Yoongi tertawa puas saat mendapati laporan baru dari Jooheon. Seperti yang sudah Yoongi duga sebelumnya, anak kecil bernama Kim Taeyong tidak ada sangkut pautnya dengan Jimin. Atau singkatnya, Jimin bukan ayah Taeyong.
Yoongi menatap pada hasil test DNA yang dilakukannya diam-diam dengan mengambil rambut Jimin dan Taeyong. Jangan Tanya dari mana Yoongi mendapatkannya, Yoongi bahkan bisa mendapatkan jantung Jimin jika dia mau.
"Istri dan anak, eoh?" Yoongi terkekeh. "Kau itu milikku, Park Jimin…" guman Yoongi sambil tersenyum jahat.
.
.
.
DEVIL IN a BLACK COAT
.
.
.
Taehyung terdiam memandangi wajah Taeyong yang sedang terlelap diatas tempat tidur, sesekali tangannya mengelus halus rambut anaknya dan mengecupi kening Taeyong yang masih demam.
Ingatan Taehyung berlari pada kejadian tiga hari yang lalu, dimana Jungkook yang tiba-tiba saja ikut masuk kedalam ruangan periksa, berdiri dalam diam sambil memperhatikan Taeyong yang sedang diperiksa dokter. Jungkook bahkan mengabaikan sapaan suster yang mengenalinya karena sibuk menatap Taeyong.
Selesai diperiksa, Jungkook langsung mengambil Taeyong yang masih berbaring diatas tempat tidur selesai diperiksa, dengan sigap menggendong Taeyong dalam tangannya. Taehyung ingin protes, tapi tidak berani karena tidak ingin terjadi keributan.
Taehyung bahkan membiarkan Jungkook menggendong Taeyong sampai keparkiran, sesekali Taehyung bisa melihat Jungkook yang dengan sengaja menyenggol bahu Jimin seolah ingin mengajak Jimin berkelahi, hal itu membuat Jimin nyaris jatuh berkali-kali dan bersiap ingin menghajar Jungkook jika saja Tidak mengingat ada Taeyong digendongan Jungkook.
Taehyung berhasil pergi dengan damai dari Jungkook berkat manager Jungkook yang sudah mengomeli Jungkook, menarik tangan Jungkook setelah memberikan Taeyong pada Taehyung lagi.
Taehyung kembali memandangi wajah Taeyong yang tertidur pulas, matanya menatap sendu dan lagi-lagi mengecup dahi Taeyong yang tidur sambil memeluknya.
"Eomma takut, Taeyongie. Eomma takut orang itu menyadarinya…" Taehyung memeluk anaknya.
.
.
.
"Jim, keruanganku sekarang" Seokjin memanggil Jimin sambil berjalan masuk lebih dulu keruangannya.
"Ada apa?" Kyungsoo yang sejak tadi sibuk menjelaskan pekerjaan baru Jimin, menatap Jimin penasaran.
"Tidak tau" Jimin mengangkat bahunya. "Aku kedalam dulu" Jimin menepuk bahu Kyungsoo dan berjalan keruangan Seokjin.
"Ne, sajangnim?" Jimin yang sudah duduk manis didepan Jimin bertanya penasaran.
"Jangan cari gara-gara dengan Jeon Jungkook" Seokjin memperingatkan.
"Aku?" Jimin menunjuk dirinya sendiri tak percaya.
"Iya. Managernya bilang kau seperti sedang terlibat masalah dengan Jungkook. Managernya bilang saat dirumah sakit kau dan Jungkook nyaris bertengkar" Seokjin memijat batang hidungnya.
"Dia yang mulai" Jimin membela diri.
"Apapun masalahnya, lebih baik kau tidak usah ikut campur. Ini demi kebaikanmu. Kau harus sadar kalau si Jeon Jungkook itu artis dengan jumlah fans yang tidak sedikit, kalau mereka tau kau bermasalah dengannya, kau bisa bunuh diri karena mereka akan membully mu disosial media tanpa ampun."
