Let's Play The Game 2
Story by. Hitomi Shoyou
Naruto
Disclamier : Masashi Kisimoto
Genre : Crime, Humor, Romance, and Friendship
Warning: Typo, OOC, YAOI, kata-kata yang tidak sopan jangan ditiru ya XD
Sarutobi mulai berdiri dengan nafas yang agak tersengal, sedangkan Orochimaru terlihat masih berdiri santai, menyeringgai dengan pedang di tangan kanannya. Jari lentik tangan kirinya mengusap permukaan pedang yang terdapat darah di sana, menyentuh darah itu dan memperhatikannya dari jari telunjuk kirinya.
"Maaf atas kecerobohan saya sensei, anda jadi terluka," kata Orochimaru pura-pura merasa bersalah lalu menyeringgai kembali.
Sedangkan Sarutobi memegang lengan tangan kanannya yang terkena 'goresan' pedang Orochimaru. Orochimaru kembali menyerang tapi dengan cepat pula Sarutobi meraih tongkat besi tidak jauh darinya.
TRANG
Kedua benda logam itu berbenturan, Sarutobi menahan serangan Orochimaru.
"Penawaran terakhir, apa jawabanmu?" kata Orochimaru.
"Kau tahu pasti apa jawabanku," Sarutobi mendorong pedang Orochimaru dengan tongkat itu lalu menendang Orochimaru tapi Orochimaru segera menghindari dengan gerakan salto kebelakang karena setelahnya Sarutobi akan menendang kaki Orochimaru.
"Gerakanmu masih cepat ya sensei," kata Orochimaru.
"Kau sudah terlampau jauh dalam jalanmu Orochimaru," kata Sarutobi.
"Bukankah itu sangat bagus? Kau tidak lihat betapa berhasilnya muridmu satu ini sensei?" kata Orochimaru.
TRANG TRANG TRANG
Orochimaru kembali menyerang, Sarutobi berusaha menghindar dan bertahan. Darah yang mengalir dan tenaga yang mulai terkuras membuatnya mulai kewalahan menghadapi Orochimaru. Dan untuk itu Orochimaru semakin menyeringgai lebar karena dia masih ingin bermain-main dengan Sarutobi.
.
.
.
Sasori dan sisa anggotanya yang masih bertahan menelurusi ruangan bawah tanah yang tidak jelas tepatnya di mana ruangan itu karena tidak tercantum dalam peta.
Keadaan tempat itu kumuh, kecipak bunyi genangan air yang bisa Sasori dengar setiap dia melangkah dan dinding yang agak retak di mana-mana. Setidaknya dia bisa mengarahkan anggotanya karena yang bisa melihat di kegelapan hanya dirinya berkat kacamata yang dia kenakan.
SET SET SET
Sebuah suara bisa Sasori dengar dari arah belakang tapi tidak terjadi apa-apa kecuali anggotanya yang kelihatannya agak…berkurang.
"Kemana teman kalian yang lain?!" tanya Sasori.
Anggota Sasori yang berada tidak jauh dari Sasori tidak mengerti maksud Sasori.
"Kalian tidak sadar? Teman kalian ada yang berkurang!" kata Sasori.
Lalu anggotanya mulai melihat rekan mereka masing-masing.
"Mereka menghilang Sasori-san!" jawab salah satu anggota agak panik dengan kehilangan rekan-rekan mereka secara tiba-tiba itu.
SET
"AAAA! TOLONG!"
Suara asing terdengar sebelum teriakan minta tolong itu terdengar.
"!" Sasori dan sisa anggota yang tinggal 3 orang menjadi waspada.
"Semuanya mendekatlah," perintah Sasori.
Anggotanya mendekat dan saling membelakangi mengantisipasi serangan misterius yang membuat rekan mereka menghilang.
CTIK CTIK CTIK CTIK
Lampu tiba-tiba menyala dan menerangi tempat itu membuat Sasori dan ke-3 orang rekannya terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Beberapa anggotanya tergelatak bersimbah darah, dan berdiri beberapa orang yang memakai topeng dan memakai pakaian serba hitam.
"Selamat datang tamu-tamuku," sebuah suara mengalihkan perhatian Sasori dan anggotanya.
"Maaf atas ketidak sopanan anak buahku dalam menyambut kalian, mereka memang selalu agresif. Hahaha…" kata suara itu lagi. Tidak jelas siapa yang berbicara karena hanya terdengar suara saja di tempat itu.
"Kalian bisa menikmati tour kalian dibawah tanah dengan ditemani anak buahku ini. Selamat menikmati perjalanan kalian~," kata suara itu.
"Ck," Sasori berdecak.
SRET
Hampir saja Sasori mendapat serangan dari sebuah pisau yang melayang kearahnya, beruntung refleksnya sangat bagus untuk menghindar. Anggotanya yang mulai kehabisan peluru sepertinya harus mengadalkan kekuatan bela diri mereka jika mau bertahan. Terlebih lagi sepertinya mereka kalah jumlah.
"Yah semoga saja ini masih sebagai misi penyelamatan bukan misi bunuh diri," kata Sasori sambil terus menghindar dan menembaki orang-orang bertopeng yang mulai menyerang dia dan timnya.
Tumbang 1 lagi anggotanya.
'Sial!' umpat Sasori dalam hati sambil mengisi pelurunya.
SRET BRAK
'Gerakannya terlalu cepat, siapa mereka sebenarnya?' batin Sasori.
.
.
.
Kabuto, pria yang berada di balik semua 'permainan' yang di alami Sasori dan yang lainnya tengah menatap puas layar besar di depannya. Kali ini dia beralih melihat di mana Shikamaru dan anggotanya masih saling adu tembak dengan anak buahnya melalui layar lain.
Ternyata Shikamaru dan anak buahnya bisa mengalahkan anak buah Kabuto.
"Mendokusai," kata Shikamaru setelah berhasil menumpas orang-orang Kabuto.
Kabuto yang melihat dari layar tercenung sebentar lalu menyeringgai, "Hebat juga mereka. Baiklah bagaimana kalau ini," kata Kabuto mengerakkan jari-jarinya cepat di keyboard dan menekan enter.
KRIIEETT
Shikamaru menaikkan sebelah alisnya saat sesuatu muncul dari lantai ruangan itu, tepat berada di tengah ruangan.
GREK
Mulai terlihatlah benda apa itu.
ZIINNNGGG
Suara berdenging mulai terdengar.
"!" Shikamaru baru menyadari benda itu.
"KALIAN SEMUA BERLINDUNG DI TEMPAT YANG AMAN DARI TEMBAKAN OTOMATIS ITU!"
DRRTT DRRTT DRRTT DRRTT
Dan sesuai tebakan Shikamaru tembakan itu bergerak otomatis ditambah lagi tembakan itu juga bergerak berputar, tidak ada celah untuk menghentikan alat itu.
