A/N: Hello guys! Thank you banged buat reviews sama favourite di chapter sebelumnya ya :) Maaf ya updatenya agak terlambat. Aku bener-bener sibuk belajar. Bulan ini super melelahkan :( Anyway... kalian pasti sudah mendengar ya berita tentang gempa 8,9 s r beserta tsunami yang melanda Japan. Selain itu aku juga denger katanya Masashi Kishimoto kita yang tersayang hilang dalam bencana itu! (Semoga itu cuma hoax) Oleh karena itu temen-temen, mari kita berdoa untuk mereka semua :'')

Inilah chapter ke tujuh, sedikit lebih pendek dari yang lain, namun kuharap kalian menyukainya.

Disclaimer: I do not own Naruto. It belongs to our dearest Masashi Kishimoto-sensei :)


Chapter 7: A Temporary Fortune

Rumah itu merupakan salah satu rumah bergaya Victoria yang terletak di Wiluna, sebuah kota kecil di Australia Barat. Halaman rumah tersebut yang lebih mirip oasis di tengah-tengah gersangnya iklim Gurun Gibson itu dikelilingi oleh tembok batu bata tua yang dipenuhi oleh tanaman sulur-suluran berbunga semarak. Lebah-lebah berdengung dan berterbangan dengan penuh semangat kesana-sini diantara bunga-bunga yang berwarna lembut.

Disebuah gazebo ditengah-tengah halaman tersebut, duduklah seorang wanita berambut merah. Kedua tangannya yang kurus dan pucat memegang sebuah buku cerita bergambar dengan tulisan Alladin disampulnya.

"Lalu Alladin mengajak Putri Yasmin keluar dari tembok istana dengan menggunakan karpet ajaib. Karpet itu dengan mudah menerbangkan mereka diatas kerajaan. Putri Yasmin pun terkagum-kagum dengan karpet tersebut dan meminta Alladin untuk menerbangkan mereka lebih jauh lagi."

Gaara Sabaku, yang sedari tadi mendengarkan dengan tekun kini menatap ibunya dengan pandangan bingung. "Apa dia tidak curiga melihat Alladin yang punya karpet ajaib, Bu?"

"Karena ini dongeng tidak, Sayang."

"Coba aku punya karpet ajaib juga. Aku pasti akan menerbangkan kita ke tempat ayah dalam sekejap!"

Karura tersenyum, mata abu-abunya yang lembut menatap penuh kasih sayang pada putranya yang baru berusia lima tahun itu. Jari-jarinya yang kurus mengelus pipi gempal bocah itu. "Kenapa ke tempat ayah?"

"Ayah jarang sekali mengunjungi kita." Gaara menggembungkan pipinya, "Waktu di telepon pun ayah cuma berkata 'iya iya' saja tapi tidak pernah pulang ke Australia."

Karura hanya tersenyum kecil mendengar keluhan anaknya. "Kalau ayah bilang akan datang, dia pasti akan datang. Kita tunggu saja."

Kedamaian dan ketentraman di halaman itu mendadak dikoyakkan oleh kehadiran Paman Yashamaru –saudara kembar Karura, yang menerjang pintu kawat nyamuk di teras. "Karura, mereka datang lagi! Dan kali ini mereka membawa surat perintah untuk membawamu pergi!"

Karura memandangi kakaknya dengan tatapan kosong. "Mereka itu siapa?"

Gaara tahu siapa mereka. Walaupun ibunya tidak, tapi dia masih ingat lelaki berjas hitam dan berwajah seram yang menguarkan bau mint di ruang tamu saat mereka datang. Pria itu juga selalu ditemani seorang wanita pendek berambut hijau yang kelihatannya memusuhi semua orang yang ditemuinya. Mereka berbicara dengan Paman Yashamaru mengenai ibunya seolah-olah dia tidak berada disitu.

Gaara tidak mengerti kata-kata mereka tapi secara naluriah ia tahu maksud pembicaraan mereka. Kehadiran mereka selalu membuat Paman Yashamaru gelisah dan ibunya sangat menderita. Setelah kunjungan mereka yang terakhir, ibunya tidak bisa bangun dari tempat tidur selama tiga hari penuh karena menangis terus-terusan.

Meskipun rasa takut yang amat sangat membuat tenggorokannya tercekat dan jantungnya berdegup liar, Gaara tetap berdiri di hadapan ibunya, mencoba untuk melindunginya dari orang jahat yang ingin menyakitinya.

