"Sebelum memakai pistol bidik otomatis, Nee-sama harus belajar mulai dari dasar—yaitu pistol manual yang masih menggunakan pejera." Jurina menyerahkan sebuah revolver pada Kyungsoo. Kyungsoo merasa ujung-ujung jarinya gemetar ketika menerima senjata itu dari tangan Jurina. Demi apapun di alam semesta, Kyungsoo adalah perempuan dan ia tidak pernah memegang senjata api. Mungkin terkadang ia bisa menggunakan pisau untuk melukai dirinya sendiri ketika dalam fase depresi bipolarnya—yang baru juga ia sadari semakin jarang muncul sekarang. Tapi, senjata api jauh berbeda dengan pisau ataupun cutter yang biasa ia gunakan.
Logam senjata itu tetap terasa dingin—padahal sudah cukup lama dipegang oleh Jurina. Telapak tangan Kyungsoo berkeringat.
Jurina tertawa, "Nee-sama gugup sekali! Tenang saja, rileks. Menembak tidak sesulit yang dipikirkan banyak orang kok." Gadis itu tersenyum lebar, "Pertama, Nee-sama perlu belajar membidik." Jurina mengambil satu lagi revolver kuno. Kaki dilebarkan selebar bahu, Jurina fokus pada kertas yang sudah diberi sasaran yang berjarak sekitar lima puluh meter dari tempatnya berdiri.
Kyungsoo tidak bergerak—sama seperti Jurina yang bahkan tidak mengedipkan matanya.
Jurina menarik nafasnya dengan tenang lalu mengangkat lengannya yang sudah memegang senjata—lurus dengan arah bidikan. Lengannya tidak gemetar sama sekali. Nafasnya masih tertahan. Jari telunjuk menarik pelatuk dengan perlahan.
DHOR!
Tidak dipungkiri Kyungsoo merasa kaget karena bunyi ledakan itu. Tapi hanya bunyi pertama, dua, tiga kalinya Jurina menarik pelatuk, Kyungsoo sudah terbiasa mendengarnya.
Tapi tetap saja telinga Kyungsoo berdenging—efek bunyi ledakan itu tetap ada.
"Wow, hebat sekali."
Jurina membuat wajah sangat senang—karena sudah dipuji oleh Kyungsoo. Gadis itu melompat sambil menunju udara dan berteriak, "Yes! Nee-sama memujiku!"
Jurina menggenggam tangan Kyungsoo dan menyerahkan pistol yang tadi baru saja dipakainya. Kyungsoo membulatkan mata—hendak menolak tapi, Jurina menatapnya penuh keseriusan. Mata gadis itu berubah. Air mukanya berubah.
"Nee-sama, hilangkan rasa takutmu dan cobalah gunakan senjata ini. Jangan pikirkan mengenai melukai orang lain, tapi, pikirkanlah untuk menyelamatkan dirimu demi orang lain."
.
.
Two Different (same) world © darkestlake
Warning of typo(s), OOC, AU, some smoking scenes, some crackpair moment yang terselubung maupun tidak, segala kesalahan yang ada karena saya hanya manusia biasa.
Charas aren't mine, saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam pembuatan cerita ini
.
.
Sehun menyeka keringatnya yang dingin, ia sudah terlalu lama duduk dengan posisi formal diatas karpet yang dilapis tatami*. Jongin terlihat jauh lebih anteng dengan posisinya dan diam-diam Sehun berpikir apakah saudaranya itu tidak merasa kesemutan.
Di depan mereka berdua ada seorang pria yang tengah merokok. Pakaiannya begitu rapi, berbanding terbalik dengan sikap duduknya yang menaikkan kakinya ke atas meja. Ketika batang rokok ketujuh yang ia hisap sudah habis, barulah ia menoleh ke arah Jongin dan juga Sehun.
"Meminta pengunduran diri?" pria itu menekan ujung punting rokoknya yang masih menyala ke asbak yang terbuat dari kaca, "Hmph, berani juga kalian."
"Aku mohon, Jongdae-hyung. Aku tidak bisa lagi bekerja untukmu mulai sekarang."
Pria bernama Jongdae itu mengulum ludahnya sendiri—mengais sisa-sisa rasa tembakau yang pahit bercampur manis dalam mulutnya sebelum meludahkannya ke samping. Jongin masih menatap dengan pandangan berani, Sehun meringis-meringis menahan kaki yang kesemutan.
"Alasanmu, Kim Jongin?"
Jongin menggigit bagian dalam bibirnya sedikit.
"Setujuilah saja, hyung. Aku sudah kesemutan duduk seperti ini terus sejak kau menghisap batang rokokmu yang pertama." Sehun bicara ketus, tidak peduli bahwa orang di depannya adalah bosnya dan juga Jongin selama mereka bekerja sebagai hacker dan pembunuh bayaran. Atau mungkin, dalam beberapa saat lagi akan menjadi mantan bos mereka.
Sedetik, Jongdae tersenyum. Saat itulah, Sehun tahu ia harus segera menghindari sesuatu.
Dor!
Keringat Sehun menitik.
Sial. Terlalu cepat—dan Sehun tidak punya reflek sebagus Jongin untuk menghindar.
Satu buah timah panas nyaris menembus pembuluh darah di lehernya. Sehun tentu merasakan bahwa amunisi yang baru saja ditembakkan Jongdae dari revolver perak antik kesayangannya sudah menggores kulit leher. Kulitnya terasa panas—melepuh akibat gesekan tersebut. Mata Jongin sama sekali tidak menatap pada saudaranya yang nyaris terbunuh, tapi, bola gelap dalam matanya berkilat marah. Suram yang mengerikan dihujamkan pada Jongdae dalam kadar habis-habisan.
"Tolong jangan bermain-main, hyung. Aku tidak akan segan melawanmu jika kau mencoba untuk melukai saudaraku meskipun cuma sedikit."
Jongdae tertawa keras, meniup sedikit asap yang keluar dari lubang laras senjata apinya, "Astaga, Jongin. Sejak kapan kau bisa semarah itu?" tertawa lagi seakan-akan ia hanya mengahadapi bocah umur lima tahun yang marah karena leher saudaranya diolesi lumpur oleh orang jahil. "Harusnya kau memberitahu saudaramu itu agar tidak bermain-main."
"Jangan mengulur waktu kami, hyung. Aku ingin segera pergi dari sini, entah dengan ijinmu untuk keinginanku mengundurkan diri, ataupun tanpa ijin."
"Wah, wah, jangan merajuk begitu, adikku." Jongdae tersenyum tipis, "Aku kan hanya menginginkan alasanmu."
Jongin tidak lagi menggigit bibir.
"Aku ingin melindungi istriku."
