137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
TANGLED
BAB 7
Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast
Rate : M
Warning : Genderswitch , Typo(s)
DLDR
Please enjoy ^^
Disclaimer : Remake Novel karya Emma Chase 'Tangled'.
Ok. Let's check this out !
.
.
.
JOYER
.
.
.
Perjalanan kembali ke apartemen adalah latihan dari ketangkasan mengemudi. Berusaha mati-matian agar mulutku tetap menempel di mulutnya dan tidak menyebabkan kami terbunuh. Sungmin duduk di pangkuanku, mengangkangi pinggangku, mencium telingaku, menjilati telingaku—membuatku kehilangan akal. Satu tanganku ada di kemudi dan tangan satunya terjepit di antara kami, meluncur di atas perutnya, lehernya, dan payudara sempurnanya yang menggodaku melalui kemejanya yang setengah terbuka.
Jangan coba ini di rumah, nak.
Roknya tersingkap tinggi di atas pahanya saat dia menggesek dirinya pada kejantananku yang keras. Sungmin begitu panas di atas tubuhku, aku harus menggunakan segenap tekad yang kumiliki agar mataku tidak terbalik. Aku menciumnya dengan keras dan memperhatikan jalan dari balik punggungnya. Dia bergerak naik dan turun, memasturbasiku perlahan dengan tekanannya. Demi Tuhan, saling menggesek sambil mengenakan pakaian lengkap belum pernah senikmat ini.
Kontrol? Pengendalian diri? Mereka sudah lama menghilang.
Akhirnya, aku menepi di garasi parkir dari gedungku. Aku menggenggam tempat yang pertama kulihat dan menyeret kami keluar dari mobil. Tanganku di pantatnya, kakinya melingkari pinggangku, aku mengangkat Sungmin ke arah lift, bibir dan lidah kami menari dengan berapi-api.
Aku tidak mengunci mobilku. Kurasa aku juga tidak mengunci pintu apartemenku.
Persetan.
Siapapun dapat mencurinya. Aku punya urusan yang lebih penting sekarang.
Aku tersandung masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju lantai paling atas sebelum mengempaskan Sungmin menempel ke dinding dan mendorong tubuhku ke arahnya seperti yang selama ini sangat kuinginkan. Dia mengerang dengan panjang dan dalam di mulutku.
Sesampainya di pintu apartemenku, aku menggerayangi sakuku mencari kunci dengan satu tangan masih mengangkat Sungmin di atas tubuhku. Sungmin menggigit kecil telingaku dan berbisik, "Cepat, Kyu."
Aku mungkin akan menendang pintunya terbuka pada saat ini jika saja kuncinya tidak berputar. Kami masuk ke dalam apartemen, dan aku menendang pintunya tertutup dengan kakiku. Aku melonggarkan kakinya dari pinggangku, dan kakinya meluncur turun ke lantai, menciptakan gesekan nikmat dalam prosesnya. Aku perlu membebaskan tanganku.
Dengan bibir kami masih menyatu, aku mulai membuka kancing blusnya. Sungmin tidak begitu terampil—atau ia hanya tidak sabar. Dia memasukkan jarinya ke dalam bagian depan kemejaku dan menyentak. Kancing bertebaran di atas lantai.
Dia merobek kemejaku terbuka begitu saja.
Betapa seksinya ini?
Aku menemukan kait branya dan membukanya. Aku ahli dalam urusan ini. Siapa orang yang menemukan kait depan bra? Tuhan memberkatimu.
Sungmin menarik lepas bibirnya dan menempelkan telapak tangannya di atas dada dan turun ke perutku. Matanya dipenuhi dengan ketakjuban saat mengikuti gerakan tangannya. Aku memperhatikannya bersamaan saat jariku meluncur dari tulang selangkanya, turun ke tengah-tengah dari payudaranya yang mulus, dan di atas lembah yang sangat kusukai sebelum akhirnya berhenti di pinggangnya.
"Ya Tuhan, Kyuhyun. Kau sangat..."
"Indah." Aku menyelesaikan ucapannya.
Aku menarik tubuhnya ke arah tubuhku, melingkarkan lenganku ke tubuhnya dan mengangkat kakinya dari lantai saat aku berjalan mundur ke arah sofa. Apakah kupikir menari dengannya rasanya seperti surga? Tidak. Dada telanjangnya menempel dadaku—Ini adalah bagaimana rasanya surga.
Aku mencium rahangnya dan mengisap kulit lembut di lehernya.
Aku suka leher Sungmin—dan dari suara yang bergetar di dalam tenggorokannya, dia suka apa yang kulakukan. Aku duduk di atas sofa, membawanya bersamaku dengan tubuhnya menempel tubuhku, kakinya merapat di antara lututku yang terbuka. Dia menarik bibirku untuk satu ciuman lagi sebelum berdiri dan mundur.
Kami berdua kehabisan napas dan saling menatap, praktis saling menyerang dengan mata masing-masing. Dia menggigit bibirnya, dan tangannya menghilang di balik punggungnya, aku mendengar suara retsleting di turunkan, dan kemudian roknya perlahan meluncur ke lantai. Ini adalah pemandangan paling seksi yang pernah kulihat.
