"A-Akashi-kun?"

Akashi langsung menoleh, ia tersentak, meski keadaan kamarnya termasuk remang-remang, tapi jangan pernah remehkan penglihatan tajamnya.

Ia tidak salah lihat kan?

Tunggu...

Apa yang sudah terjadi?!

What the Hell?

7/?

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

OC © Kuro Kid

AkashixKuroko

GoMxKuro

YAOI. Chibi!Kuroko. OOC. Typo.

Akashi mengerjapkan matanya. Memastikan apa yang ada didepannya bukanlah ilusi.

Sedangkan objek pandangannya itu juga menatap dirinya dengan pandangan terkejut, shock, bingung dan lain sebagainya.

Surai berwarna baby blue.

Mata bulat berwarna senada dengan surainya.

"Tetsuya?" panggil Akashi memastikan.

Sosok itu memandang Akashi, "Akashi-kun?"

Wait.

Ini semua membingungkan untuk sosok tuan muda Akashi. Ia pun mendekati orang yang kini sedang duduk diatas ranjang sambil menatapnya bingung.

Sosok itu menatap waspada Akashi, ia sedikit merinding saat merasakan angin malam yang berasal dari salah satu jendela yang terbuka membelai tubuh polosnya.

Tunggu. Tubuh polos?!

Sosok itu sontak mengintip kedalam selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya. Seketika mata bulatnya membulat horor.

"Akashi-kun! Ja-jangan kemari!" cegahnya pada Akashi yang sedang mendekatinya dengan keadaan topless. Tidak ada baju yang menutupi tubuh bagian atasnya.

Akashi menatap bingung sosok yang sekarang justru menatapnya dengan panik—tidak lupa menaikkan selimutnya sampai kepalanya, hanya menyisakan mata dan surai baby bluenya.

"Kau benar Tetsuya?"

Sosok itu mengernyit menatap Akashi, "Akashi-kun amnesia?" tanyanya balik dengan nada datar.

Akashi sweatdrop. Oke, dia percaya kalau sosok didepannya itu adalah Kuroko Tetsuya, dalam versi normal alias remaja.

Kuroko Tetsuya, remaja berusia 15 tahun.

Bukan Kuroko Tetsuya, bocah berusia 5 tahun.

Kuroko sudah kembali normal eh?!

Pemuda bersurai crimson itu mendekati Kuroko—dan dihindari oleh Kuroko, membuat Akashi sedikit merasa kesal.

Akashi pun naik keatas kasur, perlahan, dia merangkak mendekati Kuroko yang masih setia menutupi tubuhnya dengan menggunakan selimut. Pemuda itu menatap horor Akashi yang kini terlihat menyeramkan dimatanya.

"A-Akashi-kun, kau kenapa?" tanya Kuroko curiga.

Akashi mengernyitkan alisnya, manik dwiwarnanya menatap Kuroko dari atas sampai bawah, "Seharusnya aku yang bertanya begitu Tetsuya. Untuk apa kau menutupi tubuhmu?"

Manik azure Kuroko bergerak kesana-kemari, menghindari tatapan tajam yang dilayangkan Akashi kepadanya. Ia tidak mungkin mengatakan masalah yang dialaminya sekarang. Memalukan.

Akashi makin gencar mendekati Kuroko, bahkan kini posisinya berada tepat beberapa sentimeter didepan pemuda manis itu. Wajah Kuroko bersemu merah. Ia mendorong Akashi menjauh, namun yang ada malah—

Akashi yang menindih tubuh mungilnya—dan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.

Pemuda bersurai crimson itu menyeringai menatap pemuda dibawahnya yang kini sedang menatapnya dengan wajah kaget—dan ternodai semburat merah muda.

Uh, manisnya.

Beralih dari wajah manis sang pemuda, manik dwiwarna Akashi turun menuju dada Kuroko yang terekspose begitu saja. Tidak ada pakaian yang menutupinya.

Tunggu.

BLUSH

Wajah Akashi seketika memerah melihat pemandangan indah didepannya, ia mengalihkan lagi pandangannya kearah Kuroko yang kini menatapnya datar—namun dengan wajah yang memerah sempurna.

Mereka berdua sama-sama terdiam—masih dengan posisi Akashi yang menindih Kuroko dengan menahan kedua tangan mungil sang pemuda dan mata bertatapan satu sama lain.

"Kau—"

BRAK

"Akashicchi tadi ada—GYAAAAA!"

.-.-.

Akashi menatap jengah kearah Kise yang masih tidur—pingsan—dengan Aomine yang masih setia mengipasi pemuda bersurai pirang itu. Terlihat sekali Aomine panik dengan keadaan rivalnya itu.

Duh, Aomine kau setia kawan sekali.

Midorima menatap Akashi dengan tajam, sedangkan Murasakibara duduk dengan tenang disamping Midorima. Ia masih sibuk memakan cemilannya yang tidak kunjung habis.

"Akashi, aku butuh penjelasan nanodayo!" ucap Midorima sambil menatap tajam Akashi yang kelihatan tidak peduli.

Murasakibara yang sedari tadi diam melirik kearah Midorima, "Mido-chin, kau seperti pacar Aka-chin yang memergokinya selingkuh."

Hening.

Mereka semua terdiam mendengar perkataan ngawur Murasakibara. Bahkan Aomine yang sedari tadi mengipasi dan berdoa semoga arwah Kise tenang menghentikan kegiatannya. Sedangkan Akashi hanya bisa memijit pelipisnya.

Repot juga kalau punya anak buah yang pikirannya agak-agak—polos.

Kini mereka semua berada diruang tamu cottage. Terlihat atmosfer ruangan tersebut terasa lebih serius dari biasanya. Mereka punya masalah baru kali ini.

Dan semua ini bermula dari teriakan Kise.

"Sebaiknya kita menunggu Kise sadar." Ucap Akashi. Mereka semua hanya bisa mengangguk dan menunggu pemuda pirang itu sadar.

Aomine yang sedari tadi bertugas mengurusnya jengah juga. Sudah hampir 10 menit pemuda ini pingsan dan sampai sekarang belum bangun juga, lagipula tangannya sudah sangat pegal mengipasi manusia satu ini.

Manik mata Aomine menangkap sebuah gelas berisi air yang tadi dibawa oleh Midorima. Ia pun mengambil gelas itu dan—

—menyiramkannya kearah Kise yang masih terlelap dalam pingsannya.

"HUAAAH!"

Aomine nyengir. Rencananya untuk membangunkan Kise lebih cepat ternyata berhasil. Sedangkan Kise yang kini bagian atasnya basah menatap garang Aomine.

"Kenapa kau menyiramku-ssu?!" bentak Kise tidak terima.

Aomine hanya mengangkat bahunya acuh. Tidak menanggapi bentakan Kise yang hanya dianggapnya sebagai angin lalu.

"Anousumimasen."

Mereka semua sontak menoleh kesumber suara orang yang sudah mengusik suasana. Dan mereka langsung membeku dengan wajah memerah.

Orang yang baru saja menginjak kakinya disana menatap bingung teman-temannya yang justru menatapnya dengan wajah shock—seperti melihat hantu.

Ia tau kalau hawa keberadaannya tipis, tapi bisakah mereka tidak memperlakukannya seperti hantu?!

"Minna?" orang itu memanggil sekali lagi. Masih sama.

Ia merengut sebal. Mata biru mudanya memandang datar teman-temannya.

Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kuroko—versi normal. Yang kini hanya mengenakan kemeja putih yang agak longgar milik Akashi dan juga celana pendek yang terlihat tenggelam dalam kemeja putih tersebut.

