TIGA "M"
By Itachannio
Vocaloid
Disclaimer: Yamaha, Crypton Future Media, and fans all over the world
Main Characters: Kaito Shion, Rin Kagamine, Miku Hatsune.
Other Characters: Find by yourself
Author's Words:
Moshi-moshi, annyeonghaseyo, halo, hi Readers di mana pun anda berada!
Mohon bantuannya ya untuk para readers ataupun senior yang membaca fanfic ini. Dengan banyaknya saran dan kritik yang masuk pada kantung review saya, saya jadi bisa mengetahui seberapa banyak kesalahan saya, juga seberapa besar peluang saya untuk memperbaikinya.
Terima kasih dan selamat membaca!
Enjoy
Chapter seven: Permintaan yang Sederhana
Summary:
"Berandalan" adalah satu kata yang pas untuk mendeskripsikan sosok muda yang tampan dan jenius itu; Kaito Shion. Dia adalah sesosok anak laki-laki yang sangat kekanak-kanakan, sering bermalas-malasan, dan suka berkelahi hanya untuk kesenangan dirinya. Namun, keluarganya yang kaya membuat anak itu menjadi "Rock Star" di sekolah sehingga tidak ada yang berani mengganggunya. Hingga suatu hari, sesuatu mengubah garis kehidupannya.
Rin berjalan mondar-mandir di depan kamar Kaito. Ini sudah hampir lima belas menit sejak pertama kali Rin memutuskan untuk mengetuk pintu kamar anak itu, tapi tak kunjung berhasil. Dia malah berakhir berjalan mundar mandir tanpa bisa menemukan gerakan yang tepat untuk bereaksi atau pun kata-kata yang pas untuk diucapkan. Seandainya anak itu keluar, apa yang harus–
Cklek!
"Hiiiy!" Rin langsung bergidig di tempat begitu mendengar suara pintu dibuka.
Saat menoleh, dia melihat Kaito keluar dari kamar sudah dengan pakaian lengkap. Lho... kapan anak itu mandi? Jangan-jangan dia bangun lebih pagi dariku? Batin Rin.
Oh iya, sebenarnya hari ini Rin berencana untuk marah-marah pada Kaito gara-gara kejadian tadi malam. Coba pikir, gadis mana yang tidak kesal saat dia ditinggal pergi dari sebuah date padahal yang mengajak cowok itu sendiri?
Tapi ketika melihat wajah Kaito sekarang, Rin tidak bisa marah. Entahlah. Masalahnya, wajah anak itu terlihat lebih kalem dan cool dari minggu kemarin.
"A-ah, sarapan sudah si–" Rin hendak mengabari Kaito soal makan pagi, tapi kata-katanya langsung terputus. Entah hanya halusinasi atau bukan, tapi dia merasa Kaito tidak mengindahkan keberadaannya. Anak itu berjalan melewatinya begitu saja. Ha? Apa maksudnya itu? Kenapa jadi dia yang seolah-olah ngambek?
Rin segera berbalik untuk menatap punggung Kaito.
"Hm... dia pasti bertengkar dengan Miku tadi malam. Tidak salah lagi."
Kaito memutuskan untuk mengosongkan perutnya dengan menghindari meja makan pagi itu. Hari ini dia benar-benar tidak bersemangat untuk melakukan apa-apa, bahkan berjalan pun rasanya seperti melayang. Sial, ini semua gara-gara anak perempuan. Bisa sekali mereka membulak-balikkan hati pria seenaknya.
Tapi tenang saja, Kaito sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan makhluk-makhluk itu. Sebelum tertidur, dia benar-benar bertekad untuk sama sekali tidak melirik makhluk yang namanya 'perempuan'. Mereka semua brengsek, tidak ada yang baik. Apalagi makhluk mirip gajah yang berambut panjang menyebalkan itu. Cuih! Memikirkannya saja sudah membuat Kaito sakit kepala.
Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, Kaito tak henti-hentinya mendumel dikarenakan sakit kepala yang terus saja menderanya. Dan sakit kepala itu bertambah hebat ketika dia melihat gajah yang dimaksud sedang berdiri tepat di samping gang sempit. Saat melihatnya, Kaito langsung teringat dengan Luka, juga si pria terung yang mirip cewek itu. Amarah pun memuncak kembali.
Untuk menghindari 'kontak' apa pun dengannya, Kaito memutuskan untuk memutar jalan. Tapi untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, gadis itu menyadari keberadaan Kaito dan langsung berlari ke arahnya.
Kaito mendecih pelan setelah mendengar suara langkah kaki tepat di belakang punggungnya. Bagus. Sekarang dia punya bodyguard.
"Kaito, o-ohayo..." sapanya.
Karena kesal saat mendengar suaranya, Kaito mengeluarkan sebuah headset dari dalam tas, lalu memasangnya di telinga untuk mendengarkan musik.
"Ka-Kaito! Aku...!" tiba-tiba Miku berlari ke hadapan Kaito dan menghentikan langkahnya.
"Tch!" anak itu langsung berbalik untuk kembali melewati jalan ke gang sempit. Tapi dia merasa kalau Miku masih berusaha mengejar dengan berjalan cepat di belakangnya.
"Kaito! Tunggu!" serunya.
"Sial!" Kaito pun mempercepat langkahnya, tapi tetap saja dia merasa Miku semakin mendekat. Terpaksa dia harus berlari. Tapi–
"Kai–aaaaaaaah!"
Bruk!
"Are...?"
"Ah... ahahahaha! Lihat! Lihat itu! Biru! Biru!"
"Hahahahahahahahaha!"
Kaito langsung menghentikan langkahnya, lalu menoleh untuk melihat apa yang terjadi. Matanya terbuka lebar begitu melihat Miku jatuh terlungkup. Ditambah lagi roknya tersingkap ke atas. Tentu saja orang lain bisa melihat isi dibalik rok sekolahnya. Spontan Kaito berlari menghampiri gadis itu dan segera membantunya berdiri.
"Lihat apa kalian, orang-orang brengsek?!" seru Kaito sambil melotot ke arah orang-orang yang sedang menertawai Miku. Orang-orang itu langsung lari terbirit-birit begitu melihat tatapan membunuh Kaito.
"Kau itu bodoh apa idiot si–" Kaito hendak memarahi gadis itu kalau tidak melihat luka di bibirnya. Ditambah lagi sekarang mata si gadis sedang berkaca-kaca.
"Hiks... hiks..." tiba-tiba Miku menatap Kaito dengan air mata yang sudah menggantung di kedua pelupuk matanya, "Huaaaa..."
Kaito langsung bingung dengan apa yang harus dilakukan. Eh, tapi kalau dipikir-pikir, dia bisa langsung pergi sekarang juga dan berpura-pura tidak mengenal Miku seperti seharusnya, jadi dia tidak perlu repot-repot mendiamkan gajah cengeng itu, tapi dia bingung kenapa dirinya tidak bisa membiarkan si gadis begitu saja. Cih, sial! Bukankah tadi malam dia sudah bertekad untuk tidak berurusan dengan makhluk merepotkan ini?!
"Kaito, kau lihat ya?" tanya Miku sambil menatap Kaito. Yang ditatap buru-buru memalingkan wajahnya tanpa mengatakan apa-apa. Brengsek, aku memang melihatnya! Sial, sial, sial, rutuk batin Kaito.
"Kaito! Kau lihat tidak?!" tanya Miku dengan nada lebih tinggi.
Kaito mendecak sebal.
"Tidak! Aku tidak lihat! Makanya kalau jalan, lihat-lihat dong, idiot!" serunya.
"Kau pasti lihat!"
"Tidak!"
"Kalau begitu, apa warnanya?!"
"Bir–"
"Tuh 'kan! Kau melihatnya! Huaaa..."
"Hei, hei!" Kaito langsung melotot, "Aku hanya mendengar orang-orang menyebutkannya! Aku benar-benar tidak melihat apa-apa! Sudah jangan cengeng, gajah busuk!"
Miku tetap menangis dan itu membuat Kaito lama-lama jadi kesal. Tch, terpaksa dia harus pergi meninggalkan gadis itu.
Eeeh, tapi tanpa disangka-sangka si gadis malah mengikutinya berjalan di belakang, dan tangisnya tidak hilang sehingga tidak heran kalau Kaito menjadi pusat perhatian publik di sepanjang perjalanan. Sebenarnya mata Kaito yang menyeramkan sudah cukup menjadi senjata untuk menangkis pandangan orang-orang itu, tapi karena 'maskot' di belakangnya terlalu mencolok, tidak sedikit orang berbisik-bisik untuk membicarakannya.
Karena kesal, akhirnya Kaito langsung menghentikan langkahnya sehingga Miku menabrak punggung anak itu secara tidak sadar. Anak itu lalu berbalik dan memandang wajah Miku sambil melotot.
"Berhentilah menangis, gajah cengeng busuk!" bentaknya.
Miku sesenggukan sambil tetap mengelap air mata yang tidak mau kering itu. Kaito mendengus sebal. Baiklah, sebenarnya dia sangat membenci hal ini. Benci sekali. Tapi ini harus dilakukan. Ya. Ya. Harus. Ini hanya untuk membuat gajah cengeng itu berhenti membuat telinganya mendengarkan suara tangisan yang menjijikan, dan juga untuk membuat orang-orang brengsek di sekitar sana tidak memikirkan yang tidak-tidak tentang dirinya. Itu saja. Itu saja.
Setelah menarik napas dalam-dalam, Kaito mengulurkan tangannya ke atas kepala Miku, lalu–
Puk. Puk. Puk.
"Ka...ito..." gumam Miku tanpa mengalihkan matanya dari Kaito yang sedang menepuk-nepuk kepalanya dengan pelan. Setelah beberapa lama, akhirnya gadis itu berhenti menangis.
BUK!
"A–itai!"
Miku langsung meringis ketika tiba-tiba saja Kaito memukul kepalanya dengan tangan yang baru saja dia pakai untuk menepuk-nepuk kepala itu. Miku langsung menatap Kaito dengan tatapan kesal.
"Kau itu kenapa sih?!"
"Kenapa tidak daritadi berhenti menangisnya?! Dasar gajah sialan!" makinya, lalu berlalu dari sana.
Miku meraba matanya yang terasa sudah kering. Benar juga. Memangnya kenapa ya dia tidak bisa berhenti menangis dari tadi? Lalu, kenapa dia berhenti menangis saat Kaito menepuk-nepuk kepalanya? Ah, mou!
"Kaito!" Miku segera berlari mengejar Kaito, "Jangan bilang siapa-siapa ya!"
Kaito memasang tampang jijik ketika mendengar perkataan Miku.
"Berisik ah! Siapa juga yang mau mengotori mulutnya dengan membicarakan hal menjijikan seperti itu!" ketusnya.
Saat Kaito dan Miku tiba di gerbang sekolah, Kiyoteru-sensei yang selalu siap sedia menjadi wasit jadi terbingung-bingung melihat mereka–yang belum lama ini tidak melakukan tanding, melainkan berangkat sendiri-sendiri–datang bersama-sama dalam keadaan normal. Mereka berjalan santai seperti siswa lainnya. Ini aneh. Seharusnya kalau mereka datang berdua, mereka melakukan lomba. Tapi kenapa yang ini tidak?
Sebenarnya Kiyoteru-sensei sudah curiga semenjak dua minggu yang lalu, tapi dia diam saja untuk mengecek perkembangan hubungan keduanya, tapi nampaknya hal itu tidak berjalan dengan baik. Hm... sekarang mungkin adalah saat yang tepat untuk sedikit membantu.
"Stop! Stop!" Kiyoteru-sensei langsung mencegah Kaito melangkah melewati gerbang sekolah dengan menghalangi jalan. Guru berkacamata itu melirik Miku yang juga ikutan berhenti berjalan di belakang Kaito.
"Apa yang terjadi dengan perlombaannya?" tanya Kiyoteru-sensei. Kaito mendecih sebal.
"Minggir," suruh Kaito.
"Kau itu benar-benar, Kaito-kun," si sensei membetulkan letak kacamatanya sambil berkacak pinggang di hadapan Kaito, sedangkan anak berambut biru itu terlihat berani dengan menengadahkan wajahnya menatap Kiyoteru-sensei dengan pandangan menantang.
Ya ampun, sudah lama sekali Miku tidak melihat pemandangan seperti ini. Gadis itu pun berjalan mendekati kedua orang di hadapannya untuk memberikan penjelasan tentang perlombaan yang dimaksud Kiyoteru-sensei.
"Sensei, hari ini kami sedang tidak mood, jadi–" kata-kata Miku langsung terpotong oleh teriakan si sensei,
"MIKU-SAN!" tiba-tiba dia menunjuk Miku ketika gadis itu sudah berada di hadapan mereka berdua. Kaito saja sampai merasa kaget dengan reaksi guru berkacamata itu.
"A-ada apa, Sensei?" tanya Miku.
"Apa yang terjadi denganmu?! Juga seragammu?!" teriak Kiyoteru-sensei yang sepertinya baru menyadari penampilan Miku yang mendekati berantakan. Seragamnya kotor di bagian depan. Lalu di wajahnya ada sedikit bekas luka.
Gadis itu langsung menatap diri dari mulai sepatu sampai pundak, lalu nyengir. Sedangkan si sensei menatap curiga pada Kaito.
"Apa?!" serobot Kaito, tidak terima kalau dia disangka yang tidak-tidak.
"Heh, Kaito, kenapa kau melakukannya?" tanya Kiyoteru-sensei sambil melipat kedua tangannya di dada. Kaito melengos kesal.
"Itu tidak ada hubungannya denganku!" tukasnya, "Sekarang biarkan aku lewat!"
"Tidak bisa!" sergah Kiyoteru-sensei, "Hmm, apa ini? Jangan-jangan kau mau lari dari tanggung jawab?!"
"Hah?!" Kaito melotot heran.
"Sensei, apa sih yang sedang Sensei bicarakan?" tanya Miku. Kiyoteru-sensei menyeringai lebar. Sekarang, baik Kaito maupun Miku langsung merasakan firasat buruk.
"Aku tahu kalau..." Kiyoteru-sensei menunjuk Kaito tepat di depan hidungnya, "KAITO MEMAKSA UNTUK MENCIUM MIKU-SAN!"
Semua murid yang sedang dalam perjalanan melewati gerbang sekolah langsung berhenti melangkah, lalu menatap Kiyoteru-sensei, Kaito, dan Miku yang memang sedang berdiri di tengah-tengah.
Kaito melongo di tempat.
