Reyn-kun Walker kembali~~ setelah perjuangan neraka menghadapi UTS gila-gilaan yang sukses membuat saia SKS demi ngerjain tugas UTS yang menumpuk ampe nyaris subuh dan melek lagi pas subuh beneran karena masuk pagi—oke, oke… cukup curcolnya.

Many thanks buat yang ngereview di chapter sebelumnya: eX-sErvanT. renziev9x'y, Reiya Sumeragi, dan Laurellia dengan concritnya yang panjang lebar. Hiks, meski yang review kali ini makin dikit, still… thank you all~~ *hug*

Buat para silent readers dan… pokoknya semua yang udah nyempatin diri baca fic ini walau gak review, makasih juga… Biar apdetan saia juga makin lancar, lain kali review ya! *dijotos*

And… special thanks buat novel-novel Darren Shan yang udah sukses nge-recharge semangat hororku ampe full and refresh lagi! Hell YAY! Gyahahaha! I LOVE YA, DARREN SHAN~! XDD Your DEMONATA(s) really inspire me to the core!

Nah, let's back to the story… Siapa di antara kalian yang tebakannya di chapter sebelumnya benar…? (tapi kayaknya udah pada ketebak semua, deh. Tapi siapa yang alasannya paling mendekati kebenaran di bawah ini…?)


DISCLAIMER: D. Gray-Man belongs to Hoshino Katsura-sensei

WARNING: AU, Spiritual, Horror&Suspense (surprisingly INCREASE! YEAH!), BLOODY, a BIT gore in this chapter, unsure rating (between T-M, I don't know for sure…)


.

MEMENTO MORI

.

CHAPTER 6: Doppelganger

.

.

=LENALEE'S POV=

Ketegangan masih mengambang di udara.

Tiga sosok masih berdiri di tempat yang sama. Keheningan yang panjang masih mendominasi keadaan.

Salah satu sosok itu—aku sendiri—masih berdiri di sini dengan pistol di tangan, mengacungkannya pada dua sosok lain di hadapanku. Aku menatap tajam mereka berdua. Dua sosok yang tampak sama persis, dari segi penampilan tentunya… tapi aku tak mudah tertipu begitu saja.

"Mari kita mulai dengan sebuah dongeng dari kota ini. Sebuah cerita yang mungkin biasa diawali dengan kalimat 'pada zaman dahulu kala, di suatu kota kecil…', dan kini muncul begitu saja di kepalaku," ujarku.

"Ini adalah dongeng legendaris kota ini yang tersimpan dalam ingatan masa kecilku yang terlupakan. Di masa ketika penyihir masih banyak terdapat di dunia ini, di kota ini pun terdapat seorang penyihir terkuat yang telah berumur nyaris 1000 tahun. Ia suka menculik para penduduk untuk dijadikan tumbal, dan menciptakan anak buahnya dari emosi dan roh para korbannya. Mereka itulah yang di kemudian hari kita sebut sebagai 'akuma'…"

Dua sosok di depanku diam saja.

"Para akuma ini memiliki wujud, kemampuan, dan sifat individu yang berbeda-beda, salah satunya adalah tipe 'Doppelganger'," aku melanjutkan ceritaku. "Doppelganger adalah akuma berlevel lebih tinggi dari akuma biasa yang bisa menyamar menjadi siapa saja. Dengan mengambil wujud dari ingatan calon korbannya, ia mendekati mangsanya lalu menjebaknya untuk dimakan…"

Aku menatap kedua Lavi bergantian. Yang sebelah kiri adalah Lavi pertama yang menghampiriku, dan yang sebelah kanan adalah Lavi kedua yang baru datang.

"Mari kita dengarkan analisaku tentang Lavi," lanjutku lagi. "Pertama, aku tak pernah sekalipun dipanggil dengan embel-embel '-chan' sejak diadopsi oleh keluarga Bookman. Bahkan Lavi sekalipun selalu memanggilku 'Lenalee', atau 'Lena' untuk lebih singkatnya.

