BAB SPESIAL : A MEMORY
.
.
"Jangan larang aku untuk mencintainya."
—Wu Shixun—
.
.
Distrik : Alpha
Negara : A
Benua : Eurasia
Tanggal : 12 Januari 2133
.
.
.
.
.
Sebab akibat adalah dua kata yang saling berhubungan satu sama lain. Dalam kenyataannya, baik sebab atau akibat, takkan mampu berdiri sendiri tuk menjadi rangkaian cerita. Sebagai contoh adalah alur kehidupan seorang Oh Sehun.
Wu Shixun adalah penyebab utama mengapa Oh Sehun berubah. Calon Presiden Dunia Kedua itu, tergolong adik yang sangat menjunjung tinggi kakaknya. Sehun sangat menyayangi Shixun lebih dari siapapun duga. Ia bahkan mengidolakan sang kakak bagai fans pada artis idolanya.
Maka, ketika Shixun keluar dari silsilah Keluarga Oh demi keegoisannya sendiri, pergi meninggalkan Sehun sendirian menghadapi sang ayah, sejak saat itu Sehun kehilangan dirinya akibat amarah.
Sehun membenci Shixun mulai saat itu, persis adik yang frustasi kehilangan perhatian kakaknya.
Sehun adalah anak kedua, si bungsu, sehingga jabatan ayahnya seharusnya tak diwariskan padanya. Meski buta dan lumpuh, Sehun versi remaja yakin kakaknya cukup cerdas untuk mengendalikan sebuah benua. Sayangnya, ayah si kembar menutup telinga tak peduli, terus mendoktrin anak keduanya bahwa kekuasaan mutlak milik seorang 'Oh', dan Shixun tak pantas mendapatkannya.
Sehun kehilangan kebebasannya dalam berteman. Sedikit saja dia terlihat lemah, maka satu persatu temannya mati dibantai antek-antek ayahnya. Semenjak saat itu Sehun menyendiri, kurang tuntunan, dan terprovokasi pada buruk sangka bahwa Tuhan bersikap tak adil padanya.
Lalu, seorang bocah laki-laki berusia 15 tahun, datang padanya sambil menyodorkan bubble tea.
Dari situlah alur gejolak takdir benua dimulai...
"Paman mau?"
Waktu itu, usia Sehun baru 19 tahun. Namun karena setelan formalnya, Sehun merasa usianya bertambah sepuluh tahun lebih cepat. Mungkin inilah kenapa ia dipanggil 'paman'. Tapi Sehun tak mempermasalahkannya.
Pria itu tersenyum ramah pada remaja di hadapannya.
"Kenapa tiba-tiba menawarkan minuman ini padaku?" Tanya Sehun, sambil menerima bubble tea dari bocah itu. Ia menyeruputnya, lalu memekik heboh menikmati manis kenyal bubble-bubble!
Tawa kecil si bocah muncul tanpa diduga. Membekukan perhatian Sehun agar terus tertuju pada bocah itu. Lihat bagaimana bocah SHS itu menyampirkan rambut coklatnya ke telinga, memperlihatkan tindik mungil di telinga kanannya. Sungguh... Bocah itu cantik melebihi kata 'luar biasa'.
Ini aneh, mata Sehun suka menyerap eksistensi Luhan.
"Aku hanya tak ingin paman terlihat sedih, dan kata Kak Yoona, coklat adalah pengundang kebahagiaan! Kebetulan bubble tea itu rasanya coklat, jadi kuberikan saja."
"Aku akan membayar—"
"Tidak perlu. Melihat senyummu saja sudah cukup untukku. Karena wajah tampanmu tak pantas meraut kesedihan."
Jika bocah itu asyik nyengir kuda, maka Sehun menunduk dalam tersipu-sipu. Baru kali ini ia suka ada yang memujinya tampan. Ekspresi malu-malu lucu itu dilihat oleh si bocah, membuatnya refleks mencubit pipi Sehun. Pemuda itu menggumam gemas, hingga si bocah menjauhkan tangannya dan membungkuk beberapa kali tepat ketika dipandangi Sehun.
"Maafkan aku... Aku tidak bermaksud tak sopan, paman! Habisnya kau begitu lucu, jadi kucubiti saja pipimu," ucap cepat bocah itu. Lalu bangkit dan berkata disertai kening berkeringat, "kan aku jadi gemas! Eh?" Luhan membekap bibirnya. Matanya berkedip-kedip polos, lalu nyengir lagi.
Kini berganti Sehun yang tertawa. Suara huskynya terdengar berat, seksi, dalam, dan membuat bulu kuduk bocah itu merinding.
Ini aneh, telinga Luhan suka menyerap suara tawa Sehun.
"Omong-omong... Siapa namamu?" tanya Sehun setelah meredakan tawanya.
"Namaku Luhan."
"Hanya 'Luhan'?"
"Aku dari panti asuhan, yang artinya aku tak memiliki marga," Luhan tersenyum tegar. Membuat hati Sehun terenyuh.
Diacak-acaknya dengan gerakan lembut pucuk kepala Luhan. Sejak itu Sehun bersumpah, ia suka apa-apa yang dimiliki Luhan. Rambut coklatnya begitu lembut, wangi lemon, hingga tanpa sadar hidung mancungnya mengendus-endus rambut itu. Sehun memejamkan mata, begitu damai, ketika hidungnya tergelitik helai rambut si bocah.
Luhan, si bocah, menelan ludah gugup ketika pria itu berbisik sambil menyeringai tampan ke arahnya.
"Namaku Oh Sehun."
Ini adalah pertemuan pertama mereka, yang berhasil merubah banyak diri Sehun.
Termasuk, tumbuhnya sikap ketergantungan dan obsesi untuk selalu memiliki.
"Salam kenal ya, Lulu..."
Manik hitam pekat dan manik hijau keemasan itu bertautan intents.
"Salam kenal, Hunhun?"
•••
.
.
.
.
.
Distrik : Hotel
Negara : C
Benua : Eurasia
Tanggal : 24 Desember 2135
.
.
.
.
.
Merupakan kebahagiaan tak terkira bagi Shixun, ketika dia merasakan Luhan memangku kepalanya di pahanya, mengelus rambut putihnya, bersenandung sepanjang perjalanan. Matanya selalu terpejam, bukan tertidur, namun tersenyum seperti orang gila. Luhan menunduk, menerka mengapa kulitnya sedikit merinding setiap menyentuh Shixun? Ia menggeleng cepat-cepat, jangan sampai ia berpikir hal terlarang.
Rintik hujan yang lumayan deras memukul kaca mobil di samping Luhan. Istri dari Oh Sehun itu memalingkan muka ke jalanan, melihat banyak bangunan bergerak semu disertai kabut hujan dan tetesan air menempeli kaca. Sebelah tangan Luhan yang lain meraba kaca, rasanya begitu dingin menyengat, mengingatkan Luhan dengan besi dingin yang selalu Sehun gunakan untuk menghukumnya.
Luhan tersenyum pahit, teringat sikap kekanakan Sehun yang kontras dengan sikap kerasnya akhir-akhir ini.
"Xiao Lu?"
Luhan terkesiap ketika ia merasakan hangatnya tangan Shixun di tangannya. Hangatnya menggantikan dinginnya kaca. Sebagai istri yang terus menjunjung nama baik suaminya, pemuda cantik itu melepas genggaman Shixun.
