Chapter 7

"apa yang kau lakukan disini?" Hinata tengah berdiri disamping jendela perpustakaan saat tengah malam. Naruto tak sengaja bertemu dengannya disana.

"a-aku..."

Naruto semakin mendekat sampai tak ada jarak yang memisahkan mereka, "Naruto!" Hinata menahan Naruto saat dirinya akan mencium hinata, "ada apa?" tanya naruto.

"maafkan aku! kau berjanji akan menikahiku, tapi kau sama sekali belum bertemu ayahku, aku ingin secepatnya kau bertemu dengannya!" Naruto tersenyum, "jangan dipikirkan, cepat atau lambat aku akan bertemu ayahmu."

"Naruto?" panggil Hinata, "aku tidak tahu apa yang akan dilakukan ayah jika dia tahu kalau aku sudah..." Hinata menggigit bibir bawahnya, "dia tidak akan marah, dia akan mempunyai seorang cucu, dan aku akan menjadi seorang ayah." Naruto menghembuskan napas, "seorang pewaris," ujar Naruto. Hinata tidak pernah berpikir sejauh itu mengenai seorang anak atau pun bayi...

"selamat pagi sayang!" ujar Naruto, keika pagi datang, disaat itulah hari yang baru akan mereka mulai bersama-sama.

"selamat pagi," balas Hinata. "kau tahu kan," mulai Hinata, "aku menyukai petualangan?" Naruto mengangguk, tiba-tiba saja dia mengatakan hal itu, "petualangan liar mu, aku tahu itu. Gadis hutan yang nakal dan liar, kau seorang lady, tidak pantas berpikiran seakan kau akan menjadi gadis itu." Hinata terkekeh, "aku akan menjadi gadis hutan yang baik, kalau kau mau, kau bisa menjadi pria hutan, menjadi pasanganku!"

"aku tidak perlu menjadi pria hutan, karena aku sudah menjadi pasanganmu!"

"gadis hutan tidak berpasangan dengan seorang duke!" ujar hinata.

Naruto terkekeh, "gray adalah seorang kapten kapal dia tidak memiliki gelar apapun, tapi dia memiliki kekayaan setara dengan seorang duke, dan Sophia adalah seorang lady. Kenapa mereka berdua berpasangan, sementara aku dan kau tidak. Itu tidak adil!"

"gray itu kapten yang sangat tampan!" ujar Hinata

"dan aku tidak maksud mu?" Naruto terlihat kesal.

Hinata tersenyum sambil menggeleng, "kalau kau tidak tampan, aku tidak akan jatuh hati padamu, kau dengar! Tampan adalah salah satu type ku, kau dan gray, sama-sama tampan. Tapi aku tidak bisa menilai ketampanannya, jadi aku hanya melihat mu, gray adalah kau, dan hanya kau yang ku lihat, sudah jelas sir?" Naruto puas sekali dengan jawaban Hinata.

"sungguh beruntungnya aku karena tidak langsung bertemu dengan gray!" Hinata terkekeh, "gray hanya karakter fiction Naruto... dia tidak nyata, tapi kau nyata, dan aku mencintaimu, sama seperti Sophia mencintai Gray!"

"aku juga mencintai mu cantik, kau segalanya bagiku!"

########

Teruntuk uzumaki naruto, duke of namikaze

Aku sudah sampai di perbatasan London, akan tetapi mata-mata yang kau kirim ke Yorkshire mereka semua telah tewas. Kami tidak bisa mengambil resiko untuk keluar dari persembunyian. Kami tengah bersembunyi di sebuah pulau dekat dengan kepulauan Karibia. Aku harap kau mau berkunjung ke pulau mu sir.

Hiashi, earl of hyuuga

"bagaimana mungkin mereka tahu tentang pulau itu?"

"paman mu mempunyai cara tertentu untuk menandai pulau itu," ujar Tsunade. Mereka tengah berdiskusi mengenai ayah Hinata yang tengah bersembunyi di sebuah pulau yang ternyata miliki Naruto.

