"Namaku Utakata, aku diberi misi oleh seorang pemimpin paling misterius dari Uzu untuk mengumpulkan mayat demi persiapanku menyempurnakan Edo Tensei yang coba kukuasai. Bersama Hotarou, kami akan berjalan di kegelapan malam, dipenuhi ulat belatung dan darah-nanah kebusukan, menggali makam dan bertemu hal penuh teror yang tak pernah terlintas di pikiran kami, bahwa semuanya terjebak dalam kondisi menyedihkan…"
.
..
…
"Namaku Utakata, aku adalah pengawal seorang pemimpin dengan karakter tak tertebak di dunia Shinobi. Aku Utakata, pengawal dari Yondaime Uzukage-sama!"
.
.
.
The Uzukage Hiden: Utakata-Hotarou Chronicles
Naruto By Masashi Kishimoto
The Uzukage main story by Doni and Icha Ren
Based on The Uzukage
Rate: M
Genre: Adventure-Mystery-Romance-Drama and Little Bit Horror
.
.
.
Selamat Membaca
Cerita ini bersetting 1 tahun 7 bulan pasca kehancuran Uzu
BAGIAN TAMBAHAN (Konan: Bagian apa ini?)
"Eto…sebelumnya aku akan mereview sedikit apa yang telah terjadi di chapter-chapter kemarin,"
Uzumaki Naruto berdiri di latar belakang yang putih sambil manggut-manggut dan memegang dagunya
"Cerita ini dimulai ketika mayat Uzukage terdahulu hilang. Aku meminta tolong (menyuruh) kepada Utakata dan Hotarou untuk mencari ketiga mayat tersebut bersama mayat-mayat dari desa lain untuk menyempurnakan Edo Tensei. Lokasi pertama yang didatangi Utakata dan Hotarou adalah Desa Lembah. Di sana mereka bertarung bersama Kelompok Petir yang dipimpin ole Fuushin dan harus berjibaku dengan Kerbau-Kerbau Penjaga Kuil Uzu yang suka menghisap puti-maksudku chakra. Ternyata Orochimaru menjebak kami dan Utakata bersama Hotarou kehilangan arah untuk menemukan lokasi 3 mayat Uzukage pasca bentrokan di Desa Lembah." Saat Naruto mem-flashback cerita yang kemarin, latar belakang putih di belakang Uzukage keempat menampilkan sekilas adegan-adegan yang telah diceritakan. Mari kita lanjutkan review dari Uzukage keempat…
"Cerita memasuki scene Uzu yang mana kedatangan Daimyo Negeri Teh menjadi pusat utama cerita. Shinnou-sama memintaku untuk menerima permintaan misinya, yakni menjaga anaknya, Putri Amaru, selama perjalanan menuju Negara Buah. Putri Amaru akan tinggal di Negara Buah selama 1 bulan untuk mempersiapkan pernikahannya. Latar belakang masalah ini sangat kuat. Pertikaian antara Negeri Teh dan Negeri Buah yang cukup lama membuat Daimyo Shinnou ingin mengambil jalan perdamaian…"
Tiba-tiba muncul Nagato dan Hachi yang bernyanyi "Perdamaian…perdamaiaaaan~"
"Pernikahan Putri Amaru dan Pangeran Negeri Buah adalah jalan perdamaian tersebut. Namun ternyata masalahnya lebih dari itu. Dua tim Ninja Uzu yang diminta Daimyo ternyata juga harus menjaga sang putri selama 1 bulan di Negara Buah karena takut adanya penyerangan dari Kelompok Radikal yang menentang perdamaian antara dua Negara,"
Nagato dan Hachi masih bernyanyi "Perdamaian…perdamaiaaaan~"
"Daimyo membeberkan masalah tentang senjata rahasia yang dikubur di tengah Hutan Aokigahara, benteng alami Negara Buah dan meminta dua Tim Ninja Uzu yang dikirim bisa menemukan senjata tersebut karena rute menuju Negara Buah melewati hutan itu. Aku pun mempertimbangkannya karena suatu celah yang bisa dibuka lebar,"
"Perdamaian…per-"
Nagato dan Hachi tepar seketika. Naruto berdehem pelan dengan wajah sedikit kesal "Kita tidak membahas tentang perdamaian lagi! O-oke, mari kita lanjutkan…"
"Mayat mungkin dikubur di sana, dan Utakata-Hotarou bisa menemukan celahnya!" mata Naruto melebar dan dia bersidekap dada dengan gaya angkuh. Senyumannya miring menandakan dia puas dengan review yang dilakukan.
"Kau melupakan satu hal,"
"Eh?!" suara seorang wanita yang terdengar datar membuat Naruto menoleh perlahan-lahan ke kanan.
"Aku tidak muncul di fic ini,"
"NANIIIII'!" Naruto memandang Shion yang berjalan mendekatinya sambil membawa selusin pasukan iblisnya.
"Bu-bukankah kau sudah muncul sayang?" tanya Naruto dengan senyuman kikuk.
("Ayolah…kau pikir menandatangi dokumen ini pekerjaan mudah. Aku lebih baik pergi mengunjungi istriku dan bermain-main di sana sambil memainkan seruling," kepala Naruto dipukul pelan oleh Nagato.
"Jangan berpikir seperti itu. Shion-sama juga melaksanakan tugasnya di Negeri Iblis." Nagato menghela napas dan berjalan meninggalkan ruangan Uzukage sambil melambaikan tangannya dengan malas. Naruto menopang dagunya dengan wajah bosan. Dia memandang kepulan asap di teh panas itu seolah-olah membentuk wajah menyebalkan Nagato.)
"Itu hanya klise atau sekilas tentangku, aku maunya benar-benar berdialog di fic ini…"
"NANIIIIII'! Tunggu dulu, bukankah sekarang kau sudah muncul?"
