Main Cast:
Jung Yunho as The Crown Prince
Kim Jaejoong as The 'Cinderella'
Kim Junsu as The Prince's Lover.
and others.
Disclaimer: They're belong to God. Theirselves. Their Parents. Their Fans.
Warning: Boys Love. MPREG. Drama. EYD-failure. Possible!OOC. Typos?
Playlist: Secondhand Serenade – It's Over .
.
.
.
Yosot : The (unbelivable) Truth. It is not over!
.
.
.
Seolah...bibirnya masih menempel disini sampai sekarang.
Jaejoong menyembunyikan kepalanya dalam kungkungan kedua lengannya yang kini berada di atas meja. Ia menenggelamkan wajahnya sambil membayangkan kejadian kemarin. Ingatan dimana Yunho menciumnya berputar terus tanpa henti secara berulang-ulang bagai kaset yang rusak dan tak bisa diperbaiki.
Ciuman pertamaku.
Ia memang tak pernah memiliki pacar. Tak tertarik adalah alasan yang paling sering ia gunakan jika ditanya soal kesediaannya menjalin hubungan asmara dengan orang lain. Juga prinsip: 'ciuman dan ke'perawan'an akan dijaga untuk suaminya kelak', makin mengukuhkan keengganannya untuk berpacaran.
Tapi bahkan ciuman itu sudah diambil.
Sesuatu yang ia jaga, sudah terbuang percuma. Ah, mungkin tidak terlalu percuma– mengingat namja itu adalah calon suaminya sendiri. Itu kabar baiknya.
Kabar buruknya, saat menciumku pun, namja itu masih menyebut nama kekasihnya.
Gila, kurang hina apalagi rasanya menjadi Jaejoong? Ia tak mengemis sebuah kecupan singkat dari sang Taeja Joenha. Ia berharap banyak saat tahu ia akan menikah dengan pangeran mahkota tersebut. Ia pun tak pernah menceritakan peristiwa itu– meski ia sudah yakin akan kebenaran rencana pernikahannya dengan Yunho– kepada siapapun terlebih para sahabatnya. Ia juga tak mengharapkan perasaan Yunho akan langsung mencintainya pada pandangan pertama– mengingat namja tampan itu sudah mempunyai kekasih yang sangat dicintainya, Kim Junsu.
Hanya saja, rasanya hatinya seperti tercabik begitu sang pangeran idolanya selama ini itu menyebut nama Junsu saat menciumnya.
Sakit dan menyejukkan pada saat yang sama. Tuhan, jangan membuatku terlihat seperti seorang masokis. Hatiku serasa tercabik dan mataku perih karena air mata itu, tapi kenapa bibirku masih terasa hangat hingga sekarang?
Lalu pertanyaann yang sampai sekarang masih berkeliaran di pikirannya adalah apa alasan Yunho menciumnya?
Iseng?
Hanya mau dan ingin saja?
Astaga, hanya memikirkan beberapa alasan yang ada saja sudah membuat kepalanya pusing. Ia benar-benar tak mengerti pikiran namja itu.
Dan yang lebih parah lagi, ternyata sang oemma, Ryeowookdan namdongsaengnya, Kibum mengintip dirinya dan Yunho di taman malam kemarin.
Ia masih ingat dengan jelas ekspresi jahil milik ibunya dan ekspresi ala troll– rage face– milik Kibum yang terlihat sangat licik. Sebenarnya ia sudah curiga dengan cara mereka melihatnya bersama Hwanghu dan Hwangtaehu sehabis menenangkan diri dan menghilangkan bekas tangisannya namun ia hanya diam saja karena mengira tidak ada maksud dari tatapan usil itu.
Anehnya, Yunho tak terlihat lagi setelah menghilang begitu saja dan berkata jika dia mendadak pusing sehingga harus meninggalkan ruang makan utama terlebih dahulu. Padahal tadi seingatnya, namja manly itu terlihat segar bugar bahkan untuk mengejeknya. Apa itu hanya alasan bohongan semata? Tapi kenapa dia melakukan hal itu? Ah, sudahlah. Toh ada untungnya juga dia tak ada, Jaejoong jadi tak perlu berakting seolah tak ada yang terjadi diantara mereka sebelumnya.
Sesampainya di rumah, keluarlah wujud asli dari senyum usil dan licik milik sang ibu serta adiknya. Kedua uke itu tak henti-hentinya menggoda Jaejoong hingga seluruh wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Tak hanya dengan itu, mereka juga berspekulasi jika Yunho dan Jaejoong seakan sudah sangat cocok dan mendapatkan kemistri yang bagus antara satu dengan lainnya.
