Tubuh tinggi semampai, rambut hitam legam yang ditata sedemikian rupa, serta senyuman khas yang setahu Seonho hanya dimiliki oleh satu orang.
"Senang melihatmu kembali sehat."
Senyuman mempesona milik sang tamu berhasil membuat tubuhnya diam mematung karena terpana, sekaligus membuat jantung Seonho berdetak sepuluh kali lebih cepat.
'Apa aku masih berada di dalam mimpi?'
.
.
.
Critical Beauty
Chapter 7
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, High School!AU, Yaoi
Main!Byeongari couple
(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)
Rating: T (M for future Chapter)
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
Sepasang pria dengan tinggi yang berbeda terlihat saling bertukar pandang tanpa sedikitpun beranjak dari posisi awal mereka. Pria dengan tubuh lebih tinggi nampak mengembangkan senyum manisnya, sementara pria bertubuh kecil di depannya tengah memasang ekspresi terkejut dengan bibir yang terbuka.
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya hening yang terasa menyenangkan itu terusik oleh sebuah sindirian yang berasal dari belakang Seonho.
"Aku tidak bisa mendapatkan uang jika kalian berdua berkencan di depan pintu rumahku. Jadi, biarkan aku lewat."
Suara bernada kesal itu seketika memisahkan dua netra yang awalnya saling bertemu. Minki tampak berdiri tepat di belakang Seonho dengan ransel yang sudah tersampir di punggungnya, tanda ia siap berangkat kerja.
"Selamat pagi hyung." Guanlin membungkukkan tubuhnya seraya tersenyum pada pria berpakaian pink di depannya.
"Selamat pagi. Aa... Lai Guanlin." Tiba-tiba saja senyuman yang cukup lebar nampak di wajah Minki, menggantikan ekspresi kesal yang tadi sempat mampir di wajahnya.
Kedua mata Seonho mengerjap beberapa kali. "Hyung mengenalnya?"
"Tentu saja kenal. Sangat kenal."
Minki kembali menyunggingkan senyum lebarnya. "Aku berangkat dulu, Seonho, jangan merepotkan tamu."
Pria cantik itu kemudian melenggang pergi ke mobilnya yang terparkir di garasi, ia sempat melambaikan tangannya sebelum akhirnya melajukan mobilnya dan menghilang dari pandangan dua pria yang masih terpaku di depan pintu.
"Jadi, boleh aku masuk?"
Suara berat Guanlin berhasil menyadarkan Seonho yang sejak tadi berkutat dengan pikirannya.
"A– Ah, maafkan aku!" Seonho segera menggeser tubuhnya ke samping, memberi jalan untuk Guanlin. "Silahkan masuk..."
"Terimakasih." Guanlin melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam rumah.
Seonho segera menutup pintu kemudian menyusul Guanlin yang saat ini tengah duduk di sofa ruang tamunya. Lagi-lagi dadanya terasa sesak karena detakan jantung yang tidak terkontrol, padahal ini bukan pertama kalinya Seonho hanya berdua saja dengan Guanlin. Tapi entahlah, sepertinya dia tidak akan pernah bisa bernapas dengan normal jika sudah berhadapan dengan pria bernama Guanlin.
Dengan gugup Seonho mendudukkan dirinya di sebelah pria tinggi yang kini tampak memperhatikan ruang tamunya. Setelah itu tak ada satupun dari mereka yang berbicara, suasana di ruangan itu tampak hening dan sedikit canggung.
'Kenapa jadi canggung seperti ini, apa yang harus aku lakukan.'
Seonho menundukkan kepalanya seraya memainkan jari-jari tangan yang ada di pangkuannya. Ia sedang memutar otaknya, mencari cara agar suasana dingin diantara mereka itu bisa menjadi sedikit cair. Setelah menimbang-nimbang selama beberapa detik, akhirnya Seonho memutuskan untuk memulai pembicaraan lebih dulu.
"Mmm... maaf, bukankah hari ini kau harusnya sekolah?"
