Hanna Kagamine A-aku jomblo! -lirik para selingkuhan- =_=v -dihajar-
Yuuki Arakawa07 yap begitulah, silakan dibaca chapter terakhir ini~ X9
Kagamine 'Rii' Vessalius kau berbakat jadi peramal! XD maaf bila chapter terakhir ini mengecewakan… ==a
Zaachana. percayalah, aku yang lebih sering pasang 'devil smirk' dari pada Rin… -smirk- =_=v
Mikagami Yumi ah, terima kasih… tapi chapter terakhir ini pasti ga sebagus yang sebelumnya… ==a -mojok-
a/n : Ini lah chapter terakhir yang khusus buat Nerine 'Jie yang lagi ultah… Happy Birthdaaaay! Dan chapter terakhir ini sangat gaje walaupun sudah ku edit dari yang aslinya… ==a Meski begitu, aku sangat senang menerima review… T,T Thanks buat yang udah baca dan mereview ff gaje dan mengecewakan ini… X9
Twin Star
Disclaimer:
Vocaloid © YAMAHA
Warning :
Dapat menyebabkan sakit mata (?) karena ke-gaje-an yang akut, dll
The Last Chapter
Malam yang tenang itu. Sekali lagi. Penduduk kota kembali diganggu oleh pemadaman listrik mendadak tanpa pemberitahuan. Yeah, tentu saja menyebalkan. Tapi tidak untuk kali ini bagi Rin. Justru inilah momen yang ia tunggu, sekaligus pertanda saatnya ia beraksi. Ia kembali berkutat di depan laptop kesayangannya itu. Sekali lagi, senyum kemenangan. Hwahahahaaa! -author ditimpuk-
.
.
"Selamat pagi." sapa Rui pada Kaito yang membukakan pintu ketika ia datang berkunjung ke rumah Rin minggu itu. Kaito yang sudah kenal baik dengan sahabat adiknya itu pun segera mempersilakan masuk dan membiarkan Rui langsung menuju ke kamar Rin seperti biasa.
"Hwaaa, Rui-chan! Kali ini mau membuat kue apa lagi?" Rin langsung menanyakan pokok tujuan kedatangan Rui seperti biasa ketika melihat Rui yang sudah menerobos pintu kamarnya.
"Rin ini… aku sedang malas membuat kue, kita nonton saja hari ini. Lihat, aku bawa anime terbaru!" ujar Rui semangat memperlihatkan film yang baru saja ia beli itu. Mata Rin pun sama berbinar-binarnya dengan Rui dan kemudian dengan tidak berperasaan langsung mengusir Kaito yang sedang asyik menonton acara olahraga. Dua lawan satu, tentu saja ia kalah. Kaito pun akhirnya menyerah dan menyambar sebuah majalah sport lalu masuk ke kamarnya.
Tapi baru beberapa menit mereka menonton anime tersebut, bel rumah pun berbunyi lagi. Rin yang paling dekat dengan pintu pun terpaksa berdiri dan segera membukakan pintu.
Hening.
"Kau?"
"Kau!"
Rin tentu saja terkejut karena sang tamu adalah orang yang sama dengan gadis yang ia temui sewaktu berkunjung ke apartemen Len.
"Ada perlu apa kesini?" tanya Rin dengan sopan yang dibuat-buat padahal ia ingin sekali menendang orang yang ada di hadapannya ini.
"Tunggu, tunggu. Aku sempat merasa aneh sebelum menekan bel rumah ini. Tapi…" ucapan Miku terpotong tiba-tiba oleh kemunculan Kaito dan Rui yang penasaran dengan suara ribut-ribut di depan.
"Eh, Miku? Kau datang rupanya." Kaito berwajah cerah saat melihat kehadiran Miku tersebut. Rin mempunyai firasat buruk. Tak pernah dilihatnya Kaito memperlihatkan wajah cerah nan bahagia itu pada gadis mana pun selain dirinya.
"Kakak! Kau kenal dia?" Rin bertanya dengan raut wajah yang kesal.
