-Previous Chapter-
"Park Yoochun tamatlah riwayatmu. Ini baru permulaan dan kau sudah mendapat ancaman yang sangat berbahaya dari Imomu sendiri? Oh astaga!" Yoochun masih memasang wajah horrornya setelah sambungan telepon dari Imonya terputus. Ia bersumpah akan mengubur bocah itu hidup-hidup jika ia tidak mau membantunya menjelasakan masalah ini kepada neneknya yang super duper over protective itu. Malangnya nasibmu Park.
REACH
Author: Jung RiAn
Genre: Family, Drama
Rating: T
Cast: Jung Yunho
Kim Jaejoong
And other supporter casts
Disclaimer: The casts are theirs and the story is mine.
::
::
The day I let you go, felt like I was possessed by a mysterious thought. Then I lost you. It's over now. Those words, I was crazy because of my uncontainable irreversible anger. I did something stupid. When I didn't even mean it, when it was all lie.
::
::
Chapter 7
"Min..."
"Mwohh?"
Tsk! Bisakah sesosok manusia pemakan segala jenis makanan yang ada disebelahnya ini menelan makanan yang ada didalam mulutnya itu terlebih dahulu sebelum menjawab panggilannya? Sumpah itu makanan yang berada didalam mulutnya sebagian menyembur keluar bersamaan dengan keluarnya suara yang dikeluarkan olehnya.
"Telanlah dulu makananmu." Kyuhyun memandang Changmin malas, ia merasa mual melihat sepupunya makan dengan porsi yang berlebihan.
Mereka berdua kini berada dikantin kampus mereka. Keduanya berkuliah di Toho University. Universitas yang berada dibawah naungan Toho Emperor Global School. Kyuhyun memang sudah berkuliah disini sejak awal perkuliahan semester pertama, sedangkan Changmin, dia baru saja masuk hari ini. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa jika kau mengetahui siapa diri Changmin yang sesungguhnya.
"Hehe kau tau Kyu, aku tidak bisa berhenti mengunyah mereka. Kau tidak makan Kyu?"
"Ani, melihatmu makan sudah membuatku kenyang." Kyuhyun berhenti sejenak, "Min, kenapa kau mengambil jurusan arsitektur? Bukankah kau bilang dulu kau ingin menjadi partnerku?"
"Kau percaya diri sekali huh. Memangnya siapa juga yang mau bekerjasama dengan orang sepertimu? Aku mengambil jurusan ini karena...karena aku ingin."
"Cih aku tidak percaya. Oh ya, bila aku tidak salah ingat bukankah dulu Samchon menyuruhmu untuk menggantikan posisinya nanti?"
"Menggantikannya? Dalam mimpinya saja." Kyu, sepertinya kau salah berbicara.
Keduanya telah menyelesaikan acara makan siangnya errrrr makan siang Changmin, dan kini berjalan menuju ke parkiran utama Toho University, sedikit bernostalgia dengan kenangan-kenangan mereka semasa berada dibangku taman kanak-kanak tidak masalah kan?
"Astaga astaga astaga! Laporankuuuuuuu!" seorang gadis tengah berjongkok mengumpulkan kertas-kertas laporannya yang kini telah berserakan ditanah akibat kecerobohannya.
"Ya, bibir kaleng! Apa yang sedang kau lakukan eoh?" Kyuhyun memandang miris dan menahan tawa kepada seseorang yang berada tak jauh didepannya, sementara yang dipanggil bibir kaleng hanya mendengus kesal. Bibir kaleng katanya? Ya Tuhan. Bibirnya bahkan lebih sexy dari bibir milik Angelina Jolie. Menurutnya sih.
"Daripada kau mentertawakanku lebih baik kau membantuku mengumpulkan kertas-kertas ini, tuan penakut." Ia mendongak memandang sebal pada Kyuhyun hingga ia menyadari bahwa Kyuhyun tidak berdiri sendirian disana.
"Kau! Kau Changmin kan? Jung Changmin? Oh astaga kenapa kau bisa setinggi ini?" ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi Changmin dan memutar-mutarkan badannya dan melupakan seluruh kertas laporannya yang kini telah berterbangan kemana-mana.
Changmin mengerutkan kedua alisnya, menatap bingung siapa gadis bermulut seperti petasan didepannya ini, "berhentilah menyentuhku dan kau ini siapa?"
