A/N: Woohoo another super quick update! :D :D kalian pasti mikir "Ih, si shiorinsan ga punya kerjaan lain ya selain nulis fanfic?" hahaha! Tentu saja aku punya kerjaan lain! Hanya saja sekarang lagi libur imlek, dan aku punya buanyak waktu luang. (Sebenernya bisa belajar sih, tapi lagi males :P)
Trus... Review di chapter sebelumnya agak berkurang yaa :(( tapi aku tetep berterimakasih sama yang udah review sama favouritin! Review kalian bener-bener nyemangatin aku buat nulis chapter ini XD
Anyway, di chapter ini aku harus mengingatkan kalian bahwa Gaara agak sedikit... lain.
Disclaimer: I do not own Naruto, if I do, I won't bother writing this. Nyehehe.
Please do read and enjoy ;)
Chapter 7
"Aku melarangmu pergi."
"T-Tapi... Gaara... t-tolonglah... ini perintah langsung dari H-Hokage."
"Kalau kau memang harus pergi ke tempat Hokage, dari awal kenapa kau datang ke tempatku?"
Hinata menelan ludah saat melihat pandangan marah si Kazekage. Mereka berdua berdiri tepat di belakang pintu masuk kamar si Kazekage yang mahal. Pria itu mengurung si pewaris Hyuuga diantara kedua lengannya. Sementara gadis itu hanya bisa mendongak pada pria di depannya dengan punggungnya menempel di pintu.
Pria itu benar. Jika ia memang harus melapor ke kantor Hokage sekarang, mengapa ia malah datang ke kamar ini? Dia sudah tahu bagaimana sifat pria ini. Curigaan dan cepat mengambil dugaan yang salah. Seharusnya ia tahu kalau ia ingin pulang lebih cepat (a.k.a melarikan diri) pria ini pasti akan jadi uring-uringan.
Tapi Hinata tidak punya pilihan lain. Bagaimana jika Hokage ingin dia melaksanakan misi penting yang membuatnya jauh dari Konoha selama berhari-hari? Pada waktu ia kembali ke Konoha lagi, pria ini mungkin sudah pulang ke desanya, dan mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan sampai mereka bertemu lagi.
Hinata ingin meyampaikan permintaan maafnya secepat mungkin. Karena itulah ia memutuskan mendatangi si Kazekage sebelum mendatangi Tsunade. Tapi pria di depannya ini tidak mau mendengarkannya.
Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Hinata dan menggeram di telinga perempuan itu. "Kau selalu lari dariku..."
Baru lima menit sebelumnya mereka berdua duduk dengan damai di belakang meja di kamar penginapan Gaara yang mewah. Hinata menyiapkan teh untuk mereka berdua, yang mereka nikmati bersama kue-kue yang dibawa si gadis Hyuuga. Meskipun tidak banyak bicara, keduanya tetap merasa nyaman dengan keheningan diantara mereka.
Sampai jam di ruangan duduk Gaara berdentang menunjukkan pukul delapan tepat.
Hinata nyaris lompat dari tempat duduknya, seakan-akan bantalan yang didudukinya tiba-tiba terbakar. Gaara pun hampir menjatuhkan cangkir tehnya karena gerakan Hinata yang tiba-tiba.
Gadis itu membungkuk meminta maaf, dan akhirnya ia pun mengatakannya. "Erm, G-Gaara... M-Maafkan aku. T-Tapi a-aku harus p-pergi sekarang. H-Hokage-sama m-menginginkanku di kantornya."
Ia sudah siap beranjak dari tempatnya ketika Gaara tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya dan memaksanya duduk kembali. Tapi yang terjadi selanjutnya diluar pikiran Hinata. Bahkan pikirannya yang terliar sekalipun.
Si gadis Hyuuga kehilangan keseimbangannya, dan karena si Kazekage masih menggenggam pergelangan tangannya, gravitasi menarik gadis itu jatuh menimpa si Kazekage.
