Senja sudah lama tiba. Sayangnya, Nagisa baru bisa keluar dari sekolah—ia kena detensi dari guru matematika karena lupa mengerjakan pekerjaan rumah dan ketiduran di saat pelajarannya. Sumpah cari mati si Nagisa.

Tap. Tap. Tap.

Nagisa melangkah tanpa suara, menundukkan wajah. Satu tangan berayun di sisi kakinya yang berbalut rok berlipit biru muda, tangan lainnya menggenggam tas selempang berisi perlengkapan sekolah.

Ia baru melewati sebuah gang gelap ketika suara sekawanan pemuda memanggilnya.

"'Ey, nona, mau kemana~"

Abaikan saja, batin Nagisa. Ia acuh melanjutkan perjalanannya—atau setidaknya, itulah yang akan dilakukan Nagisa, kalau saja salah satu pemuda tidak lancang menyambar lengannya.

"Apa...! L, lepaskan saya!"

Nagisa tergagap bersuara. Ia meronta di genggaman si pemuda. Si pemuda menyeringai selebar kuchisake onna, begitu pula teman-temannya yang keluar dari gang dengan aura berbahaya. Nagisa melebarkan mata, keringat mengalir dari dahinya.

Oh tidak. Nagisa harus kabur sekarang juga...

...tapi gimana caranya coba?! Apa dia gigit tangan pemuda yang memegangnya ini saja?! Tapi takut ntar ada kumannya. Serba salah ;-;"

"Ayolah, nona, tidak usah sok jual mahal pada kami segala~"

"Kita main-main sebentaaar saja, tidak apa-apa kan ya~?"

"S, sudah saya bilang lepaskan saya...! Tidak, jangan-! TOLONG SAYA-!"

"NAGISA! BRENGSEK KALIAN PADA, NAGISA ITU COWOK, YA! JANGAN PANGGIL DIA NONA!"

Karma terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah. Lirik sini lirik sana, mendapati dirinya berada di rumah. Ia mengusap wajah.

"Hhh... Cuma mimpi ternyata?" gumam Karma. Ia menggelengkan kepala, kemudian bergelung kembali ke bantalnya.

Jam weker yang menunjukkan angka 07:35 diabaikan Karma tanpa dosa.

(insert OP song di sini)

OXDXC

Doki Doki Kira Kira Sailor Karma by Nyx Keilantra

Ansatsu Kyoushitsu by Yuusei Matsui

Warning(s): Yaoi, OOC, NISTA + GAJE SUMPAH, etc.

OXDXC

Semua ini, putus Karma, adalah karena dia. Bukan dia monster gurita, tapi dia si musuh baru di chapter enam yang sempat beradu pedang (pedang sungguhan, tentu saja, ingat Sailor Karma itu fisiknya wanita) dengan Karma.

Sejak kemunculannya, monster-monster dunia PIIIPIIIPIIIP tidak hanya semakin mengganas saja, tetapi serangan baru juga acapkali menimpa ketiga ~*the ultimate magical girls penyelamat alam semesta*~. Salah satunya adalah serangan yang membuat mereka bertiga—meskipun secara tak permanen saja—kehilangan kekuatan mereka.

Mengingat lawan mereka hampir selalu punya taring dan cakar yang bisa membelah tubuh mereka, fakta ini jelas membuat keder mereka.

Yah, kecuali Karma. Ini bocah mah emang suka cari masalah. Main game aja difficulty level-nya gak pernah main yang termudah. Lagian kekuatannya setara Godzilla, mau sampai ditahan empat orang juga dia masih sanggup meronta-ronta.

Anyway, pertama kali serangan baru ini dilancarkan olehnya, Nagisa dan Isogai spontan terhempas ke tanah. Keberatan pakai baju zirah, sepertinya. Karma, sekalipun ia juga nyaris dikalahkan gravitasi karena beban tambahan yang terasa, sanggup kembali menghimpun keseimbangannya seketika dan segera berkoprol kembali melawan monster yang menyerang mereka. Tidak lama setelahnya, Isogai dapat berdiri juga—sudah biasa memakai kostum berat-nan-super-panas waktu nyambi jadi maskot taman ria, rupanya. Sekalipun tameng yang semula ada di tangan kirinya harus dikorbankan karena terlalu berat, ia masih bisa ikut membantu Karma memberantas penjahat.

