Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story © Punya Kika
Pair © Uchiha Sasuke, Hyuuga Hinata
Rated © T
WARNING © OOC akut, typo, alur cepat dan teman-temannya.
Summary © Sebuah cerita tentang adek kelas.
Don't Like Don't Read
.
.
.
-Adiks-
"Bazaar"
.
.
.
Hari yang lain kini menyambangi dunia ini. Hari dimana mata ini selalu mencarimu dan hati ini selalu menanti getaran gelombang elektromagnetik saat kau berlalu, meski hanya sekedar berlalu. Mungkin akunya aja yang lebay atau mungkin kamu sudah ke dukun terdekat untuk ngirim ilmu hitam ke hati ini. Ahhh, entahlah. Sehari saja tak bertemu, hati ini sudah rindu kenceng maksimalsampe ngalahin kencengnya badai Patricia. Ah, andai kau tahu, wahai andalan guweh yang disana.
"Ishh, baca apaan sih?" tanya Hinata membuka kotak bekal makan siangnya.
"Jijay banget tau gak!" sahut Ino sambil memandang jijay ke orang jijay yang membaca bacaan jijay. Pokoknya jijay.
"Blog gak jelas nih, mana pake foto gue segala" kata Gaara memperlihatkan layar iPhonenya kepada teman-temannya.
"Fans kamu, Beb?" tanya Shion dengan muka gak suka. Gak suka banget pokoknya.
"Hehe, iya. Udah biasa sih kayak gini" kata Gaara sambil mengeliminasi sosis bentuk gurita di kotak bento Hinata.
"Kamu yakin ini bukan homo? Isshh, nama panggilan kamu tuh 'Beby Gaaracuu'. Ini apaan nih, andalan guweh. Pasti yang bikin homo nih" cerocos Sakura menghakimi.
"Ya sambungin aja lagi, 'Beby Gaaracu andalan guweh'" Matsuri menengahi cari aman.
"Pokoknya kamu jangan sampe mau digodain homo. Cewek-cewek di kelas XI.3 masih pada gadis, ngapain kamu ngelirik homo?" tanya Shion manyun.
"Ah, makin ngawur aja sih kalian. Mending kalian jadi presenter acara gosip aja deh. Hobinya gede-gedein masalah, kompor banget" lanjut Gaara meraih potongan ayam di piring Shion.
"Beby Gaaracu andalan guweh, pokoknya kamu gak boleh punya pacar. Mau itu cowok atau cewek, kita gak bakalan biarin. Ngerti?" Hinata mengancam pake sumpit depan muka unyunya Beby Gaaracu andalan guweh. Gila, makin panjang aja namanya.
"Terus temen kalian yang paling cakep ini kudu hidup gimana? Nikah sama guling dan anaknya bantal, gitu?" tanya Gaara gak terima dan kali ini doi nyambar brokoli di kotak bento Sakura.
"Eh, eh. Aku punya cerita nih..." sahut Hinata gak mau denger kisah cinta Gaara, guling dan bantal.
"Apaan?" sahut yang lain bersamaan, gak termasuk Gaara pastinya.
"Tentang adiks Sasuke" kata Hinata dengan nada sepelan mungkin. Takut ada yang denger cyin.
"Ah, dia mulu. Kamu gak bosen apa ngomongin adiks mulu" kata Ino geleng-geleng dugem.
"Kenapa? Dia ganti dp lagi? dp-nya cakep? Atau dia bikin status alay lagi?" tanya Shion bosan. Sekedar info nih gengs, akhir-akhir ini tuh adiks Sasuke labil banget. Status terakhirnya tuh bikin cewe-cewek di dunia ini baper sampe meleleh dan bikin belepotan, *eh. Statusnya sih simpel aja, cuma sekedar kalimat "Pengen jalan sama pacar tapi eh lupa, ternyata gak punya pacar". Kalo kisah asmaranya adiks Sasuke adalah sebuah makalah, maka di bagian penutup bagian kesimpulan, kisah asmara adiks Sasuke tuh masih "kosong". You know, kosong? Iya, gak ada yang ngisi. Bahasa pembelaannya sih single dan bahasa gak enaknya 'jomblo'.
"Kemaren aku pulang bareng dia pake bus" lanjut Hinata kalem.
"Adiks Sasuke?" Tanya Shion memastikan. Hinata ngangguk.
"Sama kamu?" Sakura pun ingin memastikan. Hinata bikin pose OK pake jari. Ngerti kan pose ini? Jaman kita alay sering selfie pake gaya beginian kok. Familiar yaaa,
"Pake Bus?" Ino menahan sendok nasi yang akan berlabuh di mulutnya. Hinata senyum ganjen.
"Berdua?" tanya Gaara.