"Aomine-kun, Kise-kun, hidung kalian mengeluarkan darah." Ucap Kuroko datar sambil menunjuk Aomine dan Kise yang kini mimisan.

Dua makhluk itu berpandangan satu sama lain, mereka pun langsung heboh mencari tisu untuk menyumpal hidung mereka—salahkan penampilan pemuda bersurai baby blue yang terlalu menggoda itu.

Akashi menghela nafas, ia menyuruh Kuroko untuk duduk disampingnya—dan dituruti oleh Kuroko. Semua orang disana langsung menyadari motif dibalik perintah Akashi untuk Kuroko.

Ini semua adalah modus sang kapten.

Cih, tidak peduli Kuroko versi balita ataupun remaja, pokoknya Kuroko harus berada didekatnya.

Hening kembali. Mereka semua hanya bisa bertatapan satu sama lain—lebih tepatnya 5 pemuda disana memandang seorang pemuda bersurai baby blue yang masih betah dengan wajah datarnya itu.

5 menit. Kuroko masih bisa tahan.

10 menit. Oke, dia merasa bingung sekarang.

15 menit. Rasanya kesabarannya semakin lama semakin menipis.

20 menit. Stock sabarnya sudah habis. Ia menatap jengkel orang-orang yang masih betah melihatnya—seolah melihat pemandangan langka.

Memang pemandangan langka sih, kapan lagi bisa melihat Kuroko Tetsuya mengenakan kemeja kebesaran seperti itu?—ups.

Akashi yang melihat tanda-tanda Kuroko merasa kesal pun berdehem, mengalihkan perhatian semua mata yang ada disana—tidak lupa dirinya tersenyum misterius kearah empat pemuda yang kini sedang merinding tidak karuan.

Senyum misterius Akashi adalah bencana untuk mereka.

"Ryouta. Jelaskan kenapa kau berteriak heboh seperti tadi." Perintah Akashi. Ia menatap tajam Kise yang kini semakin gemetaran kala manik matanya menangkap siluet sebuah gunting merah mahadahsyat yang tersembunyi secara rapi dibalik kantong piyama yang dikenakan oleh sang kapten.

Kise menggaruk pipinya, ia terlalu malu untuk mengatakan alasannya berteriak.

Itu privasi. Meskipun ia berisiknya tidak karuan—ia masih bisa menghargai apa yang bernama privasi orang lain.

"Ryouta. Aku tidak suka mengulangi perkataanku." Ucap Akashi lagi.

Aomine yang berada di sebelah Kise menyenggolnya, memberi kode untuk langsung menjawab saja sebelum pemuda pirang itu melihat indahnya neraka dunia.

Pemuda pirang itu tersenyum kikuk, ia menggaruk tengkuknya canggung, "Ah, itu tadi aku melihat Akashicchi dan Tetsuyacchi mau anu-anuan-ssu."

Krik.

Anu-anuan?

Bahasa planet mana itu?

"Kise, kau dapat bahasa aneh seperti itu darimana? Lagipula apa itu anu-anuan?" sinis Aomine.

Kise memandang pemuda berkulit tan itu dengan pandangan sinis, "Jangan sok polos begitu Aominecchi. Kau 'kan paling tau soal anu-anuan-ssu."

Oh.

Aomine paham sekarang.

"Maksudmu seks? Akashi dan Tetsu mau berhubungan seks?"

UHUK UHUK

HOEK

"Tetsuya, kau baik-baik saja?" panik Akashi begitu melihat Kuroko tersedak hebat. Ia menepuk-nepuk pundak Kuroko—bermaksud untuk meringankan tersedaknya.

Kuroko memegang tangan Akashi yang digunakan untuk menepuk punggungnya, kini mata birunya memandang Akashi dengan pandangan berkaca-kaca—efek tersedak, "Aku tidak apa-apa Akashi-kun. Jangan khawatir."

Oh. My. God.

Dunia Akashi serasa berhenti berputar.

THIS IS SPARTA!

Jarang-jarang dirinya bisa melihat ekspresi Kuroko yang cute dalam usia remaja—dengan mata berkaca-kaca dan pipi yang digembungkan. Walau versi bocahnya lumayan lebih kawaii, namun ekspresinya yang satu ini juga sanggup membuat hatinya doki-doki.

"Akashi-kun?" panggil Kuroko. Ia menatap heran kaptennya yang nampak begitu kosong, seperti raga yang jiwanya dibawa pergi.

Jiwa Akashi memang pergi dari raganya. Pergi mengembara ke langit ketujuh.

"Ah, ya, ada apa?" Akashi bertanya. Kelihatan sekali kalau dirinya sedari tadi tidak mendengarkan teman-temannya beradu pendapat tentang apa yang baru saja dikatakan oleh Kise.

Midorima menatap curiga Akashi, "Akashi, apa benar kau dan Kuroko akan melakukan—ehem—seks?"

Heh?

Pemuda bersurai crimson itu menatap tajam Midorima—yang otomatis membuat Midorima langsung terdiam ditempat.

Lagipula, kalau Akashi memang ingin melakukan itu dengan Kuroko kesayangannya, ia pasti akan memilih tempat yang berada sangat jauh dengan para budaknya—bahkan jika bisa, ia akan mengungsikan semua budaknya itu ke antariksa, sehingga tidak akan ada orang yang menganggu saat bahagianya dengan Kuroko.

STOP.

Akashi, pikiranmu semakin melantur saja!

Berdehem, Akashi menatap tajam teman—budaknya yang kini sedang menatapnya dengan bingung, tambahan, Kuroko juga kini memandang Akashi dengan wajah datarnya, yang kalau dicermati lebih dekat lagi, ada semburat berwarna merah muda menghiasi pipinya.

Akashi menyeringai.

He, ini pertanda buruk.

"Hoo, jadi kalian mengira aku dan Tetsuya akan melakukan seks?"

Mereka semua mengangguk—kecuali Kuroko tentu saja.

"Dengan bocah berusia lima tahun?"

Mereka kembali mengangguk—lalu kemudian mereka semua terdiam. Mencerna apa yang baru saja Akashi katakan, dan juga apa yang baru saja mereka setujui.

Empat manusia warna-warni itu berniat ingin memohon ampun pada sang kapten karena respon nista mereka, namun semua sudah terlambat—si cantik gunting merah sudah berada digenggaman Akashi dan siap melayang kearah mereka.

"Aku tidak pernah menyangka jika kalian menganggapku sebagai seorang pedofil." Ucap Akashi sambil tersenyum manis. Tidak lupa ia menggunting-gunting udara kosong.

Semua manusia disana menelan ludah paksa.

Kalau mau jujur, mereka memang menganggap Akashi pedofil—mengingat pemuda crimson itu overprotektif sekali kepada Kuroko.

Ehm, tapi mungkin lebih tepatnya, Akashi itu mengidap Kuroko complex.

Disaat Akashi sibuk menyiksa manusia-manusia nista tersebut, Kuroko justru terdiam dengan raut kebingungan yang sangat terlihat jelas.

Kuroko menjamin kalau telinganya masih normal dan tadi ia tidak salah dengar saat Akashi mengatakan, 'Dengan bocah berusia lima tahun'. Memang ada anak kecil yang bersama mereka? Saat dirinya terbangun saja, Kuroko hanya melihat Akashi—yang dalam keadaan topless.

Pemuda bersurai baby blue itu melirik kearah Akashi yang sedang asyik dengan kegiatannya—ingin menganggu, tapi takut jika jadi korban salah sasaran.