"yah mungkin!" Naruto berjalan meningglkan perpustakaan Tsunade dan berjalan keluar rumah. Setelah membaca surat yang dikirimkan Hiashi untuknya itu dia bingung. Apakah Hinata harus ikut pergi dengannya ataukah tetap tinggal di hall. Semua itu membuat bingun.

Akan tetapi rasa bingungnya kini hilang setelah dia melihat Hinata yang sedang belajar menunggang kuda, "astaga, apa yang dia lakukan!" rasa bingung telah digantikan dengan rasa kekhawatiran. Hinata tengah belajar menunggang kuda sendiri, dan akibatnya Tobilah yang selalu kena mara Naruto.

"aduuh gawat!" ujar Tobi, "aku pasti kena marah my lady."

Pernyataan dari Tobi mengalihkan perhatiannya hingga matanya bertemu pandang denganNnaruto yang terlihat tidak senang, "Tobi," ujar Naruto, kuharap nanti malam kau datang ke perpustakaanku," Tobi pun terkejut, "itu tidak perlu," sangkal Hinata, "kau tidak perlu datang tobi, aku yang akan melindungi," naruto mendengus, "pergi Tobi!" Tobi pun menunduk dan meninggalkan Naruto dan Hinata.

"kau bersenang-senang miss?" ujar Naruto, "tentu saja aku bersenang-senang sebelum kau datang dan merusak semuanya," Naruto terkekeh, "aku menyelamatkanmu dari kecelakaan."

"tidak ada kecelakaan sebulm kau datang," ujar Hinata.

"jika kau ingin menunggang kuda, sebaiknya kau menungguku!"

"aku tidak hanya ingin menunggangnya, aku juga ingin mengendalikannya!"

"keras kepala!" ujar Naruto.

Dia menaiki kuda yang tengah Hinata naiki. Duduk tepat dibelakang Hinata dan mengambil alih tali kekang dari tangan Hinata sehingga lengannya melingkari tubuh Hinata. Aroma bunga lavender langsung tercium ketika dia mendekatkan wajahnya ke leher jenjang hinata.

"kau selalu mengambil kesempatan sir, itulah kenapa aku tidak ingin kau mengajariku berkuda," Naruto terkekeh, "percayalah sayang, pelajaran dariku lebih dari menyenangkan!' dan Hinata tahu itu.

Mereka tiba di padang rumput dekat dengan hutan, lokasi itu agak jauh dari estat Naruto, "ini terlalu jauh dan sepi," Naruto tersenyum. Itulah yang dia inginkan, tidak ada orang dimana-mana, hanya mereka berdua, "aku rasa itu bagus, tidaak akan ada yang mengganggu kita bukan!" hinata menyipitkan mata.

"ada apa?" tanya Hinata. Dan Naruto harus bercerita, "aku ingin mengajakmu berkunjung ke pulau ku, dekat dengan laut Karibia, kau mau?" Hinata terkejut sekaligus kagum, "tentu saja aku, aku ingin sekali berpergian!"

Kelihatannya Hinata berantusias sekali dan naruto suka itu. Tapi apa dia akan suka kalau hinata tahu bahwa disana dia akan bertemu dengan ayahnya. Tentu saja dia suka, tapi dia tidak akan suka pada Naruto karena tahu bahwa dirinya membohongi hinata. Dia ingin sekali menceritakan semua kejadian yang menimpa ayahnya, tapi hiashi melarangnya bercerita, kini dia juga yang akan menanggung resikonya saat Hinata tahu kebenarannya.

"sayang," panggil Naruto, "apa kau percaya padaku?" kenapa tiba-tiba Naruto bertanya seperti itu, tentu saja Hinata percaya. Mengingat dia sudah menyerahkan dirinya pada Naruto, sekarang tidak ada keraguan dalam hatinya.

"tentu saja aku percaya."

"kau tidak akan marah jika aku bohong barang sedikitpun?"

"jika kebohonganmu demi kebaikan aku tidak marah, hanya saja... kau harus punya alasan yang otentik agar aku bisa diyakinkan!"

Tentu saja! Alasan Naruto pasti otentik. Naruto tersenyum, "seperti sejarah saja!" ujar Naruto.