Shixun tersenyum kecut, tapi ia sembunyikan dengan menutupnya menggunakan lengan bawahnya.
"Ya, Xun?"
"Kau melamunkan apa?"
Luhan tak mampu lagi untuk memekik bahagia, "aku senang sekali! Setelah sekian lama, aku akhirnya bisa bertemu keluargaku!"
"Benarkah?"
Anggukan kepala Luhan berikan, hingga rambut hitamnya ikut bergerak.
"Yup! Aku sangat bahagia sampai-sampai aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya padamu," ucap menggebu Luhan. Namun mata Shixun membulat ketika Luhan memeluknya hangat, "ini berkat dirimu dan Yifan. Khamsahamnida, Shixun-hyung, Yifan-hyung..."
Yifan yang sedari tadi memperhatikan jalan sambil mengendarai mobil, hanya tersenyum di balik kebisuan dan suara gemericik hujan. Berbeda dengan Shixun, dia menahan air mata akibat sesak di dadanya memaksanya menangis.
Aku tidak mau kehilanganmu, Xiao Lu...
Aku sungguh-sungguh mencintaimu...
Suara hati Shixun mungkin tak didengar pemilik hatinya, tapi ia seharusnya tahu bahwa Tuhan pasti akan mewujudkan doanya, atau menggantinya dengan yang lebih baik.
Ya, ia akan segera mendapatkannya.
"Kita sudah sampai, Tuan Muda Lu."
Suara bel gereja menandakan kebenaran pernyataan Yifan.
"Syukurlah..." Ucap Luhan. Kedua pipinya bersemu merah dan mulutnya sedikit mengeluarkan uap akibat udara dingin. Lucu sekali.
Shixun duduk tegak, sembari mendengar suara grasak-grusuk gerak Luhan memperbaiki tampilannya. Ia mungkin membayangkan, Luhan bagai takoyaki, begitu bulat karena dibungkus jaket tebal. Karena ia tak tahan dingin dan akan terus mengigil bahkan demam berhari-hari hanya karena udara hujan.
Negara C tidak mengalami musim salju, hanya tiga musim yaitu musim panas, semi, dan gugur. Jika terjadi salju, mungkin tak sederas hujan, itupun jarang datang dan hanya sekali dalam beberapa tahun.
Jadi hal biasa apabila Gereja di negara C tidak mendirikan pohon natal besar di setiap natal. Dikhawatirkan air akan mengalir di kabel-kabel lampu LED kecil, hingga terjadi konsleting. Pihak gereja maupun tempat ibadah lainnya tak bisa berbuat banyak jika kebakaran, atau masalah lainnnya menimpa mereka. Karena Pemerintah Pusat Benua tak lagi mau mengurusi perihal keagamaan. Hal itupun berdampak pada tindak-tanduk Pemerintah Pusat Negara C.
Mobil pribadi Shixun, dengan Yifan merangkap sebagai supir pribadinya, terparkir tepat di depan pintu masuk gereja. Sehingga Yifan tak perlu mengeluarkan payung karena ada atap bening dari bahan kaca, yang meneduhkan mobil itu.
Yifan keluar terlebih dahulu, membantu Shixun duduk di kursi roda, lalu membukakan pintu untuk Luhan.
"Yifan!"
"Ya, Tuan Muda Lu?"
"Apa aku istri yang tidak baik untuk suamiku? Bukankah Hunhun berpesan padaku untuk tidak pergi?" Luhan merengut lucu mengingat kesalahannya.
"Ini hanya sebentar. Lagipula, misa Natalnya akan selesai dan anda bisa menemui seluruh keluarga anda."
Luhan memberikan senyum lebarnya, lalu tertawa kecil, "kau benar... Yifan! Ah, bodohnya aku. Ini kesempatanku dan aku tak boleh melewatkannya...ganbatte, Luhan!"
Luhan berseru sembari meninju udara. Sikap khas bocah, mengingat usianya masih 17 tahun, jarang sekali Yifan lihat semenjak Luhan menikahi Sehun. Sungguh, Sehun mengubah bocah itu terlalu banyak.
Yifan menatap sedih pergelangan tangan Luhan yang memar. Mata tajamnya pun mengerling pada Shixun. Pria yang duduk di kursi roda itu hanya tersenyum misterius.
"Aku akan mendorongmu masuk, Xun. Aku ingat dengan baik kalau gereja ini tempat Sister Yuri bekerja. Dan baik pendeta serta para biarawati di sini, selalu menerima siapapun masuk ke gereja 24 jam! Bukankah itu keren?" Unjuk dua ibu jari dari Luhan untuk Shixun. Yifan hanya menggeleng maklum, Shixun terkekeh kecil.
"Biar Yifan saja yang mendorongku, tak apa Xiao Lu."
"Tapi, Xun—"
"Bukakan saja pintunya untukku."
"Ehm... Ya sudahlah..." Walau agak kesal, Luhan melakukannya.
Luhan membuka pintu perlahan. Ia tersenyum lebar dan matanya berbinar, ketika cahaya lampu gereja menyeruak keluar menerpa dirinya.
Namun...
DEG...!
Ada yang aneh pada Luhan.
Matanya melebar, memerah, air mata mulai muncul malu-malu mengaliri pipinya. Kedua tangannya bergetar untuk membekap mulutnya. Luhan jatuh bersimpuh, dadanya naik turun tak karuan, matanya terpejam erat, jari jemarinya terpilin menjambak rambutnya, sebelumnya akhirnya ia berteriak.
"AAAAARRGGGHHH...!"
Mata Yifan seakan keluar dari rongganya ketika melihat apa yang ada di dalam gereja. Buru-buru dia memeluk Luhan, meredam teriakannya.
Luhan terus berteriak dan menangis deras di dada Yifan. Bolak-balik ia menjambak rambutnya, seakan rambut itu bisa meracuninya. Sementara di balik punggungnya, Shixun mengendus bau darah yang menyebar di udara. Matanya terbelalak karena syok.
"Apa...apa yang kau lakukan—"
Pria di atas mimbar, bersetelan hitam, berbalik badan begitu santainya sambil tersenyum miring.
Ia mengejek pendatang baru.
"—SEHUN?!"
Tubuh Luhan mendadak kaku di pelukan Yifan. Buru-buru dia berbalik, melihat pria yang dicintainya berdiri angkuh sementara sekitar kedua kakinya bergelimang mayat dan darah.
"Hun...hun...?"
Liquid beningnya mulai menghiasi kecantikannya.
Gereja Protestan Triaka, nama gereja ini, kini hanya diisi mayat-mayat dari para jemaah berusia anak-anak hingga renta. Mereka terkena luka tembakan lebih dari sekali, berkali-kali untuk setiap tubuh, hingga darah mereka keluar deras dan seakan membanjiri lantai.
Mereka, para mayat itu, tersebar di mana-mana. Ada yang cukup dekat dengan pintu, telungkup di sekat jendela di mana kacanya pecah, terkulai lemah di atas lantai, mati dalam posisi duduk dan memeluk kitab, beberapa meninggalkan ekspresi ketakutan dimana mulut mereka menganga lebar.
Namun yang menjadi perhatian Luhan adalah mayat buntung tertelungkup di lantai antara dua baris bangku. Mayat itu memakai pakaian biarawati.
Luhan kembali melirik Sehun-nya, Hunhun-nya, hingga ia dapati tangan suaminya tergenggam rambut hitam dari kepala seorang wanita.
