Cap tujuh : stealth crow and the water goddess.

"APA-APAAN INI NENEK?!"

"Berhenti berteriak di depanku! Dan berhenti memanggil dengan itu." Ia menunjuk gusar pada bocah pirang, yang pagi-pagi datang bikin ribut di kantornya yang tentram.

Padahal ia pusing memikirkan tugas Desa yang banyak, belum lagi Masalah Uchiha yang tidak selesai-selesai.

Para penguasa sudah memutuskan kemarin untuk mengurung Uchiha selama setahun di Desa Iwa. Naruto sebagai teman pria itu tentu saja tidak terima. Tapi biarpun pria itu adalah orang yang di pandang istimewa di desa, ia tidak punya kuasa untuk menolak hal ini.

Kecuali, ia hanya bisa protes pada Hokage mereka.

Tsunade menghela nafas. "Naruto tenanglah. Ini hanya sementara. Sasuke hanya di hukum setahun, mungkin kita bisa meminta keringanannya lagi."

"Sial. Sasuke sudah cukup menderita!" Naruto mengeram. Ia marah.

Namun kemarahannya tidak bisa menolong Sasuke. Ia akhirnya menunduk kepala lemah. Ketika Tsunade memberikan argument yang tidak bisa di bantahnya.

Sakura yang sudah sedari tadi disitu hanya bisa menangis.

"Dengar Naruto. Jangan bikin keonaran. Namamu sudah kami rekomendasikan sebagai penerus Hokage." Pria itu mengeram lagi, tangan ia kepal. Suasana hatinya tidak bagus apalagi ditambah dengan tangisan Sakura.

"Apa gunanya menjadi Hokage. Kalau menolong teman pun aku tidak mampu!" Naruto segera menghilang. Tsunade menghela nafas berat, Naruto memang keras kepala.

YOU'LL BE IN MY HEART

Rating : M

Pairing : Sasuhina

Genre : Drama/angst

Warning : CANON, OOC, typo, abal, gaje, ide pasaran, dan lain-lain

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Hinata menyenderkan tubuhnya di dinding, sedari tadi ia menguping. Rencananya sih ia ingin bertemu Sasuke dulu, tapi ia berbalik arah menuju kantor Hokage, setidaknya perempuan pemimpin di desanya bisa menolong Sasuke.

Tapi, kalau Naruto saja tidak bisa, bagaimana dengan dirinya. Ia menghela nafas, kemudian beranjak dari situ.

Ia cemas, ia memang tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar. Semua misinya selalu gagal. Harapannya selalu berakhir sia-sia.

Dan orang lain yang terkena imbasnya. Semua salahnya bila Sasuke di tahan.

Langkah kakinya yang tidak bertujuan, membawanya pada komplek perumahan Uchiha. Ia memandang penuh penyesalan pada dinding kayu itu.

Suasananya sepi, mungkin Sasuke lagi latihan, atau menyendiri lagi. Kaki Hinata akhirnya membawa pada pemakaman keluarga klan itu. Niatnya mau minta maaf pada keluarga Sasuke yang telah tiada. Dialah penyebab anaknya masuk tahanan.

Namun kakinya terhenti ketika melihat pria itu berdiri tidak bergerak, di hadapan makam kakaknya. Hinata mendekat.

"Sasuke-kun…aku minta maaf." Pria itu menoleh kearahnya, tidak ada ekpresi apapun di sana. Wanita itu semakin merasa bersalah.

"Aku…eh?" ia terkejut ketika lelaki ini memeluknya. Hinata membiarkannya. Ia tahu Sasuke pasti tidak bisa menahan beban seberat ini.

"Jangan katakan apapun, tetaplah seperti ini." Gadis itu menurut, pelukan di tubuhnya semakin erat. Hinata masih ragu-ragu untuk membalasnya. Namun akhirnya ia mengangkat tangannya, kemudian mencengkeram baju di punggung Sasuke.

Wanita itu tidak bisa membendung kesedihannya. Ia menangis untuk sang Uchiha. Sasuke terenyuh.

Pria itu berpikir kalau gadis ini tidak mau berpisah dari dirinya. Makanya ia menangis.

Sasuke melonggarkan pelukannya, ia menghapus air mata perempuan itu dan tersenyum.

Hinata memegang tangan Sasuke yang menyusuri pipinya. Tangan pria itu hangat.

"Aku lapar." Hinata terdiam, matanya masih basah memandang Sasuke.

"A-akan ku buatkan sesuatu." Ia melepaskan pelukan diri dari pria dengan khas mata oniks itu, kemudian bingung dengan Sasuke yang tidak beranjak.

"K-kau tidak akan membawa aku ke dapurmu?"

Pria itu tersenyum lalu menarik tangan wanita ini, Hinata sedikit lebih tenang melihat Sasuke. Pria itu terlihat biasa saja, padahal banyak hal yang terjadi padanya.

