidur. Ia harus berada di kantor besok pagi-pagi sekali dan tahu tidurnya akan gelisah akibat semua ini.
Ia berhasil terlelap selama beberapa jam dan bangun dengan energi segar yang sama dengan tadi malam. Tapi ia tidak sempat melakukan riset pribadi. Berita tidak pernah berhenti dan begitu ia di kantor, ia memeriksa laporan polisi dan mendapati bahwa semalam ada acara pengumpulan dana untuk AIDS dengan para pejabat setempat. Sebuah gelang telah dicuri, begitu menurut si pemilik. Namun menurut polisi, penyebabnya mungkin hanya kait yang putus atau ketidaksengajaan lain, karena tidak mungkin perhiasan itu bisa diambil dari pergelangan tangan korban. Sehun merasa kejadian itu kurang layak dijadikan berita hari ini. Tadi malam ada berita-berita pencurian yang lebih nyata untuk dimuat dalam surat kabar.
Beberapa menit kemudian, ia menerima telepon tentang pemerkosaan sadis di dekat Central Park, korbannya dalam perjalanan ke rumah sakit.
Sehun langsung bergegas pergi, tiba diruang gawat darurat bersamaan dengan ambulans. Beberapa hari berikutnya ia disibukkan dengan beragam wawancara dan kegiatan, membuatnya tidak punya waktu untuk menyelidiki sejarah cincinnya atau kemungkinan keterlibatan kakek Jongin.
Akhirnya, Jumat malam pun datang. Ia tinggal menyelesaikan satu artikel lagi untuk edisi malam, lalu siap untuk berakhir pekan, kecuali muncul satu berita besar yang tidak ingin ia lewatkan.
Sehun memasuki lobi gedung kantor yang baru direnovasi itu. Kantor surat kabarnya berada di lantai tujuh belas. Sepanjang sisi dinding dilapisi cermin dan pot tanaman diletakkan berbaris, sementara orang-orang mulai beranjak pulang.
Seperti biasa, Sehun mampir ke meja petugas keamanan di tengah lobi untuk menyapa sobatnya, Lee Jonghyun, petugas keamanan berseragam di meja itu. Umurnya sama dengan Sehun, mereka sudah berteman lebih dari, lima tahun dan sekarang sama-sama bermain di liga softball musim panas.
"Hey, apa kabar?" tanya Sehun.
Jonghyun mengangkat topi dan menggaruk-garuk kepala. "Lumayan. Kau sendiri?"
"Biasalah. Giliran kerjamu selesai sebentar lagi?" tanya Sehun.
"Oh jelas. Aku akan mengajak anak lelakiku ke pertandingan Renegades."
Mendengar nama tim itu membuat Sehun teringat akan kencannya dengan Jongin malam ini. Suasana hatinya, yang tadinya suram karena cerita-cerita menyedihkan yang sudah ia liput selama beberapa hari ini, langsung berubah lebih ringan.
"Udaranya memang bagus untuk pertandingan baseball. Bocah itu pasti senang sekali," ujar Sehun tentang anak lelaki Jonghyun yang berusia tujuh tahun, yang dia besarkan sendiri sejak istrinya pergi meninggalkan mereka saat anaknya berusia tiga tahun.
"Dia suka sekali Renegades," ujar Jonghyun, tertawa.
"Aku tahu. Selamat bersenang-senang. Aku harus menulis berita supaya aku juga bisa cepat pulang. Sampai ketemu lagi."
Sehun berbalik untuk pergi, saat Jonghyun memanggil dan membuat langkahnya terhenti. "Aku sudah membuang hadiah-hadiah dari para wanita lajang di kota ini, seperti yang kau minta. Tapi barang ini datang buatmu tadi pagi dan kelihatannya tidak seperti pakaian dalam perempuan." Ia mengeluarkan kotak besar warna cokelat dengan kata Fragile dicap dengan tinta merah di atas dan bawahnya.
