Mr. Possessive

Special thanks to

Semua yang sudah mem-fav dan follow fic ini beserta semua yang sudah membaca fic ini.

Arigatou Gozaimasu ^_^

Kuroko no Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki Sensei.

This fiction is written by Daanasa

Genre : Romance,, emm maybe ?

Rated : T

Pairing : Akakuro, always!

Warning : Typos. Gaje. OOC. This is Yaoi Story, it means boy x boy. If you hate Yaoi, just leave it and click back. Don't Like, Don't Read. It's Simple !

Summary: Semua orang tahu betapa posesifnya Akashi Seijuuro. Apalagi jika menyangkut kekasih mungilnya, Kuroko Tetsuya.

Happy Reading minna~


CHAPTER 7: The First Step!

Kuroko yakin semuanya berjalan baik-baik saja.

Atau setidaknya itulah yang ia rasakan beberapa saat yang lalu.

Tepat setelah sarapan bersama dilaksanakan, baik klub basket maupun klub pencinta alam fokus dengan kegiatan klub mereka masing-masing.

Akashi sibuk mengarahkan –memerintah lebih tepatnya- anggotanya untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu –yang sebenarnya lebih pantas disebut pembakaran mengingat kalori yang telah mereka keluarkan melebihi batas normal. Tak jauh dari tempat Akashi dan teman-teman klub basketnya sedang berlatih, Kuroko beserta seluruh anggota klub pencinta alam tengah mengamati bunga sakura yang tampak mekar dengan indahnya di halaman depan penginapan.

Semuanya benar-benar berjalan sempurna.

Ya, sebelum gerbang penginapan terbuka dan menampilkan sosok pemuda tampan bertubuh tinggi dengan surai merah gradasi hitam yang tengah berjalan santai ke arah mereka. Bibirnya menyerigai tipis dengan sepasang iris merah yang menatap lurus ke arah Kuroko.

"Apa yang kau lakukan disini?" Akashi yang berada tak jauh dari Kuroko kontan melangkah mendekati kekasih manisnya. Melingkarkan tangannya ke pinggang ramping si surai biru. Memeluknya posesif sembari melemparkan tatapan membunuh pada sosok –yang dianggapnya sebagai pho alias pengganggu hubungan orang- yang berjarak beberapa langkah dari mereka.

"Kukira kau cukup jenius untuk mengetahui alasan mengapa aku berada di sini, Akashi." Pemuda beralis ganda itu menjawab dengan nada mencemooh. Cukup membuat Akashi ingin melemparkan gunting kesayangannya ke arah pemuda itu –yang benar-benar akan dilakukannya jika saja kedua lengannya tidak sedang mendekap sosok kekasihnya. Kedua iris heterochromenya melihat pemuda itu berjalan semakin mendekat. Mempertipis jarak di antara mereka.

Tanpa menunggu jawaban Akashi, pemuda itu melanjutkan "Aku juga anggota klub basket, jika kau lupa. Bahkan pelatih juga memasukkanku sebagai anggota tim inti." Ucapnya sembari menekankan kata 'juga' dan 'anggota' seolah itu adalah jawaban yang harusnya telah diketahui Akashi. Senyuman penuh kepuasan tampak di wajah tampannya. Apalagi saat melihat tatapan menusuk yang dilayangkan Akashi padanya.

Akashi mengutuk dalam hati. Sekalipun ia adalah kapten tim basket yang mutlak dan absolut dengan perintah yang tak terbantahkan, namun untuk masalah perekrutan anggota tim basket tetap menjadi hak milik sang pelatih, Eiji Shirogane. Dan sang pelatih telah menerima Kagami Taiga ke dalam tim basket mereka –bahkan langsung menjadikannya salah-satu anggota tim inti. Benar-benar membuat Akashi jengkel setengah mati.

"Lalu, darimana kau tahu jika kami sedang melakukan pelatihan di sini?" Seingat Akashi, ia tak pernah memberi pengumuman resmi tentang rencana pelatihan mereka, melainkan melalui pesan teramat singkat yang dikirimnya kepada anggotanya –minus Kagami karena Akashi tidak sudi jika pemuda itu ikut serta dan memberinya peluang untuk mendekati Kuroko. Lagipula, semua rencana pelatihan ini ia lakukan mendadak karena ketidak-relaannya untuk berpisah dengan Kuroko walau hanya beberapa hari saja. Hell, ia tak akan membiarkan pemuda manis bersurai baby blue itu pergi di luar pengawasannya.

