"Aku masih belum dapat merestuimu sebelum anakku ditemukan Sehun, ayo ikut aku saatnya kita beraksi", Suho bangkit dari kursi kebesarannya menuju ke ruang pribadinya.
...
Title: Misunderstanding
Rate M
Pairing HunHan. YAOI
Kim Suho/ JunMyeon – ayah Luhan
Tao – ibu Luhan
Oh Sehun
Kim Luhan
Kim Kris
Ch 7
...
Rumah Luhan
"Sekarang kita lihat kamera pengawas didaerah rumahmu, pasti mobil yang membawa Luhan tertangkap oleh kamera pengawas itu", Suho sibuk memberikan perintah kepada Sehun yang bertugas di depan layar komputer.
"Ini ahjussi! Tidak salah lagi ini mobil yang dilihat oleh ahjumma dirumahku"
"Okay, catat nomor plat mobilnya, sekarang aku akan menghubungi anak buahku, kita tidak akan bermain bersih disini. Siapapun yang berani mengusik kehidupan keluarga Kim JunMyeon akan menerima ganjarannya"
"Baik ahjussi", dalam hati Sehun berdebar – debar takut Ia juga akan mendapat ganjarannya karena telah menculik anak tercinta dari seorang Kim JunMyeon.
Tidak sampai 5 menit, anak buah Suho sudah berhasil melacak keberadaan mobil yang membawa Luhan. Menurut anak buah Suho, mobil tersebut sedang berada di daerah Wonju. Suho langsung menitahkan anak buahnya untuk mencari lokasi persembunyian Kris dan komplotannya.
"Kau Oh Sehun benar?"
"Benar ahjussi"
"Aku akan menanyakan satu hal kepadamu, apakah kau menyukai anakku?"
Sehun terdiam, Ia ingin langsung menjawab dengan tegas bahwa Ia sangat menyukai Luhan, tapi Ia merasa tidak pantas setelah apa yang telah dilakukannya terhadap Luhan.
"Apakah pertanyaanku sangat sulit hingga kau tidak bisa menjawabnya?"
"Ani, ahjussi aku sangat menyukai Luhan, anak ahjussi. Hanya saja aku merasa tidak pantas lagi untuk menyukai Luhan setelah apa yang telah kuperbuat kepadanya", Sehun tertunduk malu dan juga sedih.
"Baiklah jawabanmu sudah cukup bagiku, kau akan kumaafkan dan akan kurestui hubungan kalian saat Luhan berhasil kita selamatkan nanti".
"Tapi ahjussi, Luhan pasti akan sangat membenciku dan tidak ingin bertemu lagi denganku"
"Tidak Sehun, Luhan sebenarnya menyukaimu hanya saja mungkin dia sudah melupakannya. Aku yang paling mengetahui tentang anakku satu – satunya itu", tiba – tiba Tao mengeluarkan suaranya.
"Benarkah itu, ahjumma?", ada sebersit harapan dibalik pertanyaan yang Sehun ajukan.
"Iya Sehun, ahjumma mengatakan yang sebenarnya. Jemputlah anakku dan beri dia kebahagian, karena hanya dirimu yang Ia cari selama ini".
"Siap ahjumma", Sehun semakin bersemangat untuk menyelamatkan Luhan.
Tidak lama kemudian, anak buah Suho sudah memberi kabar tempat persembunyian dan transaksi apa yang akan dilakukan disana.
"Bagaimana, apakah kau sudah mendapatkan informasi lagi?", Suho mengangkat telepon dari anak buahnya.
"Siap Tuan, sepertinya akan dilakukan transaksi perdangan budak disana, saya mendapatkan informasi bahwa buyernya adalah seorang mafia perdangan manusia untuk dijadikan budak".
"Siapa saja korban di dalam tempat itu?".
"Korban yang ada hanya Luhan saja Tuan, maafkan saya".
"Sialan, berani – beraninya mereka mentransaksikan anakku. Kalian sudah berada dimana cepat sergap tempat itu! Jangan masuk kedalam sebelum aku sampai kesana, akan kuhabisi dalangnya dengan tanganku sendiri".
"Baik Tuan, kami sudah sampai perbatasan Wonju sebentar lagi kami sampai ke lokasi persembunyian mereka".