Kedua, kurasa seorang Lavi bukanlah sosok yang apatis, walau sedingin apapun sikapnya. Ia juga senantiasa menghargai keputusanku, walau itu bertentangan dengan keinginannya. Setidaknya, seorang 'Lavi' pasti tergerak dengan rasa ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di kota ini. Rasa ingin tahu yang besar adalah sifat khas keluarga Bookman.

Dan yang ketiga…" aku mengulum senyum simpul, lalu berjalan beberapa langkah mendekati mereka berdua. Lalu dengan gerakan tiba-tiba, aku mengarahkan pistolku pada Lavi yang berada di sebelah kiri. 'Lavi' tampak terkejut dengan tindakanku. Wajahnya terlihat pucat. "…kalau telingaku tidak salah dengar, kaulah yang tadi menyebut 'revolver Judgment', hm? Dari mana kau tahu?"

"A-aku tidak mengerti apa yang kau katakan…" ujar 'Lavi' pertama gugup. Ia menatap horor ujung pistol yang kini begitu dekat dengan batang hidungnya.

"Apa tidak masalah kalau aku membuat lubang angin di kepalamu, 'Kak Lavi'…?"

"JA-JANGAN! Masa' kau tega pada kakakmu ini! Lagipula sayang pelurumu yang tinggal empat biji itu, kan?" jeritnya panik. "O-oh ya! Kalau tidak salah, a-aku pernah membacanya di sebuah buku, di suatu tempat… Wajar kan kalau aku tahu? Aku kan 'Bookman'…"

"Setahuku, pistol ini adalah revolver berkaliber sedang khusus yang bahkan belum pernah kulihat dan kubaca di manapun, baik dari buku maupun internet. Aku bahkan meragukan jenis material perak yang digunakan untuk membuat pistol ini," ujarku sambil menatap lurus matanya. "Lalu, kalaupun kau MEMANG tahu pistol ini dari buku, bagaimana kau bisa tahu jumlah peluru di dalamnya? Apa di sana tertulis bahwa 'pelurunya tinggal empat biji', hm? Bagaimana penjelasanmu tentang itu?"

Aku menyeringai puas, 'Lavi' kehabisan kata-kata. Ia baru saja menggali kuburnya sendiri dan terjebak di dalamnya. Ia menunduk dalam-dalam, lalu tiba-tiba tertawa keras.

"HAHAHAHAHAHAHAH! Tampaknya aku sudah terlalu meremehkanmu, Lenalee Lee—atau Lenalee Bookman!" serunya. "Semua yang kau katakan itu benar! Aku adalah Doppelganger, akuma level dua yang ahli menyamar…"

"LENALEE! MUNDUR!"

Dengan sigap, Lavi menarikku yang masih belum sadar apa yang sebenarnya terjadi. Tepat beberapa mili detik setelah Lavi menarikku, tangan makhluk di hadapanku mendadak tumbuh kuku tajam nan panjang dan menyerangku tepat ke arah dahiku. Kepalaku pasti sudah bocor seketika kalau Lavi tidak segera menarikku.

Sosok Lavi palsu itu kini sudah tidak berbentuk 'Lavi' lagi. Kini ia menunjukkan sosok aslinya sebagai akuma. Berbeda dengan akuma-akuma lain yang pernah kutemui, ia lebih besar dan mengerikan. Ia menatapku nanar.

"Menarik… benar-benar menarik! Tidak salah lagi, kau pasti lebih lezat daripada manusia-manusia hidup yang pernah kumakan sebelumnya!" akuma itu menjerit-jerit riang. "Aku jadi makin menginginkanmu, gadis kecil!"