Akashi itu posesif, ingat?

Dan ia benar-benar harus mengetahui siapa dalang utama dibalik kemunculan pemuda -yang sialnya lebih tinggi beberapa inci darinya- itu. Akashi bersumpah akan membuat hidupnya menderita hingga siapapun itu akan memilih masuk neraka dengan sukarela.

"Dari Momoi Satsuki. Ia mengirimkan pesan-mu padaku tadi pagi." Jawab Kagami sembari melempar tatapan meremehkan ke arah pemuda yang juga bersurai merah di hadapannya.

Ucapan pemuda beralis ganda itu berhasil menghasilkan kerutan samar di dahi Akashi. Lupakan sejenak ekspresi mengejek yang dilemparkan Kagami kepadanya –Akashi memastikan bahwa senyum menyebalkan itu akan segera hilang dari muka bumi ini beserta pemiliknya. Ada sesuatu yang penting yang harus diselidikinya kali ini.

Menggali kembali memorinya, namun Akashi yakin seratus persen jika ia tidak pernah mengirimkan pesan apapun pada perempuan berambut pink yang sekaligus adalah manager tim basket Teiko itu. Ia hanya mengirimkan pesan kepada teman-teman Kiseki no Sedai berikut Ogiwara Shigehiro –yang ia sendiri kadang lupa merupakan bagian tim inti.

Otak genius Akashi dengan cepat menarik kesimpulan.

Tatapan tajam dilayangkan pada anggota timnya yang berada di sisi lain halaman penginapan, sebelum menatap lekat satu-satunya orang dengan persentase terbesar sebagai tersangka. Yang ditatap memilih bersembunyi dibalik punggung Kise Ryota. Menyisakan sejumput navy blue yang mencuat diakibatkan perbedaan tinggi badan dengan si pirang.

'Sial, seharusnya aku tidak memberi tahu Satsuki.' Aomine mengumpat dalam hati saat iris heterochrome milik si raja setan menatap tepat ke arahnya. Mengirimkan sengatan listrik yang membuatnya semakin mengkeret ketakutan.

Akashi boleh saja lebih kecil coretpendekcoret darinya. Tapi untuk urusan mengintimidasi, pemuda itu jelas lebih unggul.

After all, he is the Great Emperor Akashi Seijuuro.

"Nah, kurasa semuanya sudah jelas sekarang." Kagami melanjutkan tanpa menunggu respon dari Akashi. "-jadi dimana bisa kutaruh barangku, kapten?"

Akashi menatap tajam ke arah Kagami yang masih betah memasang senyum –yang menurutnya begitu menyebalkan- itu. Sebelum bibirnya turut menyerigai begitu otaknya memikirkan jawaban untuk pemuda itu.

"Baiklah, karena kau adalah anggota tim inti, aku tidak akan menyuruhmu kembali ke Tokyo saat ini." Ucapan Akashi cukup membuat teman-teman Kisedai alias para bawahannya terkejut. Tidak menyangka jika sang kapten akhirnya menerima kehadiran Kagami dalam klub mereka. "Kau bisa menempati ruangan yang sama dengan anggota tim yang lain."

Kalimat terakhir yang diucapkan Akashi sukses membuat semua yang mendengarkan ultimatum sang pemuda beriris heterochrome nyaris melayangkan protes –yang tertahan akibat lebih dulu dibungkam oleh tatapan sadis yang menjanjikan siksaan kejam tiada tara bagi mereka yang menginginkan(?).

Yang benar saja. Bahkan tanpa kehadiran Kagami Taiga, ruangan itu sudah cukup membuat mereka saling berdesak-desakkan. Belum lagi perebutan karbon dioksida yang rasanya semakin menipis akibat populasi dalam kamar itu yang lumayan banyak -coret, lebih banyak tepatnya. Akashi sih enak karena mendapatkan ruangannya sendiri bersama Kuroko.

Andai saja Akashi tidak menyuap mereka dengan janji bahwa seluruh biaya penginapan akan ditanggung oleh pemuda itu berikut tambahan jaminan bahwa mereka tidak akan kelaparan, tentu dari awal Hyuuga akan menolak pembagian kamar yang tidak adil ini. Salahkan motto 'hidup hemat' yang dipegangnya.