Selama ini dengan senang hati Jonghyun membantunya menangani barang-barang kiriman para pemuja sang Bachelor's Blog. Tapi dia benar. Paket yang ini kelihatan lebih resmi. Sehun tidak sedang menanti kiriman apa pun, tapi di pekerjaannya, kadang orang memang mengirimkan sesuatu yang mereka pikir bisa jadi petunjuk dalam satu kasus kriminal. Meskipun benda ini sedikit lebih besar daripada semua paket pernah yang ia terima.
"Tidak kelihatan seperti benda-benda mahal kiriman para blogger minggu lalu." Jonghyun, yang akhir-akhir ini sangat senang karena bisa mengolok-olok Sehun tentang kado-kado itu, terkekeh lagi. "Kurasa statusmu yang sekarang sudah bertunangan membuat wanita-wanita itu mundur."
Sialan, Jonghyun tahu benar Sehun tidak bertunangan, tapi dia tetap gigih menggodanya. "Awas ya," gumam Sehun walau tidak marah. "Dan jangan baca sampah itu lagi."
Tapi dalam benaknya ia masih heran betapa banyak orang di kota ini yang membaca Bachelor's Blog. Sepanjang hari tadi, di rumah sakit tempat korban perkosaan tersebut dibawa, semua orang mulai dari perawat sampai relawan rumah sakit dan wanita di meja resepsionis mengenali Sehun sebagai sang Bujangan. Beberapa orang sekadar memandangi sambil berbisik-bisik dengan teman wanita mereka. Beberapa lagi berusaha sebaik mungkin meyakinkan Sehun agar berkencan dengan mereka saja daripada dengan kekasihnya sekarang. Memalukan, tapi ia tidak punya pilihan lain kecuali pasrah.
Dan ia tidak mau memberi Jonghyun amunisi baru lagi.
Temannya itu tertawa. "Tentu saja aku baca blog itu. Hey, aku duduk di meja ini selama delapan jam lebih dalam sehari. Mau bagaimana lagi? Meskipun kau tidak tunangan sungguhan, paling tidak kau berhasil menggaet seseorang."
"Jadi maksudmu kau belum?" tanya Sehun pada temannya. Dari Jonghyun, Sehun tahu betapa susahnya mencari kekasih jika kau punya seorang bocah lelaki yang sensitif, belum lagi ibu Jonghyun juga tinggal bersama mereka untuk membantunya mengurus anak.
"Tentu saja belum. Kau jelas lebih berhasil daripada aku kalau dilihat dari foto itu."
Oh, gawat. "Foto apa?" tanya Sehun waspada.
"Kau belum lihat koran hari ini?"
Sehun menggeleng. "Aku agak sibuk tadi."
Jonghyun mengulurkan surat kabar edisi hari itu pada Sehun , sudah terbuka di halaman Bachelor's Blog. Bujangan Beruntung, begitu judul utamanya dan di bawahnya, foto Sehun dan Jongin berciuman.
"Hidupmu menarik ya," kata Jonghyun.
"Baru-baru ini saja." Sejak Jongin datang ke dalam hidupnya.
Sehun menatap foto ciuman yang agak kabur itu. Hanya ada dua tempat ketika hal itu terjadi, saat mereka hanya berdua saja di apartemennya dan sekali lagi saat mereka kira mereka berdua saja di ruang tamu nenek Jongin. Kelihatannya Taeyeon punya sisi iseng juga.
Harusnya ia tidak tertawa, tapi ia tidak bisa menahannya. Nenek Jongin itu berani juga, diam-diam memotret lalu mengirim foto itu ke Bachelor's Blog. Jongin mungkin akan membunuhnya.
Bachelor's Blog juga menyebutkan Sehun terlihat memasuki gedung kediaman nenek Kim Jongin, si perancang situs Web, dan menimbulkan dugaan bahwa ia sudah menemui keluarga gadis itu. Fakta yang diberitakan itu memang benar. Tapi tuduhan yang terkandung dalam kata-kata itu, bahwa Jongin dan Sehun bertunangan dan akan segera menikah sama sekali jauh dari kenyataan.
