Mata bulatnya memandang sekeliling apartemen yang telah ditempatinya sejak 4 tahun lalu itu, menyadari bahwa ia ternyata tidak memiliki terlalu banyak barang. Semua barangnya muat dalam beberapa kardus ukuran sedang dan dua koper besarnya. Padahal ia sering merasa partemenya sangat sesak -karena penuh dengan barang ketika ia masih tinggal bersama dengan orang itu. Menggelikan bahwa barang orang yang menganggap dirinya sangat jantan memiliki banyak barang dan kosmetik hingga memenuhi apartemen kecil itu.

Yah, bukan sesuatu yang harus diingat lagi bagi Jungkook. Karena orang itu, Kim Taehyung, sudah menemukan hidupnya sendiri dan tak lagi perlu menumpang di apartemennya.

"Kau benar-benar akan pergi?" Park Jimin, sahabatnya sejak ia masih di kota kelahirannya, Busan, bertanya dengan raut wajah sedih.

Ia hanya bisa tersenyum melihat wajah manis orang yang sudah ia anggap sebagai kakak itu cemberut begitu, "Yah, ini kesempatan yang tidak datang dua kali, bukan?"

"Aku tahu. Tapi mengapa jauh sekali?"

"Amerika hanya 15 jam perjalanan dengan menggunakan pesawat."

"Itu lama!"

Sebuah tawa lantang lolos dari bibirnya membuat yang lebih tua ikut tertawa. Mereka menghela nafas lega ketika petugas ekspedisi mengambil barang-barang yang berada di kardus-kardus tadi untuk dibawa ke Busan. Jungkook tidak akan memerlukan semua barang itu nantinya, dan ibunya setuju untuk mengatur barang-barang yang tidak lagi dipakainya itu.

"Terima kasih sudah membantuku mengemas barang, hyung." Ujarnya, memberikan segelas air dingin pada Jimin.

"Tak masalah, toh, mamas sedang dinas diluar kota dan aku menganggur di rumah." Keluh Jimin, meminum air dingin di gelas yang sedang dipegangnya itu dengan nikmat, "Kau sudah memberitahu Taehyung?"

Dahinya mengernyit ketika mendengar nama itu. Perasaannya langsung tidak nyaman, dan sepertinya Jimin menyadari hal itu.

"Kau tidak memberitahunya?" Tanya pemuda berambut pirang itu.

"Untuk apa?"

"Untuk apa? Ya Tuhan, dia juga sahabatmu, Kook." Kesal Jimin, lalu berkata lagi, "Dan dia juga adalah mantan kekasihmu, aku pikir kalian berpisah secara baik-baik bukan?"

"Heh." Jungkook hanya bisa menyerinai kecil mendengar perkataan Jimin. Berpisah baik-baik? Yang benar saja.

.

"Maafkan aku, Jungkook-ah..."

Dahi Jungkook mengernyit, tidak paham apa maksud dari pria tampan yang sedang duduk di depannya itu.

"Ma-maksud hyung?"

Mata tajam itu menatapnya sejenak, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya. Sebuah undangan pernikahan cantik berbalut kain beludru berwarna merah maroon.

"Ini, undangan pernikahanku dengan Lisa. Kekasihku." Seperti tidak ada keraguan di dalam suara berat pria itu, Kim Taehyung, ketika mengatakan kalimat yang seperti menyayat hatinya. "Aku harap kau mau datang, Kook-ah."

Kekehan kecil lolos dari bibirnya, membuat pria di depannya itu memandangnya dengan heran, "Kau mengundang orang yang kau selingkuhi ke pernikahanmu? Lucu sekali." Jawabnya, remeh.

Kim Taehyung menarik nafas panjang, sejenak Jungkook bisa melihat penyesalan di mata pria itu. Taehyung berdiri lalu berjalan dan duduk di sebelahnya. Mengulurkan tangannya untuk memberika sapuan-sapuan lembut di pipinya dengan jari-jari panjangnya. Jari-jari yang dulu menjadi salah satu alasan ia mencintai Kim Taehyung.

"Kau tidak mengerti, Jungkook-ah... Aku tidak pernah berselingkuh darimu," Sebelum Jungkook sempat menampar wajah tampan Taehyung, ia melanjutkan, "Aku berselingkuh dari Lisa. Denganmu."

Mata besarnya seketika melebar. Menyadari kenyataan bahwa selama ini, bukan ia yang di khianati pria ini, namun wanita yang namanya tercantum di kartu undangan berbentuk persegi itu.

Tanpa ia ketahui, dialah sang menjadi jalang yang mengambil kekasih orang lain.