Shion semakin mendekati Naruto "Ini hanya bagian tambahan di chapter 7. Aku mau beneran…"
"NANIIIII'! Oh ya, waktu tambahan kita sudah habis jadi-"
"Akan kubunuh kau Naruto," Shion memandang ke depan "Dan untuk Author, tunggu saja…" kedua mata Shion bercahaya merah terang "…Aku akan datang ke rumahmu dan menjadikanmu roperty di Negarakuuu~"
Author: NANIIIIIIIII'!
BAGIAN TAMBAHAN, SELESAI
Chapter 7: Mata-mata dari Konoha
"SELAMAT DATANG DI PESTA RAKYAT UZU!"
Suara Michiru dan Hachi yang terdengar dari speaker besar dihiasi suara letupan-letupan kembang api di langit.
"Eh apaan ini?! Kok kita jadi pembawa acara?!" protes Hachi dan lupa mematikan mic-nya. Suara protesnya pun terdengar dari speaker.
"Mau bagaimana lagi, Uzukage-sama meminta tolong kepada kita…" ucap Michiru yang ingat untuk mematikan mic-nya. Mata Hachi bergetar tak percaya…
'Da-dari semua peduduk Uzu, kenapa kami berdua yang dipilih…apa di Uzu kekurangan karakter untuk-'
"Ya sudah, saya ucapkan selamat datang di Pesta Rakyat Uzu dalam rangka penyambutan kedatangan rombongan Daimyo Negeri Teh ke desa kami, jreng…jreng…bagaimana pendapat anda Hachi-san tentang pesta kali ini?" Michiru menjitak Hachi yang tidak merespon pertanyaannya.
"Aduh aduduh…kenapa kau menjitak kepalaku Michiru-taicho? Aku tidak lupa kok dialog kita…" lagi-lagi Hachi lupa mematikan mic-nya sehingga suaranya terdengar dari speaker.
"Baka, jangan berbicara di luar dialog saat mic-mu masih hidup. Kau memalukan Uzukage-sama saja!"
"Suaramu juga terdengar taicho…"
"Kubilang matikan!"
"Bai-baiklah…err, err…bagaimana mematikan mic ini ya?"
Hyuushhhh…keheningan terjadi di desa Uzu. Semua yang berdatangan ke tempat pesta rakyat hanya memandang datar keduanya.
"Baka…masa mematikan mic saja tidak tahu! Begini cara mematikan mic-nya, be-begini…lho, kok tak mati? Lho…kok…kok tak mati? Apa mic ini rusak?"
Kalau rusak, tak mungkin hidup. Perlu diingat, mic yang dipegang Hachi adalah model mic terbaru.
Kembali ke awal setelah kekacauan tadi. Uzumaki Michiru dan Uzumaki Hachi akan memimpin jalannya pesta rakyat ini. Kalau bisa dikatakan dengan tepat, pesta rakyat dalam rangka penyambutan rombongan Daimyo Negeri Teh lebih tepat ke festival olahraga karena acara yang diadakan nantinya banyak melombakan lomba-lomba berbasis olahraga. Lokasi pesta dilaksanakan di lapangan latihan Uzu nomor 3, yang merupakan lapangan pelatihan paling luas di Uzushiogakure. Dekorasi yang dilakukan para rakyat dan ninja desa menjadikan pesta rakyat saat ini begitu meriah. Panggung tempat Michiru dan Hachi berdiri adalah salah satu contohnya. Langit biru yang cerah menandakan pesta akan segera dilaksanakan.
"Selanjutnya adalah kata sambutan dari pemimpin desa kita, sang Yondaime Uzukage, Uzumaki Naruto-sama…" kata Michiru dengan suara dipenuhi semangat. Para warga Uzu berteriak penuh semangat dan bertepuk tangan sangat meriah. Tentu saja Naruto sangat dicintai para rakyatnya, apalagi setelah perjuangan sang Uzukage yang membangkitkan Uzushiogakure pasca kejatuhannya akibat diserang 5 desa besar beberapa waktu yang lalu.
Naruto muncul dengan balutan cahaya jingga keemasan yang indah. Ciri khas dari Hikari Sunshin sang Uzukage. Pemimpin desa Uzu itu berdehem pelan dan memegang mic yang diberikan Hachi, dia kemudian mengeluarkan beberapa pidato singkat tentang pesta rakyat tersebut.
"Terima kasih kepada warga Uzu yang mendekorasi serta mempersiapkan acara ini…sudah lama kita tidak bersenang-senang di Uzushiogakure. Saya harap Daimyo-sama dan rombongan menikmati apa yang ada di desa sedehana kami. Saya tidak ingin berpanjang lebar, tujuan diadakannya pesta yang seperti festival ini adalah untuk menguatkan hubungan antara rakyat dan sang pemimpin, antara yang dipimpin dan memimpin. Hm…saya harap, kita bisa bermain dan mengikatkan tali pertemanan lewat pesta ini, jadi…jangan sungkan untuk beradu melawanku atau melawan Daimyo-sama!" Naruto diberikan seekor burung merpati oleh Hachi. Pembukaan pesta rakyat akan disimbolkan dengan diterbangkannya burung merpati putih tersebut oleh Naruto. Sang Uzukage mengangkat tinggi merpati tersebut lalu menerbangkannya ke atas. Para warga Uzu berteriak senang dengan letupan kembang api yang berkualitas.
"Sungguh indah kan, Amaru?" kata Shinnou sambil tersenyum melihat burung merpati itu terbang beberapa saat lalu hinggap di kepala Naruto "Yondaime Uzukage punya cara tersendiri untuk menghibur kita dan rakyatnya…"
Amaru memandang ayahnya lalu melirik ke bawah. Dia tersenyum tipis dan membenarkannya di dalam hati.