"Maaf, Akashi. Tapi kurasa Kagami-kun tidak bisa menempati kamar yang sama dengan kami. Tidak akan ada ruang kosong untuk pemuda itu." Kiyoshi Teppei, pemuda bersurai coklat merangkap wakil ketua klub pencinta alam angkat bicara. Menyuarakan isi hati teman-temannya dengan senyum kebapakan khas pemuda itu, yang membuat Hyuuga ingin mengecup bibir menggoda milik Kiyoshi –sayang ia terlalu tsundere untuk melakukan hal itu.

"Be-benar, Akashi. Ru-ruangan itu saja sudah ter-terlalu sempit un-untuk dihuni oleh kami semua." Hyuuga ikut memberikan pendapatnya, meski sedikit terbata akibat aura suram yang menguar dari tubuh kouhainya itu.

"Kurasa Kagami-kun bisa menempati kamar yang sama dengan kita, Akashi-kun." Pemuda bersurai baby blue yang sejak tadi berdiam diri kini ikut ambil bagian dalam sesi percakapan mereka. Dengan ekspresi datar yang tak mengurangi keimutannya, pemuda itu mengalihkan tatapannya ke arah Akashi. "Bukankah kamar kita berukuran luas? Jadi masih bisa menampung satu orang lagi."

Ucapan Kuroko menghasilkan berbagai macam reaksi dari teman-temannya yang lain. Para pengagum –tidak-rahasianya tentu tidak terima jika Kagami berada di ruangan yang sama dengan Kuroko –apalagi pemuda itu juga merupakan saingan mereka dalam memperebutkan si surai biru langit itu.

Kise bahkan bersiap menumpahkan air mata –sandiwara-nya agar Kuroko mau merubah tawarannya. Setidaknya ia akan sukarela menggantikan posisi Kagami untuk tidur di kamar yang sama dengan Kuroko.

Well, teruslah bermimpi Kise-kun.

Kagami yang mendengar penawaran Kuroko pun tampak sedikit terkejut. Tidak menyangka jika pemuda manis itu menawarkan untuk seruangan dengannya –juga Akashi sebenarnya. Entah Kuroko terlalu polos atau ia telah melupakan perihal taruhannya dengan Akashi dulu. Yang pasti, ia tidak akan menolak kesempatan untuk merebut Kuroko dari pelukan Akashi.

"Baiklah, aku setuju dengan-"

"TIDAK! AKU TIDAK SETUJU!"

Ucapan Kagami terpotong oleh suara –teriakan lebih tepatnya- dari Akashi. Membuat pemuda bersurai merah itu tampak out of character. Dengan lembut, diputarnya tubuh Kuroko menghadap dirinya.

"Tetsuya," Akashi berkata dengan nada yang teramat lembut –hanya Kuroko yang mampu memunculkan sisi lembut dari sang pewaris Akashi itu, "Aku tidak bisa membiarkan dia berada di ruangan yang sama denganmu. Tidak akan."

"Tapi Akashi-kun, bukankah senpai sudah mengatakan bahwa ruangan itu terlalu sempit untuk ditambah satu orang lagi." Kuroko mencoba untuk memberi alasan yang tepat untuk Akashi. Bukannya Kuroko menginginkan berada satu ruangan dengan pemuda yang gencar merayunya saat di kelas itu –tidak, Kuroko bukan cabe-cabean yang gampang digoda meski oleh ikemen ganteng bertubuh tinggi-ehemm.

Ia hanya tak sampai hati jika teman-temannya di klub pencinta alam harus semakin berdesak-desakkan di ruangan yang sempit itu –lupakan soal anggota Kisedai karena Kuroko benar-benar tak peduli dengan pasukan pelangi itu-.

"Tidak bisa, Tetsuya." Akashi masih keukeh mempertahankan argumennya. Dia tidak akan membiarkan kekasih manisnya berdekatan dengan macan liar macam Kagami itu. Bukan berarti Akashi takut jika Kuroko berpaling darinya dan memilih bersama dengan Kagami hanya karena pemuda itu lebih tinggi 'sedikit' darinya.

Heck, itu tidak akan pernah terjadi. Bahkan di fanfiction sekalipun.

"Aku menyetujui pendapat Kuroko, A-Ka-Shi." Senyuman mengejek tampak di wajah Kagami. Berusaha memicu amarah dari pemuda beriris heterochrome itu.