"aku suka sejarah, dan semua hal yang berhubungan dengannya."

Betapa Naruto juga menyukainya, "aku ingin membuat sejarah dengan mu," ujar Naruto lembut. Hinata tersenyum hangat, tahu Hinata tersenyum, Naruto membantunya turun dari kuda dan melihat senyum manisnya, "teruslah tersenyum untukku!" ujar Naruto. Hinata mengangguk pelan, "ayo ikut aku!" Naruto membawa Hinata berlari-lari ke kedalaman hutan dan berhenti dibawah pohon willow, "berjanjilah padaku," ujar Hinata, "berjanjilah kau akan selalu mencintaiku!"

"dengan segenap hatiku cantik, aku berjanji padamu, akan selalu mencintaimu, menerima mu apa adanya, dalam suka atau pun duka, dalam sakit ataupun sehat," Hinata tersenyum, dia terharu mendengar ungkapan Naruto, "janjiku pada mu, adalah janji setia ku," Hinata menggigit bibir bawahnya, saat naruto berlutut, "maukah kau Hyuuga Hinata, berjanji setia padakku, mencintaiku, menyayangi, serta hidup bersamaku dengan kehidupan yang melampaui keabadian?" derai air mata Hinata terasa hangat di pipinya, dia tidak sanggup berkata-kata, hanya mengangguk keras sambil menyeka air matanya dan ikut berlutut bersama Naruto, memeluknya erat.

"apa kita sudah menikah sekarang?" Tanya Hinata.

Naruto tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya, "jika itu yang kau rasa, maka besok kita akan berbulan madu!"

#######

"semuanya sudah siap your grace!" ujar Tobi

"baiklah Tobi, dengarkan aku, jika aku tidak kembali aku berharap kau akan selalu menjaga estatku, dengan atau tanpa pewaris ku!" kata-kata itu menyayat hati Tobi, "your grace, itu tidak akan terjadi!" Naruto terkekeh, "yah, aku juga harap begitu, mengingat ini bukan hanya sekedar berlibur, ada banyak tantangan dan..."

Hinata tiba-tiba muncul dibalik pintu dan sudah siap untuk pergi, "ingat kata-kata ku Tobi!" Tobi pun mengangguk, "ingat apa?" tanya Hinata yang ternyata mendengar pembicaraan Naruto, "ingatkan aku jika ada yang tertinggal!" Tobi pun mengangguk setuju, "ayo kita pergi!" Naruto mengamit tangan Hinata dan membantunya menaiki kreta.

Bagaimana jika ada seseorang yang melihatku bersma Naruto, Hinata membatin, "ada apa?" tanya Naruto, "bagaimana kalau ada orang yang kita kenal, lalu melihat kita dan mereka menyebrakan goisp," Naruto terkekeh, "maka gosip yang tersebar itu adalah gosip tentang pernikahan kita," ujar Naruto, "maka semua wanita london akan merasa kehilangan dirimu my lord,"

"itu sudah menjadi resiko, aku rela kehilangan segalanya, dari pada kehilngan dirimu, cara!"

"bukankah itu akan menyakitkan bagi lady Shion?"

"lady Shion sudah berusaha, dan tentu saja aku menghargainya, aku memilihmu, sejak awal!"

"dan itu juga yang ku lakukan,"

Mereka berdua saling tersenyum hangat, begitu hangat sampai membuat panas ruang kerta kuda itu. Saat sampai di pelabuhan mereka bergegas menaiki kapal, "bukankah itu duke of namikaze, ataukah aku salah melihat!" seseorang itu bertanya pada temannya, "tidak, itu memang benar dia," seorang penjaga kapal berdiri dan memberitahu mereka berdua, "mereka adalah pasangan yang akan pergi berlibur, ku dengar mereka juga akan segera menikah," kedua orang terkejut. "ini kabar yang menggembirakan bagi para pria london,"

"kau benar, dan semua wanita pasti akan sangat kehilngan,"

Naruto menyuruh penjaga kapal itu untuk menceritakannya, dan semuanya sukses. Semua orang akan tahu kalau dirinya dan Hinata akan segera menikah. Mengingat ini bukanlah sekedar liburan, tapi juga bahaya ada didepan mereka, entah earl of inuzuka palsu itu akan mengikutinya atau tidak, dia sudah siap menghadapinya, kenapa saat dia berdansa dengan Hinata saat di pesta itu, dia tidak mencoba melukainya.