"KENAPA KAU MELAKUKANNYA, KAITO-KUN?!" Kiyoteru-sensei makin berkoar-koar.
"Se-sensei! Ini tidak begitu!" seru Miku.
"KALAU BEGITU, KENAPA BIBIRMU TERLUKA? SUDAHLAH, TIDAK USAH MENUTUP-NUTUPINYA! AKU TAHU KAITO YANG MELAKUKANNYA!"
"Sensei!" jerit Miku, malu.
"KUSO MEGANEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE~!"
Tiba-tiba Kaito melayangkan tendangan pada Kiyoteru-sensei.
TEP!
Sayang sekali. Dengan sekali gerakan, guru muda itu berhasil menangkap kaki Kaito sehingga anak itu tidak bisa menggerakkan kakinya lagi. Sekarang, sementara kumpulan masa berkumpul untuk melihat 'pertunjukan menarik' itu, Miku berusaha untuk melerai keduanya.
"Sensei! Lepaskan Kaito!" seru Miku.
"KUSOOO!" belum cukup kakinya yang ditangkap, sekarang Kaito meninju wajah Kiyoteru-sensei. Tapi tangan si sensei yang lain berhasil menghentikan tinju itu.
"Aduh, bagaimana ini…?" Miku yang sedang kebingungan kemudian memutuskan untuk membantu Kaito dengan berdiri di belakangnya, lalu menarik pundak anak itu untuk ikut membantu melepaskannya dari cengkraman Kiyoteru-sensei, "Sensei! Lepas!"
Melihat ada kesempatan bagus, Kiyoteru-sensei langsung menyeringai lebar. Kaito melotot. Dia tahu si megane itu sedang merencanakan sesuatu.
"Heh, menyingkir dari punggungk–" baru saja Kaito hendak berucap, Kiyoteru-sensei melepaskan cengkramannya pada kaki Kaito, lalu menarik lengan anak itu ke samping sehingga dia berputar dan berbalik menghadap Miku. Belum cukup seperti itu, Kiyoteru-sensei menendang Kaito sehingga dia pun terjatuh dengan menimpa Miku.
BRUK!
"Kyaaaa!"
"Uwoooo!"
"Waaaa...!"
Baik Kaito maupun Miku mematung dengan posisi rawan yang waktu itu pernah terjadi. Bedanya, sekarang Kaito berada di posisi Miku yaitu di atas, dan Miku berada di posisi Kaito yaitu di bawah. Bedanya yang lain, waktu itu hanya hidung mereka yang bersentuhan, kalau sekarang... gyaaaa!
PRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT!
Kiyoteru-sensei langsung meniup peluit dengan keras sampai-sampai semua orang yang menonton harus melindungi telinga mereka dari mendengar suaranya, padahal mereka belum sempat mengambil gambar 'menarik' Kaito dan Miku di sana.
"Bubar! Tontonan sudah selesai! Cepat masuk ke kelas kalian!"
Desahan massa yang kecewa pun terdengar bersahutan.
"Pasti akan kubunuh kau!" Kaito melotot sambil menatap Kiyoteru-sensei yang sekarang ini sedang menemaninya di UKS sekolah.
"Hei, hei, tidak perlu serius begitu," kata Kiyoteru-sensei dengan nada bergurau, lalu menarik tirai yang memisahkan tempat tidur Kaito dengan tempat tidur lain, "Iya 'kan Miku-chan? Tadi itu hanya kecelakaan! Kecelakaan!"
"Aku tidak main-main, aku sudah cukup sabar menghadapi makhluk brengsek sepertimu," tukas Kaito sambil membasahi kapas dengan obat merah, lalu menempelkannya di bibir yang terluka.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan?" tanya Kiyoteru-sensei sambil menyeringai lebar. Kaito mendecih keras sambil menatap lekat-lekat wajah guru menyebalkan itu.
"Kau ingat taruhan kita waktu itu?! Aku benar-benar akan membuatmu membayar semua ini dengan memenangannya!" tandas Kaito, mantap. Kiyoteru-sensei tersenyum mendengarnya, dia lalu menatap Miku yang sepertinya sama sekali tidak berkutik.
"Miku-chan, sepertinya kau harus bekerja lebih keras lagi mulai dari sekarang," katanya.
"Aku benar-benar akan membuat si super idiot itu menjalankan otaknya!" tegas Kaito. Kiyoteru-sensei tertawa keras.
"Baiklah. Kalau begitu tunjukan padaku," seringainya, "Kau tahu, ujian tengah semester akan dilangsungkan sekitar dua bulan lagi. Dan ingat, aku tidak akan menjadikannya mudah untukmu."
Kaito menatap Miku yang sedang memunggunginya, lalu kembali pada Kiyoteru-sensei.
"Lakukan sesukamu," tandasnya.
"Hm, aku suka semangatmu," senyum Kiyoteru-sensei, lalu mengarahkan dagunya pada Miku, "Tapi jangan hancurkan semangat orang lain. Kau harus memberikan mereka waktu untuk mengistirahatkan kepalanya."
Kaito mendecih. Tak ada waktu untuk itu, tukas Kaito dalam hati.
"Ya sudah, kalau begitu cepat bersiap-siap masuk kelas. Aku pergi sekarang. Sampai bertemu lagi," seringai Kiyoteru-sensei, lalu pergi dari UKS.
"Hm... berhasil dengan mulus," gumam guru itu sambil menyeringai lebar.
Kini Kaito hanya berdua dengan Miku, dan keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Kaito mendesah keras sambil menatap langit-langit. Waktu UTS itu memang masih lama, tapi dia benar-benar sangat ingin terbebas dari perasaan terkekang dan tertekan. Meskipun sebelumnya dia telah mengatakan hal-hal seperti 'jangan bicara lagi padaku' atau 'aku tidak butuh orang-orang brengsek seperti kalian' pada Miku, tapi sekarang ceritanya sudah lain.
Dia harus menyimpan kata-kata itu selama setahun. Ya. Cukup setahun saja, dan dia akan benar-benar terbebas dari dua makhluk paling menyebalkan di kehidupan sekolahnya. Meskipun... dia tidak yakin apakah bisa menahan perasaan benci yang mungkin akan dirasakannya selama itu.
"Heh!" bentak Kaito pada Miku yang langsung terperanjat kaget.
"Y-ya?"
"Kau sudah mendengar semuanya 'kan?"
"Y-ya... aku dengar," jawab Miku. Kaito berdiri, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Kalau kau sudah tahu, berarti..." Kaito menarik napas pendek sebelum melanjutkan kalimatnya, "Kau tahu, aku benar-benar benci untuk mengatakan ini, tapi simpanlah dulu semua perkataanku semalam. Untuk membuatmu menjalankan otak sekaratmu, kita butuh komunikasi!"
"..."
"Kau cukup menyimpan perkataanku sampai semua ini berakhir, mengerti?"
"..."
"Hei tuli! Kubilang kau hanya harus menyimpan perkataanku semalam sampai semua ini berakhir! Kau dengar tidak?!"
"..."
Melihat Miku tidak bereaksi apa-apa, Kaito mendecak sebal sambil berjalan ke arah gadis itu, lalu memutar bahu si gadis sehingga dia bisa melihat wajahnya.
"Hah?" Kaito sempat bingung melihat wajah Miku yang super merah, "Kenapa kau?"
Miku segera memalingkan wajah dari Kaito sambil menutupi bagian pipi dengan kedua tangan kecilnya.
"Tidak! Jangan lihat kemari sekarang!" seru Miku.
"Apa sih," dengus Kaito, "Lagipula, apa daritadi kau mendengarkan perkataanku?!"
"Iya, iya, aku dengar kok!" balas Miku, "Sekarang kau cepat keluar dan pergilah ke kelas!"
"Haaah?!" merasa dirinya disuruh-suruh, Kaito langsung marah, "Kau pikir siapa dirimu, hah?! Main suruh saja! Dasar gajah brengsek!"
"Aduh, bisa tidak sih, kau tidak memperpanjang masalah ini?! Cepat saja keluar sana!" seru Miku tanpa bergeming dari tempatnya. Diperlakukan begitu, Kaito justru bertambah kesal.
PAK!
Tiba-tiba Kaito sengaja memukul kepala Miku dengan telapak tangannya. Tentu saja Miku langsung mengerang kesakitan.
"KAITO!" jerit Miku, kesal.
Melihat wajah jelek Miku yang sedang kesakitan, Kaito sedikit menahan tawa. Rasakan itu, gajah idiot!
"Kau ini! Bagaimana mungkin kau bisa bersikap normal setelah kejadian tad–eh?!" Miku menahan kata-katanya. Ah, dia keceplosan!
Kaito mengernyit heran. Kejadian tadi...?
"A-aku akan pergi sekarang!" seru Miku sambil berlari keluar meninggalkan Kaito yang sepertinya baru menyadari sesuatu.
"Tch... sialan," gumam anak itu sambil menutupi bibirnya dengan tangan. Sekarang wajahnya sama-sama memerah dengan wajah Miku beberapa menit yang lalu. Kalau dipikir-pikir, rasanya dia sering mendapat kecelakaan seperti itu. Pertama dengan Rin, lalu sekarang dengan Miku. Brengsek!
Kaito merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang di dalam kelas. Sebenarnya dia sudah mencoba untuk mengacuhkan mereka dengan mendengarkan musik dan membaca buku seperti biasa, tapi rasanya benar-benar tidak menyenangkan.
Hal ini terus terjadi, bahkan selama jam pelajaran. Dan parahnya Kiyoteru-sensei tidak memperdulikan hal itu. Sepertinya dia sengaja. Guru itu terus saja membiarkan semua orang tidak fokus pada pelajaran sampai pelajaran tersebut berakhir. Bahkan dia juga membuat Kaito sendiri tidak konsentrasi pada pelajaran. Yah, meskipun biasanya juga memang tidak, tapi yang ini lebih parah.
"Sebelum kita mengakhiri pertemuan hari ini, aku ingin mengingatkan, kalian jangan sampai melupakan waktu remedial kalian!" seru Kiyoteru-sensei, "Seperti yang kubilang, remedial akan diadakan tiga minggu lagi. Berhubung sekarang baru dua minggu, kalian bisa meminta bantuan pada ketiga orang yang tidak remedial untuk belajar dalam sepekan ini. Aku yakin kalian sudah belajar keras selama dua minggu kemarin sehingga tidak perlu merepotkan tutor kalian di pekan terakhir ini bukan?"
"Yaa, Sensei!"
Kaito melirik Miku yang sekarang ini sedang berbisik-bisik dengan teman-teman ceweknya yang duduk di depan. Mungkin gadis itu sedang berusaha menolak menjadi tutor mereka untuk remedial nanti.
"Heh, gajah idiot!" panggil Kaito, membuat Miku langsung menoleh ke arahnya.
"Apa?"
"Kalau ada yang memintamu menjadi tutor, tolak mereka!"
"Aku memang berencana begitu kok!"
"Kalau begitu kita akan mulai belajar sungguhan dari sekarang!" putus Kaito.
Ya. Pokoknya dia harus menggunakan semua waktu yang ada untuk melatih otak gadis itu agar bisa berjalan di UTS nanti. Dan sebelum saatnya tiba, tidak ada yang boleh mengganggunya.
Tidak seperti biasanya, kelas masih ramai meskipun pelajaran sudah berakhir. Sekarang ini, para siswa sedang sibuk mengerubungi Len dan Miku karena mereka berdua termasuk orang-orang yang tidak ikut remedial dalam tes yang terakhir. Sebenarnya masih ada Kaito, tapi siapa yang berani meminta orang itu menjadi tutornya?
Dan sekarang Kaito sedang memperhatikan Miku yang terlihat sibuk menolak permintaan teman-teman ceweknya dengan susah payah. Bodoh, masa menolak saja susahnya minta ampun, pikir Kaito.
Anak itu lalu melemparkan tasnya ke kepala Miku sehingga semua mata terarah padanya.
"Anak itu tidak boleh diganggu! Sana kalian pergi ke bangku si nanas busuk di sebelahnya!" bentak Kaito.
"Chotto, Kaito, aku sudah kebanyakan di sini," keluh Len, "Kau juga, kenapa diam saja? Daripada begitu tolong ajari mereka juga!"
"Berisik!" serobot Kaito, lalu dia menatap para anak cewek yang sedang mengerubungi meja Miku. Mereka merupakan Yukari, Megumi, Seeu, dan dua orang lagi yang diketahui bernama Neru dan Ia.
"Lalu kalian pikir, apa makhluk idiot ini mampu mengajari kalian? Apa kalian pikir 'berguru' padanya bisa membuahkan hasil?" lanjut Kaito.
Miku langsung mengangkat sebelah alisnya sambil menatap anak bermulut pedas itu dengan pandangan setengah jengkel. Ya.. ya... perkataannya itu memang benar, tapi terasa lebih dari cukup untuk menyayat hati. Sabar Miku... sabar... gadis itu mengusap-usap dadanya sambil berusaha menenangkan diri.
"Tapi..." teman-temannya itu hendak protes, tapi Kaito segera menambahkan perkataannya.
"Kalian tahu, hanya orang tolol yang meminta bantuan pada orang idiot!"
Sret! Kali ini urat Miku benar-benar sudah keluar di dahinya. Berani sekali dia mengatai teman-temannya 't-o-l-o-l'?! Bukankah kata-kata itu kasar sekali?!
GREK!
Tiba-tiba Miku berdiri dari kursinya sambil menatap sengit Kaito.
"Aku bisa mengajari mereka!" serunya. Kaito langsung mengerutkan dahinya dengan heran. Hei, bukankah gadis itu bilang akan menolak mereka?!
"Miku-chan..." semuanya merasa terharu dengan sikap Miku. Tapi Kaito mendecih kesal, lalu memasang tampang meremehkan.
"Apa yang kau bisa untuk mengajari mereka?!" tantang Kaito. Miku langsung terdiam. Heh, beruntung dia tahu bagaimana otak gadis itu bekerja.
"Sebutkan rumus cos2a!" suruh Kaito. Miku langsung berpikir keras.
Dia 'pernah' mengingat yang seperti itu! Tapi... apa...? Kalau tidak salah yang rumusnya bisa jadi banyak itu. Tapi... apa ya...?
"Miku-chan...?" Yukari yang berada paling dekat dengan Miku langsung menyenggol lengan gadis itu karena daritadi dia diam saja, tapi yang disenggol hanya bisa garuk-garuk kepala dengan bingung.
