KakaHina Family © MizuumiYuki
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate T | AU | OOC | Crack pair | Random chara
Kumpulan ficlet dengan main pair Kakashi-Hinata yang dibuat hanya untuk kesenangan semata. Tidak ada bashing chara atau pair tertentu. Cerita tidak bersambung, tapi bisa berkaitan.
Enjoy… ^^
Chapter 7 : Hungry?
"Pa."
"Hm?"
"Aku lapar. Papa masakin buat aku, ya? Si kembar ingin masakan buatan Papa katanya," pinta istriku dengan nada memelas. Yang benar saja. Memangnya si kembar bisa bicara dari dalam perut?
"Mama tidak lihat aku sedang apa?" aku bergumam seadanya.
"Sedang ngomong sama Mama sambil tidur."
Aku memutar mataku, "Aku ngantuk, Ma. Lagipula, kau baru saja menghabiskan setoples biskuit tadi."
"Memang aku habiskan, tapi itu biskuit yang hanya sisa beberapa keping. Mana cukup untuk si kembar." Istriku merajuk.
Mau tidak mau aku bangun dari tidurku. Bagaimana tidak, Hinata terus mengguncang-guncangkan lenganku. "Mama mau makan apa jam segini? Jangan minta yang aneh-aneh."
Hinata tampak berfikir sejenak, "Omurice! Ya, aku mau omurice."
Dengan langkah gontai akibat kantuk yang masih bersarang di mataku, aku beranjak menuju dapur diikuti istriku dari belakang. Aku membuka lemari es, mencari bahan makanan yang sekiranya bisa dimasak untuk makan malam si kembar, dan istriku tentu saja.
"Ma, telurnya habis, tinggal sosis, jamur, dan sayuran. Nasi goreng biasa saja, ya?"
"Terserah Papa saja, aku tunggu di ruang tengah ya."
Hinata berpindah ke ruang tengah. Mendudukkan diri di salah satu sofa yang menghadap ke depan TV-plasma yang kini ia nyalakan. Tinggal aku yang berkutat di dapur dengan pisau dan teman-temannya.
Lima belas menit kemudian, nasi goreng a la Hatake Kakashi siap disantap.
"Ma, nasi gorengnya sudah matang nih. Mau makan di mana?"
Tidak ada sahutan dari istriku. Mungkin suaraku teredam suara TV. Aku hampiri tempat istriku berada sambil membawa sepiring nasi goreng yang masih mengepul.
Pantas saja Hinata tidak menyahut. Kini dia tengah berbaring di sofa panjang sambil terlelap dengan TV yang masih menayangkan berita tengah malam.
"Mama, bangun. Nasi gorengnya sudah jadi nih, katanya Mama lapar," rayuku sambil membangunkan istriku selembut mungkin.
"Aku ngantuk, Pa. Lagipula aku baru menghabiskan sekaleng biskuit tadi."
"…"
"…"
Menjadi suami dari istri yang mengandung diperlukan kesabaran sebesar gunung Fuji, ah, mungkin sebesar gunung Himalaya.
END
A/N:
Haloooo, saya kembali. Chapter ini pendek. Memang :p
Makasih untuk semua reviewer, maaf belum balas satu-satu.
XoXo,
MY