"Aku tidak setuju." Kise ikut buka suara. Dengan tangan kanan yang diletakkan di depan dada, pemuda pirang itu melanjutkan, "Aku akan dengan senang hati bertukar tempat dengan Kagami-cchi. Biar aku saja yang pindah ke kamar Kuroko-cchi."

"Tidak bisa!" Aomine yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung sang ahli copycat kini melangkah maju –setelah lebih dulu menjitak kepala Kise yang membuat pemuda itu mengucurkan air mata buaya seraya bergumam 'Aomine-cchi, hidoi-ssu.'

"Lebih baik aku saja yang pindah ke kamar Tetsu dibandingkan model jejadian macam Kise." Rupanya Aomine tak ingin ketinggalan menawarkan dirinya sendiri. 'Kalau tidak bisa tidur bareng Mai-chan, tidur bareng Tetsu pun boleh,' batinnya.

Dasar Ahomine.

"Tidak, tidak, tidak." Semua pasang mata tampak menatap terkejut ke arah Murasakibara yang sejak tadi berdiam diri sembari mengunyah keripik kentang. Tidak menyangka bahwa pemuda bertubuh besar yang biasanya tidak peduli pada keadaan sekitar itu akan buka suara.

"Jangan Mine-chin. Dia itu gelap. Dan nyamuk suka mendatangi tempat gelap." Ucapan polos dari pemuda bersurai ungu itu sukses membuat Aomine mengucurkan air mata buaya seraya bergumam 'Murasakibara-cchi, hidoi-ssu'. Tunggu, itukan treadmark milik Kise.

"Nanti Kuro-chin bisa digigit nyamuk jika tidur berdekatan dengan Mine-chin." Lanjutnya tanpa menyadari hati Aomine yang semakin remuk akibat ucapan pemuda pencinta maibou itu.

"Menurut ramalan Oha-Asa, akan lebih baik jika Aquarius dan Sagitarius berada dalam ruangan yang sama dengan seseorang berzodiak Cancer, nanodayo. Keberuntungan kalian akan semakin bertambah." Sela Midorima yang berada di sebelah Murasakibara. Sebelah tangannya tampak memegang sapu lidi –luckyitemnya hari ini-. "Bukan berarti aku ikut menawarkan diri untuk pindah ke ruangan yang sama dengan Kuroko, nanodayo." Tambahnya sembari menaikkan letak kacamatanya yang tak bergeser sedikitpun. Dasar megane tsundere.

"Tidak bisa begitu. Aku yang lebih dulu mengajukan diri untuk pindah ke kamar Kuroko-cchi." Kise menatap garang ke arah teman-temannya, yang dibalas dengan tatapan tak kalah garang dari Midorima dan Aomine –sementara Murasakibara tetap setia memasang tatapan malasnya-. Ia tidak terima jika idenya dicuri oleh pengikut Oha-Asa, pencinta makanan manis, maupun penggemar dada montok –ehemm.

"Yang lebih pantas itu aku, Kise-teme. Aku lebih tampan darimu." Sergah Aomine –dengan alasan yang sama sekali tidak berbobot.

"Cih, kau perlu kupinjamkan cermin agar bisa melihat seperti apa rupamu yang sebenarnya, Aomine? Bahkan Nigou terlihat jauh lebih tampan darimu, nanodayo." Ucap Midorima dengan kilatan yang mendadak muncul di ujung kacamatanya.

"Apa kau bilang, Midorima-teme?!" Aomine mengalihkan tatapannya ke arah Midorima. Perempatan imajiner muncul di dahi berkulit tannya. Kesal karena wajah tampan eksotisnya malah disamakan dengan anjing milik pemuda manis bersurai baby blue idamannya –direndahkan lebih tepatnya.

"Sering-seringlah bercermin mulai dari sekarang, Mine-chin. Atau kau bisa meminjam cermin milik Sa-chin." Murasakibara berkata dengan ekspresi malas andalannya.

"Yakk! Kau tidak perlu ikut-ikutan Murasakibara-teme!" Sepasang iris biru gelapnya menatap sinis Murasakibara. Tidak terima dengan saran yang diajukan pemuda bertubuh titan itu.

"Bisakah kalian semua di-"

"Jangan berbicara apapun lagi, Akashi-teme."