Ujung bibir Jongdae berkedut mendengarnya, "Haa?"
"Maaf tidak mengatakan apa-apa tentang ini, hyung. Tapi, aku sudah menikah," Jongin memberi jeda, jakun bergerak naik turun dengan cepat, "Aku menikah di Bumi."
Lengkung bibir Jongdae membentuk kurva ke bawah. Matanya berubah serius. Bulu mata yang cukup panjang untuk ukuran lelaki bergoyang sedikit ketika pemiliknya mengedipkan mata sekali. Lengkung yang mengarah ke bawah naik perlahan membentuk garis lurus.
"Istrimu manusia Bumi?" Jongdae bertanya dengan nada yang teramat datar hingga Sehun berpikir apakah atasannya ini tengah bertanya atau tidak.
Jongin beranjak berdiri, menjawab mantap disertai anggukan.
"Ya."
Jongdae tersenyum lebar dengan mata melotot tajam, "Hoo, hebat."
Perasaan Jongin mendadak tidak enak. Sehun sudah beringsut menjauh dan berdiri sejak tadi. Tanpa disadari oleh Jongin, sebuah tendangan secepat peralihan lirik bola matanya nyaris menghancurkan wajahnya.
Jongdae memang tidak tanggung-tanggung dalam menyerang. Meski ia tergolong pendek, tapi tendangannya bisa mencapai setinggi wajah Jongin. Pria itu tersenyum sekali lagi saat melihat Jongin melompat menjauh. Pria yang lebih muda menyentuh pipinya.
Rasanya kebas. Jongdae berhasil menendang pipinya—meskipun pelan karena Jongin sudah sempat menghindar.
"Aku tidak akan membiarkanmu kabur dari sini bagaimanapun caranya, Kim Jongin. Kau dan saudaramu itu adalah aset berharga bagi usahaku, sebuah kehormatan ketika kalian menyetujui tawaranku untuk bergabung saat itu. Mindset kalian sebagai pahlawan kebenaran memang sesuai dengan harapanku." Jongdae tertawa, menyandarkan pinggulnya di pinggiran meja kerja, merogoh satu sigaret lagi beserta pemantik untuk menyalakan rokoknya. Asap disedot, dihembuskan dengan cara terlatih—karena ia tidak tersedak ketika meneruskan bicaranya sambil membuang asap kaya nikotin itu, "Karena itulah, jika kau ingin mengundurkan diri, cobalah hadapi aku."
Mata Jongin berkilat tertantang. Pemuda itu sedikit menggeser posisi tumitnya—begitu pelan hingga Jongdae dan Sehun sama sekali tidak menyadari pergerakan tersebut. Secepat gerakan Jongdae, Jongin melepas sebuah tendangan. Jongdae berhasil menghindar—tulang kering Jongin membentur meja kayu jati yang tadi disandari Jongdae.
Sisi meja kayu penyok dan sudut bibir Jongdae yang tersenyum terlihat robek dan mengeluarkan sedikit darah. Rokok yang baru dinyalakan dibuang begitu saja kemudian diinjak hingga puntungnya yang masih menyala padam. Bos mafia pembunuh menitikkan sedikit keringat jika memikirkan seperti apa kiranya bentuk wajahnya kalau tendangan Jongin tepat sasaran.
"Tidak salah aku sangat menyukaimu, Jongin. Kau memang anak didik kesayanganku." Ujarnya disertai kekehan lirih.
Jongin melirik ke arah Sehun, berkata dingin, "Keluar dari ruangan ini sekarang juga, Sehun."
Sehun terlihat tidak setuju, ketika bungsu kembar ingin menjawab, Jongin sudah menembakkan satu amunisi ke daun pintu keluar—besi yang jadi bahan dasar pintu itu sudah berlubang.
"Kau pura-pura bodoh atau apa, Sehun? Aku sudah menunjukkanmu pintu keluar tapi kau masih disini."
Jongin benar-benar ingin ia keluar.
Sehun berdecih, melangkah menuju pintu keluar setelah sebelumnya membisikkan sesuatu.
"Jangan bunuh dia, Jongin."
.
.
Puluhan sasaran yang dipasangi Jurina di berbagai sudut ruang latihan tembak sudah berlubang seluruhnya. Gadis dengan rambut hitam sebahu tersenyum puas, melirik Kyungsoo di sebelahnya yang terengah pelan. Menembaki seluruh sasaran yang dipasangi Jurina di setiap sudut ruangan membuatnya seperti kehabisan nafas. Tanpa peduli, Kyungsoo menyeka asal-asalan keringat di dahinya.
"Orang-orang bilang, menembak juga bisa dijadikan hobi." Jurina meraih revolver yang sebelumnya dipegang Kyungsoo, mengosongkan kelongsong amunisi. "Apa nee-sama sudah merasakan sensasinya?"
Jurina mengisi satu amunisi lagi di pistol itu, mengarahkan tangannya ke depan. Rupanya ada satu sasaran yang belum ditembak Kyungsoo. "Kau bisa merasakan ketegangan saat membidik, berpikir apakah ini pas atau tidak. Sadar atau tidak, peganganmu akan semakin mengerat."
Kyungsoo masih berusaha mencerna ucapan Jurina.
"Lalu kau mulai mengumpulkan keberanian untuk menarik pelatuk. Tarik perlahan dan jangan memaksakan diri. Semua akan mengalir dengan sendirinya, lalu—"
Dhor!
"—dia akan keluar. Menuju sasaran dengan tepat. Dan setelahnya, seorang penembak akan merasa sangat lega. Rasanya seperti mengumpulkan adrenalin dan membuatmu berani menyelesaikan masalahmu dengan cara lembut, tapi tegas.
"Eh, tapi itu menurutku saja sih. Soalnya aku sudah diberikan senjata api sejak umur sembilan tahun." Jurina terkekeh malu-malu sambil menggaruk pelipisnya.
Kyungsoo tersenyum, menyadari bahwa Jurina sudah memberikan satu filosofi yang sangat berharga. Mungkin memang benar jika gadis lima belas tahun ini adalah pembunuh, tapi sejujurnya ia bukan ingin membunuh.
Jurina hanya ingin menikmati hidupnya—gadis yang masih mencari jati diri dengan cara membidik—menembak. Bahkan seorang pembunuh pun memiliki hak.
Bahkan, Jongin pun pasti memiliki hak.
Kyungsoo tersenyum sedih. Berjalan pelan ke sofa di sudut ruangan untuk duduk. Jurina setia mengekori di belakang.
"Omong-omong, kenapa nee-sama bisa menikah dengan Jongin-shissou?"