"Lihat, dia tidak mampu melakukan apa-apa!" ujar Kaito, "Dia juga masih kurang dibanding kalian! Jadi dia tidak akan sanggup! Sekarang kalian pergi ke bangku sebelah!"
Sekarang Miku benar-benar kesal dan marah. Dia memang bodoh. Tapi dia bisa mendapatkan nilai yang cukup baik. Bahkan dia yang biasanya berada di posisi paling bawah, kini bisa berada di tengah-tengah.
Miku tahu dia tidak bisa melakukan apa-apa tanpa Kaito, karena yang membuatnya berada di tengah-tengah itu adalah Kaito, tapi saat mendengarnya berkata-kata seperti itu... berkata-kata seperti Miku benar-benar tidak mampu membantu orang lain, rasanya menyakitkan.
"Jangan buang-buang waktu! Ayo cepat pergi!" seru Kaito sambil menarik lengan Miku, tapi gadis itu melepaskannya dengan kasar. Kaito saja sampai kaget dengan kelakuannya.
"Miku-chan..." kali ini Seeu bersuara ketika melihat mata Miku berkaca-kaca.
"Maaf ya..." Miku memaksa untuk tersenyum di depan mereka.
"Brengsek! Cepat ikut!" sekali lagi Kaito menarik lengan gadis itu, tapi lagi-lagi si gadis melepaskan tangannya. Bagus. Sekarang mereka berdua menjadi bahan tontonan untuk semua orang di kelas.
Karena kesal, akhirnya Kaito mencengkram kuat lengan Miku dan menariknya dengan paksa. Miku masih tetap memberontak, tapi tidak sanggup melepaskan cengkraman Kaito. Len sempat ingin melarang Kaito, tapi anak itu sudah menyeret Miku duluan keluar kelas.
"N-nee, Len-kun, apa Miku akan baik-baik saja?" tanya Megumi, khawatir. Len menghela napas berat.
"Entahlah, baru kali ini aku melihat mereka seperti itu," desahnya.
"Lepaskan aku!" Miku menarik diri dari Kaito dengan susah payah setelah mereka berhasil keluar dari gedung sekolah.
"Diam gajah brengsek!" bentak Kaito sambil memperkuat cengkramannya, "Kau itu kenapa sih?! Seharusnya kau menolak permintaan mereka! Bukannya malah bertingkah sok begitu!"
"Aku tidak sok!" jerit Miku. Kaito hendak memarahinya lagi kalau tidak melihat mata gadis itu yang sudah berkaca-kaca dan merah.
"Kau... hiks... kau tidak perlu mengejekku sampai seperti itu 'kan... hiks..." akhirnya Miku sesenggukan. Kaito segera melonggarkan cengkramannya pada lengan Miku. Dia sedikit merasa bersalah. Memangnya tadi dia sudah keterlaluan ya...?
"Kau ini lemah sekali sih, masa' diejek begitu saja jadi cengeng?!" ujar Kaito. Cih, seharusnya bukan kata-kata seperti itu yang mesti keluar untuk menunjukkan rasa bersalahnya, tapi dia tidak punya kata-kata lain lagi untuk diucapkan.
"Hari ini aku belum bisa belajar, maaf," kata Miku sambil mengelap air matanya. Kaito langsung mendecak sebal.
"Jadi kau ingin aku melakukan apa agar kau mau belajar hari ini?!" bentaknya, "Jangan merajuk! Menjijikan!"
"Siapa sih yang merajuk?!" teriak Miku, akhirnya amarahnya keluar juga.
"Idiot! Jelas-jelas itu kau! Masa' kau tidak mau belajar hanya gara-gara hal sepele begitu?! Benar-benar mirip bocah!" tukas Kaito. Miku melotot marah.
"Sebenarnya yang mirip bocah itu siapa sih?!" bentak Miku, "Kau terus saja memaksaku, padahal aku tidak mau!"
"Oh ya?! Memangnya memaksa itu hal yang kekanak-kanakan?!" balas Kaito dengan nada tinggi. Miku melengos kesal.
"Kau tahu? Caramu memaksa sangat berbeda dengan orang lain. Itulah yang membuatku tidak mau melakukannya!"
Kaito mendecih lalu melemparkan tangan Miku dengan kasar. Sepertinya kesabaran anak itu sudah kian menipis.
"Gajah brengsek! Inilah sebabnya aku tidak ingin berhubungan dengan kalian!" maki Kaito, "Tapi satu hal yang harus kau ingat baik-baik!"
Miku memberanikan untuk menatap mata anak biru itu.
"Aku melakukan semua ini karena ingin segera menyingkirkanmu dan guru brengsek itu dari kehidupanku," lanjut Kaito, "Setelah itu, kau boleh mengingat semua kata yang pernah kuucapkan padamu tadi malam, dasar gajah sial!"
Setelah berkata begitu, Kaito berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Miku yang hanya bisa berdiri di tempatnya sambil menunduk.
Rin berjalan gontai keluar dari gerbang sekolahnya. Huff... hari ini benar-benar sangat melelahkan dari pagi. Ada beberapa hal yang menjadi beban di pikirannya. Pertama, dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Kaito yang sikapnya sering berubah-ubah beberapa waktu ini. Kedua, dia harus menghadapi sekolah yang melelahkan. Sebenarnya Rin ingin sekali saja menghirup udara segar dengan pulang ke kampung halamannya, tapi dia tidak boleh melakukan itu sebelum tugasnya selesai.
Baiklah, kalau tidak bisa menghirup udara segar di kampung halaman, setidaknya Rin ingin bisa menghirup udara segar di kota ini barang beberapa menit. Gadis itu pun melangkahkan kakinya untuk pergi ke suatu tempat, tapi seseorang menahannya.
"Rin!"
Rin berbalik. Alisnya langsung terangkat tinggi-tinggi begitu melihat siapa yang datang.
Kaito berjalan sambil menendang batu-batu kerikil yang malang di tengah jalan. Suasana hatinya sedang tidak bagus. Sial, rasanya ingin menghajar orang. Heh, benar juga, sudah lama dia tidak memukuli manusia. Sejak kapan ya...? Yah, pokoknya itu sudah lama sekali.
"Hmm..." Kaito menyeringai. Seringaiannya kali ini berbeda dengan semua seringai yang pernah dia keluarkan. Sekarang wajahnya berubah menjadi seperti monster.
Dengan langkah yang panjang, anak itu pergi ke suatu tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi.
Miku menghela napas panjang sambil menatap bagian lengannya yang memerah akibat cengkraman tangan Kaito. Ya ampun, apa anak itu tidak bisa bersikap sedikit lebih lembut pada anak perempuan? Haaah...
Sebenarnya dari awal Miku merasa canggung dengan Kaito karena kejadian semalam itu, dan dia ingin minta maaf. Eh, siapa sangka malah ada kejadian seperti ini. Sudah tentu kesempatannya untuk memperbaiki hubungan yang rusak dengan Kaito itu mulai terlihat jelas, tapi sepertinya sekarang kesempatan itu sudah hilang.
"Aaaaargh!" Miku mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Tidak! Tidak! Tidak! Apa pun yang terjadi, kesempatan itu tidak boleh hilang!
Miku menghirup napas dalam-dalam, mencoba memantapkan hatinya untuk memutuskan hal ini. Memutuskan untuk tidak menyerah menghadapi Kaito. Ya! Dia harus bertahan!
"Yosh!" Miku menepuk pipinya beberapa kali, lalu berbalik dari arah pulang dan berjalan lurus dengan langkah yang mantap.
"SIALAAAAAAN!" seorang anak berseragam sekolah berlari menerjang Kaito sambil mengangkat sebuah balok kayu yang besar tinggi-tinggi. Seragamnya sudah kotor, banyak mendapat bercak darah, dan sudah hampir mengalami robek-robek. Di bagian lengannya ada logo bertuliskan "L-HS" yang menandakan kalau anak berseragam itu adalah siswa dari sekolah Loid.
TEP! BUAKH!
Kaito dengan cepat menangkap balok kayu itu, lalu memukul tepat ke arah wajah si anak malang dengan tinjunya yang mematikan.
GUBRAAAAK!
Suara gedebuk yang keras pun terdengar.
"Tch... menjijikan!" Kaito mengusap sudut bibirnya yang terkena cipratan darah si anak malang, "Cepat laporkan pada bosmu kalau aku sedang mencarinya!"
Si anak malang tidak membalas perkataan Kaito dan hanya meringis kesakitan sambil memegangi wajahnya yang terkena pukulan Kaito. Merasa perkataannya tidak didengar, Kaito berjalan mendekati anak itu dengan balok kayu besar yang sekarang sudah berpindah tangan padanya.
"Cepat angkat kaki sialanmu itu dan pergi pada bos brengsekmu sekarang!" bentak Kaito sambil menendang perut anak malang itu.
"Uhuk...!"
"Anak sial! Apa kau tuli?! Cepat pergi!" bentak Kaito, tapi si anak itu keadaannya semakin parah sehingga tidak mampu lagi berkutik.
"Tch!" Kaito yang sedang kalap berniat memukul anak itu dengan balok kayunya, tapi tiba-tiba–
"KAITO SHIOOOOOOON!"
Kaito spontan menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh ke asal suara. Seringai buas langsung terpampang jelas di wajahnya. Ya, memang itulah yang dia harapkan. Sang pimpinan akhirnya menampakkan dirinya.
Selama ini, saat Kaito menghajar kebanyakan orang, orang-orang malang yang dihajarnya itu adalah anak buah dari si pimpinan 'geng brutal' SMA Loid. Pernah suatu ketika Kaito berkelahi dengannya. Tapi itu sudah lama sekali, bahkan sebelum mereka menginjak usia bangku SMA. Yah, bisa dibilang, anak itu adalah 'musuh bebuyutan' Kaito.
Namanya adalah Yuuya. Dan kini di belakangnya, berdiri banyak orang dengan wajah-wajah sangar. Di antara mereka salah satunya adalah seseorang yang pernah Kaito temui di suatu tempat.
"Heh... benar juga," gumam Kaito sambil menatap orang itu, "Kau si pengecut sialan yang ketakutan dengan bocah perempuan waktu itu. Tch, kurasa kau tidak perlu datang kemari!"
"Apaaa?!" orang jangkung yang dimaksud Kaito langsung berurat.
Dia memang ingat. Saat itu, makhluk biru di hadapannya sedang berjalan pulang sambil mendengarkan musik. Dia memang sudah merencanakan sesuatu untuk mencegat–yang menurutnya–anak brengsek itu, tapi kemudian muncul seorang gadis pemenang olimpiade judo yang juga berasal dari sekolahnya, sehingga muncul kekhawatiran tidak bisa mengalahkan mereka berdua sekaligus.
"Yuuma," lerai Yuuya sambil merentangkan sebelah tangannya untuk menghalangi si jangkung yang berniat maju beberapa langkah.
"Hoo... rupanya nama si brengsek itu Yuuma? Cukup punya nyali juga kau ikut datang kemari," ucap Kaito, lalu melemparkan balok kayu itu jauh-jauh ke belakang punggungnya. Sekarang dia akan bertarung dengan tangan kosong.
"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Yuuya. Kaito mendengus.
"Tentu saja untuk menantangmu, brengsek!"
Yuuya tersenyum mengejek.
"Dari dulu kau selalu mencari-cari alasan untuk berkelahi. Itulah sebabnya kau tidak mempunyai banyak orang sepertiku," ujarnya. Kaito melengos tak peduli.
"Aku bukan orang brengsek yang mengurung budak dalam sangkar!" tukasnya.
"Oh ya?" seringai Yuuya, "Lalu bagaimana dengan keluargamu? Bukankah semua keluarga Yakuza mengurung budak dalam sangkar?"
Kaito langsung menatap Yuuya dengan tajam.
"Aku tidak suka disebut keluarga Yakuza," ujar Kaito, dingin. Yuuya tersenyum merendahkan.
"Kalau begitu jangan menoleh saat aku memanggilmu dengan nama 'Shion'," tegasnya. Orang-orang di belakangnya langsung tertawa-tawa keras.
Tap!
Kaito langsung melompat dan bergerak cepat ke arah Yuuya yang sedang tanpa persiapan.
BUAAAGH!
"Brengsek! Jangan bicara seolah-olah kau tahu semua tentangku!" seru Kaito.
"Kuso!" maki Yuuya. Semua orang masih melongo menatap Kaito yang sekarang ini sudah berada di hadapan mereka. Dia cepat sekali!
Kaito menatap satu per satu orang depannya dengan tatapan membunuh. Sejurus kemudian dia menyeringai lebar.
"Ayo kita mulai!"
"HORYAAAAAAA!" orang-orang itu pun serempak menyerang Kaito.
"Ah, benarkah?" tanya Rin dengan raut wajah yang sangat terkejut, "Ke-kenapa dia melakukan itu?! Kenapa?!"
Len yang baru saja selesai menceritakan kejadian antara Kaito dan Miku sepulang sekolah itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Rin mengembungkan pipinya dengan kesal.
"Apa sih?! Tadi pagi dia mengacuhkanku!" dumelnya. Len mengangkat sebelah alisnya sambil menatap gadis itu.
"Apa kau ingat kalau tugasmu ini hanya untuk mendapatkan bonus?" tanya Len, "Kulihat sepertinya kau sudah terlalu 'menikmati'-nya."
Rin langsung menoleh menatap anak itu dengan wajah memerah.
"Me-menikmati apanya?! Kau juga tahu aku sedang berusaha!" seru Rin. Len hanya geleng-geleng kepala dengan prihatin.
"Aku sudah tahu kau suka padanya saat pertamakali kau menghubungiku untuk membantu," katanya. Rin langsung menjitak kepala Len dengan kesal.
"Suka apanya?! Apanya yang suka, hah?!" teriak Rin. Len manyun dengan sebal.
"Kau menyukai Kaito! Hal itu sudah terlihat jelas di wajahmu!" balas si bocah shota.
"Ap–!" Rin hendak menyanggah, tapi tak bisa. Aaah, kini dia yakin kalau wajahnya sudah sangat memerah. Len mulai bersikap jahil begitu menyadarinya.
"Hei, kalau kau tidak segera menggaetnya, dia akan diambil duluan oleh Miku!" cengirnya. Rin langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk memukul Len, tapi tiba-tiba–
"HORYAAAAAAA!"
Rin mendengar suara orang banyak dari suatu tempat di dekat sekolah. Suatu tempat yang dekat dengan di mana gadis itu berada sekarang.
