Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : NaruFemSasu
Rated : T
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Genre : Hurt/Comfort, drama
Don't like, don't read!
Selamat membaca!
Between Hate And Love
Chapter 7 : Cinta Itu Ada
By : Fuyutsuki Hikari
"Aku mencintai dia dengan cinta seorang perempuan pada lelaki yang luka."
―Ayu Utami,Maya
Naruto duduk di salah satu kursi kosong di ruang tunggu siang ini, setelah Kushina pamit sebentar untuk menjenguk salah satu kolega Minato yang kebetulan tengah dirawat di rumah sakit yang sama karena gagal ginjal.
Pria itu menunggu sendirian dengan perasaan was-was dan takut secara bersamaan. Namun perasaan itu ditekannya kuat beberapa hari ini. Ia tidak mau jika orangtuanya ikut cemas karenanya.
Sebuah helaan napas terdengar keras. Naruto menyandarkan kepala pada tembok dingin rumah sakit di belakangnya. Ia mendongakkan kepala, matanya yang kosong terarah ke langit-langit rumah sakit.
Bagaimana jika aku buta selamanya? Pikiran itu kembali datang untuk kesekian kalinya. Membuat ketakutannya kembali mencengkram batinnya yang rapuh.
Naruto menggelengkan kepala. Lalu mengusap wajahnya yang kini sudah bersih dari kumis dan janggut. Dia sudah berjanji pada kedua orangtuanya serta Sasuke untuk melakukan ini. Lalu kenapa dia harus kembali was-was?
"Kakak, apa kakak sakit?" tanya seorang anak kecil, membangunkannya dari lamunan singkatnya. Naruto mengerjapkan kedua matanya, tidak menjawab, dan pertanyaan dengan nada kekanakkan itu kembali terdengar, "Wajah kakak sangat pucat. Apa kakak sendirian datang ke rumah sakit? Kakak seharusnya tidak boleh datang sendirian jika sakit."
Naruto masih belum menjawab. Dari asal suaranya ia bisa menebak jika anak kecil itu kini berdiri tepat di hadapannya saat ini. Ia mengulum sebuah senyum dan menjawab, "Aku baik-baik saja. Ibuku pergi sebentar untuk menjenguk seseorang, sebentar lagi beliau pasti kembali."
Anak kecil berusia sepuluh tahun itu menghela napas lega. "Syukurlah jika kakak tidak datang seorang diri," katanya lega. Ia terdiam sebentar, mengamati lekat wajah Naruto. Beberapa detik kemudian ia menekuk wajahnya, sambil menelengkan kepala. Ada yang aneh dengan kakak di depannya ini, pikirnya praktis. Anak kecil itu mengangkat kedua tangannya, lalu melambaikannya tepat di depan wajah Naruto. Tidak ada reaksi. Ia terkesiap, kaget saat menyadari jika kakak yang diajaknya ngobrol ternyata buta. "Kakak tidak bisa melihat yah?" tanyanya dengan nada simpati.
Naruto kembali mengulum senyum, ia bisa mendengar jika anak itu kini mendudukkan diri tepat di sampingnya. "Begitulah," jawabnya dengan nada biasa. Ia bahkan merasa heran kenapa ia bisa menjawab dengan nada biasa, tanpa merasa tersinggung. Ah, mungkin karena lawan bicaranya seorang anak kecil, pikirnya.
Anak kecil itu terdiam sesaat, menimang-nimang apa baik mengatakan masalah keluarganya pada seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Kedua alisnya menyatu, terlihat berpikir, lalu ia kembali bicara, "Sebelah mata ayahku juga tidak bisa melihat," katanya dengan nada getir. "Kecelakaan itu merengut sebagian dari penglihatan ayahku."
Naruto terdiam. Ia tidak bisa berkomentar apapun saat ini. Bagaimana ia bisa menghibur anak kecil di sampingnya jika ia sendiri mengalami hal yang sama dengan akibat yang jauh lebih buruk. Jujur saja, Naruto bukan penghibur yang baik.