Paman Yashamaru menggigiti kuku jempolnya, kemudian bergumam, "Bagaimana ini? Bagaimna ini?" Ia menghampiri Karura kemudian memeluk wanita itu, "Aku harus bagaimana Karura? Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Mereka akan membawamu pergi."

Si laki-laki berwajah seram muncul di teras. Matanya menjelajahi seluruh halaman dengan angkuh sebelum pandangannya jatuh pada wanita muda yang duduk dengan anggun bagaikan lukisan hidup di kursinya, berlatar belakang halaman yang asri dan indah.

"Selamat pagi, Nyonya Karura."

Pandangan laki-laki itu pun beralih ke bocah berambut merah yang berdiri di hadapan ibunya. Dia tersenyum pada Gaara. Namun bocah itu tidak senang melihatnya. Kata-kata Paman Yashamaru tadi membuatnya takut. Mereka akan membawa ibunya ke mana? Ia tidak mau ibunya pergi meninggalkan sisinya. Kalau mereka membawanya, lalu siapa yang akan menjaganya? Siapa yang akan menemaninya tidur dan membacakannya cerita? Siapa yang akan mencari ibunya kalau ia menyelinap keluar rumah dan keluyuran tak tentu arah bila penyakitnya kambuh?

"Kami sudah mendapat perintah resmi untuk membawa anda Nyonya. Keberadaan anda tidak aman disini, tidak untuk anda, saudara anda, bahkan putra anda." kata si wanita berambut hijau pada Karura. "Kondisi anda tidak tidak sehat untuk perkembangan jiwa anak anda. Anda ingin yang terbaik untuk bocah ini kan?" Perempuan itu menambahkan sambil menepuk kepala Gaara.

Bibir Karura bergetar, tangannya saling meremas dengan gelisah. "Saya tidak mengerti. Semuanya begitu... membingungkan."

"Tenang saja Nyonya Karura. Fasilitas anda akan terjamin. Dan putra anda akan hidup bahagia." Dengan kasar ia menarik tangan Karura, menyeret perempuan itu melintasi halaman dan menuju teras.

"Tidak!" jerit Gaara sambil menarik tangan ibunya yang bebas. "Jangan tinggalkan aku ibu!"

Dimana ayah saat kami sangat membutuhkannya seperti ini?

"Ayolah, nak." Si perempuan berambut hijau berlutut disamping Gaara, mencoba melepaskan genggaman Gaara pada tangan ibunya. "Saat pulang nanti ibumu akan sehat kembali. Kau mau 'kan punya ibu yang normal?"

Gaara tidak percaya pada perempuan jelek itu. Napasnya bau, dan meskipun ia sudah mencoba berbicara ramah padanya, suaranya tetap dipenuhi kepura-puraan, tidak seperti suara lembut mengalun ibunya. Ia meludahi wajah wanita itu kemudian menarik tangan ibunya lagi.

"Aku tidak pernah suka anak-anak." Wanita itu dengan mudah menggendong Gaara kemudian memberikannya pada Paman Yashamaru. "Jaga anak ini!" bentaknya pada Paman Yashamaru.

"Tolong jangan perlakukan adikku seperti tahanan." balas Paman Yashamaru dengan dingin. "Dan sudah berapa kali kubilang padamu, meskipun kondisinya seperti itu, Karura tetap istrinya Hisagi..."

Wanita itu memotongnya, "Ya ya, kami tahu siapa Hisagi. Namun siapa yang tahu Karura ini entah istrinya yang keberapa." Ia terkekeh, "Pemerintah Wiluna menegaskan bahwa orang sakit jiwa seperti wanita ini tidak boleh dibiarkan berkeliaran. Istri ataupun bukan istrinya Hisagi Sabaku."

"Tapi dia tidak berbahaya!" paksa Paman Yashamaru, namun si wanita tak mendengarkannya dan berbalik lalu bersama temannya si pria berwajah seram mereka menyeret ibunya menuju pintu dalam rumah.

Gaara meronta dari pelukan pamannya, kemudian berlari mengejar ibunya. "Ibu! Ibu!"

Dengan sekuat tenaga Gaara mencengkeram tangan si wanita berambut hijau kemudian membenamkan kukunya ke kulit wanita itu. Dia menjerit, kemudian menampar Gaara.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" jerit Karura tiba-tiba. Ia tersadar dari kebingungannya saat melihat putranya terhempas ke lantai. Tidak siap dengan sentakan tangan wanita itu, si pria berwajah seram pun kehilangan pegangannya pada Karura. "KUBUNUH KAU!"

Karura mengambil sebuah pot yang terletak di teras, kemudian melemparkannya pada si wanita berambut hijau. Wanita itu memekik, namun pekikannya terhenti ketika ia tidak sadarkan diri saat kepalanya terhantam pot tanah liat yang keras.