"Bagus, aku akan berangkat sekarang", Suho langsung menutup teleponnya. Ia langsung berdiri dengan ekspresi marah yang sangat amat besar.
"Sehun, kau ikut aku! Mereka ingin menjual Luhan, kita harus cepat sampai kesana".
Tao yang mendengar perkataannya, langsung lemas dan menangis. Sehun langsung berdiri mengikuti Suho keluar dari rumah Luhan. Tiba – tiba ada yang menggengam tangan Sehun, "Tolong bawa Luhan pulang, Sehun"
Sehun menolehkan kepalanya ke arah tangannya dan ternyata Tao ahjumma yang menggenggam tangan Sehun.
"Pasti ahjumma", Sehun menjawab dengan tegas dan yakin.
...
Suatu gudang tersembunyi di daerah Wonju
Luhan membuka perlahan matanya, Ia sudah tidak di dalam mobil lagi rupanya. Mulutnya masih dilakban rapat, tangannya diikat menyilang dibelakang tiang, dan kedua kakinya diikat menjadi satu. Luhan menilai keadaan di dalam gudang tersebut. Sepertinya gudang tersebut merupakan basecamp mereka. Di dalam gudang tersebut terdapat meja cukup besar di tengah – tengah gudang, terdapat sofa dan juga televisi di sudut gudang.
"Kau sudah bangun Luhan"
Luhan bergidik mendengar namanya dipanggil, tiba – tiba napasnya memburu, Luhan lupa caranya bernapas.
"Wah, tenang – tenang aku tidak akan melakukan apapun, bernapaslah pelan – pelan aku tidak ingin barang daganganku mati sebelum sampai ke buyernya", Tidak lama Kris meninggalkan Luhan lagi.
Luhan menitikkan air matanya, Ia berhasil menormalkan frekuensi napasnya. Luhan merasakan takut yang amat sangat. Tiba – tiba wajah Sehun terbesit di pikirannya, Ia merindukan Sehun. Walaupun Sehun telah melakukan hal yang jahat kepada Luhan, Luhan tetap merindukannya. Luhan merasakan debaran setelah wajah Sehun terbesit di dalam pikirannya, Luhan menyukai Sehun. Luhan takut tidak akan bisa melihat wajah Sehun lagi. Belum saatnya untuk menyerah batin Luhan. Ia menggerakkan tangannya berusaha melepaskan ikatan tali ditangannya. Matanya mengawasi gerak – gerik orang – orang di dalam gudang tersebut.
...
Butuh waktu 8 jam perjalanan menuju daerah Wonju dari Seoul, mobil yang dikendarai Suho dan Sehun melaju dengan kecepatan maksimum. Mereka berdua berdoa supaya mereka tidak terlambat. Tidak sampai 5 jam mereka ternyata sudah sampai gudang yang telah di informasikan. Kedatangan mereka telah di sambut oleh anak buah Suho yang jumlahnya cukup banyak. Sehun sempat berpikir bahwa Suho cukup melebih – lebihkan untuk membawa anak buah yang banyak ini, karena lawan mereka hanya Kris dengan anak buahnya yang notabene adalah preman – preman kelas teri.
"Apakah kau sudah mendapatkan informasi siapa nama buyer yang akan membeli Luhan anakku?"
"Dari salah satu preman yang berhasil kami tangkap, buyernya adalah Mino dari klan Tanaka, Tuan"
"Lawan yang cukup sulit, lebih baik kita menyelamatkan Luhan sebelum sang buyer datang, aku tidak ingin tidak ingin membuang keringatku secara Cuma – duma dengan melawan mereka, kapan transaksinya akan dilaksanakan?".
"Transaksinya sedang dilakukan Tuan".
"Apa! Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi, ayo kita kepung mereka sekarang!".
Suho, Sehun, dan anak buah Suho bergegas menuju gudang tempat dilakukannya transaksi antara Kris dengan mafia Jepang Mino.
"Tidak ada jalan lagi kita masuk melalui pintu depan, Sehun kau langsung menuju ke tempat Luhan dan bawa dia ke mobil, kau dan Luhan tunggu saja di mobil biar ahjussi dan anak buah ahjussi yang menyelesaikannya".
"Baik ahjussi", Sehun menggangguk tanda mengerti, Ia sudah tidak sabar untuk melihat wajah Luhan lagi.