"Setiap satu bulan sekali-ibu membawa ayah dan aku untuk diperiksa ke rumah sakit," lanjutnya saat Naruto tidak kunjung membalas ucapannya.
Satu alis Naruto terangkat. "Kau juga diperiksa?" ia mengumpat di dalam hati, merasa tidak berguna karena ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada anak kecil yang tengah berbincang dengannya. Apa anak ini sakit? Tanyanya di dalam hati.
Anak kecil itu menganggukkan kepala. "Ya. Aku juga diperiksa."
"Boleh aku tahu apa yang terjadi padamu?" tanya Naruto lagi tanpa nada memaksa.
"Pada kecelakaan itu, aku kehilangan kedua kakiku," jawab anak perempuan itu terdengar tanpa beban.
Naruto tersentak. Napasnya tercekat. Dia merasakan sebuah lubang besar di dadanya saat ini. Dia tidak habis pikir, bagaimana anak kecil di sampingnya itu bisa bersikap biasa, seolah tanpa beban? Demi Tuhan, anak kecil itu sudah kehilangan kedua kakinya. Apalagi yang lebih buruk daripada hal itu untuk seorang gadis kecil seperti dirinya?
"Pada awalnya aku sangat kesulitan saat menggunakan prostetik untuk pertama kalinya," katanya lagi. "Butuh latihan keras untuk hal itu, apa kau tahu?"
Naruto menggelengkan kepalanya pelan.
Anak kecil itu menghela napas panjang, dan kembali bicara, "Untunglah aku bisa belajar dengan cepat, jadi aku bisa kembali berjalan tanpa harus terus duduk di atas kursi roda," ucapnya penuh syukur.
"Apa kau pernah merasa marah?" tanya Naruto tiba-tiba. Suaranya tercekat, kedua matanya mulai memanas karena air mata.
Anak kecil itu menelengkan kepalanya ke satu sisi. "Marah?" beonya tidak mengerti. "Marah pada siapa?"
"Pada Tuhan," jawab Naruto dengan emosi campur aduk. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa Tuhan begitu tega mengambil sesuatu yang berharga dari anak kecil di sampingnya ini.
Anak kecil itu menggelengkan kepala pelan dan terkekeh sebelum menjawab, "Kenapa aku harus marah?" tanyanya polos. "Apa yang ada pada diriku ini bukankah semua milik Tuhan?" ia bertanya lagi dengan suara kekanakannya. "Jika Tuhan mengambilnya, aku bisa berkata apa?"
Naruto terdiam. Mendengarkan dengan dada yang terasa semakin sesak.
"Aku malah sangat bersyukur," kata anak itu lagi. Ia menyunggingkan sebuah senyuman cantik, sementara matanya mengamati kedua tangannya yang saling berpaut di atas pangkuannya. "Aku bersyukur karena Tuhan memberiku ijin untuk memiliki sepasang kaki selama delapan tahun, sementara anak lainnya di belahan dunia sana harus puas karena terlahir tanpa kedua kaki."
Tubuh Naruto membeku seketika. Bagaimana bisa seorang anak kecil berpikiran hingga sejauh itu?
"Kalau boleh tahu, kakak kehilangan penglihatan sejak kapan?" tanyanya.
Naruto menelan kering. "Tiga tahun yang lalu," jawabnya dengan suara bergetar. Ya Tuhan, dia benar-benar tidak tahu bersyukur. Dia bahkan kalah oleh seorang anak kecil. Selama ini dia terlalu sibuk menyalahkan orang lain atas kemalangannya.
Anak kecil itu mengangguk, paham. "Kakak lebih beruntung. Kakak menikmati memiliki sepasang mata jauh lebih lama. Banyak anak-anak lain yang terlahir tanpa bisa melihat."