Ditambah pula, pasangan ibu dan anak yang sama-sama memiliki tubuh mungil hingga terkesan imut itu menunjukkan sebuah foto yang berisi gambar Yunho dan Jaejoong berciuman– meskipun hanya terlihat wajah Yunho dengan cukup jelas sedang wajah putra sulung keluarga Kim itu tak terlihat karena membelakangi kamera dan hanya menampilkan punggungnya saja. Mereka bilang akan menyimpan foto itu selamanya dan menjadikannya sebagai kenang-kenangan– atau kalau bisa di cetak lalu dijadikan pajangan berukuran besar di ruang tamu. Bisa mati muda karena malu Jaejoong nantinya -_-
Sungguh, Jaejoong tak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau keluarganya tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dicium lalu ditinggalkan tanpa berkata apa-apa.
Tidak ada hal yang lebih buruk dari itu, tentu saja sejauh ini.
Kriiiiiiiiiiiiiing!
Suara nyaring bel pertanda pulang berbunyi sudah, sekaligus membuat Jaejoong mengangkat kepalanya ke atas dan mengemasi buku serta peralatan tulisnya yang cukup berserakan di atas mejanya. Jang songsaenim yang berdiri di depan kelas segera mengemasi barang-barangnya dan berkata, "Baiklah. Sekian untuk hari ini, kita lanjutkan minggu depan. Annyeong!" sembari berlalu keluar kelas.
Dengan cepat, para siswa-siswi penghuni kelas tingkat akhir di SIHS itu segera mengikuti jejak sang guru untuk keluar dari kelas. Namun tak sedikit juga yang memilih untuk menunda waktu pulang ke rumah dan mengobrol dengan satu dua orang teman.
Begitu pula dengan trio Sungmin, Eunhyuk dan Heechul yang kini duduk bertiga di bangku Sungmin dan Eunhyuk yang berdekatan. Tampak ketiganya terlihat serius membahas sesuatu.
Bangku Jaejoong yang terletak di pojok kanan sebelah pintu membuatnya tidak terlalu bisa mendengar obrolan ketiganya yang terletak di bangku pojok kiri sebelah sisi dinding dan jendela. Hah, kenapa harus ia sih yang duduknya terpisah jauh dari ketiga sahabatnya?!
Dituntun rasa ingin tahu, namja cantik ini pun mendekati tempat duduk ketiga sahabatnya.
"...–dak sengaja melihat Kris berganti pakaian saat olahraga! Ah, absnya mulai terbentuk! Ini sungguh kabar yang membahagiakan!" kelakar Sungmin– yang merupakan ketua dari klub penggemar Kris.
"Donghae juga tidak kalah loh! Meskipun paling pendek diantara Yunho, Hangkyung dan Kris, dia juga sudah mempunyai abs sejak dulu!" sambung Eunhyuk.
"Heh? Benarkah? Ah~ kau pasti mengintipnya ya, monyet centil?" goda Heechul.
"Yak! Tentu saja tidak! Saat berlatih dance, dia sering sekali memakai kaos oblong tanpa lengan yang ketat dan membentuk tubuhnya. Huh, dia melakukan hal itu untuk mengejekku yang tidak punya abs sepertinya!"
"Kau pasti hanya mencoba menutupinya dari kami kan~!"
"Ah, Heehee hyung–"
"Oh, Jaejoong-ah! Ayo gabung ke sini!" ajak Sungmin yang melihat Jaejoong berdiri dalam diam di barisan bangku ke dua dari tempatnya duduk.
Dengan anggukan pelan, ia mendekati kawan-kawan baiknya sebelum menarik satu kursi dan duduk di dekat mereka sembari mendengarkan obrolan ketiganya masih diteruskan.
"Kalau Hankyung, apa dia mempunyai abs, Hyuk-ie?" tanya Sungmin.
"Oh, tentu saja! Menurutku absnya lebih seksi dari milik Donghae!"
"Jinjja?! Wah! Enak ya jadi kau, dapat pemandangan indah tiap saat dari dua seme manly nan tampan!"
"Iya dong, Hyukk-ie!"
Tanpa disadari keduanya, Heechul tengah menatap mereka dengan bibir yang mengerucut dan pandangan tidak suka. Oh, ayolah, siapa yang suka ketika sahabatmu sendiri memuji dengan sebegitu tingginya orang yang kau sukai? –Tapi tak bisa disalahkan juga sih hal itu, toh Sungmin dan Eunhyuk terlalu polos untuk menyadari rasa suka, kagum dan sayang Heechul pada namja Cina itu.
Mengerti arti gerak tubuh Heechul, namja yang juga secantik Evil Heehee itu berdehem pelan untuk memusatkan perhatian mereka padanya, "Emm, temani aku mampir sebentar ke Colours kafe sebentar yuk!"
Sungmin, Eunhyuk dan Heechul menoleh ke arah Jaejoong yang sedari tadi diam ketika mereka menggosip. Ketiga pemuda uke itu hanya memasang wajah penuh tanya.