Makhluk itu melompat ke arahku dan menerjangku, namun aku berhasil menghindar. Gerakannya cukup cepat. Aku memungut pistolku yang sempat terjatuh saat Lavi menarikku. Ingin rasanya aku menarik pelatuknya dan membuat lubang di kepala makhluk jahanam itu, tapi jumlah peluru yang amat terbatas mengurungkan niatku. Aku takut jumlah peluru yang ada tidak cukup untuk menghabisinya—atau yang lebih parah lagi, tidak cukup untuk melindungi kami dari makhluk-makhluk neraka lain sampai kami bisa keluar dari sini. Kalau aku tidak salah ingat, Allen pernah berkata kalau pelurunya tidak tergantikan di dunia ini.

Makhluk itu masih terus mengejarku. Ia terlihat begitu bernafsu, begitu bersemangat untuk mendapatkanku. Lavi tidak tinggal diam. Ia menggenggam erat tongkat golf di tangannya dan memukul kepala makhluk itu kuat-kuat.

KRAAAAAAK!

Lavi terkejut, begitu juga aku. Pasalnya, suara itu bukanlah bunyi retakan kepala sang akuma, melainkan bunyi patahnya tongkat besi seberat 1-3 kilogram itu. Sekeras apa kulit makhluk itu sebenarnya?

"Kau pikir kau hebat, bocah?" iblis itu menyeringai, tersenyum mengejek pada Lavi. Serangan itu memang gagal total, tapi sukses mengalihkan perhatiannya dariku. Kini ia mengganti arah sasarannya, membalikkan badan dan mulai menyerang Lavi.

Aku mulai panik. Aku memang ketakutan ketika akuma itu menyerangku, tapi aku akan merasa sangat bersalah jika sampai Lavi terluka gara-gara aku. Ia sudah mempertaruhkan keselamatan jiwa dan raganya demi menolongku dengan ikut masuk ke dalam kota neraka ini, dan tidak adil rasanya jika ia mati hanya gara-gara itu—gara-gara aku.

Oleh karena itu, aku tidak ragu lagi menarik pelatuk pistolku. Lavi dan peluru pistol ini sama-sama tak tergantikan, tapi kakakku hanya ada satu-satunya di dunia ini. Mengorbankan satu kesempatan untuk melindungi diri demi saudaraku satu-satunya, kurasa itu harga yang pantas.

Suara letusan merobek malam.

Tapi bukan itu yang membuatku terkejut.

Asap tipis yang keluar dari moncong revolver adalah bukti kalau benda itu benar-benar meluncurkan isinya beberapa detik yang lalu, namun tak ada retakan maupun bekas luka dari sasaran yang kubidik. Aku sempat mengira tembakanku meleset. Hal yang kuingat saat aku menarik pelatuknya adalah kelebatan garis lurus cahaya putih keluar ujung benda yang kupegang, menembus langsung punggung sang Doppelganger, di tempat seharusnya jantungnya berada—seandainya makhluk itu memang memiliki jantung.

Beberapa detik kemudian—yang terasa bagai berjam-jam—makhluk itu menoleh padaku, terpatah-patah seperti gerakan robot.

Setitik demi setitik cahaya muncul dari tempat di mana peluru cahaya itu seharusnya bersarang di tubuhnya. Lama-lama cahaya itu makin menyebar ke seluruh tubuhnya dan titik-titik itu makin melebar, membentuk petakan-petakan cahaya putih yang menyilaukan dan seolah berdenyut di bawah kulitnya. Tubuhnya kini bagaikan kolam cahaya, dengan kulit bergelombang karena gelembung cahaya di bawahnya seperti memberontak keluar, hingga aku nyaris bisa melihat guratan-guratan otot dan garis-garis uratnya yang menjijikkan dengan jelas dari sini.

Lalu cahaya meledak menembusnya, dan begitu juga dengan tubuhnya. Aku dan Lavi menjerit ketika potongan-potongan tubuhnya melayang berhamburan ke mana-mana—daging, tulang, organ-organ tubuh. Darah busuk muncrat ke mana-mana, mengenai sebelah lengan jaketku dan sedikit pipiku. Aku memekik ketika potongan usus dan rahangnya menghantam wajahku. Lavi melompat menghindari otak dan bola mata yang terlempar ke arahnya.