Yang jadi masalah adalah Nagisa. Ia ibarat seekor kura-kura yang terbalik tempurungnya.

Tak ayal si sosok berjubah tertawa.

"Ha! Sudah kuduga, kalian ~*the ultimate magical girls penyelamat alam semesta*~ memang bukan apa-apa!" koarnya penuh nada menghina.

Ia sudah akan meloncat dari atap menara air tempat hinggapnya dan menginjak kepala Nagisa, kalau saja Karma tidak tangkas menghunuskan pedang tepat ke wajahnya.

"Kalau kau berani maju, akan kubuat kau jadi makanan gurita peliharaanku, kau lipan busuk!" Karma mengutuk.

Alis si sosok berjubah berkedut, tapi Karma tidak mau mengusut. Peduli apa Karma kalau makhluk ini dalam hati sedang merengut, tak terima orang yang ia suka punya begitu banyak persamaan dengan gadis yang baginya sama sekali tidak imut.

Akhirnya, si sosok berjubah—ah, repot amat namanya, ayo kita singkat saja Sisobah—menyentakkan kepala, dengan sengit menatap Sailor Karma.

"Sebaiknya kau latih lagi kedua temanmu—terutama si biru itu."

Ia tersenyum angkuh. "Yah, mau sekuat apapun kalian, aku akan tetap menang... Tapi kalau menang tanpa kalian bisa memberikan secuil pun perlawanan, aku tidak bisa tidak merasa kasihan. Bukankah kalian para anjing harus menyenangkan hati majikan?"

Mata Karma di balik topeng dinginnya membara, bagai gunung berapi di negeri khatulistiwa. Isogai mengatupkan bibir tak suka. Dan Nagisa...

Diam saja. Ia sudah bersusah-payah untuk bisa sekadar berlutut saja, tapi selagi bersandar di dinding bata, kepalanya tetap menatap tanah.

Itulah mulanya, dan seperti penuturan Karma, semua ini karena Sisobah. Kemunculan perdana (?) serangan barunya membuat ketiga ~*the ultimate magical girls penyelamat alam semesta*~ harus lihai menghindari serangannya kalau tidak ingin kehilangan penambah kekuatan-kecepatan-dsb mereka—tapi sayangnya, Nagisa yang paling tidak boleh kehilangan kekuatannya justru yang paling sering terkena serangan itu pula.

Dan selalu saja, Sisobah tidak pernah luput menghina.

Sampai Nagisa tidak kuasa, dan akhirnya, pada malam yang sama ketika Karma memimpikan bagian di atas sana, ia menerima telepon dengan caller ID tanpa nama.

"Karma? Ini... ibunya Nagisa. Nagisa di rumahmu tidak?"

"Tidak...? Shiota-san, Nagisa kenapa?"

Hati Karma mencelos mendengar penuturan ibu Nagisa—bahwa temannya kabur dari rumah... tanpa bilang-bilang pada Karma.

"Nagisaaa! Sudah berapa lama kita bersama, bisa-bisanya kamu gak ngajak-ngajak mau kabur dari rumah?!"

Lolongan Karma hanya disahut anjing-anjing kompleks perumahannya.

.

.

"Kami harus mencari Nagisa. Selama kami belum berhasil menemukannya, kami mogok kerja tapi harus tetap dibayar seperti biasa!" itulah pengumuman yang Koro-sensei terima saat ia mendapati Karma dan Isogai sudah siap menenteng tas olahraga, lengkap dengan segala perlengkapan pramuka termasuk pisau kecil, kompas, kotak P3K, bahkan iPod untuk background music juga ada. Mereka lalu tancap gas bagai saudara tiri Cinderella, meninggalkan Kororella (?)instruksi agar ikut mencari Nagisa juga.

Ajaibnya, Koro-sensei-lah yang pertama menemukan Nagisa. Atau mungkin tidak ajaib-ajaib amat mengingat dia bisa terbang begitu cepatnya sampai tidak kasat mata—berbeda dengan Isogai dan Karma yang harus menumpang naik truk dan angkotan kota dalam perkelanaan mereka.