"Ya nggak lah, Beb. Ini tuh bus, gak mungkin berdua" Shion menyadarkan Gaara.
"Jadi, Adiks Sasuke pulang sama kamu pake bus tapi gak berdua?" yap, Matsuri merangkum seluruh pertanyaan menjadi satu.
"Iyah"
"GAK MUNGKIN...! hahaha" teriak yang lain bersamaan sambil dorong-dorong. Punya temen yang kebiasaannya kayak gini emang bikin tersiksa, kalo seneng dorong-dorong dan kalo ketawa sampe mukul-mukul.
"Ish, serius" Hinata meletakkan kotak bentonya.
"Kamu jangan kebanyakan ngayal deh, Hin. Khawatir nih kita sama kondisi psikologis kamu. Suka tuh sewajarnya aja, jangan sampe kamu sakit hati nantinya" nasihat Ino.
"Ah, kalian gitu ah. Serius deh. Kemarin dia ikut rapat gak?" tanya Hinata mencari celah pembenaran.
"Kemarin dia emang agak telat dateng sih tapi dia pamitan pengen pulang ngambil sesuatu yang ketinggalan" sahut Sakura.
"Apa jangan-jangan dia modusin aku kali yah?" tanya Hinata pada pohon sambil sok mikir.
"Pasti kamu sering ngayal jalan bareng sama adiks Sasuke ya kan? Iishh, ulet bulu, dasar" kata Shion nunjuk-nunjuk.
"Kalo menghayal sih rutin tapi masih dalam kadar normal kok" kata Hinata santai sambil menyuapi Gaara yang sudah pasang mulut dari tadi. Sumpah, sebenernya Gaara ngapain dari tadi -,-
"Ngayal apaan? Duduk berdua di taman menikmati taburan bintang di kelamnya langit malam. Gak digigit nyamuk tuh?" tanya Matsuri.
"Atau lari-larian kejar-kejaran di taman bunga dan pas ketangkep main gelitikan dan pas selesai gelitikan saling pandang dan ciuman, gitu?" wissshhh, Ino straigh to the point banget.
"Gak kok. Cuma menghayal nikah sama adiks dan punya anak aja sih"
Krik.
Krik.
Krik.
"Lanjut makan gih, orang gila jangan didengerin" Sakura menyadarkan temannya sementara Hinata hanya berusaha menabahkan hati.
"Denger-denger kepanitiaan pengen ngumpulin baju bekas ya? Itu mau diapain sih?" tanya Hinata membuka pembicaraan baru.
"Oh iya. Jadi kita bakalan jual baju bekas, yah sebagai salah satu usaha ngumpulin dana awal acara kita sih" sahut Ino selaku koordinator dana dan usaha.
"Kalian udah kumpul belum?" tanya Gaara menyudahi makannya dengan minum air dari botol Sakura. Cowok gak modal, dasar.
Sakura dan yang lainnya menggeleng pelan.
"Uuummmm, ituuu...kan semua orang ngumpulin baju bekas nih. Uummmm...itu, adiks ngumpulin baju bekas juga gak?" tanya Hinata salting sambil narik-narik dasi Gaara. Awas mati kecekek beby Gaaracu andalan kitah.
"Kayaknya sih" kata Sakura santai membereskan peralatan makannya.
"Aku pengen dong bajunya adiks Sasuke"
"Uhhhuukkk...uhuuukkkk... gue keselek, air mana air..." Matsuri gelagapan.
"Iisshh, Hinata ih. Ngapaain gitu?" Shion sewot melihat temannya terbang tinggi cuma gara-gara adiks kelas. Saking tingginya, diperkirakan Hinata sudah berada di alam baka dan tak tahu arah jalan pulang.
"Pengen punya ajah, hehehe" kata Hinata sambil melebarkan aksi saltingnya. Dasi Gaara yang tadinya cuma ditarik-tarik sekarang mulai digigit-gigit.
"Yaoloh, Hin. Jadi orang yang jatuh cinta jangan kelewat aneh lah. Bajunya adiks pengen kamu apain?" tanya Ino sambil berusaha melepaskan tangan Hinata dari dasi beby Gaara.
"Cuma pengen dimiliki aja sih. Kalo orangnya gak bisa aku miliki, cukup bajunya aja. Sebagai kenang-kenangan di masa mendatang kalo aku pernah suka banget cowok. Kalo mau minta sendiri kan gak nyambung juga. Aku mah apa atuh, cuma kayak flat shoes yang gak punya hak. Simpelnya, aku ini siapanya?" kata Hinata sambil melow dan nyender di sandaran kursi, tadinya sih pengen nyeder sama Gaara tapi Gaara udah keburu change position. Ngeri sama Hinata yang lagi salting.