...Di dalam Gudang
"Kris, to..long lepaskan aku", Luhan memohon dengan lirih, akibat ulahnya yang berhasil melepaskan ikatan di tiang, Kris marah besar dan sekarang Ia dipindahkan ke tiang tengah gudang dan diikat menggantung di atas, kakinya tidak dapat menapaki bumi dan dibuat melebar oleh Kris, untungnya ada kursi pendek di masing – masing kakinya sehingga Ia tidak benar – benar melayang. Luhan di kelilingi oleh tirai yang menutupinya sementara Kris masih sibuk mempersiapkan pertunjukannya dimana Luhan sebagai bintang utamanya. Luhan hendak dijadikan tontonan semua orang yang berada di dalam gudang tersebut, terutama sang buyer.
"Tidak bisa Luhan, buyer yang membelimu sudah datang dan kau akan memberikan pertunjukkan yang menarik sehingga Ia tidak menyesal telah membelimu. Hahaha", Kris menjawab Luhan dengan diakhiri oleh tawanya yang jahat sementara tangannya masih sibuk diantara selangkangan Luhan. Luhan tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh Kris karena didalam tirai itu cukup gelap dan tidak ada cahaya yang menyelinap masuk. Tiba – tiba Luhan merasakan ada yang menyentuh bagian bawahnya, lebih tepatnya ada yang menyentuh buttnya.
"Kris, apa yang sedang kau lakukan ?tolong turunkan aku, aku berjanji tidak akan macam – macam lagi", Luhan mulai terisak, kedua matanya mulai memproduksi bulir – bulir air mata yang siap jatuh kapan saja. Sepertinya Luhan sudah mengetahui rencana Kris, dan Luhan menjadi ketakutan.
"Maafkan aku Luhannie, anggap saja ini sebagai ucapan perpisahankanku kepadamu yang akan dibawa jauh ke negara orang, nah sudah selesai".
Setelah itu Kris agak menjauh dari tubuh Luhan dan saat itulah Luhan mengintip ke kutub bawahnya dan benar saja di antara selangkangannya terdapat dildo bergetar yang diikat dengan suatu tongkat yang berdiri, dimana ujung dildonya telah menempel dengan kulit Luhan.
"Ah, hampir saja aku lupa, jika tidak diikat akan menjadi kurang menarik", Kris maju lagi ke arah Luhan dengan membawa tali simpul sepanjang tali sepatu dan mengikatkan tali tersebut di penis pangkal penis Luhan, untuk mencegah Luhan ereksi. Luhan yang penisnya terikat dengan kuat menjadi tidak nyaman. Setelah mengikat penis Luhan, Kris pergi keluar balik tirai meninggalkan Luhan sendirian yang sedang menangis dalam diam.
"Maafkan aku karena telah membuatmu menunggu Mr. Tanaka".
"Daijobu, katanya kau sedang menyiapkan suatu pertunjukkan dengan calon mainanku, aku sudah tidak sabar untuk menikmatinya".
Kris hanya tersenyum mendengar perkataan dari sang mafia. Tidak ingin membuat buyernya menanti terlalu lama, Kris menekan tombol di remote yang Ia pegang dan terdengar erangan rintihan dibalik tirai.
"Suaranya sexy sekali", komentar Mr. Tanaka. Sepertinya Ia menyukai calon mainan barunya itu.
Anak buah Kris menarik jatuh tirainya dan tampaklah Luhan yang tidak mengenakan pakaian sehelai pun, tangannya di borgol ke atas secara terpisah, kakinya dibuat melebar berpijakkan kursi pendek, dan yang paling kejamnya adalah di antara selangkangan Luhan terdapat dildo bergetar yang ujungnya telah menyentuh lubang anus Luhan, membuat Luhan sesekali mengerang karena getarannya.
"Tarik kursi pendeknya menjauh, agar Ia semakin tidak dapat berpijak", Kris memerintahkan anak buahnya. Semakin kursinya di jauhkan Luhan semakin mengangkang dan otomatis badannya semakin turun kebawah.
"Baik Tuan", anak buah Kris menarik kursi pendek tempat Luhan berpijak menjauhi Luhan sehingga Luhan semakin turun kebawah. Luhan semakin merintih saat dildo yang bergetar itu semakin masuk ke dalam lubangnya.
"Ahkkh, am..pun shh", Luhan merintih memohon lagi.
