Another You

Shingeki No Kyojin (c) Hajime Isayama

Rate T+ / M (Biar aman)

Warnings: OOC, Gaje, Typo (mungkin), Yuri, YumiKuri

.

.

.

.

.

'KRING...!'

Suara itu mengusik pendengaran Ymir yang sedang terlelap.

'KRING...!'

Bunyi aneh itu membuatnya jengkel, dan terbangun dari posisi tidurnya.

'KRING...!'

Ymir menggeram, dengan mata yang setengah terbuka, ia melihat Krista sedang tertidur, membelakanginya, namun seperti tidak mendengar apa-apa.
Tentu saja, mereka menghabiskan malam asmara mereka hanya berdua disini, di kamar ini. Dan esok paginya ia harus dibangunkan oleh suara menyebalkan datang dari ponsel di meja samping tempat tidurnya.

'KRING...!'

Ymir mengambil ponsel yang bergetar itu, dan sangat yakin kalau itu bukan miliknya.

"Krista!" Ymir mengguncang tubuhnya dengan kencang,

'KRING...!'

Ymir membuatnya membuka mata dengan perasaan tidak enak. "Krista, ponselmu berbunyi," Kata Ymir sambil menyodorkan benda bergetar itu pada Krista.

Setelah Krista terduduk dan mengusap matanya, ia terbelalak; tampak sangat terkejut. Dengan cepat ia mengambil ponselnya, menempelkannya pada telinga.
"H-halo...?" ujarnya pelan.

Ymir di depannya dapat mendengar teriakan cukup keras berasal dari ponsel Krista, itu adalah suara wanita, yang tak lain adalah ibunya. Krista terlihat sedikit ketakutan, dan hanya membalas 'maaf,maaf' beribu-ribu kali. Serta memberi tahu ibunya ia sedang di rumah Ymir.

Setelah ibunya Krista berhenti berbicara, ia menutup teleponnya. Untuk beberapa detik, Ymir dan Krista saling bertatapan.

"Maaf sudah... datang ke rumahmu, ibuku akan menjemput di depan stasiun sebentar lagi," Ujar Krista sambil melirik-lirik sekitar. Kamar Ymir tidak terlalu berantakan, hanya saja kasurnya, tapi itu bisa dibereskan dengan sekejap. Setidaknya tidak ada baju yang mereka kenakan terbuang dimana-mana.

"Tak apa, sekarang bersiap-siaplah, aku akan mengantarmu ke stasiun. Ibumu pasti sangat khawatir kau telah menghilang semalam." Ymir menumpu tubuhnya dengan kedua lutut di depan Krista yang sedang terduduk lemas di atas kasurnya. Ymir merapikan helaian rambut pirang Krista, dan ia tersenyum ketika Ymir mengecup pipi sebelah kirinya.

Saat itupun, pintu kamar Ymir diketuk, "Ymir, sudah bangun? Jangan terlambat untuk kuliah," ujar seorang wanita di balik pintu kamarnya.

Ymir menepuk keningnya, lalu beranjak berdiri.
"Iya, aku siap-siap dulu," balas Ymir dengan keras.

"Ymir, apa yang harus kukatakan saat bertemu dengan ibu?" Krista tampak cemas, ujung alisnya turun ke bawah.

"Kita katakan saja yang sejujurnya," Ymir menjawab sambil menanggalkan baju piyama, dan menggantinya dengan baju yang lain, tanpa repot-repot mandi.

"Ma-maksudmu... bahwa... kita..." ujarnya sambil menatap Ymir yang sedang sibuk mencari-cari baju di dalam lemarinya.

Tubuh ramping berwarna coklat nya beberapa kali menangkap perhatian Krista. Ia bahkan melirik dari atas sampai bawah, kakinya begitu panjang dan otot lengan Ymir yang terbentuk dan kencang membuatnya terpaku. Krista tahu Ymir gemar berolah raga, setiap kali ada jam olah raga di sekolah, Ymir selalu bersemangat. Akan tetapi baru pertama kali ini Krista dapat menyaksikan bentuk tubuh aslinya, dan menurutnya itu adalah hal yang menarik. Krista bahkan tidak merasa bosan menatap garis lurus di punggung Ymir saat ia membelakanginya, serta rambut pendek coklatnya yang membuatnya tampak atraktif. Gundukan tulang belikat belakang yang terlihat berjalan saat Ymir menggerakkan bahunya – oh, sangat menggoda.

Krista cukup tahu bahwa mereka berdua adalah wanita – jenis yang sama. Namun untuk beberapa alasan, Krista begitu tertarik pada Ymir layaknya seorang perempuan menaruh hati kepada pria – pangeran pujaannya – hanya saja, pangerannya adalah seorang putri.

Setelah Ymir selesai berkutat dengan baju dan memakai apa yang ada, "Ya. Ayo, kita pergi. Tapi jangan sampai kau terlihat oleh ibuku." Katanya sambil menutup pintu lemari, dan menggandeng Krista keluar kamar. Ibunya tidak terlihat di sekitar, dan dia buru-buru keluar.

Akhirnya mereka sampai di luar rumah tanpa terlihat. Ymir tampak tidak merasa gugup, sekalipun menemui 'Ibu Mertua'. Tapi percayalah, Ymir tidak pernah merasa takut seperti ini.

Memakan waktu cukup lama untuk mereka berdua menuju tangga masuk subway karena sang – Ibu Mertua – tidak ingin mengemudi sampai di depan rumah Ymir. Tak tahu mengapa, dan ia pun bertanya-tanya.

"Krista, kenapa kau kabur ke rumah dia? Kau sudah terlambat di hari pertama sekolahmu di Jerman! Mengecewakan," ibunya bersender di depan mobil sedan abu-abunya, sorot matanya tajam menatap mereka berdua. Krista menunduk merasa bersalah, sedangkan Ymir tampak berani – walaupun sebenarnya tidak.

"Kau," Lanjut Nyonya Lenz, lirikannya berpindah pada Ymir, menatapnya galak, "Pasti kau tahu penyebabnya dia kabur dari rumah," Nyonya Lenz adalah tipe yang lugas, tegas dan tidak bertele-tele. Tipe sempurna seorang businesswoman, sangat berbeda dengan ibunya Ymir.

"Tidak, ibu. Ini salahku. Aku yang langsung lari ke rumahnya, tolong maafkan aku," Krista menangis, memeluk pinggang ibunya.