Koro-sensei menemukan Nagisa di sebuah pantai di akhir stasiun kereta, membuatnya bertanya-tanya apakah Nagisa habis mengikuti video klip Hitorinbo Envy yang saya bingung jalan ceritanya.

Entah mendapat intuisi bos Vongola dari fandom sebelah atau mendapat pencerahan dari dewa, Nagisa langsung berbicara ketika mendengar Koro-sensei tiba.

"Aku yang paling lemah dari kami bertiga."

Tanpa kata Koro-sensei menghempaskan bokong di sisi Nagisa, membiarkan tentakelnya membuat riak-riak air di sekitar dermaga bersama si pemuda. Kalau saja Koro-sensei bukan berwujud monster gurita, mereka pasti sudah dikira pasangan dimabuk cinta.

"Karma memang sudah kuat dari sananya—heh, pertama kali bertemu dengannya saja, aku merasa jadi kelinci disenyumi serigala,"—padahal ujung-ujungnya mereka jadi akrab juga—"Isogai-kun juga sama hebatnya. Walaupun tidak sekuat Karma, dia sanggup melakukan berbagai hal demi harta dan keluarga."

Mata Nagisa tidak beralih dari matahari yang terbenam di ufuk samudra. Koro-sensei mengaduk es kelapa hasil beli dari Indonesia, karena di Jepang minuman ini langka—oke salah fokus cerita.

"Aku mah apa—cuma haus darah, seperti anjing penjaga rumah," hati Koro-sensei sakit mendengar ucapan Nagisa. "Padahal aku yang paling tidak bisa apa-apa... Yang paling lemah..."

Nagisa memeluk lengannya, melindungi diri dari dinginnya senja.

"Bagaimana aku bisa jadi sekuat mereka...?"

Koro-sensei tidak tahan lagi mendengarnya! Cukup sudah! Sudahi semua! Ia menerjang Nagisa dan menerkamnya.

...maaf bercanda. Maksud saya, Koro-sensei mencengkram bahu Nagisa dan mengguncangnya penuh drama.

"TENTU SAJA BISA, NA-!"

"KYAAA HENTAI MENJAUH GAK!"

Jbur. Koro-sensei gagal menghibur, ia jatuh tercebur.

"Oh, Koro-sensei toh ternyata? Kukirain siapa," Nagisa berujar tanpa dosa. Koro-sensei memilih membuat gelembung di permukaan air saja selagi Nagisa mengambil sedotan kedua dan menyantap es kelapa Koro-sensei yang untunglah tidak ikut tercebur bersamanya.

.

.

Koro-sensei jadi melatih Nagisa. Berbekal training montage di film kartun Mulan dan beberapa film biksu sebagai dasarnya, ia mulai menempa si surai biru muda. Membuatnya menangkap ikan dengan tangan saja, meloncat dari satu batang kayu ke batang kayu lainnya yang terpancang di tanah, dan tentu saja memanggul ember penuh air sambil mendaki tangga, diiringi teriakan;

"HEAAAAH!"

Padahal kalo gak teriak kan bakal lebih hemat tenaga. Ah, tapi namanya juga cerita. Kalau bukan cerita, mana bisa coba Nagisa level up sebegitu cepatnya.

Ya, pelatihan yang seharusnya saya jabarkan dengan lebih mendetail tapi tidak bisa karena saya 1.) tidak bisa olahraga dan 2.) tidak punya waktu juga karena bagian ini tengah saya ketik pas sebelum hari H, akhirnya selesai juga. Pada waktu yang sama, Karma akhirnya berhasil nyusruk menemukan Nagisa, berkat ide cemerlang mencari lokasi GPS Nagisa yang entah kenapa baru terpikir oleh otak cerdasnya.

Si surai merah baru selesai mengirimkan lokasinya pada Isogai yang sempat berpencar dari Karma ketika ia sadar akan pemandangan apa di hadapannya. Pemandangan Sailor Nagisa—bukan, Shiota Nagisa—dikepung monster-monster dunia PIIIPIIIPIIIP berwujud hybrid singa, hiu, dan kura-kura... tanpa mencoba melakukan transformasinya.

Karma spontan mengucap mantra, "Doki doki kira kira-" hanya untuk dipotong Nagisa.

"JANGAN COBA-COBA, KARMA!"