"Terus kalo kamu udah punya pengen diapain? Dipeluk-peluk gitu? Iihhhh, kamu kayak psikopat tau gak" kata Matsuri ngeri.
"Aku emang psikopat. Psikopat cintanya adiks"
"Yaelah. Nyesel gue nanyanya"
"Beby Gaaracu andalan guweh, kamu gak apa-apa kan kalo aku sama adiks Sasuke?" tanya Hinata memandang Gaara yang sesak nafas kecekik dasi sendiri.
"Iya, Hinata, iya. Ambil aja deh muanyah. Muanyah ambil aja"
.
.
.
Hari minggu (n) waktunya Ibadah dan request sama Tuhan minta dijodohin sama kamu. Kalo Tuhan maunya kamu sama aku, pacar kamu bisa apa? bisa apa, hah?
Hari minggu telah tiba, libur telah tiba tapi tidak berlaku bagi panita acara KHS, mereka sekarang berkumpul di sekitar pantai Konoha untuk berjualan baju bekas dengan harga miring dan tak jarang harga miring yang sudah miring masih harus dimiringkan lagi. Anything for money but money for life not life for money.
Beberapa siswa telah mengumpulkan baju bekas mereka, meskipun ada yang mengumpulkan baju semasa mereka balita. Gapapalah, kali aja ada pembeli yang punya anak balita atau punya tetangga yang anaknya masih balita atau anaknya udah pada dewasa tapi pengen punya baju balita.
"Kaks, semangat banget ya pagi ini" sapa Sasori ke Kaks Ino.
"Iya dong, diks. Jangan cuma sabun cuci aja yang Total, kita juga kudu total" kata Ino sambil membuka bungkusan plastik berisi baju bekas naksnaks (anak-anak) KHS.
"Kak Ino, kemarin aku udah kumpul kaos" kata adiks Sasuke menghampiri untuk membantu Kakaks Ino.
"Oh iya, Sakura yang handle kan?" tanya Ino pake tampang bego dan direspon dengan anggukan ganteng oleh adiks Sasuke.
"Tapi kayaknya gak ada deh, Kak. Dikantongan bagian sana juga gak ada, apa jangan-jangan kececer kali ya?" tanya adiks Sasuke keterheranan (?)
"Atau jangan-jangan udah laku kali yaa" kata Shion nimbrung dengan senyum-senyum yang nggak tahu kenapa pokoknya nggak tahu kenapa nih ya bikin adiks Sasuke curiga sampe level to the max.
Masih di hari yang sama. Hari yang penuh kedamaian dan penuh rencana-rencana indah yang kadang berakhir menjadi wacana belaka. Contohnya, hari sabtu bikin rencana pengen bersih-bersih kamar eh, pas hari H dateng malah terjebak dalam kata penuh kenikmatan bernama oversleep.
Udah jam 10 pagi tapi Hinata belum niat keluar dari dekapan mantan- eh, maksudnya dekapan selimut hangat. Guess what? Hinata merasa tidurnya menjadi lebih berkualitas 1000% dengan mengenakan kaosnya adiks Sasuke.
WHAT?
Iya, Hinata tidur pake kaosnya adiks Sasuke. Kaos hitam ukuran XL dengan tulisan Spyderbilt di bagian depannya. Kebayang gak? Hinata yang biasanya pake kaos ukuran S aja masih longgar dan sekarang pake kaos ukuran XL? Kaos ukuran XL-nya juga kaos pattern cowok. Kalo sama Hinata, kaosnya adiks Sasuke tiba-tiba jadi multifungsi, jadi daster bisa, jadi handuk bisa, jadi dress bisa dan jadi penghilang rasa kangen juga bisa. Bisa banget malah.
"Wanginya enak banget sih..." kata Hinata pelan sambil menghirup aroma kaosnya adiks Sasuke.
"Kenapa ya, kita selalu jatuh cinta pada sesuatu yang gak bisa kita miliki?" tanya Hinata pada fotonya bersama adiks Sasuke di perpus.
"Pengen deh besok-besok pas aku bangun kamu ada di samping aku" Iya, Hinata, iyaaa. Katanya temen-temen kamu, ambil aja muanyaahhh (ambil aja semuanya).
Hinata meninggalkan kamarnya menuju taman belakang untuk sarapan pada jam yang salah. Masih setia dengan kaos hitamnya adiks dan celana panjang kain abu-abu, Hinata membuka pintu kaca yang membatasi taman belakang dan rumahnya. Bergabung dengan Neji dan Hiashi yang sedang menggosipkan berita politik di koran, Hanabi yang memberi makan kelinci peliharannya dan Hotaru yang sibuk oles ini itu pada makanan.