Sedangkan Ymir di sisi lain tidak tahu harus merespon. Ia begitu gugup, tapi masih memasang wajah yang tampak tenang-tenang saja. Hal itu pun membuat Nyonya Lenz terlihat semakin jengkel – andaikan Nyonya Lenz tahu, Ymir begitu takut menghadapi dirinya.

"Kenapa tidak langsung membawanya pulang?" Nyonya Lenz bertanya sekali lagi, mengabaikan Krista yang sedang membasahi kemeja abu-abu yang dikenakannya. Ymir membuat catatan mental bahwa Nyonya Lenz adalah penggemar warna abu-abu.

"Anu... s-saya... kami berdua..." Ymir tergagap

Nyonya Lenz berkacak pinggang, sementara Krista melepaskan pelukannya dan mengelap wajahnya dengan telapak tangan, "Kalian berdua kenapa? Cepatlah sebelum aku menuduh sesuatu!" bentaknya.

"K-kami... kami sebenarnya..." Ymir berhenti lagi, namun sorotan mata Nyonya Lenz membuatnya semakin cepat menjawab, "Kami sebenarnya... Mempunyai perasaan yang sama," jawabannya terdengar kurang rinci dan membuat telinga gatal, tapi Krista langsung mengalihkan.

"Ibu, aku tidak mau sekolah di Jerman. Aku mau terus bersama Ymir disini, kumohon bu..." Ujarnya sambil mendongak ke atas, menatap ibunya dengan mata yang sangat berharap. Layaknya seorang anak kecil meminta mainan baru.

Sedangkan Ymir merunduk, bersiap menampung seluruh omelan.

Namun balasan Nyonya Lenz ternyata lebih mengejutkan, ia sama sekali tidak marah, ataupun kaget, "Kau... mencintainya?" Ia bertanya sambil menoleh ke putri angkatnya yang masih terisak; sedangkan Krista hanya mengangguk.

"Oh," jawab singkat Nyonya Lenz.

Ymir mendongak, heran akan reaksinya.

"Kalau begitu," Nyonya Lenz berjalan maju, mendekati Ymir, "Terima kasih sudah menjaga Krista semalam." Dan memosisikan tangannya di atas pundak Ymir.
"Krista...?" Ibunya berbalik badan, "Kalau begitu kita tidak akan pindah ke Jerman." ia berkata halus, seakan-akan seluruh kemurkaannya sudah lenyap. Raut wajahnya tenang, tidak keras seperti tadi.

Krista tersenyum lebar, seakan-akan ujung bibirnya bisa sampai ke ekor matanya, "Benarkah?"

Nyonya Lenz mengangguk sambil tersenyum.

Krista meloncat ke dalam pelukan ibunya, sedangkan Ymir hanya terdiam, memasang wajah curiga.

"Terima kasih, ibu!"

"Iya, sekarang, ayo pulang, besok ibu antarkan ke sekolah yang kau mau." Ujar Nyonya Lenz mengusap rambut pirang putrinya itu.

Saat Krista masuk ke mobil dan menjauh, ia tidak berhenti menatap Ymir sambil tersenyum, wajahnya berseri-seri, dan matanya terlihat berkaca-kaca seperti ingin menangis – atau memang matanya yang bernuansa laut itu akan terus berair.

"Seperti ada sihir," Ymir mengusap dagunya, terdiam.

"Ya, memang ada." Suara lelaki muncul dari sampingnya.

Ymir menoleh, dan terkesiap "Bertholdt!" Ucapnya langsung beranjak memeluk makhluk halus yang di sampingnya.

Setelah tangannya menembus, Bertholdt tertawa pelan.

"Kau yang menyihir Nyonya Lenz?" Ymir bertanya langsung pada intinya, bahkan tidak menghiraukan acara pelukan yang gagal.

Bertholdt melipat tangan di dada, wajahnya begitu percaya diri, "Siapa lagi?"

Ymir berdecak, "Terima kasih."

Seusai pembicaraan singkat mereka, Ymir berbalik badan untuk kembali ke rumah – untuk mandi dan pergi menuju kampus. Dengan Bertholdt mengikutinya di samping.

"Soal sihir itu..." Ymir membuka mulut, Bertholdt yang tadinya memejamkan mata menikmati udara segar pagi di dalam hutan, membuka kembali matanya. "Apakah dia akan berubah pikiran kalau sihirnya sudah habis?"

Bertholdt menggeleng – sangat yakin, dan ada senyuman miring terlukis di wajahnya, "Penyihir level tiga diberikan kemampuan untuk membuat pikiran seseorang yang dimanipulasi menjadi permanen." Jelasnya singkat, dan Ymir langsung mengerti artinya.

"Kau hebat sekali," Puji Ymir – tanpa nada sarkasme, dan Bertholdt terlihat bahagia mendengarnya. "Apa yang bisa kulakukan sebagai terima kasih?"

"Tidak usah," Ujarnya sambil mengibaskan tangan "Aku suka menolong manusia, apalagi manusia sepertimu." Bertholdt menoleh, wajahnya tenang, setenang angin yang menghembus, meniup rambut Ymir dari samping.

"Ya ampun, aku akan membunuh Reiner." Pikir Ymir sambil mengepalkan tangannya, namun tersenyum sinis.

"Hm? Tidak usah, aku baru saja bertemu dengannya." Balasnya seperti biasa, menyambung dengan apapun yang ada di dalam pikiran Ymir.

"Oh ya? Bagaimana kabarnya?"

"Mati."

Ymir berdehem, menyembunyikan keterkejutannya. Tak yakin harus berduka atau bahagia.

"Tenang saja, sekarang kami berteman, dia tidak akan membunuhku lagi." Bertholdt bercanda – walaupun demikian, Ymir memaksakan tawanya, menurutnya itu adalah candaan yang aneh.

Sepanjang jalannya menuju rumah, Ymir tak bisa berhenti berpikir dimana Krista akan disekolahkan nanti. Apakah sama dengan kampusnya, atau di tempat lain. Tapi itupun tidak terlalu menjadi masalah, karena Ymir yakin Krista beserta ibunya tidak akan pergi ke Jerman setelah peristiwa tersebut.

.

.

.

.

.

Sang ibu tersenyum, melihat wajah putrinya kembali berseri-seri walaupun masih dengan wajahnya yang terlihat datar – tanpa ekspresi. Namun dalam hati, ibunya tahu bahwa Ymir sedang bahagia.