Mendadak Sehun merasa bersimpati pada para selebriti yang dikuntit, diikuti, dan diberitakan habis-habisan oleh wartawan, dan ia baru paham kenapa mereka sangat membenci media. Lebih baik ia menentang bahaya sebagai reporter berita kriminal daripada hidup mewah, glamor tapi selalu disindir.
"Aku minta tolong satu hal," kata Sehun pada Jonghyun. "Jangan percaya semua yang kau baca di kolom yang satu ini. Selamat bersenang-senang di pertandingan nanti dan salam untuk Junior." Jonghyun mengangkat kotak berat itu dan menuju ke lift untuk naik ke kantornya.
Di mejanya, ia menyilet bungkusan itu hingga terbuka, lalu terkejut saat mendapati laptopnya di dalam, dikemas rapi memakai bubble wrap.
"Astaga." Ia tidak menyentuh laptop itu dan segera menelepon polisi, berharap mereka bisa menemukan bukti yang akan menuntun mereka ke pelakunya. Seulgi sedang tidak bertugas, tapi petugas jaga berjanji akan mengirim orang ke kantornya. Tidak seperti Sehun, polisi itu ragu mereka akan menemukan petunjuk dalam bungkusan yang dikemas biasa dan sudah melewati jasa pos serta entah berapa pasang tangan.
Setelah ia menyelesaikan urusannya dengan polisi dan duduk untuk menulis artikel, Sehun tersadar ia akan terlambat pulang ke apartemennya untuk menjumpai Jongin.
Saat gadis itu tidak menjawab ponselnya, ia menelepon Seulgi dan memintanya untuk mengizinkan Jongin masuk dengan kunci cadangan Sehun. Membayangkan Seulgi dan Jongin berduaan saja membuat Sehun sedikit panik. Saat sedang bekerja Seulgi memang tidak banyak bicara, tapi di luar itu lain cerita. Dan Sehun tidak bisa membayangkan dongeng apa saja yang akan dia ceritakan. Sayangnya, karena tenggat waktu sudah semakin mepet, Sehun tidak punya pilihan lain.
.
Jongin menghabiskan sepanjang pagi berbicara dengan Baekhyun di telepon, sambil mengerjakan penerapan ide-ide baru untuk situs Hot Zone dan Athlete's Only. Siang hari, ia memikirkan sejumlah gagasan untuk situs Sehun sebagai penulis, tapi masih kesulitan tentang tampilan situs itu nantinya. Pengetahuan Jongin yang hanya sedikit tentang Sehun dan karyanya membuat ia susah mendapatkan tema yang sesuai bagi situs itu.
Ia harus menenggelamkan diri lebih jauh ke dunia Sehun, dan sudah tidak sabar ingin melakukan hal tersebut malam ini. Bukan berarti ia akan menginterogasinya, tapi Jongin harus tahu lebih banyak tentang si penulis dan bukunya—dan lelaki di balik semua itu.
Jongin tiba di apartemen Sehun tepat waktu, tapi dia belum pulang. Perutnya menegang sesaat. Apa dia lupa?
Mereka memang tidak saling bicara hampir seminggu ini, tapi ia pikir tidak ada masalah apa-apa. Sambil menahan kecewa, Jongin mengetuk pintu Sehun untuk terakhir kali.
Seulgi melongok dari pintu apartemennya seolah diberi aba-aba. "Sehun agak terlambat dan dia memintaku mengizinkanmu masuk ke apartemennya."
"Terima kasih," sahut Jongin, lega karena lelaki itu tidak lupa tentang dia.
"Dia bilang sudah berusaha menghubungi ponselmu tapi tidak dijawab, jadi dia meneleponku."
Jongin mengernyit dan mengeluarkan ponsel dari tas kerjanya yang besar, yang bukan hanya berisi barang-barang pribadi tapi juga laptop mini dan buku catatan. Ia melirik layarnya dan memencet beberapa tombol sebelum menengok ke Seulgi yang menatapnya penasaran.
