Chapter 6: Last

Always Waiting You

Naruto © Masashi kishimoto

saya cuma pinjam tokohnya

Warn:typo,gaje,masih noob,alur kecepetan

Maaf kalo ada kesamaan judul,isi,de el el

Kalau tidak suka baca saja dulu, kalau benar-benar tidak suka silakan tekan tombol back

Enjoy Reading

Waktu terus berjalan, meninggalkan Sarada yang tertatih mengumpulkan guji hatinya yang terburai. Kini ia bukan lagi mahasiswa Universitas konoha. Ia adalah seorang guru baru di Konoha International High School, sekolah nya dulu.

Pakaiannya kini juga bukan lagi almamater kuliahnya, ataupun kemeja yang tangannya digulung sampai siku dengan rok bawah lutut. Kini Ia memakai setelan cardigan lengan panjang hitam dengan rok warna senada. Selama dua tahun ini ia bertransformasi menjadi dewasa sepenuhnya.

"Sampai disini dulu penjelasanku."

"Arigatou, Sensei." Seru murid-muridnya. Ia mengangguk, lalu berjalan meninggalkan kelas.

"Akhirnya selesai." Gumamnya pelan. Ia melirik arloji yang melingkar ditangan kirinya.

Sudah pukul sebelas, batinnya.

Ia masuk ke kantor guru dan menaruh buku serta arsipnya diatas meja.

"Bagaimana hari pertamamu, Sarada?"

Sarada berbalik. Ia mendapati Sarutobi Mirai, kepala sekolah KIHS yang berdiri memeluk kumpulan arsip.

"Ah, Sarutobi-sama. Ya, semuanya berjalan lancar. Mereka sangat aktif dalam pembelajaran."

"Jangan panggil aku seformal itu, panggil saja Mirai."

"Gomenne, Mirai-sama."

Mirai tersenyum tipis.

"Oh ya, Sarada. Aku pamit ke ruanganku, ya. Sehabis ini akan ada rapat guru. Sebaiknya kau bersiap."

"Ha'I " sahut Sarada. Kini Mirai sudah hilang dari pandangannya. Sarada mengambil Handphonnenya. Alisnya bertaut melihat ada pesan masuk darinya.

"Mama?" Gumamnya.

"Sarada, Hari ini Boruto akan pulang."

Tangannya melemas. Ia terduduk di kursinya.

"Boruto … dia pulang?"

Tapi kapan?

Ia mencek handphonnenya sekali lagi.

"Tidak ada penjelasan jam berapa dia pulang?"

Sarada menghela nafas berat.

Apa dia masih mencintaiku?

~AWY~

Sarada menggenggam erat surat perceraiannya, yang kini lusuh dan penuh bercak air disana-sini. Ya, surat itu masih ada ditangannya. Ia tak ingin memberikannya pada pengadilan, karena suatu alasan.

Ia sudah menyadari perasaannya.

Pintu terbuka. Sarada berdiri menghadap seseorang yang membuka pintu. Uzumaki Boruto, berada dihadapannya sekarang.

"Sarada … Sudah larut malam. Kenapa belum tidur?"

Sarada diam tak bergeming.

"Bisakah kau minggir? Aku ingin mengambil barang-barangku. Oh ya, bagaimana dengan suratnya? Sudah kau berikan ke pengadilan?"

"Tunggu." Sarada menggenggam pergelangan tangan Boruto.

"Ada apa?"

Sarada mengacungkan surat perceraian mereka padanya.

"Kau belum menyerahkannya?"

SREKK… SREKK…

Sarada menyobeknya menjadi potongan kecil-kecil, lalu mencampakkannya di tempat sampah.

Mata safirnya membulat. Boruto terkejut setengah mati.

"Ap … pa yang kau lakukan?"

"Aku tak mau kita bercerai. Aku mencintaimu, Boruto."

Boruto terhenyak.

"Apa yang … kau katakan? Bisakah kau mengulanginya?" Matanya mengerjap, merasa tidak percaya dengan yang Sarada katakan.