Kepala itu mengatupkan matanya, bibirnya terlukis senyum cantik, wajahnya tampak damai.
"Kak... Yuri...?"
Luhan terisak lalu menangis keras bak anak kecil, memanggil-manggil nama kakaknya.
"Aku akan mendorongmu masuk, Xun. Aku ingat dengan baik kalau gereja ini tempat Sister Yuri bekerja. Dan baik pendeta serta para biarawati di sini, selalu menerima siapapun masuk 24 jam! Bukankah itu keren?"
Yifan menatap iba Luhan. Dia memeluk Tuan Mudanya dari belakang, "ayo pergi, Tuan Muda..." bisiknya di telinga istri seorang Oh Sehun.
Luhan memberontak di pelukan Yifan hingga akhirnya terlepas. Luhan berlari, semakin masuk ke dalam gereja, kakinya melewati mayat-mayat lainnya. Yifan ingin mengejar, tapi Shixun meremas pergelangan tangannya.
"Tuan Muda?"
"Ini masalah mereka. Jika Luhan dalam bahaya, baru kita bertindak."
Terkadang Yifan muak dengan sikap sok bijak majikannya.
Tapi sebagai bawahan, ia harus tetap menuruti segala perintah.
"Baik, Tuan Muda."
.
.
.
.
.
"Lulu? Kenapa bisa kau ada di sini?"
Luhan ada di tengah gereja, menengadah pada pria di atas mimbar. Tangisannya terus mengalir tanpa isakan. Sehun melirik tangan mungil istrinya. Tangan itu terus mengepal dipenuhi tekad.
"Bukankah kau seharusnya di rumah? Kenapa bisa ada di sini, hm?"
Senyum suaminya tak lagi semanis dulu.
Itu sangat mengerikan. Seakan setengah muka Sehun terhisap kegelapan, sorot matanya bagai laser merah menghunus korbannya.
Kenapa Luhan baru menyadarinya?
Suaminya tak lebih dari iblis berwujud manusia.
"Jelaskan..." Luhan meremas dadanya, berusaha menetralisir ketegangannya. Setiap detak jantungnya adalah tebasan rasa sakit untuknya. "Jelaskan apa yang..." Luhan menghapus air matanya serampangan.
Sangat berbanding terbalik dengan Sehun. Pria itu memiringkan kepalanya, tersenyum luar biasa tampan memperhatikan istrinya menangis karena dirinya.
Ia bangga atas maha karyanya ini.
"Katakan dengan pelan, istriku. Mau kuberi nafas buatan?"
Rahang Luhan menekan kuat, menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang menyakiti suaminya.
Sampai akhirnya, benteng pertahanannya berhasil ditembus Sehun hanya dengan sebuah kalimat,
"Lihat Lu, bukankah ini indah?" Sehun merentangkan tangan, seakan ia adalah seorang pelukis yang mempresentasikan maha karyanya.
"Indah?" Luhan tertawa sinis. "Bagiku, ini neraka dan kau iblisnya. Kau psikopat gila mengerikan!" Geram Luhan.
Sehun meredupkan senyumnya. Matanya mendadak kosong mendengar hinaan istrinya, "apa?"
"Kau...! KENAPA BISA MEMBUNUH MEREKA?! Mereka... Mereka keluargaku, Hun..hksss... mereka keluargaku..."
Sehun melempar kepala yang sedari tadi digenggamnya. Bagai melempar bola bowling, Sehun terkekeh bak orang gila karena kepala itu menggelinding mengenai kaki Luhan.
Manik emas kehijauan Luhan dihiasi bulir air mata baru. Nafasnya tercekat, suaranya bagai dicekik tali tambang. Luhan jatuh bersimpuh, memeluk kepala itu dan bergumam, "Kak Yuri..."
Bahu mungil itu terus bergetar.
"Kau ingin tahu kenapa aku membunuh mereka?"
Kepala Luhan menengadah, memperlihatkan hidung memerah lucunya.
Sayangnya, Sehun kali ini tak tergoda.
Sebaliknya, amarahnya langsung menggebu.
"Itu karena kau terus memikirkan mereka! Terus menyebut nama mereka! Terus merengek ingin bertemu mereka! INI SEMUA KARENAMU, OH LUHAN!"
Suara gemuruh petir dan riuh rendah hujan di luar, seakan mewakili keterkejutan Luhan. Tangannya tak sanggup lagi memeluk kepala salah satu perawatnya di panti. Remaja 17 tahun itu menatap nanar kepala yang menggelinding menjauhinya. Ia tutup setengah wajahnya, menangis dan tertawa di waktu bersamaan.
Ini menyakitkan.
Sangat menyakitkan.
Apakah mencintai racun macam suaminya berefek semengerikan ini?
"Lalu..." Kelembutan Luhan beku. Ia berdiri gontai, meneruskan ucapannya, "...kenapa jika aku memikirkan mereka? Mereka keluargaku, Hunhun."
Binar manik hijaunya tak menunjukkan cinta lagi untuk Sehun. Begitu redup. Begitu hampa.
Mulai detik ini, Luhan dibangunkan oleh Tuhan mengenai kenyataan.
"Karena kau tak boleh memikirkan siapapun kecuali aku, Lulu!"
Luhan tersentak, tak habis pikir.
"Kau membunuh mereka hanya karena... Kau cemburu?"
"Ya! Aku cemburu. Di otak dan hatimu, tak boleh ada satupun yang kau pikirkan dan kau sayangi selain aku. Jika kau butuh sebuah keluarga, aku bisa mewujudkannya... Aku bisa Lulu! Apa yang kulakukan kupersembahkan untukmu... Oh Sehun sangat menggilai istrinya Oh Luhan! Dan lihat semua ini... Semua keindahan ini..." Sehun tertawa, tangannya terentang seakan ia berpidato pada rakyatnya. "Semua ini adalah untukmu, Lulu sayang..."
"Sinting."
Tanpa disadari, air mata menetes di mata tampan Sehun.
"Lulu... Kau menyakiti hati Hunhun-mu."
"Kau membuatku takut, Sehun..." Tanpa sadar, Luhan ambil langkah mundur.
Yifan berada di belakang kursi roda Shixun. Menyaksikan bagaimana gilanya Presiden Dunia Kedua itu pada isterinya, Oh Luhan. Yifan tak menyangka, pria mungil yang menjadi malaikat dan cahaya dalam boroknya Keluarga Oh, ternyata terikat rantai obsesi seorang Oh Sehun.
Sementara Shixun tak sanggup lagi mendengar betapa tidak warasnya sang adik. Ia sibuk menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan Luhan mencintai Sehun dengan rasa sakit. Luhannya yang malang, harus mencintai iblis macam adiknya.
Sementara itu, Sehun turun dari mimbar dan mendekati istrinya.
"JANGAN MENDEKAT!"
"Kenapa, Lu? Aku suamimu, jangan takut pada Hunhunmu, kumohon..."
Sedetik, hati Luhan tercubit melihat bagaimana suaminya menangis sambil menangkup tangannya. Mata tajamnya terpejam erat, bahu lebarnya bergetar, memohon iba pada Luhan untuk tidak lagi menghinanya.
Semua dunia boleh menganggap Sehun iblis, tapi tidak dengan istrinya.