"PERLOMBAAN PERTAMA, LARI ESTAFET!"
Daimyo yang ikut acara pertama langsung tepar di track yang dibuat warga Uzu karena faktor usia. Saat para pengawal elit Daimyo ingin menolong pemimpin mereka, Shinnou membuat tanda penolakan dan kembali bangkit untuk memberikan tongkat estafet-nya kepada salah seorang Uzumaki yang menunggu di checkpoint.
"OOY JIJII! LAMA SEKALI KAU SEPERTI SIPUT! PERLUKAH AKU MENENDANG BOKONGMU AGAR KAU BISA LARI CEPAAT!" teriak Uzumaki itu tanpa memperdulikan tatapan membunuh dari para pengawal Daimyo.
'Sepertinya Uzumaki itu menikmatinya…' batin Michiru dan Hachi dengan wajah sweatdropped.
"PERLOMBAAN KEDUA, MENUMBANGKAN TIANG LAWAN!"
"Aku tidak terlalu ingat namanya, intinya lomba ini dibagi dua tim yang mana setiap tim harus menjaga tiang mereka agar tidak ditumbangkan tim lainnya. Tim yang pertama kali berhasil menumbangkan tiang tim lain, maka tim itu-lah yang menang," Hachi memberikan sedikit informasi tentang lomba tersebut "JADI SEKARANG AKAN BERTANDING TIM YONDAIME UZUKAGE MELAWAN TIM DAIMYO-SAMAAA! EEH MATTE, KENAPA PARA KELUARGA DAIMYO BANYAK BERPIHAK KEPADA NARUTO-SAMA?!"
"Karena dia sudah tua…" jawab seluruh keluarga Daimyo dengan wajah tanpa dosa.
"ITU ADALAH DAIMYO KALIAAAAN!" teriak Hachi dengan wajah gusar.
"PERLOMBAAN KETIGA, LOMBA LARI TIGA KAKI!"
"Aku tak menyangka satu tim dengan anda, Amaru-hime…" kata Naruto sambil mengikatkan kaki kirinya dengan kaki kanan Amaru. Wajah Amaru merah padam. Naruto mengatakan hal tersebut sambil menatapnya dengan tatapan macho.
"Aku tak menyangka diikut sertakan dalam perlombaan ini!" kata Konan dengan alis kanan naik-turun sedikit kesal dan kedua tangannya masih ditaruh di belakang ala gaya formal penuh kekakuan.
"Kau tahu Konan, sekali-kali kau harus bersenang-senang…" kata Nagato yang sudah selesai mengikatkan tali di kaki kanannya dan kaki kiri sahabat bersurai birunya itu. Konan berdehem pelan dan menegakkan tubuhnya dengan gerakan kaku.
"Aku akan berlari tetap dengan posisi begini." Jawab wanita tersebut dengan nada tegas. Gayanya? Tentu saja kedua tangan di punggung serta tubuh yang berdiri tegak.
"BAGAIMANA BISA KAU BERLARI SEPERTI ITU?!" protes Nagato dengan mata melotot kesal.
"Inti dari perlombaan ini adalah kelarasan tiap pasangan," Naruto bersidekap dada dan memandang pasangan Nagato-Konan yang akan menjadi lawan mereka "Jika kau ingin menguji pasanganmu, lomba ini adalah salah satu media yang tepat. Perasaan tidak akan pernah membohongi sikap."
Amaru mengangguk kecil dan menundukkan kepalanya. Jika dia bisa selaras dengan Yondaime Uzukage berarti dirinya dan sang Uzukage satu…satu…satu hat-
"KITA MULAAAAI!" teriak Hachi tanpa memperdulikan Amaru yang ingin mengutarakan isi hatinya.
"Yoosh, lihat Michiru-san. Pasangan Naruto-sama dan Amaru-hime berlari dengan irama yang tetap dan konstan! Mereka berdua seperti dua orang yang sudah lama berada dalam satu tim di lomba lari kaki tiga!" Hachi memandang pasangan Nagato-Konan yang terlihat kesusahan. Kalau lebih spesifik, hanya Nagato yang terlihat susah. Konan berlari dengan tubuh tegak dan kedua tangan di belakang punggung.
"ADA LARI GAYA SEPERTI ITU?!" teriak Hachi kaget.
'Irama kami sama…irama kami sama…' Amaru memandang ke bawah. Tiap langkah kakinya dan kaki Naruto sangat stabil serta konstan. Kaki kanan Naruto melangkah, kemudian kaki kirnya ke depan, gentian kaki kanan Naruto, gantian lagi kaki kirinya. Dia dan sang Uzukage seperti dua orang yang telah tahu isi hati dari masing-masing pasangannya.
"Naruto-sama, jika anda berlari dengan aura romantis seperti itu, Shion-sama pasti akan menjadikan kepala anda properti di istananya!"
DONG~
Teriakan Nagato sukses menjatuhkan Naruto ke tanah. Amaru menggoyangkan tubuh Naruto yang tertelungkup tak bergerak di track lari kaki tiga. Sementara Nagato hanya memberi tanda hormat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu meninggalkan pasangan Naruto-Amaru hingga ke garis finish.
"LOMBA KEEMPAT, LEPASKAN TALI KELOMPOOK!"
"WHOAAAAAAAAAAA!"
Suara teriakan penuh kesenangan mengiringi pesta rakyat saat itu juga.
Sementara di tengah desa, Pangeran Tanktsu yang tidak mengikuti lomba berjalan-jalan bersama dua orang pengawalnya di jalanan utama Uzu. Saat pesta rakyat diadakan, banyak sekali para Uzumaki yang berlalu lalang dengan wajah gembira. Walaupun pernah merasakan yang namanya kehancuran, senyuman-senyuman para Uzumaki menunjukkan mereka telah bangkit. Tidak ada raut kesedihan lagi di sana.
