Sejak pagi, Jongin terus saja berkutat dengan kertas. Bayangkan saja pagi hari, ia sudah disambut dengan tumpukan dokumen yang ada di meja kantor. Sembari membolak-balik dokumen, pikiran Jongin tertuju pada Kyungsoo. Ia pun mengusap layar ponselnya dan menari nama Kyungsoo di kontak.

Jongin mengusap wajahnya kasar, mengingat ia tidak memiliki nomor ponsel Kyungsoo. Jongin pun kembali meletakkan ponselnya dan kembali fokus pada pekerjaannya.

. . .

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kini saatnya Jongin untuk pulang. Sungguh ia sangat mengkhawatirkan Kyungsoo. Apakah kondisinya sudah membaik? Jongin semakin menancapkan gasnya membelah kota Seoul.

Cklek

Jongin mencium aroma masakan yang sangat enak. Ia pun mencari asal aroma itu. Jongin tersenyum melihat Kyungsoo sedang memasak sesuatu sembari bersenandung lagu 'Entrust' milik boygroup idolanya, INFINITE.

"Apa yang membuatmu begitu senang, eoh?" tanya Jongin penasaran melihat tingkah Kyungsoo.

"Omo?! Kau sudah pulang," kata Kyungsoo sembari menghadap Jongin.

Jongin menempelkan punggung tangannya pada dari Kyungsoo. "Demammu sudah reda."

"Ne, duduklah. Aku akan menyiapkan makan malam," kata Kyungsoo.

Jongin duduk sembari melihat keceriaan Kyungsoo dari belakang. Terbayar sudah rasa khawatir jongin ketika melihat Kyungsoo sudah lebih baik. Tak lama setelah itu, Kyungsoo meletakkan panci yang Jongin yakini itu berisi sup. Benar saja, sepanci berisi sup merah telah ada dihadapannya. Kyungsoo pun mengambilkan sup untuk Jongin.

"Yak! Kenapa kau sedari tadi tersenyum, eoh? Kau membuatku takut," kata Jongin.

"Nanti aku ceritakan. Setelah makan malam," kata Kyungsoo sembari tersenyum.

"Kau berhutang cerita padaku," kata Jongin menyantap makanan dengan sedikit kesal.

Selama makan malam, Kyungsoo terus saja senyam senyum sendiri. Sudah mirip orang gila, pikir Jongin. Ia pun melanjutkan makannya. Beberapa menit kemudian, sup itu telah habis tak tersisa. Kini Kyungsoo sedang membersihkan alat makan, sedangkan Jongin mandi.

. . .

Saat Jongin keluar dari kamar setelah mandi, ia melihat Kyungsoo yang tersenyum tidak jelas sembari menatap layar ponsel. Siaran televisi pun diacuhkannya. Ada apa gerangan dengan Kyungsoo?

"Bisakah sekarang aku mendengar penjelasanmu?" kata Jongin sembari duduk di sebelah Kyungsoo.

Kyungsoo langsung mendekat pada Jongin sembari memengang lengan Jongin. hal ini sukses membuat Jongin merasakan detak jantung Jongin terpacu cepat. Jongin melihat tepat pada mata Kyungsoo yang berbinar-binar. Sadar hal ini salah, Jongin segera menjauhkan Kyungsoo dengan mendorong dahi Kyungsoo dengan menggunakan jari telunjuknya.

"Kau tahu, aku sangat senang hari ini," kata Kyungsoo.

"Kenapa, heum?" tanya balik Jongin.

"Aku akan cerita, dan kau jangan berkomentar apapun," kata Kyungsoo.

Jongin pun hanya mengangguk.

Flashback!

"Kyungsoo―ya!"

Mendengar Chanyeol memanggilnya, Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. Ia terkejut melihat Chanyeol yang menggenggam tangannya. Kyungsoo merasakan pipinya memanas.

"Maukah kau menjadi kekasihku."

Detak jantung Kyungsoo terpacu cepat mendengar pengakuan Chanyeol. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, menghindari tatapan mata Chanyeol. Gugup menyelimuti perasaan Chanyeol serta Kyungsoo.

"Chanyeol―ah. Aku―"

Chanyeol menatap lekat mata bulat Kyungsoo menantikan jawabannya. Ia juga melihat Kyungsoo membungkamkan mulutnya dan mengalihkan pandangannya dari Chanyeol.

"Aku akan menjadi kekasihmu. Yah, walaupun aku belum sepenuhnya mencintaimu. Buatlah aku agar aku bisa menintaimu sepenuhnya," ucap Kyungsoo sembari menundukkan kepalanya.

Tanpa menunggu waktu lama, Chanyeol membawa Kyungsoo dalam ciumannya. Tersirat senyum tipis di bibir Kyungsoo. Ia merasa bahagia ada yang begitu mencintainya. Beberapa saat kemudian, Chanyeol melepas ciuman mereka dan mengecup kening Kyungsoo. Mereka tertawa bersama saat keluar dari bianglala dan menuju wahana lainnya. Kyungsoo mengeluarkan tawanya bersama Chanyeol.