Jika sudah seperti itu, Sehun akan benar-benar kehilangan segalanya, termasuk hati nuraninya yang tersisa sebagai manusia.
Ketika matanya terbuka, bertautan dengan dua permata emerald Luhan, saat itulah Sehun menyesali perbuatannya.
Bukan, bukan menyesali bagaimana ia membunuh biang kekacauan istrinya, tapi menyesali mengapa ia tak bisa memeluk istrinya yang menangis.
"Lulu...?"
"KUBILANG JANGAN MENDEKAT, SIALAN! atau aku akan membencimu selamanya!"
Sehun berhenti melangkah, raut mukanya berubah kelam tak berekspresi. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya, urat-urat kemarahan timbul di lehernya. Ia menatap tajam istrinya. Mematenkan satu fakta bahwa sebentar lagi, Luhan akan pergi darinya dan demi apapun... Ia lebih suka memasung kedua kaki istrinya. Harus. Ya, itu harus! Pemikirannya kini dipenuhi obsesi yang membuatnya tak sadar bahwa Tuhan ikut andil tuk melindungi hamba-Nya.
Memohon pada Luhan tak lagi berguna. Sehun menyadari itu sebaik ia menghamba pada istrinya.
"Kau tak boleh pergi dariku Lu... tidak boleh... bahkan jika Tuhan-mu menakdirkanmu mati, aku akan membuatmu terus hidup untuk mendampingiku. Kau milikku, Lulu! Bukan siapapun, BAHKAN TUHAN SEKALIPUN...! Kenapa kau tidak sadar juga?!"
"Hun..hun? ada apa denganmu...?" reaksi Luhan ketakutan. Sehun nampak psikopat di matanya.
"Seluruh dunia harus tahu, selamanya Oh Luhan hanya milik Oh Sehun..." ucap Sehun bersama mata kosongnya.
Menyadari aura Sehun semakin buruk, Shixun berteriak panik, "XIAO LU, MENJAUH DARI SEHUN...! YIFAN, bawa Luhan menjauh dari gereja!"
"Baik, Tuan Muda."
Yifan langsung berlari cepat, membopong tubuh mungil Luhan ala panggul beras. Pandangan Luhan otomatis jungkir balik, ia luar biasa terkejut atas tindakan Yifan. Untuk itulah ia bertanya, "Yifan... apa suamiku begitu mengerikan sampai-sampai kau membawaku kabur darinya?"
Namun Yifan tak menjawab. Ia terus berlari ke luar gereja.
Luhan sedikit mendongak di balik bahu Yifan. Entah keterkejutan yang keberapa kali harus ia alami dalam sehari, tapi kali ini berbeda. Ia sesak saat mengetahui Shixun ikut andil dalam kekecewaannya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Wu Shixun, berdiri di hadapan Sehun tuk mencegahnya bergerak mengejar Yifan.
Shixun sedikit menelengkan muka ke belakang, benar-benar menatap mata cantik Luhan seakan mata bening Shixun memang bernyawa. Luhan bisa merasakan kelembutan cinta, serta kepedihan, di mata bening itu.
Shixun benar-benar menatapnya penuh cinta.
"Maaf... Xiao Lu..." ucap Shixun tanpa suara.
"Shi...SHIXUN...!!"
Teriak Luhan, mengharap Shixun pergi bersamanya.
Dan pemandangan terakhir yang dilihat Luhan, adalah Shixun menyerang Sehun.
Setelah mendudukan Luhan ke jok mobil di sampingnya, Yifan siap-siap mengebut untuk menghindari banyaknya mobil yang akan menarget Luhan khas polisi mengejar buronan.
"Yifan... Shixun bagaimana? Shi..Shixun bagaimana? Suamiku akan membunuhnya kalau aku tidak berada di sana..."
Binar kebahagiaan Luhan benar-benar hilang. Kini tinggal kekosongan di sana. Terlalu syok untuk mengetahui fakta bahwa ia kehilangan seluruh keluarganya, termasuk suami yang begitu dicintainya, juga kebohongan pria yang begitu dikagumi dan disayanginya... Wu Shixun.
Matahari kebahagiaan si Kembar Oh benar-benar tenggelam di arah barat tanpa terbit di timur. Itulah definisi dari berakhirnya eksistensi Oh Luhan untuk Sehun dan Shixun.
.
.
.
.
.
"Aku kecewa padamu kak, kenapa harus istriku yang kau cintai? Seandainya... kau bukan kakakku mungkin kau akan bernasib sama seperti mereka..."
Sorot manik hitam jelaga Sehun bersibobrok dengan manik bening Shixun. Pertemuan laksana Yin dan Yang, perpaduan laksana hitam dan putih, itulah definisi kiasan mengenai si Kembar Oh. Meski Shixun tak lagi menggunakan marga 'Oh', namun bagi Sehun versi berhati nurani, kakaknya akan selalu bermarga 'Oh' dan lebih berhak atas segalanya.
Tapi tidak, tidak jika itu menyangkut Luhan.
Shixun meremas bahu lebar adiknya, meneliti ada apa dengan adiknya ini? Apakah penyebabnya adalah didikan ayahnya tuk menjadikan Sehun sebagai Presiden Dunia selanjutnya? Demi seluruh hati dan cintanya untuk Luhan, ia bersumpah ia menyesal karena menuruti perintah ayahnya untuk keluar dari silsilah Keluarga Oh.
"Adikku, kumohon jaga perkataanmu. Tidakkah kau mencintai Lulu-mu? Jika kau mencintainya seharusnya kau memperlakukannya layaknya manusia, bukannya seperti barang."
"Persetan!" geram Oh Sehun.
"Hun... aku semakin tidak mengenalimu. Di mana adikku selama ini hah ? sadarlah! Ya Tuhan... ada apa dengan adikku?"
Sehun langsung menyentak tangan kakaknya, menyabet lengan kakaknya dengan pisau dari balik mantelnya, lalu mundur beberapa langkah. Shixun meremas lengan atasnya, lukanya cukup dalam. Darahnya merembes begitu saja.
"Selama ini ayah berhasil membuatmu bangkit dari lumpuh dan buta permanenmu? Wah... seorang Shixun yang lembut ternyata pembohong besar! Apakah kau mencintai Lulu-ku dengan kebohongan pula? Kau tahu kak, kita sama saja!" dan Sehun tertawa bak orang kehilangan akal.
"Ya, kita sama saja Hun, maka dari itu untuk kebahagiaan Luhan..."
BRRAKK...!!
Shixun melempar seonggok puing bangku pada adiknya. Refleks Sehun menyilangkan tangan melindungi wajahnya. Ketika ia menghadap depan, yang ia temui adalah raut amarah Shixun begitu dekat dengannya.
"...lebih baik kita mati bersama, Oh Sehun."
Shixun memukul telak wajah Sehun hingga tubuh itu tersungkur. Tak sengaja pisau Sehun terlepas dari genggaman. Tapi Sehun tak peduli. Ia melompat bangkit, meringis menghisap darah di ujung bibirnya.
Keduanya benar-benar saling menyerang, membunuh, melupakan fakta bahwa mereka saudara kembar. Ikatan darah dan batin bahkan terputus di malam itu. Disertai hujan dan gemuruh dari amarah alam, mereka terus baku hantam di dalam gereja yang seharusnya menjadi tempat ibadah.
Bangunan ibadah tersebut tak ubahnya neraka untuk Oh Sehun dan Wu Shixun.