"Kita mau ke mana lagi, Tanktsu-sama?" tanya Reto, satu dari dua pengawal yang setia mendampingi sang pangeran. Dia bertubuh besar, memakai armor khas penjaga elit Negeri Teh dan bermata tajam dengan iris hitam. Kulitnya kecoklatan dan tubuhnya benar-benar kekar.
"Aku masih mau melihat keadaan desa ini. Mungkin setelah ini kita coba mengamati kantor Uzukage keempat…" kata Pangeran Tanktsu dengan suara tenang, walaupun ada guratan kekhawatiran di wajahnya.
"Ternyata di desa ini menjual banyak sekali gulungan jutsu ya," komen Asamaru, pengawal Pangeran Tanktsu yang sedang memandang toko penjual scroll ninja di seberang jalan. Tanktsu mendengus pelan.
"Tentu saja…mereka adalah Uzumaki yang terkenal dengan kemampuan Fuinjutsunya. Yondaime Uzukage saja dikenal sebagai sang maestro Fuinjutsu. Dia sangat hebat dalam seni menyegel sesuatu."
"Terima kasih atas pujiannya."
Tanktsu dan dua pengawalnya menoleh ke belakang. Yondaime Uzukage sudah berada di belakang mereka sambil memegang jus jeruk di tangan kanannya "Yo Pangeran Tanktsu, anda sepertinya senang mengamati desa saya…"
Tanktsu menelan ludahnya perlahan "Y-ya…" jawabnya dengan kegugupan yang jelas "Anda tidak mengikuti lomba di pesta rakyat lagi?"
Sang Uzukage tersenyum tipis dan mengangkat jus jeruknya sejajar bahu "Giliranku sudah selesai." Jawab Naruto singkat.
Naruto mengajak Pangeran Tanktsu dan kedua pengawalnya untuk bersantai di Taman Uzushiogakure. Keempatnya berjalan-jalan di taman tersebut sambil membicarakan tentang Pesta Rakyat. Saat itu taman agak sepi karena para Uzumaki banyak menuju Lapangan latihan Uzu atau Training Ground Uzu nomor 3 yang berada di utara taman.
"Kenapa anda tidak mengikuti lomba yang diadakan kami dalam Pesta Rakyat, Tanktsu-sama?" tanya Naruto, yang kemudian menghisap jus jeruknya lewat pipet. Tanktsu menggaruk belakang kepalanya dan tertawa agak kikuk.
"Saya tidak terlalu tertarik dengan hal tersebut, Uzukage-sama. Maaf…"
"Lalu apa yang membuatmu tertarik di desa ini?"
Tanktsu menelan ludahnya. Dia memandang ke atas dan menggosok-gosok dagunya dengan tangan kanan.
"Sa-saya…saya senang melihat rambut-rambut merah yang berjalan di desa ini. Mengingatkan saya akan ketenangan desa."
"Hmm…rambut-rambut merah ya. Apa tidak ada hal lain lagi yang membuat anda tertarik? Semisalnya…" Naruto memandang sekitarnya. Tidak ada siapa-siapa di bagian sudut barat Taman Uzu, sang Uzukage bergerak cepat dan menjatuhkan Pangeran ke tanah, lalu mengunci kedua tangan Pangeran ke belakang.
"Tanktsu-sama!"
Mata Naruto menajam. Dia menghunuskan kunai ke leher Tanktsu sehingga pergerakan dua pengawal pangeran itu berhenti seketika. Mata biru Naruto melirik kedua pengawal itu dengan dingin.
"Pengawal yang sebelah kiri, siapa namamu?!"
"C-cih…apa maksud pertanyaan anda Uzukage-sama? Dan apa maksud anda menyerang Tank-"
"Jawab saja pertanyaanku!"
Asamaru, pengawal Pangeran Tanktsu yang bertubuh kecil dengan mata beriris coklat menghela napas perlahan. Dia mengatakan namanya dengan suara berat.
"Asamaru…"
"Bagus, kalau begitu…" Naruto melempar kunai yang ia hunuskan tadi ke lengan kiri Asamaru. Kunai itu menyabet kain di lengan kirinya sehingga sebuah tato familiar tertangkap retina mata Naruto.
"…Boleh kupanggil kau adalah Asamaru dari Konoha?" sang Uzukage tersenyum. Mata Asamaru melebar kaget, begitu pula dengan Pangeran Tanktsu dan Reto. Saat ketiganya saling bertatapan shock, Daimyo beserta beberapa pengawal dan keluarganya berjalan-jalan di Taman Uzu dan melihat kejadian tersebut.
"U-Uzukage-sama?! Apa yang anda lakukan terhadap anak saya?!"
Naruto melirik sekilas ke belakang, lalu kembali memandang tajam Asamaru. Jelas sekali terlihat pengawal Tanktsu itu dipenuhi rasa was-was. Setetes keringat jatuh dari dagunya menuju ke tanah.
"Kau adalah anggota Anbu Konoha. Respon-mu saat aku menyerang Tanktsu-sama benar-benar ciri khas gaya bertarung Anbu Konoha, lalu juga tato di lengan kirimu…" Naruto berdiri tegak lalu memasukkan kedua tangannya di saku celana "Dari mana aku tahu? Tentu saja…salah seorang guru-ku adalah pemimpin Konoha, Sarutobi Hiruzen-sensei sang Hokage ketiga!"
.
.
.
"Dari mana aku tahu? Tentu saja…salah seorang guru-ku adalah pemimpin Konoha, Sarutobi Hiruzen-sensei sang Hokage ketiga!"
Daimyo bersama beberapa pengawal dan keluarganya langsung mendekati lokasi kejadian. Shinnou berjalan mendekati Naruto lalu bertanya dengan nada sedikit keras.