Meskipun demikian, ibunya masih merasa cemas akan keberadaan suaminya. Semenjak Ymir menghantam tinjunya kepada pipi ayahnya sendiri, ia pergi pagi-pagi sekali, tanpa kata-kata, dan tidak kembali. Ymir terlihat tidak peduli dengan ayahnya – malah mungkin menganggapnya tidak terlahir di dunia ini, namun ibunya tahu, ia tidak akan mengungkit masalah itu dengan Ymir. Mengingat usianya sekarang, ibunya mungkin akan mencari pria lain, namun tetap saja suami pertamanya yang menghilang adalah lubang terbesar di dalam hidupnya. Ibunya tidak menyuruh Ymir untuk peduli kepada ayahnya sendiri, hanya saja ia yakin bisa mengurus masalah ini tanpa melibatkan orang lain. Ibunya akan menunggu sampai Ymir sanggup membicarakan masalah ini – yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi.

-Ymir POV-

Di depan pintu rumah, Bertholdt pergi, mengatakan bahwa ia mempunyai urusan lain. Aku membuka pintu rumah, ibu langsung menyambutku dan bertanya dari mana aku karena ia belum melihatku keluar sebelumnya. Aku menjawab bahwa hanya ingin memeriksa tanaman bunga di halaman. Meskipun ibu menjawab "Oh," dan terdengar tidak meragukan jawabanku, aku bisa melihat di matanya bahwa ia tahu aku berbohong – hanya saja ia tidak bertanya untuk kedua kalinya.

Jujur aku memang kurang bisa beradaptasi dengan keadaan kampus, aku hanya tidak terlalu suka sekolah apalagi bertemu dengan orang-orang baru. Syukurlah masih ada Sasha yang menemani, dan aku penasaran dimana Krista akan bersekolah nanti. Jika aku tidak bertemu dengannya di jalan besok, mungkin akan ku kirim pesan lewat ponsel nanti. Aku sangat rindu dengannya.

Seprai kasurku terlihat berantakan – tidak pernah seperti ini, kain itu kusut dan terlipat-lipat tidak karuan. Aku dan Krista ada disana sepanjang malam, masih bisa kurasakan nafas hangatnya menyapu leherku, dan dirinya yang terasa tidak mempunyai massa saat duduk di atas pinggangku.

Semenjak itu aku akan terus memakai kalung liontin yang diberikannya kepadaku.

Aku tahu perasaan ini menentang dengan hukum alam, namun hatiku tidak berbohong, aku mencintainya. Sangat. Aku pun tidak tahu mengapa, mungkin ini memang takdir.

Dalam perjalananku menuju kampus, Sasha menghampiri dengan tiba-tiba, dan menepuk punggungku dari belakang. Aku terkejut, dan Sasha hanya mengungkit apa yang terjadi kemarin dengan Krista. Aku terdiam, tidak menjawab, berusaha berkata bahwa tidak terjadi apa-apa. Tapi aku tak ingin berbohong – dan aku tidak mau memberitahunya kejadian yang sebenarnya. Sasha terus memanggil namaku dan bertanya berulang-ulang, kemudian aku menyuruhnya diam. Untuk kesekian kalinya aku telah membuat dia semakin penasaran.

Sasha mendengus dan berkata bahwa dia adalah penyimpan rahasia yang baik. Aku bukannya tidak percaya, hanya saja aku tak ingin ia mengetahui semua yang terjadi di dalam hidupku – akan menceritakan segala sesuatu yang harus diketahuinya, dan aku benci berbicara banyak-banyak.

Sesampainya di depan gedung kampus, Sasha menepuk bahuku lagi dan mengucapkan "Sampai nanti, gadis Jangkung!"
Aku tak mengerti yang diucapkannya itu ejekan atau pujian karena wajah yang ia buat saat mengatakan itu agak menjengkelkan.

Mungkin hari ini akan menjadi lebih produktif di dalam kelas – sejauh ini tak ada masalah yang menimpaku, Krista sudah kembali, Bertholdt pun demikian. Dan tidak ada Youkai menyebalkan seperti Si Mata Tiga itu menghampiriku akhir-akhir ini. Mungkin memang kemampuanku yang berkurang, atau dia hanya bosan melihatku. Aku mulai mengerti mengapa Sang Pencipta memberiku kemampuan seperti ini, dan aku sedikit bersyukur, aku tak ingin kehilangan Bertholdt.

Sejujurnya masih ada masalah, ayah tidak pernah kembali setelah aku meninjunya dengan keras dan ia tumbang. Aku khawatir Ibu akan menjalani hidup dengan penuh kesedihan. Dia terlihat kesepian, dari pagi hingga sore yang kulakukan hanya menghabiskan waktu di kampus ini, meskipun ketika aku pulang ia tetap tersenyum, bisa kulihat kesuraman di dalam matanya – apapun itu, aku harus bisa memusnahkannya. Aku tak bisa melihat ibu terus-terusan meratapi nasibnya dan berpikir keras kemana ayah pergi, aku hanya ingin ibu menemukan pria lain yang lebih layak bersama dengannya, membuatnya bahagia dan mengurangi suara bising di rumah.

Aku berniat untuk bekerja sambil sekolah dan mendapatkan gaji per bulan untuk membayar biaya kuliah. Biayanya memang tidak terlalu mahal, tapi Ibu tidak bisa bekerja sendirian, dan sebaiknya aku melakukan ini tanpa sepengetahuan beliau.

Sedang kupikirkan pekerjaan apa yang cocok denganku. Yang membuatku jengkel adalah, semua pekerjaan kotor pasti menghasilkan uang lebih banyak. Seperti bisnis narkotika, prostitusi atau menjadi mucikari. Jika aku masuk di salah satu dari itu, aku akan menghasilkan lebih dari 10 juta dalam 1 bulan. Tapi Ibu tidak akan menginginkan aku menjadi orang seperti itu. Aku akan mencari pekerjaan yang layak, dan menghasilkan uang, meskipun tidak terlalu banyak. Mempunyai pekerjaan sekaligus kuliah, mungkin akan 2 kali lebih melelahkan.

-Normal POV-

Ymir mengambil kelas jurusan teknik programming dan hampir seluruh pekerjaannya di kampus hanya berkutat dengan komputer. Sejujurnya ia memang tidak pernah terlalu pintar dalam hal-hal komputer, namun disinilah ia belajar ilmu yang baru dan menyenangkan – selain menghafalkan nama-nama latin jika ia mengambil jurusan kedokteran atau botani.

Sang dosen tengah menerangkan murid-muridnya tentang bahasa pemrogaman komputer atau sistem bilangan biner. Sedikit menyebalkan, butuh waktu untuk menghafal pola dan kode bahasanya. Tak lebih dari angka 0 dan 1 berjajar di dalam satu layar, dan Ymir berpikir ini sulit, tapi – menurutnya ini lebih baik daripada menghafal bahasa-bahasa aneh di dunia Ilmu Pengetahuan Alam.