"Pagi gaaeeesss..." sapa Hinata keterlaluan.
"Baju baru ya?" tanya Hotaru sebagai yang paling peka. Seingatnya, selama Hinata dilahirkan ke bumi pertiwi, Hinata tidak pernah memiliki riwayat obesitas tapi kenapa sekarang pake baju kedodoran yang gedenya tega banget?
"Hihi, iya dong, Ma" kata Hinata cengengesan mengambil kursi di samping Neji.
"Beli dimana? Jelek amat, cocoknya jadi kain pel nih!" komentar Neji nyakitin.
"Ihh, ini baju bagus ya, Kak. Belinya aja mahal banget" iyalah, mahal banget. Gak salah orang OSIS nyimpen Yamanaka Ino di bagian dana usaha, naluri rentenirnya kuat banget gila. Sampe temen sendiri diporotin. Terpaksa Hinata harus hemat jajan akhir-akhir ini, ahh.. inikah cinta. Bisa ngelakuin segalanya dan bisa bikin bego di segala suasana.
"Beli di online shop ya, Kak?" tanya Hanabi menggendong kelinci putihnya.
"Ini tuh baju paling unlimited sedunia. Bisa dapet karena anugerah yang Maha Kuasa. Udah ya, kalo ada yang masih nanya aku no comment aja"
.
.
.
Tengah malam (n) keadaan dimana jaringan internet lagi kenceng, angin malam juga udah kenceng dan rasa kangen kamu gak kalah kencengnya.
Hinata tidak bisa tidur. Mungkin perpaduan antara tidur siangnya lama, abis minum kopi dan otak gak bisa di shut down gara-gara mikirin adiks Sasuke. Lelah memandang iPhone yang hanya menampilkan notifikasi-notifikasi gapen (gak penting) lainnya, Hinata memutuskan untuk nyalain laptop dan re-watch anime favorit. Noragami, misalnya.
"Sebelum ketemu adiks, pengennya punya pacar dewa tapi setelah ketemu adiks pengennya punya pacar manusia biasa aja deh"
Di tengah-tengah keberlangsungan kegiatan nonton Noragami yang menampilkan adegan Yato yang malu-malu dengan wajah merahnya yang bikin pengen nyium tembok, iPhonenya Hinata bunyi. Dari tipe-tipe nada notifikasinya sih kayaknya BBM.
Kling
Kling
Kling
Kling
Kling
Wuih,bunyinya sampe 5 kali. Hinata mengabaikan pesona charmingnya Yato dan lebih memilih cek ombak dan melihat apa yang terjadi dengan iPhonenya.
"Healaahh, broadcast ternyata. Dari Ino, Naruto, Sai, Kiba dan Sa-, adiks Sasuke?"
Awalnya Hinata berniat mengabaikan pesan ngeselin yang dikirim ke semua orang tapi ternyata adiks Sasuke juga ikut ngirim. Ada yang aneh dengan pesan adiks, biasanya kan yaa, pesan broadcast itu ada tanda kayak toa-nya gitu kan ya? Tapi pesannya adiks Sasuke tuh gak ada. Cuma kayak pesan bbm biasa, pesan yang dicopy terus dipaste dan dikirim. Jangan-jangan... Ah, bikin baper tengah malam aja nih.
Uchiha Sasuke : Met malem, gaess, kalian yang disanah. Udah pada tidur belum nih? Atau udah pada asik mimpiin balikan sama mantan? Kita gak mau ganggu mimpi indah kalian kok, kita cuma mau nginfoin kalo kita dari kepanitiaan acara KHS lagi ngadain bazaar antar besok malam di jam makan malam (jam 07-sampe jam 11) kita gak berani sampe subuh gaes, soalnya takut begal. Nah, menunya adalah ayam rica-rica, sapi rica-rica, bubur kacang ijo, sate, ayam bakar, dan ikan bakar. Kita tunggu pesenan kaleean ya gaeesss. Salam anget seanget senyuman mantan, panitia acara.
Hinata mengeryitkan kening, tulisan alay dan merusak citra perdagangan tanah air kayak gini gak mungkin banget adiks Sasuke yang nulis. Hinata yakin berjuta-juta persen, ini pasti kerjannya Naruto nih, secara Naruto adalah koordinator divisi informasi dan komunikasi dan sialnya adiks Sasuke terpaksa ngirim pesan yang sama. Baiduwei, meski ini cuma pesan brotkes yang dikirim ke semua orang, Hinata agak kesel dengan kata-kata mantan disana. Pokoknya adiks Sasuke tuh cuma punya Hinata. Gak boleh yang lain.
"Bales ah" Hinata mulai mengetik pesan.
Hyuuga Hinata : Mas-mas delivery-nya yang nganter siapa nih?