Shikamaru berlindung pada sebuah tiang besi penyangga ruangan itu. Tidak ada yang bergerak darinya maupun anggotanya. Penembak otomatis itu terus bergerak menembak ke segala arah, beberapa anggotanya tadi sempat terkena karena terlambat berlindung.
'Tempat ini tidak seperti yang terlihat. Mungkin masih banyak lagi jebakan tersembunyi di dalamnya,' batinnya.
Shikamaru duduk di lantai masih bersandar pada tiang besi itu untuk melindungi dirinya, dia terlihat diam lalu tak lama dia mulai menyentuh setiap ujung jari-jari tangan kanannya dengan tangan kirinya, kebiasaannya dalam berpikir dalam situasi seperti ini.
.
.
.
Naruto dan anggotanya masih berlindung dari cairan yang masih menghujani mereka.
TES TES TES
Cairan itu berhenti.
"Eh? Sudah berhenti?" kata Naruto.
BSSHHH
Kali ini asap yang tiba-tiba keluar cukup tebal.
"Uhuk uhuk uhuk," Naruto dan anggotanya batuk karena asap itu.
SRET
"!" Naruto terkejut dengan serangan mendadak itu.
TRANG
Naruto menahan serangan yang tiba-tiba berada di depannya, sebuah pedang menembus asap itu dan hampir saja membelah kepalanya jika dia tidak menahan pedang itu dengan pistol yang dia genggam dan menjauhkan kepalanya ke samping.
Mulai terdengar anggotanya juga mulai menahan serangan dari orang-orang asing yang baru datang itu.
"Selamat datang di tempat kami bocah," kata orang yang mengacungkan pedangnya pada Naruto. Seorang pemuda dengan rambut sebahu dan gigi runcing seperti hiu.
"Terima kasih atas sambutannya," kata Naruto tetap menanggapi.
"Aku suka orang sepertimu pirang. Aku beri kesempatan berharga untukmu mencoba pedangku ini," kata pemuda itu tersenyum licik.
"Dengarannya bagus sih tapi aku tidak ada waktu untuk mencoba pedangmu," kata Naruto tersenyum lalu…
DOR
"Wow.. hati-hati dengan pistolmu bocah. Seharusnya kau tidak boleh memainkannya," kata pemuda itu.
"Banyak bicara, dan berhenti memanggilku bocah! manusia hiu ga jelas!" Naruto langsung menembak pemuda itu, pemuda itu menghindar dan kadang berlindung di balik pedang besarnya yang hampir sebesar tubuhnya itu.
"Baiklah izinkan aku untuk membalas," kata pemuda itu sudah berlari kearah Naruto, tanpa terduga gerakannya benar-benar cepat walaupun membawa pedang besar yang menurut Naruto pasti berat.
SHYUU SET SET SET
Naruto menghindari pedang yang terus mengarah untuk mengenai tubuhnya. Pemuda itu mengangkat pedangnya dan mulai mengayunkan pedangnya.
BRAK
Suara pedang yang membentur lantai itu menimbulkan suara yang cukup keras. Terlambat saja Naruto menghindari pedang itu bisa di pastikan dia terbelah dua. Sebagai gantinya lantai di mana Naruto tadi berdiri sudah hancur dan berbentuk agak cekung.
Dengan gerakan cepat pula Naruto melompat dan berjalan bertumpu pedang besar itu dan melompat. Kini dia tepat berada di atas kepala pemuda itu mengarahkan pistolnya pada pemuda yang kini mendongkakkan kepalanya.
Tiba-tiba pemuda itu menyeringgai.
SRIINNGG BRUAK
Pemuda itu memukul tubuh Naruto menggunakan pedangnya sehingga Naruto menabrak tembok dan tersungkur di lantai.
"Ck, sial," umpat Naruto kembali berdiri. Dia sudah tidak mendapati pistolnya lagi, karena pistol itu sudah terlempar entah kemana.
"Saatnya menyerah bocah?" kata pemuda itu entah sejak kapan sudah berada di depan Naruto mengacungkan pedangnya tepat di depan wajah Naruto.
Naruto menatap tajam orang itu.
Sementara itu Kiba di dalam mobil terlihat gelisah menunggu kabar teman-temannya. Apalagi tadi dia juga mendengar suara ledakan dari arah pabrik tua itu.
TOK TOK TOK
Ketukan pada kaca mobilnya mengagetkannya, lalu membuka pintu mobil itu.
"Konohamaru?" katanya melihat anak berumur 15 tahun itu.
Kiba turun dari mobilnya dan melihat Konohamaru.
"Kau sudah mendapat kabar dari mereka?" tanya Konohamaru.
Kiba menggeleng, "Kau sendiri?"
Konohamaru kali ini yang menggeleng. Kiba bisa melihat Konohamaru juga sama cemasnya, selain nyawa kakeknya yang sedang terancam tapi nyawa rekan-rekannya juga sedang di pertaruhkan.
Kiba menepuk kepala Konohamaru pelan, "Mereka pasti menyelamatkan kakekmu," kata Kiba tersenyum.
~Let's Play The Game 2~
Kyuubi masih berada di kamarnya menyibukkan diri dengan selembar kertas yang dia coret-coret entah dia sedang mengerjakan apa.
'Zat misterius, rumah sakit,' Kyuubi melinggkari kata itu di kertasnya.
Kyuubi kembali mengingat kejadian waktu dia di serang di rumah sakit itu. Ingatannya kembali berputar, saat di mana dia mengejar para pelaku yang berusaha menculik Sarutobi, dia memasuki bangunan dan di sana beberapa petugas rumah sakit tergeletak bersimbah darah dengan salah satu orang memakai baju dokter dengan rambut hitam panjang.
'Rambut hitam panjang!' Kyuubi segera menulis lagi di kertasnya dan melingkarinya.
Lalu di mana dia mendapat serangan tiba-tiba sehingga dia tidak bisa berbuat banyak. Lalu seseorang yang mengangkat dagunya dan melihat wajahnya, samar-samar Kyuubi melihat wajah orang itu tapi mata orang itu yang tajam bisa Kyuubi lihat seperti mata ular.
"!" Kyuubi jadi teringat acara televisi saat di mana dia menontonnya bersama Itachi.
.
.
.
Kembali pada pabrik tua di mana kerusakan sudah terjadi di mana-mana dan segala 'permainan' yang Kabuto kendalikan dalam gedung itu.
Sasori menahan tubuhnya yang mulai kelelahan. Dia tinggal sendirian, anggotanya yang satu lagi sudah tewas. Sasori sendiri juga sudah dalam keadaan buruk, beberapa luka sayatan.
Yang dia lakukan hanya tinggal menghindar, karena peluru sudah habis dan tidak ada jalan keluar dari sana.
SRET BRAK
"Keh!" Sasori berhasil tertangkap dan langsung di lempar sehingga menabrak tembok.