"INI YANG KAU SEBUT TAK BERBAHAYA?" teriak si pria marah pada Yashamaru. Dengan cepat tangannya meraih handphone dalam saku jasnya, lalu memencet beberapa nomor dan berkata, "Kirim dua orang ke dalam. Caroline terluka! Wanita itu lepas kendali."

Setelah menutup teleponnya ia langsung menerjang Karura, kali ini memiting lengannya agar wanita itu tak bisa melakukan apa-apa. Yashamaru bergumul dengan pria itu untuk melepaskan adiknya yang kesakitan. Sampai akhirnya dua orang yang dijanjikan di telepon tadi datang. Satu dari mereka menolong temannya, sementara yang lain menahan Paman Yashamaru.

Kali ini ibunya tidak meronta saat orang-orang itu membawanya pergi. Ia menatap Gaara dengan sedih. Air mata berkumpul di pelupuk matanya. "Gaara... Gaara... Sayangku..."

Gaara ingin menggapai tangan ibunya, namun tubuhnya yang kecil ditahan oleh salah satu teman si pria berwajah seram.

"Ibu! Ibu! Ibu!"


Gaara tiba-tiba terjaga dan terduduk di tempat tidur king-size-nya. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya tersengal-sengal. Kaosnya basah oleh keringat dan menempel di badannya. Ia melemparkan selimutnya jauh-jauh, kemudian membuka kaosnya dan melemparkannya juga keseberang ruangan.

Setelah napasnya tenang kembali, Gaara turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Diisinya gelas dengan air dari keran kemudian meminumnya dengan rakus. Setelah puas ia kembali ke kamarnya dan menghampiri laci lemari di dekat closet pakaiannya. Dikeluarkannya sebuah kotak dan dibawanya kotak itu ke jendela besar yang tirainya tak ia tutup sepanjang malam. Ia duduk dipinggir jendela itu, kotaknya ia letakkan di hadapannya lalu ia buka.

Dari dalam kotak itu ia mengeluarkan ganja dan melintingnya menjadi rokok. Dengan pemantik yang sudah ia sediakan di dalam kotak ia membakar ujungnya kemudian menghisap ujung yang lain dalam-dalam.

Ini adalah malam kedua Gaara mendapatkan mimpi buruk yang sama. Mimpi yang membangkitkan kembali kenangan masa lalunya. Ia tidak menyangka malam ini ia akan mengalaminya lagi. Gaara bisa merasakan rasa takutnya sedikit demi sedikit terangkat pada setiap hisapan rokoknya. Ia tahu rasa takut ini hanya akan pergi sementara. Tapi baginya itu lebih baik daripada ia menjadi gila karena rasa bersalah.

Dengan muram ia menatap kosong ke arah suatu titik pada kejauhan di luar jendelanya. Ia menghela napas. Ia tidak ingin mengakuinya, tapi di dalam hati ia tahu penyebab datangnya banjir kenangan masa lalu ini.

Gadis itulah yang menarik pemicunya.

Gaara tidak merasakan sedikitpun perasaan bersalah ketika ia naik ke kamarnya Sabtu sore setelah insiden di kolam renang. Meskipun tidak terbiasa dengan penolakan, Gaara juga tak marah pada gadis yang sudah memukulnya itu. Gadis waras manapun pasti akan marah jika dihina seperti itu, dan sepertinya si Hyuuga itu masih bisa berpikir jernih. Lagipula penolakan gadis itu terasa seperti sebuah tantangan bagi Gaara.

Namun, segala pikiran joroknya tentang Hinata Hyuuga langsung terhapus begitu matanya secara tak sengaja menangkap sebuah amplop putih kusut diatas tumpukan buku di mejanya. Ia tidak ingat pernah menaruh surat itu disana dan berniat untuk membuangnya. Tapi niatnya terhenti ketika matanya bertemu dengan tulisan di baliknya.

Untuk Neji

Rasa ingin tahu Gaara tergelitik. Neji. Nama yang tidak asing ditelinganya. Ia pernah mendengar Sasuke menyebut-nyebut nama itu. Gaara pun memutuskan untuk membuka amplop itu, keputusan yang kemudian disesalinya.

Kertas surat itu samar-samar beraroma kayu manis. Dari tulisannya yang rapi, Gaara tahu itu tulisan tangan perempuan. Matanya pun mulai membaca tulisan yang indah tersebut.

Dear Neji,

Apa kabar Nii-san? Kuharap kau selalu sehat.