"Ya. Kau benar gadis kecil," sahut Naruto dengan senyuman tulus. Ia mengangkat tangan kanannya, mencari kepala anak perempuan itu lalu mengacak rambutnya pelan. Dia kembali bersyukur karena hari ini dia mendapat sebuah pelajaran berharga dari mulut seorang gadis kecil. "Terima kasih!" ujarnya pelan.
Anak perempuan itu mengernyit, tidak mengerti. "Terima kasih untuk apa, Kak?"
Naruto melepas napas panjang. "Terima kasih karena kau mengajariku cara bersyukur."
Anak perempuan itu tertawa renyah. "Sebenarnya aku tidak mengerti maksud kakak," akunya sambil mengangkat sebelah bahunya ringan. "Well, sama-sama, Kak," tambahnya kemudian dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi depan bagian atasnya yang tanggal.
"Sakura?!" panggil seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun dari depan pintu masuk ruang praktek Tsunade.
Anak perempuan itu langsung bergerak, berdiri dan menjawab, "Aku disini, Bu," sahutnya. "Ibuku sudah memanggilku. Sepertinya jadwal check-up ayahku sudah selesai," katanya pada Naruto. Ia meraih pergelangan tangan Naruto, lalu menjabat tangan yang lebih besar itu dengan penuh semangat. "Senang bisa bertemu dan mengobrol dengan kakak," katanya ceria.
Naruto tersenyum lebar. "Aku yang senang bertemu denganmu," katanya ramah. "Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Sakura. Namaku Haruno Sakura."
"Namaku Namikaze Naruto," balas Naruto ramah.
Sakura melepaskan jabatan tangan keduanya. "Sampai jumpa, Kak Naruto!" ucapnya sebelum melenggang pergi.
"Sampai jumpa, Sakura!" balas Naruto setengah berbisik.
.
.
.
Demi apapun, Sasuke sama sekali tidak bisa duduk dengan tenang siang ini. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, sesekali matanya melirik ke jam dinding yang tergantung di atas meja belajarnya, sudah jam dua siang namun Nyonya Kushina dan Naruto masih belum kembali. Ia mendesah berat, jika tahu akan begini, ia akan memaksa untuk ikut ke rumah sakit tadi.
"Kenapa masih belum pulang juga?" ia bertanya lirih pada dirinya sendiri. "Dan kenapa Naruto belum memberinya kabar?"
Sasuke menyambar telepon genggam layar sentuhnya yang tergeletak di atas meja belajar. Ia baru saja akan menghubungi Naruto saat otaknya berteriak keras dan menghentikannya. Tidak boleh. Dia tidak boleh menghubunginya. Dia harus menunggu dengan sabar hingga pria itu menghubunginya sendiri atau menunggu hingga Naruto pulang.
Tapi kenapa lama sekali? Teriaknya histeris di dalam hati.
Sasuke melempar telepon genggamnya ke atas tempat tidur, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur nyamannya. Matanya menerawang, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Kenapa dia merasakan keresahan hebat seperti ini? Ia sangat takut, takut jika Naruto kembali menutup diri apabila hasil pemeriksaannya tidak sesuai dengan harapan.
Ia lalu melirik ke arah tumpukan buku-buku tugasnya. Hari ini dia belum menyentuh tugas-tugas kuliahnya sama sekali. Dia tidak bisa mengerjakannya jika otaknya sama sekali tidak bisa fokus dan hanya tertuju pada Naruto. Brengsek! Makinya di dalam hati. Bagaimana bisa Naruto begitu mempengaruhinya sebesar ini? Sasuke menggelengkan kepala, tidak mengerti.
Cinta?
Wanita muda itu tersentak bangun. Nampak terkejut dengan apa yang baru saja melintas di pikirannya beberapa detik yang lalu. Sebelah tangannya diletakkan di depan dada, mencoba menormalkan detak jantungnya yang secara tiba-tiba berdetak dengan hebohnya.
Apa benar ia menyukai Naruto?
Kenyataan itu menghentakknya. Apa dia benar-benar jatuh cinta pada Naruto?