"Mati," Jongin menjelaskan. "Aku pasti lupa mengisi ulang baterainya. Biasanya begitu kalau aku keasyikan bekerja." Sebetulnya sering, tapi ia enggan mengakui hal itu.
Seulgi mengangguk. "Menarik. Sehun juga sama. Dia sering terhanyut dalam satu cerita sampai lupa waktu. Terus terang saja, aku kaget dia ingat memikirkan rencananya malam ini. Pasti ini penting buatnya."
Biasanya Jongin bukan tipe orang yang kehabisan kata-kata, tapi keterusterangan wanita ini membuat ia tertegun tidak siap.
"Hei, bagaimana kalau kau masuk dulu dan duduk-duduk di sini sampai dia pulang?" Seulgi menawarkan.
"Terima kasih, tapi aku tidak mau mengganggumu. Dan aku tidak keberatan menunggu sendirian di sini."
Seulgi mengibaskan tangan. "Tidak masalah. Hari ini aku libur."
"Oke kalau begitu. Kenapa tidak?" Ia tidak ingin menyinggung perasaan teman sekaligus tetangga Sehun.
Begitu berada di dalam, Jongin melirik sekeliling. Apartemen Seulgi menunjukkan seluruh kepribadian yang tidak ditampilkan si wanita berseragam polisi saat mereka bertemu pertama kali. Jongin menatap dekorasi yang penuh rumbai dan renda, terkejut dengan betapa feminin selera Seulgi. Tapi pilihan baju wanita itu waktu libur, rok musim panas dan tank top yang memamerkan lekuk-lekuk menggoda, harusnya bisa jadi petunjuk pertama buat Jongin.
"Ada apa?" tanya Seulgi, memandang Jongin dengan gaya khas polisi, berusaha mengerti apa yang ada di benak wanita itu.
Tersangka mungkin akan mengaku jika ditatap begitu, pikir Jongin, menghela napas panjang. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya mengagumi perabotanmu. Aku tidak menyangka. Harus kuakui, aku salah menilaimu."
"Kau kira aku pasti tomboy, kan?"
"Memang," Jongin mengaku, sambil tertawa.
Seolah ingin menegaskan bahwa dia sama sekali tidak begitu, Seulgi merapikan rambut pirang panjangnya ke belakang dan memilinnya di puncak kepala seperti gadis sungguhan. "AC-ku tidak terlalu dingin. Aku sudah menelepon pengelola apartemen dan menunggu dia datang untuk memeriksa."
"Pakaianku cukup tipis, jadi tidak masalah buatku." Nenek Jongin juga tidak suka apartemennya sedingin kulkas, jadi Jongin sudah belajar menyesuaikan diri.
"Mau kuambilkan minuman dingin?" tanya Seulgi.
"Tidak usah, terima kasih."
"Kalau begitu silakan duduk." Ia menunjuk ke sebuah kursi yang tampak nyaman dan Jongin menuruti tawarannya.
Seulgi memilih sofa di seberangnya. "Maaf kalau aku kasar sekali hari itu. Aku habis bekerja dua sif dan aku kecapekan."
"Kau tidak kasar sama sekali," dusta Jongin.
"Pembohong."
"Aku minta maaf kalau aku mengganggumu," kata Jongin lagi.
Seulgi menggeleng. "Kau tidak mengganggu. Semua teman Sehun adalah temanku juga. Kecuali kalau kau sebenarnya salah satu penggemar Bachelor's Blog yang ingin menyeret Sehun dan cincinnya ke depan altar?" Ia mencondongkan badan mendekat, kelihatan jelas ingin melindungi Sehun.
Alih-alih merasa diancam, Jongin justru tertawa mendengar tuduhan itu. "Ya Tuhan, tidak. Sama sekali tidak."
Seulgi tampak berubah santai, bahunya turun. "Kalau begitu kau bisa tetap di sini selama kau mau. Aku hanya ingin memastikan kalau Sehun berhubungan serius dengan seseorang yang tidak mengejarnya karena punya maksud jahat."