Atensi Guanlin seketika kembali kepada pria di depannya setelah mendengar suara lembutnya.
"Sebenarnya aku sudah sampai di sekolah tadi."
Kerutan-kerutan tipis muncul di dahi Seonho setelah mendengar jawaban Guanlin. "Lalu? Kenapa kau malah kemari?"
"Apa aku tidak boleh datang kemari untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja?"
Mata Seonho terlihat mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya rona kemerahan mulai merambat dari leher menuju wajahnya. Ia menundukkan kepalanya, berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti buah stroberi.
"B– Bukan begitu... M– Maksudku, kau tidak perlu sampai mengorbankan waktu belajarmu hanya untuk mengecek keadaanku–" Seonho menelan ludahnya sebelum akhirnya melanjutkan kembali kalimatnya yang terputus. "L– Lagipula aku sudah tidak apa-apa."
Kedua netra Guanlin tampak memperhatikan tingkah Seonho yang menurutnya menggemaskan. Entah sejak kapan dirinya merasa senang melihat wajah merona milik pria di depannya itu. Perasaan hangat akan muncul di dadanya tiap melihat ekspresi menyenangkan yang dibuat oleh Seonho, meskipun itu hanya dalam bentuk foto.
"Sebenarnya hari ini aku terlambat, tadi pagi aku bangun kesiangan. Lalu karena aku sedang tidak ingin berurusan dengan guru kedisiplinan, akhirnya aku memutuskan untuk ke rumahmu."
"A– Ah begitu. Umm.. kenapa tidak pulang ke rumah saja?"
Guanlin menaikkan sebelah alisnya, apa kedatangannya memang tidak diinginkan oleh Seonho? Apa dia mengganggunya? Pikiran-pikiran itu mulai berterbangan di benak Guanlin setelah ia mendengar pertanyaan-pertanyaan Seonho yang seakan-akan tidak menginginkan keberadaannya disana.
'Kurasa aku sudah mengganggunya, lebih baik aku pulang sekarang.' Pikirnya seraya menyampirkan kembali tas yang tadi ia letakkan di sebelahnya ke punggungnya.
"Sepertinya kau memang sedang tidak ingin diganggu, kurasa aku akan–"
"Jangan! Tetaplah disini!" Sebuah seruan yang terlontar dari bibir Seonho seketika menghentikan pergerakan Guanlin. Kepalanya ia dongakkan ke arah Seonho yang kini tengah berdiri dan menatapnya dengan tatapan memohon.
Pria tinggi itu menghela napas lega seraya menampakkan senyum tipisnya. "Baiklah... Aku akan tinggal."
Tubuh Seonho kembali terduduk di kursinya. Kedua tangannya terangkat menutupi wajahnya yang kembali memerah. Ia benar-benar tidak menyangka gerak reflek tubuhnya akan bekerja di luar kendali, secara tidak langsung ia baru saja meminta Guanlin untuk menemaninya di rumah. Sungguh, ia lebih memilih menjadi pesuruh hyungnya di toko buku daripada harus berada disini. Seonho sangat malu, benar-benar malu.
"A– Aku ke belakang sebentar."
Seonho segera menggerakkan kaki-kaki rampingnya menuju dapur diiringi dengan tatapan bingung Guanlin.
"Apa aku tadi salah bicara?" Gumamnya seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
.
.
~Buttermints~
.
.
Sekarang di sinilah Seonho berada, di depan sebuah lemari es yang pintunya sedang terbuka lebar. Tidak perlu ditanya alasan Seonho berjongkok di depan lemari es dengan wajah yang sengaja ia hadapkan ke benda yang mengeluarkan hawa dingin itu, apalagi jika bukan untuk mendinginkan wajahnya yang sejak tadi seperti terbakar.
Gumaman-gumaman kecil seperti 'kau bodoh' dan 'kontrol dirimu' terucap dari bibir Seonho sejak dia menginjakkan kaki di dapur. Kedua tangannya tidak berhenti menepuk-nepuk pelan pipinya dengan harapan rona merah yang menurutnya memalukan itu segera menghilang dari wajahnya.