Ini adalah surat pertama yang aku tulis. Kau pasti kaget karena bukannya menerima e-mail kau malah mendapatkan ini kan? Kurasa kau bisa menebak kenapa aku mau menulis surat. Saat ini e-mail sudah terlalu cepat. Tidak ada lagi perasaan berdebar-debar yang bisa kau rasakan saat menunggu surat dari seseorang. Aku ingin merasakan perasaan itu sekali lagi, jadinya disinilah aku. Kuharap kau tidak keberatan menulis surat sebagai balasannya?

Bagaimana dengan sekolahmu? Pasti menyenangkan rasanya bisa melakukan sepak bola yang kau sukai setiap hari

Hari-hariku disekolah tidak terlalu buruk. Aku memiliki beberapa teman sekarang. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi. Dan berhentilah berpikir buruk! Sasuke dan teman-temannya tidak suka menggangguku! Berita yang kau dengar itu bohong.

Baiklah mungkin waktu itu aku tidak sengaja menumpahkan jus ke seragamnya. Wajarlah kalau dia marah. Kau pun akan marah kalau seseorang menumpahkan minuman ke bajumu kan? Tapi tetap saja, ja-ngan kha-wa-tir! Aku bisa mengatasi semuanya.

Hinata Hyuuga yang sekarang bukanlah Hinata Hyuuga lemah seperti dulu lagi.

Baiklah nii-san, sekarang sudah hampir jam dua belas. Aku harus segera tidur. Kuharap kau selalu sukses dengan apa yang sedang kau lakukan.

Tuhan selalu memberkatimu.

Hinata Hyuuga

Seketika ia pun teringat darimana surat ini berasal. Ia memungut surat ini seminggu yang lalu saat mengambil bola di bawah pohon. Kemudian sejak saat itu surat itu terus berada di kantong seragamnya. Pasti pelayannya yang menemukan surat itu kemudian meletakkannya di mejanya. Gaara harus membaca surat itu sekali lagi untuk meyakinkan dirinya bahwa dia tidak salah membaca.

Jadi dia punya kakak.

Namun yang membuat Gaara mengernyit bukanlah kenyataan bahwa ia sudah membaca surat yang bukan dialamatkan padanya. Tapi kata-kata aneh yang diucapkan gadis itu di suratnya.

Dia jelas-jelas berbohong pada kakaknya di surat itu. Terakhir kali Gaara bertemu Sasuke –yang terjadi dua puluh lima jam yang lalu, lelaki itu masih sama kejamnya dengan Hitler. Tidak mungkin ia berhenti mengganggu gadis yang sudah jadi objek bully-annya sejak kelas sepuluh itu. Gadis itu sendiri yang mengaku sore tadi bahwa ia tidak suka dengan perilaku mereka. Tapi apa yang dikatakannya dalam surat ini benar-benar bertolak belakang.

Malamnya Gaara mulai mendapatkan mimpi-mimpi tentang masa lalunya. Berkali-kali ia mencoba untuk membebaskan pikirannya dari pertanyaan-pertanyaan tentang surat si Hyuuga dan pada saat yang sama mencoba mengubur kembali ingatan masa kecilnya.

Tapi ia gagal.

Bayangan-bayangan tentang wajah ibunya yang menjauh, tangan kecilnya yang tak dapat menggapai ibunya, serta suara-suara tangisan Paman Yashamaru terus menghantuinya. Tak peduli berapa kali pun ia sudah menjalani terapi, ia tak akan pernah bisa melupakan ibunya. Kenangan tentang wanita itu memang sedikit di memorinya, namun membawa dampak yang besar bagi kehidupannya.

"Katakan Gaara, apa yang membuatmu berbeda? Kau hanya diam saja dan menonton saat teman-temanmu mem-bully-ku. Kau sama saja dengan mereka. Malah mungkin lebih buruk."

Suara itu juga terus-menerus bergaung di dalam kepalanya

Ia juga tak bisa berhenti memikirkan si pemilik suara tersebut. Sepanjang masa sekolahnya, Gaara selalu diberkahi dengan kepopuleran, terima kasih untuk uang ayahnya serta ketampanan yang sudah diwariskan orang tuanya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya tentang kehidupan anak-anak yang tak seberuntung dirinya. Ia terlalu egois untuk memikirkan mereka.

Belum pernah ia memikirkan seorang wanita seperti ini. Sesuatu pada gadis itu membuatnya terus memikirkannya dan juga memunculkan rasa bersalah yang seperti memakannya hidup-hidup ini. Mungkin mata gadis itu? Gaara harus mengakui sepasang mata yang pucat itu terkadang membuatnya seram. Seakan-akan dia bisa melihat langsung menembus dirinya.