Flashback Off!

Kyungsoo memeluk bantal sofa sembari tersenyum sendiri setelah menceritakan itu semua pada Jongin. sedangkan, Jongin hanya menganga mendengar cerita. Terbesit perasaan sedikit tidak suka ketika melihat Kyungsoo berjingkrak riang karena orang lain. Namun, Jongin tetap mengembangkan senyum palsunya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada layar televisi.

. . .

Akhir-akhir ini, pikiran Jongin sering kacau. Banyak karyawan yang menjadi korban kemarahannya. Ia bahkan sering mengabaikan kekasihnya, Krystal. Jongin sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ia sengaja pulang kerja malam hari, untuk menghindari Kyungsoo. Bukan karena marah, hanya saja Jongin enggan melihat Kyungsoo yang setiap hari tersenyum senang. Itu sungguh mengganggu indra penglihatannya.

Tak jarang, Jongin pulang dalam keadaan mabuk berat. Seperti malam ini. Jongin duduk di sebuah warung tenda, didepannya terdapat beberapa botol soju dan daging sapi siap panggang. Teguk demi teguk soju Jongin habiskan. Sesekali ia memandangi layar ponselnya sendu.

Dalam sekejap, Jongin menghabiskan 4 botol soju. Beruntung ia minum ditemani oleh sekretarisnya, Sehun. Jadi, Sehunlah yang mengantarkan sang CEO Kim tersebut pulang tengah malam ini.

Jongin berjalan masuk apartment dengan limbung dan hampir terjatuh, jika saja Kyungsoo tidak menolongnya. Wajah Kyungsoo menyiratkan suatu kekhawatiran. Bagaimana tidak, hampir setiap hari Jongin pulag dengan keadaan mabuk.

Kyungsoo membantu Jongin untuk berjalan ke kamarnya. Setelah meletakkan Jongin diatas ranjang, Kyungsoo menyelimuti Jongin dan segera keluar. Namun, pergelangan tangannya di genggam oleh Jongin. Ia melihat mata sendu Jongin terbuka.

"Jangan pergi," kata Jongin.

"Tapi aku juga ingin tidur," elak Kyungsoo.

Jongin menarik tangan Kyungsoo hingga tubuh yang ditariknya terjatuh diatas ranjang. Selanjutnya, Jongin malah memeluk Kyungsoo erat dibawah selimut yang hangat.

"Tetaplah begini, jangan pergi," kata Jongin memejamkan matanya.

Detak jantung Kyungsoo berdesir cepat merasakan hangatnya pelukan Jongin. Perasaannya semakin menjadi. Namun, seketika ia ingat akan posisinya, Kyungsoo menepis perasaan yang ia miliki. Lalu ia hanya berpikir, 'Ingat siapa dirimu Kyungsoo. Saat ini Jongin hanya sedang tidak sadarkan diri.'

. . .

Sinar mentari menyapa bumi. Pipi Kyungsoo bersemu merah ketika ia membuka matanya. Masih dalam posisi dipeluk oleh Jongin. bahkan pelukannya tidak merenggang sedikit pun dari semalam. Aneh! Sebelumnya Kyungsoo tidak merasakan tidur senyenyak semalam. Apa karena Jongin? Memikirkan hal itu, Kyungsoo segera menggelengkan kepalanya.

Sangat ingin Kyungsoo bangun, namun ia tidak mau membangunkan Jongin yang terlihat sangat lelah. Kyungsoo pun memilih diam dalam pelukan Jongin.

Hanya menunggu lima belas menit untuk menunggu Jongin terbangun.

"Morning," sapa Kyungsoo.

"Uhm? Morning," balas Jongin.

Kyungsoo pun bangun dari ranjang dan menuju dapur, siap berperang dengan alat masakanya. Untuk menu sarapan pagi, Kyungsoo menyiapkan sup tauge untuk menghilangkan sisa mabuk Jongin. Saat Kyungsoo meletakkan sup yang sudah mata, ia sudah menemukan Jongin yang duduk manis di kursi dengan meletakkan dagunya pada meja makan. Dengan telaten, Kyungsoo menyiapkan sup untuk Jongin.

"Pukul berapa kau pulang bekerja total?" tanya Jongin membuka pembiaraan.

"Seperti biasa. Aku pulang pukul setengah dua belas malam. Tapi tenang saja, Chanyeol akan menjemputku," kata Kyungsoo enteng sembari memasukkan makanan dalam mulutnya.

"Baiklah."

Setelah itu mereka diam seribu bahasa hingga akhirnya Jongin berangkat ke kantor.

. . .

TBC

. . .

A/N: Masih adakah yang menantikan ff gaje ini? Btw, aku lagi banyak banget masalah. Sampek aku rasanya males buat nulis. Rasanya buat ngomong aja susah. Sesek banget. Pronk Fxxk! Kok aku malah curhat yah? Typo maafkan ya! XD