Jongin dan Sehun tidak mengarah ke hubungan yang serius, tapi ia rasa Seulgi tidak perlu tahu tentang hal itu.
Seulgi menjulurkan kaki telanjangnya ke atas sofa di seberang Jongin. "Sehun pantas mendapatkan yang lebih baik daripada wanita yang sekadar mencari mangsa empuk."
Jongin mengangguk. "Setuju." Sehun memang pantas mendapatkan wanita yang tulus dan sungguh-sungguh.
"Pokoknya asal kau sadar bahwa Sehun bukan lelaki yang bisa kau mainkan lalu kau campakkan begitu saja, itu artinya kita saling mengerti."
Jongin membetulkan posisi duduknya, menegakkan bahu dan memandang mata Seulgi tajam. Ia sanggup melawan wanita ini dan ia tidak akan mundur. "Kelihatannya kau sangat melindungi seseorang yang kau anggap hanya teman biasa."
Seulgi terdiam sejenak, mencerna komentar Jongin. Lalu untuk pertama kalinya dia tersenyum lebar, membuat Jongin keheranan. "Jadi kau merasa terancam oleh aku!"
Jongin memilih untuk tidak menyahut.
Seolah tembok es di antara mereka baru saja pecah, tawa geli Seulgi mendadak memenuhi ruangan itu. "Tidak perlu khawatir. Aku memang selalu melindungi orang-orang yang kusayang. Sekalipun teman," ujarnya terus terang. "Aku kenal baik dengan Sehun. Tidak seperti aku, dia bukan jenis orang yang suka putus sambung," katanya, satu lagi peringatan bagi Jongin. "Dia itu tipe lelaki yang suka hubungan jangka panjang."
"Memang kenapa kau tidak suka hubungan serius?" Jongin tidak sabar ingin mengalihkan topik pembicaraan dari dirinya dan Sehun, dan karena Seulgi tidak keberatan membahas kehidupan pribadi Sehun, maka Jongin rasa dia pun akan bersikap terbuka.
"Sederhana saja. Aku polisi yang menghadapi bahaya setiap hari dan aku lahir di keluarga yang turun temurun menjadi polisi dan semua pernikahan mereka gagal karena tekanan pekerjaan ini. Aku tidak mau mengulangi kesalahan masa lalu. Tapi Sehun berbeda, dia orang yang senang dengan prinsip satu wanita, satu lelaki. Hubungan sungguhan." Seulgi bergidik membayangkannya.
"Entah kenapa kurasa Sehun tidak akan senang kau memberitahukan rahasianya padaku." Jongin menautkan dua tangan erat di pangkuan, bertekad untuk tidak bergerak-gerak gelisah di bawah interogasi ini.
"Mungkin tidak, tapi harus ada seseorang yang menjaganya."
Dan Seulgi jelas telah menobatkan diri sebagai penjaga Sehun. Meskipun kata-kata wanita itu blakblakan dan ikut campur urusan pribadinya, Jongin masih menghargai keterusterangannya. Teman yang baik dan setia—yang mengerti siapa dirimu—sulit didapat dan ia senang Sehun mendapatkan satu teman seperti itu dalam diri polisi yang keras namun feminin ini.
Walaupun Jongin tidak menyukai apa yang Seulgi ungkapkan.
Baru saja Jongin berhasil meyakinkan diri bahwa ia dan Sehun bisa menikmati romansa singkat yang akan berlangsung sampai ketertarikan mereka pada cincin itu dan situs Sehun selesai, sahabat lelaki itu justru memperingatkannya apabila nanti mereka cocok, Jongin sebaiknya menahan diri dalam hubungan ini jika ia tidak mampu untuk berkomitmen serius.
Ketukan mantap di pintu Seulgi membuat obrolan mereka terhenti, tapi tidak bisa mencegah pikiran Jongin yang terus berjalan. Jongin tidak ada masalah dengan komitmen, menetap di satu tempatlah yang tak dapat ia lakukan—dan ia tahu Sehun sangat keberatan dengan hal itu.
.