"Kenapa anda menyerang anak saya?!" jelas terlihat nada kemarahan dari Shinnou. Naruto benar-benar yakin Daimyo Negeri Teh adalah tipe ayah penyayang.
"Tanyakan kepada anak anda yang membawa Shinobi Konoha tanpa izin ke Uzushiogakure…" jawab Naruto tanpa melirik sedikitpun ke arah Daimyo. Mata birunya tertuju kepada Asamaru yang terlihat sedikit ketakutan. Daimyo memandang Asamaru, lalu memandang anaknya. Pangeran Tanktsu terlihat gugup. Gaya penarik hati sang pangeran yang biasa ia tunjukkan, kini hilang.
"Aku mengerti bahwa Uzushio dan Konoha sudah berhubungan baik pasca jatuhnya Danzo, aku juga mengerti bahwa Negeri Teh dan Konoha memiliki hubungan baik masa lalu saat PDS ketiga…namun memasuki desa Uzu tanpa izin adalah tindakan fatal," Naruto menghisap jus jeruknya, membuat suara sedotan yang menandakan jus jeruk di cup-nya sudah habis, lalu meremukkan cup jus jeruk itu dengan tangan kanannya "Apa ada campur tangan dari Ho-"
"Maaf Uzukage-sama! Maaf juga Otou-sama!" Tanktsu langsung berlutut lalu menghujamkan keningnya ke tanah, menjatuhkan martabatnya di hadapan sang ayah dan sang Uzukage. Naruto mendecih tidak suka. Dia tidak senang melihat permohonan maaf sang Pangeran dan meminta Pangeran Tanktsu untuk berdiri.
"Aku hanya butuh penjelasan anda, Tanktsu-sama…" ucap sang Uzukage dengan nada tenang.
Daimyo memandang anaknya dengan raut kebingungan. Di rombongan keluarga Daimyo, Amaru yang juga mengikuti rombongan ayahnya mengepalkan tangan kanannya, lalu meletakkannya di bawah bibir. Dia juga kaget bahwa salah seorang saudaranya menjadikan Ninja Konoha sebagai pengawal pribadi.
Tanktsu berdiri perlahan. Dia memandang ke bawah, tidak memandang wajah ayahnya maupun wajah Naruto. Pangeran itu menjelaskan alasannya menyewa Asamaru sebagai pengawal pribadinya dengan nada sedikit bergetar.
"Anda pasti tahu hubungan antara Konoha dan Negeri Teh sangat baik. Sebenarnya Asamaru sudah cukup lama menyamar sebagai salah seorang Penjaga elit keluarga Daimyo, jika Otou-sama ingat sebuah permintaan kepada Sandaime Hokage-sama dulu yang isinya meminta salah seorang ninja berkualitas tinggi dari Konoha untuk melatih saya, Otou-sama pasti mengerti kenapa Asamaru dikirm dari desa tersebut…" Tanktsu mengangkat sedikit dagunya, dia kembali menundukkan kepala ketika memandang sekilas tatapan biru Naruto yang tidak berkedip sedikitpun.
"Asamaru adalah ninja Anbu Konoha yang diberi misi khusus untuk melatih saya agar menjadi pengganti Daimyo kelak. Saya dibebankan pada ilmu pemerintah, sosial, ekonomi, hubungan bilateral dan tuntutan menjadi kuat agar tidak terlalu membebankan saat diangkat menjadi Daimyo kelak. Asamaru ditugaskan untuk melatih saya agar menjadi lebih kuat, minimal bisa menjaga diri…" Tanktsu terdiam sejenak. Berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk meyakinkan ayahnya "…Hanya saja, misi yang dilakukan Asamaru tidak boleh diketahui siapapun karena perjanjian pra-perdamaian tersebut. kita tidak boleh melibatkan desa atau Negara lain di luar Negara Buah dan Negara Teh dalam intrik permasalahan internal. Bahkan rahasia ini jangan sampai diketahui oleh Otou-sama…"
"Sekali lagi, maafkan saya!" Tanktsu kembali menghantamkan keningnya ke tanah tanda dia benar-benar menyesal. Daimyo yang tadi memasang wajah terkejut karena anaknya merahasiakan hal besar kepadanya, perlahan-lahan wajahnya melunak. Dia berjalan mendekati anaknya dan mengangkat tubuh Pangeran itu perlahan.
"Sudahlah nak…aku mengerti," Daimyo memandang Asamaru yang masih tetap berdiri dengan wajah tak nyaman "Apa kau ada sepatah dua patah kata, wahai ninja Konoha?"
Asamaru mengatupkan kedua rahangnya sangat rapat. Dia berjalan mendekati Daimyo lalu ber-ojigi penuh khidmat. Anbu Konoha itu kemudian berjalan tegak mendekati Naruto lalu kembali ber-ojigi. Sang Uzukage tidak bergeming dari tadi. Dia hanya berdiri dalam diam dengan kedua tangan tetap di saku celananya.
"Maafkan kelancangan saya, Uzukage-sama…itu semua tidaklah salah Tanktsu-sama, hanya saja saya memang harus merahasiakan hal ini demi menjaga hubungan antara Negeri Buah dan Negeri Teh. Satu kali saja kesalahan kecil yang saya lakukan dan status saya ketahuan oleh Negeri Buah,"
"Konflik dua Negara akan berkobar bagai api dan mungkin tak mungkin akan terjadi perang. Benar kan, Ninja Konoha?"
Naruto melirik sekilas ke arah Amaru yang menyambung kata-kata Asamaru. Anbu Konoha itu menganggukkan kepala setuju. Semuanya memandang Yondaime Uzukage, menunggu keputusan dari pemimpin keempat Uzu tersebut. Jelas sekali bahwa keputusan tertinggi ada pada Naruto, karena kejadian ini terjadi di Uzu, yang merupakan desa pimpinan sang Uzukage keempat.
