Believe In Love

Cast : Kai, Sehun, etc

Yang ga suka dengan ff aku yang absurd, mending langsung klik close. Dan tolong berkomentarlah yang sopan, belajarlah menghargai karya orang lain.

No edit, typo bertebaran

KaiHun Lovea

.

.

.

.

.

.

Sehun menghentikan langkahnya sesaat sebelum ia memasuki kafe itu, ia berpaling untuk menatap ke seberang jalan. Kosong. Tak ada seorangpun di sana, tapi entah kenapa nalurinya mengatakan kalau ada orang yang tengah memperhatikannya dari seberang sana. Ketika yakin tak ada orang di sana, Sehun kembali melangkahkan kakinya memasuki kafe itu tanpa menyadari kalau di seberang jalan, seseorang melangkah keluar dari balik pohon dan tengah tersenyum sinis ke arahnya sebelum kemudian orang itu bergabung dengan yang lain di tengah keramaian jalanan.

"Jungwoo bilang, dia memakai jaket warna biru, yang mana orangnya?" Sehun mengedarkan pandangannya ke segala arah dan akhirnya matanya tertuju pada seseorang yang berada di pojok ruangan, tengah duduk sendirian dengan kepala tertunduk dan pria itu memakai jaket biru. Sehun tersenyum lega, dengan langkah cepat ia menghampiri orang itu.

"Hai..."

Pria yang sedari tadi menunduk itu langsung mendongak ketika mendengar sapaan Sehun. Sesaat Sehun tertegun melihat wajah pria di hadapannya, satu kata untuk pria itu, manis. Dan Sehun sepertinya mengerti kenapa Jungwoo mencintai pria ini, dia bisa membuat orang terkesan padanya hanya dengan sekali memandang wajahnya.

"Kau siapa?"

Sehun duduk di kursi tepat di hadapan pria itu sebelum menjawab. "Aku orang yang dikirim Jungwoo untuk menemuimu."

Raut wajah pria itu berubah murung saat mendengar jawaban Sehun. "Begitu ya..." ia memaksakan senyumnya sebelum memandang pada Sehun. "Kau cantik sekali, pantas saja Jungwoo lebih memilihmu."

Sehun mengernyitkan alisnya, "Terima kasih untuk pujiannya, tapi kurasa kau salah paham," Sehun tersenyum. "Aku kakak ipar Jungwoo."

Pria itu mengerjapkan matanya, "Kakak ipar?"

Sehun mengangguk, "Ya, kakak Jungwoo adalah suamiku."

"Anda Shixun?"

Sehun mengangguk.

Pria itu tersenyum canggung, "Maaf atas ketidak sopananku yang tadi."

"Tak apa, lagi pula kau terlihat semakin manis saat cemburu," Sehun kembali tersenyum. "Kurasa Jungwoo pasti sangat senang kalau aku ceritakan hal ini padanya. Oh ya, siapa namamu?"

"Jaemin, Na Jaemin."

Sesaat kesunyian kembali tercipta di antara keduanya.

"Kenapa bukan Jungwoo yang datang sendiri kesini untuk menemuiku?" tanya Jaemin pelan, memecah kesunyian di antara mereka.

"Jungwoo tak bisa menolak permintaan papa untuk ikut rapat dengannya di kantor."

"Tentu saja," ucap Jaemin dengan muram. "Jungwoo lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan aku."

"Percaya padaku, Jungwoo sangat mencintaimu."

"Tapi bukankah rasa cinta saja tidak cukup, Jungwoo dan aku jelas berasal dari kalangan berbeda dan sangat sulit bagi kami untuk bisa bersama."

"Kenapa kau bilang begitu, ku rasa papa bukan orang yang pemilih."

"Itu karena kau pasti berasal dari kalangan yang sama dengan mereka kan?"

"Aku..." Sehun tertegun, teringat akan fakta kalau ia bahkan tak bisa mengingat sesuatupun tentang keluarganya. "Keluargaku... aku benar-benar tak bisa mengingatnya."

Jaemin memandangnya dengan cemas, ia teringat akan ucapan Jungwoo yang mengatakan kalau kakak iparnya mengalami amnesia. "Maafkan aku atas pertanyaan tak sopanku."

"Tak apa, ingatanku memang masih belum pulih, mungkin nanti aku bisa menanyakan tentang keluargaku pada Jongin."