Sasuke Uchiha… cowok yang biasanya menyebalkan ketika bicara itu hari ini kelihatan keren di matanya.

…ada kejadian itu, tapi kelihatan seperti tidak terjadi apa-apa…kelihatan jantan dan kuat.

Hinata memerah hanya dengan memikirkan kata jantan. Entah kenapa ia akhir-akhir ini, Sasuke terlihat hebat di matanya.

Mungkin karena ia belum pernah di perhatikan lebih oleh seorang pria. Belum pernah punya pengalaman pada romansa seperti ini. Karena itu Sasuke dengan gampang bisa memasuki hatinya.

"Jadi, apa akan kau lakukan sekarang?" Hinata tersadar dari lamunannya. Ia sudah ada di dapur pria itu.

Dapur itu tidak bersih, namun tidak kotor juga. Nampaknya lelaki ini tidak suka dengan suasana berantakan.

Hinata memeriksa tempat penyimpanan makanan. Sayang, tidak ada apa-apa di situ. Kosong melompong.

Lalu kenapa pria ini membawanya kesini. Kalau di sini tidak ada apa-apa. Dengan apa ia membuat makanan?

Apa ia mengharap belas kasihan? Rugi tadi, ia sempat berpikir kalau pria ini. Keren.

"Kau tidak belanja?" lalu Hinata harus menyesali perbuatannya yang memandangi pria itu tepat di matanya.

Ia memerah begitu menyadari arah pandangan pria itu yang tidak berkedip menjelajah melihat punggungnya.

"Aku selalu melakukan misi di bawah standar, kalau kau mau tahu." Hinata menghela nafas. Memang susah punya teman kencan miskin begini.

Lalu ia berubah salah tingkah karena memikirkan hal itu. Teman kencan? Sungguh pikiran konyol.

"Lalu…kau akan mengundangku ke ruang makanmu?" Hinata memutar bola matanya. Ini yang di sebut parasit.

"Kau ingin mati?" pria itu mengangkat bahunya.

"Tidak akan tau. Sebelum aku ke sana." Nadanya pasif sama dengan ketika ia bilang lapar.

Wanita itu kembali menghela nafas. Pria ini lebih bebal dari pada Naruto.

"Tunggu di sini. Aku akan membuat makanan dan membawanya kemari."

"Tidak" pria itu terus memandang Hinata. "Aku tidak mau makan seperti pencuri."

"Kau bukan pencuri."

"Makanan yang di ambil diam-diam sama saja dengan pencuri."

"Aku yang mengambil makanan itu. Jadi tidak akan ada yang menyebut seperti itu."

"Jadi apa masalahnya aku makan di tempatmu?"

Apa yang di pikirkan lelaki ini? Hinata tidak bisa membayangkan reaksi ayahnya dan seluruh klan bila Sasuke tiba-tiba bertamu di ruang makan keluarganya.

"T-tidak bisa." Ia menundukan kepalanya. Bagaimana kalau ayahnya bertanya macam-macam. Satu pertemuan akan berlanjut pada pertemuan yang lain. Hinata tidak ingin ini menjadi situasi yang buruk.

"Kamu takut aku bertemu dengan ayahmu?"

"Iya." Hinata berpaling dari tatapan Sasuke yang menyelidik.

"Iya. Tentu saja kau takut. Karena aku seorang mantan penjahat, dan sebentar lagi di tahan dan menjalani hukuman." Lelaki ini memandang tajam ke arahnya. Ada kemarahan dan kesedihan di sana.

Sasuke tidak ingin wanita ini menjadi dari sekian banyak orang yang menolaknya. Apa harapannya terlalu tinggi pada perempuan ini?

Mendadak lidah Hinata kelu. Ia sudah berkata pada titik yang menyakitkan hati pria ini. Sehingga Sasuke dengan mudah berpikir begitu.

"B-bukan begitu maksudku. Tidak ada untungnya bertemu dengan ayahku."

"Siapa bilang." Ia mendekat kemudian memeluk Hinata dari belakang. Mencium pipi merah wanita itu. "Siapa tahu aku bisa menjadi calon suami…"

Hinata semakin memerah mendengar perkataan pria ini, perkataanya kelihatan serius dan meyakinkan. Namun, ia sadar mungkin pria ini hanya main-main saja. Ia sedih pada akhirnya.

"Kurasa ada banyak perempuan yang bersedia menikah denganmu. Sasuke-kun."

"Lalu bagaimana denganmu?" Hinata menjadi kacau setelah itu. Sebelum pembahasan ini menjadi semakin jauh. Ia memutar tubuhnya. Berhadapan dengan lelaki itu.

"Katanya kau lapar."

