Fanfiction

Cast : Jongin, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin tidak pernah menyangka suatu hari ia terbangun dengan status baru yaitu sebagai tunangan seorang anak milioner bernama Oh Sehun. Seharusnya dia bisa saja kan membeberkan kebenaran dan kembali pada hidup tenangnya? Tapi…Jongin memilih berperan menjadi tunangan Sehun. Hanya peran, tidak sungguhan. Benarkah hanya peran? HunKai/SeKai/SeJong. Yaoi.

Chapter Seven

"Hyung, jangan lakukan ini."

"Kau sudah berjanji!"

"Ayolah Hyung, jangan yang ini. Ya? Ya? Ya?" Pemuda tujuh belas tahun menyembulkan kepalanya dari kamar mandi dengan wajah memelas.

"Disini tidak ada siapapun kecuali aku. Ayo keluarlah." Seorang pria yang hanya memakai boxer berwarna biru tua duduk diatas tempat tidur dan bicara pada pemuda yang tidak berani menunjukkan dirinya.

"H-hyung.." Si pemuda itu merengek malu.

"Cepat keluar." Suara si pria terdengar lebih tegas dan si pemuda pun dengan perlahan-lahan membuka pintu kamar mandi dan berdiri canggung diambang pintu.

"Sudah kuduga, kau akan cocok memakainya." Si pria bernama Oh Sehun itu menyeringai lebar melihat kekasihnya yang sebelas tahun lebih muda berdiri dengan celana dalam wanita berenda dan juga sepatu hak tinggi serta bandana pita besar berwarna merah menghiasi kepala si pemuda.

"H-hyung aku malu.." Kim Jongin, itu nama pemuda yang dipaksa memakai atribut wanita oleh Sehun.

"Malu kenapa? You're perfect baby.." Sehun berjalan mengitari Jongin yang masih bediri dengan sedikit terhuyung karena tidak terbiasa menggunakan sepatu macam ini. "Kau sempurna dirty boy. My dirty boy.." Sehun meremas pantat sintal Jongin yang terbalut sempurna oleh celana dalam berenda itu.

Dalam hati Jongin ia menyesal sudah menantang Sehun. Jongin memang bodoh, seharusnya ia tahu jika Sehun itu sangat lihai dan berpengalaman dalam dunia seks. Bahkan tanpa menyentuh penis Jongin, Sehun bisa membuat pemuda manis itu orgasme kurang dari tujuh menit.

Lebih malunya lagi, Sehun sama sekali tidak orgasme dan malah membuat Jongin orgasme lagi tiga menit kemudian. Jadi hanya dalam waktu sepuluh menit Jongin sudah lemas diatas pangkuan Sehun. Dan dalam waktu satu jam Jongin sudah terjebak dalam atribut wanita dan Sehun akan merekam semua permainan mereka malam ini.

Yap, Jongin yang tadi dengan sok menantang Sehun untuk membuatnya orgasme dalam waktu singkat malah terjebak dalam permainannya sendiri. Permintaan Sehun sederhana, Jongin mengenakan pakaian yang ia tentukan dan juga merekam kegiatan bercinta mereka.

Jongin tidak tahu jika Sehun ternyata memiliki kink yang sangat nakal.

"Satu lagi Jongin, panggil aku Master."

"Ma-master?" Pipi Jongin yang sudah memerah semakin merah. God, Jongin mungkin terlihat enggan dan malu namun tubuhnya seolah terbakar oleh gairah. Jongin suka sekali di dominasi dan membayangkan memanggil Sehun dengan panggilan itu sementara Sehun menghujam anusnya pasti terasa sangat panas.

"Ya, bukankah kau suka permainan seperti ini? Dimana kau sepenuhnya dalam kontrolku?" Sehun berdiri dibelakang Jongin dan memeluk tubuh itu dengan mesra. Hidung Sehun mengendusi aroma leher Jongin yang selalu bisa membangunkan gairahnya.

"Yes, Master." Jongin menjawab dengan suara bergetar. Nafas panas Sehun membakar gairah Jongin semakin panas. Dia tidak sabar dengan apa yang akan mungkin Sehun lakukan malam ini.

"Good boy." Sehun mengecup leher Jongin sekali dan berjalan menjauh. "Berdiri disana dan pasang pose seksi." Sehun menunjuk tempat luas dikamarnya. Tempat dimana ia akan memulai mengabadikan keseksian Jongin.

Jongin pun menurut. Ia berjalan ke tengah ruangan dan berdiri disana. Kakinya ia lebarkan dan salah satu tangannya dipinggang. Pose yang membuat dirinya terlihat lebih menggoda dan mudah untuk di explore oleh Sehun.

"I really like good boy like you.." Sehun mendekat dengan sebuah handycam ditangannya. "A good boy deserves a present. Is there anything you would like dear?"

"A..a kiss Master.." Jongin merinding dengan segala perlakuan Sehun padanya. Bagaimana suara berat Sehun yang terdengar begitu mendominasi, sorot mata tajam Sehun yang menelusuri setiap lekuk tubuhnya dan ujung jemari Sehun yang menggoda kulitnya yang mendadak menjadi lebih sensitif dari biasanya.

Sehun berhenti mengitari dan mengagumi tubuh Jongin. Pria itu berhenti tepat didepan Jongin dan mengangkat dagu Jongin agar mata mereka bertemu. Nafas Jongin terhenti sejenak melihat betapa gelapnya awan birahi yang menghiasi mata Sehun.

Sehun mendekatkan wajahnya pada wajah manis Jongin.

Mengecup bibir penuh itu sekali.

Jongin nyaris kehilangan kendali dan menarik tengkuk Sehun agar bibirnya segera dilumat habis oleh bibir berpengalaman Sehun yang selalu bisa membuatnya kewalahan setiap kali mereka bercumbu.

Sehun mengecupnya dua kali.

Dan pertahanan Jongin runtuh. Jongin memajukan kepalanya untuk melumat bibir Sehun dengan serakah. Baru beberapa detik Jongin menikmati manis bibir Sehun, masternya itu sudah mendorong tubuh nyaris telanjangnya.

"Patient dirty boy or punisment." Sehun menatap Jongin dengan seringai lebar. Ia merasa puas dengan raut kehilangan dan putus asa yang terpatri pada wajah Jongin. Jari Sehun memencet sebuah tombol pada handy cam dan terdengar bunyi 'bip' menunjukkan jika handycam itu mulai merekam.

"Now, now." Sehun memperbaiki pose Jongin agar kembali seperti diawal. "Biarkan aku mengabadikan kesempurnaan tubuhmu."