1 menit.
5 menit.
10 menit.
20 menit
Read. Sedang menulis pesan...
"Maksudnya kamu bales pesan aku lama-lama biar apa sih? Biar keliatan cakep gitu?"
Uchiha Sasuke : Gak tau juga sih, pesen aja dulu.
Dengan sigap, Hinata menutup aplikasi BBM dan menuju daftar kontak untuk menghubungi seseorang.
"Hmmm...kenapa?" sahut seseorang di seberang telpon.
"Kalian beneran ngadain bazaar antar?" tanya Hinata antusias.
"Iya, ini lagi nge-list bahan-bahannya. Ah, kenapa juga si ketos jadiin aku koordinator divisi konsumsi, untung aja ada Kiba yang bisa diandelin. Kenapa nanya-nanya? Pesen doonng,.." rengek Sakura.
"Bisa asal yang nganter ke rumah adiks Sasuke. Aku pesen ayam rica-rica" Hyuuga Hinata, 17 tahun, sudah mandi dan memiliki keahlian khusus dalam modus kalem apapun situasinya.
"Oke, ibu Modus"
Tit. Telepon di tutup.
Hyuuga Hinata : Aku udah pesen sama Sakura.
Uchiha Sasuke : Pesen lagi aja, sama aku juga bisa pesen.
Hyuuga Hinata: Lain kali deh.
Read.
Kapok.
Salpic. (salah piccah/salah pecah/ salah strategi)
.
.
.
Hari ini adalah hari yang panjang bagi Hinata. Gak sabar banget nunggu jam 7 malam, kebayang gak adiks Sasuke dateng nganterin makanan? Kalo perlu makan berdua deh. Duuhh, pikiran kok makin keluyuran kemana-mana sih.
"Gimana, gimana?" tanya Hinata pada Sakura.
"Iya, dia mau. Aku udah cop adiks Sasuke bagian yang nganterin ke Akatsuki Residence, Blok K nomor 25" kata Sakura mantap sambil pamer jempol.
"Ah, kamu emang temen andalan guweh banget deh" kata Hinata sambil peluk-peluk gemes.
Adiks Sasuke seharian nggak keliatan. Kalo mau pake logika bapernya Hinata sih, hari ini adiks bolos sekolah untuk nyalon karena mau ke rumahnya Hinata tapi kalo pake teori realitas sosial, hari ini Sasuke full ada di sekolah tapi cuma di kelas dan selebihnya di ruang OSIS dan pulang sekolah langsung bantu-bantu ke rumah Sakura, markasnya acara hari ini.
"Katanya Kiba, adiks Sasuke dan yang lainnya udah ada di rumah aku sekarang lagi bantu-bantu kupas bawang dan bumbu lainnya" kata Sakura pada Hinata saat mereka menuju parkiran.
"Pleaseee, dia yang anterin ke rumah" kata Hinata merengek.
"Iya, Hinata, iya. Please deh, cukup hati kamu aja yang udah tertutup untuk cinta yang lain tapi kuping kamu jangan" Sakura mulai kesel.
"Iya deh, iyaaa.."
Akhirnya, malam pun tiba dan warga tertidur, werewolf pun mulai beraksi. Eh, becanda deng, ini bukan telegram.
Malam pun tiba, beberapa mas-mas delivery dadakan mulai beraksi dan beberapa pemesan bazaar juga nggak mau ketinggalan beraksi. Hinata misalnya, nyempetin sampoan dan pake conditioner biar rambut semakin badai, dikeringin dan dicatok dikit dan bagian bawahnya dibikin curly-curly unyu dan jangan lupa tambahin vitamin biar semakin sehat. Setelah rambut beres, kini Hinata beralih ke wajahnya. Cuma bedak tipis sih tapi dibikin lebay karena ditambah blush on dan terakhir adalah lip balm andalan pemberian Ino. Iya, Ino, Ino yang itu tuh. Ah,sudahlah. Malam ini kaosnya adiks Sasuke di lemari dulu. Masa iya pake kaosnya sementara yang punya mau dateng, ntar dikiranya psikopat cinta lagi. Harga diri sis, harga diri.
"Kaaaaaaaakkkkk, maakaaaaaannnn..." teriakan Hanabi menggelegar di seluruh sudut kediaman Hyuuga.
"Maaf ya, kalian makan duluan aja. Hinata lagi nunggu makanan dari temen yang penggalangan dana" kata Hinata membuka kulkas dan mengambil jus jambu.
"Kalau sudah lewat jam 8 dan belum datang cepat makan ya, nanti sakit" kata Hiashi memperingati.
"Iya, Pa. Hinata ke depan dulu ya" ke depan ruang keluarga nonton tv sambil nunggu adiks Sasuke.