"Aku lapar sekali sampai rasanya ingin memakanmu." Hinata mendorong tubuh lelaki ini hingga terlepas dari pelukannya. Candaan pria itu entah kenapa terasa jorok di pendengarannya.

"T-tunggu di sini. Aku akan segera membawa makanan." Ia segera menghilang sebelum lelaki ini, berubah keras kepala, namun ia muncul lagi sesaat.

"Ingat, jangan berubah jadi kanibal gara-gara lapar." Dengan bunyi 'pooh' ia menghilang. Kali ini benar-benar tidak muncul lagi.

Sasuke terkekeh kecil, ia bersumpah melihat senyum jahil dari perempuan itu. Berani-beraninya gadis keturunan Hyuuga itu membuat candaan seperti itu.

Mungkin nanti ia harus benar-benar memakan perempuan cantik dari keturunan Hyuuga tersebut.

Sasuke terus mengamati Hinata yang sibuk menuangkan air kedalam gelas dan menaruh beberapa lauk ke dalam nasinya.

"M-maaf bila ini tidak sesuai dengan lidahmu, aku terburu-buru…maaf juga tidak ada daging. Kami kehabisan stoknya."

Sasuke mengambil sumpit dan memakan porsinya. "Tidak usah minta maaf ini enak." Tentu saja. Di beri makan gratis, tentu enak.

Wajah Hinata yang sempat cemas berubah cerah, siapapun pasti senang bila ada yang memuji masakanmu."S-sungguh. Syukurlah kalau begitu." Ia tersenyum lagi.

Sasuke mengambil minumannya, sambil makan matanya tidak terlepas dari mengamati wajah berseri perempuan itu. Ia jauh lebih cantik sekarang.

Mungkin ini akan menjadi kenangan manis sebelum ia menjalani hukuman di Iwa. Lelaki itu pasti akan sangat merindukan wanita ini selama di tahanan.

Merindukan harum wangi jasmine rambutnya, rindu masakannya yang enak. Dan mungkin ia akan merindukan wajah cantik gadis ini.

Apakah karena ia cantik Sasuke jadi tergila-gila?

Tidak. Hati Sasuke tidak bisa terima itu.

Ada hal lain yang membuat Sasuke menyukai perempuan ini. Hal ini ada dalam benaknya, hanya saja ia tidak bisa menebak pikiran wanita itu, tapi cepat atau lambat Sasuke yakin akan segera tahu. Baginya kecantikan Hinata adalah bonus yang istimewa.

"Sasuke" panggilan itu membuatnya sadar dari lamunan tentang perempuan ini. Matanya jatuh pada wajah cemas wanita itu. "Kau baik-baik saja, dari tadi aku memanggilmu…tapi kau diam saja."

"Iya. Aku hanya sedang berpikir."

"Oh…" Hinata menuangkan lagi air dalam gelas Sasuke, ia tidak bertanya lagi, ada batas untuk tidak mencampuri urusan pria itu.

Ia menaruh mangkok yang sudah kosong. Hinata merapikannya. Kemudian membawa piring kotor itu ke tempat pencucian di dapur pria itu.

Sasuke mengikutinya, melihat tangan itu yang telaten membersihkan piring kotor, tangannya hilang dalam busa sabun. Ia berdiri di belakang wanita itu, kemudian ikut membantu mencuci piring.

Hinata gugup, jantungnya berdebar dengan suasana intim ini. Mereka hanya berdua di komplek ini. Sunyi, hanya ada suara piring yang beradu dengan gelas. Dan suara jantungnya.

Memang ia sudah beberapa kali berada dalama pelukan pria ini. Tapi tetap saja ia masih merasa gugup.

Ia bisa merasakan jarinya di elus oleh pria ini dalam busa sabun. Ia kikuk, bingung harus bersikap seperti apa sekarang, menolak atau pasrah?

Tubuhnya bergetar ketika bibir pria itu mengecup urat di lehernya. Ia merasakan basah di leher dan bajunya.

Lehernya basah karena air liur yang ada di lidah pria ini yang terus menjilatnya. Bajunya basah karena tangan pria itu yang berbusa sabun, meremas pelan dadanya.

Ketika tenaga remasan di dadanya meningkat.

Hinata hampir saja jatuh kalau tidak karena paha pria ini yang menyelusup masuk di antara selangkangannya.

Hinata panik, takut pria itu tahu kalau bagian bawahnya basah sekarang, tapi sekaligus ingin tangan pria itu menyelusup kesana.

Tidak…tidak. Ia bisa jadi gila karena sensasinya.

Ia malu karena suka dengan perlakukan pria ini pada tubuhnya, ketika Sasuke menarik risleting bajunya. Ia menangkap lengan pria bersurai reven itu.