Ketika pelajaran berlangsung, ponsel Ymir berbunyi dan bergetar di dalam tasnya. Nampaknya seluruh orang di kelas tidak mendengar bunyinya karena hanya berdering kecil dan sebentar. Ymir mengambil ponsel dari tasnya bahkan ketika dosen menerangkan – dan membaca pesan yang baru saja diterima dari Krista Lenz.

"Ymir, aku didaftarkan di kampus dekat mall besar di pusat kota. Kau tahu kan? Mulai besok aku akan sekolah disana. Jika ada waktu, bolehkah aku mampir ke rumahmu pukul 4 sore nanti? Kita baru saja berpisah dan aku sudah merindukanmu."

Isi pesan itu yang diketik oleh Krista kepadanya. Ymir sedikit kecewa karena Krista tidak didaftarkan di kampus yang sama. Jarak kampusnya dengan kampus Krista sekitar 3 kilometer – tidak terlalu jauh, lagipula Krista bisa mengunjungi rumah Ymir kapanpun ia mau.

Ymir mengetik cepat dengan keypad di ponselnya – berusaha agar tak menarik perhatian sang dosen.

"Iya, aku akan pulang sebelum kau datang. Dan, aku sedang di kelas. Kita mengobrol nanti."
Lalu Ymir memerintahkan mesin kecil berbentuk kotak itu mengirimkan pesannya kepada Krista.

.

.

.

.

.

Seusai sesi pelajarannya di kelas, Ymir melirik jam di ponsel nya. Pukul 3 lewat 30 menit, Krista bisa saja sudah berdiri menunggu di depan rumahnya.

Ymir berlari menuju stasiun – mulai terlihat bintik-bintik kecil di atas aspal. Satu tetes air menghantam kepalanya, terasa dingin, untuk beberapa alasan, Ymir membenci hujan, tapi juga menyukainya.

Saat ia sampai di subway, hujan semakin deras, namun tak lagi terasa karena ada atap yang melindungi manusia di bawahnya. Ia bergegas memasuki kereta yang akan membawanya pulang. Ymir segera mengirim pesan pada Krista bahwa mungkin ia tak akan ada di rumah ketika Krista datang.

Ymir menyenderkan kepalanya di dinding kereta, dan memejamkan matanya tenang. Kereta kini tidak terlalu ramai, setidaknya tidak ada orang-orang yang berdiri di depannya.

Dalam beberapa menit, ponselnya bergetar – menandakan ada pesan baru yang masuk.

"Tidak apa, Ymir. Aku sudah di depan rumahmu dan berbincang dengan ayahmu. Dia pria yang baik."
Krista mengatakannya seolah-olah itu bukan sesuatu yang – memang – tidak berbahaya.

Ymir terbelalak melihat deretan tulisan yang baru saja dibacanya. Mengapa ayahnya kembali di saat seperti ini? Dengan cepat Ymir mengirim pesan dan berteriak dalam hati "Krista, jangan dekati dia!"

Krista membalas. "Hei, tenang saja, Ymir. Apakah belajar terlalu banyak membuatmu tertekan?" balasnya dengan emoji tertawa, "Dia menyapaku dan membuatkanku coklat panas, meminumnya di teras sambil menatap hujan dan kami berbincang-bincang kecil, itu saja. Ibumu juga ada di rumah."

Ymir mengangkat alisnya sebelah, otaknya berputar – bingung. Selama ini ayahnya mengikuti terapi rehabilitasi? Atau Ibu telah menemukan pria baru? Apapun itu, Ymir tidak peduli. Ia harus segera kembali ke rumahnya.

Berlari dari stasiun menuju rumah – hal yang sudah ia biasa lakukan. Hujan tidak terlalu deras seperti terakhir kali ia lihat. Dengan jarak cukup jauh Ymir bisa melihat Krista duduk di kursi teras yang berposisi ke depan sehingga Ymir dapat melihat wajahnya dengan jelas dan sangat dikenalnya – beradu tatapan dengan pria dewasa di sampingnya, meja bundar diantara mereka menjadi perbatasan.

Ketika Ymir sudah sampai di teras rumahnya, Krista menoleh, tersenyum dan berhambur ke dalam dekapan Ymir

Untuk beberapa saat mereka berpelukan, pria dewasa di belakang Krista menatap mereka sambil tersenyum sekilas. Ymir menghirup rambut pirang Krista yang wangi, dan menikmati suhu hangat yang sedang ditularkan Krista kepadanya.

Seusai mereka berpelukan, Krista mendongak ke atas dan mereka berdua tersenyum. Ymir mengusap lembut rambut Krista bagaikan anak kecil, dan Ymir melirik ke depan, tatapannya dan ayahnya bertemu ketika ia menyeruput coklat panas di gelas yang terlihat cukup besar.

"Ayo, kita masuk saja, Krista. Disini dingin." Ymir menarik lengan Krista masuk ke dalam rumahnya, mengabaikan ayahnya yang sedang menatap mereka berdua. Ada sesuatu yang aneh di dalam tatapan itu, Ymir menyadarinya.

Krista selalu disambut hangat oleh ibunya – dan kini, mungkin oleh kedua orang tuanya. Karena sekarang ayahnya bersikap benar-benar normal, tidak seperti terakhir kali Ymir melihatnya, dan ia yakin itu bukan pria lain.

"Ymir, kenapa tadi kau bilang aku harus menjauhi ayahmu?" Krista langsung bertanya ketika mereka berdua masuk ke dalam kamar.

Kini Ymir harus mencari jawaban yang baik "Akhir-akhir ini, ayahku kurang bisa mengendalikan emosinya dan sering marah. Aku takut kau juga kena marahannya."

"Oh," Krista beranjak duduk di atas kasur Ymir – yang sudah dirapikan tadi pagi. "Menurutku ayahmu baik, mungkin saat itu dia sedang tertekan karena pekerjaannya."

Ymir berdecak, memasang wajah jengkel, karena sesungguhnya ia tahu ayahnya pergi bukan bekerja – dan tentu saja ia takkan memberitahu Krista soal itu.

"Apa kau baik-baik saja?" Krista bertanya lagi,

"Kenapa bertanya?" Ymir tersenyum dan duduk di samping Krista, menatapnya dengan tenang. "Kau ada disini, tentu saja aku tak apa-apa."