"Ya ampun kau melupakanku? Aku Go Ara, jangan bilang kau benar-benar melupakanku? Huh mentang-mentang kau pindah ke Amerika bisa dengan mudahnya kau melupakan sahabat terbaikmu ini." Ara mengerucutkan bibirnya, bisa-bisanya teman semasa kecilnya melupakannya begitu saja.
"Rupanya kau si gadis menyebalkan, pantas saja Kyu memanggilmu bibir kaleng. Bibirmu itu masih saja mengeluarkan suara yang sungguh mengganggu telingaku."
"Ya! Dasar tiang papan reklame!"
Jung Changmin, Park Kyuhyun, dan Go Ara. Ketiganya dulu memanglah sangat dekat, bisa dibilang dimana ada salah satu dari mereka maka kau akan menemukan yang lainnya. Mereka selalu bersama hingga Changmin dibawa neneknya untuk tinggal bersamanya di Amerika. Sejak saat itu hanya Kyuhyun dan Ara saja yang terlihat bersama, namun kedekatan mereka tidak sama dengan sebelumnya. Hubungan keduanya sempat merenggang karena suatu hal yang disebabkan oleh Ibu Ara yang hingga sekarang masih sangat diingat dan dibenci Kyuhyun.
Kini ketiganya terlihat dikedai es krim favorit mereka dulu, membicarakan kekonyolan-kekonyolan yang mereka lakukan bersama dulu. Ya walaupun lebih banyak Ara yang berbicara. Dia dipanggil bibir kaleng bukan tanpa alasan.
"Min kau masih ingatkan bagaimana wajah Kyu ketika kita menceritakan cerita hantu yang berada diruang bawah tanah Mansion Park padanya? Itu sungguh menggelikan" ini adalah hal favoritnya, menggoda Kyuhyun, ia tau betul bagaimana takutnya Kyuhyun dengan makhluk bernama hantu tersebut.
"Ya bibir kaleng berhentilah bicara atau aku menyumpal mulutmu dengan-... Ya Jung! Kau mau kemana eoh?!" belum selesai Kyuhyun berbicara, Changmin sudah berdiri dan berlari keluar kedai.
"Dia kenapa?" Ara dan Kyuhyun terheran-heran dengan tindakan yang Changmin lakukan barusan.
.
.
.
.
Changmin melangkahkan kakinya masuk menuju toko buku yang berada tak jauh dari kedai es krim langganannya. Setelah melihat seseorang yang masuk ke toko itu dari dalam kedai, Changmin langsung keluar dan berlari mengikuti pria tersebut.
Changmin masih memperhatikan orang itu dan mengikutinya hingga dia dengan sengaja menabrakkan dirinya kepada pria didepannya.
Brukk!
"Oh maaf, Saya tidak sengaja menabrak Anda Tuan." Changmin membungkuk mengambil buku yang dijatuhkan oleh pria yang ditabraknya. 'Masih hobby membaca buku seperti ini huh.' Katanya dalam hati.
Pria itu hanya diam memperhatikan Changmin hingga akhirnya ia melihat wajah Changmin dengan jelas yang berada didepannya. Matanya membelalak tak percaya, jantungnya berdebar dengan sangat cepat, dan tangannya mendadak sedikit bergemetar melihat siapa yang berada dihadapannya.
Changmin dengan cepat memberikan bukunya dan segera meninggalkan pria yang baru saja ditabraknya. Ia sengaja melakukan hal itu. Dia hanya ingin tau bagaimana reaksi pria didepannya setelah bertemu dengannya. Apakah dia akan mengenalinya atau tidak sama sekali.
"Jung Changmin."
Changmin menyeringai, pria ini mengingatnya.
"Jung Yunho."
.
.
.
Yunho dan Changmin kini berada di cafetaria toko buku tempat mereka 'bertemu'. Keduanya masih bungkam, tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Baik Yunho dan Changmin tak ada yang mau mengelurkan suaranya terlebih dahulu.
Yunho masih memandangi wajah Changmin dengan seksama, memperhatikan tiap inchi lekukan wajah Changmin yang sempat ia lewatkan perkembangannya beberapa tahun ini. Sementara Changmin hanya memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang diseberang jalan, ia tau Yunho kini tengah memperhatikannya.
"Sampai kapan kau akan memandangiku seperti itu?"
Yunho tersenyum miris, Changmin masih enggan memanggilnya dengan sebutan yang semestinya.
"Kau keberatan jika Appa memperhatikanmu? Kau tidak banyak berubah, nak."