TES TES TES
Darah Sasori mulai menetes ke lantai.
"Ghh…!" Sasori merasakan seseorang mulai mencekik lehernya. Memaksanya untuk berdiri. Orang itu terus mencekiknya sampai sulit untuk Sasori melepaskan diri.
Dia bahkan tidak bisa berkomunikasi lagi dengan yang lain karena kacamatanya entah sudah kemana karena saat menghindar dan menyerang lawannya, dan sudah di pastikan juga kacamata itu sudah hancur karena keadaan tempat itu saja sudah sangat hancur.
JLEB
Pisau menembus perut Namikaze sulung tersebut.
"Argh!" Sasori mengeram sakit.
.
.
.
Shikamaru membuka matanya, dia sudah mendapatkan jalan keluar dari masalah sekarang. Saat tembakan otomatis itu sedang mengarah pada arah lain Shikamaru melihat tembakan otomatis seperti mencari sesuatu.
'Itu dia!' arah pandangnya pada sebuah kabel yang menembus ke dalam lantai.
'Benda secanggih apapun pasti ada titik kelemahannya kan?' batinnya.
'Jika aku bisa memutus kabel itu aku bisa menghentikan alat mengerikan itu,' batinnya.
"Kalian, sebisa mungkin tembak terus kabel merah pada alat itu saat tembakan itu tidak mengarah pada kalian," perintah Shikamaru.
"Baik Shikamaru-san!" anggotanya mengerti dan bersiap melakukan yang dikatakan Shikamaru.
DOR DOR DOR
Terlihat anggota Shikamaru sudah mulai menembak lalu bersembunyi untuk melindungi diri saat tembakan itu mulai mengarah pada mereka dan terus terjadi selama tembakan itu terus berputar.
Setelah beberapa saat, Shikamaru kembali melihat apakah rencananya berhasil.
'Sial!' umpatnya.
Ternyata kabel itu tidak terkena sama sekali, memang sangat sulit menembak objek yang sangat kecil dan bergerak.
'Tidak ada jalan lain.' batin Shikamaru.
Dia sudah tidak mendapat kabar teman-temannya sejak tadi, saat mencoba melacak dia juga tidak mendapatin keberadaan teman-temannya. Shikamaru tidak tahu apa yang sudah terjadi pada teman-temannya. Waktu terus berjalan, dan dia tidak bisa diam saja di sini hanya karena tembakan otomatis di depannya.
Shikamaru mengeluarkan pisau lipatnya dari tas ransel kecil di punggungnya, lalu melirik tembakan otomatis itu. Shikamaru menunggu waktu yang tepat.
'Sekarang!' dia berlari menuju tembakan otomatis yang sedang mengarah pada arah lain darinya.
"Shikamaru-san!" seru anggotanya yang kaget dengan tindakan pimpinan mereka yang membuat jantung mereka hampir copot.
Shikamaru sampai pada benda mengerikan itu dan mulai berusaha memutus kabel itu dengan pisau lipatnya. Keringat mengalir di keningnya.
'Waktuku 15 detik sekarang,' batinnya sambil terus mengesekkan pisaunya pada kabel itu
Sementara di waktu yang bersamaan Naruto dan anggotanya terlihat mulai terpojok dengan musuh mereka.
Keadaan Naruto sudah sangat kacau, dengan beberapa sayatan di tubuhnya dan darah yang mengalir di kepalanya. Dia berusaha berdiri dengan susah payah.
"Aku suka semangatmu itu," kata pemuda yang menjadi musuhnya sejak awal.
"Aku sudah katakan tadi jika tempat ini lebih cocok menjadi kuburanmu," kata Naruto.
"Hahaha… kita lihat saja," pemuda itu kembali menyerang Naruto. Naruto hanya bisa menghindar, dan sesekali melawan dengan fisiknya.
Nafas Naruto memburu karena lelah, sedangkan pemuda itu kembali menyerang Naruto tapi Naruto belum bergeming dari sana.
"Mati kau bocah," ucap pemuda itu menyeringgai.
SET BUK SRAK
Naruto berputar dengan agak menunduk dan menendang tangan pemuda itu sehingga pedangnya terlempar jauh.
"Ck, menyusahkan," kata pemuda itu agak kesal.
"Sekarang kita seimbang," kata Naruto.
"Cih, aku bisa mengalahkanmu tanpa menggunakan pedangku," kata pemuda itu bersiap menyerang Naruto dengan tangan kosong.
"Buktikan," kata Naruto meremehkan.
"Ck, bersiaplah," pemuda itu kembali menyerang duluan.
Orang itu mengarahkan pukulannya pada Naruto, Naruto menghindar berusaha membalas dan di hindari juga oleh orang itu.
DASH BRUAK
Naruto berhasil menendang orang itu sampai terbentur tembok.
"Sepertinya kau hanya bergantung pada pedangmu ya," kata Naruto menyeringgai.
KREK
"!" Naruto tidak menyadari sejak kapan pemuda itu mendapatkan pistol dan sekarang mengarahkan padanya.
"Good bye blonde," kata pemuda itu siap menembak Naruto.
DOR
"!" Naruto kembali terkejut karena bukan dirinya yang tertembak melainkan pemuda itu sendiri. Naruto menoleh kekiri, yang melakukannya adalah salah satu anggotanya yang sepertinya masih bertahan sedangkan yang lain sudah tumbang dengan musuh mereka juga.
"Anda tidak apa-apa Naruto-san?" tanya orang itu.
"Ya aku baik-baik saja, terima kasih," kata Naruto tersenyum menghampiri orang itu yang hampir saja ambruk.
"Kita harus mencari keberadaan kake-"
DOR
"NARUTO-SAN!" anak buah Naruto benar-benar terkejut karena Naruto mendapat tembakan. Darah mulai mengalir dari bahu kiri Naruto. Naruto jatuh telungkup, meringgis kesakitan sambil memegang bahu kirinya. Sedangkan di belakangnya pemuda yang sempat dia kira sudah tewas masih menyeringgai padanya.
"Aku sudah katakan…keh! Uhuk! kalian tidak akan bisa…keluar dari si-ni hidup…hidup," kata pemuda itu susah payah.
Salah satu orang anggota Naruto itu berjongkok di samping Naruto mencoba membantu Naruto duduk.
DOR
Satu tembakan lagi pemuda itu lancarkan tapi tidak mengenai Naruto ataupun salah satu anggotanya tapi pada sebuah pipa gas.
"Haha… bersiaplah un-tuk kembang api…" kata pemuda itu dengan tangan bergetar akan menembak lagi sebagai pemicu ledakan.
"Hentikan- dia!" seru Naruto pada orang di sampingnya.
"Tidak bisa Naruto-san, jika saya menembak ledakan akan terjadi," kata orang itu.
"Cih," Naruto hanya berdecih.
Sedangkan bau gas sudah mulai tercium.