"Penjelasan anda sudah sangat jelas Tanktsu-sama…" Naruto menyengir dan menggaruk belakang kepalanya "Aku tidak mau merusak momen indah di Pesta Rakyat ini hanya karena seorang Ninja Konoha saja…" sang Uzukage berjalan dua langkah mendekati Asamaru dan menepuk bahu kanan ninja itu dua kali.
"Jaga amanahmu kawan. Jika itu perintah dari Sandaime Hokage-sama…laksanakan sepenuh hati," sang Uzukage memandang cup jus jeruk yang diremasnya "Aku harap anda semua tidak berbohong."
"Ten-tentu saja Uzukage-sama!" Tanktsu berdiri dan berteriak dengan nada penuh kecemasan "Saya mengatakannya dengan sepenuh hati!"
Daimyo memandang Naruto dengan tatapan sedikit tajam dan menganggukkan kepala, minta persetujuan dari Naruto. Amaru memandang bergantian antara saudaranya, ayahnya dan sang Uzukage dengan pancaran mata penuh penasaran.
"Haha," Naruto berjalan menuju tempat pembuangan sampah dengan tawa lepas "Santai saja…" dia memasukkan cup jus jeruk itu ke tempat sampah "…Bukankah penjelasan anda sudah jelas Tanktsu-sama?"
Tanktsu sedikit tersentak kaget lalu mengucapkan terima kasih. Semua yang ada di sana menghela napas lega. Amaru memandang wajah tenang sang Uzukage lalu memandang saudaranya yang sedang dibantu Reto dan Asamaru untuk berdiri tegak. Daimyo Negeri Teh juga menghembuskan napas lega karena kejadian tadi tidak membuat sang Uzukage marah.
.
.
.
Pesta Rakyat akhirnya mencapai sesi terakhir. Saat itu matahari sudah mulai terbenam, menandakan malam akan segera tiba. Semua rakyat Uzu dan rombongan Daimyo Negeri Teh bersenang-senang pada hari itu. Letupan kembang api penutup menghiasi langit sore, menjadi latar belakang Yondaime Uzukage yang membuat pidato penutup.
"Terima kasih semuanya. Terima kasih atas partisipasi anda, err…eto," Naruto memandang semuanya dan menyengir "Apapun yang terjadi, jadikan hari ini sebagai hari yang terbaik. Semoga ikatan antara Uzu dan Negeri Teh semakin erat dan kerja sama kita akan menjadi kerja sama terbaik di dunia shinobi. Selamat malam…untuk rombongan Daimyo selamat beristirahat karena besok pagi kalian akan berangkat meninggalkan Uzu,"
Terdengar suara rakyat Uzu yang terkejut dan berkomentar tentang hal itu. Beberapa terdengar sedih karena harus berpisah dengan teman sehari mereka. Beberapa Pangeran bahkan memeluk beberapa rakyat Uzu untuk memberikan pelukan perpisahan. Naruto yang melihat hal tersebut tersenyum tipis. Tujuan dari Pesta Rakyat telah tercapai, hubungan antara rakyat Uzu dan bangsawan Negeri Teh telah semakin dekat.
"Jadi sebagai hadiah penutup," Naruto mengangkat tangan kanannya ke atas "Mari kita nikmati Pesta Kembang Api yang indah!"
"YEAAAAAAAAAAAAHHHHH!" semuanya bersorak dengan gembira. Malam itu langit kelam Uzushiogakure dipenuhi warna-warni ledakan kembang api. Daimyo yang berkumpul bersama rakyat Uzu memandang langit penuh kembang api di Taman Uzushiogakure. Namun semuanya terkonsentrasi di Training Ground nomor 3 untuk melihat letupan-letupan indah tersebut.
"Mau melihat view yang lebih baik,"
Amaru menoleh ke kanan saat mendengar suara penuh wibawa Naruto. Sang Uzukage berdiri di samping kanannya dengan tangan kanan yang dimasukkan ke saku celana.
"Di mana itu?"
"Anda mau atau tidak?"
Amaru memasang wajah cemberut. Pertanyaannya dibalas pertanyaan. Dia akhirnya mengangguk walaupun terlihat malu-malu. Naruto memegang bahu Amaru dan menghilang dalam balutan cahaya emas yang indah.
Keduanya muncul di Tebing Gunung Matari. Amaru langsung meloncat dan memandang shock ke arah sang Uzukage. Wajahnya merah padam. Tentu saja dia sangat terkejut karena Naruto tiba-tiba memegang bahunya.
"A-apa yang kau lakukan tadi?! Kenapa aku dibawa ke tempat sepi seperti ini?!"
Naruto memasang wajah polos dan mengedipkan matanya "Kau. Mau. Ku. Bawa. Ke. Ran-"
"HYAAAAAAH! JANGAN LAKUKAN ITU DI SINIIII!" Amaru memukul bahu Naruto dengan gaya lucu. Semburat kemerahan muncul di kedua pipinya. Naruto hanya memasang wajah sweatdropped.
"Aku hanya bercanda, Amaru-hime…lihat," sang Uzukage menunjuk ke langit "…Kembang api itu sangat indah dilihat dari sini, saat melihat view letupan kembang api di langit, kita juga melihat view lampu indah di bangunan desa. Suatu pemandangan malam yang menakjubkan bukan?"
Amaru memandang wajah Naruto yang telihat sangat senang. Baru kali ini dia melihat ekspresi penuh emosi positif dari Yondaime Uzukage. Biasanya ia melihat wajah penuh ketenangan dari sang Uzukage.
"Maaf bertanya Uzukage-sama…apa ini tempat favorit anda untuk, semisalnya, merenung atau menyendiri di desa?"