DEGG

'Apakah ini cinta?'

Wait, sepertinya salah narasi. Mari kita ulang.

DEGG

Sebulir keringat tampak menggantung di pelipis pria bersurai navy itu. Akibat teman-temannya yang sejak tadi mengomentari ketampannya yang haqiqi –menurutnya beserta sang bunda tercinta- dengan kalimat sindiran hingga ia jadi lepas kendali. Bahkan dengan kurang ajarnya Aomine memotong ucapan Akashi yang absolut. Belum lagi embel-embel teme yang digunakannya untuk si raja iblis.

'Mari kita mengheningkan cipta sejenak untuk mengenang jasa-jasa Aomine –meskipun jasanya sama sekali tidak ada- yang telah gugur mendahului kita', batin Midorima seraya menatap miris ke arah Aomine.

"A-Akashi, aku ti-tidak bermaksud u-untuk-"

CKRISSS

Gunting dengan kecepatan mach 20 –setara dengan kecepatan sensei gurita berwarna kuning dari anime sebelah- melesat melewati Aomine. Entah Akashi sedang meleset atau memang ia tak berminat membidik kepala Aomine, hingga gunting itu hanya menancap di pohon yang kebetulan berada tidak jauh dari posisi Aomine. Setidaknya ia bersyukur karna kepalanya tak jadi tempat untuk memamerkan koleksi gunting milik Akashi.

"Nah, ku harap percakapan seperti ini tidak akan terjadi lagi." Sepasang bibir milik Akashi melengkungkan senyuman menawan. Namun semua paham arti yang tersirat di balik senyuman milik sang kapten basket. Tutup mulut sekarang atau tutup usia selamanya.

Semuanya mengangguk pelan. Lebih baik menyetujui perintah Akashi daripada menjadi korban selanjutnya pemuda itu.

"Kembali ke persoalan awal," Akashi kembali menatap kekasihnya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Kagami, "Aku tidak akan membiarkanmu berada di ruangan yang sama dengan kami."

"Ta-tapi, Akashi-kun," Kuroko kembali mencoba berargumen dengan Akashi. Namun pemuda hanya membalas tanpa menatap ke arahnya.

"Tidak tetap tidak, Tetsuya."

"Akashi-kun."

"Tetsuya."

"Akashi-kun."

"Tetsuya."

"Teppei." Kiyoshi yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku kouhai-kouhainya akhirnya angkat bicara, lagi. Lelahnya juga rasanya melihat adegan drama yang sejak tadi berlangsung. Sudah saatnya ia sebagai senpai yang memegang kendali.

"Karena kalian sejak tadi tidak bisa bersepakat," ucapannya sukses mengalihkan perhatian semua orang. Mereka menatap lekat ke arah pemuda beralis tebal itu, menunggu apa yang akan disampaikan pemuda itu. Bahkan Akashi dan Kagami juga turut memperhatikan.

"Lebih baik begini saja. . ."

XXXX

Pemuda bersurai baby blue itu tengah duduk di beranda yang terletak di samping bangunan penginapan. Memilih menyendiri ketimbang berkumpul dengan teman-teman dari grup pencinta alam yang kini menempati ruangan yang tadinya dihuni olehnya dan Akashi.

Ya, Akashi memilih untuk mengikuti saran Kiyoshi senpai untuk membagi ruangan berdasarkan klub. Jadi klub basket mengambil ruangan yang semula ditempati oleh dua klub itu, dan klub pencinta alam mengambil ruangan milik Akashi dan Kuroko.

Rasanya itu pilihan terbaik ketimbang mengizinkan salah satu anggota tim basket untuk berada di kamar yang sama dengan Kuroko –terkecuali untuk kekasih tampannya tentu.

Kedua irisnya kembali menatap ke arah langit.

Malam ini terlihat lebih indah dari biasanya.

Langit tampak cemerlang dengan kerlipan dari bintang-bintang yang bertebaran di angkasa. Rasanya sangat berbeda dengan langit malam di kota Tokyo yang sering dilihatnya. Pancaran dari lampu-lampu di gedung-gedung pencakar langit mampu menutup kerlip-kerlip bintang yang berjarak ratusan mil dari bumi. Menjadikan mereka seolah objek tak kasat mata.

Seperti juga dirinya.