Perasaan ini mirip dengan apa yang dirasakannya ketika melihat ibunya dibawa pergi bertahun-tahun yang lalu.

Ia bisa melakukan sesuatu, namun terlalu egois untuk melakukannya.

Gaara memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada dinding dibelakangnya saat ia merasakan ganja mulai memengaruhinya. Sebuah senyum bermain di bibirnya. Ibunya akan memaafkannya jika ia hidup bahagia kan? Bukankah itu yang diinginkan semua orang tua?

Saat rokoknya habis, Gaara berdiri dan bergegas ke meja untuk mengambil handphone-nya. Ia memencet beberapa tombol, kemudian menunggu beberapa menit agar orang yang diteleponnya menjawab.

"Jam berapa sekarang brengsek? Lebih baik ini penting atau kau akan menyesal." teriak gadis itu.

"Aku butuh bantuanmu Ino."

Gaara baru saja mendapat ide.


Awal minggu tak pernah menjadi hari favorit seseorang, termasuk Hinata Hyuuga. Tubuh gadis itu melingkar di dalam selimutnya, menolak untuk melepas kehangatannya. Dari suara-suara di luar kamarnya, ia tahu saat itu mungkin sudah jam setengah delapan lebih, dan sekolah akan dimulai sejam lagi. Jika dikurang dengan waktu setengah jam yang diperlukannya untuk menuju kesana, artinya Hinata hanya punya waktu setenagh jam untuk bersiap-siap.

Tapi demi Tuhan! Ia sangat ingin bolos sekolah hari itu!

Walaupun Hinata sudah bertekad tidak mau lagi melanjutkan tantangannya dengan Sasuke, ia tetap takut untuk datang ke sekolah. Masa bodoh dengan semua ancaman Sasuke. Sudah lebih dari setahun pria itu mem-bully-nya, dia pasti bisa menghadapinya sampai akhir kelas tiga. Namun yang membuat Hinata takut adalah temannya yang menjadi objek tantangan. Gaara Sabaku. Hinata tidak tahu bagaimana harus bertatap muka dengan pria itu setelah kejadian hari Sabtu kemarin.

Berbagai skenario untuk bolos mulai muncul dalam kepala Hinata. Mumpung ayahnya masih belum pulang ke rumah, ia bisa menyuruh seorang pelayannya untuk menelepon ke sekolah dan mengatakan bahwa dia sakit. Karena catatan kehadirannya tanpa cela, pihak sekolah pasti percaya. Atau... ia bisa menulis surat kemudian membawanya ke sekolah besok.

Pikiran-pikiran Hinata terputus ketika ia mendengar seseorang mengetuk pintu lalu masuk kedalam kamarnya. Dia memang tidak pernah mengunci pintunya karena takut jika terjadi sesuatu yang buruk ia akan panik dan lupa cara membukanya. Orang yang membuka pintunya itu pun kemudian berjalan mendekati tempat tidurnya, kemudian dengan lembut mengguncang tubuhnya yang tertutup selimut.

"Nona Hinata... Nona Hinata... Sudah hampir jam delapan. Anda harus bergegas jika tidak ingin terlambat."

Hinata menarik selimutnya dan melihat pelayannya berjalan ke jendela untuk membuka tirai dan membiarkan sinar matahari masuk. Si gadis Hyuuga bangkit duduk, namun sebelum ia bisa mengatakan pada Chisa tentang niatnya untuk bolos sekolah hari itu, napasnya tercekat ketika diatas meja tulisnya ia melihat sebuah buket bunga besar yang tertimpa cahaya matahari, hingga menciptakan bayangan-bayangan panjang disampingnya.

Secara otomatis dia turun dari tempat tidurnya dan menghampiri buket bunga warna-warni itu. Karena ibunya penggemar bunga, Hinata dapat membedakan cukup banyak jenis bunga. Buket itu terdiri dari enam mawar semerah darah yang dirangkai ditengah-tengah dengan enam tangkai hyacinth ungu mengelilinginya, dan selebihnya adalah sekitar lima puluh sampai enam puluh tangkai bunga dafodil putih yang memberikan kesan lembut dan mewah pada buket bunga tersebut. Hinata mendekatkan hidungnya pada buket tersebut untuk menghirup aromanya dalam-dalam.

Senyum lebar menghiasi wajahnya.

"D-Dari mana ini?"