Menit-menit penuh pertumpahan darah itu pun akhirnya terlewati. Terlihat 4 anak manusia yang kini terkapar tidak berdaya diatas sofa.

Tidak. Tidak perlu dijelaskan bagaimana bentuk dan rupa mereka setelah mendapat hadiah special dari sang kapten. Itu terlalu indah untuk dijelaskan.

"Sebaiknya kalian semua segera kembali kekamar." Perintah Akashi.

Empat manusia yang terkapar itu langsung melarikan diri mereka begitu mendengar perintah Akashi—yang menurut mereka, itu adalah kesempatan emas untuk kabur. Dan kini hanya tersisa Akashi dan Kuroko saja disana.

Hening.

Suasana ini terlalu canggung untuk mereka berdua.

Jika saja Kuroko masih dalam kondisi bocah berusia 5 tahun, Akashi tidak akan segan-segan menggendongnya dan membawanya kekamar.

Tapi, berbeda sekarang, Kuroko sudah bukan lagi seorang bocah. Masa iya dirinya harus menggendong pemuda itu?

"Ehem. Sebaiknya kita juga kembali kekamar kita Tetsuya." Ucap Akashi.

Pemuda bersurai baby blue itu memandang bingung Akashi, ia menunjuk dirinya dan Akashi secara bergantian, "Kamar kita? Aku dan Akashi-kun?"

Akashi terkekeh melihat reaksi pemuda itu, ia mengacak surai Kuroko dengan lembut, "Tentu saja, kau pikir kamar siapa hm?"

Blush.

Wajah Kuroko seketika memerah. Ia tidak pernah melihat kaptennya sebaik itu pada dirinya—apalagi terkekeh seperti tadi.

Ini semua semakin membuatnya bingung.

Sebenarnya apa yang sudah terjadi?

.-.-.

Pemuda bersurai baby blue itu hanya bisa terdiam dengan posisi berdiri sambil memeluk boneka anak anjing—yang tidak sengaja ia temukan teronggok begitu saja dibawah kasur—dan menatap kikuk seorang pemuda bersurai crimson yang kini sedang berbaring dengan nyaman dikasurnya.

Akashi yang merasa bahwa sedari tadi dirinya dipandangi merasa sedikit terganggu, ia pun balas memandang, "Ada apa Tetsuya?"

"Anou—Akashi-kun, aku tidur dimana?"

Alis Akashi bertautan mendengar pertanyaan—yang menurutnya sangat tidak penting itu. Sejenak, ia berpikir jika otak Kuroko mungkin sekarang sedikit error karena pengaruh dari penemuan Rika.

Pemuda itu bangkit dari acara berbaringnya, "Tentu saja disebelahku Tetsuya, kau pikir kamar ini punya berapa ranjang?"

Oh tidak.

Sudah Kuroko duga jawaban seperti itu akan dilontarkan oleh kaptennya. Tapi...

Masa iya dirinya harus tidur disamping Akashi?!

Akashi yang melihat Kuroko sedikit terkejut dengan wajah memerah itu menyeringai.

Seringaian Akashi tentu saja tidak lolos dari penglihatan Kuroko—membuat pemuda itu bergidik ngeri.

Serius, jika Akashi sudah menyeringai maka akan ada hal buruk yang terjadi.

GREP

Sekali hentak, Akashi berhasil membawa tubuh mungil Kuroko jatuh dalam pelukannya. Ia meraih dagu Kuroko.

Mata Kuroko membulat, ia bisa merasakan wajahnya kini memanas—uh, ia yakin wajahnya pasti memerah bak kepiting rebus.

Seringai Akashi bertambah lebar melihat wajah manis pemuda yang kini berada tepat beberapa sentimeter didepannya memerah sempurna, bahkan ia bisa merasakan wangi vanilla yang menguar dari sosok pemuda itu. Manis.

Pemuda bersurai crimson itu mengeratkan pelukannya, "Tidak masalah bukan, Tetsuya?"

Kuroko mengangguk kaku.

Akashi tersenyum—bukan menyeringai, ia pun membawa tubuh mungil Kuroko untuk berbaring disampingnya.

Akashi memejamkan matanya, masih dengan Kuroko yang berada dipelukannya. Dengan lembut, ia mengecup puncak kepala pemuda itu, "Oyasumi Tetsuya."

Kuroko terdiam, ia tidak menjawab ucapan Akashi.

Ia masih terlalu bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya—dan juga sikap kaptennya yang sungguh sangat berbeda.

Ruangan itu begitu sunyi sekarang, hanya ada suara deru nafas Akashi yang tertidur dan juga... suara berisik dari jantung Kuroko yang berdegup kencang.

Hei, apa yang salah dengannya?

'Apa yang sebenarnya terjadi denganku?' batin Kuroko bingung.

Pemuda bersurai baby blue itu merasakan matanya semakin memberat, kantuk menyerangnya. Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri sekarang, bahkan ketika tangannya bergerak dengan sendirinya memeluk sosok Akashi yang juga sedang memeluknya.

Entahlah, ia hanya merasa sangat nyaman dengan kehangatan ini.

"Oyasuminasai, Akashi-kun."

.-.-.

Seorang pemuda bersurai crimson menggeliat dalam tidurnya—kelihatannya ia sedikit terusik dengan sinar matahari yang masuk menembus kedalam kamarnya.

Bukannya bangun, ia justru semakin bergumul dalam selimutnya, entah mengapa untuk hari ini rasanya ia sangat malas untuk bangun. Kehangatan yang ia dapatkan saat tidurnya semalam rasanya sangat sayang untuk dilepas begitu saja.

Tapi, sepertinya nasib sedang tidak berpihak padanya hari ini, terbukti dari suara alarm dari jam digital yang sedari tadi berbunyi tanpa henti—seolah memaksanya untuk bangun. Dengan enggan, pemuda itu meraih jam tersebut dan langsung mematikannya.

Diam sejenak, ia mengucek matanya dan mengerjap sebentar—menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya yang tiba-tiba masuk kedalam matanya. Manik dwiwarnanya melirik kearah jam yang baru saja dimatikannya.

Pukul 06.00 AM.

Sepertinya hari ini, ia bangun cukup awal.

Pemuda itu pun berniat beranjak dari tidurnya, namun sesuatu menghambatnya.

Sesuatu berupa,

Seorang pemuda bersurai baby blue yang sedang tertidur dengan pulasnya sambil memeluk erat dirinya.

Tuhan, tolong katakan pada dirinya jika ini bukanlah mimpi.

Tangan Akashi menyentuh pipi sang pemuda, lembut dan terasa begitu nyata. Tentu saja, ini semua bukanlah mimpi.

Akashi tersenyum kecil. Semua yang dialaminya semalam—mungkin semenjak beberapa hari yang lalu—terasa mimpi baginya. Melihat pemuda itu berevolusi menjadi bocah berumur 5 tahun, lalu kembali lagi dalam wujud normal secara tiba-tiba.

Selain itu, pemuda itu pula yang sudah memberikan kehangatan pada hatinya yang beku. Memberinya sebuah perasaan yang begitu aneh namun terasa menyenangkan.

Tidak mau terlalu larut dalam lamunannya, Akashi memutuskan untuk segera bangkit dari sana. Namun, baru saja dirinya hendak melepaskan tangan yang memeluknya, tangan itu justru bergerak semakin erat memeluknya—seolah tidak mengizinkannya untuk pergi.

Tersenyum kecil, Akashi pun mendekatkan wajahnya kearah sang pemuda, "Aku tidak akan pergi, Tetsuya." Bisiknya lembut.