Keduanya tahu, ini adalah akibat mereka bermain-main dengan Tuhan.
Lewat luka yang mereka ukir untuk Luhan, pria kecintaan mereka.
.
.
.
.
.
Luhan harus menahan muntah ketika Yifan mengendarai mobil ugal-ugalan. Suara tembakanpun bertubi-tubi menyerang roda-roda mobil yang ditumpanginya, hingga mampu memekakkan telinga Luhan, sampai lebih dari tiga peluru melesat di antara kepala Luhan dan Yifan. Pria mungil itu mengeratkan remasannya pada sabuk pengaman, sontak memekik ketika Yifan berhasil banting setir dari truk gandeng di hadapannya. Alhasil tubuhnya sedikit oleng ke kaca pintu mobil, kepalanya terbentur, dan akhirnya si mungil mengomeli Yifan.
"Aku mau muntah karenamu, Yifan! Kantung plastik... ugh! Di mana kantung plastik?!"
Yifan menyodorkan sekantung plastik hitam dari dashboard mobil. Luhan menerimanya dan langsung muntah di hadapan kantung plastik.
Yifan meringis iba untuk Luhan, sesekali mata coklatnya melirik ke kaca spion, lalu kembali pada jalanan di depan. "bersabarlah, Tuan Muda! Lihat di belakang kita..." Luhan refleks memutar pinggang lalu mengintip banyak mobil mengejar mobil pribadi Shixun ini. "...mereka bertambah banyak hanya untuk menangkapmu!"
Luhan memperhatikan jalan di depan, pandangannya was-was.
"Kalau kita kabur dari anak buahnya Sehun, Shi...Shixun bagaimana?"
"Anda mungkin tidak akan mempercayai saya tapi... Tuan Muda Shixun lebih kuat dari yang anda duga."
"Dia membohongiku," ucap lemah Luhan.
"Benar. Itu semata-mata karena dia mencintai anda."
"Persetan! Dia dilarang mencintaiku karena aku adalah adik iparnya."
"Dari jaman Romeo and Julliet menjadi dongeng rakyat, sampai jaman dimana Tuhan dianggap tidak ada bagi banyak umat manusia, cinta segitiga memang rumit dan berakhir tragis, Tuan Muda."
"Tumben kau bijak?"
DOR! DOR! DOR!
Tembakan kembali datang dari mobil pengejar.
Yifan berdecih, Luhan melihatnya nanar. Dahi pria itu berkeringat, konsentrasinya terpecah antara jalanan, menjaga Luhan, hingga menjaga mobilnya tidak terkena tembakan. Akhirnya Luhan mencondongkan badan ke arahnya, menarik revolver dari ikat pinggang Yifan.
"Apa yang anda lakukan, Tuan Muda?!"
"Menembaki kepala mereka!"
Yifan tahu dari Shixun bagaimana riwayat kesehatan Luhan. Pria mungil itu terlalu berempati terhadap sesuatu, sering mencemaskan banyak hal, dan ketika Luhan menggenggam revolver bersama raut wajah putus asa, habislah sudah!
"A...aku bisa..." nada bicara dan tangannya gemetar.
"Tuan Muda Lu, sebaiknya anda melepas senjata itu!" yifan berseru, lalu berbelok ke arah kanan. Beberapa pejalan kaki di trotoar memekik terkejut, suara decitan ban terdengar, lantai licin sehabis hujan nyaris membuat mobilnya oleng.
Sesekali Yifan melirik pergerakan Luhan, fokus pada jalanan di depannya, dan berseru lantang saat melihat Luhan menatap tajam mobil di belakang mereka.
"Tuan Muda Lu!"
"DIAM, YIFAN! INI PERINTAH!"
Si keras batu tetap pada pendiriannya.
Luhan membuka kaca mobil, mencondongkan badan ke luar, memberi aba-aba pada Yifan, "fokus berkendara saja, Yifan!"
"Apa? Lalu anda bagaimana?!"
Luhan tak menjawab. Ia membidik dan untung saja revolver milik Yifan memiliki laser sehingga dapat membidik ban mobil pengejarnya. Mereka sekitar lima mobil.
Lima lawan satu terdengar pengecut bagi Luhan.
Remaja berusia 17 tahun itu menarik pelatuknya. Hasilnya jauh menyimpang, pelurunya menancap di batang pohon pinggir jalan raya. Luhan mengerang kesal karena kedua tangannya tak cukup kuat menahan guncangan saat menembak. Dan sialnya lagi, remaja itu buru-buru meringkuk di dalam mobil saat belasan tembakan dilayangkan padanya. Bahkan Yifan harus merunduk sambil fokus mengendalikan kemudi.
"Lihat apa yang sudah anda lakukan? Sia-sia!"
"berhenti mengomeliku, fokuslah menyetir," gerutu Luhan.
Ingin hati Yifan membalas gerutu Luhan, tapi apa yang ada di hadapannya kini membuatnya semakin kalut.
"Tuan Muda Lu..."
"Ya?"
"sebentar lagi kereta akan lewat!"
Luhan mendengar suara kereta listrik mendekat.
"Lalu bagaimana?"
"terpaksa kita—"
CKIIITT...!
BRUAAGHH...!
Suara decitan ban mobil dan benturan bukan berasal dari mobil yang ditumpangi Luhan dan Yifan, melainkan bersumber dari belakang mobil mereka. Kebetulan yang sangat tepat, mobil mereka berhenti tepat di depan kereta listrik yang melaju menyaingi angin topan.
Yifan melirik spion mobil. Alangkah terkejutnya ia karena lima mobil abu-abu bersimbol Benua Eurasia rusak parah di salah satu sisi. Kelimanya mengeluarkan asap, orang-orang di dalamnya diseret belasan pria berbaju hitam. Pria itu pikir, suara-suara tadi pasti karena mobil pengejar mereka menabrak mobil lain.
TOK! TOK!
"Yo! Kris!"
Dan benar saja, suara seseorang yang sangat Yifan kenali, mengetuk kaca mobilnya.
"Myeon?"
"Tuan Muda Shixun meminta Tim C mengawasi Gereja Protestan Triaka 24 jam, dari subuh tadi. Dan aku tak menyangka dia memperkirakan ini akan terjadi." Pria bertubuh sedikit pendek namun ketampanannya tak perlu diragukan lagi, melirik seseorang di samping Yifan. Ketika kaca mobilnya dibuka, pria yang dipanggil 'Myeon' membelalakkan matanya. "Tuan Muda Luhan?!"
Luhan yang merasa dipanggil, menunjuk dirinya sendiri, "kau mengenaliku?"
Pria itu membuka masker hitamnya, memberi senyumnya. Ia membungkuk hormat pada Luhan.
"Perkenalkan, nama saya Junmyeon. Salah satu anggota Organisasi Daqrios di bawah perintah Wu Shixun. Senang bisa menemui anda, Tuan Muda Lu."
"Daqrios?"
"Organisasi yang dulunya dibentuk untuk melawan Pemerintah Pusat Benua Rezim Oh Yunho."
.
.
.
.
.
Melalui orang-orang yang direkrut Wu Shixun sebagai partner,
Tuhan berhasil mengambil Luhan dari Oh Sehun.
Tepat di tanggal 25 Desember 2135, semuanya berubah...
.
.
.
.
.
Shixun tahu inilah akhirnya.
Terbaring tanpa daya, menangis tanpa isakan kecuali senyum damai.