"Apa itu?!" tanya Len dengan panik, "Apa ada orang-orang yang sedang berkelahi?"
"Jarang sekali hal ini terjadi," gumam Rin, lalu langsung menarik lengan Len dan membawanya ke sumber suara.
"Hei, hei! Kenapa aku juga harus ikut-ikutan sih?!" protes Len.
BAAAK! BUUUK! BAAAK! BUUUK!
Kaito memukul kesana kemari dengan lihai. Meskipun tidak sedikit pukulan yang mengenai dirinya, tapi anak itu terlihat menikmati hal ini dan semakin detik semakin terlihat ganas. Sebagian orang mulai mundur karena ketakutan saat melihatnya.
BUAGH!
"Argh!"
Yuuma terpental jauh karena tendangan Kaito. Saat hendak berdiri, tak sengaja dia melihat balok kayu yang dibuang Kaito sebelum mereka berkelahi.
"Kali ini mati kau!" gumamnya.
Rin dan Len sampai tepat waktu ketika melihat Yuuma mengambil balok kayu itu untuk memukul Kaito dari belakang. Saat itu Kaito sedang dikepung dan tidak memiliki pertahanan yang baik jika diserang dari arah belakang.
"Kaito!" jerit Rin, lalu langsung berlari ke arah Kaito setelah melewati beberapa orang. Len bingung di tempat.
"Ya ampun! Panggil bantuan Len! Panggil!" seru Len pada dirinya sendiri sambil celingak-celinguk degan panik, "Aduh, kenapa tidak ada orang normal di sekitar sini?! Ah, polisi! Ya, telpon polisi!"
Len segera mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi polisi. Setelah itu, dia pergi dari sana untuk mencari bantuan.
"Bertahanlah! Kaito! Rin!"
Rin sampai bertepatan dengan Yuuma yang sedang melayangkan pukulan dengan balok kayu itu. Rin hendak menahannya, tapi tiba-tiba Kaito berbalik dan berhasil menangkap balok kayu itu, lalu menendang Yuuma dengan keras sehingga si balok kayu kini berada di tangannya.
Rin sempat kaget karena ternyata Kaito berhasil menghentikan orang yang tadi hendak menyerangnya dengan balok kayu. Semua orang langsung berhenti menyerang setelah si balok kayu berpindah tangan pada Kaito. Mereka tahu anak itu akan lebih berbahaya dari yang tadi.
Rin masih berdiri di hadapan Kaito, tapi entah dia tidak mengenali atau tidak menyadari keberadaan Rin di sana, dia melewati gadis itu begitu saja. Lalu dengan tatapan bengis, dia berdiri tegap di hadapan Yuuya sambil mengangkat balok kayu itu tinggi-tinggi.
"Mau main curang? Oke, kuladeni, dasar makhluk brengsek!" maki Kaito seraya mengayunkan balok kayu berukuran besar itu ke arah Yuuma yang kini sudah tidak bisa berkutik lagi. Dan–
BUAAAAAGH!
.
.
.
Deg!
Mata Kaito membesar. Kedua bola matanya membulat dengan sempurna. Dia terkesiap begitu melihat seorang kepala pirang dengan pita putih di atasnya menjadi objek pukulan maut bongkahan kayu besar itu. Perlahan, sebuah cairan merah kehitaman merambat dari bawah pita, membuat putihnya jadi ternoda.
Bruk!
Gadis berambut pirang itu pun ambruk ke tanah. Semua orang yang ada di sana langsung panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Bertepatan dengan itu, terdengar suara sirine dari jauh.
"Pergi! Cepat! Lari!" seru Yuuya.
Semua siswa SMA Loid yang ada langsung berlari kesana-kemari mencari tempat berlindung yang aman dari polisi.
Dalam keadaan panik begitu, tiba-tiba Len muncul bersama beberapa orang dewasa. Anak itu melihat keadaan Rin yang sedang terlungkup di atas tanah dengan darah di sekitar kepalanya. Kaito berada di hadapannya, tapi anak itu hanya berdiri mematung tanpa melakukan apa-apa. Dia menggenggam sebuah balok kayu panjang yang bernoda darah di tangan kanannya.
"Rin..." gumamnya. Dia langsung berlari ke arah Rin, "RIN!"
Kaito hanya terdiam saat polisi berdatangan dan langsung membekuknya. Badannya dijatuhkan ke atas tanah dan kedua tangannya ditarik ke belakang untuk diborgol. Anak itu benar-benar tidak bisa mencerna keadaan ini karena masih terbayang-bayang akan kepala Rin yang baru saja dia pukul. Saat polisi membawanya ke dalam mobil pun, Kaito terlihat pasrah dan hanya bisa mengikuti langkah para polisi yang menggiringnya.
Tapi sebelum Kaito dimasukkan ke dalam mobil, Len mengamuk dan terus berteriak di hadapan Kaito.
"Apa yang kau lakukan padanya, hah?!" teriak Len sambil menarik kerah baju Kaito. Anak berambut biru itu hanya menatap Len dengan tatapan kosong. Di wajahnya sama sekali tak ada niat untuk bicara.
"Sebegitu bencinyakah kau pada Rin sampai-sampai tega melakukan itu?! Dasar brengsek!" makian Len semakin menjadi-jadi, tapi tetap saja Kaito tidak merespon apa pun.
Matanya mengarah pada Rin yang saat ini sedang ditangani oleh beberapa orang sambil menunggu datangnya ambulans. Berbagai perasaan berkecamuk menjadi satu. Berbagai pikiran saling beradu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Rin...
Apakah dia... akan mati?
Miku keluar dari supermarket dengan membawa sebuah jinjingan berisi ice cream untuk Kaito. Ceritanya 'kan hari ini Miku akan pergi ke rumah anak biru itu, berbicara berbelit-belit untuk memintanya mengajari, lalu mereka akan belajar dan berinteraksi seperti biasa.
Gadis itu tersenyum senang di sepanjang perjalanan. Namun, senyumnya segera memudar saat melihat sebuah mobil ambulans dengan sirinenya yang meraung-raung lewat bersama dengan beberapa mobil polisi. Matanya mengernyit heran. Polisi dan ambulans? Apa sudah terjadi sesuatu?
Miku mengedikkan bahu sambil kembali memandang jalan yang disusurinya, tapi sesaat sebelum itu, dia merasa telah melihat sesosok manusia yang dia kenal berada di salah satu mobil polisi yang mengiringi ambulans di depannya. Ah... bukankah itu...
Miku segera berbalik untuk menatap mobil-mobil yang sudah menjauh itu.
"Kaito?!"
Len menunggu dengan tidak sabar di depan ruang ICU. Anak itu terus mondar-mandir dengan panik dan bingung. Haruskah dia mengabari keluarganya di sana? Jika dia memberitahukan kejadian ini, mereka pasti akan sangat bersedih. Ditambah lagi keadaan Rin belum pasti setelah hampir satu jam berada di ruang ICU itu.
"Sial! Sial!" umpat Len.
Tidak lama berselang, datanglah Bossu bersama beberapa orang Yakuza dan polisi di belakangnya.
"Bossu-san!"
"Bagaimana keadaan Rin?!" tanya Bossu. Len menggeleng lemah.
"Masih belum ada kabar. Sudah hampir satu jam dia di dalam," jawabnya. Bossu menghela napas berat.
"Len..." panggilnya, "Maafkan aku."
Len menggeleng pelan, "Bukan salahmu, Bossu-san. Rin saja yang terlalu ceroboh."
Bossu menepuk pundak Len dan menatapnya dengan serius,
"Aku akan benar-benar melakukan sesuatu dengan anak itu," tegasnya, "Karena itu maafkanlah juga dia."
Len hanya bisa balas menatap Bossu yang terlihat sangat serius dengan ucapannya.
"Kabari aku kalau Rin sudah dipindahkan dari ICU," kata Bossu. Len mengangguk.
"Ayo pergi," orang tua itu pun pergi bersama orang-orang yang tadi datang bersamanya.
Kaito menatap langit-langit bangunan sempit yang menjadi tempat dirinya menginjakkan kaki saat ini. Sekarang, anak itu tidak peduli lagi jika dia memang harus menetap di tempat itu selamanya. Karena memang tempat itulah yang pantas menjadi rumah bagi orang-orang semacam dirinya. Penjara. Ya… penjara.
"Hoi, keluarlah! Kau bebas!" tiba-tiba seorang polisi datang dan langsung membuka pintu pagar besi itu, "Kau sudah ditebus, tapi jangan harap untuk merasa bebas setelah ini!"
Kaito hanya terdiam. Kakinya terlalu kaku untuk digerakan. Sial, baru kali ini dia merasa begitu lemah.
"Cepat keluar!" titah polisi itu, tapi Kaito diam saja di dalam.
Karena Kaito tidak mau beranjak dari tempatnya, si polisi langsung menarik lengan anak itu dengan kasar dan membawanya keluar dari penjara untuk bertemu dengan seorang makhluk tua yang botak dan berbadan besar di depan kantor polisi.
"Kuso Jiji.." gumam Kaito yang tak didengar siapa pun. Anak itu memandang Bossu yang sedang berdiri tegap di hadapannya. Dari sorot matanya saja, Kaito sudah tahu apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya.
Miku yang sedang duduk di ruang tamu merasa tidak sabar dengan kepulangan Bossu. Beberapa saat yang lalu, gadis itu tiba di depan gerbang rumah Kaito. Dia hendak mengabari Bossu kalau dirinya melihat Kaito berada dalam mobil polisi, tapi para Yakuza yang berada di rumah memberitahunya kalau sudah ada polisi yang datang untuk memanggil Bossu ke kantor polisi.
Rupanya orang itu benar-benar Kaito. Tapi, apa yang sudah dilakukannya? Perasaan Miku benar-benar tidak enak. Ah, Bossu-san... cepatlah pulang...
"Ojou-sama, sepertinya Bossu-san sudah sampai," tiba-tiba salah seorang Yakuza mengabarinya. Miku langsung berdiri tegap untuk melihatnya sendiri lewat jendela.
Benar saja. Bossu keluar dari mobil bersama Kaito. Lalu dengan anehnya, orang tua itu mendorong-dorong Kaito yang terlihat pasrah untuk berjalan, bukan ke rumah, melainkan memutar untuk pergi ke belakang. Miku mengernyit.
"Ada apa?" tanyanya, tidak mengerti. Yakuza itu menatap Miku dengan bingung.
"Se-sepertinya Bossu-san.." kalimatnya menggantung. Lalu air mukanya langsung berubah drastis. Sekarang perasaan Miku benar-benar gelisah.
"Kenapa? Sudah berapa kali hal ini terjadi?" tanya Miku. Entah mengapa dia menanyakan hal seperti itu, tapi melihat gelagat para Yakuza , sepertinya hal ini sudah pernah terjadi sebelumnya.
"Mungkin... tiga kali, jika ditambah dengan yang ini," jawab Yakuza itu takut-takut, "Ah, tapi Ojou-sama, kusarankan agar menunggu di sini saja."
"Memangnya apa yang akan dilakukan Bossu-san?" tanya Miku dengan waswas. Tiba-tiba saja gadis itu merasa kalau sesuatu yang buruk akan terjadi pada Kaito.
BUGH! BUGH! BUGH! BUAGH!
Kaito terlempar sampai badannya membentur dinding saat sebuah tongkat panjang yang besar itu mengenai tubuhnya berkali-kali. Anak itu merasa pandangannya mulai berkunang-kunang.
Belum cukup dengan hal itu, Kaito merasakan perutnya dihantam dengan sangat keras sampai-sampai anak itu merasakan lambungnya pecah karena sakit yang sangat luar biasa. Setelah terbatuk dengan keras, dia merasa kesulitan bernapas.
"Sudah berapa kali kubilang padamu, jangan sampai melakukan hal-hal sembrono yang bisa membunuh orang!" seru Bossu sambil mengetukkan tongkat yang dipakainya untuk memukul tubuh Kaito tepat di depan wajah anak itu.
Kaito yang masih mencoba untuk bernapas, dipaksa untuk menghentikannya begitu Bossu menarik kerahnya dan membuatnya berdiri di depan si orang tua. Aliran udara lagi-lagi tersumbat.
BUAGH!
Lagi-lagi perutnya dihantam, membuat Kaito terjatuh sambil memuntahkan darah. Dia tidak bisa melawan. Tidak, dia tidak mampu untuk melawan. Bahkan, kalaupun dia mampu, anak itu tidak akan melawan. Semua anggota tubuhnya mungkin akan menolak untuk itu.
"Apa masih belum cukup bagimu setelah kuberikan kebebasan?!" Bossu membentaknya lagi.
BUGH!
Orang tua itu menendang wajah Kaito dengan keras sampai-sampai rasanya tulang leher Kaito mau patah.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Rin?!" tanya Bossu, dengan suara yang menggelegar. Kaito mencoba untuk bangkit, namun Bossu memukulnya dengan tongkat.
"Ayo bicara! Kenapa kau berniat mencelakai Rin?!"
Kaito hanya meringis tanpa merespon apapun. Amarah Bossu semakin membesar dibuatnya. Dia mengacungkan tongkatnya tinggi-tinggi, lalu memukulkannya beberapa kali ke bagian wajah dan badan Kaito tanpa jeda.
Darah pun bercipratan kesana kemari. Tak ada kesempatan untuk mengerang ataupun berteriak kesakitan.
"Bicaralah! Bicaralah, Kaito!"
BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH!
Kaito merasakan semua badannya remuk. Pandangannya sudah kabur. Yang bisa dia lihat hanyalah bayangan kaki Bossu yang sedang berada di hadapannya. Anak itu sudah tidak bisa merasakan tangan dan kakinya. Perlahan, kesadarannya mulai hilang. Tapi, tiba-tiba saja dia melihat ada cahaya samar-samar yang masuk menyilaukan matanya.
Miku sudah tidak tahan lagi menunggu. Ini sudah setengah jam lebih, bahkan hampir satu jam saat Bossu tiba di halaman rumah. Dari tadi perasaannya gundah dan gelisah. Dan sekarang, perasaan ini sudah tidak bisa ditolelir lagi.
"Aku ingin menemui Bossu-san!" kata Miku sambil berjalan keluar ruang tamu, namun para Yakuza menghalanginya.
"Sebaiknya Ojou-sama menunggu sampai beliau datang kemari," ujar salah satu dari Yakuza itu. Miku menggeleng tegas.
"Tidak! Aku juga ingin bicara pada Kaito!"
"Ojou-sama..."