"Ya, err… Aku bertemu dengannya kemarin di taman. Ternyata dia temanmu juga ya?" pipi Kaito mulai memerah saat ia menjawab pertanyaan adiknya itu. Harus ia akui, ia memang belum pernah menyukai seorang gadis pun sebelum ini. Ya, sebelum ini, sebelum ia bertemu dengan Miku. Dunia memang sempit. Namanya juga dunia ff…
"Tidak! Jangan bilang kalau kakak menyukai perempuan ini!" sontak wajah Kaito dan Miku berubah merah mendengarnya. Rin kini mengacungkan telunjuknya di depan hidung Miku. Kaito, dan juga Rui, belum pernah melihat ekspresi mengerikan Rin yang seperti ini sebelumnya. Lain halnya dengan Miku, ia seperti bernostalgia dengan keadaan yang familiar ini.
"Kau… Dari dulu aku tidak pernah sudi kalau kau orangnya! Kenapa kau selalu menyukai orang yang menjadi kakak ku? Hatsune Miku! Dasar perempuan menyebalkan!" teriak Rin dengan marah yang tak tertahankan lagi setelah sekian tahun tidak pernah ia keluarkan. Ya, ya, ya. Setelah insiden tabrakan itu, ingatan masa kecil Rin telah kembali dengan sempurna. Bahkan kekejaman yang hanya ia tunjukkan pada musuh abadinya (Miku) pun telah kembali menjadi bagian dari dirinya.
"Hoo, jadi benar ya perasaan aneh itu. Pantas saja aku merasakan aura Zircon di rumah ini. Kemarin aku tidak menyadarinya karena kau bersama Len. Ternyata kau ya, Kagamine Rin!" Miku membalas tatapan Rin dengan kilat di matanya. Entah ia harus merasa senang atau kesal dengan reuni yang sama sekali tidak mengharukan ini. Sedangkan Kaito dan Rui yang menyaksikan pertengkaran itu, sama-sama terkejut ketika mengetahui bahwa ada lagi satu manusia Zircon yang muncul.
"Jadi kau juga?" seru Kaito dan Rui bersamaan. Rin menoleh pada mereka berdua. Dengan ekspresi yang sama menyeramkan tentunya.
"Apa? Apa ini? Jadi kalian berdua juga sudah tahu tentang ini ya?" tanya Rin marah. Bagaimana mungkin orang-orang terdekatnya mengetahui semua ini dan tidak ada yang pernah menceritakan hal itu pada dirinya? Sekarang ia benar-benar merasa dibodohi oleh semua orang. Tentu saja, dalangnya pasti Len!
"Tunggu dulu, kudengar kau hilang ingatan? Jadi itu bohong ya?" tanya Miku dengan angkuhnya. Wajah menyebalkannya masih sama persis seperti yang dulu pernah Rin ingat.
"Diam kau jelek. Karena kecelakaan kemarin aku sudah ingat semuanya. Bahkan aku masih ingat dengan jelas wajahmu yang belepotan lumpur ketika kecil dulu." ujar Rin dengan seringainya.
"Berisik kau cerewet. Itu kan ulahmu yang mendorong ku hingga jatuh! Aku juga masih ingat muka adonan mu yang penuh terigu seperti hantu kesiangan itu!" balas Miku dengan senyum yang tidak kalah culasnya.
"Itu kan juga ulahmu!" sahut Rin kesal. Mereka pun saling tatap-menatap tidak mau kalah satu sama lain. Rin benar-benar membenci rivalnya sejak kecil ini. Tapi, saat ini hanya ada satu tujuan di kepalanya.
"Hei, kau suka kakak ku yang 'sekarang'?"
"Ya. Lalu kenapa?"
"Bagaimana dengan kakak ku yang 'dulu'?"
"Ah, orang menyebalkan itu."
Rin tersenyum.
"Aku ingin membuat kesepakatan."
Rin melirik Kaito yang berdiri tidak jauh darinya, lalu menatap Miku.
"Ah, aku mengerti." Miku tersenyum menatap Rin. "Ini bisa menjadi sebuah sejarah baru bagi hubungan kita."
"Sepakat?" Rin mengulurkan tangannya ke arah Miku yang disambut dengan baik.
"Sepakat."