Sungmin berdiri di depanku dengan memakai celana dalam boy-short berenda warna hitam, blus putih yang terbuka, dan sepatu hak tinggi.
Bibirnya bengkak, pipinya memerah dan rambutnya acak-acakan oleh tanganku. Dia seperti Dewi...sangat suci. Dan cara dia menatapku hampir membuatku ejakulasi saat itu juga. Aku meraih dompetku dan menarik kondom keluar, menaruhnya pada bantal sofa di sampingku.
Sungmin berjalan kearahku...masih memakai sepatu hak tingginya.
Ya Tuhan.
Dia berlutut di antara kakiku dan membuka kancing celanaku, menjaga tatapan matanya tetap terkunci dengan mataku. Aku mengangkat pinggangku, dan dia menarik lepas celana panjang dan boxerku. Kejantananku langsung berdiri, bangga, keras dan sangat siap. Matanya bergerak turun, dan melihat ke atas lagi. Aku membiarkan dia memuaskan pandangannya; aku juga bukan tipe orang pemalu.
Tapi ketika senyuman nakal muncul dari bibirnya dan Sungmin membungkuk ke arah kejantananku, aku meraih dan menariknya kembali ke mulutku. Aku tak tahu apa yang dia rencanakan—well, aku punya gambaran—tapi jika aku tidak segera masuk ke dalam dirinya, kurasa aku benar-benar akan mati.
Aku mengangkat tubuh Sungmin dengan memegang pinggangnya, dan lututnya berada di kedua sisi tubuhku. Aku menahannya dengan satu tangan sedang tangan yang satunya menggeser ke samping renda yang berada di kedua kakinya. Aku memasukkan dua jari ke dalam dirinya. Oh Tuhan. Dia juga sudah siap. Aku mendorong seluruh jariku masuk ke dalam, dan kami berdua mengerang dengan keras.
Dia basah...dan panas. Miliknya mencengkeram dengan pas di sekeliling jemariku, dan mataku terpejam, mengetahui betapa luar biasa rasanya dia di sekeliling kejantananku. Aku memompa jariku keluar masuk, dan Sungmin mulai menunggangi tanganku. Dia merintih...mengerang...terengah menyebut namaku.
Musik di telingaku.
Aku tidak tahan lagi. Kuraih kondom dan merobeknya dengan gigiku. Sungmin mengangkat tubuhnya saat aku memasangnya. Dia mendorong tanganku menjauh. Dan dia memasang kondomnya untukku.
Ya Tuhan.
Aku menarik celana dalam rendanya. Aku ingin Sungmin telanjang, tak ada yang menghalangi. Dengan suara robekan dan jepretan, aku merobek celana dalamnya lepas. Bibir gelap dan berkilau seakan memanggilku, dan aku bersumpah demi Tuhan nanti aku akan memberikan perhatian yang sepantasnya. Tapi aku tak bisa menunggu.
Mataku tertuju kearahnya...Mata coklat gelapnya yang menarikku saat pertama kali aku melihatnya.
Cantik sekali.
Perlahan, dia menenggelamkan dirinya. Untuk sesaat, tak ada satu pun dari kami yang bergerak. Atau bernapas. Dia ketat...sialan...meskipun terhalang kondom, aku merasakan dinding vaginanya meregang untukku.
Aku membisikkan namanya seperti doa. "Min..."
Aku memegang wajah Sungmin dan menariknya kearahku. Aku harus menciumnya. Dia mengangkat tubuhnya, menarik milikku hampir sepenuhnya keluar sebelum dengan mulus meluncur ke bawah, membawa kejantananku kembali ke dalam dirinya.
Oh Tuhan.
Tak ada yang pernah terasa senikmat ini—tidak ada. Tanganku memegang pinggulnya, membantunya menunggangi kejantananku dengan gerakan yang stabil. Mulut kami sama-sama terbuka, berciuman dan terengah-engah.
Aku memposisikan diri untuk duduk tegak, mengetahui bahwa tekanan tambahan terhadap klitorisnya akan terasa lebih nikmat untuknya. Dan aku tidak salah. Dia mengempas kearahku lebih keras, lebih cepat, tanganku menekan ke dalam pinggulnya. Aku mencium lehernya dan menekuk kepalaku, menjilat turun menuju putingnya yang mengeras. Aku memasukkannya ke dalam mulutku, mengisap dan memutar lidahku, membuat tangannya mencengkeram rambutku saat dia mengerang.
Aku tidak akan bertahan lama. Tidak mungkin. Aku sudah menunggu ini terlalu lama, sangat menginginkannya. Aku mengukuhkan kakiku di lantai dan mulai mendorong naik, menusuk ke dalam dirinya, mendorong pinggulnya ke bawah dengan keras. Ini kenikmatan. Keras, dalam, kenikmatan yang basah, dan aku tak pernah ingin ini berakhir.
Dia melemparkan kepalanya ke belakang dan merintih keras.
"Ya...ya...Kyu."
Aku mengutuk dan memanggil namanya, kami berdua hampir kehilangan akal. Hilang kendali. Karena rasanya begitu nikmat.
Dia meneriakkan namaku, dan aku tahu dia orgasme.