Pipi Jongin memerah dengan sempurna.

Selama ini dia tidak pernah menganggap dirinya semenarik itu. Jongin merasa dirinya standar-standar saja. Manis dan memiliki tubuh yang proporsional. Bukan sesempurna bak model seperti yang selalu Sehun katakan. Pujian-pujian yang sering dilayangkan Sehun membuat Jongin sering malu sendiri.

"Pertama-tama mari kita lihat bibir ini." Jemari kasar Sehun menyentuh bibir Jongin yang lembut dan kenyal. "Bibir ini sangat nikmat ketika aku mengecapnya. Kenyal, manis namun kadang bisa sangat berbahaya. Jika bibir ini sudah tidak sabaran, bibir ini akan menyerangku tanpa ampun, menciumku kasar dan serakah." Kamera handycam merekam bibir Jongin yang disentuh dan dimainkan oleh jari Sehun.

Jongin malu sendiri mendengar ucapan Sehun. Jadi seperti itu ya dirinya? Agresif dan tidak sabaran? Padahal kan dia sudah sering menahan diri. Bayangkan kalau ia tidak menahan diri dan terus mencium Sehun tanpa kenal tempat dan waktu.

"Lalu ini.." Handy cam bergerak menuju leher Jongin. "Kanvas favoritku."

Sehun membelai leher jenjang Jongin dan memijatnya perlahan. Tangan satunya masih setia merekam bagaimana indahnya leher Jongin yang halus, jenjang dan langsing.

"Kau tahu Kim Jongin, aku ingin sekali memberi tanda disini dan memamerkan pada media hasil karyaku." Sehun bicara dengan suara beratnya.

"H-hyunghh.." Jongin melenguh merasakan tangan Sehun merabai belakang lehernya yang sensitif.

"Hyung?" Sehun menaikkan satu alisnya.

"Master! Master! Maafkan aku Master." Jongin dengan cepat meralat ucapannya dan Sehun tersenyum kecil. Membiarkan kesalahan kecil Jongin berlalu.

"Oh my, my.." Sehun berdecak ketika matanya tidak sengaja turun pada dada Jongin yang bergerak naik turun dengan cepat menunjukkan degup jantung Jongin yang cepat. "Lihat dua benda cantik ini, sudah tegang!"

"M-masterhhh…" Jongin melenguh pelan ketika jemari Sehun mencubit salah satu putingnya dengan gemas.

"Begitu sensitif, sangat responsif." Sehun berkomentar puas. Kamera terus merekam dada Jongin yang masih dicubit dan dipilin oleh jari nakal Sehun. Puas membuat Jongin gemetar dengan sepatu hak tinggi yang masih Jongin kenakan, Sehun menuntun Jongin menuju sofa kamar Sehun yang tidak jauh dari tempat Jongin berdiri.

"Bend over." Sehun memerintah dan Jongin lakukan dengan senang hati. Kakinya yang tidak terbiasa mengenakan hak tinggi sudah mulai lelah dan tubuhnya yang sensitif juga sudah tidak kuat berdiri lebih lama lagi dengan tangan dan ucapan nakal Sehun yang membakar gairahnya.

"A-aku malu.." Jongin bergerak tidak nyaman merasakan Sehun berdiri dibelakangnya dengan kamera yang merekam setiap gerakannya.

"Malu? Seharusnya kau malu ketika tiba-tiba melepas celanamu dan menunggangi kekasihmu yang sedang menyetir." Sehun berkata sambil memijat bokong Jongin yang terlihat semakin menggiurkan karena posisi menunggingnya.

Jongin tidak menjawab karena ia sadar jika ini adalah konsekuensi atas tindakannya. Sudah tahu Sehun itu mesum malah ia menggoda dan menantangnya, jelas saja Jongin akan menerima ganjaran akan tingkah nakalnya.

"Jangan sok malu-malu begitu Kim Jongin, aku tahu kau menikmati semua ini. You're a dirty boy after all." Sehun terkekeh dan menampar pantat Jongin sekali membuat Jongin melenguh antara sakit dan nikmat.

"Sekarang mari kita lihat kaki jenjang milikmu." Tangan Sehun yang tadi berada dipantat Jongin turun menuju paha Jongin. Membelai kulit kecokelatan milik Jongin yang lembut bagai sutra.

"A-ahhh…Masterhhh…" Lenguhan langsung lolos dari bibir Jongin. Jika biasanya dia hanya kegelian ketika disentuh seperti ini, adanya kamera membuat Jongin lebih sensitif dan gairahnya berada dititik tertinggi dalam dirinya.

"Aku paling suka melihatmu mengenakan celana jeans biru muda yang aku belikan beberapa waktu yang lalu. Kakimu terlihat sangat indah dan menggoda. Kadang aku sedikit menyesal membelikanmu celana itu. Membuat banyak mata memperhatikan kaki indah yang seharusnya hanya untukku." Belaian tangan Sehun bergerak turun hingga mata kaki Jongin sebelum naik lagi. Lensa handy cam terus mengikuti gerakan tangan Sehun, mengabadikan seksinya kaki Jongin mengenakan high heels.

"Ahh..ja-jangan disanahh.." Jongin meremas punggung sofa tempat ia bertumpu. Tangan Sehun menggesek celah bokongnya yang ditutupi celana dalam berenda dengan jarinya. Kain lembut itu menyentuh bibir lubangnya yang sedari tadi masih sensitif dan itu akan membangunkan little Nini dengan cepat.

"Kenapa? Ku pikir kau suka disentuh disini.." Sehun menekan jarinya semakin kencang hingga celana dalam tersebut melesak kedalam celah pantat Jongin.

"Ge-gelihh..ahh..di-disana masih sensitif.." Jongin berusaha menjauh dari sentuhan Sehun meskipun ia tahu itu percuma. Tanpa sepatu berhak tinggi saja Jongin tidak pernah bisa melarikan diri dari Sehun apalagi sekarang?

Sehun bukannya berhenti malah menarik celana dalam berenda itu hingga melorot sampai lutut Jongin. Dua bongkahan daging kenyal Jongin terekspos sempurna, begitu juga dengan dengan lubang merah muda Jongin yang masih basah oleh sperma Sehun.

"Bokong terindah di muka bumi!" Sehun berseru riang.

Jongin rasanya benar-benar malu sekarang. Bagian terintimnya sudah terekspos pada kamera dan mungkin akan Sehun putar berkali-kali nanti. Jongin juga sedikit takut kalau video yang mereka buat kali ini akan jatuh ke tangan orang lain.