Di saat itulah pelayan datang dan menyuguhkan segelas minuman dan sepiring cake ke hadapan Sehun.

"Tunggu, aku bahkan belum memesan apapun," ucap Sehun bingung. "Apa kau yang memesankannya untukku?" tanyanya pada Jaemin.

"Tidak," Jaemin menggelengkan kepalanya.

"Lalu siapa?" Sehun menoleh pada pelayan itu.

"Maaf tuan, pria yang tadi duduk di sebelah sana yang memesankan untuk anda," pelayan itu menunjuk ke arah kursi kosong di depan dekat pintu masuk. "Lho, kemana orang itu?"

"Apa anda mengenalnya?" tanya Sehun.

Pelayan itu menggeleng, "Dia menitipkan ini untuk anda." Setelah menyerahkan secarik kertas itu ke tangan Sehun, pelayan itupun pergi.

"Apa itu sepucuk surat?" tanya Jaemin.

"Kurasa iya." Sehun membuka lipatan kertas itu dan membaca isinya. Wajahnya seketika memucat saat ia menjatuhkan kertas itu di atas meja. Jaemin yang penasaran segera mengambil kertas itu dan membaca isinya.

Apapun yang kau lakukan, teruslah berharap kalau ingatanmu tidak akan kembali. Maka aku akan mengampuni nyawamu.

Wajah Jaemin ikut memucat, "Siapa..." ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Siapa yang mengirim pesan ini padamu kak Shixun?"

"Aku..." Sehun menelan ludahnya dengan susah payah. "Aku tidak tahu."

"Aku harus mengatakan ini pada Jungwoo," Jaemin ingin mengambil handphone di saku jaketnya, namun tangan Sehun lebih dulu mencegahnya.

"Jangan."

"Tapi kak Shixun..."

"Mungkin ini hanya perbuatan orang iseng, jadi ku mohon jangan ceritakan hal ini pada siapapun."

"Baiklah, aku tidak akan mengatakan hal ini pada Jungwoo, tapi ku rasa suamimu berhak tahu."

"Aku tak ingin menambah beban pikiran Jongin, aku tak akan mengatakan hal ini padanya."

"Tapi... Oh, Tuhan..." Jaemin meremas kertas itu dan cepat-cepat memasukkannya ke saku.

"Ada apa?" tanya Sehun bingung, ia mengikuti arah pandang Jaemin dan langsung melihat ayah mertuanya bersama dengan Minseok, memasuki kafe itu di iringi beberapa orang berjas yang Sehun yakini sebagai rekan bisnis ayah mertuanya. "Kenapa mereka bisa di sini?"

"Apa mereka sedang memata-matai kita?" tanya Jaemin ngeri.

"Untuk apa? Papa tidak mungkin melakukan itu, mungkin ia hanya ingin makan siang di sini," balas Sehun. ia mengalihkan pandangan ke arah jalanan dan menemukan Kris sedang berjalan santai dengan menenteng kantong belanja. Sepertinya pria itu baru keluar dari pusat perbelanjaan di seberang jalan.

"Kali ini aku bersyukur Jungwoo tak ada di sini saat ayahnya datang." Jaemin berdiri dan membungkukkan badan saat tak sengaja bertemu pandang dengan Chanyeol.

"Papa..." sapa Sehun ramah.

"Menikmati waktumu dengan sahabatmu, menantuku?" tanya Chanyeol.

"Iya papa."

Chanyeol mengalihkan pandangan dari Sehun ke Jaemin, lalu tersenyum tipis. "Baiklah, lanjutkan saja obrolan kalian, papa tidak ingin mengganggu."

Sesaat setelah Chanyeol berlalu dari hadapan mereka, Minseok menoleh pada Sehun. "Suamimu mungkin akan pulang cepat hari ini, kau ingin aku antar kembali ke rumah?"

"Tak perlu kak, aku akan pulang bersama Jaemin."

"Jaemin?" Minseok menoleh pada Jaemin. "Ah, dia ya. Apa kau bawa mobil?"

"Ya, tadi aku minta paman Kang yang mengantarku kemari, ia sedang menunggu di luar."

Minseok mengangguk, "Baguslah, jangan pulang naik taksi."

Sehun hanya mengangguk dan setelah Minseok berlalu dari hadapan mereka, ia kembali menolehkan kepalanya ke arah jalanan. Kris tak terlihat lagi di sana, begitupun dengan mobilnya yang tadi terparkir di tepi jalan. Sebagai gantinya ia justru melihat Jungwoo yang baru turun dari mobil dan sepertinya mau menyusul mereka ke kafe.