Sasuke memukul kepalanya pelan dengan tangannya. Kenapa harus Naruto? Kemarin dia hanya terbawa perasaan saja saat mengecup pipi pria itu. Iya, kan? Sasuke tidak bisa memungkiri jika hatinya bersorak senang saat Naruto menyatakan perasaan padanya beberapa hari yang lalu. Namun saat itu dia masih bingung dengan perasaannya sendiri.
"Yang harus menjadi fokusmu adalah lulus dengan nilai terbaik, Sasuke!" ujarnya mengingatkan dirinya sendiri. Sasuke bergerak, berjalan untuk membuka pintu balkonnya dan berdiri di depan pagar balkon untuk beberapa saat hingga matanya menangkap mobil yang dipakai oleh Kushina memasuki halaman depan rumah kediaman Namikaze.
Ia berbalik, setengah berlari keluar dari dalam kamarnya dan turun ke lantai satu untuk menyambut kedatangan Kushina dan Naruto. Dadanya kembali berdebar heboh namun untuk alasan yang berbeda. Napasnya sedikit tidak teratur saat dia sampai di tempat tujuannya.
"Kami pulang!" kata Kushina saat seorang pelayan paruh baya membukakan pintu depan rumah untuknya.
"Selamat datang!" sambut Sasuke dengan ekspresi tenang. Ia melirik ke arah Naruto yang tersenyum lembut saat pelayan pria itu membantunya untuk membuka jaket tebal musim dingin yang dikenakannya. Sasuke masih memasang ekspresi biasa saat matanya teralih pada Kushina. Majikannya itu mengulum senyum tipis, namun Sasuke bisa melihat jejak air mata di kedua pipi wanita itu.
Napas Sasuke kembali tercekat. Entah kenapa dia merasakan firasat buruk saat ini.
"Hai, Sasuke!" sapa Naruto, membuyarkan lamunan Sasuke. "Kenapa diam saja dan tidak menyambutku dengan sebuah pelukan mungkin?" godanya dengan senyum jail.
Sasuke mendengus keras sebagai balasan. "Mau kuantar ke kamar?" tanyanya dengan nada senormal mungkin.
Naruto mengangguk cepat, terlihat antusias, senyuman lima jarinya masih bertengger di wajah tampannya saat ini. Sasuke membungkuk dalam pada Kushina sebelum mengamit pergelangan tangan Naruto dan memapahnya untuk berjalan menuju lantai dua dimana kamar pria itu berada, sementara Kushina tersenyum lemah dan hanya bisa berdiri mematung begitu lama di tempatnya berdiri saat ini.
.
.
.
"Bagaimana hasil pemeriksaan kedua matamu?" tanya Sasuke hati-hati saat keduanya berada di dalam kamar Naruto.
Naruto mendesah panjang lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Kau mau mendengar kabar baik atau kabar buruknya terlebih dahulu?" Naruto balik bertanya dengan nada ringan, membuat Sasuke mengernyit lalu mendudukkan diri di sisi kosong tempat tidur.
"Apa maksudmu?"
Naruto terdiam sejenak. Tidak langsung menjawab. Ia melipat kedua tangannya dan menjadikannya sebagai bantalan kepala. "Aku mulai dari kabar buruk dulu," putusnya kemudian. "Dokter Tsunade mengatakan jika mata kiriku tidak mungkin bisa melihat karena kerusakan jaringan otak yang memproses citra," jelasnya terdengar biasa, seolah tanpa beban. "Dokter tidak bisa berbuat banyak untuk mata kiriku. Pembedahan syaraf atau tindakan lainnya sama sekali tidak akan membantu. Mata kiriku dinyatakan buta permanen."
Sasuke menatap Naruto dengan pandangan baru. Dia bisa merasakan kesedihan dalam nada suara pria itu, namun ia juga bisa merasakan jika Naruto seperti seorang yang ikhlas dan menerimanya dengan lapang dada. "Lalu mata kananmu?" tanyanya lagi dengan suara tercekat.