"Jangan terlalu senang Yoo Seonho, dia kemari hanya untuk melakukan tanggung jawabnya karena tidak sengaja membuatmu terluka."
Seonho menghela napasnya seraya menutup pintu lemari es, lalu kembali berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada counter. Seketika memori dimana Guanlin yang memaksa menggendongnya kemarin muncul di benaknya. Bayangan senyuman tulus yang dilontarkan Guanlin padanya membuat jantungnya kembali berdetak tidak teratur. Kepalanya menggeleng pelan, berusaha menghilangkan memori yang berputar di kepalanya.
"Tidak, tidak. Dia melakukan semua itu hanya sebagai teman Seonho, dia tidak mungkin suka padamu."
Ia kemudian menghela napas panjang, tangannya mengusap-ngusap dada sebelah kiri tempat dimana jantungnya berada.
"Lebih baik aku membuatkan minuman untuknya daripada terus memikirkan yang tidak-tidak."
Seonho bergegas mengambil dua buah gelas di dalam cabinet dan meletakkannya di atas counter dapur seraya memikirkan minuman apa yang akan dibuatnya nanti.
"Kurasa lemon tea tidak masalah."
.
.
~Buttermints~
.
.
Sudah 20 menit berlalu sejak kepergian Seonho dari ruang tamu, meninggalkan Guanlin sendirian disana. Pria tampan itu terlihat sedang membaca novel yang sengaja ia bawa dari rumah. Guanlin memang selalu berusaha untuk setidaknya membawa sebuah novel di dalam tasnya ketika pergi ke suatu tempat, kecuali jika situasi tidak memungkinkan dirinya untuk membawa-bawa buku.
Novel-novel itu dianggapnya berguna untuk menghilangkan rasa bosan di waktu-waktu tertentu. Contohnya seperti sekarang, ketika dia sedang menunggu seseorang yang tidak segera muncul.
Guanlin menghela napasnya pelan, dia sudah mulai kehilangan konsentrasinya karena memikirkan Seonho yang tak kunjung kembali dari dapur. Ia memutuskan untuk menutup bukunya dan meletakkannya kembali ke dalam tas.
"Maaf membuatmu menunggu."
Kepala Guanlin menoleh ke arah Seonho yang baru saja memasuki ruang tamu dengan nampan di tangannya. Pria tinggi itu menyunggingkan senyumnya ke arah Seonho yang membuat si pembawa nampan salah tingkah.
Nampan berisi dua gelas lemon tea dan sekaleng potato chips itu nampak bergetar ketika diletakkan di atas meja.
"Terimakasih Seonho."
Sungguh, hati Seonho terasa menghangat ketika Guanlin menyebutkan namanya. Seperti ada ribuan belalang yang meloncat-loncat di atas perutnya, rasanya sungguh menyenangkan. Terdengar hiperbolis, namun memang perumpamaan itu yang cocok untuk menjelaskan suasana hati Seonho saat ini.
"Uhm... minumlah."
Tanpa disuruh dua kali, Guanlin segera mengambil gelas berisi lemon tea itu kemudian meminumnya perlahan hingga tersisa setengah gelas, lalu meletakkan kembali gelas itu di atas meja.
"Kau hanya tinggal berdua dengan hyungmu?"
Seonho mengangguk. "Aku mulai tinggal dengan Minki-hyung sejak aku masih di Junior High School. Orangtuaku ingin aku bersekolah di sekolah yang bagus, jadi mereka mengirimku kemari."
Guanlin mengangguk-nganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Seonho seraya kembali meminum lemon teanya.
"Kau sendiri kenal dekat dengan Minki-hyung?"
"Tidak juga, aku mengenal Minki-hyung karena sering datang ke toko buku miliknya. Di luar itu kami tidak pernah bertemu" jawab Guanlin.
'Tapi kenapa tadi hyung bilang jika ia sangat mengenal Guanlin?' Seketika bermacam-macam kemungkinan kembali hinggap di kepalanya, namun suara berat Guanlin berhasil mengembalikan atensinya yang sempat hilang selama beberapa detik.