Oh Tuhan, aku suka suaranya.
Dan kemudian milik Sungmin berkontraksi di sekeliling kejantananku—vaginanya diseluruh kejantananku, kakinya menempel pahaku, tangannya di bahuku—semuanya mengepal kencang dan kaku. Dan aku segera kesana bersamanya.
"Min, Min…sial…Min."
Aku mendorong keatas lagi dan lagi. Lalu aku klimaks lama dan keras. Cairan kenikmatan berwarna putih dan panas menyembur dari tubuhku tidak seperti apa yang pernah kurasakan sebelumnya.
Kepalaku jatuh pada sandaran sofa.
Setelah denyutan mereda, lenganku memeluk tubuh Sungmin, membawa dada kami menyatu dan kepalanya bersandar di leherku. Aku merasa detak jantungnya mulai kembali normal. Dan kemudian dia tertawa, dengan suara rendah dan puas.
"Oh Tuhan...tadi begitu...begitu..."
Sekarang aku juga tersenyum. "Aku tahu."
Menggoncang bumi. Di luar skala Richter. Cukup kuat untuk menghancurkan sebuah negara pulau kecil.
Aku mengelus rambutnya...Begitu halus. Aku membungkuk dan menciumnya lagi. Begitu sempurna.
Malam yang hebat. Kupikir ini bisa menjadi malam terbaik dalam hidupku. Dan ini baru saja mulai.
.
.
.
Sungmin memekik saat aku berdiri dan membopongnya, kakinya melingkar di sekitar tubuhku, menuju kamarku.
Aku belum pernah membawa seorang wanita ke kamarku sebelumnya. Ini aturan. Tidak ada kencan sembarangan di apartemenku—bahkan aku tidak pernah mempertimbangkannya.
Bagaimana jika salah satu dari gadis-gadis itu ternyata tahu tempat tinggalku? Dapatkah kalian mengatakan bahwa dia adalah Penguntit Gila?
Namun aku tidak berpikir dua kali untuk membaringkan Sungmin di tengah-tengah tempat tidurku. Dia memperhatikanku, berlutut saat aku menanggalkan kemeja tanpa kancingku dan menyingkirkan kondom yang sudah terpakai. Menggigit bibir sambil tersenyum, dia melucuti blusnya sendiri yang masih tergantung di lengannya. Oh ya—dan dia masih mengenakan sepatu hak tingginya.
Bagus. Sangat, sangat bagus.
Aku merangkak mendekatinya dan berlutut di tengah tempat tidur.
Aku membuai wajahnya di tanganku saat aku menciumnya dengan lama dan panas. Aku siap untuk mulai lagi. Kemaluanku menusuk perutnya di mana sekarang sudah berdiri kokoh dan siap. Tapi ronde ini, aku ingin berlama-lama. Aku mengagumi tubuhnya selama berbulan-bulan—dan sekarang aku berencana untuk mengeksplorasi setiap incinya, secara intim.
Aku membungkuk dan membaringkannya kembali. Rambut Sungmin tersebar di belakang kepalanya dan jatuh di atas bantalku. Dia terlihat seperti seorang peri dalam dongeng mitologi, dewi seks kaum pagan dari legenda Romawi.
Atau bintang film porno yang pintar berakting.
Lututnya terbuka dengan sendirinya, dan aku mengambil posisi di antara kakinya. Ya Tuhan...dia sudah basah. Aku bisa merasakan betapa basahnya dia di bawah perutku ketika dia mendorong dan menggesek kearahku. Diam-diam memohon—lagi.
Aku mencium kebawah dari lehernya dan tulang selangkanya, dan akhirnya berhadapan dengan payudaranya yang kenyal. Tangan Sungmin meremas bahuku saat aku menjilati lingkaran di sekitar pusat yang berwarna merah muda kehitaman. Napasnya cepat dan memburu.
Aku menjentikkan lidahku di atas putingnya dengan cepat hingga ia mengerang menyebut namaku.
Begitu kata itu meninggalkan dari bibirnya, aku menutup mulutku dan menyedot dengan keras. Selama beberapa menit, aku bergantian menjilat, mengisap, dan menggesek puncak runcing kecilnya.
Reaksinya begitu liar, aku tidak bisa menahan diri kecuali berganti ke payudaranya yang lain dan memberikan perhatian yang sama pada payudara indahnya.
Pada saat aku bergerak turun lebih rendah lagi, Sungmin menggeliat di bawahku, mengangkat pinggang dan menggesek dirinya pada setiap bagian tubuhku yang bisa dia jangkau.
Ini tidak senonoh.
Indah.
Dan meskipun aku sangat menginginkan dia sekarang, betapa nikmat rasanya dia menggesek tubuhku—Aku memiliki kendali penuh atas apa yang kulakukan sekarang. Aku yang berkuasa. Dan ada satu hal yang tak sabar ingin kulakukan. Sesuatu yang kuimpikan sejak -pertemuan malam itu di klub Howie. Aku menjilat turun di tengah-tengah perutnya, kemudian merangkak lebih rendah lagi. Aku melepas sepatunya dan menjilat turun sampai pahanya hingga aku berhadapan dengan targetku.