Krista terkikik dan berhenti ketika Ymir mendekatkan jarak duduknya. Menyentuh rahangnya, kemudian menyisir poni Krista sehigga tidak lagi menutup sebagian keningnya. Sedangkan Krista hanya menatap ke bawah dan memasang wajah tersipu, hal yang sangat disukai Ymir.

Ketika Ymir mengangkat dagunya dengan perlahan, ia memberikan kecupan singkat di bibirnya. Terasa begitu hangat, tercampur dengan perisa coklat yang baru saja diseruputnya. Tangan Ymir beralih menuju tengkuk Krista, kehangatan tangannya membuat Krista merinding sekilas.

Ymir mencium bibirnya sekali lagi, kali ini lebih lama, dan Krista tak mampu berbuat apa-apa selain mengikuti hasratnya. Kecupan demi kecupan mereka berikan, Ymir merangkul pelan pinggang Krista, terasa menggelitik, dan ia tertawa pelan. Ia dapat merasakan senyuman Krista di antara ciuman mereka.

Setelah beberapa menit, mereka berpisah, bibir Krista terlihat lebih merah dari sebelumnya, dan wajahnya sayu.

"Apa aku terlalu berlebihan?" Ymir bertanya, dan Krista hanya menggeleng.

"Aku menyukainya," ujarnya kemudian diikuti dengan tawa nya yang terdengar manis.

Ymir tersenyum sekilas, "Ngomong-ngomong, Krista, jurusan apa yang kau ambil di kampus?" Ia bertanya, memiringkan kepala.

"Oh... jurusan melukis. Aku kan sangat suka menggambar," Balas Krista dengan cepat. Ymir merasa sedikit iri kepadanya, ia memang tidak pernah berbakat dalam karya seni. Bahkan ketika Ymir mengunjungi rumahnya, banyak kanvas dengan lukisannya bertebaran hampir di setiap sudut rumah. "Bagaimana denganmu?" Tanya Krista sambil menelusuri tangannya di rambut coklat milik Ymir, dan melepas ikat rambut di belakangnya, membuat rambut pendeknya terurai – Ymir sadar apa yang sedang dilakukannya, tapi ia tidak protes, semua hal yang dilakukan Krista selalu membuatnya nyaman.

"Komputer." Ia membalas singkat."Dan aku sedang mencari pekerjaan untuk menghasilkan uang, bisakah kau membantuku?" ujar Ymir sambil merasakan jemari Krista menyisir lembut rambut pendeknya.

"Hmm..." Krista menghentikan kegiatannya, menyentuh bibirnya dengan telunjuk, menatap ke atas. "Mungkin kau bisa jadi koki di sebuah restoran..."

Ymir langsung menaikkan salah satu alisnya, "Yang benar saja, Krista. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan telur."

Krista tertawa pelan, memainkan helai rambut Ymir, "Kalau begitu... seorang kasir?" sarannya berlanjut.

"Hmm," Ymir menimang-nimang perkataan Krista, "Aku tidak ingin mempunyai pekerjaan yang sama seperti ibuku,"

Krista nampak berpikir lagi, kali ini lebih lama, "Pelayan? Pramusaji?"

"Tidak yakin apakah aku akan bisa melakukannya."

"Kau hanya perlu tersenyum di depan para pelanggan,"

"Ya, ya, aku tahu. Aku tahu." Ymir memutar bola matanya, "Jadi, dimana aku harus mendaftar?"

"Aku kenal dengan teman ibuku yang mempunyai kafe,"

"Baiklah, ayo pergi." Dengan cepat Ymir berdiri dan meraih jaket yang tergantung di belakang pintu kamarnya, mengulurkan tangan mengajak Krista berdiri.

"S-sekarang?" Krista masih diam di posisinya.

Ymir tidak menjawab, menarik Krista secara tiba-tiba dan memakaikannya jaket milik Krista sendiri, yang mempunyai tudung untuk menutupi seluruh kepalanya, bahkan seperempat wajahnya – dapat melindungi dirinya dari air hujan.

Ketika mereka keluar rumah, Ymir dapat melihat ayahnya masih diam di teras, sendirian. Ibu sedang bekerja di dapur, apapun itu yang dikerjakannya. Setidaknya Ymir memberitahu bahwa ia ingin keluar dengan Krista, seperti biasa ibunya pun membolehkan, karena mereka sudah terbilang cukup umur dan bisa mengurus diri sendiri.

Mengabaikan ayahnya, Ymir langsung menjauh dari rumah bersama Krista.

"Kau tahu tempatnya, kan?" Ymir bertanya seiring langkah mereka mulai keluar dari kawasan hutan.

"Tentu saja, lewat sini." Krista mengajak Ymir untuk mengambil belokan ke kiri saat berhadapan dengan jalan raya.

Mereka berdua berjalan, dekat. Ymir merangkul pinggang Krista perlahan, membuatnya geli. Pada awalnya ia menolak, namun setelah sadar betapa nyamannya sentuhan itu, Krista menyenderkan kepalanya di bahu Ymir sambil berjalan santai.

Setelah berjalan beberapa menit, Ymir ditarik oleh Krista ke sebuah jalan di antara 2 toko. Jalan kecil yang lebih mirip lorong itu dipenuhi oleh grafiti dan street art yang berantakan, namun sejujurnya karya-karya orang asing itu memanjakan mata. Walaupun sudah terlihat sedikit usang, Ymir sempat terkagum-kagum.

Tembok di sisi kanan Ymir berwarna merah, dihiasi seekor burung hantu besar yang sedang membuka lebar sayapnya, tubuhnya diberi warna hitam dan putih. Tatapan mata sang burung hantu itu terlihat begitu asli dan nyata, seolah-olah makhluk besar itu akan hidup dan melintas di hadapan Ymir sebentar lagi.

Sementara di sisi kirinya, terdapat stencil art siluet seorang laki-laki sedang bersandar pada tiang, dari atas kepalanya ada sinar lampu. Tangannya memegang sebuah benda yang mengeluarkan asap dari ujungnya, tak disalahkan lagi adalah sebuah batang rokok.

Ymir membiarkan Krista berjalan di depannya, membutuhkan waktu untuk mengagumi karya-karya mengagumkan ini. Krista tersenyum melihat ketertarikan Ymir pada gambar-gambar disekitar. Ia bahkan tidak bertanya atau mengatakan apa-apa, matanya tidak berkedip, dan terkadang mengelus tembok yang sudah diberkati oleh tangan-tangan berbakat ini.