Naruto mengangkat bahunya acuh. "Retina mata kananku terluka," jawabnya pendek. "Dokter akan memeriksa hasil pengecekan ulang mata kananku dan akan mengambil tindakan selanjutnya jika hasilnya sudah keluar dalam beberapa hari."
Keduanya terdiam untuk beberapa saat, menciptakan keheningan yang mengganggu.
Naruto mendudukkan diri, duduk bersila di atas tempat tidur sementara Sasuke mengamatinya dalam diam. "Jangan diam seperti itu, aku jadi ngeri," ujarnya berusaha untuk mencairkan suasana berat di sekelilingnya. Ia mengacak rambut pirangnya lalu mendesah pelan. "Apa tadi kau melihat wajah ibuku?" tanyanya kemudian, cukup mengagetkan Sasuke. Jujur saja, Sasuke sama sekali tidak menyangka jika Naruto akan menanyakan hal ini kepadanya.
"Aku melihatnya. Kenapa?" ia balik bertanya dengan nada datar andalannya.
"Ibuku menangis yah?" kata Naruto yang terdengar seperti sebuah pernyataan daripada pertanyaan.
Sasuke tidak menjawab.
"Aku tahu, beliau pasti menangis." Naruto kembali bicara setelah melepas napas panjang. "Ia tidak mengatakan apapun saat dalam perjalanan pulang tadi," tambahnya. "Beliau bahkan terus bertanya dan meminta pada Dokter Tsunade untuk mengecek ulang mata kiriku." Naruto menarik napas dalam. "Ibuku sepertinya tidak rela saat tahu mata kiriku buta permanen. Beliau kecewa dengan hasil pemeriksaan tadi. Tapi apalagi yang bisa kita lakukan selain bersyukur? Bukankah kemungkinan aku untuk melihat kembali masih ada walau hanya satu mata saja?"
Sasuke melotot tak percaya, benar-benar terkejut mendengar apa yang dituturkan oleh Naruto saat ini. Ada yang salah dengan pria ini, pikirnya. Sasuke menjadi penasaran, malaikat mana yang datang dan memberikan pencerahan pada otak bebal Naruto?
Naruto terkekeh. "Kau pasti heran dan bertanya kenapa aku menjadi sebijak ini, kan?" tuturnya dengan alis naik turun. Sasuke masih bungkam, sama sekali tidak mau mengakui kebenaran dari tebakan Naruto. "Aku merasa sangat malu, Sasuke," katanya kemudian, membuka diri.
Sasuke mengernyit, menaikkan kedua kakinya ke atas tempat tidur dan berkata, "Malu? Malu pada siapa?" tanyanya penasaran.
Naruto tidak langsung menjawab. Suaranya berubah serius saat ia berkata, "Aku malu pada seorang anak kecil. Andai kau bertemu dengannya tadi." Ia mendesah berat. "Dia kehilangan kedua kakinya akibat kecelakaan tiga tahun yang lalu, namun ia masih bersyukur karena pernah memiliki sepasang kaki. Penuturannya menohokku, menampar egoku dengan keras. Aku merasa malu dan kecil di hadapannya. Aku merasa malu karena yang bisa aku lakukan selama ini hanya menyalahkan orang lain atas kemalanganku."
Ruangan itu kembali hening untuk beberapa waktu. Keduanya terlarut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Dia anak hebat," puji Sasuke tulus, memecah keheningan diantara keduanya.
Naruto tersenyum. "Ya. Dia memang anak yang hebat," sahutnya sembari mengangguk setuju. "Eh, Sasuke, bagaimana kalau kita ke bar malam ini?"
Sasuke berjengit. "Bar?"
"Ya," sahut Naruto. "Aku ingin bersenang-senang, untuk malam ini saja," katanya terdengar seperti sebuah permohonan.
"Ok," balas Sasuke pendek.
.
.
.