Aku menggesek hidungku ke dalam jalur kecil yang kesat dan menghirup. Sungmin terengah-engah dan merintih di atasku—mata tertutup, mulut terbuka.
Asal kalian tahu, pria tidak mengharapkan seorang wanita berbau seperti sabun wangi atau apa pun yang diiklankan produk-produk feminin. Ini vagina—seharusnya bau seperti vagina. Itu sungguh merangsang.
Aroma Sungmin khususnya telah membuatku meneteskan air liur seperti hewan yang kelaparan. Aku menggosok lagi, mencium bibir luar yang montok. Oh Tuhan.
Tangan Sungmin mencengkeram selimut.
"Oh Tuhan, aromamu sangat nikmat, Aku ingin 'memakanmu' sepanjang malam."
Dan aku mungkin saja benar-benar akan melakukannya.
Aku menjilat celah basahnya, dan tubuh Sungmin melengkung keatas dari tempat tidur dengan mengerang. Aku menekan pinggulnya ke bawah dengan tanganku, menahannya agar tidak bergerak saat aku melakukannya lagi, dan dia menjerit lebih keras lagi.
"Itu dia, Sungmin—biarkan aku mendengarmu."
Aku sangat menyadari tentang hal ini—bahwa aku—adalah orang pertama yang pernah melakukan ini kepadanya. Dan ya, sebagai seorang pria, fakta itu membuatnya merasa lebih baik lagi.
Naik turun, berulang kali, aku menjilat miliknya dari ujung ke ujung. Cairannya manis dan kental. Sungguh lezat. Aku menekan pahanya terpisah, menyebar pahanya lebih lebar lagi, dan mendorong masuk dan keluar dari dalam dirinya—bercinta dengan lidahku. Kepalanya berguling dari sisi ke sisi saat erangan bernada tinggi bergema dari tenggorokannya. Dia lupa daratan, dan jari-jari kakinya menekan di bahuku, tapi aku tidak menyerah. Tidak mungkin. Dalam satu gerakan, aku mengisap clit kecilnya yang keras ke dalam mulutku dan menyelipkan dua jari di dalam dirinya.
Lalu giliran aku lah yang mengerang. Cairan panasnya melapisi jemariku, hampir membakar. Aku tak bisa menghentikan pinggulku untuk berputar dan menggeseknya ke tempat tidur. Persetan. Masih memompa keluar masuk dengan tanganku, aku meratakan lidahku dan menggesek dengan stabil, melingkari klitorisnya.
"Kyu! Ohh Kyu!"
Mendengar Sungmin menjerit semakin membuatku lebih bersemangat lagi. Aku menggerakkan jemariku lebih cepat, seirama dengan lidahku, dan mendongak...ingin melihat bagaimana Sungmin kehilangan kendali. Aku bisa klimaks hanya dengan menontonnya. Raut wajahnya menunjukkan kenikmatan sepenuhnya, dan aku tak tahu siapa di antara kami yang lebih puas.
"Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan...!"
Lalu tubuhnya menjadi kaku—kaku seperti papan. Tangannya menarik rambutku, pahanya mengencang di kepalaku, dan aku tahu dia sudah sampai di sana.
Setelah beberapa saat dia mengendurkan pegangannya, dan aku memperlambat lidahku untuk menjilatnya dengan santai. Ketika Sungmin semakin melemaskan tubuhnya, aku duduk, menyeka wajahku dengan tanganku, dan memasang kondom baru.
Oh ya—aku baru saja mulai.
Aku mencondongkan tubuhku kearahnya, dan dia menarikku ke bawah dan menciumku dengan keras. Dia terengah di antara bibirku, "Sangat...luar biasa."
Kepuasan dan bangga terpompa melalui pembuluh darahku, tapi aku bahkan tidak bisa tersenyum. Aku sangat ingin bercinta dengannya.
Aku masuk kedalam dirinya dengan mudah. Dia licin namun ketat— seperti kepalan tangan yang basah. Aku merasa miliknya mencengkeram kejantananku saat aku menarik keluar dengan lambat dan meluncur masuk kembali.
Aku mulai mendorong lebih cepat. Lebih keras. Lenganku lurus di kedua sisi kepalanya sehingga aku dapat melihat kenikmatan yang berkelip di wajahnya. Payudaranya bergoyang setiap kali aku menyodok ke depan, dan aku hampir mengisap salah satu payudaranya.
Tapi kemudian ia membuka matanya dan mendongak menatapku.
Dan aku tidak bisa berpaling. Aku merasa seperti seorang raja—seperti makhluk abadi. Dan setiap penguasaan diri yang kumiliki seketika lenyap. Aku mendorong ke dalam dirinya, cepat dan tanpa ampun. Kenikmatan panas yang murni mengembang di dalam perutku dan turun ke bawah pahaku.
Oh Tuhan.
Tubuh kami bertumbukan bersama berulang-ulang, keras dan cepat.
Aku mengaitkan satu tangan di bawah lututnya dan mengangkat kakinya ke atas bahuku. Milik Sungmin terasa semakin ketat, dan aku tidak tahan untuk tidak mengerang, "Min..."