"Hah? Kenapa? Untuk melihatmu makan saja? Maaf, tawaran ditolak." sergah Eunhyuk cepat.
"Hmm, aku sepertinya tak bisa. Hari ini waktuku untuk luluran dengan cokelat dan manicure." jawab sang Evil Heehee sembari mengecek agenda di ponsel pintarnya.
Sedang Sungmin hanya menggeleng tak setuju dengan ajakan Jaejoong.
"Yak! Kalian ini tidak setia kawan sekali sih!"
Jaejoong sebenarnya berencana memberitahukan perihal rencana pernikahannya dengan Yunho yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Ia tidak bisa membayangkan jika ketiga sahabat baiknya itu tidak mengetahui kabar itu dari mulutnya sendiri, pastinya mereka akan marah padanya dan memusuhinya– bahkan bisa saja mereka akan mendiamkan dan memusuhi Jaejoong seumur hidup. Hii, memikirkannya saja sudah membuat Jaejoong sedih.
"Memangnya kenapa sih? Kau ingin curhat pada kami?" tanya Sungmin begitu melihat putra sulung keluarga Kim itu seolah tak menerima jawaban tidak dari ketiganya.
"Err...ada– sesuatu hal yang ingin ku bicarakan dengan kalian."
"Apa ini hal yang penting?"
"Tentu. Ini – em, menyangkut masa depanku, sebenarnya."
Heechul yang terkenal mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi segera berdiri dan mendekati Jaejoong sampai jarak mereka hanya tersisa beberapa senti saja. "Oooh, selamat! Aku sangat penasaran sampai berniat membatalkan semua agendaku hari ini demi cerita yang menyangkut masa depanmu itu. Tapi awas saja jika ceritamu tidak penting, hoho." Namja cantik itu tertawa aneh dengan diiringi senyum miring yang mengerikan.
Glup. Jaejoong tahu Heechul tak akan pernah main-main dengan perkataannya.
.
.
.
Tell me why
You are so hard to forget
Don't remind me
I'm not over it
Tell me why
I can't seem to face the truth
I'm just a little too not over you
Maybe I'm regret
Everything I say
No way to thiking okay
Now I on my own
I won't let you go
I'd never understand
... I'd never understand
(David Archuleta – A Little Too Not Over You)
.
.
.
"Ku jamin, Heehee. Ini penting." Jaejoong menoleh ke arah Sungmin dan Eunyuk yang sedang tersenyum lebar. "Kalau kalian?"
"Tentu saja kami ikut! Kami kan juga penasaran!" jawab keduanya bersamaan.
Jaejoong, Heechul dan Eunhyuk yang belum meminta jemput memutuskan untuk berjalan bersama meunju kafe yang letaknya tak begitu jauh dari SIHS. Begitu pula dengan Sungmin yang lupa membawa motor merah mudanya– ya, dia lupa membawa motornya– memutuskan untuk mengikuti sahabat-sahabatnya dan berencana meminta dijemput oleh supir pribadi keluarganya nanti.
Tak sampai sepuluh menit, keempat namja manis nan cantik juga imut itu sudah berada di dalam kafe. Sesuai dengan namanya, kafe itu terlihat ceria dengan campuran berbagai warna yang ditata sedemikian rupa sehingga terlihat menarik. Cerah namun tak terlalu norak dan tak mencolok– menjadikannya kafe favorit untuk tongkrongan anak muda seperti Jaejoong, Heechul, Sungmin dan Eunhyuk. Apalagi setiap malamnya pasti ada konser kecil-kecilan dari penyanyi kafe. Tak jarang beberapa orang membentuk grup untuk mengcover dance atau lagu, memparodikan sebuah girlband atau boyband hingga menyanyikan lagunya sendiri.
Belum lagi menu-menu yang tergolong unik, enak dan harga yang murah– terutama sesuai dengan kantong pelajar Seoul. Pelayan yang ramah dan suasana kafe yang santai pun makin menambah banyak alasan mengapa orang-orang nyaman dan senang mengunjungi kafe ini.
Seperti orang lainnya, keempat namja itu pun sering mengunjungi kafe ini. Tak jarang pula mereka berempat menggunakan kafe itu sebagai basecamp atau bahkan tempat bertemu untuk sekedar bercerita, curhat dan menggosip. Dan setiap mereka ke sana, satu meja dengan empat kursi yang terletak di pojok ruangan dan menghadap langsung ke kaca jendela depan toko adalah tempat favorit– serta di sah kan oleh diri mereka sendiri sebagai tempat khusus keempat sahabat tersebut.
Memanggil pelayan, Sungmin menunjuk pai labu dengan milshake cokelat, Eunhyuk memesan kue stoberi cheese keik dan Heechul memilih salad buah dengan teh hijau– dengan alasan diet ketat serta Jaejoong yang membeli jus mangga dengan jamur krispi asam manis.