"A-Ku sedang mencuci piring." Ia berusaha berkilah, namun pria itu seakan tuli, ia mendorong sisi wajah Hinata dengan tangan kanannya kemudian mencium bibir itu lembut dan sangat berhati-hati, seakan takut membuat bibir itu terluka.

Hinata terlena lagi dengan bibir tebal lelaki itu, ia menyambut lidah basah Sasuke dengan membuka mulutnya.

Sasuke menaiki ke atas baju dalam Hinata, kemudian tangan ia masukkan kembali ke dalam busa sabun.

Membasahi dada itu kemudian meremas dengan cukup bertenaga dan menarik-menarik putingnya.

Hinata melepaskan mulutnya dari pria itu, dan desahannya lolos begitu saja, Sasuke semakin merapat hingga Hinata bisa merasakan kejantanan pria ini yang menusuk pantatnya.

Pria itu menggesekkan pahanya pada selangkangan si gadis, Sasuke menyeringai senang begitu tahu Hinata membasahi celana di pahanya. Tanganya terus meremas dan memutar jarinya di payudara gadis itu.

"Hn…hn." Sasuke tahu Hinata menahan dirinya, tapi dengan satu pemikiran pasti ia mencubit kedua puting Hinata dengan keras.

"OUCHHHH!" gadis itu tidak bisa menahan teriakan kerasnya. Sasuke terkekeh, sedangkan Hinata malu pada suara yang di buat oleh mulutnya, secara refleks ia menutup mulut.

Sasuke membalikan tubuh perempuan ini, menyingkirkan kedua tangan Hinata, "Jangan menahannya. Hinata" matanya berkilat jahil, perempuan itu dengan malu-malu memukul bahu pria itu. Sasuke pura-pura meringis.

Namun ketika pandangannya jatuh pada kedua payudara perempuan itu. Ia lalu terpaku pada bentuknya. Padahal tahu dada perempuan ini besar, karena pernah merasakannya dahulu.

Tapi ia tetap takjub ketika ia bebas melihat tanpa halangan sekarang, Hinata merasa risih, ia berusaha menghalangi mata Sasuke dengan tangannya.

Dengan hati-hati Sasuke menyingkirkan tangan perempuan itu, dan memasukkan puting Hinata ke dalam mulutnya. Namun ia tersendat dengan rasanya. Pahit karena sabun. Ia terkekeh menyadari kebodohannya.

Sasuke membuka kerang air dan membersihkan payudara perempuan itu, Hinata terdiam merasakan dingin di dadanya, karena air dan tangan pria itu. Bajunya basah, karena air yang sembarangan yang di ciprakan oleh pria tampan ber klan Uchiha tersebut.

Matanya terus memandang apa yang di lakukan Sasuke, ia berkabut dengan sensasi yang di rasakan tubuhnya. Ia merasa sangat erotis melihat pria ini membersihkan payudaranya.

Setelah bersih pria itu kembali memasukkan dada Hinata ke dalam mulut dan mengulum puting itu dengan lidahnya. Rasanya lebih baik sekarang. Hinata mencengkeram kepala pria itu dan mengacak-acak rambutnya menjadi berantakan.

Kepalanya ia tengadah ke langit-langit dapur Sasuke. Sensasi ini membuatnya mendesah berkali-kali.

Sebenarnya Sasuke paling benci kalau kepalanya di sentuh orang. Tapi ia mengalah pada wanita itu yang menghancurkan tatanan rambutnya.

"Hn…Sasuke…ah…" hebat… efek namanya terasa aneh saat perempuan ini memangilnya dalam keadaan terangsang. Menjalar pada system darahnya mengalir ke suatu tempat di bawah perutnya. Membuat kejantanannya semakin tegang.

Ia sangat terangsang sekarang, lalu dengan kesadarannya yang pasti, ia memasukkan satu tangannya kedalam celana Hinata, menerobos kedalam celana dalamnya. Perempuan itu menekan pundak Sasuke, kukunya yang panjang menancap di situ, pria dengan rambut hitam itu meringis.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" Hinata kaget dan mendorong kepala Sasuke yang masih asik menyeruput payudaranya. Tangan Sasuke yang ada dalam celana si gadis dengan terpaksa keluar. Membuat celana itu turun dengan sendirinya. Hinata kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke lantai.

Sasuke berdecak. Hinata segera memperbaiki baju dan celananya. Ia merasa tidak nyaman dengan punggungnya yang sakit dan bajunya yang basah.

Kemudian ia berdiri, di ruangan itu ada perempuan lain berambut merah. Ia berpakaian ala Ambu tanpa topeng. Hinata tidak begitu kenal perempuan ini. Namun orang-orang membicarakannya sebagai antek-antek Sasuke.

Ia kelihatan marah, pandangannya sangat tajam ia layangkan untuk Hinata, bahkan perempuan bermarga Hyuuga itu sampai menciut.