"Ya, seperti itu. Oh Tuhan, ya! Kyu..." Dan kemudian tubuhnya berubah menjadi kaku lagi di bawah tubuhku, matanya tertutup ketika suara erangan tercekat keluar dari bibirnya.
Saat itulah aku melepaskannya. Aku menghentak ke dalam dirinya untuk terakhir kali sebelum orgasme paling intens dalam hidupku mengalir kedalam tubuhku. Aku mengerang dengan keras, membanjiri kondom yang ada dalam dirinya sampai meluap.
Lenganku lunglai dan badanku sepenuhnya jatuh di atas tubuhnya.
Sungmin tampaknya tidak keberatan. Pada saat aku turun, dia menciumku—mata, pipi, mulutku. Aku berusaha keras untuk menarik napas, dan kemudian aku balas menciumnya.
Sungguh-luar-binasa.
.
.
.
Aku pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa berhubungan seks dapat memperpanjang umur manusia. Pada laju seperti ini, Sungmin dan aku akan hidup abadi. Aku sudah lupa berapa kali kami sudah melakukannya. Ini seperti gigitan nyamuk—semakin di garuk, maka semakin gatal.
Aku cukup senang karena aku sudah membeli kondom isi ekstra besar di toserba.
Dan kalau saja kalian belum bisa memastikan dari reaksiku, aku hanya akan mengatakannya terus terang: Lee Sungmin adalah pasangan seks yang fantastis. Seorang wanita yang spektakuler. Jika aku sebelumnya tidak yakin bahwa Dongwoon adalah orang tolol—setelah aku mencicipi apa yang dia campakkan—sekarang aku benar-benar yakin akan hal itu.
Sungmin suka bertualang, sangat menuntut, spontan, dan percaya diri.
Sangat mirip denganku. Kami sangat cocok, dalam lebih dari satu aspek.
Ketika kami akhirnya beristirahat, langit malam di luar jendela apartemenku baru saja berubah menjadi kelabu. Sungmin berbaring dengan tenang, kepalanya bersandar di dadaku, jemarinya menelusuri lekuk di dadaku.
Kuharap setelah semua yang kukatakan pada kalian ini tidak akan mengejutkan, tapi aku tidak "berpelukan". Biasanya, setelah seorang wanita dan aku selesai, tidak ada yang namanya bergelung, tidak ada yang namanya meringkuk, tidak ada percakapan intim di ranjang.
Aku mungkin, dalam beberapa kesempatan, tidur sejenak karena kelelahan sebelum aku pergi. Tapi aku tidak tahan ketika seorang gadis menempelkan dirinya ke tubuhku seperti sejenis gurita mutan.
Ini menyebalkan dan tidak nyaman.
Namun dengan Sungmin, aturan lama sepertinya tidak berlaku. Kulit kami yang hangat menyatu bersama, tubuh kami selaras, pergelangan kakinya di atas betisku, pahaku di bawah lututnya. Rasanya...damai. Menenangkan dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa aku gambarkan. Aku sama sekali tidak punya keinginan untuk pindah dari tempat ini.
Kecuali itu untuk berguling dan menyetubuhinya lagi.
Sekarang, mari kembali ke kamar tidurku.
Aku berbaring miring sehingga aku menghadap Sungmin. Wajah kami sangat dekat, kepala kami berbagi bantal yang sama. Tangan Sungmin terselip di bawah pipinya yang membuat dia terlihat polos.
"Ada sesuatu yang ingin kutahu," Kataku.
"Tanyakan saja."
"Kenapa kau terjun ke bidang investasi perbankan?"
Aku berasal dari keturunan profesional kerah putih. Eunhyuk dan aku tidak diharapkan untuk mengikuti jejak orang tua kami—itu hanya terjadi begitu saja. Orang-orang selalu cenderung tertarik pada apa yang mereka ketahui, apa yang sudah mereka kenal.
"Uang. Aku ingin berkarir di mana aku tahu aku akan menghasilkan banyak uang."
Aku mengangkat alisku. "Benarkah?"
Dia menatapku seakan sudah tahu. "Kau mengharapkan sesuatu yang lebih luhur?"
"Ya, Aku mengira seperti itu."
Senyumnya memudar. "Yang benar adalah, orangtuaku menikah muda—melahirkanku juga di usia muda. Mereka membeli restoran. Menggadaikannya secara insting. Kami tinggal di atasnya. Rumah itu...kecil...tapi nyaman."
Senyumnya semakin memudar. "Ayahku meninggal saat umurku tiga belas tahun. Akibat ulah pengemudi mabuk. Setelah itu, ibuku selalu sibuk. Mencoba agar restorannya tetap berjalan, berusaha menjaga dirinya agar tidak hancur berantakan."
Ketika dia berhenti lagi, aku menarik tubuhnya kearahku hingga dahinya bersandar di dadaku. Dan kemudian dia melanjutkan: "Dia berusaha agar kami tetap bisa bertahan. Aku tidak kekurangan atau semacamnya, tapi...keadaannya tidaklah mudah. Segalanya penuh perjuangan. Jadi, ketika mereka mengatakan padaku bahwa aku mendapat beasiswa penuh dari Universitas Seoul, aku berpikir—Oke—bidang investasi saja. Aku tak pernah ingin menjadi tidak berdaya atau bergantung pada orang lain. Meskipun aku punya Dongwoon, sangat penting bagiku mengetahui bahwa aku mampu menghidupi diri sendiri, dengan usaha sendiri. Sekarang setelah aku mampu melakukannya, yang sangat ingin kulakukan adalah mengurus ibuku. Aku sudah pernah memintanya untuk pindah ke Seoul tapi sejauh ini dia menolak. Dia bekerja seumur hidupnya...aku hanya menginginkan dia untuk istirahat."