Pertarungan antara ayahnya dan dirinya, antara Pemerintah Pusat Dunia dan Organisasi Pemberontak, akan diteruskan pada Sehun dan Luhan. Jangan tanya alasan pemikiran sinting itu terlintas di otaknya. Karena untuk saat ini, Tuhan pun tak ingin ditanyai.
Pandangannya kini memburam pada langit-langit gereja. Meski samar, ia melihat banyak malaikat beterbangan dengan sayap indah mereka, terlukis di sana. Walau setengah telanjang, mereka tak terganggu pada dinginnya suhu karena alam sendiri sangat menyayangi mereka. Angin dinginpun takkan tega membuat para malaikat demam, kan? Karena mereka terlalu taat pada Tuhan dan kasih sayang-Nya adalah penghargaan dari-Nya.
Membayangkan semua itu, pikiran si albino tertuju pada Xiao Lu-nya.
Shixun merasa damai di rumah Penciptanya. Ia bahagia, tempat terakhirnya bernafas adalah di tempat favorit Xiao Lu-nya.
"Sehun... Bo.. ekhem! boleh, kah... aku memin..minta se...sesuatu?"
Di samping Shixun, duduklah Sehun. Pria itu hanya sibuk memandang kondisi kakak kembarnya. Keduanya memang terluka, babak belur, darah menghiasi wajah tampan keduanya, pakaian merekapun lusuh. Mata bening Shixun melirik adiknya. Memberi tatapan lembut yang mungkin... terakhir kalinya.
"Permintaan terakhir apa, yang kau inginkan?" tanya datar Sehun.
Shixun meringis sambil meremas perutnya. Darah akibat tusukan pipa besi dari Sehun, mengalir deras dan membasahi kemeja putihnya. Dada pria itu condong ke atas, seiring tenggorokannya yang tercekat. Berulang kali ia ingin udara menggetarkan pita suaranya, tapi tak ada secuil suara keluar.
Sehun menghela nafas, "seandainya kau tidak mencintai istriku, tidak... seandainya istriku tidak mencintaimu juga, mungkin kau masih hidup, Kak."
"Xiao Lu... men..mencintai...ku?"
Sehun tersenyum pahit. Tawa lirihnya keluar diiringi seruan.
Bisa Shixun rasakan amarah Sehun memuncak ke arahnya.
"beberapa jam sebelum kau datang ke kamar kami, di malam kemarin, dia mengigau menyebutkan namamu! Namamu, kak! Itulah yang membuatku merantainya, karena aku tak ingin dia menyentuh—Sial! Bagaimana bisa aku, seorang Presiden Dunia, dikhianati seperti itu?! apa kau bisa menjawab mengapa istriku mengigaukan namamu di ranjang kami?!"
"Benar..kah...?"
"Kau senang, kan?" tanya Sehun getir. "KAU SENANG KAN, KAK?!"
Shixun memejamkan mata dramatis, air matanya meluruh cuma-cuma, "jangan larang aku... untuk... mencintainya..."
"Tapi yang kau cintai adalah istriku, berapa kali aku harus memperingatimu?"
"Aku mohon..."kerongkongan Shixun seakan tersedak sesuatu, ia terbatuk-batuk, hingga darahnya menciprati wajahnya dan wajah Sehun.
"Apa itu permintaanmu?" ujar dingin Sehun.
"tak... hanya itu..." mata Shixun terbuka perlahan. "Ambil mata... dan..sshh... dan jantungku... sse...sebelum aku..dikubur...kan.."
"hah?"
"Aku punya impian. Mencuri dan memiliki istrimu. Tapi... melihat dia sangat mencintaimu, aku... aku tidak bisa menjadi egois untuknya..." Shixun menarik nafas susah payah. Suaranya mulai mencicit, hingga Sehun mendekatkan wajahnya. "...aku memiliki arsip, rencanaku, formula, berbagai kegagalan, untuk menciptakan... ma..manusia."
Tangan yang sedari tadi meremas perutnya, kini menangkup pipi si adik kembarnya. Darahnya pun menyelimuti sebagian wajah Sehun. Sekali lagi, sepicik dan seegois apapun adiknya, Shixun akan selalu dan bersedia mengalah demi adiknya. Termasuk, memberikan satu hal yang menjadi harapan tertingginya selain mencintai dan memiliki Luhan.
"Ciptakan Luhan-ku. Melalui... melalui kalian berdua. Dan... izinkan sebagian dari diriku... jendela hatiku (mata), dan inti hidupku (jantung), menyatu bersama kalian berdua... melalui dirinya..."
"apa yang kau katakan, kak?"
Dahi Shixun mengernyit dalam. Lalu kembali memandang teduh adiknya.
"Aku mo...hon..wujudkan im..impianku..."
"Kak Shixun?"
Lambat laun, tangan lemah sang kakak terkulai di pangkuan adiknya. Manik bening itu mulai bersembunyi di balik kelopaknya. Deru nafasnyapun mulai tenang. Gerakan naik turun dadanya berangsur datar. Sehun memeluk tubuh atas kakaknya, entah kenapa hatinya tercubit dan ingatan masa kecilnya dengan sang kakak bagai kaset rusak mengiangi kepalanya. Setetes air mata turun menghiasi dagu runcingnya.
Shixun tersenyum damai di balik pelukan adiknya, pembunuhnya.
Ia menyuarakan nafas terakhirnya untuk satu kalimat,
"Beri dia nama, Xiao...Lu."
.
.
.
.
.
Luhan bagai rusa yang baru bebas dari kandangnya, tepat setelah Shixun membawanya pergi dari mansion mewah suaminya.
Lewat Shixun, Tuhan mengambil Luhan, dari Oh Sehun yang begitu serakah atas cinta Luhan.
Pria itu melupakan fakta bahwa penyatuannya dengan Luhan adalah takdir dari-Nya. Tuhan mempercayakan Luhan pada Sehun, tapi Sehun menyakitinya sedemikian rupa bahkan berusaha memalingkan Luhan dari-Nya. Alhasil, Tuhan memberinya hukuman berupa kehilangan.
Kehilangan amat pedih, hingga menjadikan Luhan sebagai malaikat kematian untuk Sehun di masa depan kelak.
Hanya untuk Oh Sehun.
Oh Sehun berdiri pongah di tengah rumah-Nya. Menengadah bersama sinar mata penuh dendam. Simbol Ketuhanan bagai bualan untuknya, dijadikan sebagai ajang pelampiasan amarah.
"Aku menikahinya di gereja ini, di rumah-Mu yang begitu indah, damai, tentram, anggun. Akupun menjadikan rumah-Mu sebagai surga untuknya...
...dan di rumah-Mu pula, aku menciptakan neraka untuknya. Untuk... salah seorang hamba-Mu."
Tangisan Luhan langsung menggerayangi kepalanya. Menjadi pemicu Sehun membekap telinganya. Kemudian Pria itu berteriak, mengerang, mencari hal yang dapat ia salahkan. Sehun hanya ingin rasa bersalahnya hilang, agar suatu saat jika dibutuhkan, ia bisa ikhlas hati menyakiti istrinya.
Teriakannya pun berhenti. Diganti tawa mengejek, memperlihatkan sisi lemah Sehun.
"Kau ingin bermain-main denganku? Baiklah! Kau mendapatkan apa yang kau inginkan."