Sehun membuka bongkahan pantat Jongin lebih lebar agar lubang ketat Jongin ditangkap kamera lebih baik. Jongin menggigit bibirnya malu, kenapa Sehun bisa memiliki ide segila ini? Walaupun gila kau menyukainya kan Kim?

"Oh dear, lubangmu kelaparan.." Sehun berkata dengan nada terkejut yang dibuat-buat.

"Ssshh…mmhhmmm…" Lenguhan keluar lagi dari bibir Jongin. Telunjuk Sehun mengelus bibir lubang Jongin lagi dengan gerakan perlahan. Sangat perlahan namun bisa membangunkan seluruh syaraf yang berada ditubuh Jongin.

"Lihat? Lubangmu itu rakus, serakah. Tidak pernah puas dan ingin selalu diisi." Sehun berkata dengan tangan terus menggoda lubang Jongin sementara satunya sibuk merekam bagaimana lubang itu berkedut-kedut mencoba menelan telunjuknya.

"Hnngghh…Ma-masterhh…ma-masukkan pleasehh.." Jongin sudah tidak tahan dengan godaan-godaan Sehun pada lubangnya. Just put those thick fingers in! Demi apapun lubang Jongin sudah sangat gatal!

"Berbaliklah." Sehun lagi-lagi hanya membuat Jongin frustasi. Jongin walaupun kesal tetap berbalik, dia duduk diatas sofa dengan kaki terbuka lebar dan wajah merahnya yang menawan. Celana dalam wanita itu kini sudah lepas dari tubuh Jongin, meninggalkan tubuh itu hanya dengan sepatu high heels serta bandana pita besar dikepala Jongin.

"Hm, lihat ini.." Sehun membuka kaki Jongin lebih lebar lagi dan menyentil kepala penis Jongin yang sudah tegang.

"Angghh..shhh…ahhh.." Jongin melenguh lagi. Matanya berusaha menghindari lensa handy cam karena…karena…lensa itu membuatnya malu. Seolah berpasang-pasang mata sedang menatapnya.

"Sudah basah? Hm? Kau menyukai hal ini bukan?" Sehun meremas penis Jongin lembut lalu mengocoknya perlahan.

"Ahhh…angghh..Masterhhh…uuhhh…" Jongin mendesah sembari menganggukkan kepalanya menunjukkan jika ia menyukai semua permainan yang sedang Sehun lakukan padanya.

"Buka kakimu lebih lebar dirty boy." Jongin membuka kakinya lebih lebar hingga lubangnya kembali terekspos pada lensa handy cam.

"Lubangmu sangat cantik Kim Jongin, hanya dengan melihatnya saja membuatku keras." Sehun memfokuskan lensa pada lubang Jongin. Lubang yang sudah menjadi obsesinya karena selalu bisa memanjakan penis besarnya.

"Masterhhh…pleasehh.." Jongin yang merasa dirinya akan meledak karena terlalu bergairah membutuhkan pelepasan segera. Entah penisnya dimanjakan, lubangnya digaruk, putingnya dilumat. Apapun! Asalkan ia tidak hanya dibuat begitu bergairah namun tidak mendapatkan kenikmatan.

"Please what?"

"Fill me Masterhh…angghhhh….uhhhh…." Jongin menjawab dengan desahan karena jemari Sehun lagi-lagi menggoda lubangnya.

"Katakan pada kamera dirty boy. Katakan apa yang kau inginkan." Sehun menekan-nekan lubang anus Jongin sembari melihat bagaimana frustasinya Jongin.

Jongin yang sedari tadi tidak mau melihat kamera masih diam. Dia merasa begitu nakal sekarang. Memohon pada kamera agar lubangnya diisi? Damn, dia seperti bottom-bottom binal yang sering ia lihat di video-video panas diinternet!

"Kim Jongin? Kau tidak mau melakukannya?" Sehun menusuk lubang Jongin namun mengeluarkannya lagi.

"A-aku.." Jongin mendesis kecil dan memajukan pantatnya agar jari Sehun kembali masuk namun tangan Sehun menahan paha Jongin, melarang Jongin untuk bergerak.

"Katakan atau kau akan kutinggal seperti ini semalaman."

"Mas-masterhh.." Jongin menelan liurnya dengan gugup. Perlahan matanya menatap lensa handy cam dengan sorot sayu yang menggoda. Terlihat jelas bagaimana frusati bersemayam dalam diri Jongin. "A-aku ingin…"

Sehun menunggu.

"Aku..aku ingin lubangku diisi.." Suara Jongin begitu lirih nyaris tak terdengar.

"I can't hear you dirty boy." Sehun masih menggoda lubang anus Jongin, belum mau mengisi lubang lapar itu dengan jari-jarinya.

"Tolong isi lubangku Master."

"Lebih keras!" Telunjuk Sehun mulai melesak perlahan, menimbulkan rasa nyeri dan gatal pada bagian bawah tubuh Jongin.

"Please Master isi lubang jalangku dan tusuk prostatku!" Jongin yang sudah tidak sabar menjerit keras. Sehun yang merasa puas segera menghentakkan dua jarinya sekaligus pada lubang Jongin, menghasilkan jeritan nyaring dari bibir Jongin.

Tanpa pelumas dan hanya dibantu dengan sisa-sisa sperma Sehun tentu saja Jongin akan merasa kesakitan. Tapi namanya sudah dibutakan oleh gairah, sakit seperti ini tidak sebanding dengan rasa nikmat yang akan Jongin rasakan ketika prostatnya dihujam oleh jari-jari gemuk Sehun.

"Ohhh…akkhhhh…Masterhhh..angghhh…disanahhh…" Sehun dengan cepat menemukan prostat Jongin dan menusuknya keras-keras. Jongin tanpa sadar membuka kakinya semakin lebar sehingga kamera bisa merekam dengan jelas bagaimana lubang merah muda itu menelan habis dua jari panjang Sehun.

"Angghhh…ohhhh…yahhh…f-fasterhh…please Masterhh..anghhh.." Jongin yang sudah begitu bergairah melonjak-lonjak diatas jari Sehun yang berada jauh didalam tubuhnya.

Sehun meremas handy cam ditangannya, puas dengan Jongin yang terlihat seperti betina buas yang sedang musim kawin. Dua jarinya terasa dipijat dengan ketat oleh lubang Jongin, jika itu penisnya pasti akan nikmat sekali….