"Kak, rambutnya lucu deh. Itu diapain?" tanya Hanabi yang menyadari ke-alay-an Kakaknya.
"Oh, lagi iseng nyoba catokan rambutnya Mama, eh ternyata malah jadi unyu gini" ngeleesssshhhhh.
Seluruh anggota keluarga Hyuuga udah pada kenyang, kecuali Hinata. Sengaja pengen sisain ruang untuk makanan yang dibawa sama adiks Sasuke, meski dibayar sih but it's okay lah. Pokoknya yang penting adiks Sasuke.
Ting...tong...
Bel berbunyi.
"Belnya bunyi noh, buruan makan" kata Neji yang sibuk baca buku telenovela depan tv.
Yes.
Hinata berdiri dari duduknya, berjalan meninggalkan ruang keluarga dan menyempatkan diri ngaca di pantulan keramik. Benerin rambut, benerin poni, benerin segalanya lah. Belum buka pintu aja, rasanya Hinata udah terserang serangan salting secara full force. Sakura dan yang lainnya pernah memberi saran kepada Hinata untuk bersikap biasa saja kalo lewat atau papasan sama adiks, biar elegan gitu katanya. Jangan kayak kemarin yang sampe peluk tiang dan hampir bikin Gaara meregang nyawa gara-gara dasi. Terus, jawaban Hinata apa? dengan polosnya, gadis berambut panjang itu berkata-
"Asal kalian tahu ya, ngeliat adiks dari jauh aja tuh bumi rasanya langsung miring, bikin aku susah jalan dan rasanya pengen jatuh aja. Belum lagi kalo udah deket, jantung rasanya kayak lomba perkusi aja. Sampe bisa kedengeran sama tetangga sebelah"
Oke. Cukup. Kita kembali ke cerita dimana Hinata bersiap membuka knop pintu.
Kreeettt...
"Selamat malam..." sapa seseorang di depan pintu dengan kresek putih di tangannya yang dipastikan sebagai ayam rica-rica.
"Eh?"
"Kak Hinata, kan? Ayam rica-rica?" tanya Deidara memeriksa catatannya.
"I-iya" kata Hinata mengangguk dan senyum paksa.
"Agak susah juga nemuin rumahnya, Kakaks. Mpe nyasar muter-muter" tambah Sasori.
"Tapi udah tau kan rumahnya dimana. Kalian gak masuk dulu, minum gitu?" tanya Hinata menawarkan sambil menyerahkan selembar uang kertas.
"Gak usah deh, Kaks. Masih banyak yang harus dianterin kalo kemaleman takuuuuuutttt..." jawab si Deidara pake muka sok imut sambil nyari kembalian buat Kaks Hinata.
"Kembaliannya ambil aja, lagian udah jauh-jauh ke sini. Makasih ya..." kata Hinata saat Sasori dan Deidara pamit undur diri.
Sedih? Iya.
Nyesek? Banget.
Berasa sesak nafas tapi gak punya riwayat asma? Sumpeh, iya banget.
Hinata menutup pintu rumahnya dan melangkah menuju dapur. Perutnya yang tadinya lapar dan cacing sudah bakar-bakar ban meminta makan rasanya sirna begitu saja. Entah Sasori dan Deidara yang punya kemampuan ajaib bisa bikin orang kenyang secara instan atau hal lain. Hal lain berupa adiks Sasuke yang diharapkan ternyata tidak datang.
'Harusnya aku tahu kalau Sasuke cuma mengiyakan permintaan Sakura yang cerewet untuk cari aman' batin Hinata berusaha berpositip tinking.
"Udah dateng? Kenapa temannya gak disuruh masuk?" tanya Hotaru.
"Nggak, Ma. Mereka buru-buru" jawab Hinata lesu.
"Yaudah makan gih, kamu udah sampe loyo gitu" sahut Neji.
Yasudahlah. Daripada makanannya sia-sia mending makan aja. Hinata mengambil piring dan tiba-tiba sesuatu membasahi tangan putihnya. Iya, Hinata gak sengaja meneteskan air mata. Anggap saja ada orang yang kupas bawang deket-deket sini. Saking pedesnya, hati juga ikutan pedes dan akhirnya air mata menjadi reaksi pedesnya hati yang sebenarnya gara-gara bukan adiks Sasuke yang nganterin. Hinata tiba-tiba jadi teringat dengan status alay-nya Gaara 'Gak berdarah tapi sakit'. Itu yang dirasakan Hinata, gak berdarah tapi sakit right here deep inside this kokoro.
Sementara itu, beberapa menit sebelum mas-mas delivery mulai beraksi...
"Hah? Kok gue?" Sasuke protes dengan tenang.