Sehun menangis pada Tuhan, untuk terakhir kalinya. Air matanya menetes cuma-cuma. Ia tak mengusapnya, tak menahannya. Ia ingin merasakan menjadi manusia normal untuk terakhir kalinya. Karena mulai detik ini, ia bukan lagi 'manusia'.
Ia akan menjadi Tuhan untuk dunia yang ia desain sendiri.
Sekali lagi semua yang dilakukannya hanya untuk Luhan.
Karena dirinya sebagai seorang 'manusia biasa' tak bisa menakdirkan Luhan bersamanya, maka dengan menjadi 'Tuhan', Sehun bisa menundukkan dunia termasuk...
...pria cantiknya.
"Jika Kau benar-benar ada, katakan pada Luhan bahwa aku mencintainya. Katakan padanya pula, apapun yang kulakukan di masa depan nanti... semuanya karena dirinya! Jadi..."
Sehun menyeringai,
"...jangan salahkan aku jika semua tak lagi sama."
.
.
.
.
.
Ya, semua yang dilakukan Oh Sehun hanya untuk Oh Luhan dan hanya karena Oh Luhan!
Namun siapa yang mampu menyanggahnya?
Tuhan.
Musuh terbesar Oh Sehun, sepanjang hidupnya.
.
.
.
.
.
Distrik : Delta
Negara : A
Benua : Eurasia
Tanggal : 25 Desember 2135
.
.
.
.
.
"jadi dia Tuan Muda Luhan?"
"Ya."
"Dia cantik sekali... Lumayan, untuk penyegar mata."
Yifan mendengus di hadapan seorang pria bermuka bebek, namun begitu lucu dan mempesona dengan daya tarik berbeda dari kebanyakan. Pria itu adalah Kim Jongdae, salah seorang sebatang kara dari Distrik Delta, Negara A. Ia salah satu partner dekat Shixun dan Yifan, hanya saja eksistensinya jarang terlihat. Bukan karena bisa berkamuflase, melainkan kepribadiannya yang anti sosial.
Mengetahui ada seorang remaja di kamar Tuan Mudanya, membuat Chen penasaran dan tergesa-gesa keluar dari kamarnya. Ia mengabaikan semangkuk mie cup kesukaannya, dan kumpulan boneka bebek lembutnya, hanya untuk tahu 'bagaimana rupa remaja kecintaan Shixun'.
Di antara siapapun, Jongdae adalah partner kerja yang paling penasaran mengenai hidup Shixun.
Rasa penasarannya pun terlepas bagai meminum air di tengah gurun. Jongdae suka bagaimana binar tekad dan senyum gamang Luhan pada sebuah bingkai foto.
Kamar santai Shixun nampak hidup.
Oh Luhan ada di sana, duduk meringkuk, bergelung dalam selimut tebal, di atas ranjang Shixun yang biasa digunakan untuk beristirahat. Tangan kurusnya memeluk foto Shixun bersama Sehun di sampingnya. Nampak jelas dari tatapan keduanya, si kembar Oh saling menyayangi, melempar cengiran dengan Luhan di tengah mereka.
Senyum Luhan tak lagi sama seperti di bingkai foto tersebut.
Muka cantiknya begitu kuyu, manik hijau keemasannya nampak redup, matanya setengah mengatup menahan kantuk, kepalanya memberat. Si cantik milik Oh Sehun itu sudah menangis berjam-jam, sambil berteriak meminta maaf pada Shixun.
Setelah tangis itu terbenam, kini terbitlah muka suramnya.
Jongdae takzim melihatnya.
"Dia adalah remaja yang dicintainya. Kita berkewajiban untuk menjaganya. Kau ingat pesan Tuan Muda Shixun kan?"
Jongdae rasanya ingin menangis, "kurasa... Tuhan terlalu jahat pada Tuan Muda Xun."
"Begini lebih baik, Jongdae. Tuan Muda Shixun pasti bahagia karena berhasil melindunginya sampai akhir hidupnya."
"ehm. Aku harap, Tuan Muda Lu lebih kuat dari ini. Karena jika tidak, pengorbanan Tuan Muda Xun sia-sia."
"Amin."
Mata coklat Jongdae melirik Yifan yang ikut murung memandangi Luhan.
"Apa tidak apa-apa Tuan Muda Lu dibiarkan tidur di kamar Tuan Muda Xun?" tanya Jongdae. "Sebelumnya, aku minta maaf karena tidak bisa mempertahankan markas Daqrios di Distrik Alpha, Negara A. Sungguh, aku—"
"Alasan Tuan Muda Shixun merekrut anggota Daqrios, dengan syarat harus sebatang kara, hanya agar para anggota tersebut fokus pada misi," Yifan menutup pelan pintu kamar Shixun, salah satu ruangan di lantai teratas Markas Daqrios.
Markas Daqrios di Distrik Delta, Negara F, adalah mansion mewah milik Jongdae. Jika ditanya mengapa ia anti sosial? Karena ia hanya suka mengurus toko online berbasis "serba-serbi bebek". Hingga akhirnya bebek membawanya pada kekayaan yang menguntungkan Organisasi Daqrios. Hm, mungkin ini informasi tak penting mengenainya.
Yifan dan Jongdae mengambil langkah, menuruni tangga hingga ke lantai dasar. Di sana, sekitar belasan pria dewasa berdiri dan melihat-lihat seisi mansion, beberapa di antaranya duduk dengan wajah lesu. Jongdae hanya tersenyum tipis, malu-malu ia bersembunyi di balik punggung Yifan.
Jongdae bersumpah, ia benci berinteraksi dengan siapapun kecuali Shixun dan Yifan.
Wajahnya mendadak pucat.
Yifan mengurut pelipisnya, masih saja terheran atas sikap Jongdae. Sambil berkacak pinggang, ia berkata, "Anggota Daqrios hanya tersisa sebanyak ini?" Sarkasnya. Yifan tersenyum sinis.
Belasan orang itu melepas masker dan topi baseball hitam mereka. Salah seorang pria bertubuh lumayan tinggi, Siwon, mengangguk singkat sebagai salam hormat. Yifan hanya mengangguk samar.
"Lapor, Tuan Muda Yifan, markas kita di Distrik Hotel, Negara C, sudah dihancurkan Pemerintah Pusat. Mereka mengancam para anggota Daqrios, yaitu membunuh keluarga dan orang-orang terdekat mereka, agar mereka membelot dari Daqrios."
"Jadi mereka melanggar aturan Daqrios?
Salah satu syarat masuk dan peraturan Daqrios adalah tidak menjalin hubungan apapun dengan manusia. Seluruh hidupnya hanya untuk benua dan Daqrios. Shixun bukannya tak punya hati, ia tahu semua anggotanya menginginkan keluarga dan teman, tapi jika ia tak tegas...
...akibatnya adalah kematian seluruh manusia yang berhubungan dengan anggota Daqrios. Mereka mungkin mati, meninggalkan dendam lain, atau dibasmi oleh Pemerintah Benua dengan cara terkeji.
Siwon tersenyum kecut.
"Tapi tak masalah."
Mata Siwon melebar ketika Yifan merangkul bahunya ramah, "aku sungguh beruntung, melihat kalian hanya memiliki satu hubungan di dunia ini. Bukan dengan siapapun, tapi dengan Daqrios," Yifan menepuk-nepuk punggung Siwon. Pria itu hanya terkekeh kecil meski terpaksa. "Apa ada kabar mengenai Tuan Muda Shixun? Kalian sudah dapat jasadnya?"