Lorong itu cukup panjang, beberapa gambar sudah pudar, ada yang tertimpa gambar lain sehingga tidak terlihat jelas, ada juga yang begitu menarik perhatian mereka berdua. Ketika sudah selesai menelusuri lorong, mereka sampai di suatu ruangan terbuka tanpa atap berbentuk persegi, kosong dan besar, menampilkan lebih banyak karya-karya mengagumkan orang-orang tak dikenal itu. Salah satunya adalah gambar yang terletak di tengah-tengah mereka, terlihat baru dibuat karena terasa sedikit lengket saat Ymir menyentuhnya.

"Terakhir kali aku kesini, lukisan ini tidak ada," Krista berkomentar – menandakan bahwa ia pun juga sudah sering ke tempat ini.

"Jadi maksudmu, tempat ini tidak terlantar, banyak orang masih datang kesini, dan kau adalah salah satu dari mereka?"

Krista terlihat sedikit terkejut, lalu tertawa "Tidak, aku hanya kesini saat aku bosan dan tidak pernah lebih dari pukul 5 sore, karena seterusnya akan dipenuhi oleh 'mereka', tapi setidaknya setiap hari aku dapat melihat lukisan baru. Dan ini sepertinya belum lama dibuat."

"Deskripsikan 'mereka'." Ymir memasang wajah menantang

"Seperti sebuah perkumpulan anak laki-laki, atau geng. Tapi aku tidak pernah melihat mereka secara jelas, jadi, maaf aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu."

Ymir tidak membalas lagi, hanya mengalihkan perhatiannya pada lukisan di depannya. Gambaran seorang wanita berjaket hitam, celana hitam, dan rambut bermodel pixie cut yang diberi gradasi ungu campur abu-abu gelap. Ekspresi wajahnya terlihat marah, bahkan ia sedang memegang pistol, menodong siapapun yang ada di depannya. Tinggi wanita itu mirip manusia asli, dan cara pewarnaannya begitu menakjubkan.

Tembok-tembok disekitarnya juga demikian, dari seekor serigala berwarna putih dengan wajahnya yang tenang, bunga mawar berwarna biru tua, sampai gambar sekawanan burung gagak terlihat seperti mengejar anak kecil. Ymir yakin gambar-gambar ini mempunyai kisah tertentu jika menemukan gambar lain yang berkaitan.

"Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?" Ymir bertanya saat mereka mulai berjalan keluar dari tempat itu, kembali menuju jalan terbuka.

"Aku bukan seorang putri bangsawan yang selalu dikawal kemanapun aku pergi, tahu."

Ymir menampilkan senyuman yang biasa diberikannya kepada Krista "Tapi kau adalah putri bangsawan-ku,"

Krista tertawa akan betapa buruknya rayuan itu, tapi ia tidak peduli, menikmati Ymir yang masih bisa ada di sampingnya hingga sekarang ini.

Setelah mereka sampai di depan kafe yang Krista maksud, Ymir membuka pintunya – disambut hangat oleh aroma kopi dan musik jazz berkelas, tipikal kafe manapun di kota. Temboknya berwarna coklat dengan tekstur lembut dihiasi dengan berbagai macam gambar terpigura. Di panggung terlihat seorang pria sedang asyik memainkan piano besar yang terletak di sudut ruangan, tempat para pemusik membuat suasana tenang. Selain piano grand, panggung itu juga terdapat klarinet, trompet, biola, gitar dan drum. Biasanya para pemusik mulai bermain bersama-sama saat menjelang malam hari. Tapi kali ini, para pelanggan hanya ditemani sang pemain piano.

Seorang pelayan perempuan tersenyum ramah, dan menawarkan tempat duduk untuk mereka berdua, tapi Krista langsung berbicara pada intinya – ingin menemui teman ibunya yang merupakan pemilik kafe ini.

Si pelayan menunjukkan tempat dimana sang pemilik biasa berada. Ketika Krista menyapa si manager yang kelihatannya sedang membuat kopi di dapur, Krista langsung dipeluk dan mengatakan sudah merindukannya sejak sekian lama. Ymir membuat catatan mental bahwa mereka berdua adalah kenalan akrab.

Setelah Krista berbicara singkat dengan perempuan berkacamata itu, ia menyuruh Ymir berkenalan.

"Ymir, kenalkan, dia Hanji Zoe, pemilik kafe berkelas ini." Ujar Krista sambil mengulurkan tangan di antara mereka. Perempuan yang diperkenalkan Ymir terlihat muda, rambut coklat nya diikat ke belakang, ia mengenakan kacamata berbentuk oval, dan jika Ymir menebak umur wanita ini, sekitar 20-an.

"Senang bertemu denganmu Nyonya," Balas Ymir sambil mengajaknya bersalaman.

Sambil tertawa, perempuan itu membalas tangan Ymir, "Jangan panggil aku Nyonya, panggil saja Hanji atau Kak Hanji. Kau membuatku merasa seperti orang tua." Katanya sambil membenarkan posisi kacamatanya "Kau Ymir, bukan?"

"Ya." Balasnya singkat sambil melepas tangannya dari genggaman Hanji.

"Jadi, ada perlu apa kalian kesini?"

"Ymir ingin melamar pekerjaan sebagai pelayan di kafe ini," Krista menjelaskan sebelum Ymir dapat berkata apa-apa.

"Oh, benarkah?" wajah Hanji berubah dari bahagia menjadi sangat bahagia. "Kami memang sedang kekurangan pelayan. Bisakah besok kau datang kesini pukul 5 sore dan memulai? Tenang saja, sebelum kau bekerja, aku akan memberi instruksi."

Ymir dan Krista saling bertatapan sesaat, kemudian menoleh ke depan lagi, "Ya, aku bisa." Balas Ymir mantap.

"Oke, ada lagi yang bisa kubantu untuk kalian?" tanya Hanji sambil meneruskan kegiatannya membuat kopi untuk pelanggan yang menunggu.

"Tidak, terima kasih Kak Hanji, kami harus kembali pulang." Ujar Krista melambaikan tangan dan pergi keluar dapur.

"Hati-hati dalam perjalanan!" Pesan Kak Hanji pada mereka.

Tepat setelah mereka berdua keluar dari kafe, hujan langsung mengguyur. Ymir mengumpat dalam hati karena di antara mereka berdua tidak ada yang membawa payung. Ymir berbalik pada Krista yang sedang menatap ke atas.

-Krista POV-

Aku mengangkat wajahku ke langit. Tetesan-tetesan kecil, begitu kecil hingga mereka tidak terasa seperti individual tetapi lebih seperti kumpulan yang basah. Lebih menyerupai kabut dibandingkan hujan. Namun, mereka berkumpul bersama, beberapa membentuk tetesan yang lebih besar dan menuruni wajahku. Tidak seperti air mata yang rasanya panas.