Namun wajahnya berubah lagi saat melihat Sasuke. Dengan berbinar perempuan bernama Karin itu memeluk tubuh terbuka pria yang berhasil membuat Hinata menjerit-jerit tadi.

Sasuke hanya memandang perempuan ini tidak berarti, namun Hinata berpikiran lain. Tidak adanya penolakan pria itu pada pelukan Karin. Membuat ia sadar pada suatu hal.

Lalu merasa konyol, membiarkan dirinya di sentuh oleh pria itu, perasaannya menjadi tidak nyaman.

Mengetahui pria itu mempermainkannya, ingin rasa nya menghancurkan sesuatu, melukai seseorang dan berteriak. Namun ia menahan dirinya dari melakukan hal tidak terpuji.

"Aku pulang saja." Suaranya terdengar lemah. Lalu dengan cepat menghilang, Sasuke dengan jelas melihat perubahan wajah dari gadis Hyuuga itu. Wajah kecewa. Ia tahu artinya. Perempuan itu sedang cemburu.

"Sasuke-kun benar kamu di kirim ke Iwa?" Sasuke tidak punya waktu meladeni perempuan ini. Ia segera melepaskan lengannya dari pelukan Karin. Dan bergegas mengejar gadis Hyuuga itu.

"Sasuke-kun!" Perempuan berambut merah itu, hanya bisa mendesah kecewa. Tadi ia berniat untuk menghibur lelaki itu. Namun ia tidak menyangka di suguhkan pemandangan yang mengiris hatinya.

Gadis Hyuuga, entah siapa dia?

"Jadi apa yang kau ketahui Shizune" wanita berambut pendek dengan babi di gendongannya menggeleng.

"Tidak ada yang berarti. Ini butuh waktu yang lama."

Tsunade menghela nafas berat. Ia mengambil kertas permintaan dari berbagai daerah. Dan membacanya. Padahal ia ingin sekali minum sake, daripada membaca kertas yang membuatnya sakit kepala.

"Mungkin kita harus bersiap-siap dengan tingkah Naruto nantinya."

"Kapan Sasuke akan berangkat?" Perempuan itu terus mencoret-coret kertas. "Dalam dua hari ini."

"Hokage-sama, aku memang tidak berhasil mengetahui sesuatu. Tapi aku menemukan gulungan…"

"Gulungan?" Shizune mengangguk.

"Entah ini sejarah klan Hyuuga atau bukan… Tapi aku menemukan gulungan itu di ruang rahasia perpustakaan mereka."

Perempuan yang sering mengepang rambut ini, jadi tertarik. Ia bahkan berhenti dari pekerjaannya. Dan menatap penuh ketertarikan pada penjelasan Shizune.

"Kau berhasil masuk kesana?"

"Anda tidak lupa pada Neji yang sakit kan?" Tsunade mengangguk mengerti. Jadi Shizune memanfaatkan situasi.

"Jadi, mana gulungannya?" Perempuan berambut pendek itu, mengelus babi yang ada dalam gendongannya secara pelan.

"Saya tidak berani mengambilnya, itu penuh resiko. Namun saya sudah membacanya."

"Apa isinya."

Perempuan berambut hitam itu, menghembuskan pelan nafasnya. Sebelum ia akan bercerita lama pada gurunya.

"Dulu ada Siluman gagak yang suka membuat keributan. Ia selalu menimbulkan haru-hara di kalangan manusia. Para dewa cemas lalu mengirim Dewi air untuk mencegah hal terburuk."

"Namun sang Siluman gagak malah jatuh cinta pada sang Dewi. 'Byakuya.' Sang dewi yang terkenal lemah-lembut, tidak menolak permintaan sang gagak, asal berhenti melakukan perusakan Byakuya rela di bawa oleh siluman."

"Para dewa menolak. Karena dewi tidak boleh bersanding dengan siluman. Namun para dewa melakukan kelicikan dengan mengatakan kalau sang gagak menjadi manusia, maka. Para dewa akan mempertimbangkan perasaannya"

"Siluman gagak akhirnya di beri titah untuk membuat seribu kebaikan di muka bumi, baru ia bisa menjadi manusia. Karena cintanya yang teramat dalam pada dewi air, sang siluman menerima titah tersebut tanpa penolakan. Biarpun ia tahu menjadi manusia ia akan menanggung resiko yang berat"

"Byakuya merasa juga harus melakukan yang sama, beliau bersemedi di hutan belantara. Sekali-kali mereka berdua bertemu."

"Para dewa cemas karena siluman gagak hampir berhasil pada misinya. Lalu mereka membuat keputusan dengan mengirim seorang perempuan pada pohon kehidupan. Pohon itu memberikan kekuatan untuk anak yang di kandungnya."

"Rikudo Sannin?" Tsunade tidak bisa menahan diri untuk menyela.