Rin, kini tertawa penuh kemenangan bersama rival abadinya, Miku. Sedangkan Kaito sang kakak dan Rui sang sahabat yang tak berdosa itu, hanya berdiri diam terheran melihat percakapan tak kasat mata dan tingkah aneh dua orang di hadapan mereka. Saat itu, seorang Rin yang biasa mereka kenal, benar-benar asing di mata mereka. Ada apa ini? Apa yang terjadi? Apakah dunia sudah mau kiamat? Apakah bumi sudah mau hancur? Apakah perdamaian dunia akan lenyap? Apakah tukang sate bakal lewat malam ini?
Tidak ada yang tau jawabannya…
Ting tong.
Bel yang berbunyi segera terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan di rumah itu dengan indahnya. Seorang gadis cantik manis baik hati nan ramah tamah juga rajin dan pandai menghitung jeruk -plak- segera melangkahkan kakinya menuju tempat suara itu berasal.
"Hai, Len. Silakan masuk." sapa Rin si gadis itu seraya tersenyum dengan manisnya mempersilakan kekasihnya masuk.
"Ada apa tiba-tiba kau menelepon ku dan menyuruhku datang? Apa ada masalah?" Len bertanya pada gadis yang berada di hadapannya tanpa ada perasaan curiga sedikit pun. Sesaat ia merasa, suasana rumah itu begitu sepi dan mencekam.
"Tidak, aku hanya ingin makan siang berdua saja denganmu… Mau kan?" mata Rin membulat berkilau-kilau menatap Len.
"Te-tentu saja mau. Kau mau makan apa?" tanya Len merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponselnya dan berniat memesan makanan.
"Tidak tidak, biar aku yang masak khusus untuk hari ini. Aku ingin Len memakan masakan ku yang penuh cinta ini…" ujar Rin dengan nada manja yang dibuat sealami mungkin sambil mengajak Len ke dapur dan menyuruhnya duduk manis di meja makan untuk melihat Rin yang akan memasak dengan segenap rasa sayang dan 'darah' yang mengalir.
Len menuruti permintaan adiknya tersayang itu begitu saja, berharap Rin memasak menu yang disukainya.
Rin mengambil panci yang berisi air dan meletakkannya di atas kompor. Ia mengambil semua bahan-bahan yang ada di kulkas dan mulai memainkan pisaunya. Len memperhatikan Rin yang sedang asyik mengiris wortel sambil bersenandung ria. Kemudian mencincang apel, lalu memotong-motong cabe, memetik daun-daunan entah apa jenisnya, memasukkan bunga mawar, melati, anggrek. Rasanya bahan-bahan tersebut cukup aneh dan… unik. Kemudian Rin memasukkan gula satu sendok, lada satu sendok, garam satu sendok, dua sendok, tiga sendok, empat sendok, satu gelas… Oke, cukup! Itu sudah keterlaluan! Baru Len berniat buka mulut untuk memprotes tindakan Rin, gadis itu sudah mengeluarkan 'bahan utama' nya: jengkol dan pete. Dengan kalem Rin memasukkan kedua jenis makanan yang berbahaya bagi kedamaian mulut itu ke dalam panci yang isinya mulai mendidih. Isi panci itu berwarna merah pekat dan kental. Sepertinya Len bisa melihat sebuah siluet berbentuk botol saus sedang mengapung-apung di dalam panci tersebut. Tidak mungkin kan adik kembarnya yang cantik manis baik hati nan ramah tamah dan rajin juga pandai menghitung jeruk itu berniat menyuruhnya memakan makanan yang lebih mirip racun itu?
"Len, makanan nya sudah siap…" Rin berseru riang sambil membawa sebuah mangkok yang berisi sejenis cairan kental berwarna merah dengan berbagai macam isinya yang meletup-letup mencurigakan.
"A-ah, eto… Rin… Apa tidak sebaiknya kita memesan makanan saja? Kudengar ada menu baru yang lezat…" ucap Len bergidik penuh keringat dingin ketika melihat benda yang kini sudah berada di hadapannya itu.
"Tidak usah. Makanan ini lebih sehat dari pada beli di luar. Makanlah, rasanya pasti hangat begitu kau menelannya." jawab Rin tersenyum. Bukan hangat lagi, tapi akan amat sangat 'hangat' sekali!
"Se-sepertinya aku perlu pergi ke kamar kecil dulu…" Len berkata dengan wajah pucat. Rupanya ia berniat melarikan diri. Tapi belum sempat ia bangun, sepasang borgol sudah terpasang indah di tangannya yang menghadap belakang. Ada seseorang yang memborgolnya dari belakang.