"Kau suka dirty boy?" Sehun bertanya dengan suara serak. Mata Sehun menatap layar handy cam yang menunjukkan pantat sintal Jongin terus bergerak liar. "Lubang jalangmu sangat ketat Kim Jongin. Aku yakin dua jariku ini tidak cukup memuaskanmu.."

Jongin membenarkan ucapan Sehun dalam hati. Dua jari Sehun memang tidak cukup namun lebih baik dari pada tidak sama sekali. Jongin yang merasa kurang puas meraih penisnya sendiri dan mengocoknya cepat.

"Hands off! Kau hanya boleh keluar dengan dua jariku!" Sehun berkata galak dan Jongin segera menjauhkan tangan dari penisnya.

"Ohhh..Masterhhh…akkhhhh…gatal sekali Masterhhh…nyahhha…annghh…" Jongin sepertinya sudah lupa untuk merasa malu. Adanya kamera yang merekam seluruh tingkah binalnya tidak lagi membuat Jongin gugup, malah beberapa kali Jongin dengan sengaja menatap kamera dengan ekspresi menggoda.

"Cari kenikmatanmu sendiri dirty boy." Sehun menahan diri untuk tidak melempar handy cam ditangannya dan melepas boxernya lalu mengagahi Jongin sampai pemuda itu memohon-mohon untuk berhenti karena sudah terlalu lelah.

"Ohhh…akkhhh….Masterhh..hnnghhh…mmhhmm…" Jongin yang memang dasarnya binal semakin bersemangat dengan ucapan-ucapan kotor Sehun. Tidak butuh waktu lama bagi Jongin untuk merasakan sesuatu dibawah perutnya mulai mengencang.

"Baby penismu sangat basah.." Sehun mengarahkan kamera menuju penis mungil Jongin yang berguncang-guncang seiring dengan lonjakan Jongin pada dua jarinya. "Kau sudah dekat bukan? C'mon dirty boy, fuck yourself harder."

"Mmmhh…akkhhh…nyahh…ohhhh…." Jongin menggila.

"Show me how good you are Kim Jongin. Cum for your Master." Sehun membantu Jongin dengan menggerakkan tangannya menyambut gerakan pinggang Jongin yang naik turun.

"Ahhh…ohhh…I'm so..so…closehhh…akhhh…"

"Cum!" Sehun memerintah tegas.

Perintah itu mengirim jutaan kembang api dalam tubuh Jongin. Hanya karena perintah yang keluar dari bibir Sehun, Jongin bisa mendapatkan puncak dunianya. Sehun merekam momen menakjubkan itu dengan baik. Bagaimana tubuh ramping Jongin bergetar dan juga desahan nyaring keluar dari bibir penuh Jongin lalu semburan sperma manis yang mengotori paha jenjang pemuda itu.

"H-hyung tung-tunggu sebentar.." Jongin yang baru saja mendapatkan puncaknya tiba-tiba merasa rambutnya dijambak dan ditarik agar duduk oleh Sehun. Jongin tentu kesakitan, tubuhnya yang masih lemas hanya bisa pasrah dan menatap lensa handy cam.

"Suck me." Jongin yang masih berusaha menetralkan nafasnya menatap penis besar Sehun yang tiba-tiba sudah ada didepan wajahnya. Jongin tahu ia harus menurut jadi ia dengan lemah meraih penis itu dan mengocoknya perlahan.

Sehun rupanya tidak sabar. Sekali lagi dia meraih kepala Jongin dan menjambak rambut Jongin membuat Jongin mengaduh. Saat itu Sehun mendorong kasar penisnya kedalam rongga mulut Jongin.

"Hmmpphh…" Jongin tersedak, tentu saja. Namun dalam beberapa detik Jongin bisa menguasai diri dan mulai memanjakan penis besar itu.

"Good boyhh.." Sehun mengerang puas. Jongin malu mendengar pujian itu dan matanya berusaha menatap kearah lain asalkan tidak melihat kamera.

"Look at here Kim Jongin. Kau terlihat cantik dengan penis menyumpal mulutmu." Sehun menjambak rambut Jongin lagi agar mata Jongin menatap kamera. Sorot mata malu-malu dan sayu Jongin adalah kesukaan Sehun. Mengabadikan Jongin yang sedang mengulum penisnya adalah ide yang sangat hebat!

"Hmmpphh..hnghh.." Jongin mengerang tertahan. Pemuda ini mengulum penis Sehun sepenuh hati seolah ia adalah anak kecil yang sedang memakan es krim. Jongin terus mengulum, menjilat dan menghisap penis Sehun sampai lupa dengan kehadiran kamera. Penis Sehun memang bisa membuat Jongin lupa segalanya..

"Babyhh..your tongue is really talented.." Sehun meremas rambut Jongin agar pemuda itu menelan penisnya lebih dalam lagi. Kuluman Jongin memang memabukkan, lidahnya sangat berbakat memanjakan penis Sehun. Sungguh mengejutkan mengingat Jongin baru berumur tujuh belas tahun.

"Hmmhpphh…sshhh….mmhhmmm…" Jongin menikmati rasa sesak didadanya ketika penis itu membuatnya tersedak, juga aroma dari kejantanan kekasihnya itu. Hanya dengan mengulum penis Sehun saja, Jongin bisa merasakan penisnya mulai mengeras lagi.

"Shit babe.." Sehun menatap wajah sok polos Jongin yang sedang memandang kearah kamera. "Kau haus baby? Ingin spermaku? Hm?"

Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengulum penis Sehun semakin cepat. Lidahnya menjilati lubang penis Sehun dan meminum cairan precum yang mengalir keluar dari sana.

"Ohh..fuck..fuckk.." Sehun menekan kepala Jongin dalam-dalam. Jongin menatap kamera dengan wajah puas karena bisa membuat kekasihnya orgasme. "Shit you're so good. Drink it all baby, I know you like them.."

Jongin sebagai bottom yang penurut tentu saja menelan habis semua sperma yang tumpah kedalam mulutnya. Mata Jongin masih terus memandangi kamera dengan sorot mata sok polos dan lugunya. Sehun akan puas sekali nanti saat melihat hasil rekaman ini.

"Bagaimana? Enak? Kau suka?" Sehun mengusap sisa sperma yang tertinggal dibibir Jongin.

"Enak, bolehkah aku minta lagi?" Jongin menjawab dengan suara sok malu-malu. "Aku ingin sperma Master lagi untuk lubangku yang lain."

Sehun menyeringai lebar.

"Cockslut." Sehun bergumam lalu mematikan handy camnya dan membuangnya asal-asalan. Kini saatnya ia menghabisi Jongin sungguhan. Damn, dia tidak akan pernah bosan dengan pemuda binal semacam Jongin.