"Aku mencintaimu, Jungkook-ah. Sangat. Namun aku mempunya tanggung jawab yang harus aku penuhi." Bisiknya pelan, menempelkan bibir mereka sejenak. Membuat hatinya seakan diremas dengan kuat hongga membuatnya sulit untuk bernafas. "Aku harap kau masih mau bersamaku seperti selama ini. Aku tidak bisa melepasmu walaupun aku nantinya akan menikah dengan Lisa."

"Jangan bercanda denganku, Kim Taehyung-ssi, kau pikir aku begitu rendah menyetujui hal menjijikkan yang kau ucapkan itu? Aku tidak sudi!" Ia menepis tangan Taehyung dengan kasar. "Aku mungkin bodoh tidak mengetahui bahwa selama ini, akulah yang menjadi pihak ketiga dalam hubungan ini. Namun aku cukup mengerti kapan untuk berhenti dari hubungan tidak sehat ini."

"Kau tidak mengerti, Jungkook-ah. Aku memang akan menikah dengan Lisa tapi bukan karena aku mencintainya. Aku hanya mencintaimu."

Tubuhnya menegang ketika Taehyung menariknya ke dalam pelukannya, merasakan panas yang menjalar dari dada bidang pria itu melalui punggungnya. Omong kosong yang keluar dari bibir pria yang dicintainya itu membuanya ingin muntah.

Tentu saja Jungkook mengetahui alasan Taehyung ingin menikahi Lisa. Karena Lisa adalah anak satu-satunya dari pemimpin perusahaan tempat Taehyung bekerja saat ini. Yang tidak ia ketahui hanya kenyataan bahwa Taehyung menjalin kasih dengan wanita itu jauh sebelum mereka berdua.

Sungguh menyedihkan.

.

.

Ruang tunggu bandara sudah sangat lengang ketika ia memutuskan untuk memasuki Gate penerbangan yang tertera pada tiket pesawat yang akan membawanya ke Amerika. Sesaat ia mengira akan melihat sosok Taehyung di tempat itu -berharap mungkin saja Jimin memberitahukan perihal kepindahannya pada pria itu dan ia mengejar untuk menghentikannya. Namun siapa yang ia kelabuhi disini, ketika ia bahkan tidak memberitahukan kapan waktu tepatnya ia akan meninggalkan negara kelahirannya itu.

Mungkin bayangan memulai segala sesuatu di negara yang baru membuat perasaannya begitu tenang seperti sekarang ini. Entah mengapa ia merasa sangat damai. Seperti tidak ada apapun yang bisa membuatnya tetap tinggal di Korea. Kecuali kedua orang tuanya, namun ia telah berpamitan dengan keduanya dengan baik dan kedua orang tuanya sudah merestui kepergiannya itu.

Dengan langkah mantap, ia memasuki gate penerbangan dan tersenyum bahagia. Bahkan ketika ia mendapati penerbangan yang dinaikinya ternyata menjadi tempat satu komplotan mata-mata dari Korea Utara yang memang sedang gencar ingin melakukan perang dengan Korea Selatan.

Ketika salah satu teroris menunjukkan pengendali bom jarak jauh di depan semua penumpang, membuat seluruh penumpang dan juga awak pesawat panik, Jungkook bahkan tidak merasakan kepanikan sama sekali. Hanya perasaan damai yang dirasakannya.

Ah, mungkin apa yang dirasakannya sejak beberapa hari belakangan adalah pertanda bahwa ia tidak akan memulai hidupnya kembali di Amerika. Ia mungkin akan memulai kembali kehidupannya yang baru, dikehidupan setelah kehidupannya saat ini.

Click!

Sang teroris menekan tombol berwarna merah pada pengendali jarak jauh bom yang diletakkannya di beberapa bagian pesawat. Suara ledakan terdengar bersama teriakan banyak orang.

Jungkook hanya memejamkan mata dan berbisik perlahan, berdoa kepadaNYA agar DIA tidak mempertemukan Jungkook dengan orang bernama Kim Taehyung lagi di kehidupannya mendatang.

.

.

"Pesawat penerbangan PK-GFQ303 tujuan Amerika Serikat dari Incheon International Airport mengalami kecelakaan di udara. Teroris Korea Utara berhasil menguasai pesawat dan melakukan aksi bunuh diri dengan menggunakan bom jenis ..."

"Berikut kami sertakan daftar penumpang yang dipastikan berada dalam penerbangaan naas tersebut :

1. Kim ... 2. ... 3. ... 4. ... 5. ... 6. ... 7. ... 8. ... 9 . ...
10. ... 11. Jeon Jungkook (25 tahun), 12. ... 13. ... 14. ... 15. ...