"Mau kemana kau Len…? Duduklah yang manis, pacarmu sudah membuatkan makan siang spesial untukmu." suara manja yang sudah tidak asing lagi di telinga Len.
"Mi-miku? Kenapa kau ada disini? Ada apa ini?"
"Fufufu…" Len yang sudah berwajah pucat menoleh dan melihat Miku sudah memegang erat seutas tali tambang seolah ingin mencekik lehernya. Rin pun perlahan mendekat sambil memegang mangkok berisi menu spesialnya dan bersiap menyuapi Len.
"U-untuk apa tali itu? Kalian mau apa?"
Tiba-tiba berbagai macam benda yang ada di sekeliling mereka melayang dan berputar-putar. Neraka. Itulah yang dilihat Len. Ia kemudian kembali memutar memorinya tentang sikap Rin akhir-akhir ini dan memikirkan berbagai macam teori dan perkiraan di kepalanya. Oh tidak.
"Itadakimasu…!^^" ucap Rin dan Miku berbarengan dengan nada gembira.
"GYAAAAAAAAA!"
.
.
.
.
.
Kepalanya terasa sakit dan berat. Sekelilingnya gelap. Tidak. Bukan kepalanya yang sakit. Tapi perutnya… juga mulutnya yang terasa panas.
Len membuka matanya secara perlahan dan mendapati ibunya yang sedang menatapnya khawatir. Ia bernapas lega. Sepertinya ia bermimpi buruk.
Teori pertama : Ia bermimpi kalau ia berada di bumi untuk mencari adik kembarnya dan kemudian disiksa oleh adiknya sendiri. Itu hanya mimpi, karena tidak mungkin ibunya berada disini.
Teori kedua : Saat ini ia sedang bermimpi bersama ibunya. Tapi rasa sakit yang menjalar di tubuhnya membuktikan kalau ia sedang tidak bermimpi, dan ini semakin menguatkan teori yang pertama.
Teori ketiga : Semua hanya mimpi! Sebenarnya ia kepentok tiang lalu hilang ingatan! -author dihajar-
"Kau tidak apa-apa?" tanya ibunya dengan suara lembutnya yang khas. Oh, ini bukan mimpi…
"Huh, biarkan saja dia bu! Orang payah seperti dia harus diberi pelajaran!" bentak sebuah suara yang kini membuat Len bergidik. Oh tidak, ini pasti mimpi. Tolong bangunkan…
"Kenapa kau memelototiku seperti itu? Kau mau masakan ku lagi?" seru Rin dengan senyum liciknya. Len menggelengkan kepalanya dengan cepat.
ITU BUKAN MIMPI!
"Ke-kenapa ibu…"
"Ketika aku main ke apartemen mu, aku mengutak-atik laptopmu dengan kejeniusanku dan menemukan sebuah akses yang dapat membuatku menghubungi ayah dan ibu kemudian menyuruh mereka datang kesini. Ingatanku sudah kembali sempurna berkat kecelakaan itu. Tentu saja butuh proses yang lama dan membingungkan untuk mencerna bahwa kau sedang mengerjaiku!" ujar Rin menjelaskan sebelum Len sempat meminta penjelasan.
"Kau ini, Len. Kenapa kau tidak cerita pada ibu kalau Rin hilang ingatan? Ayahmu juga selalu terlihat merahasiakan sesuatu pada ibu. Untung saja tadi malam ibu sedang menggunakan komputer saat Rin akhirnya berhasil mendapatkan akses komunikasi ke Zircon." ujar ibunya seraya memeluk Rin dengan erat. Terharu? Ya. Setelah sekian lama akhirnya Rin bisa merasakan kembali kasih sayang seorang ibu.
"Hiks, ibu… Aku rindu… Len jahat sekali sudah mengerjaiku. Aku ingin ibu menghukum Len." rengek Rin dengan manja seraya mengeluarkan air mata buayanya pada ibunya tercinta.
"I-ibu, jangan percaya air mata buaya Rin! Barusan aku bisa melihat dia menyeringai padaku!" sela Len melihat tatapan mengerikan Rin yang licik.