Hinata terkesiap. Gaara terpana. Hidung mereka sangat dekat hingga nyaris bersentuhan. Hinata hampir meledak saking malunya. Ia sangat menyadari posisi tangannya yang menyentuh dada telanjang si Kazekage. Sementara pria itu hanya terdiam, matanya terpaut pada mata pucat gadis diatasnya.
Ia sepenuhnya sadar akan tubuh Hinata yang lembut, dan kedua tangan gadis itu yang menyentuh dadanya. Aroma jasmine yang tercium di napas perempuan itu menimbulkan dorongan yang kuat dalam diri Gaara untuk mencondongkan tubuhnya ke atas dan menangkap bibir gadis itu.
Hinata tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Ia ingin sekali bangkit berdiri, namun pandangan yang pria itu berikan padanya seolah-olah menghipnotisnya.
Ia akan menciumku! Teriaknya panik dalam hati. Ia akan menciumku!
Namun ketika bibir Gaara hanya tinggal beberapa senti dari bibirnya, Hinata langsung tersadar dari hipnotis yang diciptakan oleh kedua mata pria itu. Ia langsung menegakkan tubuhnya, kemudian secepat mungkin berdiri dan menjauhkan dirinya dari si Kazekage.
Tapi sayangnya, Gaara lebih cepat darinya.
Tangan Hinata sudah menyentuh gagang pintu kamar itu ketika Gaara mencapai belakangnya dan mencengkeram tangan Hinata. Dengan kasar ia memutar tubuh gadis itu dan mendorongnya dengan paksa hingga punggungnya menempel ke pintu di belakangnya.
"Kau selalu lari dariku..."
"T-Tidak! A-Aku... I-Ini benar-benar penting G-Gaara. T-Tolong lepaskan aku."
"Apa kau berbohong padaku?" kedua mata azure Gaara tenggelam dalam kedua mata pucat gadis dibawahnya, berusaha untuk mencari tanda-tanda kebohongan.
Kali ini pria itu menurunkan wajahnya, dengan niat untuk melihat kedua mata wanita itu dengan lebih jelas. Namun kedekatan mereka memicu kembali gairah dalam diri Gaara, dan membuat pria itu mendekatkan bibirnya pada bibir gadis di depannya.
Gerakannya terhenti ketika Hinata tiba-tiba menangkupkan kedua tangannya di pipi Gaara. Pria itu mengernyit ke arahnya.
"Tidak. A-Aku tidak berbohong."
Gaara tidak siap ketika gadis itu berjinjit dan memberi kecupan ringan di pipinya. Kedua matanya terbelalak. Belum pernah ada gadis lain (kecuali kakaknya, Temari) yang berani mencium pipinya. Ciuman yang polos itu berhasil membuat Gaara kehilangan kata-kata dan tertegun sejenak.
Hinata memanfaatkan momen itu untuk mendorong si Kazekage, lalu membisikkan permintaan maafnya serta "Aku akan menemuimu lagi nanti". Kemudian secepat kilat membuka pintu kamar itu dan lari sekuat tenaga keluar penginapan tersebut.
Entah apa yang sudah merasukinya hingga ia berani mencium pipi si Kazekage. Namun cara itu sukses untuk membuat pria itu kehilangan kekuatannya sejenak.
Tapi, kira-kira bagaimana reaksi pria itu? Apakah dia kesal? Apakah dia senang?
Yang mana pun Hinata tetap tidak berani memikirkan konsekuensi dari perbuatannya.
"Apa-apaan pakaian anda itu? Saya kira waktu saya meninggalkan anda tadi anda sudah berpakaian yang pantas." Setelah Hinata pergi, Tori memasuki ruangan majikannya dan menemukan si majikan masih tertegun di belakang pintu. "Apa yang anda lakukan disini?"