.
.
.
Itachi membuka matanya perlahan.
"Ssshhh…" dia merasakan sakit pada kepalanya. Sepertinya dia jatuh terbentur dengan keras.
"Dimana ini?" katanya.
"Akhirnya bangun juga," kata seseorang.
Itachi menanti sosok yang belum terlihat jelas tersebut. Tapi dia baru sadar dengan keadaannya sendiri.
CRING CRING
"Apa-apan ini cepat lepaskan aku!" kata Itachi karena baru sadar jika kedua tangannya terikat dengan rantai di sisi dinding.
"..." orang itu kelihatannya mulai melangkah menuju Itachi.
Itachi tidak dapat melihat jelas orang di depannya karena gelap sampai jarak kurang lebih 2 meter Itachi mengenali sosok itu, sangat mengenali.
"Sasuke!" kata Itachi terkejut.
Tapi orang yang di panggil Sasuke terlihat berekspresi datar.
'Apa dia masih belum mengingatnya?' batin Itachi miris, pertemuan kembali dengan adiknya selalu seperti ini.
Pemuda itu mendekati Itachi dengan pedang di tangan kanannya.
"Kau… Kita pernah bertemu di Kiri 2 tahun lalu. Benar?" tanyanya.
"Kau benar," jawab Itachi.
"Sasuke-"
"Namaku bukan Sasuke," ucap pemuda itu.
"Kau Sasuke! Apa yang telah Orochimaru lakukan padamu?!" kata Itachi agak membentak.
"…" pemuda itu hanya diam dan memandang Itachi dengan ekspresi datarnya.
"Sasuke cobalah mengingat lagi siapa dirimu! Kita ini saudara Sasuke! Kau sudah di peralat oleh Oro-"
"Habisi orang itu S," kata suara lain terdengar menggema seperti dari alat pengeras suara.
"Coba ingat-ingat Sasuke!" kata Itachi masih mencoba.
SRET SRET
"Keh!" Itachi merasakan sakit saat pedang itu menyayat tubuhnya, pakaiannya terlihat robek.
"Aku bukan Sasuke, aku tidak mengenalmu dan lagi…"
KRAK
Pedang itu menancap di dinding beberapa centi dari kepala Itachi.
"Aku tidak pernah ingat kita ini saudara atau memiliki ikatan keluarga," kali ini pedangnya berpindah ke leher Itachi mengores dari atas ke bawah.
Darah mulai mengalir dari sana, Itachi hanya memejamkan matanya menahan sakit dari goresan pedang itu dan mendesis kesakitan.
Di ruangan kendali, Kabuto terlihat menyeringgai senang melihat semua dalam kendalinya.
'Dia mungkin kebal hanya dengan serangan fisik tapi bagaimana dengan serangan mental?' batinnya.
Orochimaru sendiri masih asik bertarung dengan mantan gurunya. Sarutobi semakin kelelahan menghadapi Orochimaru.
"Mulai kelelahan Sarutobi? Permainan kita belum berakhir lho," kata Orochimaru menghampiri Sarutobi yang duduk di lantai.
TRANG
Orochimaru menyerang Sarutobi tapi dia berusaha menahan serangan itu masih dengan tongkat besinya, Orochimaru berhasil melemparkan tongkat itu entah kemana dengan pedangnya. Kini dia mengacungkan ujung pedangnya pada Sarutobi.
"Aku kecewa sekali kenapa kau masih keras kepala tidak mau menerima kerja sama ini. Kau harusnya bersyukur aku masih memberikanmu pilihan tidak seperti saingan-saingan lainnya yang langsung kuhabisi," kata Orochimaru tersenyum licik.
DOR PRANG
Orochimaru dan Sarutobi melihat ke atas di mana kaca yang berada di langit-langit ruangan itu pecah setelah bunyi tembakan dan di atas sana berdiri sosok dengan mata ruby terlihat tajam.
"Kyuubi…?" kata Sarutobi.
DOR
Tembakan itu tidak berhasil mengenai Orochimaru karena dia segera menghindar ke belakang.
Kyuubi turun kebawah begitu saja, kali ini dia berdiri membelakangi Sarutobi.
"Katakan kau berikan apa dalam tubuhku?" kata Kyuubi menatap tajam Orochimaru.
Orochimaru awalnya masih bingung di balik wajah datarnya lalu dia tersenyum licik.
"Aku ingat aku ingat, hahaha…" kata Orochimaru tertawa.
"Kau bocah yang waktu itu di rumah sakit bukan?" kata Orochimaru.
"…" Kyuubi hanya diam masih menatap tajam Orochimaru sambil mengarahkan pistolnya pada Orochimaru.
"Kukira kau sudah mati dengan 'temuan' baru asistenku waktu itu," kata Orochimaru.
"Apa yang dia berikan padaku?!" tanya Kyuubi.
"Kau tanya saja padanya," kata Orochimaru.
"Kubunuh kau ular sialan!" kata Kyuubi mulai menembak Orochimaru, Orochimaru tidak semudah itu untuk terkena tembakan dengan mudah dia menghindari tembakan Kyuubi kadang menangkisnya dengan pedangnya.
Setelah di rasa tidak di tembaki lagi Orochimaru berhenti.
"Menarik…" gumamnya menyeringgai.
"Siapa namamu bocah?" tanya Orochimaru.
"Kyuubi Namikaze ingat nama itu baik-baik karena nama itu yang akan mengantarkanmu ke neraka pak tua," kata Kyuubi menyeringgai.
.
.
.
Kabuto semakin menyeringgai senang melihat layar di depannya, karena sepertinya masuk lagi tikus dalam perangkapnya. Yang sekarang sedang mencoba menyerang tuannya.
BZZZTTTT
Tiba-tiba layar itu tidak menampilkan apapun kecuali blur yang tidak jelas seperti tayangan rusak, komputer-komputer lainnya juga terlihat sama.
"Sial!" umpat Kabuto karena merasa ada yang merusak jaringan sistem komputernya, dia berusaha mengendalikan jaringan itu tapi tetap tidak bisa.
.
.
.
Kesadaran Sasori semakin menipis di tambah darah yang terus mengalir karena tusukan diperutnya. Tiba-tiba ledakan besar membangunkan kesadaran Sasori lagi.
DUAR
Ledakan yang cukup keras menghancurkan hampir sebagian tempat itu. Dan musuh-musuhnya juga terkena dari efek ledakan itu.
BRUK
Sasori langsung terjatuh ke lantai karena musuhnya terkejut dengan ledakan dadakan tersebut.
DOR
Musuh terakhirnya tumbang dengan sekali tembakan yang cepat itu, yang di luncurkan dari orang asing yang baru datang tersebut. Dengan sedikit kesadaran Sasori melirik siapa orang yang baru saja muncul dari kepulan asap pasca ledakan besar itu.