"Jadi, apa yang ingin kau biacara kan, Joongie-ah?" ucap Sungmin membuka obrolan mereka.
"Sebelumnya, aku ingin bertanya pada kalian. Apa aku percaya jika...aku berkata, aku benar-benar calon pendamping hidup," Jaejoong menurunkan suara dan merapatkan tubuhnya pada ketiga sahabat namja cantik itu, "...Taeja Joenha?"
Ketiga namja uke yang bersahabat itu segera menjauh dari posisi Jaejoong yang masih menunduk dan merapatkan tubuhnya pada mereka. Wajah Sungmin, Eunhyuk dan Heechul sudah sangat cukup untu mewakili kalimat, 'KAU BERCANDA, EOH?!"
"Yah! Aku kan baru bertanya! Jawab saja dulu~"
Eunhyuk menempatkan telunjuk di dagunya, "Meskipun kemungkinannya dibawah nol (Jaejoong merengut sebal), tapi aku akan berbahagia jika sahabat baikku bahagia!"
Jaejoong tersenyum lembut.
" Hmm, Hyukkie benar. Selama Jaejoongie senang, kami juga senang! Kami akan berdoa yang terbaik untukmu!" giliran Sungmin yang berbicara.
Namja pencinta gajah pun tersenyum untuk kedua kalinya.
"Jejjejje, kalian berbicara seolah yang diucapkan Kim ini –"
"... –Heehee-ah, kau juga bermarga Kim!"
"– Oke, terserah!" acuh Heechul sambil memutar kedua bola matanya dengan malas, "Ini hanya perumpamaan kan? Faktanya, mana mungkin Taeja Joenha mau menikah dengan gajah manja nan centil sepertinya, eoh?"
"Yak! Kim genit!"
"Ha! Margamu sendiri juga, Kim!"
"Permisi."
Belum sempat Eunhyuk dan Sungmin melerai kedua hyung cantik mereka yang baru saja bertengkar, dua orang pelayan yang membawa pesanan mereka sudah datang. Tak ayal pertengkaran tak penting itu segera berhenti dengan Jaejoong dan Heechul yang slaing membuang muka satu sama lain.
"Apa ada lagi yang ingin anda pesan?" tanya si pelayan sesudah menempatkan pesanan pada masing-masing pemesan.
"Tidak. Gamsahamnida atas makanannya." kata Sungmin.
"Ye, cheonmayo. Jika ada apa-apa, anda bisa memanggil saya kembali."
Sejenak suasana menjadi hening karena keempat namja itu mulai menikmati makanan dan minuman mereka. Hingga Jaejoong kembali memecahkan keheningan.
"Apa jika aku berkata, kenyataannya aku adalah calon pendamping hidup Pangeran Yunho, kalian tetap tak mempercayainya?"
Heechul, Sungmin dan Eunhyuk berpandangan sebentar dengan bingung. "Bukannya tidak percaya, Jae-ah. Tapi ya..rasanya sulit percaya sih."
"Itu namanya tidak percaya, Heehee." ucap Jaejoong sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bagaimana ya mengatakannya," Eunhyuk menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal, "Kami percaya kok hanya saja kami ragu. Buktinya kami tak menyebutmu pembohong~"
"Benar! Mungkin sedikit bukti akan membuat kami lebih percaya padamu, Jae-ah." Tambah Sungmin.
Sekejap, Heechul dan Eunhyuk sudah menganggukkan kepala dengan setuju. "Sedikit bukti juga tak terlalu buruk. Menambah rasa percaya kami padamu."
Bukti? Memang aku punya bukti ap– Ah! Tunggu! Kalau tak salah –
Dengan tergesa, Jaejoong merogoh hpnya dan mencari sebuah foto yang sempat Kibum kirimkan padanya. Kata adiknya, mungkin saja Jaejoong ingin bernostalgia dengan kejadian malam kemarin.
Ditunjukkannya sebuah foto di hadapan ketiga sahabatnya itu. "Seseorang yang membelakangi kamera ini tak terlihat bagaimana wajahnya. Tetapi karena kalian mengenal orang itu dalam waktu yang cukup lama dan sudah sangat dekat dengannya, aku yakin kalian tahu siapa dia."
Di foto itu, terlihat sepasang namja yang berhadapan– ketiganya langsung memperkirakan kalau keduanya sebagai namja karena keduanya memakai jas dan celana formal namja. Walaupun diambil dari jarak yang cukup jauh, tapi terima kasih pada lampu terang yang ada di tempat seperti taman itu– berhasil menerangi wajah namja yang menghadap kamera namun membungkuk. Tak mereka sangka, namja itu adalah Taeja Joenha Korea Selatan, Jung Yunho. Posisinya yang sedikit membungkuk ke arah namja di depannya sepertinya menyisakan jarak yang sangat sedikit diantara keduanya. Dan...ia kelihatannya seperti mencium namja di depannya. Oh.