"Kurasa seperti itu."

"Siluman itu terus melakukan kebaikan selama bertahun-tahun tanpa ada seorang manusia pun yang tahu, sampai akhirnya itu menjadi kacau ketika Rikudo Sannin menjadi dewasa."

Tsunade semakin penasaran, ia tidak pernah mendengar sejarah yang seperti ini.

"Dengan takdir para dewa, Rikudo Sanin di pertemukan dengan byakuya dan jatuh cinta. Rikudo Sannin yang mempunyai segala kekuatan menyadari kehadiran siluman di antara manusia. Ia juga tahu pada cinta terlarang sang Siluman gagak pada dewi air."

"Lalu Apa yang terjadi?" Tsunade Nampak sangat tidak sabaran.

"Cinta Rikudo Sannin tidak berbalas karena janji Byakuya dengan Siluman gagak. Namun Rikudo bukanlah orang yang mudah menyerah, ia membuat kesalahan dengan menciptakan para biju dengan mengambil ingatan Byakuya."

"Saat menjadi manusia dewi tidak mengenali Siluman gagak. Karena hal itu Siluman gagak yang hampir berhasil menjadi manusia menjadi marah. Ia lalu mengumpulkan kekuatan dan menghancurkan dunia. Rikudo dan Byakuya pun melawan sang Siluman."

"Sang Siluman yang menjadi setengah manusia melemah, ia dengan mudah dapat di segel oleh Rikudo. Byakuya yang hilang ingatan mengira kalau Siluman gagak adalah mahkluk berbahaya. Ia dengan pedang kusanagi menusuk jantung Siluman gagak."

"Rikudo Sannin menjadi sangat menyesal setelah itu, ia merasa bersalah pada sang Siluman dan akhirnya memilih tidak bersama byakuya."

"Sang dewi air yang menjelma menjadi manusia, konon di persunting oleh seorang pendeta dari kuil selatan bernama Hyuuga."

"tapi ingatan byakuya pada akhirnya kembali juga. Ia menjadari kesalahannya, dan meninggalkan anak dan suaminya. Mencari kembali Siluman gagak. Kekasihnya."

"Pendeta yang tahu, melapor pada Rikudo Sannin. Ketika Byakuya menemukan Siluman gagak yang sudah tidak bernyawa ia menangis memangil siluman itu, namun sang gagak tidak dapat mendengar apalagi menjawab panggilannya."

"Sang dewi menjadi bersalah berkali-kali lipat, tapi ia juga melakukan kesalahan lain, yaitu mengorbankan dirinya, dengan menukar jantungnya sendiri dengan siluman gagak."

"Rikudo Sannin terlambat. Tapi ia menyadari Siluman gagak menaruh dendam padanya dan manusia. Ia bertahun-tahun mencarinya. Namun tidak pernah menemukan jejak Siluman itu."

"Lalu apa intinya Shizune. Itu cerita yang rumit bagiku." Shizune menelan air liurnya.

"Apa kau tahu nama Siluman itu Hokage-sama.?" Wanita itu menggeleng.

"Uchiwa." Tsunade mengerutkan keningnya?

"Uchiwa?" ia mengulang perkataan perempuan itu.

"Nenek moyang para Uchiha." Wanita yang menjabat sebagai Hokage itu tidak paham.

"Uchiwa yang setengah manusia menikahi keturunan Hyuuga. Ia menunggu reinkarnasinya untuk menjadi manusia seutuhnya dan berniat menghancurkan dunia. Dan menghidupkan lagi byakukya."

"para Hyuuga tahu, Siluman gagak sedang menunggu reinkarnasi dan calon pengantinnya. Mereka takut dan berniat membasmi Uchiha sampai ke akarnya. Walaupun aku tidak yakin…entah kenapa aku merasa Hyuuga terlibat pada pembantaian klan Uchiha."

"Itu tidak mungkin Shizune. Hyuuga tidak menunjukka geliat apapun." Hokage memandang perempuan berambut hitam itu, meminta penjelasan lebih. Shizune mendekat, ia berbisik.

"Tapi Tetua mereka dekat dengan Danzo. Guru tidak lupakan, kalau klan Hyuuga satu-satunya yang mendukung Danzo menjadi Hokage." Tsunade tersentak, ia ingat masa-masa itu, ketika gurunya Hiruzen di angkat menjadi Hokage. Ada beberapa orang tidak senang.

Tapi klan Hyuuga tidak menunjukkan ketidak sukaan mereka, klan itu memang mendukung Danzo pada mulanya, tapi mereka tidak berselisih ketika gurunya yang di pilih. Mereka menerima keputusan dewan tanpa perlawanan. Apakah ini hanya kedok saja?