Naruto menganggukkan kepala "Bukan hanya merenung. Aku ingin melihat keadaan Uzu dari sini, melihat keindahannya, melihat apakah desa ini tetap terjaga semasa aku menjabat sebagai Uzukage," Naruto teringat ketika dia melihat Uzu hancur pasca bertarung dengan Sandaime Kazekage, Sandaime Raikage dan 7 Shinobi Pedang Kiri "Aku juga pernah melihat view jelas dari kehancuran desa-ku akibat penyerangan 5 desa bsar."
Mata Amaru melebar ketika mendengar hal tersebut. Naruto menutup matanya dan memandang sang putri.
"Namun hime…saat anda terjatuh, walaupun terjatuh di lubang terdalam, bangkitlah! Walaupun itu penuh pengorbanan. Karena pada umumnya orang-orang akan melihat hasil. Ketika anda hanya terdiam seperti daging busuk di lubang kejatuhan, anda adalah orang gagal…tetapi ketika anda bergerak ke atas untuk bangkit dari lubang kejatuhan, anda adalah orang yang sukses,"
Dada Amaru bergemuruh, rangkaian kata Yondaime Uzukage membuat suatu kobaran api di hatinya hidup seperti diberi oksigen penuh kekuatan. Naruto kembali menutup matanya dan memandang ke depan, ke arah Uzushiogakure.
"Jadi, yakinlah bahwa anda juga bisa membantu Negeri Teh menjadi promotor utama dalam kedamaian. Ayah anda mempercayai anda, begitu pula diriku," Naruto tersenyum tipis "Yondaime Uzukage juga mempercayakannya kepada anda, wahai Amaru-hime."
Amaru menundukkan kepalanya. Saat letupan kembang api yang terakhir dan yang paling besar meledak di langit, mulutnya terucap beberapa bilah kalimat,
"Saya mengerti mengapa Shion-sama sangat mencintai anda, rasanya hati saya juga tertarik dalam pesona anda…"
DHUARRHHHH!
Naruto menoleh ke arah putri tersebut dan memiringkan kepalanya. Amaru mengangkat kepalanya dan menutup mulut dengan tangan kanannya. Apa Yondaime Uzukage mendengarnya?! Apa Naruto-sama mendengar perkataannya?!
"Hmm…wajah anda dari tadi memerah, apa anda demam hime?" Naruto memegang kening Amaru dengan tangan kanannya, Amaru langsung melompat ke belakang dan memasang posisi siaga.
"JANGAN LAKUKAN ITU DI SINIIII!"
"Ba-bagaimana kau memandangku sebagai seorang pria?" gumam Naruto dengan garis-garis suram di kening kanannya.
Amaru masih merasakan gemuruh di hatinya. Dia bersyukur sang Uzukage tidak mendengar ucapan pelannya tadi. Berterima kasih kepada suara ledakan kembang api terakhir yang mengaburkan ucapannya tadi.
.
.
.
Rombongan Daimyo pada pagi hari meninggalkan Desa Uzu setelah beramah tamah dengan pemimpin desa Uzumaki tersebut. Naruto memeluk erat Shinnou-sama dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Keduanya melepaskan pelukan dan memandang Putri Amaru yang berdiri bersama 10 pengawal elit Negeri Teh dan dua tim ninja Uzu. Rombongan Putri Amaru akan langsung bertolak menuju Negeri Buah, sedangkan rombongan utama Daimyo akan kembali ke negerinya.
"Anak saya…"
"Jangan membuat putrimu ragu, Daimyo-sama. Dia sudah siap membantu perdamaian antara Negeri Teh dan Negeri Buah dengan perjodohan yang anda buat."
Daimyo menghela napasnya. Terlihat jelas orang tua itu cukup berat melepas kepergian anaknya. Sang Uzukage mengerti hal tersebut. Dia memandang Michiru yang memimpin dua tim ninja Uzu tersebut. Benar-benar spesial bagi Amaru-hime karena dua tim ninja yang mengawalnya langsung dipimpin oleh Ketua Divisi Intel Uzu.
Naruto menganggukkan kepala, tanda bahwa perjalanan Amaru sudah siap dan bisa menuju lokasi target. Amaru melihat Naruto, lalu memandang ayahnya dengan tatapan sedih, namun sedetik kemudian wajah keras kepalanya ditampilkan dan dia memberikan isyarat kepada ayahnya bahwa dirinya yakin bisa membawakan jembatan perdamaian bagi Negeri Teh dan Negeri Buah.
Setelah rombongan Amaru pergi, Daimyo bertanya kepada Naruto bagaimana anaknya mau menerima dua tim ninja untuk mengawalnya dalam misi perdamaian tersebut. Naruto hanya menjawabnya dengan simpel.
"Dia sudah dewasa. Hanya saja rasa sayangnya kepada anda dan Negeri Teh membuatnya menolak keputusan awal."
"Anda sudah memberikannya pengertian?"
"Saya sudah memberikan sedikit saran dan Amaru-hime bisa menerimanya dengan bijak."
"Uzukage-sama, terima kasih banyak atas bantuan anda."
Naruto mengibaskan telapak kanannya tanda dia tidak melakukan apa-apa.
"Berterima kasihlah setelah misi ini sukses!" ucap sang Uzukage dengan nada tegas.
Kepergian rombongan Daimyo diiringi dengan lambaian tangan para Uzumaki dari dalam desa. Hachi yang masih memandang 16 kotak di monitor besar yang berada di kantor intel Uzu memutar cangkir kopinya di piring kecil, tidak ada yang berubah. Keadaan masih tetap aman sejak kedatangan dan kepergian rombongan Daimyo.
"Berarti tidak ada penyusup. Hmm…" Hachi memandang kopi hitamnya "…Mungkin Uzukage-sama lebih mengetahuinya."
"Bagaimana Naruto? Ada yang aneh?"