"Park, lima menit lagi kalau kau tidak duduk dihadapanku maka pertemanan kita akan selesai!" Jongin menutup panggilan pada seorang sahabat masa kecilnya bernama Park Chanyeol.

Siang ini Jongin janji bertemu dengan Chanyeol disebuah kafe didekat sekolah mereka—kafe yang sama tempat dulu Jongin dan Minho pernah makan siang. Chanyeol yang memiliki pekerjaan sampingan disebuah pet shop sering datang terlambat kalau membuat janji karena terlalu asyik bermain dengan hewan-hewan menggemaskan disana.

Jongin kan sudah lama tidak mengobrol dengan sahabatnya itu. Kalau tidak dia yang sibuk, Chanyeol yang sibuk. Apalagi dengan statusnya sebagai tunangan Sehun, kadang ia harus ikut hadir dalam acara-acara resmi dari perusahaan milik keluarga Sehun.

"Kim Jongin?" Jongin yang duduk dengan buku ditangannya terlonjak.

"Lu-luhan?" Jongin terbelalak melihat siapa yang berada didepannya. Kenapa pemuda ini tiba-tiba muncul disini?

"Jadi kau adalah tunangan Sehun?" Luhan dengan santainya duduk dikursi kosong didepan Jongin.

"I-iya." Jongin menutup bukunya dan menatap Luhan penuh tanda tanya.

"Kau tahu siapa diriku?" Luhan bertanya dengan nada bicara yang arogan.

"Kau mantan kekasih Sehun."

"Mantan?" Luhan mendengus dan tertawa. "Aku adalah belahan jiwa Sehun."

Jongin menggigit bibirnya mendengar ucapan Luhan.

"Aku dan Sehun dilahirkan untuk bersama. Tidak peduli sejauh apapun dia atau aku pergi, kami pada akhirnya akan bersama lagi." Luhan menatap Jongin tajam. Wajah cantik Luhan terlihat sinis dan meremehkan Jongin.

"Sehun Hyung mencintaiku." Jongin berkata pelan, berusaha membalas ucapan dingin Luhan.

"Mencintaimu? Sudah berapa lama kau mengenal Sehun? Setahun? Dua tahun?" Luhan bertanya dengan kesombongan yang kentara.

"Sat-satu..uh empat bulan.." Jongin nyaris mengungkap kebenaran jika ia dan Sehun sebenarnya baru berkenalan selama satu bulan.

"Empat bulan?!" Luhan terbelalak lalu tertawa keras. "Kau yakin ada orang yang jatuh cinta padamu dan rela memberikanmu segalanya setelah berkenalan hanya dalam waktu empat bulan?"

Jongin terdiam. Memang kisah cintanya dengan Sehun terdengar ajaib. Berkenalan dua bulan lalu bertunangan itu sudah sesuatu yang cukup mengejutkan. Padahal kenyataannya lebih mengejutkan. Bagaimana mereka berkenalan dan bagaimana mereka akhirnya bersama-sama seperti sekarang.

"See? Empat bulan itu bukan apa-apa dibanding aku yang sudah nyaris delapan tahun." Luhan melipat tangannya diatas meja. "Yang ingin aku tanyakan, apa yang kau lakukan pada Sehun sampai dia mau mengumumkan pertunangan kalian? Apa kau menawarkan tubuhmu? Kau terlihat terlalu muda untuk menjadi seorang pelacur."

"Aku bukan pelacur!" Emosi Jongin terpancing mendengar ucapan Luhan.

"Lalu dengan apa? Uang? Keluarga Sehun sangat kaya raya." Luhan masih terlihat santai.

"Sehun Hyung mencintaku dan aku mencintai Sehun Hyung! Kau hanyalah masa lalu Sehun Hyung!" Jongin ingin sekali marah dan mengeluarkan berbagai macam cacian pada Luhan namun sayangnya Jongin bukanlah orang yang ekspresif.

"Begitu kah? Sayang sekali kau salah anak kecil." Luhan tersenyum licik. "Aku hanya tidak ingin kau terluka Jongin. Tinggalkan Sehun karena dia milikku dan aku bukan orang yang suka berbagi."

Jongin memikirkan kata-kata apa yang bisa ia ucapkan agar Luhan merasa terintimidasi namun otak Jongin seperti macet. Rasa amarah dan takut pada Luhan membuat Jongin tidak bisa mengucapkan satu patah kata.

"Sehun tidak akan mungkin melukaiku." Jongin berkata penuh keyakinan.

"Memang bukan Sehun tapi aku yang akan melukaimu." Luhan berkata dingin dan berdiri. "Berpikirlah jernih Kim Jongin. Kau hanyalah pemuda yang menjadi tantangan bagi Sehun wajar saja jika dia tergila-gila padamu saat ini. Begitu ia bosan padamu ia akan kembali kepadaku. Meninggalkanmu tanpa menoleh lagi, seperti yang ia lakukan pada belasan mantan kekasihnya yang lain."

Jongin tidak sempat membalas ucapan Luhan karena pria cantik itu berlalu begitu saja dengan cepat. Kepala Jongin rasanya mau pecah karena perbincangan yang berlangsung mungkin hanya sekitar sepuluh menit. Dadanya bergemuruh dan matanya panas juga berair.

"Jongin!" Suara yang sangat Jongin kenali memanggilnya. "Siapa dia?"

Jongin tidak menjawab. Kepalanya masih terasa berputar.

"Jongin, kau tidak apa-apa?" Chanyeol bertanya cemas.

"Chan, dia itu Luhan. Mantan kekasih Sehun Hyung." Jongin berkata lirih dan Chanyeol membelalakkan matanya.

"A-apa yang dia lakukan padamu?" Chanyeol semakin cemas melihat Jongin.

"Dia menyuruhku meninggalkan Sehun Hyung kalau tidak ingin sakit nantinya." Jongin meremas tangannya yang berkeringat. "Dia bilang Sehun Hyung akan meninggalkanku karena selama ini walaupun mereka putus dan bertengkar mereka akan bersama kembali."

"Jongin astaga.." Chanyeol tidak tahu harus berkata apa. Chanyeol sendiri juga masih muda, hanya satu tahun diatas Jongin. Chanyeol juga tidak pernah terlibat drama kehidupan yang rumit seperti ini. "Kau…kau tidak percaya hal itu kan?"

"Aku tidak tahu Chan..hiks.." Jongin yang sedari menahan tangisnya mulai terisak.