"Diamlah, Len. Harusnya kau menjadi seorang kakak yang baik, bukannya berbohong seperti itu. Nanti ibu akan pikirkan hukuman yang cocok untuk mu." tegur ibunya masih dengan kelembutan seorang ibu. Rin tersenyum puas penuh kemenangan.
"Mana ayah?" tanya Len setelah menyadari ada sesuatu yang kurang.
"Sedang berbicara pada orang yang sudah merawat Rin selama ini. Dia orang yang ramah dan baik hati." Ibunya menjawab seraya berdiri dari kursi yang didudukinya.
"Namanya Kaito, bu. Tentu saja kakak sangat baik, bahkan lebih cocok menjadi kakak ku dari pada Len." ucap Rin melirik sinis ke arah Len.
"Ya, ibu tahu. Ibu juga ingin berbicara dengan mereka." sahut ibunya yang kemudian pergi keluar dari kamar untuk bergabung dengan ayah mereka dan Kaito. Rin menggantikan ibunya duduk di kursi yang berada di samping Len dan menatap Len tajam dengan kesal. Len mulai merasa merinding.
"Tega sekali kau mengerjaiku seperti itu." kata Rin akhirnya membuka mulut setelah beberapa menit diam dalam keheningan.
"Ma-maaf…" belum selesai Len berbicara, tiba-tiba Rin sudah memeluknya. Ia bisa mendengar sesenggukan kecil dari saudara kembarnya itu.
"Selama ini aku selalu bersama Kaito, aku sangat menyayanginya sebagai figur seorang kakak. Sekilas aku selalu terbayang sebuah kenangan bersama seorang kakak. Saat aku menanyakannya pada kakak, ia selalu menjawab tidak ada hal seperti itu dengannya. Tentu saja. Karena kenangan itu, aku membuatnya denganmu." ujar Rin yang kini sudah menangis. Walau pun sebal, tetap saja ia sangat rindu pada saudaranya yang jahil itu. Len yang merasa bersalah, menepuk punggung Rin untuk menenangkannya. Ia juga sangat menyayangi Rin. Sepuluh tahun ini benar-benar ia perjuangkan untuk bertemu kembali dengan adiknya itu.
"Aku kangen padamu Len…"
"Iya, aku tahu. Selamat datang kembali di keluarga ini."
Rin melepas pelukannya dan menghapus air matanya. Ia menatap Len dengan wajah sendunya. Dan tiba-tiba menjewer kedua pipi Len sampai anak itu mengaduh-aduh kesakitan. Suasana mengharukan lenyap tiba-tiba.
"Awas kau kalau berani mengerjaiku lagi!"
"I-iya! Maafkan aku!" Len meringis kesakitan sambil mengelus-elus pipinya yang sudah memerah.
"Ah, Rui-chan juga sudah cerita semuanya padaku…" Rin melirik Len.
"A-apa?" pipi Len merona tipis. Bukan, bukan karena cubitan Rin.
"Kau menyukai Rui-chan yaa…?" tanya Rin menggodanya dan tersenyum mencurigakan.
"Si-siapa bilang? Aku hanya menyukai kue buatannya…" jawab Len terbata-bata.
"Be-nar-kah? Hhh, ya sudah kalau begitu. Lagi pula Rui-chan sudah menyukai orang lain…"
"Eh? Siapa?" ups.
"Ah~ ingin tahu ya…?" Rin tertawa penuh kemenangan lalu pergi keluar kamar meninggalkan Len yang penasaran.