"Ah, aku hampir lupa." Seketika tangan Guanlin meraih tas yang ada di sebelahnya kemudian mencari sesuatu di dalam tas itu. Tak lama kemudian Guanlin mengeluarkan sebuah benda persegi panjang berwarna hitam yang Seonho kenal.
"Aku kemari juga untuk mengembalikan ponselmu. Benda ini tidak berhenti berbunyi sejak kemarin."
"Terimakasih! Maaf sudah banyak merepotkanmu." Seonho menerima ponsel itu dengan mata berbinar, jari-jari tangannya segera membuka lockscreen dan memeriksa semua aplikasi messengernya yang dipenuhi oleh nama yang sama.
'Seongwoo bahkan mengirim pesan jam 1 pagi? Aish anak itu benar-benar.' Rutuknya dalam hati. Seonho merasa tidak enak hati pada Guanlin, dia pasti terganggu dengan tindakan tidak tahu diri Seungwoo.
"Guanlin, aku minta maaf atas perlakuan tidak menyenangkan Seungwoo padamu."
Senyuman manis kembali tersungging di wajah Guanlin. "Tak apa, aku tahu dia sangat mengkhawatirkanmu."
"T– Tapi tetap saja. Aku juga sudah banyak merepotkan, jadi aku merasa tidak enak padamu." Seonho kembali menundukkan kepalanya.
Jemari Guanlin mengacak pelan surai gelap milik Seonho. "Aku sudah bilang padamu jika kau menjadi tanggung jawabku sampai kau sembuh."
"Terimakasih..." Wajah Seonho kembali bersemu mendengar pernyataan Guanlin, ditambah lagi jemari ramping yang Guanlin baru saja menyentuh rambutnya. Sungguh, Seonho merasa diperlakukan seperti seseorang yang spesial.
Seonho mulai memakan chips dan menggigitnya keras-keras untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang kembali menghampiri kepalanya.
Secara tidak sadar mata Guanlin kembali mengamati gerak-gerik Seonho yang menggemaskan, ia berusaha menahan tawanya ketika melihat cara Seonho mengunyah chips. Tubuhnya beringsut mendekati Seonho, kemudian tangannya bergerak mengusap remahan chips yang tercecer di sudut bibir Seonho, sontak hal itu membuat Seonho menghentikan acara mengunyahnya.
DEG!
Jantungnya terasa berhenti ketika ia menyadari posisi Guanlin yang saat ini berada sangat dekat dengannya. Tatapan mata Guanlin memerangkap sepasang manik gelap miliknya, seakan-akan tidak mengijinkan Seonho untuk menatap ke arah lain selain dirinya. Nafas Seonho serasa tertahan di dada ketika wajah Guanlin mulai mendekati wajahnya dengan perlahan.
Seonho memejamkan kedua matanya ketika nafas hangat Guanlin menerpa lembut bibirnya. Jemari kokoh Guanlin mengusap lembut pipi Seonho seraya terus menipiskan jarak diantara mereka.
Tiba-tiba suara getar ponsel disusul dengan ringtone yang menandakan ada panggilan masuk menghentikan pergerakan Guanlin. Suara dering telepon yang semakin keras membawa Guanlin kembali ke alam sadarnya. 'Sial! Aku terbawa suasana!' Saat itu juga pria tampan itu segera menjauhkan dirinya dari Seonho, begitu pula Seonho yang saat ini sudah menggeser tubuhnya hingga ke ujung kursi dengan tubuh yang gemetar.
Jari Guanlin sedikit gemetar ketika menekan tombol hijau pada ponselnya. Ia menarik napas sebentar sebelum akhirnya menjawab telepon itu.
"Halo?"
"Ya! Kau sengaja membolos hari ini?!"
Terdengar lengkingan suara Daehwi dari seberang sana yang membuat Guanlin segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Sepertinya ID yang muncul tadi nama Hyungseob, kenapa suara Daehwi yang terdengar?" Gumaman samar meluncur dari bibir Guanlin, ia mengecek kembali tulisan di layarnya.