Secara ajaib, tangan mungil itu langsung melemas dan Akashi dengan mudah bisa membebaskan dirinya.

Akashi pun mencium kening pemuda itu dengan lembut sebelum beranjak dari sana—untuk mandi dan mempersiapkan semuanya.

Hah, pagi ini indah sekali 'kan, Akashi?

.-.-.

Kuroko mengerjapkan matanya. Ia menggeliat sejenak sebelum bangkit dari acara berbaringnya. Manik birunya mendapati ranjang disebelahnya sudah kosong.

Pasti Akashi sudah bangun daritadi.

Kuroko menguap, ia mengucek matanya yang masih terasa berat. Uh, rasanya dia masih sangat mengantuk hari ini.

"Sudah bangun Tetsuya?" tanya sebuah suara. Sontak Kuroko langsung menolehkan kepalanya kearah sumber suara, yaitu Akashi yang baru saja masuk kedalam kamar.

Pemuda bersurai baby blue itu mengangguk, sedangkan Akashi terkekeh geli melihat Kuroko yang kini masih sibuk mengucek matanya sambil sesekali menguap, kemeja putih yang dipakainya semalam kelihatan sedikit merosot, dan bedhairnya itu...

Aduh.

Kuroko yang bangun tidur itu imut sekali. Ingin rasanya Akashi menculik pemuda itu dan mengklaimnya sebagai miliknya seorang.

"Kau bisa mandi dulu. Airnya tidak terlalu dingin." Ucap Akashi. Kuroko kembali mengangguk, ia pun segera turun dari ranjang. Ia berjengit ketika merasakan dinginnya lantai yang menyambut kaki polosnya.

Akashi menghela nafas, tidak dalam versi bocah ataupun remaja, Kuroko selalu tidak tahan dengan yang namanya hawa dingin.

Pemuda mungil itu langsung menuju kamar mandi, namun ia berhenti waktu mengingat sesuatu.

"Anou—apa setelah mandi aku masih harus pakai ini?" tanyanya pada Akashi sambil menunjuk pakaian yang dikenakannya.

Akashi menggeleng, "Tidak. Aku akan menyiapkan pakaian yang sepertinya cukup untukmu Tetsuya."

Kuroko pun mengangguk paham. Kini ia langsung masuk kedalam kamar mandi dan mulai ritual mandinya.

Selama Kuroko mandi, Akashi sibuk memilah pakaian yang dibawanya, mengira-ngira pakaian mana yang akan muat dan tidak terlihat terlalu kebesaran ditubuh mungil Kuroko. Walaupun badan mereka terlihat hampir sama, tapi ternyata pakaian miliknya jika dipakai Kuroko sanggup membuat tubuh itu terlihat makin kecil.

Setelah cukup lama memilah, akhirnya Akashi mendapatkan sebuah kaos lengan pendek dengan hoodie berwarna putih dan sebuah celana sebetis berwarna hitam. Yah, hanya pakaian ini saja yang terlihat berukuran lebih kecil dari yang lainnya.

"Akashi-kun?"

Pemuda bersurai crimson itu menoleh. Ia langsung membeku.

Oh. My. God.

Otaknya tiba-tiba saja terasa berhenti berfungsi. Manik dwiwarnanya seolah tidak mau beralih sediktipun dari objek yang berada dihadapannya sekarang.

Yaitu,

Seorang Kuroko Tetsuya yang hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian pinggang hingga paha. Dengan rambut yang masih basah, dan tetesan air yang turun membasahi dada mulus Kuroko.

Astaga, Kuroko, kau mau memancing Akashi?!

"Akashi-kun?" panggil Kuroko sekali lagi, berusaha menyadarkan Akashi dan seluruh pemikiran nistanya.

Akashi tersentak ketika tangan Kuroko menyentuh lembut pundaknya.

Oke. Dia terlihat sangat OOC sekarang.

"Ada apa Tetsuya?" tanyanya—berusaha terdengar kalem dan datar seperti biasanya, padahal kini tubuhnya bergetar tidak karuan.

Kuroko memandang Akashi dengan tatapan datar andalannya, "Aku harus memakai baju yang mana?"

Seketika Akashi langsung teringat dengan kegiatannya beberapa saat yang lalu. Ia pun langsung mengambil pakaian yang sudah dipersiapkannya dan menyodorkannya pada Kuroko. Kuroko pun menerima baju itu dan memandang Akashi.

Akashi yang merasa dipandangi pun menatap Kuroko, "Ada apa?"

"Akashi-kun masih disini?"

Manik dwiwarna Akashi memicing tajam, "Kau mengusirku?"

GLEK.

Sial. Ia salah bicara. Bukan maksudnya untuk mengusir pemuda itu.

"Bukan begitu Akashi-kun. Aku ingin ganti baju." Jelas Kuroko. Akashi menghela nafas, ia melipat tangannya didepan dada dan memandang lurus manik biru Kuroko, "Lalu kenapa tidak langsung ganti saja disini?"

Kuroko menatap datar Akashi, "Tidak mau."

"Kenapa? Kau malu?"

Pemuda itu tersentak, ia menggaruk pipinya dengan menggunakan telunjuknya. Terlihat sekali kalau dia tengah kikuk sekarang.

Akashi menyeringai melihat sikap pemuda manis itu. Ia pun berjalan mendekati Kuroko, "Kenapa harus malu Tetsuya? Bukankah kita sama-sama laki-laki?"

'Bukan itu masalahnya!' teriak Kuroko dalam hati. Ia menatap jengkel Akashi. Ia tidak mungkin ganti baju dihadapan pemuda itu, mengingat kejadian tadi malam yang sebenarnya cukup memalukan untuk dirinya.

Manik biru Kuroko melirik pintu kamar mandi yang masih terbuka, sejenak ia merutuki kebodohannya. Kenapa harus repot-repot mengusir Akashi jika dirinya bisa ganti baju di kamar mandi?

Tanpa sepatah kata, Kuroko langsung melesat kedalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan sedikit kencang—membuat Akashi terkekeh melihatnya.

"Anak itu..." gumamnya geli.

.-.-.

Kuroko memandang bingung pemandangan yang tersaji diluar cottage.

Pantai yang sangat indah.

Entah kenapa ia merasa tidak asing dengan tempat ini—rasanya baru-baru ini dia dan teman-temannya yang lain menghabiskan waktu disini.

Walaupun samar, Kuroko mengingat bahwa dirinya sempat bermain kembang api dipantai. Tidak lupa bermain kejar-kejaran dan makan malam bersama teman-temannya. Tapi, dirinya tidak pernah ingat, sejak kapan dia berada dipantai untuk liburan?

Akashi yang baru keluar dari cottage dengan membawa kopernya menatap bingung Kuroko yang duduk sedang duduk di tangga cottage. Koper biru muda milik Kuroko tergeletak begitu saja disamping kaki mungilnya. Akashi pun memutuskan untuk menghampirinya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Kuroko tersentak, ia menoleh kesamping dan melihat Akashi dalam balutan kemeja merah sedang menatapnya tajam. Pemuda bersurai baby blue itu menggeleng—mengisyaratkan bahwa dirinya tidak memikirkan apa-apa.

Manik dwiwarna Akashi melirik kearah pintu cottage, dimana teman-temannya yang lain sudah keluar dengan koper masing-masing.

Rencananya pagi ini mereka akan pulang ke Tokyo—tepat setelah sarapan. Akashi tidak mau mengambil resiko dengan mengalami macet dijalan karena pulang terlalu siang.