"Kau seharusnya mengenakan penutup kepala agar tetap kering. Bukan membukanya seperti penadah hujan," Omel Ymir. Ia mengulurkan tangan ke kedua sisi wajahku, menarik penutup kepala jaketku, kemudian menyelipkan rambutku ke kedua sisinya. Tangannya terasa hangat.

Pandangan kami saling bertemu dan ia berhenti, tangannya masih ada di kedua sisi wajahku. Hujan terasa menghilang. Matanya memiliki semburat warna emas yang dalam menahan diriku untuk diam di tempat.

Namun kemudian, tangannya terjatuh. Ia menoleh sekeliling, tak ada seorang pun yang tampak, tapi memang ada suara-suara di kejauhan.

Ymir menarik tanganku dan membawaku pergi, kembali ke tempat grafiti itu. Aku menemukan tempat itu 2 tahun yang lalu, tempatnya sungguh berbeda jika dibandingkan pertama kali aku kesini. Aku senang ketika Ymir menatap lukisan-lukisan itu dengan tatapan terkesima, suatu hari aku akan menggambar juga di salah satu tembok ini, dan akan kutunjukkan kepadanya.

"Kita mau kemana?" aku bertanya seolah-olah kami tersesat.

"Hah? Tentu saja aku akan mengantarmu kembali ke rumah, setelah itu aku akan pulang ke rumahku sendiri."

"Aku masih ingin bersamamu," Untuk kesekian kalinya aku memeluk tubuhnya dengan erat, ia begitu hangat berbeda dengan suhu alam yang sekarang sedang kurasakan. "Pulanglah bersamaku."

"Oke, tapi sebentar saja, ya?"

Aku membawanya ke jalan menuju rumahku. Ini bukan pertama kalinya ia mengunjungi rumahku, tapi dia memang jarang kesini, jadi menurutku ini adalah kesempatan yang bagus. Lagipula ibuku juga belum pulang.

Saat sampai di rumah, pembantuku yang biasa merapikan rumah menyambut kami berdua dengan ramah. Aku bilang padanya untuk tidak repot-repot, karena Ymir adalah 'teman baik' ku, bukan seorang tamu formal, dan aku menyuruhnya untuk beristirahat di kamarnya saja. Rumah sudah terlihat sangat rapi, tidak ada yang perlu dibereskan lagi.

Aku mengajak Ymir untuk masuk ke dalam kamar, tempat dimana kami berdua suka menghabiskan waktu bersama. Mengajaknya untuk menggambar bersama itu lumayan sulit, ia selalu berkata bahwa tidak ingin menghancurkan karyaku.

-Normal POV-

Ymir tetap ingin bersama Krista seperti ini seterusnya di dalam kehidupan. Tapi ia juga harus pulang, memastikan bahwa ayahnya tidak lagi berbuat jahat kepada ibunya. Namun sejujurnya ia sangat nyaman ketika berada di dalam rumah Krista. Bisa dibilang rumahnya cukup besar tentu saja jika dibandingkan dengan rumah Ymir yang terlihat sederhana dari luar maupun dalam.

Ketika ia bilang dirinya lapar, Krista meraih ponselnya dan langsung memesan pizza untuk diantar ke rumahnya. Pada awalnya Ymir menolak, kenapa tidak memasak sendiri saja, tapi apa boleh buat makanan itu sudah terlanjur di pesan.

20 menit kemudian seseorang membunyikan bel rumahnya. Krista berlari menuju pintu depan rumah dan kembali ke kamar dengan sekardus kecil pizza beraroma sungguh lezat. Sudah lama rasanya Ymir merasakan makanan seenak ini, dan ia bersyukur bisa menikmatinya bersama Krista.

Ymir senang ketika ia menyuapi Krista, ataupun sebaliknya. Terkadang apa yang mereka lakukan berujung menjadi kegiatan bercumbu yang penuh cinta. Mereka ingin seperti ini terus, melakukan sesuatu bersama, tidak melakukan apa-apa bersama, dan hanya terus bersama.

Seusai menghabiskan beberapa potongan pizza, Ymir merasa mengantuk dan berbaring sebentar di kasur, ditemani dengan Krista di sampingnya. Suhu dingin dan nyaman yang ditimbulkan oleh AC di dalam ruangan membuat Ymir semakin betah.

"Apakah kau akan tidur disini dan pulang besok pagi?" Krista memeluk Ymir dari samping.

"Tentu saja tidak, Krista, aku harus kembali ke rumah sebentar lagi,"

Krista memelas, memeluk Ymir bagaikan sebuah guling "Aku harap bisa bersamamu terus disini, di sampingku." katanya pelan di samping telinga Ymir, lebih terdengar seperti bisikan, nafasnya terasa hangat.

Ymir menggenggam tangan Krista dengan erat, dan menoleh ke arahnya – jarak wajah mereka sangat dekat, dan Ymir tersenyum "Aku memang akan terus disini, disampingmu." Ujarnya sambil menyisipkan rambut Krista ke belakang telinga.

Krista mengelus rahang Ymir, dan memberi isyarat agar mendekatkan wajahnya, maka ia lakukan, sampai bibir mereka bertemu lagi untuk kesekian kalinya. Ciuman itu singkat, namun Ymir menikmatinya, terasa bagaikan ciuman selamat tidur ketika mereka berdua mulai memejamkan mata yang terasa berat – bersamaan, dan pergi ke dunia mimpi.

.

.

.

.

.

Sesuatu dalam tubuhnya memaksa Ymir untuk membuka matanya lebar-lebar, secara tiba-tiba. Krista masih ada di depannya, dengan wajah tidur yang imut dan helaian pirang menutupi pipinya, Ymir berusaha menyingkirkan tangannya yang memeluk tubuhnya secara perlahan.

Setelah berhasil melepaskan pelukan Krista tanpa disadari, Ymir melirik jam. Ia sudah tertidur kira-kira 30 menit lamanya. Ia mengumpat, mengambil jaketnya lagi, mengecup pelipis Krista, berbisik 'sampai nanti' dan berlari kecil menuju pintu keluar.

Ketika berada di luar, hujan gerimis masih mengguyur, menusuk-nusuk tubuh Ymir dengan lembut ketika ia berjalan menuju rumahnya sendiri.