Aku tak tahu harus berkata apa. Meskipun segala komentar pedas tentang orangtuaku, aku cukup yakin aku akan kehilangan akalku jika sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka.
Aku mengangkat dagunya agar aku bisa menatap ke dalam matanya.
Lalu aku menciumnya. Setelah beberapa menit, Sungmin berbalik. Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya dan menarik tubuhnya menempel ke tubuhku. Aku menekan bibirku ke bahunya dan memposisikan wajahku di rambutnya. Dan meskipun secara teknis sekarang sudah pagi, itulah bagaimana posisi kami sampai kami berdua tertidur.
.
.
.
Setiap pria sehat di dunia bangun dengan tegang. Berdiri. Ereksi di pagi hari. Aku yakin ada beberapa penjelasan medis untuk fenomena ini, tapi aku hanya ingin menganggapnya sebagai karunia kecil dari Tuhan.
Sebuah kesempatan terbaik untuk memulai hari dengan kejantananmu mengacung ke depan.
Aku tak ingat kapan terakhir kali aku tidur di samping seorang wanita. Bagaimanapun, bangun di samping seorang wanita pasti memiliki suatu manfaat. Dan aku siap untuk memanfaatkan sepenuhnya keadaan ini.
Dengan mata masih terpejam, aku berguling dan mencari Sungmin. Aku berencana untuk menggodanya agar terjaga sebelum memberikannya ucapan "selamat pagi" dari belakang. Ini satu-satunya alarm bangun pagi yang bisa diterima, dalam kamusku. Tapi ketika tanganku meluncur di atas seprei, aku hanya menemukan ruang kosong di mana dia seharusnya berada. Aku membuka mataku, duduk, dan melihat sekeliling. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
Hah?
Aku mendengarkan dengan cermat kalau saja ada gerakan di kamar mandi atau suara air mengalir dari shower. Tapi yang ada hanya keheningan. Sangat sunyi, benar kan?
Kemana dia pergi?
Detak jantungku meningkat memikirkan bahwa dia menyelinap pergi ketika aku tidur. Itu adalah tindakan yang pernah kulakukan sendiri—dalam beberapa kesempatan—namun aku tak pernah mengira mendapat perlakuan seperti ini dari Sungmin.
Aku hampir saja bangun dari tempat tidur ketika dia muncul di ambang pintu. Rambutnya diikat dengan karet yang wanita selalu dapatkan entah dari mana. Dia memakai T-shirt abu-abu dengan tulisan Columbia—T-shirt Columbia abu-abu milikku—sejenak aku terpukau oleh bagaimana payudaranya bergoyang di bawah tulisan itu saat ia berjalan.
Sungmin menaruh nampan yang ia bawa di meja samping ranjang.
"Selamat pagi."
Aku cemberut. "Ini bisa saja sudah pagi. Kenapa kau bangun?"
Ia tertawa. "Aku kelaparan. Perutku berbunyi seperti binatang buas dalam kerangkeng. Aku sebenarnya akan memasak sarapan untuk kita, tapi yang bisa kutemukan di dapurmu hanyalah sereal."
Sereal adalah makanan yang sempurna. Aku bisa memakannya setiap hari. Dan bukannya jenis bran & oats yang biasa disediakan oleh orangtuamu. Aku hanya makan yang enak. Lemariku penuh berisi segala macam sereal rasa madu.
Aku mengangkat bahu. "Aku lebih banyak memesan makanan."
Dia menyerahkan satu mangkok padaku.
Sambil mengunyah, Sungmin berkata, "Aku pinjam T-shirt mu. Kuharap kau tidak keberatan."
Aku memakan sarapan sehatku. "Tidak masalah. Tapi aku benar-benar ingin kau tidak memakainya."
Lihat bagaimana dia menunduk malu? Bagaimana bibirnya tersungging senyuman? Rona yang muncul di pipinya? Demi Tuhan—Dia tersipu lagi. Setelah apa yang kami lakukan semalam? Setelah segala kutukan, jeritan, garukan? Sekarang dia tersipu?
Sungguh menggemaskan, bukan? Kurasa juga begitu.
"Kurasa memasak telanjang tidaklah higienis."
Aku menaruh mangkuk yang sekarang kosong kembali di atas nampan. "Apa kau suka memasak?" Selama berbulan-bulan kami bekerja bersama-sama, aku telah belajar banyak tentang Sungmin, tapi masih banyak lagi yang ingin kuketahui.
Dia mengangguk dan menghabiskan serealnya. "Jika kau tumbuh di sekitar restoran, itu akan menular padamu. Membuat kue adalah kesukaanku. Aku pembuat kue yang enak. Kalau nanti kita bisa mendapatkan bahan-bahannya, aku akan membuatnya."
