Chap7 is up '-')/ semoga gak ada yang lumutan nungguinnya^^v
Happy reading^^
Disclaimer
All casts belong to God and themselves but the ff is pure belong to me
Cast
Lee Donghae
Lee Hyukjae
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Kim Youngwoon as Lee Youngwoon
And all Super Junior member as themselves
Genre
Romance, Angst
Rated
T
Warning
Yaoi, Boys Love, Shonen-ai, Boy x Boy, Alternate Universe, OOC, alur lambat. I had warn you, so, DON'T LIKE DON'T READ! NO BASHING! NO FANWAR! If you want to flame, just flame the story and use nice words, I'll take the blame.
Summary
"Aku sudah mengambil keputusan dan aku harap kalian bisa menerimanya," jawab Yesung.
"Keputusan yang bodoh," sindir Kyuhyun.
.
"Aku tidak percaya kau bisa setenang itu, Kyuhyun-ah. Kau bilang kau mencintainya, apa seperti ini reaksi orang yang jatuh cinta?" tanya Donghae sinis.
"Kau sendiri bereaksi berlebihan untuk ukuran seseorang yang hanya ingin berteman dengannya," balas Kyuhyun tidak kalah sinisnya.
.
.
.
.
.
Yesung menghempaskan tubuhnya di kasur. Latihan basket hari ini benar-benar menguras tenaganya. Yesung mengeluarkan segenap kemampuannya dalam latihan tadi. Berusaha—setidaknya—unggul dalam salah satu bidang. Tetapi sekeras apapun dia berusaha, tetap saja dia tidak bisa mengalahkan kehebatan Hangeng, Siwon, dan Donghae dalam bermain basket. Di dalam timnya, Yesung memang mempunyai kemampuan standar dalam bermain basket.
Yesung dimasukkan dalam timpun merupakan suatu keberuntungan. Dia masih ingat kejadian dua tahun yang lalu saat dirinya terpilih menjadi salah satu pemain yang akan bermain untuk tim sekolah. Yesung tidak pernah berhenti mengucapkan terima kasih kepada Siwon—sang kapten—dan mentraktir teman-teman setimnya selama seminggu makan siang di restoran milik keluarganya. Banyak orang yang meragukan keputusan Siwon. Walaupun Yesung waktu itu ikut tes bersama yang lainnya. Banyak yang bilang dia terpilih karena kedekatannya dengan sang kapten dan tim inti lainnya.
Yesung memang berusaha keras selama ini mengimbangi peningkatan kemampuan teman-temannya yang lain. tetapi sepertinya Kyuhyun benar, dia memang bodoh dalam segala hal. Tidak ada alasan lain teman-temannya memanggilnya hyung selain karena dia memang yang paling tua di antara mereka. Baik itu tua dalam artian yang sebenarnya maupun tua dalam artian yang lainnya. Karena terlalu sibuk berlatih untuk meningkatkan kemampuannya dalam bermain basket, Yesung ketinggalan pelajaran. Yesung tidak bisa membagi waktunya dengan baik untuk latihan dan belajar, akibatnya dia tinggal kelas tahun kemarin. Dan sekarang bersama Donghae, Siwon, Zhoumi, dan Sungmin naik ke kelas tiga. Padahal dia adalah senior mereka.
"Yeoboseyo," sapa Yesung saat Hangeng mengangkat teleponnya.
"…"
"Kau sedang apa? Apa kau sibuk?" tanyanya.
"…"
"Aku sedang berpikir. Dan…" Yesung menggantung kalimatnya.
"…"
"Aku ingin mengundurkan diri dari tim."
"…"
"Kau tahu kan, sebentar lagi kita ujian. Dan aku tidak bisa membagi waktuku untuk bermain basket dan belajar. Aku tidak mau mengecewakan orangtuaku lagi," jelas Yesung.