Aneh rasanya, terlebih karena sesaat sebelum iblis itu meledak, aku sempat melihat kelebatan wajahnya yang tersenyum. Ya, tersenyum. Senyum yang sangat lembut—untuk ukuran iblis. Senyum yang mengingatkanku pada seorang anak kecil yang baru saja diberi mainan. Senyuman semacam itu. Senyum terima kasih. Tapi, kenapa? Dan untuk apa?

Beberapa detik kemudian, keheningan yang menakutkan dan tidak alami kembali melanda.

"Apa makhluk itu… mati?" bisik Lavi akhirnya, lirih.

Alih-alih menyahut, aku justru menatap horor senjata di tanganku. Sungguh dasyat pengaruh yang dimilikinya. "Aku… membunuhnya…?" gumamku ngeri.

"Tidak, Lena. Ia telah terbunuh sejak lama. Yang kau lakukan barusan hanyalah menyegel hawa iblis dalam akuma yang membelenggu jiwanya—jiwa manusianya—lalu tubuh iblisnya hancur karena tak kuat menahan kekuatan 'Judgment'. Ia sudah bebas sekarang…"

Aku terkejut dan spontan menoleh, mendapati Allen tahu-tahu sudah berada di sisiku lagi, seolah itu adalah sesuatu yang wajar. Mata kelabunya yang sayu menatapku lekat. "Allen?" gumamku.

"Judgment adalah senjata penyegel, bukan senjata penghancur. Senjata masterpiece buatan tangan Master Cross Marian, salah satu penyihir terhebat sepanjang masa… lebih dari seratus tahun yang lalu. Senjata itu mampu menyegel kekuatan jahat kaliber raksasa hanya dengan satu tembakan peluru, dan sekarang benda itu ada di tanganmu…" ujarnya lagi.

"Lenalee, kau bicara dengan siapa? Ada siapa di sebelahmu itu?" tanya Lavi yang berdiri agak jauh dari kami. Ah, setelah kupikir-pikir, ini pertama kalinya Allen menunjukkan sosoknya pada saat ada orang lain selain aku, mengingat momen pertemuan kami selalu pada saat aku seorang diri.

"Oh, jangan lupa mengingatkan saudara angkatmu untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata—sesuatu yang lebih kuat dan solid," kata Allen. "Waktu kita tidak banyak. Ayo kita—"

DONG… DONG… DONG… DONG…

"Oh, crap!" gerutunya dengan aksen British yang kental. Ia tampak sangat terganggu dengan dentang menara jam yang menggema dari kejauhan. Ia membalik badannya dan berlari. Setelah beberapa meter ia berhenti, menoleh padaku sejenak, kemudian kembali berlari-lari kecil.

Aku ragu sejenak, lalu memutuskan untuk mengikutinya. Aku terlalu fokus untuk mengejarnya hingga tak sadar keadaan sekelilingku berubah menjadi seterang siang layaknya dunia normal—walau masih dalam kungkungan kabut tebal—persis seperti saat aku berada di reruntuhan pasar itu…

=END OF LENALEE'S POV=

.


Sementara itu…

=LAVI'S POV=

"Apa-apaan ini?" decakku kesal bercampur putus asa. Bayangkan saja, rasanya baru beberapa jam yang lalu aku disapa teror dari para makhluk-makhluk anomali ini dalam jumlah yang mencengangkan mengepungku, sekarang aku harus menghadapinya lagi. Mereka muncul dari berbagai arah. Dari kegelapan,dari bawah bayangan, dari dalam tanah…

Dingin yang mencekam kembali berubah, terasa panas dan menyesakkan. Kota ini jadi seperti dilihat dari lensa berfilter merah. Kabar yang lebih buruk, kini aku sudah tidak punya senjata lagi untuk membela diri (karena sudah patah saat melawan Doppelganger).