Aku tersenyum nakal. "Aku suka memakan 'kuemu', Sungmin."
Dia menggeleng padaku. "Kenapa aku punya perasaan bahwa kau sedang tidak membahas tentang berbagai jenis chocolate chip?"
Masih ingat tentang karunia kecil dari Tuhan itu? Aku tidak bisa membiarkan ini terbuang sia-sia. Ini akan menjadi dosa—dan aku tak mampu menanggung dosa seperti itu lagi. Aku menyeretnya ke tempat tidur dan menarik T-shirt ke atas kepalanya.
"Karena aku tidak membahas itu. Sekarang, tentang 'kue' yang ini..."
.
.
.
"Menteri ke B7."
"Gajah ke G5."
Main game itu menyenangkan.
"Kuda ke C6."
"Skak."
Game tanpa busana? Itu lebih menyenangkan lagi.
Alis Sungmin berkerut sambil menatap papan catur. Ini adalah pertandingan ketiga kami. Siapa yang memenangkan dua game sebelumnya? Ayolah, seperti perlu kalian tanyakan saja.
Kami saling berbagi cerita sembari bermain. Aku bercerita waktu lenganku patah saat bermain skateboard ketika berumur dua belas tahun. Dia bercerita tentang dia dan Jessica mengecat bulu hamsternya dengan warna merah muda.
Nyaman, santai, menyenangkan. Tidak senikmat seperti bercinta—tapi nomor dua. Kami berbaring miring di tempat tidur, kepala kami ditumpu oleh tangan, papan catur ada di tengah.
Oh—dan kalau saja kalian lupa, kami telanjang.
Sekarang, kutahu beberapa wanita memiliki masalah dengan tubuh mereka. Mungkin kalian punya lemak berlebih di tubuhmu?
Lupakanlah. Tidak masalah. Setiap saat ketelanjangan mengalahkan segala kesopanan. Pria adalah makhluk visual. Kami tidak akan bercinta denganmu jika tidak ingin melihat tubuhmu.
Kalian bisa menulisnya kalau mau.
Sungmin tidak masalah untuk telanjang. Dia pasti nyaman dengan dirinya sendiri. Dan itu seksi—sungguh seksi.
"Kau mau jalan atau mau membakar lubang di papan dengan menatapnya?"
"Jangan memaksaku."
Aku mendesah. "Baiklah. Gunakan waktu semaumu. Toh tak ada tempat pergi untukmu. Aku sudah memojokkanmu."
"Kurasa kau curang."
Mataku melotot. "Itu menyakitkan, Sungmin. Aku terluka. Aku tidak berbuat curang. Aku tak perlu melakukannya."
Dia mengangkat alisnya. "Apa kau harus begitu sombong?"
"Aku sungguh berharap begitu. Dan bicara kotor tidak akan berhasil. Berhentilah mengulur-ulur waktu."
Dia mendesah dan menerima kekalahannya. Aku melakukan langkah terakhirku. "Skak mat. Mau main lagi?"
Dia berguling telungkup dan menekuk lututnya hingga kakinya hampir menyentuh kepalanya. Kejantananku berkedut saat melihatnya.
"Ayo main sesuatu yang lain. Apa kau punya game Guitar Hero?"
Apa aku punya game Guitar Hero?
Game paling keren sepanjang masa? Tentu saja aku punya.
"Mungkin kau harus memilih game lainnya," Kataku. "Kalau aku terus mengalahkanmu seperti ini, aku akan merusak ego wanitamu yang rapuh."
Sungmin melotot padaku. "Ayo siapkan."
Kegigihan Sungmin seharusnya menjadi tanda bahaya. Itu pembantaian.
Benar-benar brutal. Dia menendang pantatku dari ujung apartemen ke ujung lainnya.
Aku punya alasan, Sungmin tahu cara bermain gitar sungguhan.
Dan...dia meminta kami berpakaian. Bagaimana kejamnya ini? Aku terus berusaha untuk melihat sekilas pantatnya yang indah mengintip keluar dari bawah T-shirtnya. Itu menggangguku.
Aku tak pernah punya kesempatan.
.
.
.
Jadi, sekarang mungkin kalian bertanya-tanya apa sih yang kulakukan, benar kan? Maksudku ini aku. Satu tunggangan per pelanggan—tak ada pengulangan. Jadi kenapa aku membuang waktu Sabtu soreku dengan Sungmin?
Inilah yang terjadi: aku telah berusaha selama berbulan-bulan untuk membawanya sampai pada kondisi sekarang. Aku telah menghabiskan malam demi malam tak berujung mendambakan, memimpikan, berfantasi tentang hal itu.
Misalkan kalian terdampar di sebuah pulau kosong dan tidak makan selama seminggu. Dan kemudian kapal penyelamatan akhirnya muncul dengan sepiring besar makanan. Maukah kalian mencicipi sedikit dan membuang sisanya?
Tentu saja tidak. Kalian memakan dengan cepat setiap gigitannya.
Melahap setiap remahnya. Menjilat bersih piringnya.
Itulah yang kulakukan. Berkumpul dengan Sungmin sampai aku...kenyang. Jangan menilainya lebih jauh dari itu.