"Tetsuyacchi kenapa melamun-ssu?" tanya Kise sambil menubruk Kuroko yang masih asyik menatap pantai.

Pemuda bersurai baby blue itu mengernyit ketika mendengar Kise memanggilnya menggunakan nama kecilnya, seingatnya dulu Kise tidak memanggilnya begitu.

"Kalau kau terus mengerutkan kening seperti itu, kau bisa cepat tua Tetsu." Kali ini Aomine yang bersuara. Ia menguap dan mendudukkan dirinya dengan malas disamping Kuroko.

Kuroko memandang datar Aomine, "Itu sama sekali tidak ada hubungannya Aomine-kun."

Aomine hanya mengedikkan bahunya cuek. Ia menopang dagunya dengan menggunakan tangan dan menatap pantai. Matanya sesekali terpejam—sebenarnya Aomine masih mengantuk.

Sementara Aomine tenggelam dalam dunianya sendiri, maka Kise pun juga begitu.

Ia asyik dengan kegiatannya memeluk Kuroko—yang kadang diprotes oleh empunya.

Kise terlalu larut dalam kegiatannya hingga tak menyadari ada seorang iblis yang menatapnya dengan tatapan tajam.

Dua orang yang sedari tadi terdiam—yaitu Midorima dan Murasakibara hanya bisa berdoa, semoga Kise diberi keselamatan oleh Kami-sama.

"HEEEE?! TETSU-CHAN?!" teriak sebuah suara—Rika yang baru saja datang bersama dengan Momoi. Mereka berdua terlihat sangat terkejut.

Sontak semua pemuda disana langsung menoleh kearah sumber suara yang sungguh memekakkan telinga.

Sang ganguro mendelik tajam kearah orang yang baru saja berteriak dengan tidak elitnya, "Kau merusak suasana, Rika. Suaramu itu sama menganggunya dengan Kise."

Tolong abaikan teriakan Kise yang sedang protes disana.

Rika mengabaikan Aomine, ia lebih memilih untuk mendekati sosok Kuroko yang masih berada dalam pelukan Kise.

Pertama, ia menatapnya lekat—membuat Kuroko sedikit merasa risih.

Kedua, gadis itu mengamati Kuroko dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Ketiga, manik goldnya dengan serius mengamati wajah Kuroko, sampai akhirnya ia sedikit menjauh ketika merasakan aura tidak enak yang berasal dari sang kapten yang merasa sedikit terganggu dengan perilaku Rika.

Gadis itu tersenyum lebar, "Aku percaya kalau kau Tetsu-chan. Soalnya hanya ada satu orang yang punya ekspresi datar tapi imut."

Semua orang disana mengangguk menyetujui ucapan Rika.

Yah, hanya Kuroko Tetsuya saja yang memiliki ekspresi wajah datar namun terlihat imut dan menggemaskan.

"Tapi aku lebih suka Tetsu-chan umur 5 tahun sih, soalnya lebih berekspresi dan manja." Lanjutnya.

Semua orang disana kembali mengangguk membenarkan.

Kuroko merasa ada yang ganjil disini, ia pun menatap Rika yang masih asyik memandangnya sambil tersenyum-senyum.

"Rika-san, apa maksudmu?"

Krik.

Hening.

Mereka semua bertatapan satu sama lain, bingung harus darimana menjelaskannya. Semua yang terjadi pada mereka itu sedikit tidak masuk akal, Kuroko tentu tidak akan semudah itu untuk percaya. Tapi, hanya ada satu yang bisa dipercaya oleh Kuroko dan orang itu pasti bisa menceritakan semua ini dengan akurat.

Sontak mereka langsung memandang Akashi yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya dengan posisi bersandar pada dinding yang letaknya cukup jauh dari mereka. Terlihat sekali jika pemuda itu acuh tak acuh dengan masalah ini.

Manik dwiwarna Akashi menatap balik teman—budaknya yang kini kompak memandangnya, "Ada apa?"

"Akashicchi kau saja yang menjelaskan-ssu." Ucap Kise dengan nada ceria—ia tidak menyadari jika ucapannya itu terdengar seperti perintah ditelinga Akashi.

Pemuda bersurai crimson itu tersenyum manis, ia memasukkan ponselnya kedalam celana jins yang dipakainya. Namun posisi ponsel itu digantikan oleh sebuah gunting merah, "Kau memerintahku, Ryouta?"

GLEK

Tamatlah riwayatmu Kise.

Kise menggeleng dengan panik. Bukan maksud hatinya untuk memerintah iblis itu. Lagipula, dia masih cukup menyanyangi nyawanya.

Akashi tidak peduli dengan Kise yang kini sudah memohon ampun padanya. Menurutnya, pemuda berisik itu kelewat lancang karena sudah berani memerintahnya. Dan orang yang lancang pantas mendapatkan cinta dari gunting cantiknya.

"Akashi-sama." Panggil sebuah suara. Pemuda yang hendak menyiksa temannya itu langsung berhenti ketika melihat sosok yang sudah memanggilnya. Ia memasukkan kembali guntingnya kedalam kantong.

Sementara Akashi menghampiri orang itu, Kise langsung sujud syukur karena nyawanya tidak jadi melayang.

"Mobil yang anda minta sudah menunggu didepan." Ucap sosok itu—yang ternyata adalah pria paruh baya yang mengenakan setelan pakaian butler. Akashi mengangguk mendengarnya.

Pria paruh baya itu mengalihkan pandangannya dari sang tuan muda kearah gadis yang tengah tersenyum kearahnya. Pria itu balas tersenyum, ia membungkuk sedikit, "Lama tidak bertemu anda Yukimura-san."

Semua orang disana terkejut—kecuali Akashi dan Midorima—karena mereka tidak pernah menyangka jika butler keluarga pribadi Akashi bisa mengenal Yukimura Rika.

Gadis itu balas membungkuk, "Senang bertemu anda kembali Takeshi-san."

Pria yang dipanggil Takeshi itu hanya tersenyum kecil.

Rika sedikit mengernyit tidak suka ketika masih mendapati tingkah butler keluarga pribadi Akashi yang bersikap terlampau sopan kepadanya, "Takeshi-san, berhenti bersikap terlalu sopan padaku. Kau kan sekarang kepala butler di rumah utama Akashi."

"Walaupun orang tua anda sudah tiada. Namun, anda kelak akan menjadi penerus kepala butler di kediaman Akashi, Yukimura-san." Jawab Takeshi kalem. Rika merengut kesal.

Kali ini manik goldnya melirik teman-temannya yang sedang shock.

Serius. Mereka tidak bisa percaya kalau sang manager ternyata penerus pelayan Akashi.

Duh, terbongkar sudah rahasia gadis itu.

Akashi yang melihat teman-temannya sedang dalam masa shock itu menghela nafas. Ia tidak suka membuang waktu, maka dari itu, ia langsung menggeret Kuroko yang menjauh dari gerombolan remaja itu.

"Jika kalian memang masih ingin terdiam dengan wajah orang bodoh seperti itu, aku sama sekali tidak keberatan untuk meninggalkan kalian." Ucap Akashi sambil berlalu—masih dengan Kuroko digandengannya.

Krik.

Mereka semua berpandangan satu-sama lain, lalu dengan dengan kalang kabut mereka menyusul Akashi dan Kuroko yang sudah berjalan cukup jauh.

Momoi berhenti ketika melihat koper biru muda yang teronggok begitu saja di tangga cottage. Ia langsung menarik Aomine yang hendak berlari, "Daiki-chan, koper Tetsu-kun ketinggalan!"