Mata ratusan orang yang menghadiri pernikahan mewah yang diadakan di Hotel Le Meridien Seoul melebar mendengar berita yang ditampilkan di layar super besar yang disiapkan di ball room itu. Layar yang sebenarnya akan diperuntukkan untuk memutar video tentang kedua mempelai sejak mereka kecil hingga menikah seperti sekarang.

Park Jimin berlari dengan mata merah, berlari lurus hingga ke altar buatan yang telah berdiri kedua mempelai dengan baju pengantik mereka yang terlihat mahal. Sebuah pukulan telak ia berikan pada sang mempelai pria dengan sumpah serapah keluar dari mulutnya. Membuat pria yang berlari bersamanya tadi kewalahan saat berusaha memisahkan tubuh Jimin dengan sang mempelai pria.

Pria bernama Min Yoongi itu memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat, berusahan untuk menenangkannya. Yoongi meminta operator yang mengurus sound system dan dokumentasi untuk menyambungkan layar super besar yang berada di sebelah altar buatan itu pada chanel televisi nasional, mengatakan ada berita yang harus dilihat mempelai pria.

Sebenarnya Yoongi tidak ingin mengacaukan pernikahan sahabat kekasihnya itu, namun untuk kali ini, Taehyung harus melihat berita ini. Bukan untuk mengacaukan pernihakannya, tapi untuk memberikan pelajaran pada pria yang lebih muda darinya itu bahwa kadang kau menganggap keberadaan seseorang itu adalah hal yang akan kau miliki selamanya sehingga kau bertindak bodoh dan kehilangannya.

Mata tajam Taehyung melebar, ia menoleh begitu cepat hingga lehernya terasa sakit. Menatap Yoongi yang masih memeluk Jimin dengan nanar. Memohon dengan tatapannya, untuk Yoongi mengatakan bahwa nama yang tertera di layar bukanlah nama Jungkook. Jungkook-nya.

"Dia bahkan tidak memberitahu Jimin kalau dia akan berangkat ke Amerika tadi pagi." ujar Yoongi, menyadari bahwa para tamu undangan telah dimohon untuk meninggalkan ballroom untuk sementara. Mengatakan pernikahan akan ditunda untuk beberapa saat.

"Kau bohong! Jungkook tidak pernah mengatakan apapun padaku!" bentaknya, suaranya bergetar hebat.

"DAN UNTUK APA DIA MENGATAKAN RENCANANYA PADA PRIA BRENGSEK SEPERTI, HUH?" Jimin memberontak dari pelukan Yoongi, melotot tajam pria yang matanya mulai dipenuhi air. "Kau yang membuatnya pergi. Kau yang membuatnya menerima tawaran pekerjaan di Amerika. Kau yang membuatnya menaiki pesawat laknat itu. Kau yang membuatnya tewas di dalam pesawat yang dingin itu. KAU YANG MEMBUNUHNYA! KAU! ITU KAU BRENGSEK!"

"Tidak... Tidak mungkin! Kau berbohong! Aku mohon jangan mengerjaiku sekejam ini, Jimin-ah." Taehyung mencengkram lengan atas Jimin begitu kuat hingga ia meringis pelan. Tapi kemarahan yang dirasakannya lebih besar untuk perduli dengan rasa sakit di lengannya.

"Jangan panggil namaku dengan mulut kotormu itu. Mulai sekarang, kau bukan lagi temanku. Kau bukan lagi sahabatku. Kau adalah pembunuh sahabatku, Jeon Jungkook." Jimin menghempaskan lengannya, berbalik dan berjalan cepat ke arah pintu masuk ballroom diikuti oleh Yoongi. "Berbahagialah dengan wanita pilihanmu."

Suara teriakan dari Kim Taehyung adalah suara terakhir yang mereka berdua dengar sebelum pintu besar ruangan itu tertutup di belakang mereka. Teriakan yang sungguh memekakkan telinga hingga para undangan yang berada di luar ballroom pun ikut bergidik ngeri.

Jimin tidak ambil pusing jika pernihakan itu dilanjutkan, atau dibatalkan.

Baginya, Kim Taehyung sudah mati bersama dengan Jeon Jungkook. Baginya, Kim Taehyung sudah mati dan pergi ke neraka. Dan ia sendiri yang mengirimkan pria itu pada neraka dunia yang akan dijalaninya mulai saat ini.

.

.

END
Hamil membuatku ingin menulis yang sedih-sedih mulu. Entah mengapa. Ini bahkan kutulis hanya dalam waktu 30 menit. Jadi maaf kalau Typo seperti biasa :')