"Ya Tuhan..."

Sehun menoleh ketika mendengar gumaman Jaemin. "Ku harap ia tidak masuk kemari sekarang."

"Kenapa?" tanya Sehun.

"Aku belum siap kalau keluarganya tahu kalau aku adalah kekasih Jungwoo," Jaemin melirik pada ayah mertua Sehun yang sedang asyik berbincang-bincang dengan rekan kerjanya di meja pojok yang lain.

"Ku rasa kita harus keluar sekarang," gumam Sehun.

"Tunggu kak, lalu bagaimana dengan isi pesan itu?"

"Ku rasa itu hanya ulah orang iseng, kau tak perlu mencemaskannya," Sehun tersenyum. "Ayo keluar dan temui kekasihmu."

Saat keduanya keluar dari kafe, Jungwoo sudah menyambut keduanya di depan pintu. "Hai, padahal aku baru mau menyusul kedalam, tapi ternyata kalian sudah selesai." Saat tangan Jungwoo ingin merangkul kekasihnya, Jaemin cepat-cepat menghindar hingga membuat Jungwoo terlihat bingung. "Ada apa?" tanyanya.

"Ada papa di dalam," bisik Sehun.

"Oh, sial. Apa dia sendirian?"

"Tidak, ada Minseok juga di sana."

"Kak Minseok?" dahi Jungwoo berkerut. "Aku pikir dia pergi bersama dengan Kris tadi, ternyata bersama papa ya?" Jungwoo menoleh ke arah dalam kafe sekilas. "Sebaiknya kita pergi."

"Ya, kalian pergilah berdua, Minseok bilang Jongin akan pulang cepat hari ini. Ku rasa aku harus bergegas sebelum ia sampai duluan ke rumah."

"Baiklah... jangan lupa kak, cepat-cepat berikan aku keponakan," Jungwoo mengedipkan sebelah matanya sebelum menarik Jaemin menjauh.

Sehun balas tersenyum, ia mengelus perutnya dengan lembut. "Ku harap juga begitu."

.

.

.

.

.

.

Jongin melangkahkan kakinya dengan tenang memasuki kafe yang sedang sepi itu. tatapan matanya tak pernah lepas dari menatap seorang pria berbadan kurus yang sedang duduk di depan meja kasir. "Byun Baekhyun."

Yang di panggil Baekhyun langsung mendongak untuk menatap Jongin. "Kau..."

"Bisa kita bicara sebentar."

"Aku tak punya urusan apapun denganmu."

"Memang tidak, tapi aku punya urusan denganmu."

"Apa?"

"Ini mengenai Sehun."

Hanya dengan mendengar nama itu, Baekhyun segera bangkit dari duduknya. "Ikut aku."

Jongin mengikuti langkah Baekhyun yang membawanya ke sebuah ruangan kecil dengan dinding yang dipenuhi dengan foto-foto dirinya dan Sehun.

"Ini adalah ruangan tempat Sehun biasa beristirahat saat ia bekerja di sini." Tanpa di minta, Baekhyun menjelaskan arti ruangan itu untuknya. "Kau lihat sendiri bukan, betapa berartinya dia bagiku."

"Aku bisa memahami itu, tapi tidak seharusnya kau menyalahkan istriku atas kejadian tersebut." Jongin duduk di kasur kecil di yang ada diruangan itu dan menatap tajam pada Baekhyun.

"Tapi karena istrimu yang terlalu sombong dan mengabaikan panggilan dari Sehunku, Sehun harus mengalami kecelakaan tersebut. Demi Tuhan, apalah arti sebuah tanda tangan dibandingkan nyawa adikku?"

"Mungkin Shixun tidak mendengarnya."

"Tidak mendengar? Apa dia tuli," Baekhyun tampak marah. "Kau tahu saksi di sana bilang dia bahkan bisa mendengar teriakan Sehun meski jaraknya lebih jauh dari istri anda."

Jongin memejamkan matanya, enggan berkomentar.

"Dan apa yang ingin kau bilang tentang Sehun padaku?" tanya Baekhyun.

"Ia sering muncul dihadapan istriku."

"Apa? bagaimana mungkin, Sehun sudah tidak ada. Kau jangan mengarang cerita."