"MINGGIR!"
Suara Miku yang sangat menyeramkan spontan membuat para Yakuza terperanjat di tempat. Gadis itu segera menerobos dan keluar dari rumah. Dia lalu berlari ke bagian belakang rumah dan menemukan sebuah dojo tua di sana. Miku memang belum pernah mengitari rumah Kaito sehingga dia baru tahu kalau ternyata ada bangunan lain di tempat itu.
Miku berjalan pelan-pelan mendekati dojo. Semua pintunya tertutup rapat, tapi gadis itu bisa mendengar sedang ada perkelahian di dalamnya.
"Jangan-jangan..."
Tanpa pikir panjang, Miku menguping dari balik pintu dan mendengar banyak hal. Dari suara-suara yang didengarnya, sepertinya itu bukan 'perkelahian', tapi satu orang sedang memukuli orang lainnya, dengan kata lain, 'menyiksa'. Tunggu...! Apakah Bossu-san...
"Apa yang sudah kau lakukan pada Rin?!"
Tiba-tiba Miku mendengar suara Bossu yang sangat menggelegar. Gadis itu sampai kaget dibuatnya. Belum selesai dia mengendalikan diri, suara orang tua itu terdengar lagi.
"Ayo bicara! Kenapa kau berniat mencelakai Rin?!"
Deg!
Miku spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan begitu mendengar perkataan Bossu barusan. Apa itu tadi...? Kaito... berniat mencelakai... Rin?! Tidak mungkin!
"Bicaralah! Bicaralah, Kaito!"
BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH!
Miku sudah tidak bisa lagi menahan diri begitu mendengar suara penyiksaan itu. Dia langsung menendang pintu sehingga pintu dojo tua itu roboh. Di bagian dalam, keadaannya sangat gelap. Tapi karena pintu terbuka lebar, cahaya bisa masuk dan membuat Miku bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sana.
"Kai–!" Miku terkesiap hebat.
Dia melihat darah di sekujur tubuh Kaito. Kemeja yang seharusnya berwarna putih pun kini hampir semua berwarna merah. Belum lagi wajahnya dipenuhi lebam dan bengkak. Yang bisa Miku pahami sekarang adalah keadaan Kaito benar-benar parah dan mengenaskan.
"Miku?" gumam Bossu-san sambil menatap Miku dengan pandangan kaget, "Kenapa... kau ada di sini?"
"Ka..i..to..." ucap Miku, terbata. Gadis itu merasa matanya memanas. Air mata pun jatuh berlinangan di pipinya.
Akhirnya, kaki-kaki Miku refleks berlari mendekati Kaito. Gadis itu sudah tidak bisa lagi menahan emosinya begitu melihat keadaan Kaito dari dekat.
"Kita butuh ambulans! Kaito harus dibawa ke rumah sakit!" jerit Miku. Melihat hal itu, Bossu pun hanya terdiam di tempatnya.
"Bossu-san!" teriak Miku.
"MIKU!"
Tiba-tiba Bossu membentak gadis itu, membuatnya sertamerta terdiam.
"Biarkan dia!"
Miku menatap Kaito yang sepertinya sedang dalam keadaan sadar dan tak sadar dengan cucuran air mata yang tidak mau berhenti.
"Tapi Kaito–"
"Kubilang biarkan dia!"
"Bossu-san!" jerit Miku, sekeras-kerasnya, "Apa yang kau pikirkan?! Kenapa kau membuatnya jadi seperti ini?!"
"Dia berniat mencelakai Rin! Mana mungkin aku diam saja melihatnya membahayakan nyawa orang lain!"
"Tapi yang kau lakukan juga sama! Bahkan kau sudah mencelakai Kaito!" balas Miku, "Lagipula tidak mungkin Kaito berniat mencelakai orang!"
"Sebaiknya kau pulang, Miku-chan," ucap Bossu sambil membuang tongkat yang dari tadi dipegangnya, lalu melangkah keluar dojo.
Miku menatap Kaito yang sekarang ini sedang berada dalam pangkuannya. Dia benar-benar bingung sekarang. Apa yang harus dia lakukan? Memanggil ambulans? Bisa saja, tapi nanti apa yang telah dilakukan Bossu bisa terungkap. Hal ini sama saja dengan melakukan penyiksaan terhadap anak. Lalu, Miku harus bagaimana?!
Len menunggui Rin yang masih belum siuman semenjak dipindah dari ICU. Sebuah selang infus terpasang di tangan kanannya, ada juga selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Kini Rin terlihat lemah. Bibirnya pucat, warna kulitnya putih dan sedikit membiru karena kekurangan banyak darah. Belum lagi kepalanya ditutupi dengan perban.
Kaito. Nama itu menggema di kepalanya. Sebenarnya Len merasa sangat marah pada anak itu. Dia tahu kalau ini semua hanyalah sebuah kecelakaan karena tidak mungkin Kaito berniat untuk memukul Rin. Meskipun dia tahu kalau Kaito adalah seorang anak yang kasar, tapi tidak mungkin dia sampai berniat mencelakai. Meski begitu, tetap saja anak itu yang telah menyebabkan semua ini terjadi. Dia memukul Rin dengan balok kayu yang dipegangnya saat itu. Tidak salah lagi.
Len membulak-balikkan ponselnya. Dia ragu untuk mengabari keluarga Kagamine. Apakah mereka akan menuntut keluarga Shion setelah mengetahui hal ini? Meskipun mereka terikat dengan perjanjian, tapi kalau masalahnya sudah serumit ini...
Sreeeg!
Tiba-tiba seseorang memasuki ruang rawat Rin. Len menoleh.
"Bossu-san," gumam Len sambil berdiri dari kursi tempatnya duduk di samping Rin. Bossu melangkah mendekati Len.
"Maaf, aku datang terlambat. Kau sudah memberitahuku kalau Rin sudah dipindah dari ICU, tapi saat itu aku sedang melakukan sesuatu," ucap Bossu, panjang lebar. Len hanya mengangguk-angguk.
"Aku sudah menghubungi keluarga Kagamine," lanjut Bossu yang langsung mengagetkan Len. Bossu mengangguk.
"Aku tahu kau tidak akan berani melakukannya, jadi aku yang menghubungi mereka," jelasnya.
"Lalu... apa kata mereka?" tanya Len, hati-hati. Bossu menghela napas panjang.
"Sebenarnya aku agak terkejut dengan jawaban ayahmu," katanya, "Dia bilang, perjanjian antara Kagamine dan Shion akan dirundingkan ulang setelah Rin sembuh. Sampai saat itu tiba, mereka menyerahkan Rin sepenuhnya pada keluarga Shion. Dengan kata lain, saat ini Rin menjadi tanggung jawabku."
Len mengangguk pelan.
"Mereka bilang akan melihat keadaan Rin," lanjut Bossu, "Keluargamu akan tiba besok malam."
"Baiklah. Terima kasih, Bossu-san.."
Dengan bantuan beberapa orang, akhirnya Miku bisa membuat Kaito tertidur tenang di atas tempat tidurnya. Para maid ternyata tidak tinggal diam setelah meyakini bahwa keadaan Kaito akan sangat parah setelah Bossu keluar dari dojo.
Saat Bossu meninggalkan dojo, para maid itu sudah bersiap-siap dengan peralatan 'serba medis'. Saat Miku bingung dengan apa yang harus dilakukan, para maid dan beberapa orang yakuza langsung membawa Kaito ke dalam rumah dan melakukan pertolongan pertama dengan membersihkan luka dan noda darah. Selanjutnya mereka mengobati semua luka fisik di badan dan wajahnya.
Sebenarnya Miku ingin membawa Kaito ke rumah sakit, tapi mengingat bahwa hal ini akan mengancam kedudukan Bossu, gadis itu tidak bisa berbuat lebih jauh. Akhirnya yang dia lakukan hanya menunggui Kaito sampai anak itu siuman.
Miku terus berada di samping Kaito dengan perasaan cemas dan waswas. Gadis itu juga terus memikirkan mengapa Bossu bisa sampai melakukan hal ini pada Kaito. Setahunya, mereka memang punya masalah sehingga tidak bisa akur, tapi Miku tak menyangka kalau ternyata Bossu bisa menjadi seseorang yang menyeramkan sehingga tega melakukan hal sekasar ini pada anaknya sendiri.
"Ojou-sama," tiba-tiba seorang maid masuk ke dalam kamar Kaito sambil membawa sebuah nampan berisi makanan.
"Ojou-sama, sekarang sudah waktunya makan malam," kata maid itu.
Miku menatap keluar jendela. Ah, benar. Saking giatnya menunggui dan mengkhawatirkan keadaan Kaito, gadis itu tidak sadar kalau hari sudah semakin larut.
"Ah, tunggu!" Miku menahan kepergian si maid.
"Hai?"
"Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu," kata Miku.
Berhubung Bossu sedang tidak ada di rumah sekarang ini, Miku ingin mengetahui lebih banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara orang tua itu dan Kaito.
Miku sempat diberitahu oleh beberapa orang maid bahwa setelah Bossu keluar dari dojo, dia sempat menggunakan telpon, setelah itu dia keluar dari rumah dan belum kembali sampai sekarang.
"Ojou-sama, saya tahu sebenarnya ini kurang sopan untuk menolak, tapi–"
"Kumohon!" seru Miku, "Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan hubungan mereka!"
Si maid terlihat bimbang sejenak, sedangkan Miku menunggu dengan wajah memelas.
"Saya harap Ojou tidak menceritakan hal ini pada siapa pun," akhirnya maid itu menyerah, "Saya mendengar ini dari beberapa orang yang sudah lama bekerja pada Bossu-san."
Miku segera menganggukkan kepala.
Bossu berada di perjalanan menuju ke rumah setelah jam menunjukkan pukul satu dini hari. Semalaman dia berada di rumah sakit untuk menunggui Rin, tapi kemudian Len memintanya untuk pulang karena merasa tidak enak.
Bossu pun mengerti sehingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang dari rumah sakit. Sebenarnya sepanjang perjalanan pulang, orang tua itu tidak bisa berhenti memikirkan keadaan Kaito. Ada banyak hal yang sangat mengganggu pikirannya. Pertama, dia merasa sangat berdosa dan bersalah sudah membuat Kaito tersiksa, tapi bagaimanapun juga sesuatu terus mendorongnya untuk melakukan itu.
Kedua, dia terus berpikir keras mengapa Kaito bisa menjadi penyebab keadaan kritis Rin sekarang. Sebenarnya Bossu tidak ingin mempercayai tuduhan polisi tentang Kaito, bahwa anak itu memang berniat mencelakai Rin. Tapi saat melihat Len yang saat itu terlihat sangat terpukul, Bossu tidak bisa untuk tidak mempercayai tuduhan itu. Hal inilah yang menyebabkan Bossu harus memberikan 'pelajaran' bagi Kaito untuk yang kesekian kalinya.
Ketiga, sebenarnya ayah mana yang tega melakukan hal seperti itu kepada anaknya? Di luar, orang tua itu memang terlihat kokoh dan kejam, tapi di hatinya, dia menangis keras.
Kini Bossu sudah kembali mengotori tangannya. Dia juga harus memastikan bahwa ini adalah kali terakhir dia melakukan itu pada Kaito. Bossu teringat pada saat pertamakali dia memukuli Kaito karena anak itu hampir saja mencelakai seorang temannya saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Kala itu, ibunda Kaito yang biasa dipanggilnya Kaa-chan, sudah meninggal dunia. Bossu masih sangat ingat setelah kepergian ibunya tercinta, Kaito menjadi lebih menutup diri, pendiam, dan kasar. Padahal sebelumnya dia begitu periang dan ceria. Tidak jarang pula dia menangis dan bersikap manja. Namun setelah ibunya pergi, Bossu tidak pernah lagi melihat Kaito menangis. Dulu, anak itu meluapkan kesedihannya dengan menangis keras dan lantang, tapi kemudian, semuanya berubah dalam sekejap. Kaito yang tidak pernah menangis lagi, kini melampiaskan kesedihannya dengan kekerasan.
Saat masih sekolah dasar, Kaito pernah membuat gigi depan salah seorang temannya rontok semua lantaran anak itu mencemooh Kaito yang tidak lagi memiliki seorang ibu. Saat itulah Bossu mulai memperlakukan Kaito dengan keras. Mula-mula, Bossu hanya tega dengan menampar. Tapi kemudian saat menginjak usia SMP, Kaito bertingkah semakin liar sehingga dikeluarkan dari sekolah. Pada saat itulah amarah Bossu memuncak dan mencapai ubun-ubun sehingga dia memukuli Kaito sampai anak itu tidak bisa lagi melawan.
Setelah itu, Kaito dipindahkan ke sekolah yang lain dan kembali membuat masalah. Namun kali ini tidak sampai dikeluarkan mengingat prestasinya yang sangat gemilang. Itulah kali kedua Bossu memukuli Kaito hingga babak belur. Sejak saat itu sikap Kaito lebih berubah drastis. Dia yang awalnya tidak berani melawan Bossu, berubah menjadi seorang pembangkang sehingga tidak jarang keadaan di rumah ramai dengan suara teriakan mereka berdua.
Dan sekarang, setelah menginjak usia remaja di SMA, anak itu sudah mulai lagi mencari masalah. Tapi... Bossu tahu sikap Kaito. Kalau anak itu merasa bersalah dan terguncang akan sesuatu, dia tidak akan melawan meskipun dirinya membentak ataupun memukul. Hari ini, melihat sikap Kaito yang seperti itu, Bossu berpikir kalau Kaito merasa sangat terguncang. Mustahil dia akan merasa seperti itu jika memang benar-benar berniat mencelakai Rin.
Bossu meremas kedua tangannya. Seharusnya dia tidak melakukan ini pada Kaito. Seharusnya dia bisa menahan perasaannya. Bossu memang memiliki watak dengan kepedulian yang tinggi dengan orang lain, sehingga dia tidak bisa menahan diri ketika melihat waut wajah Len yang benar-benar terpukul dengan keadaan Rin. Akhirnya Bossu mengubur perasaan sayangnya pada Kaito sehingga membuat keadaan Kaito menjadi seperti sekarang ini.
Lalu, bagaimana keadaannya sekarang ini...?
"Cepatlah sedikit!" suruh Bossu pada supirnya dengan tidak sabar.
"Hai!"
Kaito membuka matanya yang terasa berat perlahan-lahan. Pandangannya memang masih kabur, tapi dia bisa melihat ada seserang sedang tertidur di sampingnya. Melihat warna rambut yang hijau dan bentuk kepalanya yang mirip dengan micky mouse, Kaito tahu kalau itu adalah Miku.