Kuroko Tetsuya selalu yakin jika eksistensinya sama seperti bintang di langit Tokyo. Boleh jadi ia ada. Boleh jadi ia bersinar. Namun seringkali ia terabaikan.

Terlupakan.

Seolah sosoknya hanyalah sebuah bayangan. Tercipta dari hasil perpotongan sinar pantul. Entah ia adalah bayangan nyata ataupun bayangan semu. Namun siapa yang peduli ia jenis bayangan apa.

Karena bayangan tetaplah bayangan. Tak peduli ia semu atau nyata.

Kuroko sudah amat terbiasa saat orang-orang mengabaikan eksistensinya.

Bahkan sejak kecil, orang-orang disekitarnya selalu menganggapnya tak ada, meski ia berada tepat di samping mereka. Saat di sekolah dulupun, ia selalu menyendiri karena tak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya. Ogiwara Shigehiro yang menjadi sahabat sejak kecilnya bahkan masih belum terbiasa dengan hawa keberadaannya yang tipis.

Namun semua berubah saat ia bertemu dengan pemuda yang kini menjalin kasih dengannya.

Pertama kali dalam hidupnya Kuroko menemukan seseorang yang bisa menyadari keberadaannya. Mengetahui dimana ia berada tanpa perlu ia membuka suara atau sekedar memberi tanda.

Akashi Seijuuro, satu-satunya sosok yang menganggap bahwa ia bukanlah sekedar sosok bayangan yang tak berguna. Akashi mampu membuktikan bahwa Kuroko lebih berharga dari sebuah bayangan.

Ia menjadikan sosok Kuroko sebagai kepingan puzzle yang hadir untuk melengkapi kehidupan pemuda beriris heterochrome itu. Bukan, bukan sebagai pelangkap.

Kuroko adalah penyempurna hidup Akashi.

Tanpa Kuroko, hidup Akashi mungkin akan serupa dengan neraka. Apalagi semenjak ia kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Kematian Akashi Shiori telah menorehkan luka teramat dalam di hati Akashi. Membuatnya mengutuk bumi yang telah mendekap erat sosok sang bunda tercinta.

Namun kehadiran Kuroko mampu mengubah semua itu. Akashi telah menemukan kembali cahayanya. Perasaan cinta yang dia kira tidak akan pernah dimilikinya lagi, nyatanya hadir kembali untuk pemuda bersurai baby blue. Cinta yang mampu membuatnya membuang segala hal yang dimilikinya, karena Akashi tahu bahwa hal yang dibutuhkannya adalah kehadiran Kuroko disisinya.

Cinta Kuroko yang hanya untuknya.

Kuroko telah memberi kehidupan baru pada Akashi.

Begitupun Akashi yang telah memberi arti baru pada kehidupan Kuroko.

Mereka ada untuk saling menyempurnakan.

Mungkin cinta mereka tidak akan berjalan mulus nanti. Mungkin mereka tak akan berakhir bahagia. Namun Kuroko tak peduli.

Karena untuk sekarang, ia merasa cukup.

Kedua kelopak mata itu perlahan menutup, menyembunyikan iris sebiru langitnya yang indah. Setetes air mata tampak mengantung di pelupuk mata, sebelum mengalir di pipi putih pucatnya.

'Ya, semuanya cukup, Akashi-kun.'

TBC


DN: Sumimasen, ternyata Daana ngaret (banget) lagi updatenya. Dengan beberapa kejadian yang terjadi dalam bulan ini, belum lagi tugas yang minta diperhatikan, mana lagi keasikan sama fandom sebelah, jadilah ini semua fic terbengkalai *dibantai

Padahal udah bikin jadwal update, tapi ternyata Daana belum mengikutinya,, hikss *dibuangkeAmazon

Tapi Daana nggak bakal hapus jadwal update di profil. Kalo kata orang mah kita bisa karena biasa. Jadi Daana pasti bisa ngikutin jadwal update begitu Daana terbiasa.. muehehehe /reader: duh, ngebacot apa sih Dan *plakkk

Jadi, bagaimana pendapat reader sekalian untuk chapter ini? Aneh? Gaje? Alay? Atau ceritanya terlalu slow? /reader: yang slow itu update-an lu, kampret *dilemparingranat

Semoga chapter ini setidaknya bisa sedikit memuaskan para reader sekalian.

Last, mind to review?

AKAKURO FOREVER! \^o^/