Chisa berdiri disampingnya. "Anda menyukainya Nona? Seseorang mengantarkannya pagi tadi, dialamatkan untuk anda. Namun pengantarnya mengatakan pengirimnya tidak ingin namanya diketahui."

Hinata mengernyit mendengarnya. Matanya mencari-cari selembar kartu ataupun secarik kertas yang mungkin memberi petunjuk pengirimnya, namun tidak menemukan apapun. "Tidak ada kartunya juga," gumam Hinata.

Chisa terkikik. "Mungkin anda punya pengagum rahasia nona..."

Wajah Hinata memerah. "T-Tidak. Tidak mungkin." jawab Hinata cepat. Rangkaian bunga seindah ini... Apa mungkin ibunya yang mengirimkannya? Atau adiknya? Mungkinkah Neji-nii-chan?

"Hmm... Ini aneh." Chisa bergumam.

Hinata menoleh ke arahnya. "Apa yang aneh?"

"Di daerah asal saya, kami memiliki berhektar-hektar padang bunga liar yang berisi macam-macam jenis bunga. Setiap bunga pun memiliki artinya masing-masing. Coba saya hitung dulu..." Bibir gadis itu bergerak-gerak selama beberapa saat, kemudian ia berkata, "Tidak salah lagi. Enam mawar merah dan enam hyacinth ungu, artinya permintaan maaf."

Kata-kata gadis itu membuat Hinata melongo. Permintaan maaf? Rasanya ibu, adiknya ataupun Neji tak berbuat salah padanya.

"Lalu... Apa arti bunga dafodil ini?" tanya Hinata sambil menyentuh kelopak salah satu dafodil.

"Oh, itu artinya ketulusan. Siapapun yang mengirimkan buket ini meminta maaf dengan tulus."

Wajah Hinata memerah.

"Pengagum rahasia anda ternyata sangat romantis ya Nona?" goda Chisa dan membuat wajah Hinata makin memerah.

Selama tujuh belas tahun hidup, belum pernah ada orang yang mengirimkan karangan bunga seindah ini untuknya. Dari bentuknya Hinata bisa tahu buket ini dirangkai oleh orang profesional. Rona merah tak bisa hilang dari pipinya yang pucat saat Hinata memikirkan siapa orang misterius yang mengirimkan bunga ini.

"Baiklah, saya akan meninggalkan Nona. Anda sebaiknya bergegas, karena sebentar lagi pukul delapan." Karena Hinata masih terlalu sibuk dengan pikirannya ia lupa mengatakan pada Chisa kalau dia tidak sekolah hari ini.

Tidak mungkin dia punya pengagum rahasia seperti yang Chisa bilang! Jadi... siapa? Mungkin dia harus menelepon ibunya untuk memastikan. Siapa tahu ibunya yang mengirimkan ini sebagai kejutan.

Hinata mengambil handphone-nya, lalu sebelum sempat memencet nomor ibunya, benda itu bergetar menandakan sebuah pesan baru saja masuk. Dia memutuskan untuk membuka pesan itu dulu sebelum menelepon dan sekali lagi pada pagi itu, napas Hinata Hyuuga tercekat di tenggorokannya.

Sender: Gaara Sabaku
Apr 4, 2011 7:47:11 AM

Kuharap kau suka bunganya.

Telapak tangan Hinata terangkat untuk menutup mulutnya yang terbuka lebar. Ekspresi tak percaya jelas-jelas terpampang di wajahnya. Pesan itu singkat, hanya empat kata. Namun Hinata tak berhenti membacanya berulang-ulang untuk meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi. Jantungnya berdegup makin kencang setiap ia membaca kata bunga.

Untuk apa Gaara Sabaku mengiriminya bunga?

"Oh, itu artinya ketulusan. Siapapun yang mengirimkan buket ini meminta maaf dengan tulus." kata-kata Chisa terdengar kembali di benaknya.

Terdengar ketukan di pintu kamarnya lagi sebelum kepala Chisa melongok masuk. "Apa anda berniat sekolah hari ini Nona?"

Hinata tersadar dari lamunannya kemudian mulutnya secara otomatis menjawab, "Y-Ya ya, a-aku akan mandi sekarang." Dengan wajah masih memerah si pewaris Hyuuga itu pun mengambil handuknya dan bergegas masuk ke kamar mandi.

Beranikah Hinata mengatakan bahwa Gaara Sabaku meminta maaf padanya?


Hinata tergesa-gesa masuk ke gedung SMA ketika bel pertama berbunyi. Dengan panik ia langsung menuju loker untuk mengambil buku-bukunya. Melihat area loker yang sepi, Hinata diam-diam berharap ia bisa bertemu Gaara, bukan karena ia ingin bertemu pria itu. Tapi karena ingin bertanya tentang tujuan asli cowok itu mengirimnya buket bunga.