Sang ganguro memutar bola matanya malas, ia langsung menyambar koper itu dan berlari sekuat tenaga. Meninggalkan Rika dan Momoi yang terdiam dengan wajah orang bodoh.

Serius, mereka kenapa panik sekali sih?

.-.-.

Manik biru muda Kuroko dengan takut-takut melirik Akashi yang sedang terfokus dengan ponselnya. Sejenak, ia berpikir, sejak kapan kaptennya itu terlihat selalu sibuk dengan ponselnya?

Eh, tunggu.

Ada yang aneh.

Pemuda itu mengernyit ketika melihat ponsel yang dibawa Akashi sepertinya familiar dengan dirinya.

Ponsel flip berwarna biru muda.

Mirip dengan miliknya. Apalagi dengan gantungan ponsel berbentuk gelas vanilla milkshake. Benar-benar mirip sekali dengan ponselnya yang kini entah berada dimana.

Eh, tapi kalau diingat-ingat, gantungan ponsel seperti itu hanya dirinya yang punya—mengingat jika itu adalah gantungan limited edition hadiah vanilla milkshake.

"Akashi-kun, bukankah itu ponselku?" tanya Kuroko memastikan.

Pemuda disampingnya itu hanya melirik kearahnya sekilas, "Ini memang milikmu Tetsuya."

Kuroko tersentak.

Gawat, ini gawat. Ponselnya berada ditangan seorang Akashi Seijuurou. Padahal di ponsel itu terdapat file rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun—dan tidak boleh diketahui oleh siapapun.

Dengan panik Kuroko langsung berusaha untuk merebut kembali ponsel miliknya. Namun, Akashi sudah bisa melihat itu, ia pun langsung menghindar. Ia menyeringai menatap Kuroko yang kini wajahnya merah padam.

"Aku tidak menyangka kau memiliki file seperti ini Tetsuya." Ejeknya. Ia tidak bisa menahan tawanya ketika melihat wajah Kuroko yang memerah dan terlihat panik sekaligus kesal.

CKLIK.

"Akashi-kun!" bentak Kuroko ketika Akashi justru memotret wajahnya menggunakan ponsel merah milik sang pemuda. Akashi memandang sejenak hasil jepretannya—tidak buruk.

Yah, ini akan menjadi koleksinya yang berharga.

Mengabaikan itu, Kuroko memilih untuk diam kembali. Ia terlalu kesal dengan kaptennya yang entah sejak kapan senang sekali menjahilinya.

Teringat dengan percakapan tadi, Kuroko kembali memandang Akashi yang sedang senyum-senyum sendiri, "Akashi-kun, apa yang sudah terjadi sebenarnya?"

Mendengar pertanyaan pemuda disampingnya, Akashi mengernyit heran, "Apa maksudmu Tetsuya?"

Kuroko terlihat menimbang-nimbang, ia sedikit ragu untuk mengatakannya pada Akashi, tapi ia juga penasaran.

"Katakan saja." Ucap Akashi lagi.

Kali ini Kuroko menarik nafas, mereka sudah sampai didepan mobil yang akan mengantar mereka kembali ke Tokyo. Rasanya nanggung jika ingin bertanya sekarang, "Nanti saja Akashi-kun."

Akashi mengernyit. Namun ia tidak berkata apa-apa.

"AKASHICCHI! TETSUYACCHI! HIDOI-SSU! KENAPA KALIAN—"

SYUT

Kise yang baru saja datang sambil berteriak langsung pundung ketika mendapat hadiah special dari sang kapten, yaitu, gunting merah yang melesat kearahnya.

Setelah kedatangan Kise, muncul Midorima, Murasakibara, Momoi, Rika dan yang terakhir Aomine—yang datang membawa dua buah koper. Kuroko yang menyadari jika salah satu koper yang dibawa Aomine adalah miliknya langsung berlari menghampiri Aomine.

"Maaf, Aomine-kun. Aku merepotkanmu." Ucap Kuroko sambil mengambil kembali kopernya.

Aomine tersenyum kecil, ia mengacak surai baby blue Kuroko, "Tidak masalah Tetsu."

"Ehem. Bukan maksudku untuk menganggu acara romantis kalian berdua. Tapi aku benar-benar sakit mata melihatnya."

GLEK

Pemuda berkulit tan itu langsung membeku ketika melihat Akashi datang menghampiri mereka—lengkap dengan senyum manis. Kuroko yang tidak terlalu mengerti maksud perkataan Akashi hanya bisa memiringkan kepala.

Sedangkan Aomine, ia berdoa dalam hati. Semoga dirinya tidak melihat indahnya neraka yang akan ditunjukan oleh Akashi Seijuurou entah untuk yang keberapa kalinya.

"Maaf, menganggu waktu kalian semua. Tapi para sopir sudah siap, Akashi-sama." Usik Takeshi—butler yang tadi diutus oleh Akashi.

Pemuda bersurai crimson itu mengangguk. Ia pun mengatakan kepada teman-temannya untuk segera masuk kedalam mobil dan segera pulang ke Tokyo, mengingat hari sudah beranjak semakin siang.

Ah, sepertinya liburan musim panas yang menyenangkan sudah berakhir.

.-.-.

Manik biru milik Kuroko memandang bosan kearah jalanan. Semua orang yang berada satu mobil dengannya sudah terlelap kedalam alam mimpi.

Sebenarnya Kuroko juga ingin tertidur seperti yang lain, namun sesuatu menganjalnya, membuatnya tidak bisa memejamkan mata.

Semua ini berhubungan dengan ingatannya yang sedikit samar. Entah mengapa, setiap kali ia memejamkan mata, bayangan-bayangan itu masuk kedalam otaknya. Apa yang dia lihat sedikit membuatnya tidak percaya.

Karena dalam ingatan yang samar, ia merasa jika tubuh teman-temannya jauh lebih tinggi darinya—termasuk Akashi.

Oke, ia tau kalau dirinya itu paling pendek diantara teman-temannya—tinggi Akashi pun hanya selisih beberapa sentimeter dengan tingginya, namun dalam ingatannya, ia seolah melihat Akashi yang menjulang tinggi.

Ini aneh.

Sangat aneh.

Apa mungkin dirinya berubah menjadi kurcaci?

Menggelikan sekali.

"Kau tidak mengantuk?"

Kuroko melirik kearah orang yang baru saja bertanya padanya, Akashi Seijuurou. Ia menggelengkan kepalanya, "Akashi-kun?"

"Aku menunggumu tidur." Jawab Akashi.

Kuroko sweatdrop. Jawaban macam apa itu.

"Tapi aku tidak mengantuk, Akashi-kun." Ucap Kuroko.

Akashi menyeringai, ia meraih kepala baby blue Kuroko dan menyanderkannya kebahunya. Tangannya masih menahan kepala itu agar tidak berontak.

"Tidurlah, Tetsuya." Perintah Akashi.

Pemuda mungil itu menggerutu dalam hati, namun pada akhirnya ia memejamkan matanya—mengikuti perintah sang kapten.

Yah, sebenarnya ia memang sedikit mengantuk sih.

Melalui sudut matanya, Akashi melihat Kuroko sudah terlelap dalam tidurnya. Ia pun menyandarkan kepalanya diatas kepala baby blue itu dan memejamkan matanya.

Kalau begini, baru ia bisa tidur.

.-.-.

Pemuda bersurai baby blue itu mengerjapkan matanya. Ia mengernyit menatap ruangan yang nampak tidak terlalu asing untuknya.

Tunggu. Ruangan?

Seingatnya tadi dirinya tertidur dibahu Akashi saat perjalanan pulang ke Tokyo.