.
.
.
"Oh Tuhan, Kyu..."
Setelah penghinaan pada game Guitar Hero, Sungmin memutuskan dia ingin mandi. Dan mengatakan begini—dia bertanya apakah aku ingin mandi duluan.
Gadis bodoh. Seperti mandi sendirian masuk dalam pertimbanganku.
Aku berdiri dan menggodanya dari belakang. Dia lebih panas dari air yang menyemprot kami di semua sisi. Aku menyibak rambutnya ke samping saat aku menyantap lehernya yang nikmat. Suaraku serak saat aku katakan padanya, "Buka kakimu untukku, Min."
Dia menurut.
"Lebih lebar."
Dia menurut lagi.
Aku menekuk lututku dan menggeser kejantananku masuk ke dalam.
Oh Tuhan. Sudah dua jam sejak aku berada dalam dirinya seperti ini.
Terlalu lama—seperti seumur hidup.
Kami mengerang bersama. Payudaranya licin oleh sabun saat aku menggeser jemariku ke putingnya dan memainkannya dengan cara yang kutahu akan membuatnya mendesah. Kepalanya mendongak jatuh di bahuku, dan menggoreskan kukunya di atas pahaku. Aku mendesis oleh sensasinya dan sedikit menambah kecepatan.
Lalu dia mencondongkan tubuhnya ke depan, membungkuk setinggi pinggang dan menyangga tangannya di dinding ubin. Aku membungkusnya dengan tanganku sendiri, menjalin jemari kami menjadi satu. Aku memompa masuk dan keluar tanpa tergesa-gesa.
Aku mencium punggungnya, pundaknya, telinganya. "Kau terasa begitu nikmat, Min."
Kepalanya berputar, dan dia merintih, "Oh Tuhan, milikmu terasa begitu...keras...begitu besar."
Kalimat itu? Mendengar kalimat itu adalah impian bagi setiap pria.
Ya, aku pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Namun berasal dari bibir Sungmin—dengan suara manisnya—rasanya aku mendengar kalimat itu untuk pertama dan terakhir kalinya.
Dan kemudian dia memohon. "Lebih keras, Kyu...ayolah."
Aku melakukan apa yang dia minta sambil mengerang. Aku meninggalkan satu tangan di dinding dan menggerakkan tanganku yang lain ke klitorisnya, jadi setiap kali aku mendorong ke depan, miliknya akan membentur jemariku. Dia merintih oleh sentuhanku.
Kemudian dia menuntut, "Lebih keras, Kyu. Setubuhi aku lebih keras."
Ketika perintahnya mencapai telingaku, aku tersentak, seperti atap yang roboh pada kebakaran yang sedang berkecamuk. Aku mendorong ke dalam dirinya sampai dia terjepit ke dinding, pipinya menempel pada ubin yang dingin. Aku mendorong dengan kasar dan cepat. Jeritan kepuasan Sungmin menggema di dinding, dan kami klimaks bersama.
Lama, intens dan gemilang.
Ketika kenikmatannya memudar, ia berbalik, melingkarkan lengannya di leherku dan menciumku dengan perlahan. Kemudian kepalanya bersandar di dadaku, kami masih berdiri bersama di bawah shower. Aku tak bisa menjaga kekaguman keluar dari suaraku saat berkata, "Oh Tuhan, jadi semakin nikmat setiap kali kita melakukannya."
Dia tertawa. "Kau juga merasakannya? Kupikir aku satu-satunya yang merasakannya."
Dia menatapku, menggigit bibir, dan menyibak rambut basah dari mataku. Ini adalah sikap sederhana. Tapi ada begitu banyak emosi di baliknya. Sentuhannya lembut, sorot matanya begitu menyayang, seperti aku adalah hal terindah yang pernah ia lihat. Seperti aku semacam...harta karun.
Biasanya, ekspresi seperti itu akan membuatku merunduk untuk mencari perlindungan—pergi menuju pintu keluar terdekat.
Tapi ketika aku menatap wajah Sungmin, satu tangan memegang pinggangnya, tangan yang lain menuju rambutnya. Aku tidak ingin lari. Aku bahkan tidak ingin berpaling. Dan aku tak pernah ingin melepaskannya.
"Tidak...aku juga merasakannya."
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Hallo ^^
Maaaaaffffff ya semuanya. Telat banget ini. Aku baru selesai UAS. Diusahain update terus ^^
Btw, MOMMY IS BACK ! Mommy kita tuh emang type uke sejati ya, pulang wamil langsung ke salon … kkk~
Oh iya, buat yang nanya mengenai Haru. Aku pakai salah satu bintang di The Return of Superman, Haru, Tablo's daughter.
Oke, itu aja *gaje* ^^ I just wanna say…..
Special Thanks to :
Danactebh , ovallea , Pspnya kyu , orange girls , Frostbee , lee hye byung , HilmaKins , onew's wife , Michiko Haruna , PumpkinEvil137 , nanayukeroo, chjiechjie , mayasiwonest everlastingfriend, vha137 , Lunar effect , , Cho MeiHwa , Karen Cho , asri zhao , kelincitembem , Guest.
Thanks and keep review ^^
Welcome to new reader ^^