"Benarkah? Kau akan tetap tinggal di bumi? Hwaa, senangnya!" Rui berseru riang ketika mendengar Rin yang tetap tinggal di bumi saat istirahat di kelas. Rin memang rindu pada Zircon, mungkin ia akan mengunjunginya nanti, tapi ia tidak mau berpisah dengan teman-temannya juga Kaito. Ibu dan ayahnya juga telah memutuskan untuk pindah ke bumi karena tidak ingin berpisah dengan anak perempuannya. Tidak masalah bagi mereka, karena pada dasarnya mereka memang pecinta bumi. Secara otomatis Len pun juga ikut tinggal di bumi, walaupun ia akan sering bolak balik ke Zircon untuk sesekali mengawasi perusahaan ayahnya yang kini sudah di bawah pimpinannya. Dalam waktu singkat ayahnya sudah menemukan sebuah rumah besar yang tidak jauh dari rumah Kaito. Sebenarnya mereka juga sudah membujuk Kaito untuk ikut tinggal dengan mereka di rumah yang baru itu, tapi Kaito menolak dengan halus. Ia berencana akan menikah dengan Miku yang telah direstui oleh Rin dalam waktu dekat ini. Kaget? Bodo amat~ -author dihajar lagi-
"Tentu saja, dia kan harus membantu pernikahan ku nanti." ucap Miku menimpali. Miku kini menjadi murid yang satu kelas dengan Rui dan Rin. Salah satu syarat yang diajukan Kaito, Miku harus lulus sekolah di bumi terlebih dahulu sebelum mereka menikah. Ia tidak mau gosip aneh beredar hanya karena menikahi seorang gadis yang bahkan belum lulus sekolah.
"Sebenarnya kita ini cocok menjadi teman, kalau saja dulu kau tidak menyukai Len!"
"Ya, itu benar. Kalau saja kau tidak menderita brother complex!"
"Sudah, sudah. Kalian ini sama saja." Rui tersenyum geli melihat tingkah kedua temannya ini. Tidak lama setelah itu, Len pun datang membawakan beberapa kaleng minuman pesanan Rin. Hukuman dari ibunya, turuti apapun yang diminta Rin selama 1 bulan.
"Ini, minuman pesananmu." Len meletakkan plastik berisi kaleng minuman tersebut di atas meja dan ikut bergabung duduk di sebelah Rui. Rin, yang sangat peka terhadap hal kecil apapun menyangkut sahabatnya, langsung menyadari wajah Rui yang sedikit merona ketika Len duduk di sebelahnya. Dan tersenyum.
"Rui-chan, tahu tidak? Sebelum aku kecelakaan, aku bertemu dengan Rei di taman bermain." kata Rin yang ingin melihat reaksi Rui.
"Oh ya? Lalu?" Sesuai dugaan, Rui tidak bereaksi apa pun. Tidak seperti yang selama ini ia lihat kalau ia mendengar nama Rei. Seringai Rin semakin melebar.
"Jadi, apa kau masih menyukai Rei?" tanya Rin dengan wajah tanpa dosa membuat Len tersedak dengan minumannya dan membuat Rui cemas kalau-kalau Len mendengarnya.
"Ti-tidak!" jawab Rui cepat-cepat sambil sesekali melirik ke arah Len. Miku yang tidak mengerti dengan pembicaraan ini, hanya diam menatap mereka bertiga satu-persatu. Wajah Rui dan Len sama-sama sudah memerah.
"Ah! Aku lupa harus meminjam buku di perpustakaan! Miku, ayo temani aku." Rin berdiri kemudian menyeret Miku untuk ikut bersamanya dan meninggalkan Rui dan Len berdua. Saat melewati Len, Rin menepuk pundak Len dan menatapnya dengan tatapan 'berjuanglah' lalu pergi begitu saja.
.
.
"Hei, mau pinjam buku apa sih?" tanya Miku yang agak kesal karena diseret tiba-tiba.
"Ah, itu…" perkataannya disela dengan nada dering ponsel milik Miku pemberian Kaito. Dan tentu saja yang menelepon adalah Kaito karena hanya itu satu-satunya nama kontak yang ada di ponsel baru milik Miku itu. Rin yang sudah tau kalau pembicaraan dalam telepon mereka itu akan menghabiskan waktu yang lama, segera meninggalkan Miku dan pergi menuju kebun belakang sekolah. Sesampainya disana, ia duduk di rerumputan dan bersandar pada sebuah pohon yang rindang. Angin sepoi-sepoi membuatnya sedikit mengantuk.
Suara bel terdengar samar-samar oleh Rin. Bel tersebut berbunyi tiga kali. Itu pertanda waktunya pulang sekolah. Kemudian terdengar suara keramaian anak-anak yang riang terbebas oleh kepenatan suasana kelas. Eh?
Rin membuka matanya tiba-tiba dan terduduk tegak.
"Aku ketiduran!" teriak Rin. Terdengar suara tawa kecil yang berasal dari sebelahnya. Rin melihat Rei yang duduk di sampingnya sedang tersenyum geli melihat tingkah Rin. Tunggu! Kenapa ada Rei disini?