Jurina bertanya begitu polos—dan agak blak-blakan bagi Kyungsoo. Kyungsoo sempat membuat garis lurus di bibirnya sebelum tersenyum begitu tipis. Jurina yang menatapnya masih melontarkan pandangan tanya. Ia sulit mengerti—tidak, pengetahuannya tentang bersosialisasi yang terlampau kerdil masih membuatnya tidak mengetahui bahwa senyum tipis dan tatapan sedih itu kentara sekali memperlihatkan kesedihan.
"Aku pikir sebenarnya aku dan Jongin tidak seharusnya menikah." Kyungsoo berjeda, mengamati air mineral dalam botol di atas meja yang masih tersegel rapi oleh tutupnya. Melirik Jurina yang sepertinya sudah ingin minum tapi menahannya demi mendengar cerita Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum tipis lagi, "Kami berbeda. Sangat jauh. Bahkan tempat tinggal kami pun terlibat perang dingin."
Kyungsoo tertawa hambar. Entah kenapa mengingat pernikahannya dangan Jongin membuatnya begitu sensitif saat ini. Hatinya serasa dipulas oleh mesin penggilas tebu. Nyeri.
"Aku hanya perempuan tidak normal, dinikahkan dengan pembunuh bayaran berdarah dingin tanpa secuil ekspresi di wajah. Awalnya aku tertarik padanya, tapi kemudian aku sadar. Aku dan Jongin sama sekali tidak memiliki titik temu."
Cairan dalam limpa-nya seperti diperas dan Kyungsoo merasa seperti ingin menangis.
"Jongin sebagai pembunuh memang jahat, tapi sebagai pembunuh ia juga baik. Konyol sekali ia dan Sehun, berlagak seperti kawanan Robin Hood, sampai-sampai ia tidak sadar kalau ia sudah menikah."
Kyungsoo menggosok matanya, "Astaga, apa yang kupikirkan selama ini? Kenapa aku memilih untuk terus bersama dengannya?"
Jurina sudah sepenuhnya lupa pada keinginan menggebu untuk minum.
"Nee-sama—"
Suara Kyungsoo tercekat untuk melanjutkan, "Kenapa aku—"
—begitu mengharapkannya?
Latihan pertama membela diri berakhir dengan Jurina yang memeluk Kyungsoo—berusaha menenangkan.
Botol air mineral baru terminum ketika mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Taehee.
.
.
Jongdae terduduk di sudut ruangan dengan bibir yang bonyok. Darah mengalir dari pelipisnya dan nafas pria itu sudah pendek-pendek. Tidak terhitung lagi tendangan dan pukulan yang sudah menyapa rusuknya hingga hanya untuk menarik nafas saja rasanya nyeri luar biasa. Jongdae menyeringai, seandainya tulang rusuknya selunak jerohan, ia yakin bagian dalam dadanya sudah selumat bubur. Hancur selunak-lunaknya.
Kim Jongin berdiri di depannya—kondisi wajah memar di pelipis dan di hidung. Satu liang pernafasannya mengalirkan darah yang sepertinya sudah diseka dengan kasar. Satu tangan menodongkan pistolnya tepat ke mata kiri seorang Kim Jongdae—bos mafia yang juga pernah jadi bosnya selama ia bekerja untuk membunuh orang.
Jongdae terkekeh—meski jelas terlihat bahwa ia memaksakan diri. Pasti rasanya sesak nyeri sekali untuk sekedar tertawa.
Menantang Kim Jongin sama saja seperti menantang kematian.
Jongdae berhenti tertawa, menundukkan kepalanya. "Kau mau membunuhku, Jongin? Pilihan yang bagus, kupikir aku juga sudah tidak punya muka untuk disebut pimpinan jika aku sudah dipermalukan seperti ini."
Bibir Jongin berkedut perih. Jantungnya berdebar.
Ah, pesan Sehun.
Jongin menurunkan senjatanya. Menundukkan kepalanya—menatap Jongdae yang sama sekali tidak ingin bersitatap dengannya. Pemuda yang memegang pistol menghela nafas.
"Hyung, aku sama sekali tidak berniat mempermalukanmu. Karena itulah aku tidak mau membunuhmu."
Jongdae menatap Jongin. Akhirnya berminat juga menatap kembali wajah mantan anak buahnya. Pria yang lebih tua hanya ingin mendengarkan suara Jongin lebih lanjut.
"Aku hanya melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku hanya ingin mendapatkan hal yang kurasa aku berhak melakukannya."
Jongin membalikkan badannya, "Dengan ini sudah selesai. Aku bukan lagi anak buahmu."
Jongdae tidak tahu lagi harus berekspresi seperti apa—selain karena ia setengah mati merasakan nyeri hingga fokus sensorik di otaknya tersita, ia juga masih belum selesai mencerna apa yang sudah Jongin katakan.
"Dan jangan berani-berani mengundurkan dirimu setelah semua ini, hyung. Bagiku kau adalah orang yang hebat karena nyaris tidak ada orang yang memiliki keberanian sepertimu."
Ketika Jongin membuka pintu keluar yang sedikit dinodai darah—entah itu darah siapa Jongdae juga tidak peduli. Ia hanya mengumpulkan tenaganya dan berusaha menahan semua rasa nyeri ketika ia berteriak.
"Jangan menghadapi Dewan Negara dan pihak Bumi sendirian, Jongin! Kami akan dengan senang hati membantumu!"
Jongdae tahu teriakannya tidak terlalu keras seperti biasanya meski ia sudah nyaris tersedak darahnya sendiri ketika memaksakan diri berteriak.
Tapi ia tahu bahwa Jongin mendengar suaranya.
"Terima kasih, hyung."
Balasan itu diberikan ketika sudah menutup pintu—entah karena belum terbiasa atau gengsi karena tidak pernah berterima kasih, Jongin mengucapkannya dengan mengetahui fakta kalau Jongdae pasti tidak mendengar suaranya.
Sehun menunggu di samping lift, tidak memberi respon apa-apa begitu melihat wajah saudaranya yang babak belur. Bagi Sehun, selama Jongin masih berjalan dengan tenang maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
Jongin pasti berhasil. Sehun tidak perlu repot-repot bertanya. Memencet tombol lift dan mereka mulai turun ke lantai bawah untuk segera kembali ke rumah.
"Jongdae-hyung bilang dia akan membantu kita kapanpun kita inginkan." Jongin bicara begitu datar, "Tapi, bagiku sampai saat ini Jurina masih lebih dari cukup untuk membantu kita."
Sehun melirik Jongin yang menyandarkan diri di dinding lift. Pemuda berkulit pucat ikut menyandarkan punggungnya di samping kakak kembaran.
"Jadi, kapan kita menyembunyikan Kyungsoo?"