"Lai Guanlin! Jangan coba-coba kau matikan telponku!"
Suara Daehwi kembali terdengar, pria tampan itu menghela napasnya lelah, kemudian kembali menempelkan benda persegi panjang itu ke telinganya.
"Pelankan suaramu Daehwi, aku tidak mau menjadi tuli sebelum waktunya."
"Jangan mengalihkan pembicaraan Tuan Lai, sekarang lebih baik kau segera menuju rumah Euiwoong. Semuanya sedang menuju ke sana untuk berkumpul."
Mata Guanlin segera melihat ke arah jam yang terpasang di dinding. "Sekarang masih jam delapan, bukankah masih jam sekolah?"
"Hari ini sekolah pulang lebih awal karena ada rapat dewan yang juga diikuti oleh guru."
"Ah begitu. Tapi maaf, aku–"
"Tidak ada tapi-tapian. Datang, atau namamu akan ku coret dari tugas laporan Biologi, setelah itu kau akan menjalani remedial sendirian."
Apa-apaan, kenapa dia jadi diancam seperti ini. Guanlin tidak pernah mempedulikan ancaman yang dilontarkan oleh teman-temannya, kecuali ancaman milik Lee Daehwi, karena anak itu tidak pernah sekalipun main-main dengan ancamannya.
Guanlin menghela napasnya. "Baiklah, aku akan segera kesana."
"Bagus. Datang kemari dan kau harus menjelaskan semuanya. Selamat pagi."
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Daehwi. Setelah sambungan itu terputus, Guanlin mulai mengemas kembali tasnya.
"Seonho, aku harus pergi sekarang."
Pria yang baru saja pulih pasca heart attack yang tadi dialaminya menolehkan wajahnya pada Guanlin. "A– Ah ne..."
Seonho segera beranjak dari duduknya menuju pintu depan, diikuti Guanlin yang mengekor di belakangnya. Ia lalu membukakan pintu untuk Guanlin dan mengantarkannya sampai ke teras rumahnya.
"Terimakasih. Kau baik-baiklah di rumah." Ucap Guanlin seraya tersenyum ke arah Seonho.
"K– Kau juga, hati-hati di jalan." Jawab Seonho terbata. Sungguh, saat itu Seonho merasa lidahnya kaku hingga sulit untuk bicara.
"Ah iya, besok sepulang sekolah luangkan waktumu."
"H– Hah? U– Untuk apa?"
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Sampai jumpa besok."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Guanlin melangkahkan kaki jenjangnya menuju mobil yang terpakir tepat di halaman rumah. Seonho mematung di depan pintu seraya memperhatikan mobil itu melaju pergi dari halaman rumahnya. Setelah memastikan mobil itu benar-benar pergi, ia langsung saja berlari kembali masuk ke dalam rumahnya.
Tepat setelah Seonho menutup pintu rumahnya, kaki-kakinya terasa lemas hingga membuatnya jatuh terduduk tepat di depan pintu. Entah sudah berapa kali jantungnya berdetak dengan tempo yang tidak normal hari itu dan entah berapa kali juga wajahnya berubah menjadi sewarna tomat seperti sekarang.
"T– Tadi itu ajakan kencan?"
.
.
TBC
.
.
Akhirnya chapter ini bisa selesai, semoga tidak mengecewakan readernim sekalian XD.
Beberapa hari ini ide sedikit macet, jadi nulisnya jadi lebih lama daripada kemarin-kemarin.
Oke~, sekali lagi terimakasih buat yang udah favorite, follow, dan review ff ini~. Maaf aku nggak bisa balesin satu-satu review readernim sekaliann.
Aku selalu menunggu saran dan masukannya.
So, jangan lupa review yaaa~
N.B: Bagi yang suka Jinseob couple dan ff Hybrid!AU bisa cek storyku yang judulnya Lost and Found #sedikitpromosi.
Love
~Buttermints~