Ah yah... mengapa tidak terpikir sama sekali, jika dia melakukannya, maka balas dendamnya pun tidak akan sempurna. Yah, itulah yang ada dipikiran Naruto sekarang, saat Hinata tengah menikmati pemandangan dia hanya dia terduduk dn melamun.

"kita sedang berlibur, dan kau hanya diam terduduk seperti itu, ayo ikut aku!" Hinata menarik tangan naruto dan membawanya melinatsi dek kapal dan berhenti di pagar penghalang, "apakah itu pulau mu?" Naruto melihat arah yang diunjukan Hinata, "bukan, pulau itu berpenghuni, dan pulau ku tidak!" Hinata terkejut, "apa kau bilang! Bagaimana mungkin, lalu untuk apa kita berlibur ke pulau yang tidak berpenghuni?"

"kau bilang kita sudah menikah kemarin, tentu saja sekarang kita akan berbulan madu, hanya kita berdua!" Hinata menggelengkan kepalanya, "aku kan hanya..." kata-kata terhenti Saat Naruto memeluknya dari belakang, "kau diam saja cantik, dan nikmati petualangan kita, aku juga berharap bisa beremu dengan gadis hutan," Hinata terkekeh, "gadis hutan itu nakal, dan dia penggoda," cetus Hinata.

"aku tidak akan tergoda, karena aku sudah tergoda olehmu,"

Mereka sampai di pulau berpenghuni itu dan memesan kapal untuk mereka menuju pulau Naruto, Hiashi berada di pulau Naruto yang satunya, sedangkan pulau mereka yang saat ini tengah dituju hanyalah untuk mencari-cari kesempatan yang terpikir dalam benak Naruto, hanya berdua saja dengan Hinata, itulah yang sedang Naruto pikirkan.

"apa disini ada tempat untuk berteduh?" tanya Hinata, "aku punya rumah pohon, tapi kita harus berjalan!" Naruto membantu Hinata turun dari kapal, "pergilah ke tepi pantai, aku akan mengganti pakaian ku dulu!" Dan Hinata pun bergegas, selagi Naruto berpakaian, dia membuka tasnya dan mencari-cari sesuatu, dia tersenyum melihat pakaian yang tengah ia pegang.

"aku tahu kau akan mengatakannya, gadis hutan," gumam Hinata. Naruto melangkah kearah Hinata yang tengah terduduk dibatu karang, "kenapa dia begitu tampan," Hinata bergumam, dia terpesona dengan Naruto, selalu merasa terpesona meskipun sudah memilikinya. Naruto berpakaian serba putih, celana selututnya dan kemeja putihnya yang terbuka, memperlihatkan dada bidangnya.

Semua wanita pasti akan sangat terpesona, "tapi hanya aku yang akan melihatnya seperti itu!" tegas Hinata. Naruto sampai ditempatnya dan mengajaknya berenang, "ayo ikut dengan ku!" Hinata menggeleng pelan, "baiklah, tunggu dan lihat saja aku!" Hinata mengangguk lembut, betapa dia ingin bergabung dengan Naruto, memeluknya dan menciumya. Tapi ini bukan waktu yang tepat, dia harus segera bersiap-siap.

Selagi Naruto berenang Hinata mulai melepaskn pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian gadis hutan. Gadis hutan yang nakal, dan selalu menggoda para pemburu liar, tapi dia hanya akan menggodaa dan merayu Naruto seorang. Pakaian itu ia buat sendiri, saat dirinya membaca novel Naruto yang berjudul "paradise wild" semua yang ada dalam benaknya kini ia ungkapkan saat ini juga, "kita lihat! Apa dia memikirkan diriku saat membaca novel itu atau tidak, aku akan tahu sekarang juga!"