"Hey hey jangan menangis.." Chanyeol berdiri dan pindah ke kursi kosong disebelah Jongin. Tangan panjang Chanyeol merangkul Jongin dan menepuk-nepuk punggung Jongin berusaha menenangkan.

"Hiks..aku takut.." Jongin terisak semakin keras.

"Ssshh, jangan menangis.." Chanyeol merangkul Jongin dan membelai-belai bahu sahabatnya lembut. "Semua akan baik-baik saja. Aku yakin Sehun Hyung tidak akan meninggalkanmu. Kau lihat sendiri bagaimana ia sangat protektif padamu. Bahkan padaku saja dia cemburu."

"Tapi..tapi..bagaimana kalau si Luhan ini benar? Aku dan Sehun Hyung baru kenal sangat sebentar. Bagaimana kalau Sehun Hyung akan kembali pada Luhan dan meninggalkanku?"

Chanyeol terdiam.

"Jongin, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan tapi aku cukup yakin jika Sehun Hyung sungguhan menyukaimu." Chanyeol berkata, berusaha meyakinkan sahabatnya.

"Aku baru mengenalnya selama sebulan Chan! Kenapa aku bodoh sekali langsung percaya kalau dia benar-benar mencintaiku!" Jongin mulai menangis lagi. Mengingat apa yang sudah ia lakukan bersama Sehun selama sebulan terakhir. Apa semua yang Sehun berikan padanya hanya cinta semu?

"Sebulan? Bukankah…" Chanyeol mengernyitkan dahinya bingung.

"Aku…aku…bukan tunangan Sehun Hyung.." Jongin memutuskan untuk jujur pada Chanyeol. Sahabatnya ini bukanlah pria ember yang suka bergosip, jadi tidak ada salahnya kan mengungkapkan kebenaran pada Chanyeol?

"Jadi sebenarnya…" Jongin pun bercerita. Mulai dari malam panas mereka yang berawal dari kejadian di gym hingga rencana keluarga Oh dan keluarga Kim yang akan ebrtemu malam ini untuk pertama kalinya.

"Astaga..astaga..astaga.." Chanyeol memijat kepalanya yang terasa pusing akibat cerita Jongin. "Kenapa kau tidak bilang?!"

"Aku malu! Mana mungkin aku bilang kalau aku ini sebenarnya hanya teman tidur satu malam Sehun Hyung!" Jongin berkata dengan pipi merah. "Tapi setelah beberapa saat aku mulai sungguhan menyukai Sehun Hyung! Sehun Hyung sendiri juga mengejar-ngejarku!"

"Well, walaupun aku terkejut dengan ceritamu. Tapi aku masih yakin jika Sehun Hyung sungguhan menyukaimu. Maksudku, mengumumkan pada dunia jika kau adalah tunangannya adalah langkah besar."

Jongin termenung.

"Katakan saja pada Sehun Hyung mengenai Luhan, dia harus tahu hal ini. Supaya dia bisa melindungimu karena…karena…si Luhan ini walaupun cantik tapi terlihat sangat licik dan jahat waktu bicara denganmu."

"Jangan! Jangan katakan pada Sehun Hyung!" Jongin menolak ide Chanyeol.

"Kenapa?"

"Aku takut jika aku cerita hal ini Sehun Hyung akan menemui Luhan dan mereka malah akan…akan…"

"Jongin, jangan konyol." Chanyeol berkata tidak percaya akan ketakutan Jongin. Menurut Chanyeol, Luhan akan dengan mudah menemui Sehun. Apalagi mengingat Luhan sepertinya tipe orang yang agresif dan berani.

"Aku tidak konyol. Biarkan seperti ini dulu. Aku juga ingin melihat apakah Sehun Hyung sungguhan menyukaiku atau aku hanyalah pelampiasan kesepiannya saja." Jongin berkata pelan dengan suara yang terluka.

"Kau masih meragukan hal itu?"

"Wajar kan? Aku dan Sehun Hyung memang baru kenal sebentar sekali.."

"Benar sih, wajar tapi aku tidak ingin kau bertindak gegabah dan memutuskan Sehun Hyung hanya karena persoalan-persoalan kecil." Chanyeol berkata bijak, ia tahu betul sifat sahabatnya yang sering kekanakan dan tidak berpikir panjang.

"Kenapa kau jadi membela Sehun Hyung? Bukannya kemarin kau bilang kalau Sehun Hyung galak dan arogan?" Jongin menaikkan sebelah alisnya.

"Jong, kau sudah sampai…sampai…tidur dengannya! Kau tidak boleh sembarangan putus! Lagi pula, walaupun dia memang sok-sokan aku sebagai sahabatmu yakin kalau dia adalah pria baik yang tidak akan menyakitimu."

Jongin tertawa mendengar ucapan Chanyeol.

"Tenang Park, aku itu pria. Tidak akan hamil seperti Baekhyun-mu!" Jongin tertawa sambil mengedip genit. "Aku berarti sudah lebih dewasa darimu Park! Aku sudah pernah merasakan bercinta!" Jongin menambahkan dengan suara pelan.

"Ya! Aku juga sudah pernah!" Chanyeol berkata dengan wajah malu.

"Sungguh?! Kenapa tidak pernah cerita?!" Jongin terkejut mendengar pengakuan Chanyeol.

"Kenapa hal seperti itu diumbar-umbar?" Chanyeol mengambil minuman Jongin dan menghabiskannya dalam sekejap.

"Ih kau tidak seru!" Jongin memukul Chanyeol, berharap pemuda itu membeberkan detail kisah malam panas pertamanya.

"Jongin, kenapa aku tidak tahu kalau kau itu ternyata mesum sekali? Pantas saja Sehun Hyung selalu menempel padamu, kau ternyata nakal dan mesum!" Chanyeol menatap Jongin dengan pandangan heran.

"Ih, Sehun Hyung menyukaiku bukan cuma karena tubuhku tahu!" Jongin merengut kesal. "Kau mau ku bagi koleksi video pornoku?" Jongin bertanya menggoda Chanyeol yang masih tidak percaya jika Jongin ternyata tidaklah sepolos yang ia duga selama ini.

"Tidak mau, video pasti penis dengan penis. Aku masih suka dada besar." Chanyeol menolak mentah-mentah, bergidik membayangkan video gay porn. Biarpun dia menerima Jongin yang gay sebagai sahabatnya, ia tetaplah normal dan sebagai pria normal menonton gay porn adalah sesuatu yang menjijikkan.

"Aku ada yang threesome dengan seorang wanita!" Jongin berkata sedikit terlalu keras hingga Chanyeol harus membekap mulut Jongin. Keduanya menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka lalu tertawa terbahak-bahak karena pembicaraan mereka yang begitu frontal ditempat umum.