"Itu memang benar, ia sering muncul di dalam mimpi istriku, mengancamnya dan memaksanya mengaku kalau ia adalah Sehun."

"Tidak..." Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, ia bahkan tak sekalipun muncul di dalam mimpiku." Tangis Baekhyun pecah dan pria itu segera menutupi wajahnya dengan kedua tangan kurusnya.

"Tapi itulah kenyataannya," Jongin mengambil foto yang diletakkan di atas meja kecil di samping kasur. Foto Sehun yang tengah tersenyum lebar ke arah kamera. Ia mengamati foto itu dengan seksama. "Aku tak mengerti apa yang Sehun inginkan hingga ia memaksa istriku untuk mengaku sebagai dirinya?"

Ada perasaan aneh yang menyusup kehati Jongin saat ia mengamati foto tersebut. Senyum Sehun di foto itu sangat mirip dengan senyum istrinya dan tahi lalat di lehernya, bagaimana mungkin orang yang berbeda bisa memiliki tahi lalat yang sama persis?

"Mungkin... Sehun tak ingin meninggalkanku sendirian di sini, karena itulah ia melakukannya."

"Sendirian? Di mana keluarga Sehun yang lain?"

"Ia yatim piatu, orang tuanya sudah lama meninggal."

Dahi Jongin berkerut, orang tua istrinya juga meninggal. "Baekhyun, apa kau yakin?"

"Tentu saja, aku sudah menemaninya sejak ia bayi. Bagaimana mungkin aku tidak tahu akan hal itu?"

Baekhyun berdehem pelan, "Aku tahu ini mungkin kedengarannya gila bagimu, tapi apakah tidak ada kemungkinan kalau yang bersamamu saat ini adalah Sehunku? Maksudku bukankah di dalam mimpi pun dia..."

"Tidak, dokter sudah memastikannya," Sela Jongin. "Jadi jangan berpikir macam-macam dan berhentilah mengganggu istriku, kalau kau masih melakukannya, maka aku sendiri yang akan turun tangan untuk membereskanmu."

.

.

.

.

.

.

Saat Sehun tiba di rumah, Jongin ternyata belum pulang. Rumah itu sepi bahkan ibu mertuanya juga tak terlihat, hanya ada seorang pelayan yang sedang membersihkan meja makan yang terlihat. Ketika Sehun menanyakan di mana ibu mertuanya, pelayan itu hanya mengatakan kalau ibu mertuanya tersebut sedang pergi ke tempat salon langganannya.

Sehun mengerutkan keningnya begitu ingat kalau lokasi salon langganan ibu mertuanya itu hanya berjarak dua ratus meter dari kafe tempat ia bertemu dengan Jaemin. Kenapa dalam satu hari hampir seluruh keluarga Kim berada di area yang sama dengannya? Mungkin hanya kebetulan, pikir Sehun.

Ia pun pergi menuju kamarnya setelah berpesan pada pelayan itu untuk memberitahukan padanya kalau suaminya sudah pulang.

Sembari berjalan menuju kamarnya, Sehun memikirkan kata-kata yang tertulis di kertas yang diberikan padanya saat di kafe. Ia mengira-ngira apakah benar itu adalah perbuatan orang iseng, Jongin bilang kalau dulu dirinya adalah seorang aktor yang terkenal, kalau itu benar memang ada kemungkinan kalau dirinya memiliki haters. Sehun pikir ia harus lebih berhati-hati saat keluar dari rumah ini, mungkin saja ada salah satu hatersnya yang sedang mengintainya.

Sehun baru selesai mandi saat ia mendengar deru suara mobil memasuki halaman. Ia cepat-cepat melempar handuk di tangannya, memakai celana pendek berwarna putih dan mengambil sebuah sweater berwarna kuning dari dalam lemari pakaian. Suaminya sudah pulang dan ia ingin segera menyambutnya.

Namun ketika Sehun selesai mengenakan pakaiannya, Jongin sudah lebih dulu membuka pintu kamar, menatapnya sejenak sebelum melangkahkan kakinya dengan tergesa untuk menghampirinya dan kemudian memeluknya dengan erat.

Sehun yang meski awalnya sempat terkejut, perlahan mengangkat kedua tangannya dan balas memeluk tubuh Jongin. "Ada apa? apa telah terjadi sesuatu?"