...
...
?!
MWOYA?!
Cepat-cepat ketiga namja uke itu memperhatikan dengan sangat sosok yang membelakangi kamera. Meskipun begitu banyak pertanyaan yang ingin mereka lontarkan pada Jaejoong, mereka ingin lebih dahulu tau siapa sosok yang dicium oleh Yunho itu.
Hampir lima menit telah berlalu dan mereka belum menemukan siapa sosok itu.
"Jae, kami benar-benar tak tahu siapa sosok yang membelakangi kamera itu! Ayo, cepat beri tahu kami! Kami sudah penasaran nih!"
Seakan habis berlari dalam jarak yang jauh, Sungmin dan Eunhyuk serta Heechul merasa sangat kehausan. Cepat-cepat diteguklah minuman mereka sebagai pelepas dahaga. Rupanya, berpikir saja bisa menghabiskan begitu banyak tenaga, ya.
Kontan Jaejoong memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Heechul. "Aish, kalian jahat sekali! Mana mungkin kalian tidak mengenaliku di foto itu?!"
...
Uhuk?
"UHUK?! – Haa– ha– MWO?! –UHUK?! –"
Calon pendamping hidup Yunho tersebut hanya bisa tertawa canggung melihat ketiga sahabatnya tersedak minuman mereka dalam waktu yang bersamaan. Jangan lupakan tatapan ketiganya yang seolah meminta penjelasan.
Uh-oh. Hari ini akan terasa panjang sekali, nde, Jaejoongie-ah?
.
.
.
Something has changed within me
Something is not the same
I throw it playing by
The rules of someone else's game
Too late for second guessing
Too late to go back to sleep
It's time to trust my insting
Close my eyes and leap
(Glee – Defying Grafity (Re-sing))
.
.
.
"Jadi siapa namja yang beruntung itu?"
Tak memperdulikan pertanyaan Donghae, Yunho terus menerus menembakkan bolanya masuk ke dalam ring. Saat ini, ia, Hankyung, Donghae dan Kris tengah berkumpul bersama di lapangan basket indoor (dalam ruangan). Nyatanya, hanya Yunho yang bermain sendirian sedari tadi sementara ketiga namja tampan lain hanya duduk di bangku pinggir lapangan.
Yunho baru saja menceritakan pada mereka mengenai rencana pernikahannya dengan seorang namja dalam waktu dekat ini. Dan tentu saja ketiga orang itu langsung memasang seringai jahil di wajah tampan masing-masing. Dugaan terkuat mereka, namja yang dimaksud adalah Junsu.
"Yang menjadi pikiranku, bagaimana caranya kau meyakinkan keluarga istana untuk menikahi seorang namja?" tanya Hankyung.
"Hhh," Yunho menghela nafas lelah sebelum duduk selonjoran di tengah lapangan dan menghadap ketiga temannya– meskipun tetap memainkan bola basket. "Tentu saja bisa, hyung. Justru mereka yang menyuruhku menikahinya."
Namja yang paling pendiam diantara keempatnya itu terheran-heran mendengar penuturan Yunho. "Bagaimana bisa? Apa tak takut menjadi skandal bagi rakyat Korea Selatan nantinya?"
Pertanyaan itu cukup mengagetkan bagi Yunho. Hm, ia mungkin bisa menggunakan hal itu sebagai senjata melawan rencana pernikahan itu...tapi, di jaman sekarang ini sudah banyak sekali pasangan sesama namja di Korea Selatan dan tak lagi dipandang sebelah mata. Malah Yunho pernah mendengar adanya fujoshi yang berarti seorang fan girl pada hal-hal berbau hubungan sesama namja dan fudanshi yang menunjuk seorang fan boy pada hal-hal berbau hubungan sesama namja– mulai eksis keberadaannya. Bukan tak mungkin akan banyak orang yang mendukung rencana pernikahan itu nantinya.
"Entahlah. Biar kan saja, aku sudah putus asa dengan hal ini."
"Hei, kenapa kau putus asa? Bukannya kau malah senang karena akan menikah dengan Junsu?"
"Ya, Hankyung hyung benar. Kau jadi tak perlu backstreet lagi dengannya~"
"Hm, asal kau mengundang kami saja di upacara dan pesta pernikahanmu nanti."
Ucapan para sahabatnya itu membuat Yunho spontan menghentikan permainan bolanya. Ia menatap bingung pada ketiga namja tampan dihadapannya. Seingatnya, ia tak pernah berkata jika ia akan menikahi Junsu, jadi mereka mengambil kesimpulan sendiri?
"Siapa yang bilang aku akan menikahi Junsu?"
"Loh? Memang bukannya Junsu yang akan kau nikahi?" tanggap Hankyung cepat.