"Aku paham" Jimin memilih menurut. Karena dia cukup sadar, fans Jungkook itu seperti fans militan. Sangat menyeramkan jika bersinggungan dengan mereka. Cukup membaca komentar yang mereka tinggalkann diberita yang mereka terbitakan, Jimin bisa tau fans Jungkook itu mengerikan.
"Ini demi kebaikanmu…"
"Ne, Sajangnim" Jimin mengangguk.
"Oh ya. Ini, dari Min Yoongi" Jimin meletakkan amplop putih panjang didepan Jimin.
Jimin menatap bingung pada amplop yang disodorkan Seokjin, dengan ragu, Jimin mengambil amplop itu dan tersenyum canggung.
Jimin membuka dengan perasaan berdebar. Saat melihat isi dari amplop itu adalah test DNA, Jimin membeku. Sesuatu menarik perhatian Jimin, ada tulisan tangan di kerta dipaling bawah.
'Lebih baik kau jadi istri dan memberikan ku anak saja kalau kau memang ingin punya keluarga'- Min Yoongi.
Jimin memerah malu. Dia sudah ketahuan berbohong. Habislah dia.
"Jim? Kau oke?" Seokjin bertanya penasaran.
"Oh, ne sajangnim. Aku permisi" Jimin berlalu cepat dari ruangan Seokjin. Wajahnya terasa panas karena malu. Jimin rasanya ingin pergi saja dari Korea sangkin malunya.
Jimin berjalan terburu, tanpa mengetuk dan menunggu persetujuan Taehyung, Jimin menerobos dan duduk didepan Taehyung yang sudah siap melontarkan kata-kata tak senonoh pada Jimin, sampai Jimin meletakkan kertas didepan Taehyung dan membuat Taehyung menutup mulut.
"Apa ini?" Taehyung mengernyit, mengambil kertas itu dan membacanya, dan makin kebingungan. Kenapa ada nama Jimin dan anaknya dikertas hasil tes DNA ini?
"Tae, aku kan resign, oprasi plastic, berganti nama dan pindah kewarganegaraan" Jimin meracau.
"Kau mabuk?"
"Aku ketahuan…" ucap Jimin dengan pandang kosong.
"Apa maksudmu?" Taehyung kebingungan.
"Min Yoongi sudah tau…" cicit Jimin.
"YA, kau ini bicara apa?" Taehyung memukul kepala Jimin dengan kertas hasil tes DNA. "Dan kenapa ada nama anakku disini?"
"Tae, kali ini maafkan aku…" Jimin memegang tangan Taehyung. "Aku… aku berbohong pada Min Yoongi…" mulai Jimin.
"Soal?"
"A-aku bilang kalau aku sudah punya istri dan anak…" cicit Jimin pelan.
"Seingatku kau bottom" jawab Taehyung santai.
"Brengsek!" Jimin menghempas tangan Taehyung dengan kesal. "Ini juga menyangkut padamu!" Jimin menatap jengkel.
"Kenapa aku?" Taehyung menaikan alisnya. "Holllllyyy shiit! Jangan bilang kau mengaku-ngaku menjadi suami ku?" Taehyung menatap horror pada Jimin.
Jimin mengangguk.
"Park Jimin, brengsek!" Taehyung memukuli tangan Jimin dengan kesal.
"Tapi sudah ketahuan!" Jimin melindungi tubuhnya dengan memundurkan kursinya.
"Sama saja! Kau sudah melibatkanku dengan mafia! Bagaimana kalau dia mencelakakan Taeyong?" Taehyung berucap geram.
"Tidak akan, aku jamin! Aku tidak akan membiarkannya menyentuh Taeyong" ucap Jimin pasti.
"Ya, kau berucap seperti kau juga bisa melindungi dirimu sendiri dari Min Yoongi" Taehyung berucap sarkas.
Jimin terdiam.
"Jim, demi Tuhan, dari semua kebohongan yang bis akau lakukan kenapa berbohong soal itu?" Taehyung menatap takjup pada Jimin.
"Aku reflex…" Jimin menunduk, menyesal.
"Sudahlah, aku akan menjelaskan ini pada Sajangnim, aku akan minta bantuannya saja. Setidkanya suami sajangnim itu berteman dengan Min Yoongi." Putus Taehyung.