Ketika Tori memegang bahunya, Gaara seakan-akan baru tersadar, ia berkedip-kedip kemudian berkata, "Aku mau mandi. Tolong siapkan bajuku." Kemudian berbalik dan bergegas menuju kamar mandi.
"Anda menghindari pertanyaan saya Kazekage-sama. Siapa wanita itu? Apa yang dilakukannya pada anda?" Mata Tori kemudian menangkap kotak makan yang besar diatas meja serta remah-remah kue diatas piring. "Apa ini?" ia mengernyit tidak setuju.
"Kau terlalu banyak tanya. Itu kue buatannya. Simpan di tempat yang aman. Dan jangan coba-coba berpikir untuk memakannya."
"Kazekage-sama, anda tahu peraturannya. Anda tidak bisa dengan bebas makan makanan buatan orang lain. Apalagi wanita yang tidak bisa dipercaya seperti itu." kemudian ia menambahkan dengan nada konspirasi, "Dia seorang Hyuuga."
"Ya siapa saja bisa melihat kalau dia Hyuuga. Dan cabut perkataanmu, ia wanita yang bisa dipercaya."
"Apa yang anda lakukan bersama seorang Hyuuga? Anda tahu kalau mereka itu rakus dan haus kekuasaan!"
Gaara berhenti sejenak. "Kenapa kau pikir begitu?"
"Tanah mereka dimana-mana dan pemimpin klannya membuat banyak perjanjian dengan banyak pemimpin dari berbagai desa. Jelas sekali kalau mereka itu berusaha memperluas pengaruh mereka!"
"Hanya karena ayahnya haus kekuasaan, seperti yang kau bilang, tidak berarti putrinya juga begitu."
Tori tampak kaget karena kalimat majikannya, "D-Dia putrinya Hiashi Hyuuga?"
"Begitulah," jawab Gaara malas-malasan. "Selanjutnya, jika kau bertemu dengannya lagi, bersikap sopanlah padanya."
Tori tidak menjawab majikannya, "Apa Mistress Temari dan Master Kankurou tahu tentang ini?"
"Tidak jika kau menjaganya tetap begitu."
Kalimat itu adalah ancaman, dan Tori menyadarinya. Tidak ada untungnya tidak mematuhi perintah Kazekage muda itu. "Baiklah."
Gaara pun berbalik untuk berjalan ke kamar mandi lagi. Sampai Tori menghentikannya dengan pertanyaan lagi. "Apa yang terjadi semalam?"
"Bukan urusanmu," jawab Gaara enteng dan menutup kamar mandi bahkan saat Tori masih berceloteh tentang bagaimana 'itu adalah urusannya selama ia bertugas sebagai pengasuh Kazekage'.
Suara pria cantik itu hanya terdengar seperti sayup-sayup ketika Gaara menanggalkan jubah tidurnya dan menyalakan keran pancuran. Saat air dingin itu mengenai wajahnya, pikirannya pun melayang kembali pada ciuman polos yang diberikan Hinata padanya tadi. Ia menyentuh pipinya, lalu menyeringai. Kali ini ia akan menangkap wanita itu, dan menuntut ciuman yang penuh.
"Kau terlambat Hinata Hyuuga." Tsunade menyipitkan matanya pada kunoichi yang baru saja tiba di kantornya. Bibirnya menekuk menandakan bahwa ia sama sekali tidak senang dengan keterlambatan gadis itu.
"Uhh, m-maafkan saya H-Hokage-sama. Mmm, s-sesuatu m-menahan saya tadi..." Hinata melihat ke arah sandalnya, tidak berani menatap Tsunade. Wanita itu sangat menakutkan jika sedang marah.
Si Hokage menghela napas dan berkata, "Karena ini kali pertama kau terlambat, aku maafkan. Tolong jangan diulangi lagi."
"T-Terima kasih H-Hokage-sama." Hinata mengangkat kepalanya sedikit dan melihat wanita yang lebih tua itu tersenyum kecil padanya. Ia pun menghembuskan napas lega.