"Tentu bukan. Aku sudah dijodohkan dengan namja lain."
Donghae, Hankyung dan Kris seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Mereka ingat dengan jelas sekali jika Yunho menyebut dirinya sendiri sebagai seorang Junsuseksual– seseorang yang hanya tertarik pada Junsu, bukan namja atau yeoja lain. Tapi sekarang kenapa dia harus menikah dengan namja lain yang bukan Junsu, diperintahkan oleh keluarga istana dan akan menikah dalam waktu dekat ini?
"Kenapa keluarga istana menyuruhmu menikahinya?"
Mau tak mau, Taeja Joenha pun menceritakan masa lalu sang kakek dan kakek dari Jaejoong. Tentang persahabatan, perpisahan, perbedaan status, penyelamatan nyawa hingga wasiat untuk menjodohkan kedua cucu mereka yang saat itu belum lahir. Tak disangka, ternyata kedua cucu mereka adalah namja, namun mereka tetap menjalankan wasiat itu.
"Wow, perjodohan sedari kecil ternyata. Bahkan saat itu kau belum lahir, Yun." Komentar Donghae takjub.
"Tapi apa kau memang akan menerimanya begitu saja? Lalu bagaimana dengan Junsu?"
Namja pecinta fotografi itu hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. "Aku sudah berulang kali menolak, tapi keluarga istana bersikeras jika ini adalahs ebuah amanat yang harus dilaksanakan. Terlebih Jessica halmoeni sendiri yang bilang, 'Sudah sejauh ini. Tak ada jalan untuk kembali'. "
Ia menengandahkan kepalanya ke atas sembari menatap langit-langit dari bangunan lapangan itu– berharap bebannya akan hilang seketika. "Itu dia yang amsih aku bingungkan. Aku belum tau cara menyampaikan ini semua pada Junsu. Tapi aku sudah menghubunginya untuk ke tempat ini juga, sayangnya dia belum datang."
Kris yang terdiam dari tadi menatap lurus ke arah Yunho. "Kau yakin tidak membutuhkan saran atau rencana dari kami?"
Yunho hanya menghela napas lelah dan berkata, "Tidak, gomawo. Ini...mungkin sudah takdirku."
Sejenak, lapangan itu menjadi sangat hening. Kris, Donghae dan Hankyung memang diminta Yunho untuk berkumpul di tempat itu sesaat setelah pulang sekolah. terlebih lagi lapangan basket indoor ini jarang dipakai karena banyak anak basket yang lebih memilih lapangan basket outdoor dengan alasan : mereka akan terlihat lebih seksi jika terkena sinar matahari lalu berkeringat. Sungguh, alasan macam apa itu -_-
"Jadi, siapa nama namja itu?"
"Hm?"
"Nama namja yang dijodohkan denganmu, Yun."
"Seingatku, kalau tak salah namanya Kim Jaejoong."
"Oh yang cantik melebihi yeoja itu kan? Dari kelas 12-B itu bukan?" jawab Hankyung kaget. Ia sedikit tak rela mengetahui namja yang diincarnya akan menikah dengan Yunho secepatnya.
"Mwoya, hyung? Kau menyukainya, eoh?"
"A-ani (1), aku hanya mengaguminya saja. Dia lemah lembut sekali menurutku."
Sayangnya, ketiga sahabat tampannya itu tak bisa dibohongi. Mereka memasang seringai usil lalu bersiul menggoda.
"Aaaaaah, hyung dewasa kita sudah jatuh cinta rupanya!"
"Haha, aku tak menyangka kau akan segugup itu hyung!"
"Yah hyung, kalau boleh lebih baik kau saja yang menikah dengannya. Aku tak mau, jujur saja."
Meskipun bukan 100% menyukai sesama namja, namun ketiga sahabat Yunho itu tak pernah memandang rendah hubungan sesama namja. Justru mereka akan mendukung apapun selama sahabat mereka bahagia. Atau mungkin bisa dibilang mereka bertiga adalah bi– yaitu merasa nyaman menjalin hubungan baik dengan namja ataupun yeoja.
"Yak! Joyongihae!" teriaknya gugup. Ia tersenyum canggung ke arah Yunho. "Aku hanya mengaguminya, Yun. Tak lebih dari itu. Lagipula, kau yang akan menikah dengannya, jadi jagalah ia untukku."
"OMO! Kau romantis sekali, hyung!"
"HAHAHA! Kau tahu ge (2), aku merasa kau berbakat menjadi pujangga!" kata Kris sambil tertawa lepas yang tak seperti Kris biasanya.
"Ya, aku akan menjaganya sebisaku– tapi ini hanya karena aku berjanji padamu loh, hyung."
"Terserah lah, yang penting kau menjaganya dengan benar. Lalu, bagaimana dengan Junsu?"