"Astaga, aku langsung terangsang mendengar rintihannya, ambil saja semua kursinya aku sudah tidak sabar lagi", Mr. Tanaka sepertinya sudah sangat tidak sabar xixixixi.
Anak buah Kris langsung menindak lanjuti apa yang diperintahkan Mr. Tanaka, mereka menyingkirkan kursi pendek tempat Luhan berpijak dan badan Luhan langsung terjatuh menggantung ke bawah.
"Aan...Andwaee..AKKKHH", Luhan berteriak karena merasakan benda tumpul yang bergetar itu melesak masuk dan menusuk bagian prostatnya dan itu sangat sakit bagi Luhan. Tapi tidak bagi orang – orang di gudang tersebut, saat Luhan berteriak mengerang kesakitan mereka malah tertawa gembira dengan muka lapar menahan hawa nafsu. Luhan berusaha mengangkat badannya dengan cara menarik borgol yang mengikat dirinya walaupun sulit tapi Ia dapat mengangkat badannya sedikit sehingga si dildo tidak menusuk terlalu dalam ke dalam anusnya.
"No..no..no, kau tidak boleh bermain curang anak kecil", Mr. Tanaka berdiri meninggalkan tempat duduknya dan berjalan menuju tempat Luhan diikat.
"Bolehkah aku bermain dengannya?", Mr. Tanaka bertanya kepada Kris.
"Tentu saja Mr, He is all yours now".
Mr. Tanaka tertawa dan melanjutkan jalannya menuju Luhan, Ia berhenti tepat di depan Luhan. Mr. Tanaka memandangi Luhan yang berusaha memanjat setinggi – tingginya yang Ia mampu. Tiba – tiba kedua tangan Mr. Tanaka memegang pundak Luhan dan mendorong Luhan turun kebawah dan suara teriakan pun terdengar lagi. Mr. Tanaka cukup lama menahan pundak Luhan, dan yang pundaknya dipegang pun tidak dapat berbuat banyak selain menangis, merintih, dan memohon.
...
Di Luar Gudang
Suho, Sehun, dan anak buah Suho sudah sampai di depan pintu gudang. Mereka berpencar mengelilingi gudang untuk menghabisi penjaga yang berada di luar dengan hati – hati agar tidak menimbulkan kecurigaan dari dalam. Tiba – tiba terdengar teriakan Luhan dari dalam.
"Ahkkh, am..pun shh"
Sehun yang mendengar suara teriakan Luhan langsung mencari jendela yang dapat melihat kedalam. Sehun mengintip ke dalam gudang untuk melihat ada apa yang sedang terjadi dan kenapa Luhannya berteriak kesakitan. Sehun terkejut dengan apa yang dilihatnya melalui jendela. Sehun sudah tidak dapat menahan emosinya melihat Luhan dilecehkan dan dipermalukan di depan orang banyak seperti itu. Sehun langsung berlari menuju pintu depan, Ia ingin sekali menghajar orang – orang yang menertawakan Luhan yang menganggap apa yang Luhan terima sebagai hal yang lucu dan pantas untuk di tertawakan. Tangan Sehun sudah menggapai gagang pintu dan siap untuk membukanya, tapi ada tangan lain yang mencegah. Sehun menjadi bertambah marah dan lansung menolehkan kepala menuju pemilik tangan yang mencegahnya itu. Ternyata yang mencegahnya adalah Suho ahjussi, appa Luhan.
"Ahjussi, aku sudah tidak kuat lagi melihat Luhan tersiksa biarkan aku menyelamatkannya".
"Jangan terlalu gegabah bodoh, entah kenapa aku harus membawamu ikut serta tadi jika tahu kau akan berbuat seperti ini"
"Tapi.."
"Diam dan dengarkan AKU! Aku tahu kau marah terhadap mereka yang menyiksa Luhan seperti itu. Aku yang sebagai appanya pun juga sangat marah, tapi kita harus tetap menggunakan otak. Apakah kau mau kita gagal menyelamatkan Luhan akibat sifatmu yang barbar ini?"
Sehun termenung, apa yang Suho ahjussi katakan masuk diakal semua, akhirnya Ia menjadi sedikit lebih tenang. Suho melihat tingkah Sehun tersenyum, ternyata anaknya benar – benar dicintai oleh bocah ini.