"…"
"Yeoboseyo, yeobo—" terdengar suara tut tut tut dari seberang telepon. Yesung melirik jam di ponselnya. Masih ada waktu setengah jam sebelum Hangeng tiba. Dia memutuskan untuk mandi lebih dulu.
Berbeda dengan Hangeng—yang juga seangkatan dengannya, tetapi sama-sama baru kelas tiga. Hangeng terpaksa mengambil cuti setahun karena ayahnya meninggal. Dia satu-satunya anak laki-laki di keluarganya. Sementara adiknya perempuan dan masih bersekolah. Hangeng harus mengambil alih kepemimpinan perusahaan untuk mencegah isu penjualan perusahaan oleh para pemegang saham karena meninggalnya ayahnya. Hangeng harus berjuang keras untuk meyakinkan mereka akan kemampuannya.
Setahun bukan waktu yang cukup untuk itu, tetapi beruntungnya ayah Zhoumi mau membantunya dengan jalan membeli beberapa saham yang dijual pemiliknya karena tidak percaya pada kemampuan Hangeng. Dengan bantuan dari ayah Zhoumi, perusahaannya bisa tetap berjalan dan dia berhasil mendapat kepercayaan dari beberapa pemegang saham lainnya. Walaupun kadang Hangeng masih harus bolak-balik Cina-Korea untuk menghadiri rapat direksi ataupun meeting dengan klien yang menuntut kehadirannya, selebihnya dia bisa menjalankan perusahaannya melalui teleconference.
Selain pintar, Hangeng juga sangat loyal dalam berteman. Dan dia juga bukan orang yang sombong. Kerja keras membuatnya sadar tidak ada orang yang sempurna bahkan jika ia memiliki segalanya dari lahir. Segala sesuatu butuh perjuangan untuk membuatnya sempurna. Oleh karena itu, semua teman-temannya segan kepadanya. Bahkan Kyuhyun yang paling jahil di antara mereka jarang menjadikan Hangeng korban keusilannya. Ditambah lagi, Hangeng cukup dewasa untuk seumurannya.
Hangeng baru saja memeriksa laporan yang dikirimkan sekretarisnya saat ponselnya berdering. 'Yesung? Tumben dia menelpon,' pikirnya. Hangeng langsung mengangkat teleponnya.
"Yoboseyo," sapa Hangeng.
"…"
"Anni, waeyo?"
"…"
"Dan?"
"…"
"Mwo? Tapi kenapa?"
"…"
"Tunggu," Hangeng menghela nafasnya, "aku akan menjemputmu dan kita akan membicarakan ini dengan yang lain." Hanggeng menutup teleponnya dan segera menghubungi teman-temannya.
"Yeoboseyo, Siwon-ah."
.
.
.
.
.
Donghae baru saja selesai latihan basket. Dia melihat jam tangannya. Masih jam setengah empat sore. 'Hyukkie pasti masih ada di halte bus,' pikirnya. Sepertinya dia mau mengamati Hyukjae dari seberang jalan—lagi. Walaupun akhir-akhir ini Hyukjae bisa dibilang mulai menerima kehadirannya, Donghae belum berani mengikuti Hyukjae ke manapun. Mungkin saja Hyukjae akan risih dan kembali menjauhinya. Tetapi Donghae tetap memutuskan untuk menemani Hyukjae pulang nanti malam. Tanpa sadar Donghae tersenyum-senyum sendiri.
"Kenapa kau tersenyum seperti orang bodoh begitu, Hae-ah?" tanya Siwon.
"Anniya," jawab Donghae dengan senyum yang masih setia menghiasi wajahnya.
"Aku tahu," kata Kyuhyun yakin.
"Apa?" tanya Donghae dan Siwon.
"Kau pasti baru mendapat kabar dari ayahmu, kalau Raja Duyung menerima lamaranmu untuk menikahi salah satu putrinya," jawab Kyuhyun serius.