"Ada yang menyebut namaku?"
Dengan cepat keempat namja seme itu menoleh ke arah pintu lapangan yang terbuka lebar. Di sana berdiri Junsu yang membawa tas di punggungnya dan tersenyum riang. Ia melangkah mendekati Yunho yang berada di tengah lapangan sebelum mengecup bibirnya kilat. "Mian ne, Yunnie, aku telat sebentar. Tadi ada rapat mendadak anggota klub sepak bola. Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
Kris yang mengerti situasi segera melirik ke arah Hankyung dan Donghae yang mengangguk mengerti. Meskipun mereka berlima adalah sahabat dekat tapi mereka bertiga masih tau diri untuk tidak mencampuri hubungan asmara orang lain.
"Sepertinya hari sudah sore."Kris mengambil tas yang ia geletakkan begitu saja di lantai. "Kami harus pulang dulu."
"Nde. Annyeong, Junsu-ie! Annyeong, Yunho-ah!"
"Sampai ketemu besok!"
Selepas kepergian Kris, Donghae dan Hankyung, Junsu ikut duduk di lantai di sebelah Yunho. Di usapnya peluh yang membasahi wajah Yunho dengan sapu tangan yang selalu ada di tasnya. Sesungguhnya, hal yang paling ia tanyakan adalah bagaimana keberhasilan rencana penggagalan pertunangan Yunho kemarin. Tapi melihat ekspresi Yunho yang tadi ceria bersama para namja tampan dan mendadak gusar saat bersamanya, membuat Junsu sedikit takut karena merasakan firasat yang buruk. Oh tuhan, semoga ini tak berarti apa-apa.
"Yun, ada apa sebenarnya? Dan bagaimana rencana kita kemarin?"
Yunho terdiam. Ia tiba-tiba berdiri dan beranjak mendekati sisi jendela di pinggir lapangan. Sore itu cahayanya matahari mulai berwarna oranye dan mulai menyusup ke dalam lapangan dengan kedua pintu jendela yang terbuka lebar. Ia menatap Junsu yang saat itu seolah bermandikan cahaya oranye matahari. Begitu cantik. Begitu indah. Sayangnya, ia tak bisa memiliki Junsu lebih lama dari ini.
"Rencana kita gagal, Su-ie."
"Mwo? Kenapa?" demi apapun, perasaan Junsu sudah sangat kacau. Apa firasatnya tadi benar?
"Sudah sejauh ini. Tak ada jalan untuk ku kembali."
"Ta-tapi aku masih punya rencana lain Yunho! Aku yakin kita akan berhasil!"
"Junsu–"
Jangan... jangan katakan apapun! Biarkan aku berbicara, Yun-ie!
"Atau mungkin kita kawin lari saja? Lalu kita pindah ke–"
"–..Su-ie –"
Panggilanmu kepadaku masih semanis dulu, sayang. Katakan, firasatku salah total kan?
"Bagaimana jika kau pura-pura–"
"KIM JUNSU–!"
Kau bahkan membentakku untuk pertama kalinya. Ku mohon, jangan tinggalkan aku!
"...Nde?"
"Mianhae. Aku tak bisa meneruskan hubungan kita. Aku..akan menikah."
...
Deg!
Tes!
Setetes air mata mengalir cepat menuruni kelopak mata Junsu begitu mendengar kalimat itu. Otaknya bekerja sangat cepat menampilkan kilasan balik beragam kejadian-kejadian yang pernah mereka alami selama berhubungan secara diam-diam. Perasaan sesak dengan segera melingkupi seluruh jantung dan hatinya. Terasa begitu menyiksa dan sakit di saat yang bersamaan.
Aku tahu aku salah saat menolak lamaranmu, tapi benarkah kau tak bisa menungguku sebentar saja? Aku hanya belum siap.
Aku belum siap untuk menikah, saat itu.
Dan kini, aku belum siap untuk melepasmu.
Junsu mencoba menahan isakan kecil yang ditahannya dengan kuat, namun toh apa daya, rasa sakit di hatinya punya banyak emosi untuk dilampiaskan.
"Hiks.."
Sungguh, melihat pemandangan dimana Junsu menangis membuat Yunho merasa ia adalah seorang yang sangat brengsek. Baru saja kemarin ia memanjakan Junsu dan bermesraan dengannya. Tapi sekarang? Ia harus pergi meninggalkannya hanya demi sebuah perjodohan yang sama sekali tak diinginkannya.
"Su-ie baby, mian–"
"JANGAN MENDEKAT!"
Pekikan nyaring dari namja imut itu membuat Yunho spontan menghentikan langkahnya untuk mendekati Junsu. Ia tersenyum miris melihat air mata Junsu mengalir lebih deras lagi dan isakannya menjadi tangis sesunggukan.
"Hiks.. pa-hiks-dahal ak– ku men-hiks– cintai.. mu.. hiks!"