Ia sedikit merasa kecewa ketika tidak menemukan cowok itu. Namun pada saat yang sama merasa lega, karena ia juga belum sempat menata kata-kata yang ingin diucapkannya pada cowok itu.

Hinata sampai dikelas pertamanya –Lab biologi, untungnya sebelum gurunya masuk. Begitu mengambil mejanya yang biasa (di pojok), Hinata menyadari bahwa sepertinya perhatian seluruh orang tersita oleh sesuatu, sesuatu yang menghebohkan. Hinata melihat mereka bercerita dengan semangat sambil melihat ke sebuah majalah. Hinata tidak berniat mencari tahu. Cepat atau lambat ia pasti akan tahu dengan sendirinya.

Kelas biologi hari itu dimulai dengan Miss Tsunade mengumumkan tentang tes praktikum mendadak. Mereka harus membedah katak, yang membuat seluruh kelas mengerutkan hidung mereka dengan jijik.

Hinata bersyukur karena terlahir dengan indera penciuman yang tidak gampang mual ketika mencium bau amis dari katak-katak yang disiapkan diatas meja. Ia melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa semua orang sudah bersama partner lab-nya masing-masing dan siap membelah katak mereka. Hinata tidak peduli bahwa dia tidak mempunyai partner lab. Selama ia masih mampu mengerjakan katak ini sendirian, ia tidak butuh bantuan siapapun.

Dia memutuskan untuk mengisi sebagian pertanyaan pada lembar praktikum-nya dulu sebelum membelah katak-nya. Ketika sedang menulis hipotesanya mengenai bentuk sistem pencernaan amfibi, dari ekor matanya Hinata melihat Tenten menjatuhkan penghapusnya, lalu berlutut di lantai untuk mengambilnya. Cewek itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya seakan-akan menahan sesuatu agar tidak keluar dari mulutnya. Hinata pun langsung tahu bahwa Tenten tidak kuat mencium bau amis katak.

Ia tidak terlalu dekat dengan Tenten, tapi ia juga tidak bisa membiarkan gadis itu tersiksa seperti itu. Maka Hinata pun menetapkan hatinya dan merogoh sesuatu dari tasnya. Setelah meraih botol kecil yang diinginkannya, ia mendekati Tenten dan berjongkok di samping gadis itu.

"H-Hei... Tenten 'kan?" sapa Hinata. Si gadis rambut cokelat melirik Hinata sebentar sebelum mengangguk lemah. Dari dekat Hinata bisa melihat keringat di dahi gadis itu, serta mendengar napasnya yang tersengal-sengal.

"Mmm, m-mungkin kau mau mencium bau minyak kayu putih. B-Baunya lumayan kuat d-dibandingkan b-bau amis. B-Biasanya ini cukup membantu." Hinata menyodorkan botol minyak kayu putihnya pada Tenten. Gadis itu melihat botol yang disodorkan oleh tangan terpucat yang pernah dilihatnya, sebelum melihat ke arah si pemilik tangan yang tersenyum lemah padanya.

Karena tak punya pilihan lain, Tenten pun meraih botol itu, membuka tutupnya dan menghirup dalam-dalam aroma minyak kayu putih yang menenangkan. Ia menghirupnya beberapa kali sebelum menghembuskan napas lega. Meskipun perutnya sudah berhenti bergejolak, Tenten masih menghirup dalam-dalam aroma minyak kayu putih itu. Hinata tetap berjongkok disampingnya dengan wajah khawatir.

"Thanks." kata Tenten. "Kau... Hyuuga kan? Boleh aku meminjam minyak kayu putihmu dulu?"

Hinata mengangguk. "T-Tentu. B-Bagaimana perasaanmu?"

"Lebih baik. Aku tidak kepikiran kalau hari ini kita akan bedah katak." Tenten tersenyum lemah.

Hinata tersenyum lebar melihat senyuman gadis itu. "Uhh.. K-Kita sebaiknya berdiri." Tenten tertawa kecil dan berdiri mengikuti Hinata.

"Kau mau jadi partner lab?" tanya Tenten tiba-tiba. "Kau tahu... Aku tidak keberatan mengerjakan apapun asalkan tidak menyentuh katak itu."

Senyum Hinata makin melebar mendengarnya. "T-T-Tentu saja!"

"Kau terlihat cerah saat tersenyum seperti itu."

"Eh?"