"AKU MENCINTAIMU!" Teriak Sarada. Ia tak bisa lagi menahan tangisnya. Pertahanan pelupuk matanya hancur.

Boruto berjalan mendekati Sarada yang terisak. Bahunya bergetar karena tangis.

"Benarkah itu, Sarada? Aku tidak salah dengar, kan?"

"Apa masih … kurang jelas? AKU … "

Boruto membungkamnya dengan jari telunjuk.

"Sudah cukup, Sarada." Boruto melepas kacamatanya, lalu menariknya kedalam pelukan.

Sarada menegang. Ia menghirup dalam aroma maskulin tubuh suaminya, yang tak ingin ia sia-siakan lagi.

"Aku selalu menunggumu untuk mengatakan hal itu. Selalu menunggumu." Boruto mengelus rambutnya lembut.

"Tidak Sasha, atau siapapun itu. Hanya kau, Sarada. Kau."

Ia menghela nafas panjang, lalu meneruskan kata-katanya.

"Apa kau tahu, mengapa dulu saat kita sekolah dasar aku selalu mengganggumu?"

Sarada menggeleng lemah.

"Dulu aku juga tidak mengerti kenapa. Bagiku hal itu sangat menyenangkan ketika mengerjaimu, melihat ekspresi marahmu. Aku merasa sangat nyaman ketika didekatmu."

" … "

"Aku juga tidak mengerti mengapa aku selalu ingin bersaing denganmu untuk mendapatkan peringkat satu. Aku rela mengorbankan waktu bermainku untuk belajar dan belajar. Yah, meskipun aku tidak bisa duduk di peringkat pertama tapi aku senang. Aku senang karena namaku selalu ada disamping namamu di peringkat atas."

"Boruto … "

"Dan akhirnya, di acara kelulusan akhirnya aku mengerti mengapa aku melakukan itu semua. Itu adalah cinta."

" … "

"Saat sekolah menengah kita terpisah. Sebenarnya bisa saja kalau aku melanjutkan sekolahku sama denganmu. Tapi aku tidak mau. Biayanya sangat mahal, aku tak mau merepotkan Tou-san. Jadi mulai saat itu aku berjuang mencari uang sendiri, kesana-kemari mencari audisi untuk casting iklan. Dan akhirnya semua impianku terkabul, aku sekarang menjadi aktor. Tapi semua itu tidak ada artinya bila aku masih belum mendapatkan hatimu."

Tangis Sarada semakin keras. Boruto mengeratkan pelukannya.

"Apa kau ingin tahu siapa yang setiap pagi menaruh mawar putih di lokermu dulu?"

Sarada mengangguk pelan.

"Itu aku, Sarada. Tiap hari aku menyisihkan uang jajanku untuk membeli bunga untukmu. Tidak perlu kujelaskan dimana aku mendapatkan kunci lokermu. Aku sangat senang ketika memberikanmu bunga, meski akhirnya bungaku berakhir dalam tong sampah."

"Gomenne, Boruto."

"Tidak perlu minta maaf."

" … "

"Tatap mataku, Sarada."

Masih dengan isakannya Sarada mendongak menatap manik biru laut didepannya. Cepat ia menunduk kembali. Ia tak sanggup menatapnya terlalu lama.

"Kau tahu, saat aku mengatakan pada teman sekelasku bahwa aku ingin mendapatkanmu, mereka semua tertawa. Mereka mengatakan itu tidak mungkin, mengingat kau adalah seorang Uchiha, yang memiliki kekayaan sangat besar dan mempunyai banyak penggemar. Aku tahu, mendapatkanmu itu seperti ingin meraih bulan. Tapi aku percaya, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Kini, aku sudah membeli perkataan mereka."

Boruto mengusap wajah Sarada pelan.

"Kau tahu, siapa yang membuatku sampai sejauh ini? Membuatku meraih semua impianku? Itu kau, Sarada. Saat aku patah semangat ketika ditolak berkali-kali untuk casting, hanya kau yang membuatku bangkit."

"Hentikan, Boruto."

"Aku tak bisa berhenti."