"Ya, kau saja sana yang menikah dengan Putri Duyung!" kata Donghae tidak terima.
"Hahha~" Kyuhyun hanya tertawa menanggapinya. "Sepertinya sebentar lagi kita akan diundang ke Atlantis," tambahnya.
Donghae mengabaikannya. Bukan sekali ini Kyuhyun menggodanya dengan lelucon putri duyung. Disambarnya tasnya dan berjalan meninggalkan ruangan latihan.
"Aku duluan," pamit Donghae.
"Hei, aku hanya bercanda, Hae-ah," kata Kyuhyun.
"Aku tahu, Kyuhyun-ah. Aku hanya ada urusan lain. Sampai jumpa besok," jelas Donghae.
Dongahe tidak berniat menyembunyikan alasannya menemui Hyukjae kepada teman-temannya. Donghae hanya tidak mau mereka mengganggu Hyukjae dan membuatnya bertambah kesal kepada mereka. Apalagi Kyuhyun, dia pasti tidak tahan tidak menggoda Hyukjae saat namja itu ada di hadapannya. Donghae berharap bisa melihat senyum Hyukjae secara tidak sengaja—kalau dia bisa tersenyum—saat dia mengamatinya dari jauh.
Halte bus tempat Hyukjae tidak jauh dari sekolah. Donghae memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko buku dan masuk ke dalamnya. Dari jendela toko buku tersebut, Donghae bisa melihat Hyukjae yang sedang duduk di halte bus sambil mendengarkan musik—mungkin—dari headphone yang terpasang di telinganya. Di sebelahnya duduk dua orang siswa teman sekelas Yesung. Sepertinya mereka berusaha mengajak Hyukjae mengobrol, tetapi Hyukjae mengabaikannya. Donghae bisa melihat ekspresi kesal yang terpasang di wajah keduanya.
Tidak lama kemudian sebuah bus datang. Kedua siswa tadi naik. Setelah bus kembali berjalan, Donghae segera berlari keluar. Hyukjae kini memegang kepalanya yang—sepertinya—sakit. Tidak dipedulikannya bunyi klakson dan umpatan yang dilontarkan para pengemudi motor dan mobil yang terganggu karena Donghae yang menyeberang sembarangan. Beruntung dia bisa tiba di seberang tepat waktu dan menangkap tubuh Hyukjae yang terjatuh sebelum menyentuh tanah.
Hyukjae pingsan di pelukannya. Donghae segera mengangkat tubuh Hyukjae dan berteriak untuk menghentikan para pengguna jalan agar dia bisa membawa Hyukjae dengan selamat ke mobilnya. Donghae membaringkan tubuh Hyukjae pelan-pelan di jok belakangnya. Dia berpikir agak lama sebelum memutuskan akan membawa Hyukjae ke mana. Hyukjae mungkin pingsan karena lelah atau kurang darah—mengingat dia bekerja sampai tengah malam. Dan Donghae bisa saja membawanya ke rumahnya. Tetapi dia memutuskan untuk membawa Hyukjae ke rumah sakit. Donghae ingin memastikan keadaan Hyukjae baik-baik saja.
.
.
.
.
.
"Hangeng-ah, aku sudah memikirkannya baik-baik, kita tidak perlu—" mulai Yesung.
"Kita akan membicarakannya saat semuanya sudah berkumpul," potong Hangeng.
"Apa aku memang sebodoh itu sampai aku tidak bisa membuat keputusan sendiri?" tanya Yesung tersinggung.
"Kau tahu itu tidak benar. Dan aku akan membuktikannya, jadi tunggulah sebentar lagi," jawab Hangeng.
Yesung menghela nafasnya pasrah. Bagaimanapun dia sudah membulatkan tekadnya dan kali ini tidak ada yang bisa merubah keputusannya. Atau selamanya dia akan tergantung kepada teman-temannya untuk memutuskan apa yang terbaik untuknya. Yesung hanya ingin membuktikan kepada orang lain bahwa dia mampu melakukan sesuatu yang benar.