"Cih. Aku tidak suka siapapun memandangku dengan tatapan seperti itu, kecuali satu orang. Orang yang telah melahirkanku kedunia ini." Changmin menolehkan kepalanya dan menatap tajam mata Yunho. Menimbulkan suasana yang lebih dingin dari yang sebelumnya.
Itu benar, Changmin adalah anak kandung Yunho. Anak pertamanya dengan Jaejoong. Anak sulungnya kini telah tumbuh menjadi anak yang dewasa dan sangat tampan serta memiliki tinggi badan yang melebihinya saat ini. Impian anaknya sudah tercapai rupanya. Yunho ingat, dulu, Changmin kecil selalu berkata bahwa dia ingin tumbuh tinggi melebihi tinggi Yunho.
"Kau sudah bertemu dengan Eommamu? Kau tampak sangat sehat Min."
"Kau tidak perlu tau aku sudah bertemu dengannya atau belum. Sehat? Ya aku sangat sehat." Ia sengaja menekan kata sangat dalam kalimatnya, 'bahkan kau tak menanyakan bagaimana kabarku' lanjutnya dalam hati.
Suasana kembali hening. Yunho tak tau harus bersikap seperti apa dihadapan anaknya saat ini. Ia tau ia salah melepasakan anaknya bersama dengan kedua orangtuanya, tapi apa yang bisa ia lakukan saat itu? Eommanya mengancamnya akan membawa Chanwoo juga bersamanya jika ia memaksa tinggal bersama Changmin.
"Jika tidak ada hal yang ingin kau sampaikan lagi, aku pergi. Kau membuang waktuku."
Anaknya ini sangat dingin dan sedikit menyeramkan, berbeda dengan dulu, ia anak yang ceria dan ramah pada siapapun yang ada ditemuinya. "Bolehkah Appa bertemu denganmu lagi lain kali? Dan kau sekarang tinggal dimana? Pulanglah kerumah." Yunho tersenyum kecut, rumah? Masihkah Changmin menganggap rumahnya sebagai rumahnya juga saat ini?
"Hmmm. Jika aku ada waktu dan kau tak perlu tau dimana aku tinggal sekarang. Itu bukan urusanmu." Ucap Changmin datar dan sedetik kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Ayahnya sendiri didalam. Sejujurnya ia merasakan sedikit sakit dihatinya, setelah sekian lama akhirnya ia dapat bertemu lagi dengan Ayahnya. Jauh didalam hatinya ia ingin sekali menangis dan memeluk erat Yunho, tapi egonya tidak membiarkan hal itu terjadi dan lebih memilih untuk bersikap dingin kepada seseorang yang telah membuatnya ada didunia ini.
Sementara Yunho masih bergeming dan terus memperhatikan punggung anaknya yang semakin jauh dari pandangannya. Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Park Yoochun, temui aku sekarang juga tidak peduli kau sedang berurusan dengan client-mu atau tidak."
.
.
.
.
"Ya! Kalian berdua berhentilah, kalian mau makan apa eoh? Aku sangat lapar kalian tau itu." Dongmin memutar bola matanya menghadapi kelakuan dua sahabatnya ini, sungguh ia sangat lapar saat ini dan kedua orang dihadapannya ini benar-benar tak tau situasi.
"Aku mau ramen saja."
"Aku sushi."
Limabelas menit berlalu dan makanan yang mereka pesan kini sudah berada didepannya.
"Eh? Jaejoong Ahjumma? Ahjumma bekerja disini?"
"Oh Chanwoo-ya, ne Ahjumma bekerja disini. Jja! Nikmati makanan kalian ne, Ahjumma harus kembali ke dapur."
Sementara Chanwoo dan Jaejoong mengobrol, Dongmin dan Minhyuk saling bertatapan. Ahjumma? Bukankah yang barusan itu pria? Kenapa dipangil Ahjumma? Atau jangan-jangan yang tadi itu seorang wanita? Tapi dadanya rata tidak seperti seorang wanita. Nak, kenapa fokus kalian hanya kepada dada heh? Memangnya menurut kalian seorang wanita dadanya akan selalu menonjol seperti pepaya?
"Kalian kenapa? Yang barusan tadi adalah Eomma Moonbin." Sambar Chanwoo cuek dan mulai melahap sushinya.
"Mwo? Eomma?" Dongmin dan Minhyuk setengah berteriak. Jelas saja mereka kaget, Eomma mereka berdua adalah seorang wanita sedangkan Jaejoong tadi itu seorang pria kan? Dongmin dan Minhyuk memang tau bahwa ada beberapa dari temannya yang memiliki Eomma seorang pria, tapi itu bukan Eomma kandung yang melahirkan mereka layaknya Eomma mereka.