"Baiklah, langsung saja pada pokok permasalahannya. Apa kau mengenal Sabaku no Gaara?"
Hinata nyaris terlonjak dari tempatnya berdiri ketika ia mendengar nama pria yang baru ditinggalkannya beberapa menit yang lalu tersebut. Untungnya, ia langsung mengontrol sikapnya saat dia ingat pada siapa ia berbicara sekarang. Tsunade bisa curiga kalau Hinata terlalu gelisah saat bicara tentang Gaara.
Tapi mengapa Tsunade bertanya tentang pria itu padanya? Apa wanita itu tahu tentang hubungannya yang aneh dengan si Kazekage?
"Uhh, ya... Kazekage-sama 'kan?"
"Ya. Siang kemarin, bocah itu datang ke kantorku dan menawarkan sebuah proposal." Tsunade memulai. "Tidak, lebih tepatnya ia mengancamku untuk menyetujui proposalnya."
Dahi Hinata mengernyit mendengar hal ini. Tsunade bukanlah tipe wanita yang menerima ancaman.
"Anak itu seharusnya sudah pulang ke desanya kemarin. Tapi ia bersikeras meminta perpanjangan masa tinggal di Konoha, tanpa syarat, dan tanpa aku memata-matai kegiatannya."
Hinata terkejut dengan fakta yang mendadak ini. Jadi, seharusnya Gaara sudah pulang kemarin, lalu kenapa ia masih disini?
"Singkat cerita, aku mengabulkan permintaannya." Tsunade berdeham, dan pipinya memerah. "Dan aku menyesal telah melakukannya. Kau tahu Dewan Konoha sangat sulit dibohongi. Begitu mereka bertanya mengapa si Kazekage masih disini, aku berkata bahwa ia ingin liburan di Konoha dan menikmati keindahan desa kita. Namun Dewan tidak terima, dan mulai berkicau tentang kemungkinan anak itu melanggar perjanjian damai yang sudah kita buat."
"Aku dimarahi habis-habisan oleh orang tua-orang tua itu. Danzo pun akhirnya menawarkan diri untuk bertemu dengan anak itu, tapi bocah sombong itu entah pergi kemana."
Hinata tersenyum gelisah. Dia mungkin sedang bersamaku waktu itu, kata Hinata dalam hati.
"Dan akhirnya aku kena marah lagi sama si Danzo." Tsunade merajuk lagi. "Anak itu sudah membuatku kena marah dua kali. Tidak ada alasan aku tidak bisa melanggar janjiku padanya. Saat itulah aku memutuskan, aku akan memata-matainya."
"Kau adalah orang yang cocok untuk misi ini Hinata. Kau ahli dalam memata-matai dan yang terpenting kau punya Byakugan! Kau bisa memata-matainya setiap saat!" kata Tsunade berapi-api.
"Aku ingin laporan lengkap, l.e.n.g.k.a.p mengenai apa saja yang dilakukan bocah itu selama di Konoha. Dari kedai apa saja yang dikunjunginya, sampai pada siapa saja ia berbicara. Kau mengerti Hinata?"
Si gadis Hyuuga masih mencoba mencerna semua perkataan si Hokage. Ia harus memata-matai Sabaku no Gaara, menyelidiki kemana saja ia pergi dan pada siapa saja ia berbicara, kemudian melaporkannya pada Tsunade.
Tapi itu artinya ia harus menguntit Gaara kemanapun! Bagaimana jika pria itu menyadari kalau dia sedang dimata-matai? Dan bagaimana jika ia tidak suka dimata-matai?
Hinata menelan ludah dan mencoba untuk menghapus gambaran-gambaran yang muncul di pikirannya mengenai siksaan-siksaan yang akan dilakukan si Kazekage jika ia ketahuan memata-matainya.