Yang paling mengherankanku adalah Lenalee. Ia tampak tenang, bahkan terlihat tidak sedang berhadapan dengan apapun. Ia seolah memandang hamparan makhluk itu transparan bahkan nyaris tidak nampak. Ia bahkan kini seperti tidak merasakan kehadiranku.

Gadis itu mulai berjalan, lama-lama semakin cepat hingga seperti lari-lari kecil. Anehnya, para akuma itu tidak menyerangnya—lebih tepatnya, adikku itu berlari ke daerah-daerah yang terhindar dari serangan mereka, menyusurinya dengan wajar seperti tidak terjadi apa-apa, lalu melenggang pergi lagi. Ia melalui mereka semua seperti sedang berjalan santai melewati jalan setapak berbatu di tengah rimba akuma.

Aku hendak menyusulnya namun aku menemukan masalah baru: keselamatanku sendiri. Aku tidak tahu apa yang membuat Lenalee berhasil menghindari para akuma itu, yang jelas itu tidak berpengaruh padaku. Para akuma itu menghambatku, mengerubungiku dan menatapku seolah aku daging segar yang hidup—oke, itu memang benar. Dari situ saja ketahuan kalau posisiku ini berada dalam bahaya besar!

Satu akuma mencakarku, berhasil merobek lengan bajuku namun untungnya tidak terkena kulitku. Mengikuti naluri survival-ku, aku merunduk dan bergulingan di bawah kaki mereka, menggelinding mulus keluar dari kerumunan iblis itu, lalu masuk ke gedung terdekat dan naik tangga ke lantai 2—berharap bisa melihat celah untuk meloloskan diri dari kerumunan masif itu dari ketinggian sini. Salah ternyata saat kupikir aku telah lolos dari maut. Belum, sama sekali belum!

Para akuma itu benar-benar ada di mana-mana, beberapa bahkan terlihat bergelayutan di jendela-jendela gedung. Aku memekik saat tahu-tahu satu akuma sudah berada di belakangku dan mencekikku dengan empat tangannya yang menyerupai sulur. Aku megap-megap kekurangan oksigen, lalu dengan panik berusaha memukul dan menendang, memberi perlawanan sebisanya. Makhluk itu mendorongku ke arah jendela. Tubuhku menghantam kaca jendela, yang kemudian pecah… dan pecahan-pecahannya mengiringi tubuhku yang tertarik paksa oleh gaya gravitasi, bersiap mencium bumi…

Tapi itu tidak terjadi—belum sempat terjadi, lebih tepatnya, karena tepat semeter jarak tubuhku dengan tanah, akuma berwujud burung elang raksasa bermata satu menyambar tubuhku dan membawanya terbang. Ia memekik dengan suara yang melengking menakutkan. Aku mendongak, melihat 'penyelamat' hidupku. Dari tatapannya dan liur yang menetes saat memandangku, aku segera tahu kalau aku tidak terselamatkan. Aku hanya dioper dari satu bahaya ke bahaya lainnya.

Aku mulai berontak. Kucabut beberapa bulu dari kakinya sekaligus, dan itu membuyarkan konsentrasinya untuk terbang. Bulu-bulunya keras dan alot, tajam seperti pisau. Tak kusia-siakan cengkramannya pada tubuhku yang melonggar, aku melepaskan diri dan berusaha memanjat tubuhnya. Ia berusaha melawan, tapi percuma. Kuhujamkan bulu-bulu itu sekaligus ke matanya. Pekikannya menggema menusuk telinga.

Aku berubah panik saat keseimbangan makhluk itu goyah, oleng dan mulai menuruti gravitasi. Aku lupa kalau kami sedang berada ratusan meter dari permukaan tanah! Aku berpegangan erat pada leher akuma itu, tubuh kami berputar-putar seperti gasing dan jatuh tegak lurus ke bumi…

BAM!