" … "

"Aku tidak seperti Shikadai yang mempunyai IQ 200 seperti ayahnya. Aku tidak sejenius itu, tapi aku punya seseorang yang membuatku melampauinya. Itu kau, Sarada."

Boruto melepas pelukannya, lalu mengangkat dagu Sarada yang membuat mereka saling bersitatap.

"Aku sangat mencintaimu. Cinta lah yang membawaku sampai sejauh ini."

Boruto menarik kepala Sarada, lalu mencium dahinya pelan.

Sarada mati-matian menahan isakannya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tubuhnya bergetar ketika Boruto mencium dahinya.

Keheningan menyelimuti mereka berdua.

Boruto melepas ciumannya, beralih memandang Sarada yang terus menunduk. Lekas Boruto menggendong Sarada ketika ia melihat tubuhnya melayang.

"Boruto … "

Boruto tersenyum tipis. Ia merebahkan Sarada pelan ke ranjang.

"Boruto."

"Ya?"

"Bisakah kau memberikan kacamataku?"

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa membedakan langit dan langit-langit sekarang."

Boruto terkekeh. Ia berbaring di samping Sarada.

"Itu pikiranmu yang bermasalah, bukan matamu, hime."

Boruto menggenggam tangan Sarada erat. Sarada berpaling ketika merasakan wajahnya memanas.

"Sarada."

"Apa?"

"Sampai sekarang aku masih belum percaya bahwa kau mencintaiku."

"Lalu, aku harus bagaimana agar kau bisa percaya?"

Mereka tampak berpikir. Boruto kini mendapatkan ide.

"Mungkin kau bisa memberikanku 'jatah' sekarang."

Sarada berbalik.

"Maksudmu?"

Akhirnya ia menyadari apa maksudnya ketika Boruto menyentuh bibirnya dengan seringai mesum.

"Kau mau kan?"

Sarada meneguk ludah.

"Ti … kurasa tidak. Tidaak …. "

Sarada menutupi wajahnya dengan selimut.

"Ayolah Sarada, kita berikan cucu untuk Mamasaku… "

"Tidaaak …. Aku tidak mau … "

Sarada mengeratkan genggamannya pada selimut.

"Kalau kau tidak mau aku akan memaksamu dengan kekerasan."

Boruto mulai menggelitiki pinggang dan telapak kaki Sarada.

"Hen … hahaha … hentikan … hahaha … aku merasa geli …. Hentikaaaannn ….. "

"Tidak akan."

"Kumohon Boruto … hentikan … hahahaha …. Gelii … "

"Aku tidak bisa berhenti."

"Haha ... hentikaan ... "

Sarada mengernyit. Mengapa dia berhenti tiba-tiba?

Apa dia sudah tertidur?

Dengan pelan Sarada membuka selimut. Onyx nya membulat melihat Boruto kini dihadapannya dengan senyum mesum yang tak mau hilang sedari tadi.

"Kita mulai, Sarada"

KYAAAAA…..

Namun teriakannya hanya tersimpan dalam hatinya karena mulutnya sudah dibungkam oleh Boruto.

Untuk pertamakalinya Sarada pasrah terhadap apa yang Boruto lakukan padanya. Atau mungkin karena dia juga menginginkannya? Entahlah.

~AWY~

Mata Onyx itu mulai terbuka pelan. Sinar matahari yang menelusup antara gorden jendela membuat matanya menyipit kembali.

Ia mendapati dirinya hanya memakai selimut setinggi leher. Sebelahnya kosong. Tidak ada kehadiran Boruto disana.

Matanya lalu melirik setumpuk pakaian yang terlipat rapi dan kacamata di sampingnya. Ia mengernyit.

"Sampai pakaian dalamku juga? Dasar mesum!" Umpatnya.

Tapi mungkin ini lebih baik daripada tidak samasekali, batinnya.

Ia duduk dan mulai memasang pakaian. Alisnya kembali bertaut ketika ia mencium aroma dari luar kamar.

"Um … bau yang enak. Tapi … apa ini!" Ia juga mencium bau gosong.

Lekas Ia mengambil apron yang bergantung di pintu dan berlari menuju dapur.