"Lapor un,aku menemukan 1 yang masih hidup. Laporan selesai un," kata orang itu.
Lalu Sasori sepertinya mulai pingsan, hanya merasakan tubuhnya mulai terangkat.
.
.
.
Shikamaru masih memotong kabel itu.
'Berhasil….kurasa,' batinnya karena alat mengerikan itu masih belum mati malah sekarang arah tembakannya di tambah gerakan naik turun sambil berputar.
'Aku benar-benar bisa mati….' Batinnya.
"Hey kau yang di sana menyingkirlah!" teriak seseorang.
Shikamaru menoleh ke sumber suara yang ternyata seorang pemuda memegang bazooka di salah satu sudut atas langit-langit, membidik dari sebuah tiang horizontal sebagai pijakannya.
Tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Shikamaru berguling cepat menghindari daerah alat mengerikan yang tadi coba dia hentikan.
DUAR
Tembakan besar tepat mengenai tembakan otomatis yang bergerak tadi, kini alat mengerikan itu berhenti.
"Fiuh… Lapor, di sini sudah selesai dan masih ada beberapa yang hidup," kata orang itu langsung pergi begitu saja.
"Hey tunggu!" panggil Shikamaru tapi orang itu sudah menghilang.
.
.
.
"Naruto-san bertahanlah!" kata orang yang menopang tubuh Naruto dengan merangkulnya.
"Kalian akan mati disini," kata pemuda itu masih mengacungkan pistolnya siap menembak dengan tangan gemetar karena kondisinya saat ini tidak jauh berbeda dari Naruto.
BRAK
Pintu yang ada di belakang pemuda bergigi hiu itu terbuka dengan keras bahkan sampai engselnya lepas dan pintu yang di ketahui terbuat dari besi itu juga menimpa tubuh pemuda itu. Di atasnya seorang pemuda berpijak pada pintu itu.
"Sudah kubilang pelan sedikit dengan benda sekitarmu Hidan! Jika itu propertyku kau pasti berhutang banyak padaku," kata pemuda satu lagi.
"Sepertinya pintu ini menimpa sesuatu," kata Hidan.
"Kau menimpa orang, sepertinya sudah tewas sih orangnya," kata Kakuzu berjongkok melihat pemuda yang menjadi musuh Naruto tadi sudah tewas di sisa nyawanya yang sedikit, harus berakhir tertimpa pintu besi.
"Aku telah berdosa…" kata Hidan langsung memberikan doa pada korbannya.
Naruto dan rekannya sweatdrop.
"Eeerrr… kalian ini siapa?" tanya Naruto dengan suara lemah.
"Ah maaf maaf kami jadi mengabaikan kalian, kami-"
BLETAK
"Bodoh, tugas kita sudah selesai. Kita harus pergi," kata Kakuzu.
Hidan berbicara pada alat komunikasi yang terpasang di telingganya, "Disini beres dan masih ada 2 orang yang hidup,". Lalu dia melihat Naruto dan seorang lainnya lalu melempar sebuah gulungan kertas.
"Itu jalan keluar dari sini, aku gambarkan untuk kalian. Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini secepatnya, perasaanku mengatakan akan terjadi hal buruk dengan tempat ini," kata Hidan.
"Cih, sok meramal," cibir Kakuzu.
"Kau tidak ingat aku pernah katakan padamu kau akan mengalami hal buruk dulu itu? Dan itu terbukti, kau di tipu besar-besaran dan uangmu lenyap," kata Hidan santai.
"Hey jangan mengungkit hal itu!" kata Kakuzu
Lalu kedua orang itu pergi begitu saja meninggalkan Naruto dan seorang lagi.
Naruto makin melemah dan jatuh pingsan, "Naruto-san!"
.
.
.
"S kita mundur, kembali ke markas sekarang. Kita diserang,"
"Hn," pemuda itu lalu berbalik meninggalkan Itachi.
"Tunggu!" kata Itachi.
Pemuda itu menghentikan langkahnya.
"Aku akan menjemputmu Sasuke, pasti," kata Itachi.
Pemuda itu tidak mengatakan apapun dan pergi dari sana meninggalkan Itachi sendirian.
Itachi memejamkan matanya lalu membukanya tiba-tiba, "KUBUNUH KAU OROCHIMARU!" teriaknya sekuat tenaga.
.
.
.
Kembali di tempat Kyuubi. Orochimaru agak terkejut dengan kemampuan Kyuubi yang hampir mengimbanginya. Kecepatan, taktik, dan serangan. Orochimaru tersenyum licik.
'Aku bisa jadikan dia alatku yang lain,' batinnya.
Pedang Orochimaru mengarah pada Kyuubi, dengan cepat Kyuubi melakukan gerakan memutar dan kini sudah berada di belakang Orochimaru. Menahan leher Orochimaru dengan lengan kirinya.
"Bergerak maka peluruku akan menembus kepalamu," kata Kyuubi dingin.
"Gertakan saja tidak membuatku merinding sekalipun bocah," Orochimaru tidak merasa takut atau terancam dia malah menyeringgai lebar.
"Aku akan benar-benar membunuh orang licik sepertimu. Kau tidak pantas bahkan untuk menghuni penjara sekalipun," kata Kyuubi.
Seringgai Orochimaru semakin melebar, "Menarik,"
"Cepat katakan apa yang telah kalian masukkan dalam tubuhku?!" tanya Kyuubi lagi.
"Aku punya penawaran bagus untukmu Kyuubi," kata Orochimaru.
Kyuubi mengertakkan giginya dan semakin menekan pistolnya di kepala Orochimaru.
"Aku tidak tertarik dengan penawaran-"
"Sekalipun itu bisa di tukar dengan obat penawar zat itu?" kata Orochimaru.
"Dengar pak tua, aku lebih memilih kau mati di tanganku. Aku pasti bisa membuat obat penawarnya sendiri," kata Kyuubi geram.
"Percaya dirimu besar juga ya tapi aku tidak yakin akan itu," kata Orochimaru.
"Kau-"
"!" Sakit pada kepala Kyuubi kambuh kembali. Orochimaru merasakan tekanan pistol itu melonggar, dan tidak menyia-yiakan celah itu. Kini dia menyikut tubuh Kyuubi yang ada di belakangnya. Kyuubi mengacungkan kembali pistolnya sambil menahan rasa sakit itu. Tapi sepertinya sulit.
Orochimaru tertawa, "Jadi ini efek dari zat itu eh?" kata Orochimaru.
Tangan Kyuubi yang masih mengacungkan pada Orochimaru mulai bergetar. Tangan kirinya menjambak rambutnya untuk sekedar menghilangkan rasa sakit pada kepalanya tapi tidak berhasil.
"ARRGGHH!" Kyuubi berteriak kencang karena sakit di kepalanya yang luar biasa.
"Anak rubah manis yang malang..." kata Orochimaru berpura pura prihatin.