"Soalnya yang paling tahu tentang area kota bagian selatan, Konoha Resindence dan sekitarnya itu lo, jadi lo yang dapat job bagian sana" kata si ketos sotoy, Yahiko, yang tiba-tiba nongol mengacaukan suasana.
"Tapi Kak Sakura udah ngasih gue job nganterin ke bagian Akatsuki Residence"
"Nggak bisa. Daerah kota bagian utara dan sekitaran Akatsuki Residence gak seberapa yang pesen. Banyakan di kota bagian Selatan. Lo bareng Gaara gih, dia bawa mobil. Biar bisa nampung banyak" lanjut si ketos.
"Lah, masa sama gue?" si Gaara ikutan protes.
"Oke, sudah ditentukan. Kota bagian Selatan tanggung jawab Gaara dan Sasuke, bagian Utara Deidara dan Sasori, bagian Timur Naruto dan Kiba, bagian Barat Sai dan Shikamaru" buset, sampe Shikamaru, si ketua panitia juga dibawa-bawa.
Yahiko, ketos paling antimainstream sepanjang sejarah per-ketos-an KHS, gak ada yang berani cuap-cuap lagi kalo doi yang udah angkat bicara. Pierching-nya ngeri gaes.
Di dalam mobil sepanjang perjalan, Gaara dan Sasuke gak banyak ngomong. Paling banter cuma cerita tentang temen-temen sekolah mereka jaman SMP, ngomongin tentang destinasi hiking atau mendaki yang lagi hits dan ngomongin-
"Lo kenapa ngotot pengen nganter ke Akatsuki Residence?" tanya Gaara duduk santai menikmati angin malam saat mereka membiarkan kaca mobil terbuka.
"Soalnya gur udah janji sama Kak Sakura, janji nganterin ke sana" jawab Sasuke sekenanya.
"Serius cuma itu?" tanya Gaara memadang penjual somai di pinggir jalan, kayaknya sih enak.
"Iyalah. Gue ini cowok, gue udah janji masa gak jadi sih" Sasuke melancarkan pembelaan.
"Janji sama Sakura apa sama temennya Sakura? Dasar bacrit lo ah" tanya Gaara nahan tawa. Bacrit (banyak cerita)
"Becandaan lo gak lucu tau gak. Sono, anterin yang punya. Siapa sih namanya, Kisame nih, pesen 4 porsi, sono anterin"
Jam 10 malam, mas-mas delivery dadakan udah pada kembali ke peraduannya, ke rumahnya Sakura.
"Terima kasih, kerja bagus!" dan si ketos pun menghilang.
"Thank you banget sama temen-temen yang udah mau bantu hari ini" kata Ino sambil bungkuk-bungkuk sehabis ngitungin duit.
"Naahhh, ini ada satu bungkus satu orang. Kita laper nih nunggu kalian buat makan bareng" Shion nongol bawa bungkusan makanan dibantu Kiba.
"Kak, gue pengen ayam rica-rica" kata Sasuke request.
"Apa sih yang nggak buat adiks Sasuke yang udah bantu banyak hari ini..." kata Shion sambil menyerahkan plastik makanan yang bertuliskan ayam rica.
"Lo balik gak?" tanya Sasuke pada Gaara yang lagi tepar di bawah AC. Sasuke sih enak, nyetir doang. Lah, Beby Gaaracu andalan guweh mah apa atuh. Udah kayak sales door to door aja bawa-bawa makanan. Hiks.
"Nggak. Gue nginep aja, males pulang. Lo kalo mau pulang bawa aja mobilnya" kata Gaara mulai buka kaos pamer body yang ehhmm...
"Sip"
Adiks Sasuke pamitan pulang duluan saat yang lain tengah makan bersama. Alasannya dicariin Mama disuruh cepet pulang, takut ketangkep tante-tante girang. Adiks memasuki mobil dan meletakkan bungkusan makanan di jok di sampingnya dan mengemudikan mobil menuju-
Ting...tong...
"Selamat malam" kata adiks Sasuke sedikit bungkuk.
"Iya?" tanya Neji dengan muka setengah teler. Nyaris jam 11 malam.
"Rumahnya Hyuuga Hinata?" tanya adiks.
"Iya, benar. Ada apa nih?"
"Sorry, Bang. Dateng malem-malem, kami dari panitia bazaar antar KHS yang lagi penggalangan dana" kata adiks Sasuke yang masih berdiri di depan pintu.
"Tadi bukannya udah ada yang dateng ya?" tanya Neji mulai curiga.