Sasuke dan Naruto duduk di kursi bar tinggi di pub Amaterasu, malam ini. Keduanya duduk, menutup mulut, menikmati minuman mereka masing-masing. Mengabaikan musik yang mengalun keras di belakang mereka, mengabaikan suara pintu pub yang terbuka hingga beberapa kali saat pengunjung datang, menyebabkan sedikit udara segar masuk ke dalam ruangan minim cahaya, menyeruak masuk ke dalam kepulan asap rokok yang dihembuskan oleh beberapa pengunjung pub.
Sasuke menenggak minumannya. Sekilas melirik ke arah Naruto yang terlihat menikmati minuman beralkohol dan rokok yang dihisapnya lama, lalu dihembuskannya asap rokok dari hidung dan mulutnya dengan nikmat. Sasuke menghela napas, teringat apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu saat Kushina melarang keras Naruto untuk keluar minum bersama Sasuke. Beruntung Minato menengahi pertengkaran kecil diantara istri dan putra semata wayangnya, hingga akhirnya Kushina mengijinkan putranya untuk pergi selama beberapa jam.
Pintu pub kembali terbuka dan dua orang pria muda masuk ke dalam ruangan itu dengan sikap pongah. Sasuke memalingkan wajahnya, sementara satu orang pria muda itu terlihat langsung mengenali Sasuke.
"Lihat siapa yang kita temui di sini!" seru seorang pria sembari menyenggol pelan tangan temannya pelan. "Nona Uchiha Sasuke, gadis kutu buku dan pintar paling terkenal di kampus tercinta kita."
Kedua pria itu berjalan menuju meja bar dan memesan minum sambil melayangkan pandangan penuh arti pada Sasuke yang berekspresi dingin. "Kau datang seorang diri?" tanya salah satu pria muda dengan nada menggoda.
Seorang pramusaji datang membawa pesanan keduanya. Meletakkan dua buah minuman berwarna keemasan di atas meja bar. "Terima kasih, Cantik," ujar salah satu pria sambil mengedipkan mata.
Sasuke mengatupkan mulutnya, menekan kemarahannya, berusaha untuk tidak terpancing. "Kita pulang, Naruto," katanya sembari bergerak turun dari kursinya, sementara Naruto menanggapinya hanya dengan menaikkan satu alisnya.
"Oh, jadi kau datang dengan seorang pria?" pria pertama berkata dengan nada mencemooh. Ia menatap Naruto dari ujung kaki hingga ujung kepala, bersiul pelan saat melihat pakaian bermerk yang dikenakan oleh Naruto. "Kau mengajak seorang pria kaya ke pub murahan seperti ini?" cemoohnya. Ia mendengus dan menghirup aroma wiski murahannya, lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan keras. "Pantas saja kau banyak menolak pria yang menolakmu."
Sasuke tidak menjawab, sementara Naruto terkekeh geli mendengarnya. "Apanya yang lucu?" tanya Sasuke tersinggung.
Naruto kembali terkekeh, terdengar geli. "Selain aku, ternyata ada pria lain yang cukup bodoh untuk menyukaimu."
"Sialan kau!" maki Sasuke kesal.
"Mereka bahkan berbincang, dan mengabaikan kita berdua," timpal lelaki dengan potongan rambut aneh dan tinggi badan lebih pendek daripada pria satunya.
Sasuke melepas napas keras, kedua tangannya terkepal erat. Dalam ruangan minim cahaya itu dia mengamati wajah keduanya, mengingatnya untuk memberi mereka pelajaran jika bertemu kembali di kampus nanti. "Jangan menghalangi jalanku!" ujarnya dengan nada dingin.
Kedua pria itu tidak menyahut, keduanya malah sibuk memperhatikan Naruto. "Hei, dia buta," katanya keras dengan nada mengejek dan meremehkan. Pria yang memiliki postur lebih tinggi kini menatap Sasuke tak percaya. "Pacarmu buta?" tanyanya merendahkan. Dia mendorong bahu Naruto keras, membuat pria itu kembali terduduk di kursinya, sementara ekspresi wajahnya tidak memperlihatkan emosi apapun. "Kenapa kau memilihnya daripada salah satu dari kami?" tanya pria itu lagi pada Sasuke.