"Ah, maaf. Bukan maksudku menertawaimu. Sebenarnya tadi aku berniat membangunkanmu karena pelajaran terakhir sudah mau dimulai, tapi tiba-tiba saja kau jatuh tertidur dan bersandar padaku. Karena sepertinya kau tidur begitu nyenyak, aku jadi tidak tega membangunkanmu. Akhirnya aku jadi ikut membolos untuk pertama kalinya." ujar Rei menjelaskan pada Rin yang masih dalam proses loading. Sepertinya itu kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari seorang Rei.
"Begitu… Maaf ya…" kata Rin malu. Bisa-bisanya ia tertidur di sandaran Rei… Dia pasti melihat wajah tidurnya yang memalukan!
"Tidak apa-apa. Oh ya, akhir-akhir ini Yuki selalu menanyakanmu. Sepertinya ia sudah mulai bosan hanya bermain denganku." kata Rei kemudian bersandar pada pohon dan menyilangkan kedua tangannya.
"Ah, iya. Bagaimana kalau minggu ini kita ke planetarium? Yuki-chan pasti suka! Kudengar…" ucapan Rin terhenti. Kata 'kita' membuatnya ragu-ragu. "Err… itu pun kalau kau…" Rin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuatnya terlihat salah tingkah.
"Yuki pasti senang." kata Rei tersenyum.
"Baguslah kalau begitu…" gumam Rin. Tiba-tiba suasana menjadi hambar dan hening.
"Eto... Rin… Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Rei memalingkan wajahnya ke arah lain, tapi kali ini Rin bisa menyadari rona tipis yang muncul di pipi Rei. Entah kenapa hal itu membuat Rin sedikit penasaran.
"Hm? Ada apa?" tanya Rin yang semakin penasaran. Rei melirik Rin sekilas, kemudian menghela napas pelan. Lalu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Rin yang jadi terheran melihat tingkah laku Rei pun menaikkan sebelah alisnya. Rei berdeham pelan kemudian menatap Rin.
"Aku menyukaimu." ucap Rei singkat. Rin terbengong ria.
"Eh? Apa?" tanya Rin lagi. Sepertinya efek baru bangun tidur membuatnya sulit mencerna ucapan Rei.
"Kubilang, aku menyukaimu." ucap Rei lagi lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah lain. Argh, jangan sampai ia harus mengulangi pernyataannya itu lagi. Mengucapkan kata-kata itu saja sudah membuat seorang Kagene Rei menghancurkan image nya sebagai orang paling dingin di sekolah.
Sedangkan Rin masih memutar otaknya untuk memahami arti ucapan yang baru saja ia dengar itu. Sebenarnya ia bukannya tidak menyukai Rei sih, justru mungkin ia malah menyukainya. Tapi…
"Sebelumnya… Mungkin sulit dimengerti dan terlihat mustahil, tapi… aku ini bukan manusia bumi lho!" Rin mengaku dengan jujur. Entah mengapa bukannya menjawab pernyataan Rei, ia malah menjelaskan hal seperti itu padanya. Setidaknya, sebelum ia membalas perasaan Rei, Rin tidak ingin pemuda itu menyesal dengan pernyataannya kalau tau Rin itu bukan manusia bumi. Tapi jawaban Rei selanjutnya sungguh tidak terduga oleh Rin.
"Aku sudah tahu itu sejak lama."
Eh?
"Sejak pertama bertemu denganmu, aku sudah merasakan auramu berbeda dari manusia bumi biasa. Aku juga bukan manusia bumi, aku berasal dari planet Selenite, bersebelahan dengan galaksi planet Zircon tempat asalmu."
"Eeeeh?"
"Aku datang ke bumi karena ayahku sedang mengadakan riset disini. Keluargaku juga setuju dan kami sekeluarga pindah kesini. Saat mendengar nama Kagamine sewaktu Len menjadi murid baru, aku langsung mengenalnya. Perusahaan ayahku punya kerja sama yang kuat antar planet dengan perusahaan keluarga Kagamine. Auranya pun sama dengan mu. Jadi aku tahu, kalau kau pasti juga berasal dari Zircon." ujar Rei membuat Rin semakin terbengong.
HEEEEE?
-The End-