Anak itu mencoba menggerakkan tangannya untuk menyentuh Miku, tapi dia masih belum bisa bergerak dengan bebas. Tangan dan kakinya sempat mati rasa sebelum dia kehilangan kesadaran.
"Ga..." anak itu juga mencoba mengeluarkan suara, tapi tenggorokannya terasa sakit. Mungkin karena sudah banyak terbatuk-batuk dengan mengeluarkan darah.
Kaito memutuskan untuk kembali memejamkan mata, tapi kemudian dia merasakan sesuatu bergerak. Spontan anak itu membuka mata. Samar-samar dia melihat Miku mengangkat kepalanya.
Tak lama, Kaito merasakan tangan gadis itu menggenggam miliknya. Terasa hangat... Sesuatu pun membawa tangannya untuk bergerak membalas genggaman itu.
Miku menggenggam tangan Kaito dengan lembut, lalu merasakan gerakan jari-jari anak itu balas menggenggam.
"Kaito...?" gadis itu berdiri dan bergerak mendekati Kaito untuk memastikan kalau anak itu sudah siuman. Begitu melihatnya membuka mata, Miku benar-benar merasa lega. Hampir saja dia memeluk Kaito kalau tidak segera menyadari keadaannya yang sedang parah.
"Yokatta..." Miku mulai menangis, "Yokatta, Kaito..."
Anak itu tidak berkutik. Hanya bibirnya bergerak-gerak. Miku segera mendekatkan telinganya untuk mendengar apa yang dikatakan Kaito.
"…idiot..." desisnya, "Jangan cengeng..."
Mendengarnya bicara begitu, Miku tersenyum dengan air mata yang terus berlinangan di pipinya. Gadis itu pun mengangguk-angguk.
"Kau harus tidur lagi, Kaito," kata Miku sambil mengelus kepala Kaito dengan lembut, "Harus banyak-banyak istirahat..."
Kaito sedikit menggelengkan kepalanya, lalu kembali menggumam. Miku segera mendekatkan kepalanya pada Kaito.
"Bagaimana keadaan... si domba busuk...?"
Miku terdiam. Dia bingung menjawab pertanyaan Kaito. Sungguh, dia tidak tahu apakah Kaito benar-benar sudah melakukan sesuatu yang buruk pada Rin sehingga Bossu memukulinya seperti ini. Tapi...
"Un, keadaannya sudah membaik," dusta Miku sambil memasang senyum. Kemudian terdengar desahan halus dari bibir Kaito. Tak lama, anak itu kembali terpejam.
Miku menghela napas panjang sambil memandangi Kaito. Anak itu... meskipun keadaannya sudah sekarat, tetap saja masih bisa memperdulikan orang lain. Apakah ini sikap Kaito yang sebenarnya…?
Krieeet...
Tiba-tiba pintu terbuka. Miku langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang.
"Bossu-san..." gumam Miku, lalu berdiri dan memberi salam pada Bossu yang sekarang sedang berjalan mendekati Kaito.
"Bagaimana keadaannya?" tanya orang tua itu.
"Tadi dia sempat siuman," balas Miku sambil menatap Kaito.
Bossu menghela napas sambil menjatuhkan diri di atas lantai. Miku juga ikut duduk di sampingnya.
"Kau tahu, Miku-chan, anak ini benar-benar kuat," katanya sambil menatap Kaito. Miku memperhatikan raut wajah Bossu yang sedikit menyiratkan kekhawatiran.
"Ya..." balas gadis itu. Saat melihat Bossu seperti ini, Miku sangat ingin menanyakan sesuatu.
"Bossu-san," panggilnya. Bossu menoleh.
"Sebenarnya... apa yang sudah terjadi...?" tanya Miku, takut-takut. Bossu menghela napas panjang.
"Kau belum tahu? Rin sekarang sedang berada di rumah sakit. Aku baru kembali dari menjenguknya," jawab Bossu, lalu memandang Kaito, "Di kepalanya ada luka benturan, dan Kaito yang menyebabkannya."
"Eh...?"
"Polisi bilang Kaito memukulnya dengan sebuah balok kayu. Sewaktu mereka datang ke tempat kejadian, Kaito memang sedang memegang sebuah balok kayu yang ada bekas darahnya," jelas Bossu, "Dan itu adalah darah Rin."
"Uso..." gumam Miku. Bossu mengangguk.
"Kupikir juga memang tidak mungkin kalau Kaito melakukannya dengan sengaja," ujarnya, lalu menatap Miku, "Saat di dojo, dia sama sekali tidak melawan dan terlihat sangat terguncang."
Miku menatap Kaito.
"Benar," gumamnya, "Tidak mungkin Kaito berniat melukai Rin. Ini pasti hanya kecelakaan..."
"Aku benar-benar merasa buruk sudah melakukan ini pada Kaito.." gumam Bossu sambil menunduk dalam-dalam. Miku merasa sedih melihatnya. Gadis itu lalu mengusap-usap punggung orang tua itu, mencoba untuk menenangkannya.
"Terima kasih, Miku-chan," katanya sambil tersenyum sedih, "Aku sudah banyak melakukan kesalahan dalam hidupku sehingga membuatnya menjadi seperti sekarang ini."
"Maksud… Bossu-san?"
"Aku yakin semua masalah ini memang disebabkan oleh Kaito. Rin hanyalah terlibat di dalamnya," jelas Bossu, "Kau tahu 'kan kalau dia suka berkelahi?"
Miku terdiam sejenak, lalu mengangguk membenarkan. Bossu mendesah panjang.
"Dulu, dia bukan seseorang seperti yang kau kenal saat ini," katanya mulai bercerita.
Miku duduk diam sambil mendengarkan. Sebenarnya, dia sudah tahu hal ini dari maid yang mengantarkan makanan padanya beberapa saat yang lalu; tentang Kaito kecil yang bersikap riang dan ceria, lalu menjelang dewasa setelah ibunya meninggal, anak itu berubah menjadi pendiam dan kasar. Juga tentang kejadian 'mendidik dengan jalan kekerasan' yang dilakukan Bossu padanya ketika anak itu menginjak usia SMP. Miku tahu semuanya.
Kaito kecil memandang keluar jendela kamar dengan mata berbinar-binar, melihat taburan bintang di langit malam. Malam ini langit terlihat begitu cerah dengan kerlap-kerlip sang bintang. Benar-benar indah.
"Hora, Kaito, saatnya tidur!" terdengar suara lembut seorang perempuan dari luar kamar.
"Kaa-chan! Lihat! Hari ini langitnya ramai sekali!" serunya.
Seorang wanita cantik berambut biru panjang berjalan masuk menghampiri Kaito di jendela.
"Waaa... benar, Kaito-chan," balas wanita itu sambil ikut memandang taburan bintang di langit. Tiba-tiba ada satu bintang jatuh melintas.
"Ah, nagareboshi!" seru Kaito. Wanita itu tersenyum sambil mengelus kepala Kaito.
"Ayo kita buat permohonan," katanya.
Kaito melihat wanita cantik yang merupakan ibunya itu menutup mata sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Kaa-chan...?" tanya Kaito saat melihat ibunya membuka mata setelah tidak berkutik beberapa lama.
"Kaito, apa kau tahu apa yang tadi Kaa-chan mohonkan?" ibunya balik bertanya sambil menatap lembut Kaito. Anak itu menggeleng heran, lalu bertanya,
"Kenapa Kaa-chan membuat permohonan saat melihat nagareboshi?"
"Kalau pada saat itu kita membuat permohonan, maka itu akan menjadi nyata."
Kaito menatap taburan bintang itu,
"Memangnya permohonan apa yang Kaa-chan buat tadi?"
Wanita cantik itu tersenyum sambil mengelus kepala Kaito,
"Kaa-chan memohon agar selalu berada di samping Kaito," katanya. Kaito tertawa, lalu memeluknya dengan erat.
"Dan satu lagi..." katanya. Kaito langsung mengangkat wajah untuk menatap ibunya yang cantik itu.
"Apa itu?" tanya Kaito.
"Kaa-chan juga memohon agar sekarang Kaito mau pergi ke tempat tidur dan bermimpi yang indah!" senyumnya sambil mengangkat Kaito yang sedang tertawa-tawa dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Tapi, Kaa-chan," sela Kaito saat ibunya membetulkan letak selimut, "Katanya kalau kita bermimpi, berarti tidur kita tidak nyenyak."
Sang ibu tertawa kecil, "Anak pintar."
"Kalau begitu Kaa-chan memohon agar tidurku tidak nyenyak?" Kaito berubah cemberut. Ibunya langsung mencubit pipi anak itu dengan gemas.
"Kadang-kadang kita butuh memimpikan sesuatu," katanya sambil tersenyum, "Ayo sekarang tidur. Besok Kaa-chan akan membelikan ice cream untukmu."
"Besok kita jalan-jalan?" tanya Kaito dengan mata berbinar-binar. Ibunya mengangguk.
"Un," katanya, lalu mencium dahi Kaito, "Oyasuminasai, Kaito-chan."
Kaito merasakan cahaya matahari menyinari wajahnya. Saat membuka mata, dia sudah mulai bisa melihat dengan jelas. Matanya lalu mengitari sekeliling. Lagi-lagi dia menemukan kepala hijau micky mouse itu di sampingnya. Anak itu sedikit menoleh untuk menatap makhluk hijau itu. Ternyata dia melihat ada bekas-bekas air mata di kedua pipinya.
Apa ini? Apa dia semalaman menangis untukku? Batin Kaito. Seulas senyum–yang entah mengapa bisa keluar–pun terpampang di wajahnya. Sekarang anak itu sudah bisa menggerakkan kepalanya meskipun masih terasa sakit dan pening, jadi dia bisa menoleh dan menatap wajah Miku sepuasnya.
"Heh, gajah idiot..." panggilnya. Sekarang suaranya juga sudah bisa keluar dengan jelas, jadi dia tidak perlu berbisik-bisik lagi jika ingin mengatakan sesuatu.
"Heh, gajah idiot!" ulangnya, tapi Miku tidak kunjung membuka mata.
Kaito mendesah panjang sambil menatap gadis itu. Hm... rambutnya panjang sekali. Kalau digerai, pasti akan kelihatan bagus. Seperti ibunya. Semalam dia bermimpi melihat bintang, dan ibunya ada di sana. Saat melihat rambut Miku yang panjang, Kaito langsung teringat dengan mimpi itu. Menyedihkan. Dalam mimpinya, dia kembali teringat dengan permohonan sang ibu ketika melihat nagareboshi.
'Agar selalu ada di samping Kaito.'
Kaito mendecih pelan. Eh, siapa sangka suara decihan itu langsung membangunkan Miku dari tidurnya.
"Ah, Kaito, kau sudah bangun," kata Miku sambil mengucek matanya, "Kau lapar?"
"Ambilkan aku makanan!" suruh Kaito sambil menutup matanya. Miku sedikit tersenyum mendengar suara normal anak itu. Syukurlah, dia sudah terlihat lebih baik.
Len melihat tangan Rin bergerak-gerak perlahan. Meskipun begitu, tidak ada gerakan pada matanya. Mata itu masih tertutup rapat. Len segera menggenggam tangan gadis itu dengan erat.
"Rin..." panggilnya.
Dokter sempat mengatakan kalau Rin masih akan terus pingsan selama dua hari lagi. Beruntung tidak terjadi pendarahan pada otaknya karena luka benturan di kepala gadis itu tidak terlalu dalam dan hanya mengakibatkan luka luar–yang masih perlu dijahit. Itu artinya, Rin hanya membutuhkan waktu untuk berisirahat sehingga keadaannya akan kembali normal, meskipun sebelumnya sudah banyak kehilangan darah.
"..to..." Rin mendesis. Len segera bangkit dari tempat duduk dan menatap wajah Rin dengan cemas.
"Rin?" panggilnya. Dia merasakan tangan Rin balas menggenggam tangannya.
"Kai..." lagi-lagi Rin mendesis. Len mengerutkan dahinya. To…kai? Tokai? Kaito?
Len kemudian mendesah panjang. Ternyata dia hanya mengigau. Haaah... syukurlah dia sudah bisa sampai mengingau. Itu artinya gadis itu memang sudah tidak apa-apa. Hmm… kali ini saat mendengar nama Kaito disebut, Len tidak marah lagi. Dia percaya kalau ini adalah hal yang mustahil bila Kaito berniat berbuat jahat pada Rin.
Ngomong-ngomong soal Kaito... kenapa dia tidak datang untuk mengunjungi Rin ya? Ah tapi melihat sikapnya yang seperti itu, sepertinya menjenguk Rin adalah hal yang sangat tidak mungkin bagi Kaito. Ditambah lagi, dia teringat dengan perkataan Bossu yang terdengar sangat serius beberapa waktu lalu.
'Aku akan benar-benar melakukan sesuatu dengan anak itu.'
"Apa kupastikan saja ya...?" gumam Len.
"Aaaa..." Miku menyodorkan sesendok nasi ke mulut Kaito.
"Bisa tidak sih, tidak usah pakai 'aaa', 'aaa', menjijikan!" ketusnya, tapi tetap melahap nasi yang diberikan Miku. Gadis itu tersenyum.
"Iya, iya, maaf," katanya, "Kau harus menghabiskan semuanya ya."
Kaito menghela napas panjang, lalu memanggil Miku, "Heh, gajah busuk..."
"Ya?" balas Miku sambil menatap wajah Kaito.
"Kau tahu apa yang sudah kulakukan 'kan?" tanyanya. Miku terdiam.
"Aku sudah melakukan sesuatu yang buruk," lanjut Kaito, "Tapi kenapa kau masih mau berada di sini? Kau tidak takut padaku?"
Miku menunduk, sedangkan Kaito tetap menunggu jawaban yang keluar dari mulut gadis itu. Tak lama kemudian, si gadis mengangkat wajahnya dengan seulas senyum yang lebar.
"Aku ingin selalu berada di samping Kaito," jawabnya.
"NA–?!" Kaito langsung terperanjat kaget. Dan gara-gara gerakan yang tiba-tiba itu, bagian pinggangnya langsung terasa sakit. Spontan Kaito meringis.
"Kaito! Kau tidak apa-apa?!" seru Miku, khawatir. Gadis itu sedikit melihat rona merah di wajah Kaito. 'Ah, jangan-jangan gara-gara perkataanku barusan?' tanya Miku dalam hati.