.
Sehun harap Jonginsuka makanan Cina. Ia tadi mampir di restoran kesukaannya dalam perjalanan pulang. Ia pikir jika membawa makan malam saat tiba di apartemennya, maka gadis itu tidak akan terlalu jengkel karena keterlambatannya. Namun saat memesan makanan seperti biasa, ia tersadar kalau dirinya tidak tahu seperti apa selera Jongin dan apa yang dia suka. Akibatnya, sekarang ia menenteng kantong cokelat besar berisi makanan yang cukup untuk satu pasukan tentara, tapi minimal Jongin bisa bebas memilih yang dia mau.
Sehun berencana memadukan pekerjaan dengan kesenangan malam ini. Dan apakah ia akan memberitahu Jongin tentang hubungan antara pekerjaan kakeknya sebagai sopir dengan pencurian itu, ia masih ragu, dan berniat untuk memeriksa dulu lebih lanjut agar tidak berakibat buruk.
Saat tiba di apartemennya, ia sudah sangat siap untuk memulai malam itu. Tapi Jongin tidak di tempat seperti yang ia harapkan dan terpaksa berbasa-basi dulu dengan tetangganya sebelum mereka bisa berduaan saja. Apalagi Seulgi rupanya sedang ingin mengobrol.
Sehun menunggu sampai wanita itu diam sejenak untuk menarik napas, lalu meraih tangan Jongin. "Kami harus pergi sekarang," kata Sehun terus terang.
"Sudah terlambat untuk pesanan meja di restoran?" tanya Seulgi.
"Lucu. Sebetulnya, aku sudah beli makan malam."
"Oh ya?" tanya Jongin.
Sehun memandang Jongin dan mengangguk. "Ya. Dan aku kelaparan." Dan setelah memandang Jongin dalam blus halter longgar, kaki panjang kecokelatan gadis itu mencuat dari balik celana pendek putih halus, rasa laparnya bukan hanya untuk makanan. Ciuman mereka kala itu sudah membangkitkan seleranya dan mengisi mimpi-mimpinya pada malam hari, tapi sama sekali belum cukup memuaskannya.
"Aku juga," sahut Jongin, kata-katanya tenang. Tapi di balik kacamata, bola matanya berubah gelap, menunjukkan jika ia paham maksud Sehun.
"Ayo sana, cari kamar," tukas Seulgi, tertawa sambil menuju ke pintu untuk mengantar mereka keluar.
Sehun meletakkan satu tangannya di lekuk punggung Jongin, membiarkan gadis itu melangkah duluan.
"Terima kasih Seulgi. Aku senang sudah kau temani," kata Jongin.
"Terima kasih juga," kata Sehun pada tetangganya itu. "Kau tidak tersinggung kan kalau aku tidak mengundangmu untuk bergabung?"
Seulgi menggeleng dan tersenyum lebar. "Selamat menikmati," ujarnya, lalu menepuk pipi Sehun.
Sehun mengedipkan mata. "Niatku juga begitu."
"Bagus, karena yang satu ini sudah lolos inspeksi."
Dan itu artinya Seulgi pasti sudah menginterogasi Jongin sejak tadi. Sehun mengerang dan melotot memperingatkan tetangganya itu. "Kau betul-betul harus punya pacar untuk kau urus sendiri," gumamnya.
"Selamat malam, Sehun," kata Seulgi, lalu menutup pintu apartemennya.
Jongin menunggu dengan sabar di depan pintu Sehun. Dia tidak kelihatan seperti wanita yang habis diperiksa habis-habisan seperti di film Spanish Inquisition, tapi kalau ternyata tadi Seulgi kasar padanya, Sehun ingin segera menebus ketidaknyamanan itu.
.
Siwon dulu memang pencuri, tapi setelah pensiun lebih dari lima puluh tahun, siasat yang dulu biasa didapatkannya tidak kembali dengan mudah. Tulang-tulangnya sudah letih dan arus adrenalin tidak menggerakkannya seperti dulu. Namun rasa takut adalah motivator yang kuat. Saat ia tersadar bahwa miliknya yang paling berharga, pialanya, muncul secara langsung di acara TV, Siwon tahu ia punya masalah.