"Coba kau terima saja tawaranku,"
Kyuubi mendengus meremehkan, "Terlalu cepat 100 tahun jika kau berpikir begitu,"
Orochimaru menjadi geram dan berancang-ancang menyerang Kyuubi yang merunduk di lantai, dengan tangan kanannya yang menahan tubuhnya.
"Sebenarnya kau terlalu manis untuk mati tapi kau membuatku marah," Orochimaru menyeringgai.
JLEB
Orochimaru terkejut, Kyuubi juga sama. Kyuubi melihat Sarutobi sudah berada di depannya, tersenyum padanya.
Darah keluar dari mulut Sarutobi dan menetes pada pipi kiri Kyuubi, Kyuubi terlalu terkejut sampai melupakan rasa sakit di kepalanya.
"Terima kasih Kyuu…" Sarutobi terjatuh di depan Kyuubi.
"He-Hey kakek tua! Bangunlah! Kakek tua!" kata Kyuubi menguncangkan tubuh Sarutobi.
"ha..haha…HAHAHAHA…! Akhirnya kau mati Sarutobi!" kata Orochimaru tertawa.
Kyuubi menatap tajam Orochimaru, tanpa Orochimaru sadari Kyuubi sudah kembali mengacungkan pistolnya, siap menembak dada kiri Orochimaru, jantungnya.
DOR
Orochimaru menghentikan tawanya.
"Tuan kita harus cepat pergi, ada serangan lain di sini," kata Kabuto dari tempat di mana Kyuubi tadi datang, bedanya dia berada di atas helicopter dan sudah menurunkan tangga tali untuk Orochimaru.
"Kabuto, kau memang anak buahku yang terbaik. Hahaha…" kata Orochimaru.
Mulai berjalan kearah tangga tali yang menghubungkan ke helicopter itu meninggalkan Sarutobi yang terus mengalirkan darah dari perutnya karena tusukan pedangnya dan Kyuubi yang mendapat tembakan dari Kabuto.
Orochimaru sudah masuk ke dalam helicopter lalu dia melemparkan sesuatu ke tempat tadi, sebuah bom yang akan meledak dalam 5 menit lagi. Helikopter itu langsung pergi meninggalkan gedung dan tersamarkan oleh gelapnya malam.
"Keh…sshhh…" Kyuubi mendudukkan dirinya, menatap dada kirinya yang tertembak. Beruntung dia menyamarkan gerakannya sehingga tembakan itu sepertinya meleset jauh dari jantungnya, tapi tetap saja hal itu membuat darah keluar dan semakin membuat wajah Kyuubi pucat. Dia segera mengeluarkan tali dengan pengait dari tasnya, menembakkan pengait itu ke celah di mana dia datang tadi. Dengan cepat dia mengikat tubuh Sarutobi pada tali itu dan dirinya juga.
Dia tahu di ruangan itu ada bom yang dilempar Orochimaru tadi, bom itu akan meledak dalam 2 menit lagi.
Kyuubi menekan tombol pada tali itu lalu tali itu menarik tubuhnya dan Sarutobi ke atas.
SREEETTTT
Dengan secepat mungkin Kyuubi menaikkan tubuh Sarutobi sepenuhnya di atap baru dirinya dan membopong Sarutobi untuk melompat bertepatan dengan ledakan.
DUUUAARRRR
Ledakan itu meledak dengan keras dan menciptakan kerusakan yang besar.
Kyuubi terguling dari atap gedung dan jatuh di atas tanah, dengan tubuh Sarutobi di atas tubuhnya.
.
.
.
TAP TAP TAP
Itachi mendongkakkan kepalanya menunggu siapa yang datang kali ini.
"Yo!" sapa orang itu berambut orange, Pain.
"Butuh bantuan?" kata seorang lagi kali ini wanita, Konan.
"Ne, Konan senpai tentu saja dia butuh bantuan," kata si hiperaktif, Tobi.
"Padahal kalo seperti ini dia bisa di rape kapan pun ya," kata Pain mengosok-gosokkan dagunya sambil menatap Itachi yang mulai memberinya death glare.
BLETAK
Konan memukul kepala belakang Pain, "Hentikan pikiran mesummu itu, sejak kapan kau mulai menyimpang?" kata Konan.
"Aiihh~ My sweety baby~ tenang saja~ cintaku tetap padamu kok," kata Pain dan mendapat bogem lagi dari Konan.
DOR DOR
Tobi menembak rantai-rantai itu sehingga putus dan terlepas dari tangan Itachi.
"Maaf kami tidak bisa mencegah Orochimaru," kata Konan.
"Orang itu dan para anteknya langsung pergi. Dasar payah," cibir Pain.
"Sasuke juga baru saja pergi," kata Itachi.
"!"
"Kau bertemu dengan Sasuke…lagi?" tanya Pain.
"Hn dan aku hampir mati di tangannya karena perintah Orochimaru," kata Itachi.
Semuanya kini diam.
"Eto… sebaiknya kita segera pergi dari sini, karena dari yang kulihat di gedung ini sepertinya Orochimaru memasang bom waktu yang akan menghancurkan gedung ini," kata Tobi melihat laptopnya kembali, sudah duduk di lantai.
"Akan meledak dalam berapa jam lagi Tobi?" tanya Konan.
"Lebih tepatnya sih 20 menit lagi Konan senpai," jawab Tobi polos.
"APA?!" kata Itachi, Pain, dan Konan terkejut.
~Let's Play The Game 2~
Rekan Naruto masih membopong Naruto keluar lalu menjatuhkan diri di tanah. Sangat lelah yang dia rasakan, tenaganya seperti terkuras habis.
"Maaf Naruto…san aku tidak…kuat lagi…" kata orang itu lalu pingsan.
Tak lama muncul Deidara yang membawa Sasori dalam gendongannya.
"Berat sekali sih un orang ini," gerutu Deidara. Dan berjalan untuk meletakkan Sasori di tempat yang di katakan Konan.
"Ng?" Deidara melihat Naruto dan seorang lagi sudah terbaring di sana.
"Siapa yang sudah sampai duluan ya?" kata Deidara meletakkan Sasori hati-hati tidak jauh di samping Naruto. Deidara lalu pergi begitu saja.
Lalu muncul Shikamaru dan anggotanya dari kejauhan mereka melihat orang yang dia kenal.
"Naruto! Sasori!" Shikamaru segera menghampiri teman-temannya yang terlihat dalam kondisi buruk.
"Kalian cepat bawa mereka ke tempat Kiba untuk membawa mereka kerumah sakit!" perintah Shikamaru.
"Bagaimana dengan anda Shikamaru-san?" kata anggotanya mulai membawa Sasori dan Naruto.
"Jangan pedulikan aku, kondisi mereka lebih buruk. Ayo cepat," kata Shikamaru ikut berjalan di belakang. Sebenarnya dia sendiri juga mengalami luka tembak di lengan tangannya.