"Ya, Jaejoong Ahjumma adalah Eomma Moonbin. Sudahlah kalian makan saja jika tidak biar aku saja yang memakannya."
Dongmin dan Minhyuk langsung menyambar habis makanan mereka. Demi apapun keduanya-terlebih Dongmin, sangatlah lapar dan apa yang barusan Chanwoo katakan tadi? Biarkan dia saja yang memakan makanannya? Oh hell no!
.
.
.
.
.
Ceklekk!
Pintu apartemen Changmin terbuka, terlihat sosok remaja seumuran dengannya memasuki apartemen miliknya yang telah disiapkan oleh seseorang yang tak lain adalah Samchonnya.
"Hey Min.."
"Hmmmm.."
"Tsk! Kau ini kenapa? Tiba-tiba pergi meninggalkanku begitu saja dengan si bibir kaleng itu sendirian dan sekarang kau menyuruhku untuk datang kemari?"
Sejujurnya Kyuhyun masih sedikit kesal karena dirinya ditinggalkan oleh partner in crime-nya bersama dengan Ara dan menyebabkan ia harus membayar seluruh es krim yang dipesan ketiganya. Padahal, niat Kyuhyun mengajak mereka berdua ke kedai itu adalah untuk mendapatkan traktiran gratis dari Changmin, hitung-hitung sebagai perayaan kembalinya Changmin ke Korea.
"Aku bertemu dengannya."
"Nya? Siapa itu Nya?" wajah Kyuhyun berubah menjadi lebih serius, ia menautkan alisnya dan berfikir keras mengenai 'nya' yang dimaksud oleh Changmin.
"Jung Yunho."
'WHAT? Apa katanya tadi? Jung Yunho? Secepat itu? WOW!' jerit Kyuhyun dalam hati.
"Kau menemui Yunho Samchon? Kapan dimana dan bagaimana?"
"Di toko buku dekat kedai es krim tadi. Aku meninggalkan kalian untuk menemuinya."
Mulut Kyuhyun menganga mendengar pengakuan yang keluar dari mulut sepupunya ini. Bukankah ini terlalu cepat? Bukankah dia memiliki rencananya sendiri?
"Errrrrrr baiklah kau bisa menceritakannya padaku mungkin?" jujur saja Kyuhyun penasaran bagaimana pertemuan antara kedua Ayah dan anak ini, apakah penuh dengan suasana panas dan mencekam layaknya di medan perang atau mungkin suasana yang mengharu biru dan mendayu-dayu?
"Hahhhh. Dia mengingatku." Changmin menoleh menatap Kyuhyun dan menghela napasnya dalam-dalam.
"Kau terdengar tidak bahagia?"
"Tidak sama sekali, atau mungkin hanya sedikit. Aku merasa bukankah dia memang seharusnya mengingatku? Biar bagaimanapun aku ini anaknya, darah dagingnya, bagaimana bisa dia ahh sudahlah." Changmin mengacak rambutnya frustasi, rasa sakit itu menyerangnya lagi dengan tiba-tiba setiap kali ia mengingat hal itu.
"Kau masih menganggap dirimu sebagai anaknya tapi kau tak pernah memanggilnya Appa dan bertingkah layaknya seorang anak." Kyuhyun tau kata-katanya akan membuat Changmin kesal tapi sungguh dia tidak berniat untuk menyalahkan Changmin walaupun pada kasus ini Changmin memang bersalah.
"Pantaskah seseorang dipanggil Ayah ketika dia membiarkan anaknya dibawa oleh orang lain? Biar itu orangtuanya sekalipun, dia tidak pernah menemuiku selama 12 tahun terakhir ini bahkan ketika dia datang ke tempat dimana anaknya berada."
Changmin memandang nanar keluar balkon apartemennya, menahan air mata yang sudah bertahun-tahun disimpannya sendiri.
'Kau salah Min, Appamu bertindak layaknya orang gila ketika mencarimu dan Jaejoong Imo serta satu adikmu yang lain. Bahkan Yunho Samchon pernah berlutut dihadapan Appa memohon kepadanya untuk memberitahunya dimana keberadaanmu.' Kyuhyun memandang miris sepupunya yang kini tengah membelakanginya, ia tau Changmin sedang menahan seluruh air mata yang ingin meluap dari matanya.