Ia mendapati Boruto yang sedang berdiri di depan kompor. Boruto berbalik dan tersenyum kearahnya.

"Ohayou, Sarada."

"Ohayou, Boruto. Kau memasak apa?"

"Nasi goreng untuk sarapan. Aku tak tega membangunkanmu tadi."

Sarada mengernyit.

"Apa ini! Telur dadarnya gosong. Astaga … "

"Hehe ... gomen Sarada, aku tadi melamun."

Sarada mengambil telur dalam kulkas, memecahkan cangkangnya dan menuangkannya dalam mangkuk kecil.

"Tolong ambilkan aku paprika."

Pinta Sarada.

Boruto membuka kulkas dan mengambil paprika merah.

"Ini."

Sarada mengambilnya, lalu mulai memotongnya kecil-kecil.

Sarada berubah serius sekarang. Ya, kalau masalah dapur dia tak mau main-main. Harus sesempurna yang dia inginkan.

Bosan melihat Sarada yang berkutat dengan masakan Boruto mendapat ilham untuk mengerjainya.

Grap!

"Boruto, apa yang kau lakukan?"

Tangan Boruto melingkari badannya, membuatnya sulit bergerak.

"Biarkan seperti ini dulu. Aku lelah."

Boruto menaruh dagunya ke bahu Sarada sambil memandangi wajahnya.

"Hei bayi besar, menyingkirlah dari bahuku."

"Saat aku menyebutmu bayi besar dulu, kau memukulku. Tapi karena kau menyebutku begitu aku akan membalasnya dengan lebih kejam."

Sarada mencibir.

"Oh ya? Seperti apa?"

"Seperti ini."

CUP!

Boruto mencium pipinya sekilas.

Entah bagaimana perasaan Sarada, yang pasti wajahnya semerah paprika yang baru ia potong sekarang.

"Nah kan, itu lebih kejam dari pukulan. lihat. Kau jadi tomat berambut hitam sekarang."

Boruto tertawa.

"Boruto no baka!"

Umpatnya. Sarada mematikan kompor karena telur dadarnya sudah matang sekarang.

Huh ... akhirnya, batin Sarada.

"Boruto."

"Ya?" Sahutnya.

"Tidak, tidak apa-apa."

Boruto melepas pelukannya. Sarada berbalik.

"Kenapa?"

"Katakan yang sebenarnya."

Sarada memiringkan kepala.

"Tidak, tidak apa-apa."

"Aku tak mau ada rahasia. Katakan!"

Wajah Boruto berubah serius. Sarada menunduk.

"Tidak, aku hanya ingin mengatakan aku merindukanmu. Aku mengaku kalah."

Boruto menghela nafas panjang.

"Fuh ... kukira masalah serius."

Sarada melipat tangan didepan dadanya.

"Sudah kubilang bukan masalah serius. Haah ... benar-benar ... "

"Kukira ada sesuatu yang terjadi padamu. Kukira kau kecelakaan lagi."

Sarada menaruh tangannya dikedua bahu boruto.

"Ingat, aku bukan orang yang mengulangi kecerobohan yang sama untuk kedua kalinya. Jangan mencemaskanku. Aku baik-baik saja."

Boruto tersenyum.

"Yasudah, kau mandi dulu sana. Aku yang menyiapkan sarapan." Sarada melepas apron, lalu memasukkannya kedalam keranjang cucian.

"Sebentar lagi."

"Meskipun ini hari minggu, ini hari pertamamu ke kantor. Ayo sana mandi. Aku hari ini libur."

"Lho, kau kan memang libur. Bukannya kau sudah lama lulus kuliah?"

"Sekarang aku mengajar di KIHS. Cepat sana mandi!"

"Hah? Kau jadi Sensei? Aku tak percaya."

Muncullah perempatan di kepala Sarada.

"Cepat mandi! Shannaroooo!"

BRAK!

Sarada melepaskan tinjunya ke kulkas.

"Gomenne senseeiii ... aku mandi sekaraaangg ... "

Lekas Boruto pergi ke kamar mandi.