Jongin melonggarkan pelukannya, mengecup bibir Sehun sekilas lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya merindukanmu."

"Jongin," Sehun mempoutkan bibirnya. "Aku yakin bukan hanya itu, katakan saja ada apa?"

Telapak tangan Jongin yang hangat menempel di pipi chubby Sehun saat pria itu menatapnya dengan lekat. "Ada orang yang meragukan kalau kau adalah istriku. Katakan padaku Shixun, apakah kau juga merasakan hal itu? maksudku kau mungkin memang amnesia tapi aku yakin jauh di lubuk hatimu kau bisa merasakannya."

Sehun menyentuh tangan Jongin yang masih menangkup pipinya. "Kau ingin tahu bagaimana perasaanku?"

"Ya."

"Aku tak bisa mengingat apapun Jongin," Sehun menggenggam tangan Jongin dan membawanya ke dadanya. "Tapi di sini, aku sangat yakin kalau aku begitu mencintaimu."

Jongin tersenyum lebar, "Itu sudah cukup bagiku, kau memang istriku."

Jongin melepaskan genggaman tangannya, lalu melangkah mundur untuk melepas jasnya dan melemparnya ke atas kasur. "Kau baru mandi?"

"Iya."

Jongin menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku sembari mengamati penampilan istrinya. Istrinya tampak begitu imut dengan sweater kuningnya yang kebesaran dan Jongin tak bisa membantah kalau tampilan itu tak hanya membuat istrinya tambah mempesona tapi juga membangkitkan gairahnya. "Kau tak pakai celana?" tanya Jongin dengan suara serak.

Sehun mengangkat ujung sweaternya hingga menampakkan celana pendeknya yang berwarna putih, sangat serasi dengan kulitnya yang juga putih bersih.

"Perfect," puji Jongin. Selera berpakaian istrinya yang sekarang sangat jauh berbeda dari sebelum kecelakaan itu terjadi, awalnya memang aneh tapi Jongin meyakini benturan di kepala istrinya saat kecelakaan itu turut memberi andil pada kelakuan istrinya yang berubah. "Kau mau ikut denganku?"

"Kemana?" tanya Sehun antusias.

"Hanya jalan-jalan sebentar di belakang. Ku rasa aku perlu menghirup udara segar di luar sebelum aku menyerangmu di sini dan berakhir kita yang tak akan keluar kamar hingga makan malam tiba."

Wajah Sehun memerah begitu mendengar ucapan Jongin, ia segera mengenakan sendal jepitnya. "Kau mesum."

"Mesum denganmu tak apa sayang."

"Apa tak apa kalau aku keluar seperti ini?" tanya Sehun, ia mengamati penampilannya sendiri sebelum menatap Jongin.

"Kau cantik dan tak ada yang salah dengan pakaianmu, ayo." Jongin mengulurkan tangannya dan Sehun dengan senang hati segera menyambutnya.

Sambil bergandengan tangan keduanya melangkah ke belakang rumah, tempat taman bunga milik Suho berada.

"Apa dulu kita sering seperti ini?" tanya Sehun saat Jongin membimbingnya untuk duduk di atas rumput.

"Tidak, ini pertama kalinya kita seperti ini."

Sehun terdiam sejenak, "Jongin..."

"Hmm..."

"Apa dulu kita tidak saling mencintai?"

Jongin menoleh pada Sehun dan tersenyum, "Kau pikir aku mau menikah denganmu tanpa cinta? Tidak sayang, dulu kita juga saling mencintai."

"Lalu kenapa kau bilang kalau ini pertama kalinya?"

Jongin berdehem pelan, "Yah, itu karena kau dan aku sama-sama sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing."

Sehun menunduk, "Maaf."

"Sayang kenapa kau minta maaf, ini bukan sepenuhnya salahmu, lagi pula itu juga sudah berlalu. Bukankah lebih baik kalau kita membahas masa depan yang akan kita jalani nantinya?" Jongin meraih pinggang ramping istrinya dan menariknya untuk duduk di pangkuannya.

Sehun menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Jongin sementara tangannya menarik turun sweaternya yang sempat tersingkap. "Aku tak ingat kehidupanku sebagai seorang aktor, tapi yang aku tau kalau aku tak ingin melakukannya lagi."

"Benarkah?" Jongin melingkarkan kedua tangannya di perut Sehun dan memeluknya dengan erat. "Aku tak ingin kau melakukannya karena terpaksa sayang, kau tahu aku tak pernah memaksamu untuk berhenti dari kariermu."