"Aku juga mencintaimu, Junsu-ie chagi, sungguh." tanggap Yunho cepat. Mulanya ia berpikir Junsu akan bisa menerima kenyataan ini– walaupun tidak dengan cepat tapi setidaknya namja imut itu bisa menerimanya. Sayang sepertinya pemikirannya salah total.
"Tak ada kekasih yang mencintai pasangannya tapi tega meninggalkannya untuk menikah dengan orang lain, Tuan Jung!"
Yunho mengusap wajahnya kasar melihat Junsu berlari keluar dengan air mata yang berlinangan. Ia masih mencintai Junsu, itu sudah sangat jelas. Tapi ia juga tak bisa dengan mudahnya membatalkan perjodohan itu.
Jika bisa, Yunho tak ingin terlahir sebagai Taeja Joenha Korea Selatan.
.
.
.
I'm..
I'm not a kind of 'boy'
Who should be rudely barging in on a white veil occasion
But you are not the kind of boy
Who should be marrying the wrong 'boy'
(Taylor Swift – Speak Now)
.
.
.
.
Gye-sok
.
(*) Keterangan:
(1) Ani = Tidak
(2) Ge = singkatan dari Gege = Kakak laki-laki (Cina)
.
Balesan ripiu~
Michelle Jung : Ini sudah apdet. Apa kelamaan? Mian ne :D
Guest 1 : Haha, belum chingu. Kemarin Yunho masih inget sama yang lain tapi palingan entar juga ingetnya Jae doang wkwk
Ryukey : Gomawo :D iya saya usahakan apdet sebisa saya
YJM : cerita ini gak saya samain sama princess hours cuman saya terinspirasi dan konsepnya sama. Tapi tetep ada saudaranya yunho yang suka jae entar, tunggu dia aja ya : ) belum nikah chingu mereka, mungkin di beberapa chapter depan
Guest 2 : iya, kasian sekali jae : ( sip saya usahakan apdet terus sebisa saya. Haha, bener juga sebenernya. Jadi intinya dosa ditanggung sendiri-sendiri ya ; )
Gege : Ini sudah dilanjut : ) wah mian ne, saya apdet yang T saja selama Ramadhan ini ._.
Guest 3 : ah, sip lah bener banget! Akhirnya ntar Yunho jadi suka banget sama Jae wkwk
Dan bagi yang sudah log-in, saya bales lewat PM. Silahkan di cek ;)
.
Maaf ya saya apdetnya agak telat hehe
Sekali lagi, selamat puasa bagi semua yang menjalankan! Dan saya juga mutusin buat apdet sebisa saya (mungkin maksimal 4 kali apdet) di bulan Ramadhan dengan rate T. Tapi kali ini saya biarin dulu di rate M. Entar kalo apdet lagi saya ubah, hoho.
.
Oh ya, saya mau minta doanya ya. Beberapa bulan yang lalu saya jadi suspek rinositis (calon korban dari penyakit sinusitis– penyakit yang menyerang pada daerah hidung). Sudah sempet di obati sama obat minum dan obat spray (semprot) tapi sampe sekarang kadang kayak kumat gitu, pusing sama pileknya masih ada. Saya masih mengkonsumsi obat minum tapi obat spray-nya sudah habis dan saya belum beli lagi.
Jujur saya takut, setiap kali saya ngomong ke orang tua saya, mereka bilang di minumin obat aja terus. Mereka kayaknya juga takut kayak saya tapi ditutupin. Doakan saya cepat sembuh ya, biar saya waktu nulis ff gak nahan sakit lagi : )
Ah, maaf ya saya jadi curhat begini :P
.
Pendek? Iya saya tahu, mian ne : (
Semoga chap depan ide saya lancar dan kalian makin greget bacanya wkwk
Curhat ah *eh**ditelen*, saya mau kelas 12 loh! Dan saya belum kepikiran buat ngelanjutin kuliah ke mana. Maunya cari beasiswa, kalo bisa keluar negeri wkwk. Tapi kalo bisa juga biayanya full 100%. Aaaaaaaaah, mau *o*
Ada yang tau dimana? Hehe :D
.
Mungkin akan banyak typo(s) kali ini mengingat gak saya baca ulang ._.v hehe
Curhat lagi ya *plak*. Saya lagi ngefan sama Kemal Palevi nih~ ada yang tau dia? Dia comik(?) halah pokoknya dia stand up comedian jebolan Stand Up Comedy 2 Kompas TV. Yang bikin saya suka sama dia selain ganteng adalah dia absurd XD omongannya kadang gak jelas tapi lucu wakakak
.
Terima kasih untuk ripius, favorites dan followsnya! Fanfict ini gak berarti tanpa kalian, you rock guyssss \m/
.
Review? Criticism?
*kissANDhug*