Sailor Karma—Akabane Karma—terpaku mendengar suara Nagisa. Menatap emosi di mata birunya.

"Aku...

Aku tidak ingin jadi lemah."

Sabit khas dewa kematian muncul di tangan Nagisa. Bilah pedangnya berkilau biru-perak diterangi bulan purnama, namun tajamnya tidak dapat mengalahkan ketajaman ekspresi Nagisa—sebelum ia menutup mata, dan kembali membukanya dalam senyuman indah yang membuat tertegun Karma.

"Makanya, tidak usah terus melindungiku, Karma. Aku kan salah satu ~*the ultimate magical girls penyelamat alam semesta*~ juga. Saksikan aku, ya?"

Tanpa suara, Karma menyaksikan Nagisa mengayunkan sabitnya. Gerakannya begitu indah, bagaikan dansa diantara cipratan darah dan jeritan tersiksa.

Karma terpesona.

(Oke jujur ini bikin saya iuh sendiri jadinya.)

.

.

Pertarungan satu lawan entah berapa tuntas dengan Nagisa sebagai pemenangnya. Para monster dunia PIIIPIIIPIIIP yang kalah bergelimpangan di tanah bagaikan ikan pasca air bah.

Karma melesat menuju tubuh limbung Nagisa yang lelah, menopang sahabatnya yang terengah.

"Maaf tadi membentakmu, Karma," ucap Nagisa akhirnya, melirik Karma dengan raut bersalah. Karma mengangkat alis membalasnya.

"Satu-satunya alasan kau harus minta maaf padaku adalah karena kau sudah berpikir yang tidak-tidak, Nagisa," kata Karma. Sebelum Nagisa bisa memproses ucapan Karma dan bertanya kenapa pemikiran R-18 yang wajar dimiliki remaja adalah salah, Karma menyentil dahi sahabatnya dan melanjutkan bicara. "Apa-apaan coba, kau menganggap dirimu paling lemah?"

"Tapi kan aku mema-!"

"Ssst. Diem napa. Gak sopan nyela orang bicara."

"Yang nyela juga kamu kali, Karma..."

Seulas senyum kecil mulai terbit di wajah Nagisa. Tatapan yang semula jatuh pada pangkuannya berpindah menatap Karma saat si surai merah dengan lembut menangkup kedua pipinya. Kerjapan mata saat Karma—ekspresinya begitu tulus dan tenang, OOC kelewatan—menyentuhkan dahinya ke dahi Nagisa.

"Hei, Nagisa," bisik Karma. "Kau itu tidak lemah. Sama sekali tidak lemah. Mungkin kau tidak jago olahraga, tapi terus kenapa? Tidak ada orang lain yang kutahu bisa setia menjaga ibu yang terganggu jiwanya dan berusaha membantunya kembali seperti semula, mengabaikan harga dirinya hanya agar orang yang disayanginya bisa hidup normal dan bahagia. Kekuatan itu bukan cuma di fisik saja, 'Gisa.

Kau orang terkuat yang kutahu dan aku bangga menjadi orang yang bisa memanggilmu sahabatku."

Setitik airmata jatuh. Kepingan es terakhir yang membuat hati Nagisa beku pun akhirnya luluh. Ah, andaikan dari awal ia tahu...

"Makasih, Karma."

Nagisa menutup mata. Karma tiba-tiba tersadar betapa dinginnya pipi Nagisa.

"Nagisa...? O, oi! NAGISA!"

Isogai—yang akhirnya datang juga—sedetik melebarkan mata, sebelum berderap menghampiri Karma yang panik mendekap Nagisa, berbekal kotak P3K. Dari keringat dan rona merah di wajahnya, kedua pemuda yang masih sehat wal'afiat itu dapat menduga Nagisa demam karena terlalu lelah.

Deburan ombak yang menyapu onggokan mayat monster dunia PIIIPIIIPIIIP terdengar kencang di telinga. Tapi saat memasangkan kompres di dahi Nagisa, Isogai dan Karma masih dapat mendengar gumaman Nagisa;

"Aku suka Karma."

.

.

Esok hari berlalu begitu saja. Lusa, Nagisa dinyatakan cukup sehat untuk perjalanan pulang ke kota mereka. Sebuah mobil disewa, tiga (3) tas olahraga dan sembilan (9) dus penuh ikan dan buah kelapa disimpan di bagasinya, dan tiga bocah serta satu monster gurita siap memulai perjalanan mereka.