Sasuke memasang ekspresi datar andalannya, dia bahkan tidak mengingat siapa nama kedua pria muda di hadapannya saat ini. Pada dasarnya wanita itu memang tidak pernah mengingat sesuatu hal yang menurutnya tidak penting. Buang-buang waktu dan tenaga, pikirnya praktis.
"Sasuke memilihnya pasti karena harta," sahut pria satu lagi sembari berdecak.
"Jaga ucapan kalian!" bentak Naruto dengan nada menyeramkan. Beberapa pengunjung bahkan melirik ke arahnya saat ini, penasaran pada pemilik sang pemilik suara. "Sasuke bukan wanita murahan yang memilih pria hanya untuk harta."
Kedua pria itu tertawa merendahkan. "Buktinya dia memilihmu," balas salah satu pria itu mencibir, dan sebelum mulutnya kembali bicara, pria itu telah tersungkur akibat pukulan telak Sasuke yang mengenai perutnya.
"Apa?!" tanya Sasuke pada pria kedua. "Kalian terlalu banyak bicara," ujarnya dengan gigi gemertuk menahan marah. "Pergi! Atau aku akan menghajar kalian lebih daripada ini," ancamnya sungguh-sungguh, membuat kedua pria itu segera berdiri dan berbalik pergi meninggalkan pub. "Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada lebih lembut saat suasana kembali tenang.
Naruto tidak menjawab. Dia mengambil dompet dari saku belakang celana jeans-nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar minumannya dan minuman Sasuke. "Kita pulang," katanya. Tanpa menunggu Sasuke, ia berjalan perlahan, mencoba mengingat darimana dia masuk tadi, namun pria itu sama sekali tidak menolak saat Sasuke mengamit tangannya dan menuntunnya untuk keluar dari dalam pub.
Udara dingin langsung menyapu wajah keduanya. Sasuke mempercepat langkahnya, membawa Naruto untuk masuk ke dalam kendaraan mereka yang diparkir tidak jauh dari pub. "Dingin sekali," katanya saat masuk ke dalam mobil. Sasuke segera menyalakan mesin mobil, lalu menyalakan mesin penghangat untuk mengusir udara dingin di dalam kendaraan yang dipinjamnya dari Kushina malam ini.
"Jangan memikirkan ucapan mereka," katanya kemudian saat mobil yang dikendarainya melaju pelan menembus kegelapan malam. "Mereka hanya pria brengsek yang tidak tahu diri."
Hening. Naruto memalingkan muka, memilih untuk mendekatkan wajahnya pada kaca jendela mobil di sisi kanannya. "Tapi apa yang dikatakan mereka memang ada benarnya juga," ujarnya lirih, setelah terdiam cukup lama.
Sasuke menoleh sekilas, "Apa maksudmu?"
"Benar. Bagaimana bisa seorang cacat sepertiku mencintai wanita sempurna sepertimu?"
"Narut-"
"Tidak," potong Naruto cepat. "Pada kenyatannya memang seperti itu. Kau tidak bisa menyangkalnya."
Sasuke mengatupkan mulutnya rapat, giginya gemertuk. Mulai merasa kesal mendengar penuturan sepihak Naruto. Ia bahkan harus menghitung hingga sepuluh agar tidak bicara dengan nada satu oktaf lebih tinggi. "Sebaiknya kau tutup mulut, Naruto. Jangan membuatku kesal! Karena aku yakin kau akan menyesalinya nanti," ucapnya tenang namun sarat akan ancaman yang mampu membuat bulu kuduk Naruto berdiri karena takut.
.
.
.
TBC
Keterangan :
Prostetik = kaki palsu
Sampai jumpa dichap selanjutnya!