"Maaf kan aku…" sesal Jimin.
"Kau, selesaikan masalahmu sendiri, karena aku hanya akan menjelaskan yang sejujurnya tentang aku dan Taeyong." Taehyung berdiri dan memukul kepala Jimin lagi dengan kertas tes DNA ditangannya.
"Kau tidak ingin membelaku?" Jimin ikut berdiri, mengekori Taehyung.
"Bela saja dirimu sendiri didepan Min Yoongi" Taehyung berucap tak peduli.
.
.
.
Jimin pulang ke flat miliknya saat jam sudah menunjukan tengah dua belas malam. Dia menghabiskan malamnya bersama teman-teman kantornya setelah pulang dari kerja.
Saat akan membuka pintu, Jimin mengernyit melihat seseorang yang muncul dari arah tangga. Postur tubuhnya jelas laki-laki, mengenakan coat hitam dan sedang menatap Jimin. Jimin menajamkan matanya dan membola saat tau kalau Yoongi-lah yang ada disana. Jimin panic dan buru-buru membuka kunci flat dan terlambat. Yoongi sudah ada dibelakangnya.
"Lepaskan tanganmu dari pintuku" guman Jimin pelan.
"Aku menunggumu" Yoongi terkekeh, tangannya masih saja menahan pintu flat Jimin agar tidak bisa dibuka.
"Apa maumu?" Jimin berbalik dan mengumpat, Yoongi berada terlalu dekat dengannya.
"Tidak ingin menjelaskan sesuatu, Park Jimin?" Yoongi memiringkan kepalanya untuk bisa melihat Jimin yang sudah menunduk takut.
"T-tidak ada yang ingin ku jelaskan" ucap Jimin gugup.
Saat Jimin merasa wajah Yoongi semakin dekat, Jimin reflex mendorong perut Yoongi dengan kuat agar menjauh. Saat mendengar pekikan kesakitan dari Yoongi, Jimin berubah panic.
Yoongi tersungkur kelantai sambil memegangi perutnya yang tadi Jimin tolak dengan keras. Diantara remangnya lampu koridor flat miliknya, Jimin bisa melihat ada sesuatu yang merembes di kemeja Yoongi yang terlapis coat. Sesuatu berwarna merah, seperti…. Darah.
Jimin menutup mulutnya dengan tangan saat menyadari bahwa sesuatu yang merembes keluar dari kemeja Yoongi memanglah darah. Matanya menatap syok pada Yoongi yang memegangi perutnya. Jimin tersadar saat Yoongi memundurkan tubuhnya kedinding koridor, dengan terburu Jimin mendekati Yoongi yang kesakitan dan menaruh tangan Yoongi dibahunya, membantu namja pucat itu untuk berdiri.
"Ma-maafkan aku…" ucap Jimin panic, sedikit kesulitan untuk mengangkat Yoongi berdiri dengan benar.
"Ini sakit…" ucap Yoongi sambil berusah berdiri.
"Aku tidak sengaja, maafkan aku" Jimin berucap penuh sesal.
"Kau harus tanggung jawab" ucap Yoongi terdengar kesal.
"Akan ku obat… akan ku obati" ucap Jimin ketakutan dan membawa Yoongi yang sudah berdiri tegak sambil berjalan kedalam flat milik Jimin. Jimin hanya tidak tahu, Yoongi tidak benar-benar kesakitan, Yoongi bahkan menyeringai sekarang.
Jimin meletakkan Yoongi diatas tempat tidurnya dan berlari kedapur untuk mengambil lap dan air hangat untuk membasuh luka Yoongi juga peralakan P3K miliknya. Selama Jimin pergi, Yoongi duduk dengan tenang, hilang sudah wajah pura-pura kesakitan yang ditunjukkan pada Jimin. Yoongi memperhatikan kamar Jimin yang terlihat sempit, bahkan kamar mandi milik Yoongi lebih lebar dari kamar Jimin ini.
Saat pintu terbuka, Yoongi memasang lagi wajah pura-pura menderitanya. Yoongi mendesis seoalah akan mati sedetik lagi dan memegang perutnya yang mengeluarkan darah.