Jongin hanya menatap layar yang menunjukkan dari lima belas lantai yang harus mereka turuni, mereka masih berada di lantai ke tujuh.
"Secepatnya."
.
.
Kyungsoo melirik jam di nakas samping ranjangnya.
Pukul 00.30.
Melirik lagi ke sampingnya.
Tidak ada siapa-siapa.
Kyungsoo meringkuk, berbaring dalam posisi miring dan berusaha menggelung tubuhnya seakan-akan ia seperti trenggiling. Ia sudah memakai selimut, sempat tertidur juga beberapa saat. Tapi, setelahnya ia tidak bisa terlelap kembali saat menyadari tempat di sebelahnya masih kosong.
Sama seperti hari-hari biasanya.
Tapi, entah kenapa malam ini Kyungsoo benar-benar merasa kesepian. Sama seperti siang tadi, sedikit saja hatinya tersentil perihal apapun mengenai Kim Jongin, ia akan jadi begitu sensitif. Apakah setelah sekian lama episode depresinya kembali datang?
Kyungsoo kembali berusaha tidur, tapi, suara derit pintu kamar membuatnya urung menutup mata.
"Kau belum tidur?"
Kyungsoo berbalik dan menemukan Jongin yang tengah berusaha melepas mantelnya. Perempuan itu beranjak untuk mendekati suaminya, dan melepaskan mantel itu lebih cepat dari yang dilakukan Jongin. "Akhirnya kau pulang juga."
Hanya dari kalimat itu, rasanya Jongin tersentil. Baginya itu seperti memperlihatkan seberapa kesepiannya Kyungsoo menunggunya.
Kyungsoo menuju saklar lampu sehabis menggantungkan mantel Jongin di sudut ruangan. Ketika lampu menyala, Kyungsoo seketika terpekik pelan.
"Astaga, Jongin! Ada apa dengan wajahmu?"
Kyungsoo meraba memar di hidung dan Jongin sama sekali tidak memberikan reaksi berarti."Ini hanya terkena pukulan target hari ini."
"Mana bisa begitu? Aku akan membasuhnya, tunggu sebentar."
Kyungsoo beranjak keluar—entah untuk mencari apa Jongin juga tidak paham. Lelaki itu hanya duduk di tepi ranjang sambil memandangi tangannya.
"Aku tidak membunuh Jongdae-hyung."
Ia menggenggam telapaknya sambil memejamkan mata.
"Syukurlah."
Kyungsoo datang tidak lama kemudian. Ia membawa air yang sudah dicampur alkohol, kapas lembut dan sapu tangan kecil. Mengambil posisi di depan Jongin kemudian mulai menyeka wajah lelaki itu.
Kyungsoo menatap Jongin, "Sakitkah?"
Jongin menggeleng.
Kyungsoo tersenyum maklum, ah, yang kau hadapi adalah pria pembunuh, Kyungsoo. Bukannya anak-anak TK yang baru jatuh setelah berlari bersama teman-temannya.
Kyungsoo menyeka bagian rahang, tidak sengaja menekan bagian yang lecet dan itu sedikit membuat Jongin mengernyit. Rasanya nyeri juga ternyata. Ia tidak pernah melakukan apapun pada lukanya, paling-paling hanya membersihkannya dengan air di wastafel. Lagipula, ia sangat jarang sekali terluka. Tapi, lawannya hari ini adalah Jongdae, wajar jika ia mengalami beberapa memar serius meskipun tidak banyak.
Kyungsoo hanya diam setelah bertanya. Ia menahan diri untuk bertanya banyak hal setelah hanya mendapatkan respon gelengan dari Jongin. Memilih untuk lebih fokus pada memar-memar di wajah Jongin, ternyata hanya membuatnya semakin penasaran untuk bertanya.
"Apa—" yang sudah kau lakukan di luar tadi "—ada luka lain selain di wajahmu?"
Jongin berjeda cukup lama untuk merespon, "Sepertinya tidak ada yang separah di wajahku."
Kyungsoo menggumamkan dengungan pengertian lalu menepikan baskom berisi air antiseptik beserta kapas dan sapu tangan yang ia bawa.
"Kyungsoo."
Kyungsoo menatap ketika Jongin memanggil namanya.
"Mendekatlah."
Kyungsoo duduk lebih mendekat, mengira Jongin akan mengatakan sesuatu lagi. Tapi, nyatanya Jongin meraih tengkuknya tanpa ragu, membawa wajah mereka semakin mendekat hingga Kyungsoo bisa mencium bau alkohol yang dicampur air di sudut bibir Jongin.
"Aku ingin menciummu."
Kyungsoo memejamkan mata—tidak tahu harus apa ketika bibir mereka sudah bertemu. Jongin memberikan lumatan-lumatan kecil yang lembut seolah-olah bibir Kyungsoo adalah permen kapas yang cepat meleleh. Sempat melepaskan ciuman itu, tidak sampai lima detik kemudian mereka berciuman kembali. Rupanya lumatan lembut yang sebelumnya sudah berhasil membuat Kyungsoo percaya jika tidak akan apa-apa bila ia juga membalas ciuman Jongin.
Tangan Jongin mengusap tengkuk Kyungsoo, turun hingga ke pinggang dan memberikan remasan kecil disana. Tidak peduli jika tindakannya membuat Kyungsoo kaget. Mereka sangat jarang melakukan sentuhan-sentuhan intim, pengalaman melakukan hubungan badan juga sangat minim. Bukan salah Kyungsoo jika ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ini semua dilanjutkan.
"Uh, Jongin—"
Kyungsoo mau tidak mau mendongak. Jongin sudah menciumi lehernya dan memberikan gigitan-gigitan ringan di sepanjang bahu. Lupa bagaimana caranya ia sudah berada di pangkuan Jongin, Kyungsoo hanya bisa memeluk leher suaminya. Kali ini ia bisa merasakan tangan Jongin yang membuka kancing piyamanya satu per satu, menyusul kecupan dari tulang selangka ke bagian diatas dada. Mengecup bra—tidak perlu bertanya lagi Kyungsoo pun mengerti kalau Jongin ingin benda itu lenyap secepatnya.
Maka dari itu, Kyungsoo mencoba berani. Dia tidak pengalaman, tapi mencoba bukanlah hal yang salah. Selain ketika berhubungan intim, Jongin nyaris tidak pernah memanggil namanya.
Pakaian sudah tanggal. Jongin terbaring, sementara Kyungsoo mengurutnya. Perempuan itu juga merasakan Jongin yang ternyata tidak begitu buruk di lidah.
"Ahh.. Kyungsoo.."