"Min... Beritau aku bagaimana perasanmu yang sesungguhnya ketika kau bertemu dengan Yunho Samchon."
"Aku..."
.
.
.
.
.
.
.
Yunho memasuki rumahnya dengan langkah gontai, ia tak berniat untuk memberikan salamnya kepada Chanwoo seperti yang biasa ia lakukan. Yunho terus melangkah memuju kamarnya tanpa sadar tingkahnya tengah diperhatikan oleh anaknya.
"Appa..."
Yunho masih tak menyahut dan hanya berhenti untuk menghela napas lagi entah untuk yang keberapa kalinya.
"Appa!" Chanwoo sedikit berteriak memanggil Appanya, dia heran mengapa Appanya bertindak tidak seperti biasanya.
"Ck. APPA!" Kini Chanwoo sepenuhnya berteriak, ia kesal diabaikan oleh Appanya yang jelas-jelas kini tengah berdiri beberapa meter didepannya.
Dan barulah Yunho tersadar setelah ia mendengar Chanwoo berteriak memanggilnya. Ia merasa sedikit bersalah telah membuat anaknya ini kesal.
"Wae?"
Dan oh astaga Yunho hanya menjawab panggilan Chanwoo dengan sepatah kata dan mengabaikan kekesalan Chanwoo saat ini. Appanya sunggu membuatnya kesal.
"Apa yang terjadi kepada Appa? Appa bertingkah seperti zombie, aku panggil beberapa kali tidak menjawab dan berjalan seperti tak memiliki nyawa saja huh."
Chanwoo mengeluarkan unek-uneknya atas sikap Appanya beberapa menit yang lalu.
"Hmm mianhae, pikiran Appa sedikit kacau hari ini." Yunho coba mengalihkan perhatiannya agar tak terfokus pada apa yang baru saja dialaminya hari ini.
"Kau sudah belajar nak?"
Chanwoo mendengus, "Sudah Appa. Aku sedang menunggu Appa untuk memeriksa beberapa tugasku."
"Yaa, tinggalkan tugasmu disitu. Appa mandi dulu lalu setelahnya memeriksa tugasmu. Kau sudah makan malam?" sekacau apapun pikirannya saat ini Yunho tidak boleh tidak memperhatikan anaknya kan?
"Sudah Appa."
Tigapuluh menit setelah Yunho meninggalkan Chanwoo, kini ia telah nampak sedikit 'hidup' dari sebelumnya. Sekarang dirinya tengah memeriksa tugas yang dimiliki oleh Chanwoo. Ini adalah rutinitasnya tiap malam ketika Chanwoo memiliki pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya disekolah.
Walaupun Chanwoo itu jenius, ia tetap memperlakukan anaknya dengan sikap yang sewajarnya. Ia akan tetap memeriksa tugas-tugas anaknya walau ia tau kemungkinan hasilnya adalah ia tidak menemukan kesalahan-kesalahan yang berarti didalamnya.
"Chanwoo-ya..."
"Ne Appa?"
"Appa apa pernah mengatakan bahwa kau masih memiliki Eomma dan saudara?"
Alis Chanwoo sepenuhnya membentuk sudut siku-siku disetiap pangkalnya. Memiliki Eomma dan saudara? Eomma? Jelas dia sudah tau bahwa dia pasti memiliki Eomma tapi bukankah Ayahnya bilang masih? Itu artinya Eommanya masih hidup kan? Dan saudara? Siapa saudara yang dimaksud oleh Ayahnya? Kyuhyun Hyung? Anak tunggal dari Samchonnya? Atau saudara yang lainnya? Jujur saja Chanwoo masih belum sepenuhnya mengerti apa yang baru sja dikatakan oleh Ayahnya.
"Ma-maksud Appa?"
Yunho menghela napas, ia rasa ini sudah waktunya bagi Chanwoo mengetahui kebenaran yang ada. Kebenaran dimana dia masih memiliki seorang Eomma dan dua saudara laki-laki yang lebih tua darinya yang telah disembunyikan Yunho selama 12 tahun terakhir ini pada anaknya.
"Ne... Kau masih memiliki Eomma dan dua orang hyung." Yunho terdiam, menatap bagaimana reaksi yang diberikan oleh anaknya. "Appa rasa ini sudah saatnya untukmu mengetahui hal ini, sayang. Eommamu dan dua saudaramu masih hidup dan kau sudah bertemu dengan dua diantara mereka."