Jimin dengan gemetaran melepas coat yang Yoongi pakai, semakin gemetara saat Jimin harus membuka kancing kemeja Yoongi stu persatu. Jujur saja, Jimin sangat malu sekarang.
"Jangan pegang lukanya" Jimin menahan tangan Yoongi saat namja pucat itu akan menyentuh perban yang sudah berdarah diperutnya.
"Sakit." Yoongi mendesis lagi. Saat Jimin tak melihatnya, Yoongi menyeringai dan nyaris ingin tertawa melihat Jimin yang panic.
"Tahan sebentar…" Jimin merebahkan Yoongi diatas tempat tidurnya.
Jimin terkesiap saat memperhatikan badan Yoongi, wajahnya terasa panas, tapi saat melihat perban berdarah diperut Yoongi, Jimin menggelengkan kepalanya. Bukan saatnya untuk berpikiran kotor.
Dengan perlahan Jimin membuka perban yang sudah berdarah diperut Yoongi, membuang perban itu begitu saja dan memberishkan lukanya. Ada bekas jahitan disana, Jimin merinding melihatnya.
"Tidak sengaja tertusuk" ucap Yoongi tiba-tiba seperti ingin menjelaskan asal usul luka diperutnya.
"A-aku akan membersihkan darahnya lebih dulu" ucap Jimin gentar.
Selesai mengurus luka Yoongi dan kembali memberikan perban baru dilukanya, Jimin berjalan kelemari dan mengambilkan bajunya untuk Yoongi kenakan. Yoongi yang masih berbaring diatas tempat tidur hanya memandang Jimin seolah minta penjelasan.
"Kemejamu berdarah… ganti dengan punyaku saja" Jimin mengulurkan bajunya pada Yoongi.
"Oh.." Yoongi mengambil baju yang Jimin berikan dan menatap Jimin dalam-dalam.
"Apa?" Jimin bertanya bingung.
"Perutku sakit jika aku terlalu berlebihan bergerak. Bukakan kemejaku" perintah Yoongi.
Atas dasar rasa bersalah, Jimin membantu membuka kemeja Yoongi yang memang sudah tidak terkancing pelan-pelan.
"Pakaikan" Yoongi mengulurkan lagi baju piyama yang Jimin pinjamkan untuknya.
Lagi-lagi Jimin hanya menurut dan membantu Yoongi memakai piyama.
"Sudah" ucap Jimin setelah mengancing piyama untuk Yoongi.
"Ya sudah, aku akan tidur" Yoongi menyusun bantal , menepuknya dan menyamankan kepalanya disana, Jimin melongo dibuatnya.
"Ke-kenapa kau tidak pulang?" Jimin bertanya kebingungan.
"Huh? Kau sudah membuat lukaku berdarah lagi, membuatku kesakitan, lalu kau menyuruhku pulang? Bahkan sakitnya saja masih terasa!" Yoongi melancarkan protesnya, tanpa sadar bertingkah kekanakan.
"Tapi…"
"Agh… perutku…" Yoongi memegang perutnya,lagi-lagi memasang wajah menderita.
"Kenapa? Kenapa?" Jimin bertanya, panic.
"Sakit…" Yoongi memegang perutnya dengan dramatis.
"A-apa kau butuh obat pengurang rasa sakit?" Jimin menatap Yoongi ketakutan.
"Tidak, biarkan aku istirahat."
Jimin hanya mengangguk dan membiarkan Yoongi tidur diatas tempat tidurnya.
Jimin memilih keluar kamar dan tidur disofa ruang tamunya sambil menonton TV hingga jatuh tertidur. Saat jam menunjukkan pukul tiga pagi, Yoongi terbagun dan mendapati Jimin sedang meringkuk diatas sofa. Yoongi terkekeh pelan.
Yoongi berjalan kearah sofa, menyeret selimut yang ada ditangannya dan ikut tidur disofa bersama Jimin. Yoongi menyelipkan tangannya dikepala Jimin sebagai bantal, menyelimuti mereka berdua dan tertidur memeluk Jimin dari belakang.