"Haah ... benar-benar ... "

~AWY~

"Nah, sudah selesai bayi besar."

Kini dasi berwarna biru tua sudah tersemat rapi di leher Boruto.

"Kenapa kau menyebutku bayi besar?"

"Lihat dirimu. Bahkan memasang dasi pun minta tolong padaku."

"Itu kan wajar, kau adalah istriku. Apakah aku harus terbang ke rusia dulu untuk minta tolong pada Sasha?"

"Tidak ... aku tidak mau! Dengan ku saja!"

Boruto terkekeh melihat raut wajah Sarada yang berubah masam.

"Oh ya, kenapa handphone mu tidak aktif? Lalu mengapa semua akun media sosialmu tidak aktif juga?"

"Um ... itu ya? Handphone ku jatuh ke sungai dekat tempat syuting. Soal medsos ku? Aku terlalu sibuk, lagipula menurutku itu tidak terlalu penting."

Sarada memukul dada Boruto lemah.

"Kau ... Boruto no baka! Aku sangat mengkhawatirkanmu!"

Boruto terdiam. Dengan pelan ia mengusap wajah Sarada yang kembali basah karena airmata.

"Sudahlah Sarada. Jangan kebanyakan menangis. Hidupku jadi penuh drama sekarang. Yang penting aku sudah ada bersamamu."

Sarada menghela nafas berat.

Ia beralih memandangi Boruto.

"Jaga dirimu baik-baik. Jangan membuatku khawatir lagi."

"Itu pasti. Ittekimasu." Boruto membuka pintu pelan.

"Itterasai."

Sarada menutup pintu ketika ia tidak melihat bayangan Boruto lagi. Di wajahnya terlukis senyuman.

Kini ia tak perlu lagi merasakan kerinduan padanya. Karena Boruto sudah ada disisinya sekarang.

Sarada sudah mendapatkan kembali tempat untuknya pulang.

Gak bener-bener end

Balasan review:

genie luciana: iya nih kita cie-ciein bareng yuk! :v

*ditabok Sarada

Atika723: waah kamu suka ya? aaa makasih yaa :'3 iya nih rencananya emng pngen aku terusin klo ada yang mau :3 tp kek x apdet x jd tdk sesering ini krn klo kuliah pasti sibuk ya? ahaha sekali lagi terimakasih ^_^

ferdiewinardihavisakwee: Ahahaha iye bro :'v maap bru bls review lu :v

Hai temansss gimana mnurut kalian untuk last chapter ini? garing? krenyess? terlalu drama? hehe maap yaa :'v lg kurang ide.

seperti yang aku tulis diatas, fanfic ini gak bener2 end, kalo emng ada yang serius pengen minta dilanjutin, kira2 empat sampe spuluh orang lah ktunggu review x

*ktwa jahat

abisnya aku liat reviewer x sdikit sih, yang review itu-ituuu aja, kan aku jadi syedih wahai readers ku tersayang :'3 aku sadar diri kok aku msih newbie, fic ini juga jelek tapi kumohon please tinggalkan jejak stelah membaca biar aku tmbh smangat update x :'3

tapi klo gaada yg minta lanjut ya gapapa kok, fanfic ini jd bner2 end dan aku bkin fanfic bru yg one shoot aj, takutnya klo yg multichap jd lama apdet :v

terimakasih pada Allah swt yang masih memberikanku kesempatan untuk hidup dan selalu mengabulkan doaku supaya hapeku baik2 saja pas takang :v

terimakasih pada tmen2 gw yang ga suka baca fanfic :v kenapa? krn klo mreka baca fanfic gw pasti bertanya2 :v lho? kok kamu nulis yg cinta2 an sih? gak kyk kamu yg sbenarnya aj :v hehe

terimakasih pada OP browser, aku tanpamu butiran debu... :v

Dan terimakasih untuk kalian RnR-ers ku yg setia mnunggu apdetan dariku :v aku senang sekali :'3

dan jg trimakasih bwt silent reader, lain kali tinggalkan jejak kalian ya biar kta bs temenan :'3

Oke sudah dulu bacotan saya, Gutbayyy...

syalalalala...