"Sayooonara~ Sayooonara~ Sampaaai berjumpa pulaaa~"

"Koro-sensei berisik diem gak."

"Habis katanya sensei gak boleh nyalain radionya-"

"Nyalain boleh aja, kita dengerin musik juga mau-mau aja. Tapi jangan semuanya Shakira sama Lady Gaga," Isogai menjelaskan dengan tabah. Karma mengangguk tegas membenarkannya.

"Taylor Swift aja kalau sensei maksa."

"Gak gitu juga, Karma."

Masih sedikit lemah—dan takut mabok perjalanan karena jalannya yang sangat brutal akan roda—Nagisa hanya bersender di jok belakang sambil tertawa kecil menyaksikan tingkah teman-temannya.

Perjalanan mereka terhitung biasa, hanya mendaki satu gunung dan melewati satu lembah dengan sungai mengalir indah ke samudra—oh maaf, itu lagu anime lama—dan dihabiskan oleh Karma, Nagisa, Isogai, dan Koro-sensei sambil berdebat dan bercanda, rebutan lagu sampai akhirnya mereka bermusyawarah mendengarkan lagu dari HP masing-masing dengan earphone saja, berbagi (baca: berebut) snack dan soda, serta tidak lupa selfie kapanpun bisa. Koro-sensei nyaris didepak Karma dkk karena nekat mengambil selfie saat mereka hendak melewati tikungan jurang yang tidak ada pagar pembatasnya dan sekali lagi saat dia tidak melihat ada lubang perbaikan jalan ukuran raksasa yang membuat Karma dkk berteriak penuh drama.

(Lalu Koro-sensei nyaris dihabisi mereka, karena rupa-rupanya ia sengaja dan hanya mau menjebak Karma-Nagisa-Isogai agar menjerit dengan nada setinggi suara kaum wanita.)

Ketika akhirnya mereka tiba di kota, Isogai di-drop paling pertama. Begitu tiba di kediaman keluarga Shiota, Nagisa baru saja akan mengangkat bokong meninggalkan jok mobil yang sudah panas empat jam didudukinya, tapi dicegah Karma.

"Tunggu sebentar, Nagisa, aku mau bicara."

Jantung Nagisa meloncat ke tenggorokannya, buru-buru dijejalkan Nagisa kembali ke rongga dada.

"A, ada apa, Karma?"

Toleh sini-sana, tapi Isogai sudah tidak ada, dan Koro-sensei juga mendadak raib entah kemana. Apa ini karena Koro-sensei yang peka, disogok/diancam/diusir Karma, atau hanya karena penulis malas saja mengubah latar supaya mereka hanya berdua?

Intinya sih gak ada yang bisa menolong Nagisa menghindari percakapan dengan Karma.

Kyun kyun kira kira~

"Mungkin kamu gak mengingatnya-"

Bagus ayo pura-pura gak inget aja.

"Ini tentang ucapanmu habis kamu jatuh demam di pantai sana-"

Aaaaa tidaaaac lupakan saja Karmaaaa, lupakanlaaah. Hapuskanlah ingatanmu jika itu tentang apa yang kukataaa.

"Uhh, gimana ya ngomongnya?"

Batin Nagisa yang tadi mengaransemen sebuah lagu seenaknya beralih fokus ke Karma, meresapi rona malu di wajah si surai merah.

Duh, imutnya.

Setelah sepertinya berusaha memilih kata, Karma menatap Nagisa.

"Tentang kamu bilang suka padaku... Sebenarnya, aku juga suka padamu."

!

?!

Gakushuu mau dikemanain, bu?!

Nagisa terperangah. Ia... ia tidak percaya! Cintanya tidak bertepuk sebelah?!

"Benarkah, Karma?!" tanya Nagisa dengan sangat tidak wolesnya.

Karma tegas menganggukkan kepala. "Tentu saja. Kau kan sahabatku, Nagisa."

...

Di sini berbaring Shiota Nagisa, korban PHP Akabane Karma. Semoga hidupnya sehabis ini lebih bahagia, penuh kedamaian dan tanpa sakit di kokoro yang dihempaskan pemuda bodoh yang ia suka.

