Ini buku harian-ku…

Dimulai dari tanggal 30 November

Dan berakhir pada 20 Desember

Saat kalian membaca buku-ku…

Mungkin aku sudah tiada

WAYS TO LIFE FOREVER

-SETELAH AKU PERGI-

Judul 'Ways To Life Forever – Setelah Aku Pergi' by: Sally Nichols

BLEACH by: Kubo Tite 'poreper'

Rating: T

Genre: Family – Friendship

Rabu, 15 Desember

Hari keenambelas dari 21 hari

Waktu menunjukkan pukul 06.00, waktunya bagi Senbonzakura Flower Shop untuk membuka tokonya.

"Yosh! Waktunya bekerja!" kata Aizen, menyemangati para pekerja di Senbonzakura Flower Shop.

"Ayoo!" kata Neliel semangat.

"…" Byakuya diam seperti biasa.

"Nel! Ambilkan pupuk yang ada di rak paling bawah!" perintah Aizen.

"Ha'i!" Neliel mengambilkan pupuk yang diperintahkan oleh Aizen.

Tanpa disuruh pun, Byakuya langsung mengerti tugasnya. Apa lagi kalau bukan menanam bibit baru?

Byakuya mencari-cari bibit bunga baru yang tumbuh di musim winter yang biasanya terletak di lemari, tapi ia tak menemukannya. Yang ada hanya bibit bunga yang tumbuh di musim spring nanti.

'Rasanya kemarin masih ada deh…' batin Byakuya.

Aizen melihat Byakuya yang kebingungan. Dihampirinya Byakuya yang kebingungan itu.

"Ada masalah, Kuchiki?" tanya Aizen.

"Bibitnya habis." Kata Byakuya tanpa mengalihkan pandangannya dari lemari.

"Ah, gawat. Jangan-jangan dimakan tikus. Bibit itu satu-satunya persediaan kita." Kata Aizen.

"Iya, lagipula, aku tidak mungkin membelinya lagi. Kebanyakan toko bunga libur kalau musim winter." Kata Byakuya.

Tak lama kemudian, terdengar suara Neliel dari luar.

"Ah, Toushiro!" kata Neliel.

Aizen dan Byakuya saling pandang, lalu bergegas keluar.

"Ohayou, Neliel-chan. Bagaimana kabarnya?" Sapa Hitsugaya.

"Toushiro? Kabur lagi?" tanya Sousuke.

Hitsugaya hanya membalas perkataan Aizen dengan senyum khasnya. Aizen menghela nafas panjang.

"Kalau kau begini terus, kapan sembuhnya?" tanya Aizen.

"Aku tidak akan bisa sembuh, Sousuke-san. Anda juga sudah mendengarnya bukan?" kata Hitsugaya santai.

Aizen dan Byakuya terdiam mendengar perkataan Hitsugaya. Sedangkan Neliel, dia agak kebingungan dengan pembicaraan mereka.

"Ano…sebenarnya kalian membicarakan tentang apa sih?" tanya Neliel polos.

"Ah, bukan apa-apa kok, Neliel-chan…" kata Hitsugaya. "Oh iya, Sousuke-san, tadi pagi ada yang mengirimiku bibit bunga. Aku tidak tahu siapa pengirimnya. Hanya saja ada memo didalamnya. Katanya 'Tanam dan rawat bunga ini baik-baik ya.'." Hitsugaya menyerahkan sebuah bungkusan berisi bibit bunga kepada Aizen. Aizen menerimanya, dan membuka bungkusan itu. Tak lama kemudian, ia mengernyitkan dahinya.

"Ini bibit bunga apa ya? Aku belum pernah melihatnya." Kata Aizen.

"Coba kulihat." Byakuya melihat isi bungkusan itu dan mengambil sebiji bibit bunga didalam bungkusan.

"Aneh, bentuknya tidak biasa." Kata Byakuya heran.

"Iya, aneh ya…" Kata Neliel.

"Maukah kalian menanam bunga itu?" tanya Hitsugaya.

"Hm…bagaimana yaa…" Aizen masih belum yakin untuk menanam bunga itu.

"…" Byakuya no comment.

"Eh, bagaimana kalau kita coba menanamnya di halaman belakang. Kayaknya masih ada lahan yang kosong tuh." Kata Neliel.

"Kayaknya tidak bisa…" kata Aizen.

"Kenapa?" tanya Neliel.

"Kami tidak tahu jenis bunga ini. Cara merawatnya pun tidak tahu." Kata Byakuya.

"Yaah…" Hitsugaya agak kecewa.

"Tapi, aku akan menanamnya kok." kata Byakuya yakin.

Aizen menaikkan kedua alisnya. Dia kaget. Seorang Byakuya yang dingin dan cuek bebek itu, mau melayani anak kecil yang dia benci? Dunia sudah mau kiamat kayaknya!

"Byakuya…?" Aizen menatap Byakuya dengan tatapan aneh.

Byakuya menoleh kearah Aizen.

"Apa?" tanyanya datar.

"Kau…yakin?" tanya Aizen.

"Tentu saja." Kata Byakuya sambil menyambar bungkusan berisi bibit bunga dari tangan Hitsugaya. Namun kemudian diambil oleh Aizen.

"Aku saja yang menanamnya, kau jaga Toushiro saja." Kata Aizen sambil pergi menuju halaman belakang untuk menanam bibit bunga itu.

"Byakuya-san." Hitsugaya menarik – narik baju Byakuya. "Aku juga mau lihat cara Sousuke-san menanam bunga." Lanjutnya.