Di tempat Kiba sendiri, beberapa polisi sudah mulai berdatangan dan ambulans yang sengaja mereka panggil juga untuk berjaga-jaga.
Sakura memegang bahu Konohamaru yang terus melihat kedepan, menunggu siapa yang akan muncul nantinya. Dia berharap kakeknya termasuk yang dia tunggu. Wajahnya sudah tidak bisa di tutupi dengan rasa cemas. Sudah sampai malam dan penyelamatan ini belum ada kabar sama sekali, hanya sesekali terdengar suara ledakan dari arah gedung semakin membuatnya cemas.
Sakura sendiri pergi ke tempat ini karena tadi Kyuubi ke kantor dan mencari Itachi, tapi Sakura bilang jika kakek Sarutobi telah di culik dan semuanya pergi menyelamatkan kakek Sarutobi. Kyuubi baru menyadari jika ponselnya tertinggal di ruang tamu. Kyuubi yang mengetahui Naruto dalam penyelamatan segera menyusul bersama Sakura yang memaksa ingin ikut khawatir dengan keadaan Sasori juga. Sesampainya di lokasi Kyuubi sudah hilang entah kemana. Sehingga tidak ada yang tahu jika sebenarnya Kyuubi datang ke lokasi itu kecuali Sakura.
Kiba juga sama cemasnya dengan yang lain karena Shikamaru belum mengabarinya seperti yang di katakan Shikamaru tadi, tapi kecemasannya seakan menguap saat dari kejauhan dia melihat Shikamaru dan beberapa anggotanya yang membopong Sasori dan Naruto yang terlihat kacau.
"SASORI!" teriak Sakura langsung menghampiri Sasori.
"Maaf nona dia harus segera mendapatkan penangganan," kata orang yang membopongnya segera menuju ambulans, petugas ambulans juga langsung sigap bertindak.
"Sasori…" air mata sudah mengalir dari kedua mata Sakura.
"Kak Naruto…" kata Konohamaru dengan perasaan terkejut dan sedih.
"CEPAT BAWA MEREKA SEMUA KE RUMAH SAKIT!" perintah Konohamaru.
Sesuai perkataan Konohamaru semua bergerak cepat, Sasori dan Naruto yang mulai masuk ke dalam mobil ambulans Sakura ikut mendampingi.
"Kau juga harus kerumah sakit," kata Konohamaru menatap Shikamaru.
"Tidak apa hanya luka kecil-"
"AKU TIDAK MENERIMA PENOLAKAN!" bentak Konohamaru.
Shikamaru agak terkejut dengan anak berumur 15 tahun yang biasanya bersikap tenang itu.
Seseorang menepuk bahu Shikamaru, "Benar yang di katakan Konohamaru. Aku akan menyusulmu nanti," kata Kiba.
"…Baiklah…" Shikamaru pergi kerumah sakit dengan mobil polisi. Dia mengerti saat ini Konohamaru sangat cemas dan takut dengan orang yang berdatangan mengalami luka parah seperti itu, biar bagaimanapun itu semua karena mereka berusaha membantu kakeknya.
Konohamaru kembali melihat ke depan menunggu satu-satunya harapannya saat ini, Itachi.
'Aku tinggal mengharapkanmu membawa kakek, Itachi,' batin Konohamaru.
Kiba terlihat memerintahkan anak buahnya untuk memanggil lagi ambulans. Dan memberikan instruksi lainnya.
DUAR DUAR DUAR DUUUAARRR
Ledakan beruntun terdengar dan dari kejauhan bisa terlihat warna merah api yang mulai membakar gedung.
"!" Yang melihatnya terkejut bahkan Konohamaru.
Tangannya bergetar, 'Itachi…kakek…' seperti harapannya lenyap begitu saja mengetahui pabrik tua itu meledak.
.
.
.
Itachi, Pain, Konan, dan Tobi akhirnya keluar dari gedung itu.
DUAR DUAR DUAR DUUUAARRR
Mereka berlindung di sebuah tumpukan drum-drum besar tidak jauh dari pabrik itu.
Tobi menghela nafas lalu melemaskan tubuhnya sampai berbaring sepenuhnya di tanah.
"Terlambat sedikit saja mungkin kita tidak bisa melihat indahnya matahari besok," kata Tobi yang di setujui anggukan dari Pain dan Konan. Berbeda dengan Itachi yang menunduk terlihat tidak lega seperti teman-temannya.
"Hey kenapa dengan wajahmu itu? Kita baru saja selamat dari bom, seharusnya kan senang," kata Pain.
"Tapi aku gagal menyelamatkan seseorang," kata Itachi ingat untuk apa dia datang ke pabrik tua ini.
"Seseorang?" kata Konan menatap Tobi.
"Benar sudah tidak ada orang kok Konan senpai, aku sudah memeriksanya tadi saat berada di dalam gedung. Lalu menurut laporan Kakuzu dan Hidan yang mengetahui pasti gedung ini juga mengatakan sudah tidak ada orang lagi di dalam," kata Tobi berkutat kembali dengan laptopnya.
"Tidak ada orang?" kata Itachi.
Tobi mengangguk mantap, "Tidak ada seorang pun, jika pun ada itu yang sudah mati," kata Tobi.
Konan memukul kepala Tobi, "Itu namanya ada orang, dasar bodoh," katanya.
"Aduh…sakit tahu. Ne, Itachi senpai memangnya orang yang mau kau selamatkan seperti apa ciri-cirinya? Tanya Tobi.
"Dia seorang kakek tua," kata Itachi.
"Ah dia ya!" kata Tobi mengejutkan teman-temannya.
"Aku tadi merusak sistem Kabuto tapi aku mengalihkannya ke sistemku, dan di salah satu rekaman itu ada di sebuah rekaman di mana kakek tua itu sedang bersama Orochimaru." kata Tobi.
"Jika aku teliti lagi, ruangan itu berada di lantai 2, dan di lantai 2 gedung itu aku sudah periksa tidak ada orang- termasuk orang mati. Tidak ada sama sekali," kata Tobi.
"Tidak ada orang…?" kali ini Itachi bingung.
Tobi mengangguk, "Ada orang lain yang menyelamatkan kakek tua itu," kata Tobi.
"Siapa?!" tanya Itachi
"Ah maaf Itachi senpai, setelah itu aku tidak melihatnya lagi," kata Tobi.
Itachi agak kecewa tapi setidaknya dia lega Sarutobi di selamatkan seseorang, mungkin saja itu salah satu dari tim lain yang dipimpin Shikamaru, Sasori, atau Naruto.
"Itachi, kami hanya sampai disini. Keberadaan kami tidak bisa di lihat yang lain," kata Konan.
"Aku mengerti. Terima kasih…" kata Itachi.
"Oh iya!" Itachi menepuk keningnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanyanya.