.

Aku membuka mata, dan merasa agak pusing. Aku mencoba bangkit, menyadari aku mendarat di atas sesuatu yang empuk, hangat (tunggu, hangat?), berbulu, dan baunya sedikit anyir bercampur darah busuk.

Kami mendarat dengan mulus ke bumi, dengan akuma elang itu yang menghantam tanah terlebih dahulu. Batok kepalanya pecah dan kurasa tubuhnya juga remuk akibat benturan langsung dari ketinggian, sesuai hukum fisika. Aku meraba wajahku sendiri. Dingin, gemetaran, dan pucat kurasa, tapi aku masih hidup!

Kutatap sekeliling, rupanya aku mendarat di halaman sebuah panti asuhan—atau sekolah? Gedungnya kecil tapi berhalaman cukup luas, sudah tua dan tampak tak terawat. Pada papan nama yang sudah nyaris rubuh di depan gedung itu tertulis, "Wonder Orphanage".

Dari jauh, kulihat seorang gadis berjalan perlahan memasuki gedung itu. Rambut hitam panjangnya melambai seiring langkahnya. Lenalee!

Memang, terkadang bencana dan berkah itu perbedaannya hanya setipis kertas.

=END OF LAVI'S POV=

.


=LENALEE'S POV=

Jalanan sunyi dan lengang seterang siang yang berkabut tidak lantas membuatku merasa 'normal'.

Kedamaian yang tidak wajar menyeruak, menyusup ke dalam relung kecil hatiku sedikit demi sedikit, setiap kali aku meneruskan langkahku. Allen sudah tidak ada dalam jangkauan mataku, tapi naluriku mengatakan hal lain. Ada sesuatu yang familiar di sini, sangat familiar. Lebih dari itu, aku merasakan keterikatan yang kuat dengan tujuan kakiku melangkah kali ini.

Déjà vu.

Semak mawar merah dan putih masih tampak segar seperti terakhir kali aku melihatnya. Asrama mungil tempat anak-anak tinggal tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Anak-anak berlarian riang di halaman, bermain-main menikmati masa kecil mereka.

"Wonder Orphanage…" gumamku tanpa sadar.

"Ah, itu dia!" seorang anak kecil dengan topi dan google berseru sambil menunjukku. "Dia pulang! Leon! Dia pulang!"

Aku celingak-celinguk, mencari siapa yang dimaksud anak itu. Tapi kemudian aku sadar kalau dari awal aku datang sendirian ke sini. Berarti yang ditunjuk anak itu adalah aku?

"Wah, iya! Kau benar, Jean! Lena sudah pulang!" seru Leon, anak lelaki di sebelahnya. "Hei, semua! Lena sudah kembali!"

Anak-anak lain berhenti bermain lalu berlari menghampiriku, bersorak-sorak seolah mereka baru saja didatangi seorang juragan es mengepungku dengan suka cita lalu menarik tanganku, mengajakku mengikuti mereka masuk ke dalam panti.

Aneh rasanya, ilusi kali ini terasa begitu hangat dan nyata, juga manis. Ada secercah rasa rindu sejak aku masuk ke dalam sini, sedikit demi sedikit mulai melingkupi hatiku.

Aku ingat. Aku kenal mereka semua. Selain aku, ada tiga belas anak-anak yang tinggal di sini.

Cloud, anak perempuan yang paling tua dan dewasa di sini, tengah membaca buku dengan santai di dekat jendela, duduk di sebelah Marie yang tengah memainkan boneka puppet dengan benang tak terlihat. Cloud menjentikkan jarinya. Teko teh di sisinya melayang sendiri, menuangkan isinya pada cangkir, cangkir itu melayang ke tangan Cloud dan gadis itu menyeruput tehnya. Di dekatnya, Kanda tengah berjutek ria pada Tapp yang menggodanya. Jean dan Leon tengah bermain-main dengan Lala kecil yang masih balita. Alma tertidur merapat pada dinding, setengah melayang, lalu diselimuti oleh Timothy. Wisely, Tevak, Madarao, dan Fou bermain poker di tengah ruangan. Permainan selalu dimenangkan oleh Wisely, lupa kalau bocah bersorban itu bisa membaca pikiran mereka dan mengetahui semua isi kartu mereka.