"Jongin." Suara dingin yang Jongin kenali terdengar dari belakang dua pemuda yang masih tertawa-tawa.

"H-hyung.." Tawa Jongin berhenti seketika. Chanyeol pun begitu, tangannya yang tadi merangkul Jongin langsung ia turunkan. Takut dengan tatapan penuh amarah Sehun yang sepertinya bisa mengeluarkan laser.

"Ayo, kita harus bersiap-siap untuk acara nanti malam." Sehun menatap tidak suka pada Chanyeol.

"Hyung jangan begitu pada Chanyeol.." Jongin berdiri dan menarik Chanyeol untuk ikut berdiri.

"Aku tidak melakukan apapun." Sehun membela diri.

"Tapi Hyung menatapnya seolah dia adalah penjahat!"

"Sudahlah, ayo kita harus membeli beberapa barang!" Sehun yang enggan berdebat hanya menarik lengan Jongin agar mengikutinya meninggalkan kafe. Jongin melempar pandangan memohon maaf pada Chanyeol dan berkata ia akan menghubungi pemuda itu nanti.

"Kenapa kau itu sangat tidak peka sih?" Sehun berkata kesal pada Jongin setelah keduanya berada dalam mobil Sehun.

"Tidak peka apanya?"

"Kau masih bisa-bisanya mengatakan akan menghubungi Chanyeol nanti. Didepan pacarmu! Yang jelas-jelas tidak suka kau dekat-dekat dengannya!"

"Hyung, dia itu temanku. Teman baikku sejak kecil dan perlu aku garis bawahi sekali lagi kalau dia itu straight! Chanyeol sudah punya pacar! Hyung itu terlalu cemburuan!" Jongin berusaha menjelaskan pada Sehun dengan sabar. Yah, sabar ala Jongin itu ya seperti ini.

"Aku cemburu karena aku menyukaimu! Aku tidak ingin kau berpaling dariku sedikit saja. Aku tidak ingin ada orang lain berada dalam pikiranmu selain aku!" Sehun menyalakan mesin mobil dengan sedikit kasar.

"Hyung, aku hanya milik Hyung. Seluruh negeri tahu aku milik Hyung, bahkan seluruh dunia tahu jika Kim Jongin itu milik Oh Sehun. Jangan marah-marah lagi, oke?" Jongin dengan lembut mengelus lengan Sehun untuk menenangkan kekasihnya itu.

"Hmm.." Sehun menghela nafas panjang dan mulai menjalankan mobilnya. Sementara itu Jongin yang tahu Sehun masih kesal hanya diam saja sambil mengelus-elus lengan Sehun lembut. Baru sebentar mengenal Sehun tetap membuat Jongin mengerti jika Sehun itu orangnya mudah kesal walaupun kekesalan itu tidak pernah berlangsung lama.

"Hyung kita akan kemana?" Jongin bertanya pelan sambil bermanja-manja pada Sehun yang sedang menyetir. Satu hal yang Jongin pelajari selama sebulan terakhir, jika Sehun kesal maka yang perlu ia lakukan adalah bermanja-manja pada pria itu dan memasang wajah manis dan lugu.

Kalau Sehun marah pun juga begitu. Pernah Sehun marah sekali pada Jongin karena pemuda itu menginap disalah satu rumah teman sekolahnya tanpa mengatakan apapun padanya. Sehun marah besar dan Jongin hanya perlu melepas celananya. Kemarahan Sehun langsung surut digantikan gairah yang membuat Jongin kewalahan.

"Lihat saja nanti." Sehun menjawab dingin.

"H-hyung.." Jongin menatap Sehun dengan tatapan tidak percaya. Pemandangan didepannya membuat Jongin ternganga. Sebuah taman bunga didalam rumah kaca yang sangat sangat cantik. Sehun tahu betul jika Jongin menyukai mawar merah dan rumah kaca itu berisi mawar merah yang sedang mekar.

Ditengah-tengah taman itu ada sebuah tulisan besar yang juga terbuat dari mawar. Tulisan yang membuat Jongin tertawa malu, 'Kim Jongin I Love You'. Siapa yang tidak akan

"Sebenarnya aku sudah menghapalkan tiga paragraf kalimat-kalimat manis untukmu tapi karena aku masih kesal langsung saja ya." Sehun berkata datar dengan wajah masih sedikit kesal.

"Hyuuung.." Jongin merengek manja mendengar ucapan Sehun. "Aku kan sudah minta maaf dan Hyung juga tadi mengaku kan kalau Hyung itu kelewat cemburan.."

"Hm, aku sudah lupa kalimat-kalimat itu waktu aku melihatmu dirangkul oleh Chanyeol." Sehun berkata sinis. "Jadi, Kim Jongin, aku Oh Sehun, ingin memintamu menjadi tunanganmu. Kau mau kan?"

"Hyung menyebalkan!" Jongin dengan kesal memukul dada Sehun yang berdiri didepannya.

"Oke, kau mau. Sini tanganmu!" Sehun meraih tangan Jongin yang sudah dihiasi oleh cincin pertunangannya dengan Sehun yang dulu.

"Hyung kenapa membeli cincin lagi?" Jongin melihat Sehun melepas cincin pertunangan palsu mereka dan membuangnya sembarangan. "Sayang Hyung!"

"Cincin itu hanya mengandung sepuluh persen hatiku kalau cincin ini seratus persen." Sehun memasangkan cincin baru yang terlihat jauh lebih mahal dan cantik.

"Hyung sudah menyukai sejak saat itu?" Jongin bertanya dengan senyum lebar.

"Kau sangat manis dan menggemaskan. Dan kau tidak pernah bertanya-tanya tentang keluargaku atau siapa aku. Bagaimana aku tidak menyukaimu?" Sehun berkata dengan senyum diwajahnya. Pria tampan itu sudah tidak menunjukkan rasa kesal, bahkan pria itu sudah menatap Jongin dengan sorot mata penuh cintanya.

"Hyung sungguh-sungguh mencintaiku?" Jongin bertanya dengan suara tercekat. Rasanya masih tidak percaya Sehun sungguhan memintanya menjadi tunangan pria itu. Jongin teringat ucapan Luhan tadi siang. Tidak mungkin kan Sehun hanya sekadar menyukainya saja?

"Tentu saja aku mencintaimu sungguhan! Kenapa kau bertanya seperti itu?" Sehun memeluk pinggang Jongin mesra.