Kalau komplotan yang dulu ia khianati sempat melihat perhiasan itu dan mengenali bahwa itu adalah hasil jarahan mereka, mereka pasti akan mengamuk habis-habisan dan mengejar dirinya. Komplotannya berisi wanita-wanita licik mengerikan dan ada beberapa benda yang tidak pernah ia serahkan pada mereka sesuai janjinya. Siwon sangat yakin walau sudah lewat bertahun-tahun, kalau sampai mereka bisa menemukan dirinya, mereka akan membalas tindakannya.
Akan tetapi ia tidak bisa menyalahkan mereka. Ia dulu membisikkan mimpi-mimpi kosong ke keduanya, membuat janji-janji yang sesungguhnya tak akan pernah ia tepati sampai pada suatu malam ia teledor dan terpergok di tempat tidur bersama salah satunya oleh yang lain.
Insiden itu memecahkan kelompok kecil mereka, mengakhiri persahabatan, dan ketiga orang tersebut pergi menyebar berjauhan. Siwon kabur ke California selama beberapa tahun, dan di sana bertemu dengan wanita yang jadi istrinya. Setelah ia rasa masalah sudah mereda, ia kembali ke New York, membuka toko dan hidup dengan tenang… sampai terjadilah perampokan sialan itu dan hadiah yang diberikan oleh anak perempuannya mengancam akan meledakkan dunianya hingga hancur berantakan.
Tadinya Siwon yakin semua kenangan dari masa lalunya tersimpan rapi. Sekarang ia baru tahu anak perempuannya diam-diam menjual barang-barang itu tanpa sepengetahuannya. Sejauh ini tidak ada satu pun barang yang kembali untuk menghantui. Namun karena sekarang cincin itu sudah tampil di muka umum, Siwon harus bisa mendapatkan benda itu kembali sebelum si reporter sialan berusaha menjual hadiah itu.
Kalau ahli perhiasan sampai mengenali cincin itu, tidak lama lagi kasus pencurian yang dulu tak terpecahkan pasti akan langsung mengarah kepada dirinya.
Siwon sudah berusaha meminta cincin itu baik-baik, atau minimal sesopan yang ia bisa, tapi ditolak. Dan itu membuatnya semakin ketakutan. Untuk apa lelaki, yang awalnya tampak tidak terlalu berminat menerima hadiah sekarang mendadak sangat mempertahankan cincin ini? Saat itulah ia kembali ke kebiasaan lamanya, mencongkel paksa dan masuk apartemen si reporter. Ia tidak menemukan cincin itu, tapi mengambil laptopnya, dan berharap polisi akan mengira itu pencurian biasa.
Namun sesuatu yang tak terduga terjadi sesudahnya. Ia memandang mata anak dan cucu perempuannya lalu menyadari jika ia bukan lagi lelaki yang suka mencuri dari para orang kaya bertahun-tahun silam. Ia sudah membesarkan keluarganya dengan moral dan kejujuran dan, brengsek, sekarang ia merasa bersalah karena sudah mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Sambil memakai sarung tangan, Siwon membungkus laptop itu dengan kertas cokelat polos, melapisi dengan bubble wrap, menaruhnya dalam kotak lalu menuju ke kantor pos tersibuk di Manhattan. Ia menyamar dengan rambut palsu, yang membuat kepalanya penuh rambut lagi, tongkat jalan dan kacamata gelap. Ia meminta tolong orang tak dikenal untuk menuliskan alamat di paket itu. Ia membayar tunai lalu mengirim laptop itu kembali pada si reporter, berusaha mengurangi sedikit rasa bersalahnya.
Lantas ia pulang dengan dua masalah yang masih sama seperti semula; cincin itu masih di luar sana, menunggu untuk mengarahkan seseorang yang cukup cerdas padanya. Begitu pula komplotannya.
.
End for This Chapter