"Nah, wajah itu yang lebih sering kulihat." kata Tenten. "Aku tidak menyalahkanmu. Tidak banyak hal yang bisa membuat kita tersenyum di sekolah ini." Dia menghirup minyak kayu putih lagi.

Hinata tertawa kecil mendengar komentar Tenten. Saat itu Tenten tak terlihat seseram yang orang-orang gosipkan. Malah gadis itu terlihat ramah dan santai. Inikah rasanya mengobrol saat pelajaran?

"A-Aku... Aku tidak begini dulu waktu SMP... Semenjak adik dan sepupuku pindah, aku tidak punya b-banyak teman."

"Aku mengerti... Tapi setidaknya kau lebih beruntung dariku. Sebenarnya ini adalah kali pertama aku belajar bersama banyak orang seperti ini."

"Eh?" Hinata terbelalak mendengarnya. "Kau... home-school?"

"Ya. Sampai kelas sembilan. Ayahku bersikeras mendidikku dengan caranya. Ia memanggil guru ke rumah dan aku tidak diizinkan bergaul dengan anak-anak tetangga. Sampai nenekku datang untuk tinggal bersama kami. Ia pun menyuruh ayahku untuk melepasku, katanya sudah saatnya aku belajar bersama banyak orang."

"Kuharap sekolah ini menyenangkan bagimu."

"Tanpa Sasuke dan kroni-kroninya kurasa tempat ini akan lebih menyenangkan." dengus Tenten.

Mereka berdua terkikik setelah komentar Tenten. Hinata merasa bersyukur ia datang ke sekolah hari ini. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia mengobrol akrab seperti ini dengan seseorang. Jika dia tidak masuk hari ini, siapa tahu kapan saat-saat seperti ini akan terjadi lagi?

"Well, maafkan aku karena mengganggu pembicaraan yang asyik ini. Tapi seluruh kelas sudah setengah jalan dengan eksperimen mereka. Lalu mengapa katak kalian masih utuh, Hyuuga, Tenten? Apa kalian bingung, nona-nona? Apa petunjukku kurang jelas?"

"M-Maafkan kami Miss Tsunade. Kami akan segera menyelesaikannya." Hinata cepat-cepat memakai sarung tangannya, sementara Tenten langsung menyibukkan dirinya menyelesaikan lembar praktikum mereka.

"Baiklah... Sebagai murid terpintar di kelasku Hyuuga, aku mengharapkan lebih darimu." kata Tsunade tajam.

Hinata hanya mengangguk, "Saya akan berjuang semampu saya."

"Bagus. Aku akan kembali untuk melihat pekerjaan kalian."

Ketika Tsunade berbalik, Hinata dan Tenten menghembuskan napas lega. Mereka saling bertatapan kemudian terkikik lagi sebelum kembali mengerjakan praktikum mereka.


A/N: Aku tahu, aku tahu chapter ini pendek. Tapi chapter ini penting karena membahas sedikit tentang masa lalu Gaara. Bagi kalian yang belum bisa menebaknya, kuberitahu kalau Karura ibunya Gaara memang gila atau sakit jiwa. Alasannya akan kujelaskan nanti di chapter lain. Disini Gaara, Kankurou dan Temari tidak berasal dari satu ibu, tapi mereka satu ayah (Aku selalu mikir kayak gitu soalnya Gaara ga mirip sama Temari dan Kankurou). Lalu maafkan aku karena membuat nama ayah Gaara Hisagi, aku betul-betul ga tau namanya siapa karena ia cuma selalu disebut-sebut dengan Yondaime Kazekage (ya kan?)

Hinata akhirnya berteman dengan Tenten, lalu bagaimana reaksi Sasuke melihat perkembangan ini? Bagaimana reaksi Gaara nanti saat bertemu dengan Hinata? Yang paling penting adalah bagaimana sikap Hinata nanti saat bertemu dengan pria itu?

Khusus untuk chapter ini aku tidak menulis balasan review. Pertanyaan-pertanyaan kalian akan kutampung untuk sementara. Untuk kalian yang menyukai cerita ini, aku berterima kasih atas pujiannya juga atas kritikan-kritikannya. Insyaallah di chapter selanjutnya aku akan tulis semua balasannya. Perlu kuberitahu juga aku mungkin akan mengupdate cerita ini kurang lebih tiga minggu dari sekarang. Minggu depan aku akan menghadapi UAS. *sigh*, wish me luck okay?

Jika kalian berkenan, tolong review cerita ini agar aku tahu dimana kesalahan-kesalahanku atau bagian mana yang kalian suka :)

Terima kasih sudah membaca cerita ini.

xoxo
shiorinsan