Nagato yang berdiri di samping kanan Naruto tersenyum memandang kepergian rombongan Daimyo yang semakin menjauh. Naruto menjetikkan jarinya dua kali dan Konan muncul di samping sang Uzukage dengan helaian-helaian kertas yang berterbangan ke segala arah.
"Sudah kau periksa Konan?"
Konan menganggukkan kepala "Tanktsu-sama memang masih berada di Negara Teh untuk menjaga negeri tersebut sesuai perintah ayahnya, dengan kata lain Tanktsu-sama yang bersama rombongan sekarang bukanlah Tanktsu-sama."
Mata Nagato melebar kaget "Jadi Tanktsu-sama yang berada di Uzu itu palsu?!"
Naruto menganggukkan kepala "Sejak mendengar cerita dari Daimyo bahwa beliau menyerahkan keamanan Negeri kepada Pangeran Tanktsu, aku langsung meminta Konan untuk memeriksa Negeri Teh lewat komunikasi dengan kepala keamanan di Negeri tersebut. Menurutku alasan Tanktsu yang berubah pikiran hanya karena ingin melihat keindahan Uzu adalah alasan bodoh. Nyatanya benar, Pangeran Tanktsu memang masih ada di Negeri Teh dan menjaga negeri tersebut selama ayahnya pergi. Konan memeriksa ulang berkas-berkas yang masuk ke bagian keamanan kita dan berkas tersebut sudah dimanipulasi,"
Nagato melirik ke belakang, ke arah para Uzumaki yang mulai berbalik menuju rumah mereka masing-masing karena rombongan Daimyo tidak terlihat lagi.
"Apa kesimpulanmu wahai Uzukage keempat?" tanya Nagato dengan nada serius.
"Ada dua mata-mata dari Anbu Konoha yang memasuki desa kita, Pertama adalah Asamaru yang ketahuan saat Pesta Rakyat dan yang kedua adalah Tanktsu palsu. Manipulasi berkas dan spionase gelap adalah kemampuan para Anbu Konoha…" Naruto memandang tajam ke depan 'Jiraiya-sensei…apa maksud anda memata-matai desa kami?'
Konflik saat itu semakin rumit dan berputar. Seperti yang dikatakan Naruto, Pangeran Tanktsu palsu dan Asamaru segera menghubungi Jiraiya lewat gulungan surat yang dihantar dengan hewan kuchiyose berupa seekor kelinci.
Dua hari kemudian, kelinci pembawa surat itu sudah sampai di Konoha. Surat tersebut langsung diserahkan kepada Jiraiya sebagai Hokage sementara karena memiliki tanda atau cap khusus di sampul gulungan surat. Jiraiya membuka ikatan scroll yang berwarna merah dan membacanya, matanya sedikit menyiratkan keseriusan tinggi.
Tidak ada tanda-tanda yang aneh di Uzushiogakure. Kami belum menemukan bukti bahwa kejadian pembunuhan 5 Kage mengarah kepada Yondaime Uzukage-sama. Hanya saja, sepertinya Naruto-sama tahu identitas kami. Sebuah 'tanda' sudah kami pasang di perbatasan Uzu. Informasi lebih lanjut akan kami sampaikan setiba rombongan sampai di Negeri Teh.
Jiraiya menutup gulungan surat tersebut dan memandang Kakashi yang berdiri tegak di hadapannya. Sang Hokage sementara menyatukan kedua tangannya di meja.
"Jika kita hanya mengirim 1 Anbu saja, misi ini pasti gagal…" Jiraiya memandang Kakashi dan memberikan perintah "Kakashi…kirim satu tim Anbu untuk mengawasi 'tanda' yang telah dipasang Asamaru dan Koukeno di perbatasan Uzu. Jangan sampai melepas mata dari pergerakan Yondaime Uzukage."
Kakashi menganggukkan kepala dan menghilang dengan sunshin. Jiraiya memandang pintu kantor yang tepat berada di hadapannya.
'Maaf Naruto…statusmu harus jelas. Saat ini kau adalah Uzukage yang paling dicurigai sekaligus ditakuti oleh 5 desa besar!'
Tiga hari setelah kepergian rombongan Daimyo dari Uzu,
Utakata mendapatkan surat yang diantar oleh burung elang dari Uzushiogakure. Surat itu jelas dari sang Uzukage keempat. Jinchuuriki itu memandang muridnya yang sedang tertidur di bawah pohon pada malam hari yang cerah dengan taburan bintang indah. Keduanya sedang berada di sebuah desa kecil dekat Negara Angin.
Utakata, pergi-lah ke Konoha dan buat sedikit kekacauan. Jika perkiraanku benar, maka kau akan melihat 'ekor' Orochimaru di sana. Setelah kau melihatnya, buat kekacauan segera. Kita akan menahan mereka untuk memiliki kepemilikan atas DNA para Hokage, karena DNA Shodaime Hokage adalah yang paling berbahaya.
Penuh cinta, Uzumaki Naruto.
Utakata menutup surat tersebut dan memandang ke atas, ke arah langit.
'Permainan apalagi yang ingin kau mainkan, Naruto-san?'
Sebelum memasuki fajar, ada senja yang menanti!
TBC
AN:
Simpel saja, ane tidak akan update sampai Bulan Juli karena libur lebaran dulu. Untuk pertanyaan dan jawaban semuanya mungkin akan ane jawab di chapter 8.
Intinya dari chapter ini adalah Naruto sudah mengetahui ada 2 mata-mata dari Konoha, Asamaru dan Pangeran Tanktsu palsu, namun membiarkannya karena ingin tahu apa tujuan dari Jiraiya mengirimkan para Anbu tersebut.
Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Sampai jumpa di chapter 8 dari fic ini,
Salam hangat, Doni Ren Tak Mingsuum