Oh tidak.

Jangan-jangan mereka dirampok, lalu para perampok itu menyandranya dan juga teman-temannya!

Eh, tapi itu mustahil.

Memang perampok mana yang berani merampok Akashi? Baru melihat wujud pemuda itu saja, mereka pasti akan langsung lari terbirit-birit.

Klek.

Sontak Kuroko mengarahkan pandangannya kearah pintu yang terbuka, ia menemukan Akashi yang baru saja masuk kedalam kamar dengan handuk yang masih tersampir dikepalanya.

"Aku tidak tega membangunkanmu, jadi aku menggendongmu kemari." Jelas Akashi ketika ia menangkap raut bingung dari Kuroko.

Pemuda itu mengangguk mengerti. Ia melirik jam digital yang berada di meja nakas samping tempat tidur itu.

Sudah sore. Selama itu 'kah dirinya tertidur?

"Mandilah dulu. Aku akan menjelaskan semuanya padamu." Ucap Akashi sambil melemparkan sebuah handuk kering kepada Kuroko—dan dengan sigap ditangkap olehnya.

Akashi pun beranjak dari sana, sebelum dirinya benar-benar keluar dari kamar, ia melirik sebentar kearah Kuroko yang mulai beranjak ke kamar mandi, "Aku menunggumu diruang televisi."

Kepala baby blue itu mengangguk mengiyakan. Akashi pun pergi meninggalkan Kuroko yang kini sedang menatap handuk ditangannya.

Terlalu banyak hal yang ingin ia tanyakan.

Tapi, hal yang harus ia lakukan sekarang adalah... mandi.

.-.-.

Akashi menolehkan kepalanya ketika melihat Kuroko baru menginjakkan kakinya diruangan itu. Kaos putih polos dan celana selutut yang dipakai Kuroko merupakan miliknya—bersyukur Akashi masih menyimpan pakaian Kuroko sebelum menyusut.

Tanpa basa-basi, Kuroko langsung duduk disamping Akashi, raut pemuda wajah itu masih datar, namun dari matanya tersirat banyak kebingungan. Akashi yang melihat itu tersenyum kecil. Ia meraih remote televisi dan mengecilkan volume televisi.

"Anou—Akashi-kun, dimana yang lain?" tanya Kuroko ketika dirinya menyadari hanya ada dia di apartemen Akashi.

"Tentu saja pulang kerumah mereka. Aku 'meminta' mereka untuk pulang dan berkumpul disini besok." Jawab Akashi.

Pemuda bersurai baby blue itu tau persis, apa yang dimaksud Akashi dengan 'meminta' adalah... memaksa.

"Jadi, apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Kuroko to the point.

Manik dwiwarna Akashi memandang lurus Kuroko yang masih bertahan dengan wajah datarnya, ia menyeringai, "Kenapa kau bertanya seperti itu, Tetsuya?"

Kuroko mendengus, ia tau Akashi tengah usil sekarang.

Apa susahnya sih tinggal menjawab pertanyaannya. Rasanya Kuroko ingin menjambak surai crimson kaptennya itu—eh tapi dia masih sayang nyawa.

"Aku hanya merasa sedikit aneh Akashi-kun. Aku merasa sudah melakukan banyak hal dengan kalian, tapi dalam ingatanku—walaupun samar, aku melihat jika kalian terlihat lebih tinggi, seolah aku mengecil. Dan juga, aku merasa sedikit—aneh, mungkin?" papar Kuroko. Ia tidak punya pilihan lain selain mengatakan semuanya pada Akashi. Ia sudah terlalu penasaran.

"Apa kau mengingatnya dengan jelas?"

Kuroko menggeleng, "Tidak terlalu. Semua terasa seperti mimpi untukku. Aku merasa pernah bermain kembang api, kejar-kejaran dan makan malam dengan kalian semua di pantai yang kita kunjungi tadi."

Pemuda bersurai crimson itu terdiam.

Ah rupanya, walaupun Kuroko sudah kembali ke wujud normal, ingatannya waktu masih menjadi bocah berusia 5 tahun tidaklah hilang—walaupun samar-samar.

"Bagaimana jika aku berkata, selama lebih dari seminggu ini kau berubah menjadi anak berumur 5 tahun?" ucap Akashi enteng.

Kuroko menatap datar Akashi.

Ia tidak habis pikir dengan tingkah laku kaptennya itu.

Ini bukanlah saat yang tepat untuk melucu. Kenapa pula Akashi malah memberi lelucon yang sama sekali tidak lucu seperti itu?!

"Aku sama sekali tidak sedang bercanda Tetsuya." Ucap Akashi sambil bertopang dagu. Ia melirik Kuroko yang kini nampak terkejut.

"Ta-tapi—"

"Jika kau tidak percaya kau bisa lihat ini." Kali ini Akashi menyodorkan ponsel berwarna silver—yang Kuroko ketahui itu adalah milik Rika.

Pemuda bersurai baby blue itu membulatkan matanya begitu melihat apa yang terdapat didalam ponsel silver itu.

Foto seorang bocah berusia 5 tahun dalam berbagai pose. Masalahnya, bocah itu memiliki wajah yang sama persis dengannya.

Apa mungkin, bocah itu adalah... dirinya?

"I-ni—"

"Itu adalah kau, Tetsuya. Sebelum Rika pulang, ia memberikan ponselnya padaku. Beruntung dia sempat memotretmu beberapa kali. Jadi, itu bisa dijadikan bukti seandainya kau tidak percaya. Selain itu, kau bisa membuka kopermu, disana hanya ada pakaian anak-anak. Tidakkah kau menyadarinya?" Papar Akashi.

Kuroko menggeleng, ia masih terlihat begitu shock, ia memandang Akashi, "Tapi bagaimana mungkin?"

Akashi menghela nafas, "Semua ini terjadi karena kau meminum penemuan ciptaan si bodoh itu. Seharusnya kau sekarang masih menjadi bocah berusia 5 tahun, tapi entah kenapa kemarin malam kau tiba-tiba kembali menjadi normal."

Pemuda bersurai baby blue itu mengangguk, "Lalu, apa sekarang aku sudah benar-benar menjadi normal?"

"Belum bisa kupastikan. Rika sama sekali belum memberikan penawarnya padamu. Jadi masih ada kemungkinan kau menjadi bocah kembali."

Keduanya terdiam. Kuroko bertanya-tanya, memang apa yang sudah membuatnya kembali menjadi normal?

Ah, lebih baik ia tanyakan saja pada Akashi.

"Akashi-kun, apa kau ingat sebelum aku berubah menjadi normal, apa yang kau lakukan padaku?"

Akashi terdiam. Ia nampak mengingat-ingat, "Sepulang dari makan malam, aku menggantikanmu piyama, dan mencium dahimu sebagai ucapan selamat malam."

BLUSH

Wajah Kuroko memerah mendengar ucapan terakhir Akashi.

Oke, sekarang mungkin dirinya juga berpikiran bahwa Akashi adalah seorang pedofil.

Eh, tunggu.

"Akashi-kun, jangan-jangan karena kau mencium dahiku aku jadi kembali normal?" tanya Kuroko—ia terlihat sedikit senang.

Manik dwiwarna Akashi melirik Kuroko, "Tidak. Aku sudah sering menciummu, tapi kau tidak kembali normal."

BUAK

"Akashi-kun mesum."

Akashi mengusap-usap kepalanya yang baru saja dipukul menggunakan bantal sofa oleh Kuroko. Ia menatap tajam pemuda bersurai baby blue yang wajahnya tengah merona.