Jimin terbangun pagi-pagi sekali dan mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menyadari ada tangan yang memeluk perutnya. Pelan-pelan Jimin berbalik dan melihat wajah Yoongi yang tertidur pulas didepannya. Jimin hanya diam sambil memperhatikan. Wajahnya saat tidur sangat berbeda jika dibandingkan saat Yoongi yang sedang bangun.
Baru kali ini Jimin berani terang-terangan memperhatikan Yoongi. Jika diperhatikan lebih dekat, Yoongi terlihat sangat tampan dan terlihat seperti anak baik, jangan bandingkan dengan Yoongi yang sedang menyeringai seperti iblis. Yoongi yang biasa selalu tampak berbahaya dan seksi disaat bersamaan.
Puas memandangi wajah Yoongi, Jimin merasa geram dan menyentuhkan hidungnya pada Yoongi, hanya menempel saja, sebelum akhirnya Jimin bangun dan berjalan pelan menuju kamar. Dia harus mandi dan bekerja. Setelah Jimin bangkit dari sofa, Yoongi membuka matanya dan menyeringai lagi. Iya, Yoongi sudah bangun dari tadi.
.
.
.
Jimin sudah selesai mandi dan berpakaian saat melihat Yoongi baru keluar dari kamar mandi dan terlihat segar. Jimin memang memberikan handuk dan baju ganti untuk Yoongi mandi. Bagaimana pun Jimin merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan Yoongi malam tadi.
"Kau masih hutang penjelasan, Park Jimin…" Yoongi mendudukan diri di kursi makan sambil melihat Jimin menyiapkan roti panggang untuk sarapan.
Jimin melirik kebelakang dan wajah menyebalkan Yoongi sudah terpampang seperti biasa.
"Penjelasan apa?" Jimin berucap cuek.
"Taehyung. Aku tau dia bukan istrimu" Yoongi menaikkan salah satu alisnya.
"Lalu kenapa bertanya?" Jimin meletakkan roti dan susu didepan Yoongi dan duduk berhadapan dimeja makan.
"Kenapa kau berbohong? Kau tau, Jungkook salah paham padamu, dia bahkan ingin memberimu perhitungan" Yoongi tertawa pelan, seperti dia mengizinkan saja Jungkook macam-macam pada Jimin.
"Aku tidak takut padanya, aku juga perlu memberi anak itu pelajaran. Aku ingin sekali meninju wajahnya" Jimin berucap kesal.
"Memangnya kau berani?" Yoongi mengejek.
"Tentu saja aku berani!" ucap Jimin berapi-api. "Orang seperti Jeon Jungkook itu lebih baik di bumihanguskan saja. Sudah tidak bertanggung jawab, brengsek pula" omel Jimin.
"Memangnya Jungkook harus bertanggung jawab pada siapa?" pancing Yoongi.
"Tentu saja pada Taehyung dan Taeyong! Taeyong itu anaknya Jungkook!" Jimin membolakan matanya. Tangannya buru-buru menutup bibirnya . dia keceplosan.
"Ohh jadi Taeyong itu anak Jungkook…" Yoongi membeo.
Jimin menelan ludahnya susah payah.
"Kau.. kau salah dengar.." Jimin berucap panic.
"Telingaku masih berfungsi dengan baik" Yoongi mengigit rotinya dengan santai.
"Tolong jangan beritahukan pada Jungkook…" pinta Jimin.
"Apa imbalannya kalau aku tutup mulut?" Yoongi menaikkan alisnya sebelah, seolah menantang Jimin.
Jimin terdiam. Yoongi si iblis ini memang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Manusia paling pamrih yang pernah Jimin temui.
"Well, Jungkook akan segera tau kalau dia punya anak" Yoongi berdiri dan berjalan ke kamar Jimin, ingin mengambil coat miliknya.
Jimin bergegas menyusul Yoongi ke kamar dan menahan namja pucat itu agar tidak pergi sebelum berjanji untuk tutup mulut.
"Bukan hak mu untuk memberitahunya" Jimin menatap tajam pada Yoongi.