Jongin membalik posisi, memaksa Kyungsoo menekuk lutut—membuka kaki di bawah. Penyatuan mereka berlangsung cukup lama sampai Kyungsoo sudah tidak ingat berapa banyak mereka berciuman selama itu. Mencengkeram erat sprai yang sudah kusut ketika ia merasakan gulungan hasratnya terburai pecah—ia sudah mencapai puncak.
"J-Jongin… uhh.." –aku sudah. Ingin mengucapkannya tapi, urung ketika Kyungsoo merasakan Jongin datang di dalamnya.
Sesi yang panas ditutup oleh sebuah ciuman singkat yang lembut dari Jongin di bibirnya.
Malam ini tidak terasa dingin seperti biasanya. Hanya terasa lebih panjang bagi mereka berdua.
.
.
Mungkin hanya Sehun, penghuni rumah yang masih sadar bahwa Kim Taehee—ibunya tidak berada di tempat.
Ingin mengetuk pintu kamar Jongin, Sehun cukup pengertian mengingat saudara kembarnya sudah punya istri dan mereka mungkin saja tengah menikmati waktu mereka berdua. Apalagi mereka sudah jarang bertemu.
Yah, opini Sehun memang benar adanya.
Meraih ponsel pintarnya, Sehun menelepon Taehee. Setidaknya ia harus tahu dimana posisi ibunya sekarang. Ia sadar keadaannya dan keluarganya sedang tidak aman sekarang.
Telepon tersambung dan Taehee mengangkat panggilannya.
"Ada apa, Sehun?"
Sehun setengah berteriak, "Ibu dimana? Aku sangat panik karena ibu tidak ada di rumah!"
Taehee sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pelan, "Astaga, kau sebegitunya mengkhawatirkan ibu. Ibu baik-baik saja, Sehunnah. Hanya sedang bertemu teman lama saja."
Teman lama? Sehun penasaran tapi tetap melanjutkan, "Beritahu aku posisi ibu sekarang!"
"Astaga, turunkan nada suaramu kalau bertanya pada ibu, Sehun. Ibu belum tuli." Taehee berdeham sesaat, "Ibu ada di kafe Evon. Kafe kecil di jalan Fureiss dekat bangunan perkantoran. Kau mau menyusul ibu?"
Sehun mendengus, "Apa itu teman lama yang penting?"
"Iya. Sangat penting."
Sehun terdiam. Nada suara ibunya begitu serius—tapi terdengar sendu dan khawatir.
"Tidak. Aku hanya ingin tahu kalau ibu baik-baik saja. Aku tidak akan kesana." Sehun menyahut lirih.
"Ah, baiklah kalau begitu. Sebentar lagi ibu pulang. Ibu ingin kau, Jongin dan juga Kyungsoo bertemu dengan teman lama ibu besok pagi. Ini sudah larut malam, cepatlah tidur—oh, apakah Kyungsoo dan Jongin ada di rumah?"
Sehun mendengus lagi, "Jongin masuk kamar, mereka tidak keluar sama sekali sejak tadi. Mungkin aku akan segera punya keponakan beberapa bulan ke depan."
Taehee tertawa dari seberang telepon, mengatakan agar Sehun menutup teleponnya dan Sehun memutus telepon setelah berpesan agar ibunya berhati-hati di luar sana.
.
.
Seusai menutup telepon, Taehee menatap kembali wanita di depannya—seseorang dengan rambut pirang terang dengan sepasang mata biru sejernih air.
"Siapa tadi, Taehee?"
"Putra bungsuku. Sehun."
Wanita pirang mengangguk, menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajahnya ke samping—menyelipkannya ke lipatan daun telinga.
"Sekarang ceritakan padaku bagaimana caranya putramu bisa sadar secepat itu, Margaret?" Taehee meraih tangkai cangkir yang berisi cappuccino lembut dan menyeruputnya sedikit demi sedikit. Melirik lagi pada wanita turunan asing di depannya. "Dan bagaimana caranya kau bisa kembali ke sini?"
Di depannya duduk besannya sendiri—Margaret Anderson.
"Aku juga tidak tahu pasti." Margaret menundukkan kepalanya, "Setelah mengetahui kabar itu, aku langsung berusaha mencari cara untuk kabur. Bagaimanapun, Kris sudah masuk ke dalam organisasi penyelidik di Bumi dan berpasangan bersama dengan seorang polisi wanita bernama Jessica Jung. dan omong-omong masalah aku kemari, aku menggunakan tabung teleportasi yang dulu dijadikan percobaan oleh pihak kita, kondisinya setengah rusak saat aku sampai di Bumi—kalau sekarang mungkin sudah tidak bisa digunakan lagi. Aku harus merasa beruntung karena bisa kembali kemari dengan selamat."
Mata Taehee menyipit ketika mendengar satu nama—menyelidik, "Jessica Jung?"
"Ya," Margaret menyentuh cangkir berisi seduhan kopi robusta pesanannya, "Dia adalah anggota intelijen yang memiliki kemampuan hacking luar biasa. Selain itu, ia juga selalu terlibat dalam kasus-kasus besar yang memerlukan pembuntutan, ataupun penyadapan. Kudengar, meski tubuhnya termasuk kecil, kemampuan beladirinya lebih baik dari seorang atlet dan kemampuan menembaknya tidak kalah dengan para sniper militer."
Taehee meletakkan cangkirnya, menatap cappuccino dengan busa yang berantakan dan isinya yang tinggal separuh.
"Dia terdengar berbahaya."
"Karena itulah." Margaret akhirnya menelan tegukan kopi pertamanya sejak sejam yang lalu. "Aku tidak ingin berkonflik dengan putraku sendiri, sementara ia tidak mengetahui apa-apa."
Margaret memang tidak mengatakannya, tapi Taehee tahu bagaimana rasanya jadi seorang ibu—terutama bagi dirinya yang seorang orangtua tunggal.
"Kau meninggalkan suamimu di Bumi, Margaret?"
Margaret mengangguk, "Iya."
Taehee terkekeh pelan, "Kau istri yang jahat. Padahal Youngbae adalah suami yang baik."
Margaret meletakkan cangkir kopinya. Suasana kafe sudah mulai sepi di awal sepertiga malam, sepertinya Taehee memang sengaja membawanya ke kafe yang sepi di malam hari—karena daerah perkantoran di ibukota Quaser biasanya sepi ketika sudah lewat jam kerja pegawai.
"Taehee." Margaret berbisik, "Apa kau ingat dengan pertanyaanmu sendiri ketika memutuskan untuk melakukan bayi tabung? Kau sempat bertanya siapa pemilik benih yang ditanam di rahimmu, bukan?"
Taehee sedikit tersentak, pundaknya terguncang pelan dan Margaret tahu jika Taehee sama sekali belum melupakan hal itu.