"B-brengsek! Jangan mengatakan hal bodoh dengan tiba-tiba begitu!" bentak Kaito dengan kesal.
"Maaf..." gumam Miku, "Habisnya aku memang ingin ada di samping Kaito."
"Bod–"
Cup!
Kaito mematung saat tiba-tiba Miku mencium pipinya. Dia setengah memutar kepala untuk menatap gadis berambut teal itu. Sekarang wajah si gadis terlihat merah merona.
"Aku tidak takut pada Kaito," senyumnya, "Aku tahu kau tidak bermaksud melakukan kejahatan. Aku percaya padamu."
"Da-dari pada itu!" Kaito langsung menyerobot dengan suaranya yang ketus, "Aku ingin tahu bagaimana keadaan si domba busuk itu sekarang! Antar aku ke tempatnya!"
"Eh? Eh? Kau mau pergi dengan keadaan begini? Bukannya badanmu masih sakit? Sudah jangan memaksakan diri!" cegah Miku, "Lagipula sekarang Rin sedang berada di rumah sakit. Aku yakin keadaannya sudah lebih baik!"
"Kau tidak tahu kalau kemarin aku–" tiba-tiba Kaito menggantung kalimatnya, membuat Miku menunggu dengan penasaran.
"Kenapa...?" tanya gadis itu, hati-hati. Kaito menatap Miku.
"Antarkan aku ke rumah sakit tempatnya dirawat sekarang!" seru Kaito sambil berusaha bangkit dengan panik. Miku langsung menahannya dengan susah payah.
"Berhenti bergerak, Kaito!" cegah Miku.
"Minggir!"
"Kaito! Diamlah!"
"KUBILANG MINGGIR, GAJAH BRENGSEK–urgh!" Kaito langsung memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pening. Sial... dia harus cepat-cepat mengetahui keadaan Rin yang sebenarnya. Mereka semua tidak tahu kalau Rin saat itu benar-benar dalam keadaan mengenaskan.
"Kaito...?" tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sudah familiar di telinganya. Kaito menoleh.
"Len...?" tanya Miku begitu melihat Len berdiri di ambang pintu kamar Kaito yang entah sejak kapan terbuka.
Anak pirang itu lalu berjalan cepat mendekati tempat tidur Kaito, lalu memperhatikan wajahnya dengan tatapan khawatir sekaligus heran.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Len. Kaito memalingkan wajahnya,
"Kau tahu, aku sudah membuat saudara brengsekmu itu sekarat! Sekarang pukul aku kalau kau mau!" ketusnya.
Miku langsung menatap Len dengan cemas. Dia takut kalau anak itu akan melakukan sesuatu pada Kaito meskipun kelihatannya kedatangan bocah shota itu ke sini bukan untuk melakukan hal yang tidak-tidak.
"Jangan bilang kalau Bossu-san yang sudah melakukannya?" tanya Len.
"Eh...?" Miku berubah menatap Len dengan tatapan heran, "Len... kau..."
"Aku tahu," sahut Len sambil menatap Miku sekilas, lalu kembali menatap Kaito, "Bossu-san bilang akan melakukan sesuatu padamu. Tak kusangka, dia..."
"Sekarang tak usah pedulikan aku! Bagaimana keadaanya?!" tanya Kaito dengan nada ketus bercampur khawatir. Len menghela napas.
"Kau ini... padahal aku mengkhawatirkanmu," desahnya, "Rin tidak apa-apa. Tidak terjadi sesuatu yang serius padanya. Dokter bilang dia hanya butuh istirahat dan akan segera siuman dalam dua hari."
"Dua hari?" tanya Kaito, "Kau bilang dia tidak apa-apa, tapi kenapa sampai dua hari tidak sadar?"
"Dia sudah kehilangan banyak darah dan butuh waktu untuk memulihkannya. Entahlah aku tidak terlalu mengerti, tapi yang jelas Rin akan baik-baik saja," jelas Len, panjang lebar, "Maksud kedatanganku kemari adalah untuk memastikan keadaanmu."
"Hah?!" teriak Kaito. Miku langsung mendesah lega sambil mengelus dadanya. Syukurlah...
"Juga untuk minta maaf," katanya sambil tersenyum, "Yah, waktu itu aku sedang kalap sehingga membentak-bentakmu."
Kaito hanya melengos. Melihat sikap Len sekarang, akhirnya dia 100 persen yakin kalau keadaan Rin sudah baik-baik saja. Syukurlah, brengsek!
"Aku juga tadi ingin menjelaskan pada polisi soal kecelakaan yang menimpa Rin," jelas Len sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana, "Aku bilang kau tidak sengaja memukul Rin karena saat itu kau sedang dikepung oleh orang-orang berbahaya–itu sih menurut skenarioku, tapi setelah dipikir-pikir, kurasa itu benar. Dan yah, ternyata kau sudah ditebus."
"Len!" Miku menatap Len dengan pandangan berbinar-binar. Miku maju beberapa langkah dan hampir saja memeluknya.
"Kenapa? Kau ingin memelukku, Miku-chan?" tanyanya dengan nada menggoda. Miku nyengir lebar. Kaito yang melihatnya langsung mencibir kesal.
"Sini!" Len merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Kaito langsung melotot memperhatikan tingkah Miku dan Len. Cih, sepertinya gajah idiot itu berniat menerima 'rentangan tangan' si kepala nanas. Sial. Lagi-lagi dia merasa marah dan kesal dengan keduanya. Brengsek! Kenapa lagi ini?!
Saat Miku ikut merentangkan kedua tangannya, Kaito benar-benar merasa tidak rela sehingga dia terpaksa melompat di antara Miku dan Len sebelum mereka berdua berpelukan. Dan sial sekali hal itu membuat semua badannya kembali diserang rasa sakit.
"Kaito!" seru Len dan Miku berbarengan.
"Kalian orang-orang brengsek!" maki Kaito sambil meringis kesakitan. Len dan Miku tertawa sedikit sebelum membantu anak itu kembali ke tempat tidurnya.
Malam hari tiba di bandara kota Crypton. Dari pesawat yang beberapa menit lalu mendarat, munculah dua orang manusia berbalut busana hitam. Yang pria memakai setelan jas, dan yang wanita memakai gaun. Yang wanita terlihat cantik dengan rambut blonde panjangnya. Warna rambutnya yang mencolok itu pun langsung menarik perhatian para Yakuza Shion yang sekarang ini sedang berada di bandara, berniat menjemput kedatangan keluarga Kagamine.
"Bukankah itu Kagamine?" tanya seorang Yakuza. Bossu yang sekarang ini baru keluar dari mobil langsung bisa melihat keluarga Kagamine dari jauh.
"Ah! Rento-san! Rinka-san!" serunya.
Para Yakuza Shion langsung bersiap menyambut kedatangan keluarga Kagamine. Rento Kagamine yang merupakan pemimpin yakuza Kagamine langsung menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Dia pun mengajak wanita cantik di sampingnya untuk berjalan menghampiri Bossu.
"Kazuto-san," sapa Rento setelah sampai di hadapan Bossu. Orang tua yang aslinya beranama Kazuto itu langsung membungkuk.
"Ah, Kazuto-san, tidak perlu," wanita cantik yang dikenal Bossu bernama Rinka itu langsung mengangkat badan Bossu, "Len sudah mengabari kami kalau keadaan Rin sekarang sudah jauh lebih baik."
"Meskipun begitu, tetap saja kalian harus segera melihatnya di rumah sakit," ucap Bossu, lalu memepersilahkan keduanya untuk naik ke dalam mobil yang sudah disiapkan.
Len menatap Rin tanpa berkedip dengan mulut menganga lebar. Dia baru kembali dari rumah Kaito setelah mengobrol panjang lebar dengannya, juga Miku. Anak itu sangat terkejut ketika kembali ke rumah sakit untuk kembali menunggui Rin.
Hap! Hap! Hup! Hup! Hap! Hup! Hap! Hup!
"Tambah!" seru Rin sambil mengacungkan mangkuk nasinya yang 'entah-yang-keberapa-yang-pasti-sudah-banyak' itu.
Ternyata anak itu sudah sadar dan sedang makan dengan lahapnya bagaikan manusia yang belum diberi makan selama satu abad.
Sang suster yang sepertinya terpaksa memberikan Rin nasi dan ayam goreng yang entah dibelinya dari mana itu terus memenuhi mangkuk Rin dengan nasi.
Mata Len lalu beralih menatap sang suster dengan bingung.
"Aaa..ano…" si suster bingung untuk menjelaskannya, "Se-sebelum anda datang, Kagamine-san memang sudah sadar dan begitu bangun, dia langsung memintaku membelikannya ini dan itu…"
Len kembali menatap Rin yang nampak sudah lebih sehat. Tidak. Bahkan sudah kelihatan sehat kalau perban di kepalanya dilepas. Keajaiban apa yang terjadi pada Rin sampai-sampai perhitungan seorang dokter kalah telak dengan kenyataan ini?
"Sejak kapan kau bangun?" tanya Len, setelah mengatasi rasa kagetnya melihat kondisi Rin.
"Tadi sore," jawab Rin disela-sela makannya. Len geleng-geleng kepala.
Tuk!
Akhirnya Rin selesai makan dan menyimpan mangkuknya di atas nampan. Lalu tersenyum ke arah si suster yang langsung terlihat ketakutan.
"Arigatou," cengir Rin, "Lain kali aku tidak akan membengkokkan tiang infus lagi."
Len melotot menatap Rin. Apa?! Membengkokkan tiang infus katanya?!
Setelah si suster keluar, Len langsung mencubit kedua pipi Rin.
"Apa yang sudah kau lakukan pada suster itu, haaaah? Dasar anak bandel!" kata Len dengan gemas. Rin mengaduh kesakitan sambil menepuk-nepuk tangan Len.
"Adudududuh! Aku hanya menyuruhnya membelikanku nasi dan ayam goreng untuk makan! Itu saja!" kata Rin.
"Iya, karena kau mengancamnya akan menjadi seperti selang infus yang bengkok itu kalau kau tidak membelikan apa yang kau mau 'kan?" Len menarik-narik pipi Rin sampai pipinya kelihatan merah.
"Habisnya! Habisnya aku tidak mau makan bubur rumah sakit!"
"Rin…?" tiba-tiba suara seseorang membuat Len dan Rin menoleh.
"Okaa-san?!" tanya kedua anak itu berbarengan.
Seorang wanita cantik berambut blonde yang mereka sebut 'Okaa-san' pun langsung menghambur memeluk Rin.
"Kaa-san! Kenapa ada di sini?" tanya Rin, tak habis pikir.
"Kenapa katamu? Ya jelas untuk mengetahui bagaimana keadaanmu! Rupanya kau tidak apa-apa," jawab ibunya, lalu dia beralih menatap Len, "Serius kemarin dia kritis, Len?"
"Ha? Em.. yaaah…" Len bingung harus bagaimana menjelaskannya.
Kemarin keadaan Rin memang kritis, toh kecelakaan yang membuatnya seperti itu saja terjadi kemarin. Tapi kalau melihat keadaan gadis itu sekarang, rasanya tidak mungkin kalau kemarin dia kritis.
"Rin-chan?" kali ini terdengar dua suara bersamaan dari ambang pintu. Begitu Rin menoleh, dia melihat Bossu dan ayahnya sedang bengong.
"Ada apa denganmu? Harusnya kau sadar dua hari lagi," kata Bossu, lalu melirik Len untuk meminta pendapatnya dibenarkan, "Iya 'kan, Len?"
"Ha? Ah, ya, ya, itu benar," sahut Len sambil mengangguk-angguk.
"Ya ampun, anakku memang hebat!" seru Rento sambil menghampiri Rin, dan mengajaknya bertos high-five. Gadis itu segera menyambutnya sambil senyum.
"Kapan kalian tiba di sini?" tanya Len.
"Lho? Bukannya kemarin aku sudah mengabarimu kalau Rento-san dan Rinka-san akan tiba malam ini?" tanya Bossu. Len garuk-garuk kepala.
"Aku tidak ingat," cengirnya. Rento langsung menjitak kepala pirang anak itu sambil tertawa.
"Dasar pikun!"
"Otou-san! Sakit!" dumel Len. Rin dan Rinka tertawa memperhatikan mereka berdua.
Bossu tersenyum memperhatikan semuanya. Entah keajaiban apa yang terjadi di sini, tapi itu membuat hatinya lega. Sekaligus… sedih. Eh? Benar juga! Dia harusnya sedih! Kenapa? Karena orang tua itu sudah menghajar Kaito yang telah membuat Rin semacam koma… tapi hanya dalam satu malam saja. Lalu, buat apa dia membuat Kaito babak belur kalau ternyata Rin hanya kritis selama semalam?!
"Ya ampun…" gumam Bossu sambil mengusap-usap kepala botaknya, "Apa yang sudah kulakukan..?"
Tapi… dia tidak perlu khawatir. Ya. Ya. Tidak perlu khawatir. Dari dulu orang tua itu tahu kalau luka-luka Kaito akan cepat sembuh. Entah kekuatan apa yang ada pada dirinya, tapi hal itu memang benar.
"Kazuto-san, ada apa?" tanya Rento begitu melihat Bossu terbengong-bengong seorang diri.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya senang melihat kalian bahagia seperti ini," jawab Bossu sambil tersenyum.
"Hahahaha! Terima kasih!" kata Rento sambil menepuk-nepuk kepala Len. Rinka tersenyum sambil menatap keduanya.
"Mudah-mudahan Rin-chan bisa cepat keluar dari rumah sakit setelah ini," kata Bossu.
"Oh ya," kata Rinka, lalu beralih menatap Rin, "Len belum menceritakan bagaimana kau bisa masuk rumah sakit."
Rin tersenyum.
Lima hari kemudian, Kaito sudah merasa sehat dan bisa berjalan-jalan dengan bebas meskipun beberapa luka memar di tubuhnya masih belum menghilang. Selama lima hari itu Miku sering datang ke rumah untuk mengecek keadaannya. Dan gadis itu datang pada siang hari setelah jam sekolah usai.
Hari ini hari sabtu, kebetulan sekolah libur, sehingga kini Kaito bisa bebas pergi kemana saja. Dia mendapat kabar dari Len kalau Rin masih berada di rumah sakit. Dan rencananya hari ini dia akan mengunjungi rumah sakit itu. Sebenarnya Kaito sudah lama ingin pergi, tapi Miku terus saja mencegah anak itu karena memang kondisinya masih belum membaik.