Chanwoo semakin bingung dengan apa yang dikatakan Appanya beberapa detik yang lalu. Eommanya masih hidup? Dan dua saudara laki-laki yang lebih tua darinya? Serta kenyataan bahwa dia sudah bertemu dengan dua diantara mereka?
Ia masih memproses semua yang baru saja didengarnya. Ini terlalu mengejutkan dan tiba-tiba baginya, ia tak tau harus percaya pada Appanya atau tidak. Selama ini Appanya tidak pernah bercerita mengenai Ibu dan dua kakaknya lalu kini secara tiba-tiba Ayahnya membahas hal itu disaat ia sudah mulai menerima kenyataan bahwa dirinya tak pernah mengetahui siapa dan bagaimanakah sosok orang yang telah melahirkannya ke dunia ini.
Haruskah ia mempercayai semua ini? Siapkah dia menerima kenyataan bahwa dirinya telah 'dibodohi' oleh Ayahnya sendiri?
::
::
TBC
::
::
.
.
.
.
.
Note: Alohaaaaaaaaaaaaaa! dari review yang ada di chapter sebelumnya banyak yang nanya siapa gerangankah Jung Changmin? well Changmin adalah anak saya! dia anakkuuuuu dia milikkuuuuuuuuuu /lalu dilindes tronton sama Jaejoong/ kkk~ sudah ketemu jawabannya kan? sudah tau dia siapa? sudah tau YunJae punya anak berapa? anak-anak yang lain? hmmmmm gimana yaaa, mumpun Yunhp juga pengennya punya anak sejumlah 25 biji, jadi gimana kalau saya bikin list buat siapa siapa aja yang pantes jadi anaknya YunJae? o.O ahh ga deng ga jadi, kasian Mommy kalau punya anak segitu banyaknya, bisa-bisa nanti perutnya gabisa nutup/? lagi gara-gara kebayakan dibedah ;_; ah baiklah abaikan yang barusan, saya lagi gesrekkkkk -_- lanjut bales review aja ya hehehe.-.
Kuminosuki, Guest: sudah dilanjut ya^^
5351: Changmin anak saya T.T wahhh sudah kebegal tuh kayaknya :O
asroyedian: The Parent Trap? wah saya malah baru denger film itu -_-ada kemiripan ya? nanti deh aku coba browsing browsing filmnya, tapi ini seriusan ga terinspirasi dari mana-mana kok, imajinasi saya aja yang ketinggian kayak Patrick/? anyway terimakasih sudah mau baca :)
Choco Cheonsa: yeahhhh ahkirnya! xD hmm mari kita tunggu momen mereka selanjutnya kkkk~
: iya gapapa terimakasih sudah mau baca ini udah dilanjut nih ayo baca lagi jangan bosen ya wkwk aminnnn~
AprilianyArdeta: sebentar lagiiiiiiiiii~
JonginDO: sudah yaaaa~
fitri: haloo salam kenal juga^^ tentu saja boleh, baca tidak dipungut biaya kok cuma dipungut review aja /ehh ini sudah dilanjut yaaa.
meybi: Changmin anak sayaaaa xD ya karena dia dibawa kabur kakek neneknya mungkin? lol
nabratz: ayo main tebak-tebakan main petak umpet juga boleh kekeke~
Alif: wah terimakasih yaa udah baca ceritanya. kependekan? aduh tolong dimaklumin saya masih baru T.T nulis seribu kata bagaikan sebuku penuh :" /norak diusahakan kedepannya lebih panjang sepanjang jalan kenangan antara Yunho dan Jaejoong ;_;
dheaniyuu: Chwang itu anak saya kekasih Yunho/?
Kimikimjae: halo Kimi kamu rajin sekali review ff aku, aku jadi terharu :" banyak rahasia biar kekinian kalo anak jaman sekarang mah bilangnya/? tebakin aja terus siapa tau tebakannya aku masukin kedalam ceritanya xD ah kamu memang baik sekali u,u ini baru mau mulai baca kok tunggu kedatanganku disanaaaaaaaa~ yeah real life emang lebih penting, kebetulan uts udah kelar dan kebetulan juga lagi ga ada tugas ya jadilah update ffnya xD
yang terakhir nihhhhhhhhhhhhhhhhh, tolong anggap saja saya ga pernah typo yaa jari sama mata suka sliwer jadi ga nyadar kalo ada typo ;_; danterimakasih semuanya yang sudah baca baik kalian yang meninggalkan review maupun para silent readers disana, tanpa kalian aku hanya bulir-bulir keringat yang menempel diujung rambut mz Yoochun :"