"Bahkan mereka punya akses dengan para Damyo?" Tsunade tertawa hambar. "Itu tidak membuktikan apapun Shizune, banyak klan di desa kita melakukan perjanjian dengan para Damyo."

"Iya, aku tahu…tapi kejadian Sasuke apa menurutmu tidak ada hubungannya dengan mereka?" Tsunade kembali menghela nafas berat.

"Mungkin Hokage-sama melakukan kesalahan dengan membuat mereka, Hyuuga dan Uchiha melakukan misi bersama."

"Apa menurutmu Hinata terlibat. Ia tidak Nampak seperti itu. Ia perempuan yang baik."

"Reinkarnasi dan calon pengantin." Shizune mengulang perkataannya. Seolah memperingatkan Hokagenya.

"Kalau Sasuke benar adalah reinkarnasi siluman gagak, maka kita harus secepatnya memisahkan mereka, atau ini akan menjadi bumerang pada kita seluruh manusia. Dan kalau pun bukan. maka keturunannya harus kita waspadai"

"Kurasa mereka tidak terlibat dengan romansa. Kau tahu, kan Hinata menyukai si baka."

Shizune membiarkan ton-ton turun dari pangkuannya.

"Itu tidak menjadi jaminan Hokage-sama. Mungkin lebih baik Sasuke segera di kirim ke Iwa."

"Ini terlalu rumit bagiku." Sang wanita pirang memijit pelipisnya. Ada banyak hal yang ada dalam pikirannya, Naruto, Klan Uchiha dan sekarang masalah Hyuuga.

"Kita memang harus menyelamatkan klan Uchiha dari kepunahan yang mungkin sedang di susun oleh Hyuuga. Sekaligus menyelamatkan kita sendiri dari kehancuran kalau cerita ini benar."

Naruto melihat ramennya tak semangat. Ia juga enggan bertemu Sasuke. Padahal ia pernah bilang pada pria itu. Apapun yang terjadi ia tidak akan pernah membiarkan Sasuke menderita lagi.

Tapi keadaannya berbading terbalik dengan apa yang ia katakan. Sasuke tetap saja menderita.

"Ada apa Naruto? kelihatannya tidak semangat." Naruto memalingkan mukanya pada Sensei yang sudah di anggap sebagai ayahnya.

"Iruka-Sensei apa artinya dunia orang dewasa?" Gurunya tersenyum. Saat pria ini bilang ingin menjadi Hokage, dan saat ia menolong dunia ninja dan jadi pahlawan. Ia nampak lebih dewasa ketimbang dirinya, tapi ia sadar pria ini baru berumur 16 tahun.

Ada banyak hal yang belum dia ketahui dan harus ia pelajari. Ia masih membutuhkan kasih sayang walaupun ia mandiri. Naruto Uzumaki masih pemuda kecil.

"Mereka rumit." Naruto mengernyitkan dahinya.

"Serumit apa? Apa karena mereka tidak bisa menolong satu orang dari penderitaan?" Iruka menyadari kecemasan pria ini. Ini pasti menyangkut isu yang ia dengar tentang Uchiha Sasuke.

"Ada banyak hal di dunia ini yang tidak mudah di mengerti. Hal-hal yang terlihat mudah di umur kamu, menjadi tidak mudah ketika umur bertambah. Kekuasaan dan dunia politik juga seperti itu."

"Biarpun hokage mempunyai kekuasaan tertinggi di desa kita. Tapi ia tidak dapat berkutik bila para Damyo sudah memberikan titah. Ia hanya bisa melindungi desa ini. Memperkokohnya dari dalam."

"Hokage adalah bonekanya para Damyo, Iruka-Sensei?" pria yang mempunyai goresan yang memanjang di daerah hidungnya ini menyadari kemarahan dari suara Naruto.

"Tidak seperti itu juga. Tsunade-sama tidak akan suka dengan hal seperti itu." Naruto mengangguk membenarkan, ia tahu bagaimana sikap nenek itu.

"Tapi ada hal-hal yang membuat ia tidak bisa berbuat apa-apa, pada sesuatu di luar batas kekuasaannya." Naruto mengepalkan tangannya.

"Saat aku menjadi Hokage, akan ku buat itu menjadi beda. Iruka-Sensei." Pria itu tersenyum lagi pada semangat Naruto yang bangkit lagi.

"Iya. Aku percaya padamu Naruto. Makanya sebelum pengangkatan kau harus belajar sabar. Jangan tunjukkan emosimu. Saat kau sudah punya kekuasaan kau bisa mengeluarkan Sasuke dari lubang hitam bernama penderitaan."

"Tidak hanya Sasuke tapi seluruh penduduk desa. Sensei." Pria itu mengangguk dan menepuk baru muridnya dengan bangga.