"Nah karena kau sudah tenang kita jalankan rencana kita"
...
Sementara itu di dalam gudang, Luhan sedang dipermainkan oleh Mr. Tanaka. Setelah bahunya ditahan yang membuat Luhan harus menahan rasa sakit karena holenya dikoyak – koyak oleh dildo yang bergetar, sekarang penisnya yang harus merasakan sakit akibat di massage naik turun secara cepat dan kasar oleh Mr. Tanaka. Akibat dari penisnya yang tidak bisa ereksi, Luhan hanya bisa menggelinjang lemas tergantung disana. Sudah berkali – kali Ia merintih memohon untuk di turunkan tapi tidak didengarkan oleh mereka. Mereka yang berada di dalam gudang semakin menikmati apabila Luhan semakin tersiksa. Luhan sudah tidak menangis lagi, berontak pun Ia sudah tidak sanggup. Luhan hanya diam menggantung, Ia sudah pasrah, tidak peduli dengan holenya yang terkoyak habis oleh dildo yang bergetar itu dan penisnya yang di massage dengan frekuensi cepat.
Dari luar gudang terdengar suara tembakan yang tidak disadari oleh orang – orang didalam kecuali Luhan. Dikondisinya yang setengah sadar itu, Ia masih bisa mendengar suara – suara dari luar gudang. Tiba – tiba Luhan mendengar suara teriakan dari luar, suara teriakan yang seperti Luhan kenal siapa pemiliknya. Suara yang sangat dirindukan oleh Luhan, walaupun sang pemilik suara itu telah berbuat jahat kepadanya, Ia tetap mencintainya.
"Se...hun", Luhan menggumamkan nama Sehun di bawah alam sadarnya.
"Hmmmm, padahal kau sedang bermain bersamaku, berani – beraninya kau menggumamkan nama namja lain Luhan", Mr. Kanata terlihat tersinggung akibat Luhan menggumamkan nama Sehun. Mr. Kanata yang kesal kepada Luhan, menjepit penis Luhan dengan erat menggunakan tangannya. Luhan yang awalnya ingin memejamkan mata karena sudah tidak sanggup lagi, langsung terangsang otaknya oleh nyeri yang diakibatkan dari penisnya yang dijebit secara tidak manusiawi.
"AKKKHH...to..long, Sehun tolong akuu", Luhan terus meracau di alam bawah sadanrnya yang membuat kesabaran dari Mr. Tanaka habis. Ia melepaskan tangannya yang menjepit penis Luhan. Setelah itu Mr. Tanaka melepas ikat pinggangnya dan kemudian di cambuklah Luhan dengan menggunakan ikat pinggangnya tersebut.
"Akkh, sak..kit ampun"
CTAR CTAR CTAR
"Am..pun, hah hah, tolong lepaskan aku", Luhan mulai merasakan sesak napas.
Tiba – tiba terdengar bunyi debuman keras dari pintu yang dibuka dengan kasar. Semua orang di gudang tersebut menolehkan kepalanya menuju ke sumber suara yang berisik dan mengganggu acara menyiksa Luhan, semua orang termasuk Luhan ikut melihat siapa gerangan orang yang berani mendobrak pintu secara kasar. Disitulah mata mereka bertemu, Sehun dan Luhan saling bertatapan mata cukup lama seakan waktu berhenti berputar. Sehun setelah mendobrak pintu langsung terdiam mematung disana, sementara yang lainnya telah masuk dan menyerang para penjahat.
Luhan menatap Sehun cukup lama, aliran air mata turun dari pusatnya. Luhan menangis lega untuk pertama kalinya, Ia senang karena namja yang cintai datang menolongnya. Akal sehat Sehun akhirnya kembali juga, Ia langsung menyelinap dengan hati – hati melalui pinggir menuju ke tempat Luhan. Sehun akhirnya sampai ketempat Luhan, diangkatnya tubuh kecil itu. Sehun menyingkirkan dildo dari daerah selangkangan Luhan, kini Luhan hanya bergelantung lemas.
"Kau tidak apa – apa Luhan?"
Luhan yang sudah lemas dan tidak sanggup berbicara hanya menangis dan menganggukkan kepala bertanda bahwa Ia baik – baik saja.