Aku mengedarkan arah mataku ke setiap sudut ruangan ini. Suasana panti ini tak ubahnya potret kehangatan 'keluarga' yang sudah lama tak kurasakan dan kuingat. Wonder Orphanage, tempatku dulu berasal, di mana nyaris semua anak penghuninya memiliki potensi yang disebut sihir. Ya, kubilang 'nyaris', karena akulah satu-satunya yang—kurasa—tak memiliki bakat sihir.

Semua hadir di sini, walau hanya dalam bentuk ilusi. Semua… tunggu. Aku sepertinya melupakan sesuatu, atau seseorang. Aku baru sadar ada yang kurang di sini. Harusnya ada seorang lagi…

Di mana Allen?

Aku menatap sudut ruangan. Alih-alih menemukan Allen, aku malah melihat seorang gadis kecil berambut hitam panjang sebahu tengah menggambar dengan kecepatan di luar batas manusia. Anak perempuan yang sama dengan ilusi yang kulihat di reruntuhan pasar itu. Tapi anehnya, sepertinya tak ada yang melihat ataupun memedulikannya. Hanya aku yang bisa melihatnya.

Anak itu berhenti menggambar, lalu berdiri. Ia berjalan dan berhenti di hadapanku, menyerahkan buku gambarnya padaku. Dengan ragu aku menerimanya.

Gambar-gambar di buku itu nyaris semuanya familiar. Gambar tentang anak-anak Wonder, para akuma, pembantaian mereka terhadap penduduk kota—ilusi yang kulihat di reruntuhan pasar, bahkan momen saat aku menembak Doppelganger… Masih banyak lagi gambar, tapi kurasa semua gambar itu berkaitan satu sama lain.

Di halaman paling belakang, tampak gambar Allen tengah berjongkok di sudut kanan bawah, sepertinya berada di tengah sebuah jalanan. Di hadapannya tergeletak sebuah tangan—aku tak tahu milik siapa karena tangan itu muncul dari tepi kertas gambar—berlumuran darah. Nuansa kematian terasa kental di setiap goresannya, namun anehnya aku juga merasakan setitik kedamaian ganjil di saat yang bersamaan.

Apakah ini kekuatannya? Melihat masa lalu dan masa depan? Kalau iya, lalu siapa pemilik tangan itu? Siapa yang mati?

Aku mengalihkan perhatianku pada si pemilik buku gambar. Ia tengah menatapku. Pupil violet yang terhalang poni hitam panjang tengah memandangku. Aku balas menatapnya. Mata kami saling bertemu.

Perlahan, aku seperti tersedot dalam pusaran violet itu. Semakin dalam dan dalam… menyelam ke dalam sebuah ingatan, lalu melihatnya seperti menonton film handycam dengan angle sudut pandang orang pertama…

=END OF LENALEE'S POV=

.

~.T.B.C.~

.

.


Chapter yang cukup panjang… Lavi in action! XD

Kali ini saia mencoba menggunakan multiple PoV alias lebih dari satu PoV sekaligus dalam satu chapter demi memperjelas alur cerita yang makin kompleks ini. Bagaimana menurut kalian? Lebih nyaman atau justru malah mengganggu?

Terus terang, saia makin gak yakin dengan rating T yang saia labeli di fic ini. Apa seharusnya saia ganti rating jadi M, ya?

Kritik, saran, concrit, bahkan flame sekaligus (asal bermutu dan kalian punya alasan yang bagus), silakan… Kotak review terbuka lebar bagi kalian semua

Well, last words… as usual, still mind to give me some R&R…?