Dari depan rumahnya terlihat kosong, namun ketika ia masuk, kedua orang tuanya sedang duduk di atas sofa, berangkul damai, dan menonton televisi bersama. Bagus, mereka berdua sudah kembali menjadi satu. Ymir tersenyum sekilas, lalu kembali menuju habitat nya – di dalam kamar.

Ketika membuka pintu kamar, Ymir dikejutkan oleh dua orang laki-laki bercumbu di depannya. Ia yakin yang berambut hitam itu adalah Bertholdt, tapi si pirang itu – siapa?

"Berani sekali mereka menjadikan kamarku sebagai tempat bercinta." Kata Ymir dalam hati.

Setelah sadar ada manusia yang menatapnya, Bertholdt terkesiap, dan menghentikan kegiatannya dengan lelaki pirang di sampingnya itu.

Ymir tak berbicara, mereka bertiga tidak ada yang berbicara. Seperti sekawanan tikus yang baru saja bertemu.

"Apakah kau perlu ada disini, Nona?" lelaki rambut pirang dengan mata sipit dan tubuh besar itu bertanya pada Ymir seolah-olah ini adalah rumahnya, dan Ymir merasa direndahkan.

"Tentu saja, Tuan. Ini adalah rumahku, dan jika aku boleh bertanya, siapa dan mengapa kalian berada disini?" Ymir bersikap sarkastik dengan wajah meledek.

"Oh, maafkan ketidaksopananku, Nona," Ucapnya lalu membungkukkan badan, memberi hormat kepada Ymir. "Aku Reiner Braun."

Setelah lelaki itu kembali tegak, Ymir melotot, terkaget, dan entah mengapa amarah dalam tubuhnya muncul. Ia melirik Bertholdt, seperti terlihat tidak terlibat dalam masalah ini.

"Reiner..." Ymir mengepalkan tangannya, "Kau membunuh Bertholdt dan orang tuanya. Benar kan?" Ia membentak dan berjalan mendekat.

Reiner terlihat bingung. "Aku tidak..."

"Omong kosong!" Ymir membentaknya lagi, tidak memberi kesempatan Reiner untuk berbicara.

Ymir menyiapkan tinjunya, siap menghajar Reiner walaupun ia tahu itu adalah makhluk tak kasat mata. Namun, sebelum Ymir dapat menyerang si pirang itu, Bertholdt menghalanginya.

"Ymir, jangan. Sudahlah, kau tidak akan bisa melakukannya." Ujar Bertholdt melirik kepalan tangan Ymir yang sudah siap meluncur.

Ymir melapangkan dadanya, berjalan menjauh dari mereka berdua. "Ya, benar sekali. Lagipula, aku kan manusia."

Reiner tersenyum sinis, "Mana mungkin dia bisa melihat..." kemudian ia berhenti, terkejut. "Kau bisa melihat kami?" tanya Reiner sambil melambaikan tangannya di depan wajah Ymir – yang hanya membuatnya semakin jengkel.

"Agh, hentikan." Ymir menyapu tangan Reiner dari depan wajahnya – yang tembus pandang, lalu menatap Bertholdt. "Apakah ia benar-benar Reiner yang 'itu'?"

"Ya, benar." Bertholdt menjawab mantap.

"Lalu mengapa kau melakukan 'itu'?!"

"Kau cemburu, Nona?" Reiner dari belakang menyambung pertanyaan Ymir. "Bertholdt adalah teman baikku sejak kecil, informasi apa lagi yang bisa kuberikan?"

"Tutup mulutmu, sipit!" Ymir mengernyitkan dahi. "Aku sedang berbicara dengan dia," Kemudian menoleh kepada Bertholdt lagi. "Kau mencintai orang yang pernah membunuhmu dan keluargamu?"

Bertholdt hanya mengangkat bahunya, "Setidaknya kami berdua sudah mati." Ucapnya santai.

Ymir menghela nafas, "Baiklah, maafkan aku telah mengganggu 'kegiatan' kalian, tapi tolong jangan lakukan disini, oke? Aku lelah, dan-" ucapannya dihentikan dengan deringan ponsel yang ada di sakunya, Ymir menjawab panggilannya.

"Kenapa kau meninggalkanku seperti itu?" Krista via telepon tampak ingin menangis, dan Ymir memberikan isyarat kepada Bertholdt dan Reiner untuk segera pergi.

"Maaf, maaf, Krista. Aku tidak ingin membangunkanmu." Ymir merebahkan dirinya di atas kasur ketika menatap dua sejoli itu menembus keluar dari kamarnya melalui jendela. "Aku janji akan mengucapkan selamat tinggal sebelum kita berpisah, oke?"

Krista menghela nafasnya, "Aku ingin ke rumahmu besok sepulang sekolah, tak apa, kan? Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."

"Ya, ya. Tentu saja." Ymir tersenyum – walaupun ia tahu Krista tak dapat melihatnya, dan sesungguhnya ia penasaran kejutan apa yang akan diberikan Krista.

"Istirahatlah yang cukup, besok kau akan kuliah dan bekerja."

"Ya, kau juga jangan melukis sampai tengah malam." Ymir mengingat dulu saat Krista datang ke sekolah dengan tangan kotor penuh dengan cat, dan mengatakan bahwa ia tertidur saat melukis.

Ymir dapat mendengar Krista tertawa dengan lembut. "Oke,"

Dan panggilan diakhiri. Ketika Ymir meletakkan ponselnya, ibunya langsung membuka pintu dan masuk.

"Ada apa, Ymir? Barusan kau berteriak-teriak." Tanyanya dengan wajah heran.

"Oh," Ymir beranjak duduk "Tidak ada apa-apa." Ia sadar itu adalah alasan paling membosankan yang telah didengar oleh ibunya ribuan kali. Tapi, mau sebanyak apapun Ymir mengatakan itu, ibunya tidak akan bertanya untuk kedua kalinya – seolah-olah ia percaya, namun tidak.

"Makan malam sudah siap,"

Ymir mengangguk, "Ibu?"

"Ya?"

"Apa yang terjadi dengan ayah?"

"Tidak tahu," Ibunya mengangkat bahu. "Setidaknya ia bersikap seperti dulu lagi."

Ymir diberikan senyum manis dari ibunya, dan berjalan keluar kamar, menuju meja makan. Ayahnya menunggu disana, mereka berbincang-bincang seperti dulu lagi. Dan untuk pertama kalinya dalam sekian lama, Ymir merasa bahagia menjadi bagian dari keluarga ini.


Makasih buat kalian semua yang udah baca, semoga suka deh. Dan yang nge-review, makasih juga yaa... bikin akun ya biar author bisa bales :v

Thanks for reading!