Belasan anggota Daqrios hanya menggeleng lemah.
Yifan murung, Jongdae bersungut-sungut di balik punggungnya.
Salah seorang dari mereka, pria berambut pirang dengan tato naga di lengan atasnya, menangis sesenggukan, "maaf... Tuan Muda! Ka...kami gagal..."
Sikapnya sangat tidak sinkron dengan tampilannya.
"Tak apa, Jaehyun."
Sepasang mata dari belasan anggota Daqrios membelalak. Lirikan mereka tertuju pada seorang remaja yang menuruni tangga.
"Kim Jaehyun, adik angkat Kim Jongdae. Dibanding kakaknya, Jaehyun paling benci bebek karena pernah pantatnya dipatuk paruh angsa," remaja itu adalah Luhan. Satu-satunya yang tercantik di ruangan itu. Ia tertawa kecil ketika melihat Jaehyun mengangguk tanpa disadarinya. "Aku benar kan, Jae?"
Mendadak, kesuraman mansion Kim Jongdae dipenuhi berkah dari malaikat bernama samaran 'Oh Luhan'.
Luhan benar-benar perwujudan malaikat jatuh dari surga, menaungi dan memberkahi kesialan anggota Daqrios.
"Siwon."
"Aku?" Siwon menunjuk dirinya sendiri.
Luhan berhenti di tengah tangga, mengetuk-ngetuk ujung hidungnya, "kau begitu mengagungkan bentuk hidungmu. Efek dari sifat narsistikmu pada wanita. Tapi... Kadang kau bisa berlebihan dalam menyikapi sesuatu, dan akhirnya... Henry akan menyikut dadamu tuk menyadarkanmu."
Ketika Luhan tersenyum pada salah seorang pria di samping Siwon, tanpa sadar pipi pria tampan itu memerah.
"Aku benar lagi kan, Henry?"
"Ya...ya..." Ujar gugup pria bersurai merah akibat cat rambut.
Setelah menuruni anak tangga terakhir, Luhan menghadap satu persatu pria di dalam ruangan. Ia mengelus pucuk kepala mereka, bergantian, sembari berkata, "kerja bagus. Selamat sampai di sini sudah cukup untuk kalian. Itu berarti..." Ketika Luhan hendak mengelus rambut Yifan, pria itu menggeleng lemah.
Luhan tersenyum simpul. Lalu sikap ramahnya berubah dingin. Ekspresi dan nada bicaranya datar, "itu berarti... Tuhan memberi kalian kesempatan lain di kemudian hari tuk mengakhiri semua kesedihan ini."
"Siapa kau?" tanya Jaehyun, meski pria itu terpesona pada bagaimana Luhan bersikap, ia diharuskan curiga dan waspada pada siapapun yang nampak asing.
Istri dari Oh Sehun itu, mulai memperkenalkan diri.
"Namaku Oh Luhan."
Semua penghuni, kecuali Yifan, rasanya baru tersedak ludah mereka sendiri. Beberapa bahkan batuk-batuk kering.
Mata mereka melotot horor.
"Jangan bilang kalau kau..." Ucapan Siwon menggantung. Karena ia sibuk bertanya pada Yifan lewat tatapan. Yang ditatap hanya mengendikkan bahu.
Luhan melipat tangan di balik punggung, memiringkan sedikit kepala hingga rambut hitamnya menyapu kening mulusnya, "...ya. Aku istri sah dari Presiden Kedua kalian, Oh Sehun."
"Tidak mungkin..." Jongdae sendiri masih tak percaya, kecintaan Tuan Mudanya ternyata juga kecintaan Presiden Dunia-nya.
Sungguh ironis.
Semua anggota Daqrios, Organisasi yang didirikan Wu Shixun, saling berbisik meragukan guna dari keberadaan Luhan di sini.
Namun remaja itu sudah mempersiapkan diri.
"Kalian mungkin meragukanku, dan itu bukan masalah. Menurut buku diary Shixun, kalian memang yang paling kritis mengenai perekrutan anggota baru. Ya kan, Yifan?"
"Apa tujuan anda sebenarnya, Tuan Muda Lu?" gumam Yifan tak habis pikir.
"Kemerdekaan."
Ada yang berbeda dari aura Luhan. Tidak mengintimidasi atau menakuti, tapi rasa nyaman tak wajar seakan menarik siapapun untuk berbuat apapun agar membuatnya senang.
Aura keajaiban apakah itu? Yifan semakin yakin dengan pemikiran gilanya kalau Luhan adalah titisan malaikat.
"Daqrios tak lagi dimiliki Wu Shixun. Ada saatnya Organisasi itu diincar Pemerintah Pusat Benua, bahkan dijadikan organisasi gelap di bawah lindungan pemerintah. Dalam beberapa jam lagi, Sehun mungkin sudah membuat tujuan organisasi itu berubah haluan. Kalau sudah seperti itu apa yang harus kalian lakukan?"
"Melawan mereka, tentu saja."
Celetuk dari Jaehyun di balas kekehan Luhan, "istirahat sejenak. Itu, yang harus kalian lakukan."
"Bagaimana bisa kami istirahat kalau kami diincar?"
"Bukan itu maksudku, Jae. Maksudku adalah, buat mereka tidak merasakan lagi jejak Wu Shixun. Buat mereka mengira kalau DAQRIOS di bawah pimpinan Shixun lenyap. Jika sudah saatnya tiba, aku akan mengundang kalian bergabung bersamaku."
"Bisa kau jelaskan apa rencanamu, Oh Luhan?" kini berganti Siwon yang tak sopan pada Luhan.
"Aku akan menjelaskannya, setelah hari itu tiba. Hari... Dimana kalian datang padaku dengan nyawa kalian sebagai bayarannya."
Cahaya emerald di mata Luhan meredup, sembari memandang lukisan setengah badan dari Wu Shixun. Di lukisan itu, mata bening Shixun nampak lembut memandang siapapun. Seakan mengundang siapapun untuk tersenyum.
Dan Luhan tersenyum kecil,
"Jika tekad dan pantang menyerah tak cukup, maka kita gunakan hidup kita, sebagai bayaran atas kematian Sehun pada Tuhan."
.
.
.
.
.
Tidak, jangan salah paham.
Luhan sangat mencintai Sehun melebihi segalanya, hingga rela memalingkan imannya dari Tuhan-nya barang sejenak.
Namun apa yang membuat Luhan bertekad sekeji itu?
Cinta.
Bukankah Sehun harus mati untuk disadarkan?
.
.
.
.
.
Ini bukanlah kisah romansa pengundang air mata. Ini hanyalah cerita sederhana, memberitahu sisi jahat dari rasa bernama 'cinta.'
Tanpa mereka sadari, sejak awal...
...ketidakseimbangan Dunia adalah akibat dari cinta mereka, yang berlomba-lomba tuk mendominasi.
Hingga meledaklah perang sebagai harapan seluruh umat manusia malang.
DAQRIOS dan FREHO.
Dua organisasi yang ada karena sebuah cinta dan obsesi.
Sampai kapan kalian berperang dan saling mencintai?
.
.
.
.
"A Memory"...END!
.
.
.
.
.
AUTHOR NOTE :
selanjutnya, list character!
Surabaya, 23 Maret 2019