"Kau tahu, jika kau tidak bersedia, aku bisa meminta adikmu Hanabi untuk melakukan misi ini. Lagipula kemampuan kalian hampir mirip." Tsunade hampir bisa membaca ekspresi wajah si pewaris Hyuuga. Gadis itu takut, yang merupakan hal yang wajar. Tapi ia tetap butuh seseorang dengan Byakugan untuk melaksanakan misi ini.
Mendengar Tsunade akan mengalihkan misi ini pada adiknya langsung menyadarkan Hinata dari lamunannya. "T-Tidak Hokage-sama! S-Saya sanggup melaksanakan ini." Tidak mungkin ia membiarkan Hanabi mengambil misi-nya. Hinata akan menjadi bahan cemoohan anak itu selama sebulan kalau dia tahu kakaknya menyerah pada misi ini.
Tsunade tersenyum pada kunoichi muda itu. "Baiklah Hinata. Si Kazekage hanya berada disini selama seminggu terhitung dari kemarin. Artinya kau akan menjalani misi ini selama enam hari dimulai dari sekarang. Semoga berhasil."
Itu adalah tanda bahwa Tsunade mengakhiri pembicaraan mereka. Hinata pun membungkuk hormat pada pemimpin desanya itu sebelum meninggalkan menaranya.
Ia pikir ia tidak akan punya alasan lagi untuk bertemu dengan pria berambut merah itu. Ia pun tidak ingin repot-repot mencari-cari alasan untuk bertemu dengannya. Tapi ternyata pada akhirnya ia terpaksa harus memikirkan seribu cara agar bisa bersama pria itu tanpa dia menyadari bahwa Hinata sedang memata-matainya.
Kafe itu terletak persis diseberang gedung penginapan si Kazekage. Tempatnya menyediakan berbagai jenis minuman dari ocha sampai teh herbal. Walaupun bangunannya kecil, tapi kafe itu menyediakan banyak bangku diluar sehingga pengunjungnya bisa meminum teh mereka sambil menikmati udara musim semi yang hangat.
Hinata Hyuuga duduk sendirian disalah satu meja diluar kafe tersebut. Wajahnya ditutupi oleh sebuah buku berjudul 'Kinyo Monogatari'. Sementara dihadapannya terdapat secangkir green tea latte yang baru saja diantar.
Tidak, ia tidak sedang membaca ataupun menikmati minuman itu. Jika orang-orang memperhatikan si gadis Hyuuga dengan seksama, mereka akan melihat bahwa kedua pupil gadis itu mengecil serta urat-urat disekeliling mata gadis itu menonjol.
Dia sedang mengaktifkan kekkei-genkai-nya.
Untung baginya, buku ditangannya adalah kamuflase yang hebat. Orang yang melewatinya mengira si gadis Hyuuga sedang berkonsenterasi pada buku ditangannya.
Padahal sebenarnya konsenterasi gadis itu sepenuhnya berada pada pria yang sedang mondar-mandir dalam sebuah kamar yang berjarak seratus meter dari tempatnya duduk.
Sejauh pengamatan Hinata, pria itu hanya berbicara dengan seseorang yang ia duga adalah asistennya, si pria cantik yang bernama Tori.
Tapi apa yang mereka bicarakan? Perlukah Hinata mengetahuinya? Namun kalau demikian ia harus lebih mendekat ke kamar si Kazekage, yang artinya resiko misinya ketahuan lebih besar lagi.
Tidak, untuk sementara Hinata merasa cukup dengan memata-matai gerakan mereka saja.
Tapi bagaimana kalau mereka sedang merencanakan sesuatu yang jahat terhadap Konoha? Kata sebuah suara di kepala Hinata. Gaara mungkin temannya Naruto. Tapi ia masih Kazekage yang bertanggung jawab pada Sunagakure.
Mungkin dia memang perlu menguping pembicaraan mereka?
Bagaimana kalau kau ketahuan? Ingat bagaimana terakhir kali kau membuat pria itu marah? Dia hampir meremukkan rahangmu! Kata suara lain di dalam kepala Hinata.