"Tapi aku ingin," sahut Sehun. "Lagi pula, bukankah kita ingin punya baby?" Sehun menunduk untuk memperhatikan perutnya yang masih rata.

"Apakah sudah ada baby kita di dalam sana?" tanya Jongin penuh harap, satu tangannya bergerak menyusup masuk ke balik sweater kuning yang dipakai Sehun.

"Aku tidak tahu, apa kita harus ke dokter untuk memeriksanya?" tanya Sehun.

Jongin menunduk untuk mengecup pipi Sehun dengan lembut, "Nanti kita ke dokter, sekarang aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama istriku."

Sehun tersenyum dan ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Jongin. "Aku menginginkanmu Jongin."

Jongin tak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya dan melumat bibir istrinya dengan lembut. Untuk sesaat keduanya terhanyut di dalam ciuman itu, tanpa menyadari kalau di kejauhan ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka.

"Apa kau tahu," bisik Jongin sesaat setelah ia melepaskan ciumannya. "Aku jauh lebih menginginkanmu sayang. Setiap detik dan menitku aku selalu menginginkanmu berada di sisiku, memelukku, menyentuhku dan memberikanku cinta."

Sehun mengganti posisi duduknya menjadi berhadapan di pangkuan Jongin, kedua kakinya melingkari pinggul Jongin dengan erat, "Aku senang kalau kau juga menginginkanku."

Jongin mengecup leher Sehun dan menggigitnya pelan. "Kau tahu sayang, kalau kau terus bersikap seperti ini, aku bisa saja tak bisa menahan diriku dan kita akan bercinta di sini."

"Apa kau akan melakukannya?" tanya Sehun, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Jongin.

"Tidak, kau istriku yang berharga, dan kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari pada sekedar berbaring di atas rumput. Lagi pula sayang, ini tempat terbuka dan aku tak mau seorangpun melihat keindahan tubuh istriku." Jongin menangkup pantat Sehun, meremasnya dengan keras sebelum ia bangkit berdiri, secara otomatis Sehun makin mempererat rangkulannya di leher Jongin sementara pria tampan itu membawanya pergi dari taman tersebut. "Ayo bercinta denganku, istriku."

.

.

.

.

.

.

.

Rasanya baru beberapa menit yang lalu keduanya mulai bercinta dan Jongin seakan tak pernah puas dengan tubuh istrinya, ia terus ingin menuntut lebih dan baru berhenti setelah Sehun mengatakan kalau ia sudah terlalu lelah untuk melanjutkan. Dan saat itulah Jongin baru menyadari kalau hari telah berganti petang, langit sudah gelap. Berapa lama keduanya bercinta? Ia memperhatikan istrinya yang tengah tertidur pulas karena kelelahan, keringat masih membasahi wajah orang yang sangat dicintainya dan Jongin segera menyekanya dengan lembut, berhati-hati agar ia tidak membangunkan Sehun dari tidurnya.

"Apa aku terlalu berlebihan hari ini, sayang?" gumam Jongin. "Kau terlihat begitu kelelahan."

Tak ada jawaban dari mulut Sehun, hanya dengkuran halusnya yang terdengar dan Jongin rasanya tak tahan untuk tidak menciumnya lagi. Namun sebelum ia melakukan itu, tatapan matanya menangkap adanya secarik kertas yang terselip di balik bantal. Pria tampan itu segera mengambilnya dan membacanya.

Dengarkan aku, saat ingatanmu kembali. Pergilah, tinggalkan Jongin. lindungi dirimu sendiri seperti aku melindungi diriku sendiri.

Jongin meremas kertas itu dan menoleh pada Sehun. Siapa? Siapa yang telah mengirimkan pesan ini pada istrinya? Apakah ini berkaitan dengan kecelakaan yang dulu di alami istrinya? Kalau ya, apa sebenarnya yang disembunyikan istrinya dari dirinya?

"Shixun kau dengar aku, aku tak akan membiarkan kau pergi dari sisiku."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Makin lama makin absurd ya. Hahaha... aku ga jago bikin yang kayak ginian, jadi mohon maklumi semua kekurangannya.

Please review ya kalau masih minat dan ingin ff ini diteruskan.

Salam Kaihun Hardshiper

KaiHun Lovea