"Bukan hakmu juga untuk menyembunyikannya. Jungkook berhak tau, dia ayahnya" balas Yoongi santai.
"Aku hanya berbohong soal Jungkook" ucap Jimin lagi.
"Kalau begitu biarkan Jungkook tau kebohongan yang kau buat" Yoongi menyeringai saat Jimin tidak lagi bersuara.
"Aku tidak akan membiarkan Taehyung disakiti lagi oleh namja brengsek sepertinya! Kau tidak…"
Jimin tersentak saat Yoongi menarik tangannya dan membuat Jiimin membentur badan Yoongi. Jimin bisa melihat kilat marah dimata namja pucat itu. Jimin merinding.
"Kau ingin aku tutup mulut, kan?" Yoongi berucap berbahaya, melemparkan coatnya dan mendorong Jimin hingga terjatuh ditempat tidur.
"I-iya…" jawab Jimin gentar.
"Aku tidak akan buka mulut, tapi dengan syarat, kau harus membuka kakimu untukku" Yoongi menyeringai. Dia benar-benar marah saat Jimin membela Taehyung sampai sebegitunya.
"T-tidak masalah, asal kau bersumpah untuk tutup mulut" Jimin gemetar. Meskipun ucapannya seolah menantang, tapi pelan-pelan Jimin memundurkan tubuhnya menjauhi Yoongi, tanpa Jimin sadari, ucapannya membuat Yoongi semakin marah.
Yoongi mengeram, tangannya menarik lengan atas Jimin sampai Jimin terduduk diatas tempat tidur. "Kau bahkan merelakan tubuhnya hanya untuk melindunginya?"
"Y-ya.. asal Taehyung tidak terluka lagi" Jimin memberanikan diri menantang Yoongi. Bagaimanapun, kalau Jungkook sampai tahu, Taehyung pasti terkena masalah lagi. Sudah cukup Jimin mendengar dan melihat Taehyung menderita, Jimin tidak ingin menambahinya lagi karena dia kelepasan bicara.
Tangan Yoongi mengepal erat mendengar ucapan Jimin. Jimin seolah menantangnya demi dapat melindungi Taehyung dan itu membuat sesuatu dalam diri Yoongi berteriak marah.
"Aku tetap akan mengatakan hal ini pada Jungkook" putus Yoongi dan melepaskan tangannya dari Jimin kemudia pergi menuju pintu.
Jimin tidak ingin tinggal diam dan berlari mengejar Yoongi, memeluk namja pucat itu dari belakang dengan erat.
"Min Yoongi, kumohon… kumohon jangan beritahu Jungkook…" pinta Jimin kalut.
"Kenapa aku harus tutup mulut? Ini berita bagus untuk Jungkook, dia berhak tau soal anaknya" Yoongi melepas pelukan Jimin dan membuat Jimin berdiri didepannya.
"Biarkan Taehyung, jangan ganggu dia. Dia sudah banyak menderita karena Jungkook. Jangan tambahi lagi…" Jimin memohon.
"Apa peduliku, Park Jimin?" Yoongi berucap sinis.
Tanpa Yoongi duga, Jimin menarik tengkuknya dan mencium bibir Yoongi. Yang Jimin lupa, Yoongi sering susah mengendalikan diri jika sudah dipancing seperti ini.
Yoongi mengalungkan tangannya di pinggang Jimin, balas mencium Jimin dengan rakus. Tangan nakalnya bahkan sudah berada dibalik baju Jimin, mengelus kulit Jimin kemana saja tangannya bisa mencapai.
Jimin melenguh pelan saat tangan Yoongi sudah menjalar menuju dadanya, nafasnya memburu dan matanya berubah sayu saat Yoongi melepas ciumannya. Jimin hanya pasrah saat Yoongi membawanya kekamar, menutup pintu dan mengukung Jimin diantara tangannya.
"Min Yoongi, kumohon… jangan beritahu Jungkook" Jimin berucap kesusahan karena Yoongi sedang sibuk bermain disekitar lehernya.
Jimin meremas rambut Yoongi saat Jimin merasakan gigitan kecil didaerah lehernya.