Jika pria itu meremukkan rahang Hinata, itu sama saja dia membakar surat perjanjian damai itu di muka Tsunade. Klan Hyuuga tidak akan tinggal diam dan pasti akan terjadi perang. Si Kazekage tidak sebodoh itu.
Hinata yakin ia sudah menjadi gila karena ada dua suara yang sedang berdebat dalam kepalanya. Ia menggigit bibirnya dan berusaha menghentikan suara-suara tersebut. Tanpa sadar ia sudah menutup bukunya dan sekarang memejamkan matanya untuk berkonsenterasi menghilangkan suara-suara misterius dalam kepalanya tersebut.
"HINATA!" Sebuah suara yang terlalu besar dan terlalu ceria terdengar dari jauh. Hinata mengenali suara tersebut, tidak, ia sangat mengenali suara tersebut dengan sepenuh hatinya.
Secepat kilat si pewaris Hyuuga menon-aktifkan kekkei-genkai-nya dan menurunkan bukunya. Benar dugaannya, "N-Naruto?"
Wajah pria hiperaktif itu langsung berseri-seri begitu melihat ia tidak salah panggil orang. Naruto pun langsung berlari menghampiri Hinata. Wajah si pewaris Hyuuga secara otomatis berubah menjadi merah begitu melihat cinta pertamanya berlari mendekati mejanya.
Dalam hati Hinata bersyukur sudah memilih duduk di tempat ini untuk memulai misinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto girang begitu ia sampai di meja Hinata.
Hinata dengan malu-malu mengangkat buku yang dari tadi pura-pura dibacanya. "Aha! Aku tahu buku itu! Bagus ya ceritanya?"
Eh? Sejak kapan Naruto membaca buku? "Erm... y-ya lumayan. K-Kau sudah m-membaca ini N-Naruto?"
Si pirang tertawa, "Tidak tidak. Sakura yang membacakan itu untukku. Dia pintar mendongeng loh!"
Oh ya tentu saja Sakura, pikir Hinata dongkol. "A-Apa yang k-kau lakukan disini N-Naruto?"
"Kau lihat gedung mewah itu?" Naruto menunjuk gedung diseberang jalan yang sedari tadi dimata-matai Hinata. Gadis itu mengangguk. "Kau tahu siapa yang sedang menginap disana?"
Hinata merasakan firasat buruk merangkak naik di kerongkongannya. "S-Siapa?"
"Tentu saja si Gaara! Kudengar dia belum pulang ke Suna! Jadi aku mau mengunjunginya sekarang."
Firasatnya benar. Naruto ingin mengunjungi Gaara! Gaara akan dikunjungi oleh Naruto! Bagaimana jika Gaara mengatakan macam-macam tentang hubungan mereka? Bagaimana kalau ia bercerita tentang kue-kue yang dibuat Hinata untuknya? Atau ciumannya di pipi orang itu tadi? Hinata memerah ketika mengingat kembali kejadian pagi itu. Satu hal yang pasti, jika Gaara bercerita tentang hubungannya dengan Hinata, Naruto pasti akan menduga macam-macam.
Tapi tunggu, bukankah ini pertanda baik? Jika Gaara bersama Naruto, maka pria itu tidak akan berbuat macam-macam di Konoha 'kan?
"Jadi Kage memang enak ya? Desa manapun yang kau kunjungi kau akan selalu mendapatkan pelayanan kelas satu!"
"I-Iya," jawab Hinata lemah, wajahnya menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang merah.
"Hey Hinata kau baik-baik saja?" Naruto berlutut disamping Hinata kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu yang memerah.
Kedekatan Naruto yang tiba-tiba ini membuat Hinata terlonjak. Gadis malang itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terjengkang dari bangkunya ke tanah. Seakan-akan belum cukup, cangkir latte -nya yang masih mengepul pun ikut terguling dan menumpahkan isinya yang berupa cairan mendidih itu tepat ke perutnya.