"Aku tahu dimana dia, Taehee."
"Margaret, kau ini bicara apa?" Taehee terkekeh, mencoba menutupi gugup. Dulu ia memang penasaran, siapa sebenarnya ayah kandung dari Jongin dan juga Sehun?
Tapi, sekarang sepertinya ia seperti tidak ingin mengetahui siapa orang itu. Siapa laki-laki tak bernama yang telah membuatnya mengandung dan melahirkan anak-anaknya. Bahkan, Taehee sangsi jika orang itu bisa mengenalnya.
"Aku pernah satu kali bertemu dengannya di Bumi." Margaret masih ingin melanjutkan, "Sekarang ia ada di Bumi, Taehee."
Taehee terkejut bukan main. Di Bumi? Sejak dulu, ia yakin sekali jika manusia Quaser dan manusia Bumi tidak bisa bekerja sama—terutama jika menyangkut masalah keturunan. Jadi, bagaimana bisa?
Atau—
"—dia dulunya adalah orang Quaser, salah satu dari putra Dewan Negara yang dijatuhi hukuman mati karena tertangkap basah tengah memberikan bantuan ke Bumi tanpa ada perjanjian atau pemberitahuan lebih dulu. Aku yakin kau juga pasti tahu berita ini. Seandainya ia hanya memberikan bantuan makanan atau pakaian, aku yakin ia tidak akan dihukum mati. Tapi—"
Taehee terdengar tidak sabar sekarang, "Tapi?"
"—dia memberikan bantuan senjata." Margaret melanjutkan, jemarinya kembali memegang cangkir kopi, "Tidak bisa dipungkiri ia diduga melakukan kudeta. Yang aku dengar, Dewan Negara itu bermarga Shim. Dia adalah salah satu jenius teknologi di Quaser dan karena kemampuan itulah, ia memiliki jabatan dalam organisasi dewan—terbukti ia bisa membuat sebuah alat teleportasi ke Bumi tanpa bantuan seorang pun teknisi."
Taehee meneguk ludah. Teringat akan putra bungsunya.
Sehun memiliki kemampuan yang mirip dengannya. Dan kenapa aku tidak pernah sadar.
"Karena aku pernah tinggal di Quaser, aku mengetahui hal-hal seperti ini. Tapi, di Bumi tidak ada satu orang pun yang tahu akan hal ini." Margaret menyeruput lagi kopinya, "Akhirnya aku penasaran, kemana ia menyembunyikan senjata itu? Lalu untuk siapa?"
Taehee hanya bisa menatap ujung-ujung jemarinya yang pucat sambil menunggu Margaret meneruskan pembicaraan.
"Lalu, aku bertemu dengannya—putra dewan Negara itu. Apakah kau pernah sadar sejak pemberitaan eksekusi mati Dewan Shim, keluarganya—istrinya dan putranya tidak pernah diberitakan lagi?"
Taehee tersenyum kecut, "Waktu kecil aku sangat jarang sekali menonton tv, kalaupun iya, aku hanya menonton kartun."
"Oh, maaf kalau begitu." Entah kenapa Margaret terlihat kecewa karena lawan bicaranya sedikit tidak mengerti apa yang ia katakan, "Tapi, sampai sekarang pun jika kau mencari tahu artikelnya dimanapun, tidak pernah ada riwayat mengenai keluarganya setelah eksekusi."
"Iya." Taehee menyeruput cappuccino-nya sebentar, "Kalau masalah yang itu aku tahu."
"Aku bertemu dengan seorang pria yang cukup dihormati orang-orang FBI ketika mereka masih menawanku untuk rehabilitasi, tapi, saat aku mencari tahu tentang dirinya hingga meretas data rahasia organisasi itu, aku sama sekali tidak mendapatkan apapun selain nama, riwayat kerja dan tanggal lahirnya." Margaret menyipitkan matanya, "Latar belakang orang itu—tidak ada seorangpun yang tahu."
"Apakah atas dasar itu semua kau menyimpulkan bahwa ia adalah Ayah biologis Jongin dan Sehun?" Taehee terkekeh—setengah meledek, "Margaret, jangan membuatku tertawa. Mungkin saja itu hanya sebuah kebetulan."
"Aku tahu ini memang konyol bagimu, tapi, apa kau tidak pernah berpikir bahwa setelah semua yang terjadi terlalu banyak kebetulan yang datang." Margaret sejujurnya tidak ingin mempengaruhi atau memaksa Taehee untuk menyetujui ucapannya, ia hanya mengemukakan apa yang telah ia yakini dan membuat Taehee menilai serius dari sudut pandang sahabatnya itu sendiri, "Kau sendiri juga tidak bisa mencari siapa Ayah biologis Jongin dan Sehun, bahkan hingga mencari di seluruh rumah sakit di Quaser kau tetap tidak mendapatkan hasil. Kau tanpa sadar hanya didorong oleh motif itu hingga menjadi seorang Dewan di Quaser dan memanfaatkan posisimu hanya untuk hal itu. Hei, Taehee—" Margaret berjeda, menatap Taehee lekat-lekat, "—benar bukan yang aku katakan?"
Taehee menggigit lapisan dalam bibirnya. Rasanya ada yang membuatnya merinding karena tersinggung.
Tersinggung?
Ucapan Margaret memang benar. Ia memang selalu mencari dimana orangtua kandung putranya—meski kedua anaknya sama sekali tidak keberatan tumbuh tanpa mengenal siapa ayahnya, tapi, Taehee hanya ingin mengenalkan mereka. Keberadaan seorang ayah bisa menjadi pelecut untuk mencari jati diri. Taehee paham betul akan hal itu. Ia ingin kedua putranya juga bisa memamerkan ayahnya—bangga akan orangtuanya sebagaimana kedua putranya selalu mengerti dan bangga padanya.
Meskipun di Quaser, seorang anak tanpa orangtua lengkap sudah biasa. Tapi bagi Taehee, itu tetaplah tidak cukup.
Margaret tersenyum padanya, "Mungkin memang benar kau lahir dan tumbuh di Quaser, kedua orangtuamu yang menikah adalah sama-sama orang yang selamat dari serum pembunuh. Tapi, satu yang selalu membuatku iri padamu sejak kecil adalah cara berpikirmu yang begitu manusiawi." Wanita keturunan asing menggenggam sebelah tangannya, "Aku sama sekali tidak menyesal menikahkan putriku dengan putramu. Demi mereka dan demi rencana kita untuk mendamaikan Bumi dan Quaser."
Taehee mengusap air yang ada di ujung matanya, ia tertawa lalu menepuk pundak Margaret.
"Terima kasih karena kau selalu membantuku, Margaret."