"Calon Hokage harus makan yang banyak agar ia punya kekuatan. Jadi aku akan makan sepuluh mangkok ramen hari ini. Iruka-Sensei harus mentraktirku." Pria itu membiru sesaat, sebelum ia tertawa terbahak-bahak. Dasar selalu tahu cara memanfaatkan orang.

"Lepas!" Hinata terus memberontak. Tapi Sasuke malah menarik Hinata menuju suatu tempat.

"Tidak sebelum kau mendengarkanku."

"Tidak perlu. Aku tahu wanita itu cantik, dan ia sudah lama bersamamu." Ada nada cemburu di sana. Sasuke berhenti dan menoleh pada wanita itu, ia menyeringai. Hinata langsung merinding.

"kamu cemburu?"

"T-tidak." Kemudian perempuan itu berubah gugup, ia tidak akan membiarkan lelaki ini tahu perasaannya setelah ia mencabik-cabik hatinya.

Sasuke terkekeh sebentar. "Keringatnya ada enam di wajahmu! Apa kau berharap padaku?" Hinata mendadak menjadi terluka dengan candaan pria ini. Namun ia terkesiap ketika pria ini malah memeluknya.

"Aku juga berharap padamu. Berharap kau menginginkanku." Apa ini? Kenapa pria ini dengan mudah membolak-balikkan hatinya seperti ini. Sebentar membuat ia marah, sebentar membuat ia tersanjung. Apa pria ini benar-benar lelaki yang hebat? Keren dan sangat jantan.

"Dengar. Karin memang sudah lama bersamaku. Tapi kami hanya bersahabat." Di balik tubuh bidang pria ini, Hinata tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

Namun ia sadar sebentar lagi pria ini akan meninggalkanya. Hinata menggengam tangan Sasuke dan menarik balik tangan pria itu.

Pria dengan wajah rupawan itu tidak bicara banyak tapi ia tetap penasaran. "Kita mau kemana?" Hinata tersenyum.

"Sasuke-kun sudah banyak membawaku ke tempat istimewamu. Kali ini aku juga ingin memperlihatkan tempat istimewa ku padamu."

Sasuke tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak menarik sudut bibirnya berubah menjadi senyuman yang menawan. Di sudut hatinya yang terdalam ia menyenangi perempuan itu yang menerima kehadirannya.

Hinata yang melihat senyuman Sasuke terpaku sejenak. Membuat dirinya jadi terpesona dan tersipu di buatnya. Sasuke memang pria yang keren.

Tbc…

A/N

Susah juga memikirkan ide tentang sejarah klan –klan itu. Kalau ceritanya jadi sedikit aneh maklumin aja ya? Dan soal nama dewi air itu, sudah cari di google tapi nggak ketemu. Jadi terpaksa aku memakai nama tokoh di anime sebelah…he…he.

Tapi ada yang sadar tidak kalau Masashi kayaknya men-anak tiri kan Klan Hyuuga.

Katanya itu klan tertua di Konoha. Tapi kok mereka tidak ada yang muncul di ingatan Jiraiya. Ingatan Harasima Senju dan Madara Uchiha. Mereka bahkan tidak ada di ingatan Danzo yang jahat. Padahal semua klan ada di situ. Kenapa?

Katanya mereka yang terhebat di Konoha, tapi kok. Yang hebat hanya Neji dan Hinata. Bahkan Hiasi tidak mempunyai kekkei-genkai yang luar biasa kecuali kekuatannya sudah di lampoi Neji. Di mana letak orang-orang kuatnya ?

Aku marah. Karna aku fans berat klan Hyuuga…! Ada tahu? beritahu aku.

Oke… saatnya aku menbalas review kalian. Maaf baru kali ini bisa.

Terimakasih banyak kepada : Me Yuki Hina. Ni apdetnya , maaf sedikit lama. Kin Hyuuchi. Ni lanjutannya. Vampire Uchiha. Maaf deh kalau lama. Soalnya memang aku agak kesulitan mencari idenya. kirei- neko. Ya, nggak hanya Naruto aja yg mesum, kan? Ya…konfliknya akan nampak sekarang. Mungkin agak sedikit aneh tentang cerita dua makhluk itu. Luluk Minam Cullen. Lemonnya di cap selanjutnya, soalnya moodku tidak bagus di cap ini. dwi2. Intinya Sasuke akan di pisahkan sama Hinata. Mochi. Ni lanjutannya. . untuk itu rasanya sudah tidak bisa saya rubah. Tenang mereka tetap akan bahagia dengan versi saya ^^. Rini andriani Uchiga. Maaf bila ini juga lama. n. kurasa ini lebih dari pada ngerape ^-^. Syuchi Hyu. Terimakasih, ini lanjutannya. Renita Nee-Chan. lemonnya cap depan ^^.

Maaf bila ada kata yang salah dan penulisan nama yang tidak benar…^^.

Boleh minta review-nya lagi