"Ti-tidak apa.." Jongin tidak berani menatap mata Sehun karena dirinya sedang dipenuhi oleh euphoria kebahagiaan yang amat sangat. Menatap mata Sehun pasti akan membuat Jongin menangis karena mata Sehun sangatlah indah dan akan membuat Jongin lebih emosional lagi. "Aku hanya…hanya..tidak percaya aku sudah bertunangan sungguhan…"

"Kau menangis?" Sehun menaikkan dagu Jongin untuk melihat wajah tunangannya.

"Hiks..Hyung sungguhan mencintaiku kan?" Jongin bertanya lagi sambil berusaha menahan air matanya. "Hyung akan mencintaiku selama-lamanya kan? Hyung tidak akan meninggalkanku kan?"

"Hey, apa terjadi sesuatu?" Sehun mengusap air mata Jongin.

"Hiks…aku…aku hanya senang sekali…" Jongin menenggelamkan wajahnya didada bidang Sehun. "Hyung ternyata mencintaiku..Hyung serius denganku.."

Sehun tidak tahu apa penyebab Jongin menjadi seemosional ini jadi dia hanya memeluk tubuh Jongin erat-erat dan membisikkan pada Jongin betapa ia mencintai dan mengasihi pemuda itu. Bagaimana Sehun ingin menghabiskan sisa waktu bersama Jongin dan menjadi tua bersama dengan anak serta cucu mereka.

"Hiks..Hyung…aku…aku…hiks..juga mencintai Sehun Hyung. Aku akan berada disisi Hyung sampai kapanpun, aku tidak akan meragukan perasaan Sehun Hyung lagi. Aku..aku…hiks…aku…"

"Sshh, aku tahu. Aku tahu.." Sehun menarik Jongin agar menatap wajahnya. "Aku juga sangat mencintaimu. Tidak penting bagaimana hubungan kita berawal yang penting kini kita menuju akhir yang bahagia. Aku akan memegang janjimu untuk tidak meninggalkanku selamanya."

"Aku berjanji Hyung." Jongin berkata mantap. Detik dimana Sehun menyematkan cincin pertunangan mereka, Jongin berjanji pada dirinya untuk tidak lagi mempertanyakan rasa cinta Sehun untuknya. Hatinya tidak akan mudah terusik oleh ucapan-ucapan orang lain seperti Luhan misalnya.

Yang jelas, Jongin berjanji akan mempertahankan Sehun andai nanti Luhan akan mengganggu hidup mereka. Karena Jongin bisa merasakan betapa Sehun mencintainya dan ia tidak ingin kehilangan orang yang tulus mencintainya.

"Good, karena aku juga tidak akan meninggalkanmu. Selamanya." Sehun mengusap air mata Jongin sekali lagi. "God, only if you know how much I love you…"

"I know Hyung, I love you so so much." Jongin membalas dengan senyuman diwajahnya.

"I think it's time for a kiss." Sehun berkata dengan senyuman lebar. Tangannya mendorong tengkuk Jongin agar lebih mendekat padanya. Jongin terkekeh pelan dan memejamkan matanya, siap untuk menyambut ciuman manis dari kekasih—ups, tunangannya.

Dua bibir itu bertemu perlahan. Penuh perasaan, lembut, dan menyisakan debaran pada dua insan yang berdiri ditengah taman bunga mawar tersebut. Sehun melumat dan mengecap bibir Jongin dengan sangat lembut. Menikmati rasa manis yang selalu menjadi candunya.

"Hmmpph…" Jongin mengerang saat Sehun menciumnya semakin dalam, ia membuka bibirnya untuk memberikan akses pada Sehun untuk melesakkan lidahnya. Sehun yang merasakan hal itu dengan cepat menautkan lidahnya dengan lidah Jongin.

Jongin mencengkram kemeja Sehun erat-erat. Ciuman Sehun memang selalu memabukkan, kakinya sudah mulai terasa lemas sehingga ia butuh sesuatu untuk berpegangan. Sehun juga memeluk Jongin semakin erat sementara tangan satunya masih menekan tengkuk Jongin.

"Mpphmm..Se-sehumphhh.." Jongin mengerang lagi. Tangan Sehun yang tadi memeluk pinggangnya perlahan turun menuju kebawah, menuju bokongnya.

KRINGGG! KRIIINGGGG!

Sehun dan Jongin terlonjak hingga ciuman mereka terlepas. Sehun merengut kesal sementara Jongin mengambil ponselnya yang berada disaku celana.

"Siapa?" Sehun menatap Jongin yang tidak juga segera mengangkat panggilan itu.

"Chanyeol." Jongin menjawab dengan suara pelan. Tahu jika Sehun akan kesal lagi karena Chanyeol mengganggu kegiatan mereka barusan. Lucu sebenarnya melihat Sehun yang cemburu seperti ini.

"Angkat sana!" Tuh kan Sehunnya bete.

"Ih, Hyung jangan marah dong. Hyung seperti wanita datang bulan saja." Jongin mencubit pipi Sehun dan mengangkat panggilan dari Chanyeol dengan senyum riang. "Halo Channie?"

"Halo Channie.." Sehun mengikuti ucapan Jongin dengan logat menyebalkan.

"Ah, kaset itu ada didalam laci meja belajarku." Jongin mencubit lengan Sehun melihat bagaimana sikap kekanakan Sehun. "Menonton? Besok siang?"

Sehun membelalakkan matanya.

Jongin mau nonton dengan Chanyeol?

"Siapa saja? Ada Minho Hyung?!" Jongin tanpa sadar menyebut nama kakak kelas yang pernah ia sukai.

"YA!" Sehun tidak bisa menahan kesabarannya lagi.

"Aku ikut Chan! Nanti aku hubungi lagi ya!" Jongin berseru dan menutup panggilan tersebut kemudian berlari meninggalkan Sehun yang kesal setengah mati.

"Kalau kau berani pergi besok kau akan benar-benar menyesal!" Sehun berteriak dan mengejar Jongin sambil bersumpah malam ini ia akan menghabisi Jongin agar besok tidak sanggup turun dari tempat tidur.

To Be Continue

Yeaaay tunangan beneran akhirnya merekaaaaa

Tapi habis gini badai menyeraaaangggggg

Tungguin Luhan beraksi yawwwww hihihi

Chapter ini panjang banget by the way.

6k words hihihi

Enaenanya gitu aja ya wkwkwk engga sampe inti hahaha

Terima kasih udah mau nungguin seri iniii

Dan jangan lupa review, kritik dan sarannyaaaa!

Gomawoooo^^