Nagisa tertawa ha-ha-ha, membalas kalau Karma juga sahabatnya, keluar dari mobil yang segera dimasuki monster gurita, lalu berdadah-ria sampai mobil menghilang menuju rumah Karma.

Senyum (^_^) masih terpatri di wajah Nagisa, tapi tangannya kini teremas menjadi tinju amarah.

Iya ya? Gak salah ya?

Ini emang cerita parodi humor segaring Cr*spy Cr*ckers ya?

GAK PAPA YA KALO CINTA GUA TETEP BERTEPUK SEBELAH SAMPAI AKHIR CERITA?!

~Tsuzuku~

A/N: Pertama-tama, marilah kita—eh maaf, ini bukan pidato ya. Oke, pertama, izinkan saya meminta maaf atas chapter tujuh ini yang tidak cukup mendetail bagi saya :/ Niat saya sebenarnya ingin ada Nagisa bermonolog tentang bagaimana ia suka Karma, ada ini dan itu juga, tapi yah, waktu saya tidak cukup untuk menuangkan semuanya dalam kata-kata jadi mau bagaimana =w="

Tapi di sisi baiknya, saya sekarang sudah punya gambaran untuk akhir fanfiksi Doki Doki Kira Kira! \\(^0^)/ ...seperti yang saya cantumkan sebelumnya, masih lama sih, jadi maaf (lagi) ya.

Dan terimakasih untuk para pembaca, terutama review anda yang membuat saya bahagia :") Pada seneng semua ya ada Asano x Karma? Saya jadi tidak sabar menunggu reaksi anda semua nanti saat ada—ups, gak boleh spoiler ya.

Anyway, teruslah membaca (dan me-review!) Doki Doki Kira Kira!

Trailer Episode Selanjutnya~

"Siapa sih dia sebenarnya?"

"Yah, hanya satu cara untuk mengetahuinya..."

"PESTA DANSA?!"

.

.

"Kami ingin menunangkan putra kami, Karma-"

"Aku tidak punya orangtua."

.

.

"Karma...? Sailor Karma...?"

.

.

Berhasil mengelakkan drama cinta segitiga, ~*the ultimate magical girls penyelamat alam semesta*~ kini kembali konsentrasi dengan masalah baru mereka: Siapakah sebenarnya Si Sosok Berjubah alias Sisobah? Investigasi di pesta dansa berujung fakta baru tentang Karma. Dan, eh? Asano menyadari ada sesuatu antara Sailor Karma dan Akabane Karma? Jangan lewatkan di episode selanjutnya! Doki Doki: Saatnya Investigasi!

Trailer Tamat~

(Bonus Omake:

"Tentang kamu bilang suka padaku... Sebenarnya aku juga suka padamu."

Karma menatap Nagisa. Nagisa membelalakkan mata tak percaya, terlebih sewaktu Karma dengan lembut tapi tegas menyentuhkan tangannya ke tangan Nagisa.

"Tapi, si Asano Gakushuu-"

"Dia bukan apa-apa jika dibandingkan denganmu," sela Karma, merona ayu.

Nagisa ikut tersipu. Ia bertanya malu-malu.

"Kalau begitu... Bisa tolong buktikan padaku?"

Karma menelengkan kepala dengan lucu, tidak tahu apa yang Nagisa mau.

"Izinkan aku untuk menciumku."

Dan Karma merona semakin ayu. Mengangguk sama malu-malu.

Detik berikutnya, bibir mereka bertemu...

"TIDAK! KARMA!"

Asano terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah. Lirik sini lirik sana, mendapati dirinya berada di rumah (atau lebih tepatnya ruang bawah tanah). Ia mengusap wajah.

"Hhh... Cuma mimpi ternyata?" gumamnya. Tapi berbeda dengan Karma, ia tidak kembali bergelung di bantalnya, tapi justru mengepalkan tinjunya murka.

"Ternyata benar apa yang aku duga... Tidak salah selama ini aku curiga... Dia juga menyimpan rasa pada Karma! Awas kau, Shiota Nagisa!"

Di kamar sebelah, maou-sama menyesap whisky tanpa suara sebelum menggelengkan kepala. Anak muda, batinnya.

Omake Tamat)