"Min… Yoongi…" ucap Jimin susah payah. Tangannya terulur untuk menarik wajah Yoongi dari lehernya.
"Berjanji…" ucap Jimin parau.
Yoongi menatap Jimin dengan tajam. Disaat-saat seperti ini Jimin bahkan masih sempat-sempatnya memikirkan Taehyung. Yang benar saja!.
"Panggil aku Daddy dan aku akan meluluskan permintaanmu…" Yoongi menyeringai, menantang Jimin.
"D-daddy Yoongi…" desah Jimin pelan.
Oh Shit! Yoongi mengumpat dalam hati. Suara Jimin membakar sesuatu dalam dirinya dan membuatnya gerah. Belum lagi mata sayu Jimin dan bibirnya yang memerah, Yoongi mengeram pelan.
"Benar, lalukan seperti itu maka aku akan memenuhi permintaanmu" Yoongi berusaha mengendalikan sisi liar yang sudah akan memunculkan wajahnya ditubuh Yoongi dengan susah payah. Nafas Yoongi bahkan sudah memberat hanya karena Jimin mendesahkan namanya. Brengsek.
Jimin yang lebih dulu memulai, Jimin menarik kepala Yoongi mendekat dan mengecup hidung Yoongi pelan, kemudian tersenyum dan Yoongi tidak akan puas hanya dengan kecupan dihidung.
Yoongi menunduk dan kembali mencium Jimin, tangannya dengan lihai melepaskan baju Jimin dan membuang baju itu sembarangan. Yoongi hilang akal saat Jimin mendesah malu-malu. Sudah tidak ada jalan kembali. Yoongi juga sudah tidak peduli dengan Jungkook dan Taehyung lagi. Ada sesuatu yang lebih penting untuk 'dilakukan' daripada mengurusi mereka.
Membuat Jimin mendesahkan namanya dengan segara, misalnya.
.
.
.
"Aku ingin bertemu Kim Taehyung" ucap Jungkook saat sampai dikantor Seokjin pagi-pagi.
"Belum datang" jawab Seokjin mencoba bersabar menghadapi Jungkook yang terlihat arogan.
"Kalau begitu, tunjukan aku ruangannya"
"Ini kantor milikku, kalau kau lupa. Kau datang kesini sebagai tamu, harusnya kau punya sedikit sopan santun" ucap Seokjin kalem.
Jungkook melengos.
"Aku menghargaimu karena suamiku sendiri yang memintaku untuk menemuimu. Jadi, sopanlah sedikit"
Jungkook melirik Seokjin sekilas dan mengehela napas. "Maaf aku tak sopan"
"Kali ini kau ku izinkan kesini, tapi tidak untuk kedua kali. Berterimakasihlah pada suamiku" ucap Seokjin telak.
"Maaf sudah tak sopan" Jungkook menunjukan sisi lemahnya. "aku hanya kalut…" cicitnya pelan.
"Kenapa kau mencari-cari Taehyung? Kau tahu sendiri Taehyung benar-benar tidak ingin melihatmu" mulai Seokjin.
"Aku tau"
"Dia sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang, kenapa kau mengusiknya?"
"Aku hanya… entahlah, aku merasa, aku tidak ingin kehilangan dia lagi." Tanpa sadar, Jungkook membuka diri.
"Dia sudah bahagia dengan anaknya dan…"
"Dia tidak bahagia, dia hanya menjadikan Park Jimin sebagai persinggahan sementara" Jungkook menyela.
Seokjin membolakan matanya. Kenapa Jimin dibawa-bawa?
Saat Seokjin ingin bicara, pintunya diketuk dari luar. Saat pintu terbuka, Taehyung yang berdiri didepan pintu, membeku saat melihat Jungkook juga ada disana.
"Selesaikan masalah kalian berdua, disini, sekarang!" perintah Seokjin telak.
.
.
.
TBC
Yak, kakak yorobun sehari update 3 ff sekaligus gegara ide yang tumpeh-tumpeh.
Jangan bosen yes liat aku yang muncul di notif seharian ini. hahaha