Nah, setelah lima hari kemarin, ini adalah hari pertama Kaito menginjakkan kaki di lantai bawah. Dan dia sangat terkejut ketika melihat ada dua orang asing yang mirip dengan Rin dan Len sedang duduk di teras depan sambil mengobrol. Sebenarnya Kaito tidak peduli, tapi mengingat kedua orang itu benar-benar mirip dengan Rin dan Len, anak itu memutuskan untuk menyapa mereka berdua.
"Ano…"
Kedua orang itu langsung menoleh begitu mendengar suara berat Kaito.
"Ah, kau pasti… Kaito Shion?" tanya yang laki-laki. Dia mirip dengan Rin. Kaito mengangguk.
"Anda…"
"Rento Kagamine, dan aku, Rinka Kagamine," sekarang yang wanita angkat suara. Kalau diperhatikan, wanita itu mirip dengan Len.
"Kagamine…" gumam Kaito. Setelah bengong cukup lama, Kaito langsung membungkuk di hadapan mereka berdua.
"Sumimasen deshita!" serunya. Wanita paruh baya yang dikenal Kaito bernama Rinka itu pun segera menepuk pundak Kaito.
"Kami sudah mendengar semuanya dari Rin," katanya sambil tersenyum, "Kau tidak sengaja melakukannya."
"Jadi, dia sudah sadar sekarang?" tanya Kaito, yang tidak sadar kalau ini sudah hari kelima Rin berada di rumah sakit dan tentunya gadis itu sudah siuman dari keadaan kritisnya.
"Ya. Dia sudah sehat," jawab kedua orang itu.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Kaito langsung melesat meninggalkan Rinka dan Rento, membuat kedua orang itu lalu saling melempar senyum misterius.
Kaito berlari-lari di koridor rumah sakit, berusaha mencari pintu bernomor 21 yang menjadi jalan masuk ke ruang rawat salah seorang pasien bernama Kagamine Rin.
Setelah sekian lama berlari, akhirnya Kaito menemukan kamar itu. Dari sana, dia bisa melihat Rin yang sekarang sedang terduduk di ranjang sambil menulis sesuatu di atas kertas. Tanpa menunggu lagi, Kaito segera menggeser pintu dengan kasar.
SREG!
"Eh?!" Rin langsung terperanjat kaget.
Saat melihat Kaito berjalan menghentak ke arahnya, Rin merasa takut sehingga dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya dibalik kertas yang sedang dipakainya untuk menulis. Tapi…
Greb!
Rin merasakan kedua tangan Kaito merengkuh badannya.
Deg!
Gadis itu langsung membeku di tempat. Sekarang dia sedang berusaha mencerna apa yang terjadi; Kaito tiba-tiba datang ke ruang inapnya, lalu tanpa berkata-kata langsung memeluknya. Semula pelukan itu terasa kuat, tapi perlahan-lahan dia merenggang dan membuat Rin bisa bernapas dengan lega. Sikapnya ini... benar-benar aneh dan tidak biasa! Apa maksudnya…?!
"Ka…ito…?" tanya Rin, terbata.
"Domba idiot…" gumam Kaito tanpa melepas pelukannya, "Idiot…"
Rin mengangkat wajahnya sehingga kini dagunya berada di atas bahu Kaito.
"Maaf…" gumam Rin.
Sekarang gadis itu sudah mulai bisa mengendalikan diri. Dia tahu kalau Kaito sedang mengkhawatirkannya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Kaito. Rin mendengungkan suaranya sambil balas memeluk Kaito.
"Menurutmu bagaimana?" gadis itu balik bertanya. Dia lalu mendengar suara nafas Kaito yang menunjukkan kalau sekarang anak itu sedang tersenyum.
"Kupikir kau masih sekarat," katanya. Rin langsung menepuk punggung anak itu dengan kesal.
"Apa sih? Kau mau kalau aku masih sekarat sampai sekarang?" dumelnya, "Lagipula seharusnya aku sudah keluar dari rumah sakit ini, tapi karena kalau jalan-jalan masih pusing, makanya aku masih harus rawat inap. Puas kau?"
"Maaf…" gumamnya. Rin langsung mengernyit dengan bingung. Gadis itu lalu mengangkat kepalanya heran. Maaf?
"Kau… minta maaf?" tanya gadis itu dengan nada tidak percaya. Kaito mendecak sebal.
"Sudah, maafkan saja aku!" ketus Kaito, anak itu hampir saja melepaskan pelukannya kalau Rin tidak segera terkikik kecil.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Kaito yang saat ini masih mempertahankan posisinya.
"Ng… rasanya belum cukup kalau kau hanya minta maaf," ujar Rin. Kaito langsung melepaskan pelukannya, lalu menatap gadis itu dengan pandangan heran.
"Kenapa, Kaito?" tanya Rin sambil tersenyum. Kaito menyipitkan matanya sambil menatap Rin, mencoba mencari arti terselubung dibalik perkataannya itu.
"Apa maumu?" tanya Kaito dengan nada sinis. Rin tertawa.
"Aku ingin kau memanggilku 'Rin'," balasnya sambil tersenyum lebar. Kaito mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi.
"Haaah?!"
"Aku hanya ingin kau memanggilku dengan namaku, bukan nama hewan," lanjutnya, "Itu saja. Sederhana 'kan?"
"Huh, kau memang lebih mirip domba ketimbang manusia!" dengus Kaito. Rin cemberut kesal.
"Kau 'kan sudah membuatku jadi begini!" omel Rin, "Paling tidak, kabulkan satu permintaanku kek!"
"Apa?!"
"Jangan-jangan kau tidak benar-benar menyesal telah melakukan ini padaku?" tanya Rin dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Kaito melengos.
"Baiklah! Baik!" ketus Kaito sambil memalingkan wajah. Rin tersenyum senang sambil menunggu.
"R…"
"R…?" Rin mengulang huruf yang baru disebutkan Kaito.
"R…"
"R…?"
"R-ambutmu acak-acakan, domba jelek!" kata Kaito sambil mengacak rambut Rin.
"Kyaaaaa!" Gadis itu langsung menyingkirkan tangan Kaito dari kepalanya, "Kau ini apa-apaan sih?!"
Kaito terkekeh. Rin cemberut kesal.
"Eh… Kaito…?" tiba-tiba gadis itu menyadari sesuatu. Spontan dia menyentuh wajah Kaito yang terlihat banyak luka lebamnya, "Apa yang terjadi padamu?!"
Kaito segera menepis tangan Rin dari wajahnya.
"Daripada mengkhawatirkanku, khawatirkan dirimu sendiri. Dasar domba idiot! Lagipula, kenapa waktu itu kau berdiri di sana?! Kalau kau tidak ada di sana–"
Tiba-tiba kalimat Kaito terhenti saat dia merasakan bibirnya dikunci oleh sesuatu yang lembut. Mata birunya melebar dan bola matanya membulat dengan sempurna. Dia bisa melihat wajah Rin dengan sangat jelas dan dekat. Bahkan… aroma jeruk yang belum pernah diciumnya dari gadis itu pun kini tercium dengan jelas.
Saat melihat mata gadis itu yang sedang tertutup rapat, Kaito pun merasa harus menutup matanya. Karena itu, perlahan-lahan dia memejamkan mata, lalu merasakan darahnya mengalir lebih cepat.
Miku turun dari taksi di depan sebuah rumah sakit. Gadis itu baru saja pergi ke rumah Kaito, tapi tidak menemukan anak itu maupun ayahnya. Dia hanya bertemu dengan kedua orang tua Rin dan Len yang tiga hari lalu dikenalkan Bossu padanya. Kedua orang tua Rin dan Len itu memang menginap di rumah Bossu selama lima hari semenjak Len datang ke rumah Kaito waktu itu, tapi Kaito tidak melihat mereka karena belum bisa naik-turun tangga.
Setelah bertanya tentang Kaito kepada Rento dan Rinka Kagamine, Miku mendapat informasi kalau anak itu pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Rin. Yah, sebenarnya Miku juga berencana untuk menjenguk Rin setelah melihat keadaan Kaito. Tapi karena Kaito juga ternyata pergi ke rumah sakit, berarti Kaito, Rin, dan dirinya bisa bertemu di sana.
Miku kemudian memasuki pintu utama dan mulai mencari kamar Rin sesuai dengan nomor yang disebutkan Rento dan Rinka sebelum dia pergi ke rumah sakit itu sehingga tidak perlu repot-repot bertanya pada petugas resepsionis.
Saat tiba di depan pintu kamar Rin yang sedang terbuka, Miku menghentikan niatnya untuk masuk begitu melihat pemandangan di depannya. I-ini…
Deg!
Miku mematung di tempatnya. Gadis itu tidak bisa bergerak maupun berkata-kata. Sakit. Dia tidak mengerti, tapi dadanya terasa sakit, juga sesak. Air mata pun berlinangan dari pelupuk matanya saat melihat apa yang sedang dilakukan Kaito dan Rin di dalam. Mereka… sedang…
Miku langsung mengalihkan pandangannya.
Rasa sakit melihat pemandangan itu pun sudah cukup membuat Miku tidak mau lagi berlama-lama berdiri di sana. Gadis itu segera melangkahkan kakinya untuk pergi.
Chapter seven's finished.
By Itachannio
Readers di mana pun anda berada, ternyata chapter ini bisa di-update lebih cepat dari chapter yang sebelumnya. Hahahaha! *emang iya?* Nampaknya makin kesini, makin gaje nih cerita. :D
Etto… mau bertanya nih, apa readers merasa sulit membaca chapter tujuh ini? Sepertinya kepanjangan ya? Haha!
Gomennasai… author sering kelepasan! ^^'a
Seperti biasa, author membutuhkan "Dokter Spesialis Typoleosis" PLUS suara rakyat–alias review–untuk membangkitkan semangat! :D
Karena itu, review ya kawan-kawan! Haha! XD
Next Chapter
Kau dan Bintang Jatuh
Reviews reply:
Kurotori Rei:
Yo! Selamat datang kembali, Rei! :D
Kedatangan Luka memang dimaksudkan untuk membawa keanehan pada sikap Kaito hahahaha :D
Oke! Arigatoo reviewnya XD
Ryuuna Hideyoshi:
Hahahahahahahaha! Kaito kasian yah di-PhP-in Luka…
Sebetulnya menyukai dua orang cewek sekaligus lebih rumit daripada menyukai seorang cewek yang udah punya pacar, hahahaha! XD
Eh, btw, "scene itu" bakalan ada nggak yaaa…? Hahahaha! XD
Wahahahaha! Kalau si auhor ini sebenarnya gak pernah liat udah berapa banyak words-nya kalau bikin cerita. Yang penting, kejadian di cerita ini sudah berhasil dikisahkan ampe beres, gak peduli mau berpuluh-puluh halaman juga. Karena itulah author ini kalau bikin satu chapter kadang-kadang suka kepanjangan! XD
Eh, tapi pusing gak sih bacanya? ^^'a
Dan arigatoo sudah review XD
Shintaro Arisa-chan:
Nggak apa-apa, Arisa-chan, yang penting sudah mau menjadi sumber semangat author! XD
Hahahahahaha! Benar! Benar! Kalau dia lagi ada 'tekanan batin', pokoknya dia bakalan ngadat XD
Yaaaaaks sudah kukunjungi! XD
Arigatoo :D
Ojou-chan 29:
Hehehehe… saking lamanya gak update, dirimu sampai tidak sadar. Dasar si author ya lama apdet, maafkan! XD
Ooooh, suka ya ternyata. Pantesan! XD
Hehehe Len memang jadi tokoh sampingan dalam beberapa kejadian XD
Ini update-nya cepat gak ya? *garuk-garuk* hehe oke arigatoo! XD
Guest:
Kaito itu masih mengalami dillema! Hahahahaha XD
Jadi belum tahu suka sama siapa. Tapi yang paling dominan disukai Kaito sepertinya ada XD
Mikuo… nanti saya akan membuatnya punya kepribadian yang unik, tenang saja XD
Arigatoo! :D
Shiroi Karen:
Hahahahahahahaha! Sabar ya sama si Kaito, dia mah emang susah sih! XD
Ehehehehehe… btw soal Kaito, imej berandalannya yang sengaja dipertahankan masih kerasa ya? Wuiiii… bagus deh! Haha! XD
Arigatoo Karen-chan XD
Dokorode soal pastlife-nya Kaito sudah dibahas dikit-dikit di chapter ini, hehehe…
Oke, sampai bertemu lagi di chapter depan! XD
RukmawatiHM39:
Gyaaaaaah! Benarkah dirimu sampai menjerit?! Aduh author jadi malu / mana pake ngancem temen segala lagi, hahahahahahaha! Dasar ah bikin author seneng aja XD
Iya gapapa panjang-panjang juga! Berekspresilah sesukamu sampai puas! XD XD
Hehehe btw kita harus saling ngasih semangat. Biar bagaimana pun secara tidak langsung kita sudah menjalin hubungan pertemanan dari cerita ini XD
Juga arigatoo! Semangat juga buat kamu yah! :D
Waw boleh dong, jadi author jawab aja langsung yah :3
Yap betul sekali kalau Rin dan Miku sudah setuju dengan tugas itu.
Jika mau mengundurkan diri karena ada suatu urusan yang sangat penting, mereka berdua bisa berhenti kapan saja, dengan catatan tidak akan diberi bonus. Seperti apa yang terjadi pada Rin. Kalau keluarga gadis itu memang berniat menarik kembali Rin dari keluarga Shion, mereka bisa berunding untuk memutuskan hasilnya. Jadi pada dasarnya mereka bebas untuk mengundurkan diri dari tugas itu.
Tambahan:
Sebenarnya Bossu merekrut keluarga Kagamine dan Hatsune karena dia tahu kalau orang-orang dari keluarga itu adalah orang-orang yang sangat kuat dalam menepati janji dan menjalankan tugas sehingga kemungkinan "pengunduran-diri" mereka dihitung sangat kecil oleh Bossu.
Sebenarnya keluarga Hatsune dan Kagamine memang adalah dua keluarga yang berkecukupan, tapi dikarenakan ada "sesuatu", mereka harus hidup apa adanya selama beberapa waktu sampai mereka bisa "bangkit" kembali. Dan yaaah… kalau dilanjutkan, author takut bakalan ngasih spoiler, hahahahahaha! XD XD
Oke, Arigatou gozaimasu atas reviewnya! Author senang syekaliii! Sampai jumpa di chapter depan! XD