Naruto secepat kilat sudah berjongkok di samping Hinata dengan khawatir sambil membantu gadis malang itu untuk berdiri. "T-Terima kasih."
"Kau baik-baik saja Hinata?"
Tidak! Namun berlawanan dengan teriakan hatinya Hinata berkata, "Y-Ya, aku b-baik-baik saja."
Hinata bisa merasakan kulit dibawah jaketnya melepuh. Namun rasa melepuh itu tidak sebanding dengan rasa malu yang ia rasakan saat ini. Mata semua orang tertuju padanya. Bahkan ada beberapa pejalan kaki yang berhenti untuk menonton.
Ingin rasanya ia menguap menjadi udara, atau menjadi debu, atau apa sajalah asalkan orang-orang ini berhenti memelototinya!
"Ada apa ini?"
Hinata bisa merasakan jantungnya berhenti berdetak selama sedetik. Suara itu terlalu familiar. Dengan takut-takut ia mendongak ke atas dan melihat orang yang sedang dimata-matainya berdiri hanya beberapa meter darinya. Kali ini pria itu sudah berpakaian lengkap dengan guci pasir dipunggungnya.
"Gaara!" Naruto berseru girang melihat sahabatnya.
Dibelakangnya ada Tori yang ternyata juga penasaran dengan keramaian yang terjadi di depan penginapan. Begitu melihat kerumunan yang makin bertambah karena kedatangan majikannya, ia pun membubarkan kerumunan yang ingin tahu itu. "Apa yang kalian lihat disini? Bubar! Bubar! Shoo shoo!"
Melihat asisten si Kazekage yang galak, kerumunan itu pun perlahan-lahan berkurang hingga menjadi dua atau tiga orang yang memang ingin berkunjung ke kafe tersebut.
"Wah, terima kasih Gaara! Halo Tori!" Naruto melambai pada asisten si Kazekage, yang dengan sopan membungkuk untuk membalas sapaan Naruto.
"Uzumaki-sama, Hyuuga-sama." sapa Tori pada dua orang teman majikannya.
"Apa yang terjadi pada Hinata?" Gaara memelototi tangan Naruto yang masih melingkar di punggung Hinata ketika ia mencoba membantu gadis itu berdiri.
"Ah, ini salahku. Aku tidak bemaksud membuatnya jatuh dari kursi." Naruto menunduk dengan perasaan bersalah.
"T-Tidak apa-apa N-Naruto-kun. B-Bukan salahmu! A-Aku yang terlalu ceroboh." Kata Hinata cepat-cepat. Dari awal ini memang salah dirinya yang terlalu gampang kaget.
Dahi Gaara mengernyit melihat adegan yang berlangsung di depan matanya. "Kenapa dengan jaketmu?"
Begitu Gaara menyebutkannya, Hinata teringat dengan lepuhan di kulitnya dan seketika luka itu terasa perih lagi. Ia pun meringis. "Erm.. m-minumanku j-jatuh..."
Gaara menyipitkan matanya. Ia berjalan mendekati Naruto dan Hinata kemudian membungkuk untuk mengambil cangkir latte yang jatuh di tanah tadi. Ia merengut ketika merasakan permukaan panas cangkir itu, yang hanya berarti satu hal.
"Ikutlah denganku, aku akan mengompres lukamu." Gaara menarik lengan Hinata, Naruto seketika melepaskan pegangannya pada gadis itu. Hinata sedikit kecewa karena Naruto tidak menahan pegangannya.
"Eh? Luka? Luka apa?" tanya Naruto yang masih tidak tahu-menahu mengenai cairan mendidih yang mengenai perut temannya.
"Minuman yang Hinata bilang tumpah itu masih panas," jawab Gaara singkat. "Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan disini Naruto?"