"Hinata kayaknya pesen dua, Bang"
"Yaudah masuk dulu" kata Neji mempersilahkan adiks Sasuke masuk ke ruang tamu. Sementara Neji menuju kamar Hinata untuk memberikan laporan kedatangan makhluk asing, adiks Sasuke mengedarkan pandangannya di seluruh ruang tamu keluarga Hyuuga. Tak jarang, adiks Sasuke senyum-senyum cakep waktu melihat bingkai foto yang terpajang di ruang tamu. Terlebih saat mata adiks Sasuke fokus kepada foto anak kecil yang dicurigai sebagai Hinata kecil. Tak hanya itu, adiks bahkan ngeluarin hempong untuk jepret foto Hinata beberapa tahun yang lalu. Ishh..isshh...iisshhhh...
Tok..tok...
"Hinata, ada yang dateng noh. Kayaknya sih orang gak jelas" teriak Neji dari balik pintu kamar.
Hinata tidak menghiraukan panggilan kakak sepupu ngeselinnya itu. Ia hanya meratapi dirinya dan chat Sakura yang mengatakan-
"Sorry banget, Hin. Tadi sih adiks mau nganterin tapi tiba-tiba si Yahiko sotoy itu dateng sok ngatur dan adiks kebagian nganterin ke bagian Selatan"
"Kayaknya Hinatanya udah tidur deh" kata Neji menghampiri adiks Sasuke.
"Yaudah kalo gitu, minta tolong dikasi ke Hinata, Bang" kata adiks Sasuke sambil menyodorkan bungkusan makanan yang seharusnya adalah jatah makannnya.
"Hmmm..." lagi-lagi, kayaknya malam ini penyakit curigaannya Neji kambuh.
Adiks Sasuke nangkep sinyal-sinyal curiga dari bang Neji. Oleh karena itu, adiks Sasuke membuka bungkusan makanan tersebut dan mengambil sepotong daging dan memakannya.
"Gak ada racunnya kok, Bang" kata Sasuke polos setelah menelan apa yang ia makan.
"Oh iya" akhirnya si Neji yakin.
"Minta tolong banget ini buat Hinata ya, Bang. Maksudnya-" adiks menggantung kata-katanya.
"Iya bocah. Gak bakalan gua makan dah ah"
Adiks Sasuke pamitan.
Pulang dengan perut keroncongan.
Belum makan dari tadi.
.
.
.
Hinata bangun dengan mata bengkak. Jangan tanya kenapa, semuanya karena adiks Sasuke dan ayam rica-rica tapi saat ditanya kenapa nangis, Hinata menjadikan film sebagai alasannya. Pendusta kau anak muda, pendustaaaahhh.
"Oh iya, tadi malem ada anak panitia bazaar antar yang dateng bawa ayam rica-rica" kata Neji begitu melihat adik sepupunya tiba di meja makan dengan muka dan mood yang sama ancurnya.
"Hmmm..." Hinata duduk dan berniat menuang susu.
"Katanya pastiin itu untuk Hinata, dikiranya mau aku makan apa. Gak tau aja dia kalo aku lagi dalam program diet ketat, ckckck" kata si Neji ngoceh.
"Siapa yang bawa, Kak?" tanya Hinata mulai penasaran.
"Cowok dan pake mobil yang kayak familiar banget" jawab Neji.
"Palingan Beby Gaara aku" kata Hinata cuek.
"Bukan"
"Naruto?"
"Bukan juga, keliatannya dia anaknya pinter tapi rada gak beres gitu" komentar Neji.
"Rambutnya item?" tanya Hinata mulai antusias.
"Iya, item kayak abis di toning"
"Modelnya aneh? kayak pantat ayam gitu?"
"Gak tau, dia pake topi"
"Matanya juga item?" deg-degan dimulai.
"Item banget, kayak kriminal lah dia"
"Tinggi, cakep, mancung, bibirnya merah?"
"Hinata, kakak sepupumu ini normal. Ngapain nanya-nanya cowok cakep atau nggak. Tuh, makanannya ada di pemanas"
Hinata segera membuka micro wave dan mendapatkan makanan yang telah di pindahkan ke dalam wadah yang intinya bukan plastik.
"Ada surat juga kayaknya, itu kantongan plastiknya di rak piring"
Hinata beralih ke kresek putih dengan kertas warna biru di dalamnya. Kertas biru ukuran 10x10cm dengan tulisan-
Eat well :)
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Gila, udah chap 7 aja dan gak ada kejelasan gini, haha.
Makasih banget sama temen-temen reader gak sabaran yang menantikan lanjutan fic guweh ini, hehe
Jangan jenuh dengan fic amburadul ini yea, gaeesss
Dan tetep tungguin chapter depan,
Silahkan berkicau di kolom review dan siapa tuh yang review kalo authornya tukang gombal.
Akohh gagh getohh kakaaa... haha
*seeunextchap