"Baiklah, kuantar. Nel, kerjakan tugasmu." Kata Byakuya.

"Ha'i!" balas Neliel

###

Byakuya dan Hitsugaya menuju ke halaman belakang dan melihat Aizen menanam bunga dari kejauhan. Suasana hening. Namun hanya sementara, karena Hitsugaya memulai pembicaraan.

"Byakuya-san." Panggil Hitsugaya. Suaranya kecil, tapi mampu membuat Byakuya mendengarnya. "Boleh aku bertanya?" lanjutnya.

"Ya?" balas Byakuya.

Hitsugaya menengadahkan kepalanya. Byakuya tetap memandang lurus.

"Bagaimana kita tahu kita sudah mati?" tanyanya.

"Entahlah…" balas Byakuya.

"Kenapa Tuhan membuat anak-anak jatuh sakit?"

Byakuya terdiam.

"Bagaimana kalau ada orang yang sebenarnya belum mati, tapi dikira sudah mati oleh orang-orang lain? Apakah dia akan dikubur hidup-hidup?" tanya Hitsugaya lagi.

"Kurasa tidak." Kata Byakuya datar.

"'Kurasa', ya? Hm… Sakitkah kalau mati?" tanya Hitsugaya.

"Mungkin…" balas Byakuya.

"Seperti apakah kelihatannya orang yang mati? Atau apa rasanya?" tanya Hitsugaya.

"Aku tidak tahu, kenapa kau melontarkan pertanyaan yang aneh – aneh?" Byakuya balik bertanya.

"Aku hanya bertanya saja, tidak apa – apa bukan? Barangkali kau bisa membantu." Balas Hitsugaya. "Kenapa sih orang mesti mati?" tanyanya.

"Supaya…Ng…" padahal awalnya Byakuya sudah menemukan jawabannya, tapi entah mengapa jawaban itu seperti menghilang.

"Ke mana orang setelah mati?" tanya Hitsugaya.

Kali ini mata berwarna gelap Byakuya menatap kedua mata emerald itu.

"Jika kelakuannya baik dia pasti akan masuk surga, tapi jika buruk akan masuk neraka." Balas Byakuya.

"Benarkah? Lalu apakah dunia masih ada setelah aku tidak ada?" tanya Hitsugaya.

"Mungkin…" balas Byakuya.

Hitsugaya menatap lurus kearah Aizen yang sedang menanam bibit bunga.

"Sudah tidak bertanya lagi kan? Kali ini giliranku." Kata Byakuya.

"Silahkan saja." Balas Hitsugaya.

"Kenapa kau memilihku sebagai temanmu? Apakah karena aku mirip Rukia, almarhumah adikku?" tanya Byakuya.

Hitsugaya tersenyum kecil.

"Karena aku kesepian." Balasnya.

"Maksudnya?" tanya Byakuya menatap anak kecil disampingnya

Hitsugaya menengadah. Kedua mata emeraldnya bertumbukan dengan kedua mata berwarna gelap milik Byakuya.

"Kalau aku punya banyak teman, aku tidak akan mungkin menemukan Byakuya-san." Balasnya polos.

Byakuya terdiam, jawabannya polos sekali. Tapi dalam hatinya, dia senang. Bertepatan dengan hal itu, Aizen meneriaki mereka berdua.

"Oi! Kalian berdua! Sedang apa disitu!" teriak Aizen.

Hitsugaya dan Byakuya menoleh kearah sumber suara.

"Kami hanya menonton saja kok, Sousuke-san!" teriak Hitsugaya.

"Byakuya! Bantu Neliel bekerja! Toushiro! Pulanglah! Nanti orang tuamu khawatir!" teriak Aizen.

Byakuya mematuhi perintah Aizen.

"Nanti saja Sousuke-san! Aku masih mau main disini!" kata Hitsugaya.

"Sekarang, Toushiro! Orang tuamu sedang dalam perjalanan pulang!" teriak Aizen.

"Ha'i! Ha'i! Sousuke-san!" Hitsugaya buru-buru pergi dari situ dan menuju kedepan toko.

Tanpa sengaja, Hitsugaya menyenggol sebuah pot dengan bunga daffodil didalamnya. Pot itu pecah. Hitsugaya kaget, kemudian segera membereskan pecahan pot itu.

"Apa yang terjatuh tadi?" Tanya Byakuya yang tiba-tiba muncul.

"Ah." Muka Hitsugaya memucat. Kedua mata Byakuya melihat kearah lantai. Betapa terkejutnya dia, bunga Daffodil yang dirawat Rukia sebelum meninggal tergeletak di lantai, bersama dengan pot-nya. Lalu tanahnya yang berhamburan.

"Maafkan aku, Byakuya-san!" Hitsugaya membungkukkan badannya.

"…Keluar."

"Eh?"

"KELUAR DARI TOKOKU!" bentak Byakuya.

Hitsugaya terkejut dan terdiam di tempat ia berdiri.

"Kurang jelaskah?" Tanya Byakuya sambil menyeret Hitsugaya keluar.

"Byakuya-san! Maafkan aku!" kata Hitsugaya mau menangis.

Namun Byakuya tidak peduli, ia mengusir Hitsugaya seperti mengusir hewan peliharaan.

"Jangan pernah ke tokoku lagi!" bentak Byakuya sambil membanting pintu toko.

Tu bi kontinyu

Review? Flame? Diterima! Gunakanlah bahasa yang santun/sopan