GUBRAK
Konan, Pain, dan Tobi jatuh dengan tidak elitenya.
'Dia baru sadar…' kata Pain sweatdrop.
"Tobi mulai mendapatkan informasi pergerakan Orochimaru, tapi secara kebetulan juga kau ada di dalamnya. Yah sekalian deh mumpung di sini kita membantumu dan teman-temanmu," kata Konan.
"Dan kita akan pergi sekarang, yah seperti superhero kebanyakan," kata Pain.
"Dasar tukang berkhayal!" kata ketiga temannya membuatnya pundung.
"Baiklah kami pergi dulu, kalau kau mau tahu lebih jelas datang saja besok ke 'kedai kecil' kami," kata Konan yang sudah berjalan jauh bersama Pain dan Tobi yang melambaikan tangannya.
.
.
.
Konohamaru masih menunggu siapa yang akan datang selanjutnya, kali ini dia dan Kiba serta beberapa polisi sudah berada di depan pabrik tua yang hancur dan masih berkobar karena terbakar.
Sayup-sayup Konohamaru melihat sesosok orang muncul.
"Itu…Itachi senpai," kata Kiba.
"Cepat bantu dia!" kata Kiba menyuruh polisi yang tidak jauh darinya.
Konohamaru diam mematung di tempat.
'Itachi…sendirian?' batinnya.
Kiba yang melihat anak itu terlihat rapuh segera menghampirinya dan memegang bahu anak itu. Jarak Itachi sudah mulai dekat dengan Konohamaru.
"Presdir-"
BUAGH
Tiba-tiba Konohamaru memukul Itachi, bahkan Kiba sampai terkejut.
"Kenapa kau sendiri?! Mana kakek?!" tanya Konohamaru.
Itachi terkejut, 'Jadi belum ada yang membawanya ke sini?' batinnya.
"Jawab aku Uchiha Itachi!" kata Konohamaru mau memukul Itachi lagi.
"Hentikan Konohamaru," kata Kiba mencegah anak remaja itu.
"Tenangkan dirimu," kata Kiba.
'Dimana kakek Presdir sebenarnya?' batin Itachi.
"Seseorang datang lagi!" seru seorang polisi.
Refleks Konohamaru melihat ke depan. Itachi menoleh ke belakang.
Pemuda berambut orange kemerahan dengan keadaan berantakan dan luka di tubuhnya, terlihat mengendong seorang lagi di punggungnya. Dia terus berjalan ke depan dan terus berjalan dengan langkah terlihat lemah, sosoknya yang muncul dari kepulan asap seakan menghipnotis siapapun yang melihatnya sehingga tidak bergerak.
Itachi perlahan berdiri dari tanah. Langkah sosok itu berhenti tepat di depannya dengan wajah menunduk dan rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya.
"Kyuu…bi.."
BRUK
Sosok itu ambruk.
Berlanjut di chapter selanjutnya~~
Hitomi: berjumpa lagi dengan saya *lambai-lambai tangan*
Sasori: ngerasa ga sih kalo dichapter ini aku yang paling parah *lirik tajam ke Hitomi*
Hitomi: hehe *nyengir tanpa dosa*
Itachi: ya udahlah kalian jangan ribut ini gimana Kyuubi masih pingsan *ngipas-ngipasin sang uke pake daun pisang*
Hitomi+Sasori: entar juga sadar, khawatir banget *dengan muka cuek*
Naruto: Oy Sasori harusnya kau kamu juga pingsan!
Sasori: oh iya. Kamu kan juga Nar! *baru sadar*
Naruto: ya udah pingsan lagi aja bareng-bareng
Sasori+Naruto: *pingsan lagi*
Hitomi: (-_-") ga sangka si Sasori juga se dobe Naruto. Ok sambil menunggu mereka sadar kembali kita balas dulu review-review dari chapter sebelumnya-
Deidara: Yang pertama!
Hitomi: wets! Nyerobot aja nih Dei-un!
Deidara: udahlah biarin aku pengen eksis, habisnya aku jarang muncul.
Akatsuki-Deidara dan Itachi-: ga bisa! Ini bagian kita yang eksis! *narik Itachi dan Deidara.
Akatsuki *udah lengkap*:
1. ethi deidaraun, terima kasih reviewnya ini sudah chapter selanjutnya.
2. Zara Zahra, terima kasih atas reviewnya dan pujiannya. Mengenai kasus ken author baru saja bilang tidak bisa cerita banyak rahasia perusahaan *Akatsuki sweatdrop* nanti Zara-san bisa mengerti sendiri lebih lanjut di chapter-chapter mendatang.
3. Naminamifrid,
Sasuke: gue ga rela jadi uke!
Konan: Tobi iket Sasuke.
Tobi: Yes miss! *langsung bekep Sasuke, diiket, dan dikurung di gudang*
Itachi: tega banget sama my lovely brother
Konan: entar kita bebasin abis selesai bales review.
maaf ada gangguan tadi, lanjut untuk Naminamifrid, author bilang akan dia usahain. Sekarang dia sedang mencari pencerahan mengenai sosok Naruto menjadi sosok seme sejati *Akatsuki sweatdrop*. Keahlian Naruto itu sama dengan kakak-kakaknya (Sasori dan Kyuubi) ahli bela diri soalnya dia sempat di ajarin sama Itachi pas dia masih hilang ingatan dan juga kadang dilatih sama Kyuubi dan bisa dibilang kemampuan alami seorang Namikaze.
Minato: Namikaze gitu lho *PD*
4. Keira Natsuka, terima kasih atas reviewnya. Author bilang soal permintaan yang satu itu dia masih ragu buat menyanggupi soalnya dia itu manusia yang kadang lupa punya fanfic yang belum selesai dan lama buat update karena faktor waktu dan ide.
5. Ritsu Natsuki, terima kasih atas reviewnya. Sejauh chapter ini tebakan anda bagus : )
6. amour-chan, terima kasih atas reviewnya. Menegangkan karena ada kami di fic ini *mulai narsis deh* Deidara biar jomblo seumur hidup *ini yang ucapin minus Deidara, dan yang paling semangat bilang Itachi sama Kakuzu*
Deidara: kalian jahat un *pundung di pojok ruang rapat Akatsuki*
7. minae cute, anda penasara? Penasara? Yeah~ ikutin terus ceritanya. Jawaban anda sudah muncul dichapter ini sebenarnya. Terima kasih atas reviewnya.
8. crispy n yummy, terima kasih atas review dan pujiannya. Author pertama kali terinspirasi saat lihat interaksi antara Shin dan Memori kalo di bayangan itu Itachi dan Kyuubi kayanya cocok dan begitulah terciptanya Let's Play The Game.
Nantikan chapter selanjutnya, kami Akatsuki juga akan hadir di chapter-chapter selanjutnya! *langsung gaya-gayaan kaya power ranger lagi berubah*