.
.
Kyungsoo bangun di pagi hari dengan rasa pusing, meski hanya pusing ringan karena ia berusaha menyesuaikan dirinya yang terbangun di dalam sebuah mobil.
Apa?—mobil?!
"Kau sudah bangun?"
Jongin mengusap rambut Kyungsoo perlahan. Mengecup ringan dahi perempuan itu, yang malah direspon dengan tatapan terkejut dari Kyungsoo.
"Jo-jongin, kenapa—"
"KYAA! KAWAII DESU NEEE?!"
Jurina yang ternyata sedari tadi menonton sambil duduk di jok depan akhirnya memekik, membuat Sehun yang sedang menyetir di sebelahnya berdecak sebal berkali-kali—berisik, diam, kuikat kau jadi ban serep mobil nanti, JURINAAA! Semua itu sama sekali tidak ada efeknya bagi gadis berusia lima belas tahun. Gadis lima belas tahun pembunuh bayaran yang punya sense romantic berlebihan.
Wajah Kyungsoo merona, "Jongin, kau yang mengganti pakaianku?"
"Sebetulnya aku juga membasuh tubuhmu pagi tadi dengan kain basah." Jongin berkata lempeng, makin membuat Kyungsoo malu setengah mati. Terutama karena bisa didengar jelas oleh Sehun dan Jurina.
"Kita mau kemana?" Kyungsoo bertanya lagi.
Jongin masih menjawab sedatar biasanya, "Bertemu dengan ibumu."
Mata Kyungsoo melebar, "Eh? Ibu—"
"Nah, kita sudah sampai."
Mobil yang dikendarai Sehun masuk ke dalam basement sebuat apartemen tua yang sudah tidak dihuni. Setelah memarkirnya di tempat yang tidak akan terlihat oleh orang lain yang lewat di sekitar apartemen itu, Sehun menyuruh semuanya untuk keluar.
Mereka masuk ke apartemen dan diluar dugaan, apartemen itu masih begitu bagus dan terawat—Jurina yang awalnya seperti malas untuk masuk mendadak bergumam kagum.
"Ini apartemen yang sudah dibeli ibu secara diam-diam ketika sempat ingin dirubuhkan." Sehun berucap, "Memang sengaja bagian luarnya tidak dirawat agar memberi kesan tidak dihuni lagi."
"Kamuflase." Jongin menambahkan.
Kyungsoo sepertinya tidak senang dengan arah pembicaraan Jongin dn Sehun yang seolah-olah mengalihkan arah pembicaraan sebelumnya—mengenai ibunya.
Mereka menaiki tangga dan menuju sebuah kamar yang paling dekat di sebelah kiri. Jongin mengetuk pintu dan sebuah bunyi klek kecil terdengar sebelum pintu dibuka oleh seorang wanita berambut pirang dan bermata sebiru air laut.
Kyungsoo ternganga, sungguh—itu adalah mata yang sama birunya dengan matanya, setelah sekitar enam bulan tidak bertemu ibunya, ia sangat rindu.
Sangat…rindu.
Kyungsoo bahkan tidak percaya dengan dirinya sendiri.
Ia bahkan tidak pernah menganggap orangtuanya ada sebelumnya. Meski ia selalu memasang wajah yang manis di depan ayah dan ibunya, ia sejujurnya tidak pernah berniat sehangat itu,
Karena dulu dirinya hanyalah topeng.
Ia hanyalah sebuah kelongsong kosong yang bisa dengan mudahnya diisi oleh berbagai macam hal yang gila, mengerikan, menyedihkan.
Lantas sejak kapan? Sejak kapan ia bisa merasakan perasaan seperti ini?
Ah. Sejak ia menikah.
"Oh my… come here so mommy can hug u, sweetheart." Margaret tidak bisa menahan matanya yang berkaca-kaca saat ia merentangkan tangannya pada Kyungsoo. Putrinya itu juga nyaris menangis di tempat, membuat Margaret sedikit kaget karena di depannya Kyungsoo sangat jarang sekali menangis.
Apalagi ketika putri bungsunya langsung menghambur memeluknya begitu erat lalu menangis tersedu-sedu.
"Mom, I really miss u. Miss u so much."
Taehee muncul dengan senyuman hangat. Ikut bahagia atas pertemuan ibu dan anak perempuannya. Melirik ke arah Jongin, Sehun dan Jurina yang tetap memasang mimik serius.
Ah, benar.
Pertemuan ini bukan untuk acara saling merindu setelah sekian lama tidak bertemu. Tapi, adalah rencana perpisahan untuk bertemu kembali.
.
.
"Wah wah, jadi beginikah planet Quaser itu!"
Jessica melangkah sambil membuka kacamata hitamnya. Ia terlihat begitu senang berjalan di jalanan kota Eien—kota paling inti dari seluruh planet Quaser.
Di belakang, Kris mengikutinya dengan pandangan angkuh—seperti Kris bagaimana adanya.
"Jessica, bisakah kau berhenti mengayunkan kaki seperti remaja SMP? Konyol sekali, biasanya kau selalu memasang wajah sombong dan merendahkan orang lain ketika di Bumi, kenapa disini kau begitu riang?"
Jessica tidak menoleh pada Kris di belakang—meskipun mereka orang Bumi, tapi nyatanya mereka bisa dengan mudah menarik perhatian orang-orang Quaser. Sebagian gadis yang berjalan kaki di pinggiran jalan berbisik-bisik dengan wajah memerah ketika melihat Kris.
"Siapa pria itu? Ganteng ya?"
"Hush! Bicara apa kau ini?! Dia sudah punya pacar tuh!"
Urat-urat Kris di pelipis menegang, bisa-bisanya ia dikira pacaran dengan Jessica?
"Kris, mau makan siang dulu?" Jessica tersenyum tipis, "Perjalanan dengan mesin tadi membuatku lapar."
Jessica memang sangat alami, bahkan ia bisa membicarakan perihal kepindahan mereka dari Bumi ke Quaser dengan begitu santainya. 'Mesin', pemilihan kata yang bagus untuk mesin teleporter karena orang-orang Quaser hanya akan mengira 'mesin' adalah kereta listik supercepat yang ada di wahana taman bermain—tidak jauh dari posisi mereka saat ini.
"Terserah padamu saja." Kris acuh tak acuh.
Jessica memasuki sebuah kafe kecil ketika mereka berjalan di daerah perkantoran—plangnya ditulis tidak terlalu kentara; Evon Café.
"Katanya kau mau makan, kenapa malah ke kafe?"
"Aku ingin merasakan cake disini, apakah seenak di kampung halaman atau tidak."