"Sialan, apa yang kalian lakukan kepadamu. Sebentar aku akan menurunkan dirimu dulu", Sehun medorong meja yang tidak begitu jauh darinya agar Ia sampai ke atas kepala Luhan untuk memotong tali yang terikat di tangannya. Sehun berhasil memotong tali yang terikat di tangan Luhan. Luhan langsung jatuh terduduk di lantai gudang. Sehun langsung turun dari meja dan melepas jaketnya untuk menutupi tubuh Luhan yang tidak tertutup oleh sehelai benang pun.
"Kau bisa berjalan sendiri?"
Luhan hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya. Sehun semakin tidak tega melihat tubuh Luhan yang bergetar menahan isak tangisnya yang tidak juga berhenti. Akhirnya Sehun mengangkat tubuh Luhan ala bridal dan membawanya keluar dari kekacauan itu. Mereka berdua berhasil keluar dari gudang dan terus berlari menuju mobil, lebih tepatnya Sehun yang terus berlari. Sehun sampai di mobil langsung mendudukkan Luhan di kursi belakang, lalu berpindah ke depan untuk menyalakan pemanas mobil untuk menghangatkan tubuh Luhan. Sehun keluar mobil hendak berpindah lagi ke belakang untuk menemani Luhan. Saat tangannya menggenggam gagang pintu mobil, tiba – tiba ada sesuatu di tempelkan kepalanya. Sehun melirikkan matanya dan terkejut, orang yang menodongkan pistol ke kepala Sehun adalah Kris.
"Bawa Luhan keluar", Kris memberikan perintah ke Sehun
"Tidak mau"
"Jika kau tidak menuruti perintahku, akan ku tekan pelatuk ini dan kau pasti akan langsung mati di tempat Sehun"
"Coba saja jika kau berani", Sehun bukannya menuruti perintah Kris malah menantangnya balik.
Saat mereka sibuk beradu mulut Luhan membuka pintunya dan Ia keluar dari mobil dari sisi sebelah tempat Sehun, Luhan sudah tidak menangis dan tampak lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Rupanya Sehun tidak disengaja sudah membuka pintu mobilnya saat di todong dengan pistol sehingga Luhan bisa mendengar semua percakapan antara Sehun dan Kris.
"Bagus sekali Luhan, sekarang kemarilah maka aku tidak akan menyakiti Sehunmu".
Luhan berjalan menuju Kris dengan langkah yang berat dan menunduk.
"Andwaee, Luhan masuk ke dalam mobil sekarang juga. Aku tidak apa – apa sungguh", tapi yang dipanggil masih tetap melanjutkan langkah beratnya menuju Kris. Luhan sebenarnya ingin menuruti perkataan Sehun saja, tapi jika Ia menuruti perkataan Sehun maka Kris akan menembaknya. Luhan belum siap jika Sehun meninggalkan dirinya dari dunia ini.
Kris melangkah menjauhi Sehun dan berjalan menuju Luhan sambil terus mengarahkan pistolnya ke Sehun. Luhan akhirnya berada di tangan Kris lagi. Tangan kiri Kris merangkul Luhan sedangkan tangan kanannya masih menodongkan pistol ke arah Sehun.
"Kris tolong lepaskan Luhan, jika kau ada masalah dengan keluargaku lebih baik kita selesaikan sekarang tapi hanya kau dan aku"
"Tidak bisa Sehun, Luhan adalah saksi kematian adikmu dia melihat semuanya dan tentu saja dia tidak dapat kubiarkan bebas berkeliaran kan, walaupun aku sempat bersyukur Ia mengalami transient global amnesia yang membuat Ia tidak dapat mengingat kejadian itu yang Ia ingat hanyalah Ia sebagai korban pemerkosaan oleh sekelompok preman. Hahahahha", Luhan terkejut mendengar perkataan Kris. Ia sebagai saksi dari pembunuhan adiknya Sehun, seketika itu juga Ia merasa tidak berguna bagi Sehun. Luhan mendongakkan kepalanya ke atas dan memandang Kris sebentar lalu Ia menggerakkan tangannya dengan cepat mengambil pistol yang berada di tangan Kris. Terdengar suara tembakkan, kejadian itu berlangsung dengan cepat.
"LUHAN!", Sehun berlari ke arah Luhan yang terjatuh akibat tertembak oleh pistol Kris.