Kuroko, sebenarnya Akashi menciummu bukan hanya didahi.

Ah yasudahlah, biar hanya Akashi dan Tuhan saja yang tau itu.

Hening kembali.

Ngomong-ngomong, Akashi teringat dengan file rahasia yang ia lihat diponsel Kuroko. Ia pun melirik pemuda yang kini tengah sibuk melihat televisi.

"Tetsuya." Panggilnya. Kuroko menoleh, ia menemukan Akashi yang tengah menyeringai kearahnya.

Serius, perasaannya makin tidak enak sekarang.

"Aku tidak menyangka kau gemar mengkoleksi fotoku."

Manik biru itu langsung membulat mendengar perkataan Akashi.

"Hoo, jangan-jangan selama ini—"

CUKUP CUKUP!

"I-itu tidak seperti yang Akashi-kun pikirkan!" potong Kuroko dengan panik. Akashi terkekeh melihat wajah panik Kuroko yang sangat jarang terlihat itu.

Ia memandang lekat Kuroko, "Jadi, bisakah kau jelaskan?"

Kuroko menundukkan kepalanya, "Tidak mau."

Akashi terkekeh, "Terserah kau saja Tetsuya. Tapi mengetahui kau menyimpan fotoku, itu membuatku senang."

Pemuda bersurai baby blue itu terdiam. Ia tidak tau jika sang kapten bisa mengatakan hal selembut itu kepadanya.

Ah, sepertinya semenjak dirinya berubah menjadi bocah berumur 5 tahun, banyak sekali hal yang ia lewatkan.

Hening kembali menyelimuti mereka berdua.

Akashi memilih fokus kepada tayangan televisi karena Kuroko tidak lagi bersuara. Kuroko sendiri lebih memilih untuk diam karena ia sudah mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

Bosan diam, Kuroko mengambil kembali ponsel Rika yang tadi diletakkannya disebelahnya. Ia kembali mengutak-ngatik ponsel tersebut, mencari hal apa lagi yang sempat diabadaikan oleh gadis itu waktu dirinya menyusut menjadi bocah lima tahun.

Alis Kuroko bertaut heran ketika melihat sebuah file video dengan judul 'Sei-chan funny moment'. Penasaran, ia membuka video tersebut.

Video tersebut ternyata berisi kejadian dimana wajah Akashi menghitam karena asap arang yang sudah dinyalakan oleh Aomine. Walau video itu hanya berdurasi tidak lebih dari satu menit, namun itu sanggup memancing tawa dari sang surai baby blue.

Akashi melirik Kuroko yang tengah tertawa-tawa sendiri sambil menonton ponsel Rika. Penasaran, ia mengintip apa yang sedang dilihat oleh pemuda manis itu.

Dan saat itu juga, Akashi menyesali keputusannya.

Kejadian nista itu... bagaimana bisa Rika mempunyai rekamannya?!

Tolong ingatkan Akashi untuk menghapus video itu nanti.

"Sepertinya kau puas sekali Tetsuya." Sinis Akashi.

Pemuda itu berusaha menahan tawanya, "Tidak juga Akashi-kun." Elaknya.

Akashi mendengus. Ia mendekat kearah Kuroko dan menyanderkan dagunya dipundak mungil sang pemuda, "Daripada melihat video nista itu, lebih baik kita melihat yang lain."

Kuroko mengangguk, ia pun mengclose video tersebut dan kembali menyusuri deretan file yang berada diponsel Rika. Bahkan, saking seriusnya mencari, ia tidak menyadari posisinya dan Akashi yang terlihat sangat mesra itu.

Kuroko dan Akashi sama-sama mengernyit ketika membaca file video yang bertuliskan, 'Sweet Moment'. Kuroko pun langsung membuka video tersebut.

Keduanya sama-sama terdiam—menikmati apa yang ada didalam video tersebut. Video tersebut berisi kegiatan mereka sewaktu bermain kembang api bersama. Walaupun gambarnya terlihat tidak terlalu stabil—Akashi mengasumsikan jika Rika mengambil video tersebut ketika sedang dikejar oleh Kise—video tersebut tetap terlihat bagus. Apalagi ada sosok Kuroko yang tertawa-tawa sambil memainkan kembang apinya.

Keduanya mengernyit ketika gambar divideo itu memperlihatkan siluet dua orang yang salah satunya sedang berjongkok di bibir pantai dengan kembang api dimasing-masing tangan mereka.

Dua orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Akashi dan Kuroko—dengan posisi Akashi yang berjongkok sambil memeluk pinggang mungil Kuroko yang tengah berdiri sambil tersenyum lebar ketika melihat pantulan kembang api diatas air laut.

Kuroko bisa mendengar dengan jelas ketika Rika berkata, "Lihatlah, Sei-chan dan Tetsu-chan mesra sekali. Benar 'kan Ryou-chan?"

Tepat setelah momen tersebut, video tersebut berakhir. Kuroko mengclose video tersebut dan menutup flip ponsel Rika. Benaknya masih penuh dengan apa yang baru ia lihat tadi, dan juga kata-kata Rika...

"Tetsuya..."

Kuroko menoleh, manik matanya membulat ketika ia menyadari betapa dekatnya jarak dirinya dan Akashi. Kuroko hendak mengalihkan wajahnya, namun tangan Akashi yang berada dipipinya mencegahnya.

Pemuda bersurai baby blue itu hanya bisa terdiam dengan wajah memerah.

"Terimakasih." Akashi tersenyum lembut—membuat Kuroko terpaku.

Akashi menempelkan keningnya ke kening Kuroko, "Terimakasih karena kau sudah hadir dalam hidupku, membawa kehangatan untukku, aku—"

Pemuda bersurai baby blue itu membeku mendengar ucapan Akashi, apalagi bagian pada bagian akhir...

Bahkan ia tidak bergeming ketika Akashi mencium lembut bibirnya.

Kuroko memejamkan matanya, begitu pula dengan Akashi. Mereka berdua terlalu hanyut dalam ciuman memabukkan itu.

Akashi melepaskan tautan bibir mereka, ia menatap lembut Kuroko yang wajahnya masih merona merah. Ia baru akan mencium sosok itu lagi, sebelum—

POOF!

—sesuatu yang aneh kembali terjadi.

To Be Continued

a/n:

yup!

Banyak yang sudah bisa menebak ya, waktu Akashi kaget itu karena melihat Kuroko menjadi normal. Kalau ada yang tanya mengapa, itu masih menjadi misteri dan akan terbongkar seiring berjalannya cerita ._.

Ah, ngomong-ngomong, saya minta maaf jika AkaKuro nya kurang—atau malah berlebihan. Dan saya minta maaf juga atas kesalah dichapter sebelumnya. Waktu saya baca ulang itu memang banyak sekali typonya :-(

So, review minna?^^~

Special Thanks to:

Bona Nano | spring field sakura | Monokurobo | ningie cassie | Ichika07 | Angel Muaffi | Shoujo Record |mr DongDong | 46Neko-Kucing Ganteng | Noir-Alvarez | mizurin namikaze | yuu chan | Flow Love | alyazala | amurei | Arista Raksa | Shizuka Miyuki | yuzuru | Lunette Athella | AkiTsuki | kurokolovers | Ryuusan | RallFreecss | Ameru-Genjirou-Sawada | Aka no Rei | rea | Just-Sky | Kuroko Tetsuragi | natsumi | Kanae Miyuchi | LiaZoldyck-chan | .7 | Lee Kibum | Mozu The Cookie Spirit | Ah Rin | | Namikaze Bluer | Aka no Rei | florentina caree