Kris sumpah ingin sekali meninggalkan Jessica dan sendirian saja mencari Kyungsoo.
"Kris, jangan sekali-sekali berpikir ingin kabur." Jessica memperingatkan dengan suara pelan ketika mereka sudah mendapatkan tempat duduk.
Seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan mereka—Jessica yang memesankan sepihak makanan apa yang akan jadi kudapan Kris di kafe itu.
Kris mendengus, insting Jessica memang kuat. Perempuan itu kecil, tapi selicin belut dan setajam pedang.
"Aku sama sekali tidak berpikir begitu."
Perbedaan besar yang Jessica rasakan saat berada di kafe tanah Quaser adalah pelayanannya yang super cepat—yah, ia bakal memuji lebih lagi dalam hatinya jika sudah merasakan strawberry millefuille yang ia pesan.
"Baguslah," ucapnya disertai senyum, "Besok kita sudah akan mencari dimana adikmu."
Satu suapan millefuille masuk dalam mulut dan Jessica tersenyum senang.
"Wah, ini enak sekali." Bisiknya, "Seenak perasaanku akan misi kali ini."
Kris hanya terdiam. Menerawang ke dinding kaca kafe yang memberikan pemandangan di luar.
Semoga ia bisa menemukan adik dan ibunya.
.
.
-to be continued
.
.
Tatami*: sejenis pelapis duduk dari kain, lazim dipakai di Jepang, tapi saya lihat di beberapa drama korea juga pakai ini buat lapis duduk. Jadi kalau seandainya duduk bersimpuh itu gak bakal sakit. /?
Special thanks untuk lagu-lagu yang selalu jadi moodbooster, para reviewers, yang ngefave yang ngefollow, yang hanya numpang baca juga makasih karena kalian sudah menyempatkan waktu membaca karya saya. Lalu saya balas review chappie kemarin.
1004baekie: yup, ini udah diupdate~ makasih udah nunggu ya.
choidebwookyung1214: minumin luwak white coffee yang gak bikin deg-degan. Kaisoo bakal dipisahin gak ya? /lirik chapter ini/ ini udah update~
Lovesoo: maaf ya kalau kelamaan, tapi ini udah update kok~
guest: maaf karena akhirnya lama updatenya :"v
DRP. KimDoKsoo: salam kenal balik ya. Momentnya pokoknya diikutin aja ya, hhehe
DyOnly One: nah, ini udah dilanjut, maaf kelamaan ya, hiks. Nah, apakah chapter ini udah jawab pertanyaan kamu? iyadong sehun pinter, pacar siapa dulu /digeplok/ iya, syukurlah kyungsoonya sudah mengakuinya /?
Kyungchu: sudah dilanjut~
9394loves: Jessica kan emang keren haoo /? Ini…bukan ciuman lagi sih. Sip, udah dilanjut!
Hyomilulu: acieeeh, jongin mulai cinta /? Nah pisahnya… gak tau ya. Sip udah dilanjut, silahkan nikmati.
ia: IYA INI UDAH LANJUT /? Iya mereka udah rencanain jauh-jauh hari buat besanan /g sip, makasih udah disemangatin, huhu /?
JJN: maaf, maaf, maaf banget aku gak fast update /pundung
cassandraaeris: halo new, reader, apakah di chapter ini pertanyaanmu sudah terjawab?
ruixi1: iya, jongin udah bisa senyum (tapi disini lempeng lagi) /?
guest[1]: eh, ini…mirip drama pilem yak? ._.
Desta Soo: iya, mereka sibuk bergerilya sekarang. Maaf ya updatenya gak bisa ASAP. Hiks
yoyoye: hiks, maaf aku kelamaan updatenya ;-;
Sofia Magdalena: sudah dilanjut. Sip, diusahain happy ending ya :D
gijibae: udah lanjut!
yixingcom: sip, udah~
overdyosoo: iya, mereka udah nyampe tuh /? Iya Margaret emaknya krisoo, apa di chapter ini sudah terjawab? :D
siscaMinstalove: ini sudah update, maaf ya updatenya telat banget hiks
puputkyungsoo: makasih banget, hiks jadi geer akunya /? Maaf gak bisa update cepet, hiks
Kwa's Orange Sky: masih kurang gak chapter ini? /kedipin /g
Kaisoo32: iyap, udah lanjut.
kimkyungin15: aku pikir sbenarnya…lama-lama ff ini jadi action /mikir maaf ya aku gak bisa cepet update, huhu
faelaholic: sumpah, semua review itu ngasih moodbooster, tapi review kamu yang bikin aku paling terdorong buat nulis, haha. Jonginnya jangan diperkosa, ntar kyungsu gimana. Bawa aja kris pulang buat bodigard gpp /disepak/ iya, sehun mah sayang banget sama jongin, jongin pun sayang sama sehun /lirik chapter ini/ njir aku ngakak hahaha, dada itu, iya sehun itu aslinya kan pedulian makanya saya suka dia /g sip! Maaf ya kalau masih kurang panjang. Bisanya Cuma segini doang otak saya, hiks.
NopwillineKaiSoo: nah, udah lanjut. Udah terjawabkah perihal maminya kyungsu?
naddonat: iya ini udah update huhu hiks ;-;
myloveputsy: salam kenal pembaca baru, ini…udah nambah belum ya kira-kira romanticnya? Ehehe
BlackXX: sehun yang canggih. Aihh, itu semua karena Kyungcu tercinta. Iya, makasih juga udah nyempetin buat review ya :*
sarnikelodeon: nah, apa chapter ini udah menjawab akan persekongkolan mereka? :")
DODiny19: maaf pada akhirnya aku tetep update lama.
AN: YOSH! Lama gak ketemu, ya. Akhirnya saya bisa update /nangis bahagia/ tapi, saya sendiri sangsi masih ada yang ingat ff ini atau gak. Saya gak tau mesti ngomong apa selain banyak-banyak minta maaf karena saya telat pake banget updatenya sampek lebih dari dua bulan hiks /deepbow sampe hidung nyentuh lutut/. Dan juga makasih sekali lagi buat yang review, fave, follows atau Cuma numpang baca doang? Ya, saya rasa kalian Cuma gak sempet aja atau belum tersentuh dengan karya saya makanya masih belum ingin meninggalkan jejak disini. Love u all pokoknya readers ;3;
PS: kemarin ada beberapa reader yang temenan ama saya di bbm, tapi bbm saya yang itu udah tamat riwayatnya. Yang mau invite silahkan di 575787D4. Facebook juga baru, yang mau add silahkan cek di profil. Kali aja kita bisa sksd-an atau chat atau tanya-tanya (ketahuan bgt ini orang kesepiannya)
Tamban, 01 Agustus 2015
darkestlake