Kris menjatuhkan pistolnya ke bawah siap melarikan diri dihadang oleh polisi yaitu Kim Jae Joong yang baru saja tiba, Kris berhasil ditangkap.
...
1 Bulan kemudian
"Kau bisa berjalan sendiri?"
"Tentu saja bisa, kau meragukanku? Sudah cukup aku di kurung selama 1 bulan di rumah sakit dengan pengawasan yang sangat ketat itu, orang – orang pasti mengira aku adalah orang penting"
"Tentu saja kau orang penting Luhan, kau orang terpenting dalam hidupku sekarang Luhan dan tentu saja anak kita yang sedang kau kandung juga".Luhan tersenyum dan meremas tangan Sehun yang menggandeng tangannya dengan gentle itu. Mereka berjalan bergandengan tangan keluar rumah sakit pulang menuju rumah mereka.
...
Sudah 1 bulan semenjak peristiwa di Wonju itu. Tidak lama setelah Luhan tertembak, polisi datang dan menangkap Kris dan komplotannya. Mr. Tanaka terbunuh dalam peristiwa itu, ani lebih tepatnya Ia dibunuh oleh Suho sebagai balas dendam atas perlakuannya terhadap Luhan. Suho, appa Luhan tidak mendapat luka dalam peristiwa itu begitupun juga Sehun. Setelah 2 hari tidak sadarkan diri Luhan akhirnya terbangun dengan orang yang pertama kali dilihatnya adalah Sehun yang terus mengenggam tangannya selama Ia tidur. Seminggu setelah Luhan sadar, Ia ingin pulang ke rumah namun ditentang oleh Sehun dan kedua orang tuanya. Mereka tidak mau memberikan alasan kenapa Luhan tidak boleh pulang. Setelah merajuk dan menolak untuk makan, Sehun menyerah dan mengatakan alasan Luhan tidak boleh pulang adalah karena Ia hamil dan lebih baik Ia berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Sehun juga mengatakan bahwa Ia takut Luhan akan stress jika tahu bahwa Ia hamil anak Sehun.
"Tentu saja aku senang, karena aku hamil anak dari orang yang kucintai", perkataan Luhan membuat Sehun yang duduk di sebelahnya langsung berdiri kaget, dipeluknya Luhan dengan erat betapa bahagianya Sehun.
Keesokan harinya Sehun datang dengan appanya yang telah keluar dari rumah sakit. Appa Sehun juga tampaknya sudah sehat lagi walaupun Ia harus melakukan fisioterapi untuk mengembalikan fungsi kedua tangannya. Teryata tujuan Sehun dan appanya datang ke sana adalah untuk melamar Luhan. Tanpa perlu berpikir lama Luhan langsung mengiyakan ajakan menikah dari Sehun. Minggu ketiga di rumah sakit mereka melangsungkan pernikahan secara sederhana di dalam kamar rawat Luhan. Sehun beralasan bahwa Ia sudah tidak kuat menunggu Luhan keluar dari rumah sakit, Ia ingin segera mengikat Luhan agar saat keluar dari rumah sakit Luhan dapat langsung pulang ke rumah Sehun.
Kris yang diperiksa oleh polisi mengamuk dan menusukkan ujung pulpen yang tajam ke wajah polisi yang memeriksanya. Kris akhirnya di periksa oleh dokter spesialis kejiwaan dan didiagnosis menderita BPD (Borderline Personality Disorder) yang membuat Kris harus di tahan di rumah sakit jiwa dalam pengawasan.
...
THE END
Sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih sama yang udah baca, review, dan nungguin aku update. Maafin banget karena baru update setelah sekian lama, berhubung lagi padat juga kuliahnya dan lagi stack banget bingung mau diapain ceritanya makanya terhenti gitu aja.
Akhirnya ff pertama ku tamat hhe.. pokoknya terima kasih yang sangat amat banyak karena telah membaca ff ku yang masih banyak banget kesalahannya dan aku juga minta maaf kepada Luhan karena di ceritaku dia tersiksa sekali :(( membuatku menjadi tak enak dibuatnya /plak.
Sampai jumpa di ff selanjutnyaa, btw insyaAllah ff ini ada oneshot buat nyeritain after bahagianya tapi belum tau kapan dan akan terpisah dari judul ini.
Intinya terima kasih dan minta maaf hhe (apaansih runa -_-)