"OH YA! Aku hampir lupa!" Naruto menepuk dahinya. "Aku sebenarnya mau mengunjungimu!" Naruto kemudian menepuk bahu sahabatnya. "Tapi aku melihat Hinata duduk sendirian disini... jadi kupikir... Hey kalian mau kemana?"
Naruto mengekori Gaara dan Hinata yang berjalan menuju gedung penginapan diseberang jalan. "Aku mau membawanya ke kamarku."
Gaara tahu banyak orang-orang bisa menyalahartikan makna pada kalimatnya. Tapi ia tidak peduli, ia suka melihat wajah Hinata yang langsung memerah mendengar kalimatnya barusan. "Uhh, t-tidak apa-apa G-Gaara. A-Aku pulang saja."
"Tempatku lebih dekat dari rumahmu," adalah argumen terbaik Gaara. Hinata tahu pria itu tidak akan merubah pikirannya. Lagi pula jika ia ikut dengan Gaara, besar kesempatan ia bisa menguping pembicaraannya dengan Naruto.
Si Kazekage mendadak berhenti, membuat Hinata menubruk punggungnya. Ia berbalik dan benar dugaannya, Naruto berdiri diam dan tidak lagi mengikuti mereka, "Kau tidak ikut, Naruto?"
Naruto terkesiap ketika mendengar namanya dipanggil. Ia kemudian tertawa kecil sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Tentu saja! Hanya saja tadi kupikir... entah mengapa... aku merasa bahwa kalian berdua..." Naruto menyipitkan matanya, "Sangat akrab."
Mendengar nada curiga dalam suara Naruto, Hinata langsung panik. "T-Tidak! B-Bukan s-seperti itu Naruto! K-Kami hanya s-sebatas kenalan!"
Segera setelah kalimat tersebut keluar dari mulutnya, Hinata langsung menyesalinya. Pegangan Gaara pada lengannya secara otomatis berubah menjadi cengkraman. Hinata menahan napasnya untuk menyembunyikan rasa sakit yang mendadak itu.
"Ya. Kami cuma kenalan." kata Gaara dengan nada yang bisa membekukan api.
Naruto disisi lain tidak menyadari ketegangan yang mendadak terjadi diantara kedua shinobi itu. Ia justru menertawai dugaannya yang menurutnya konyol. "Itu pasti cuma perasaanku saja ya kalau begitu?"
Gaara berbalik lagi, kali ini ia tidak menuntun Hinata menuju kamarnya, tapi menyeret gadis itu. Hinata hanya berharap Naruto akan terus mengawasi mereka sehingga si Kazekage tidak akan berbuat apapun untuk melukainya.
A/N: *GASP* apa yang akan terjadi pada Hinata teman-teman? :O :O
Gimana menurut kalian Gaara dan Hinata disini? Kasih tau kesan-kesan kalian di review yaa! Kalo ga review aku ga mau update : (jk jk jk jk jk jk jk jk jk jk jk jk :P) Aku tetep update kok! Tapi mungkin agak lebih lambat karena minggu depan aku udah mulai ujian praktek T-T
Trus...
Buat ulva chan : Nah, ketauan deh sekarang Tsunade manggil Hinata kenapa ;)
Buat Hina bee lover : Walaupun Hinata kesannya lemah, dia kan masih tetep lebih tua dari Hanabi ;)
Buat mayra gaara : hmm, request kamu boleh juga (thinks about Gaara with damp hair and drools O,,,O) sabar yaaa! Aku akan berusaha nampilin Gaara yang baru habis mandi! XD XD
Buat Kouro Ryuki : aiyaa, itu bukan makan siang. Masih sarapan ;) makan siangnya hmm.. mungkin bentar lagi nyehehe. Jujur aja ya aku belom pernah nyobain green tea pound cake (suatu saat pasti akan nyobain :D) aku seneng deh baca review kamu (review kamu paling panjang sih :D :D)
Dan buat semua reviewers: Here's your awaited chapter! :D :D
Makasih yaa udah baca cerita ini! *bows*