"Maaf aku terlambat hyung, appaku baru saja pulang dari Amerika," kata Kyuhyun yang baru saja datang.
"Tidak apa-apa, Kyuhyun-ah, yang lain juga belum datang," kata Hangeng.
"Hei, Yesung hyung! Kenapa wajahmu kusut seperti itu?" tanya Kyuhyun. Hangeng memberinya tatapan jangan-mengganggunya. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Kita akan membicarakannya kalau semua sudah datang," jawab Hangeng.
Tidak lama kemudian, Siwon dan Zhoumi juga datang. Mereka mengernyitkan dahinya bingung melihat ketiga temannya. Kyuhyun terlihat bosan setengah mati dan terus memainkan sendoknya tanpa berniat menggunakannya. Yesung menekuk wajahnya di meja bertumpukan kedua tangannya. Hangeng terlihat paling santai dengan menyandarkan punggungnya di kursi dan meletakkan lengan kanannya di sandaran kursi yang diduduki Yesung. Dia sedang memandangi keramaian di luar lewat dinding kaca.
"Ehem," Zhoumi berdehem, "apa kami ketinggalan pestanya?" tanyanya setengah bercanda.
"Kalian semua sudah datang, duduklah. Di mana Donghae?" tanya Hangeng saat melihat hanya Siwon dan Zhoumi yang datang. Semua—kecuali Yesung—memandang Kyuhyun.
"Aku tidak menghubunginya," Kyuhyun memandang Hangeng, "aku pikir Hangeng hyung yang melakukannya—"
"Kau kan sahabatnya," kata Zhoumi menyalahkan Kyuhyun.
"Kalian juga sahabatnya. Bukankah kita semua begitu?" tanya Kyuhyun tidak terima.
"Tapi kau yang paling dekat—" Zhoumi baru akan membalas, tetapi Hangeng memotongnya.
"Baiklah, biar aku yang menghubunginya," kata Hangeng menghindari perdebatan. "Yeoboseyo, Hae-ah."
"…"
"Eodigayo?"
"…"
"Kau sakit?"
"…"
"Apa orangtuamu yang sakit?"
"…"
"Apa dia baik-baik saja?"
"…"
"Kalau begitu, datanglah kemari. Semua sudah berkumpul di tempat biasa."
"…"
"Aku tahu kau mengkhawatirkannya. Tapi ada hal penting yang harus kita bicarakan, Hae-ah."
"…"
"Ne, mian, Hae-ah."
.
.
.
.
.
Donghae benar, Hyukjae kelelahan akibat kurang darah. Makannya juga tidak teratur, dan dari hasil pemeriksaan dokter, Hyukjae hanya memakan ramyun saja selama beberapa tahun terakhir. Kata dokter, Hyukjae harus diinfus untuk mendapatkan tambahan nutrisi dan istirahat total selama beberapa hari agar kesehatannya pulih. Dokter juga meminta Donghae untuk menjaga pola makan Hyukjae dan memastikannya memakan makanan yang seimbang. Donghae kini menunggui Hyukjae yang belum sadar.
Saat ponselnya berdering, Donghae baru sadar belum mengabari teman-temannya. Mereka memang tidak akrab dengan Hyukjae, tetapi Donghae yakin teman-temannya cukup peduli dengan orang lain.
"Yeoboseyo," sapanya.
"…"
"Aku sedang di rumah sakit," jawabnya.
"…"
"Anni, nan gwaenchanayo."
"…"
"Anni, Hyukjae pingsan dan aku membawanya ke rumah sakit. Ada apa, hyung?"
"…"
"Ne, tapi dia belum sadar. Aku sedang menungguinya."
"…"
"Apa aku harus datang?"
"…"
"Baiklah. Aku mengerti, aku akan segera ke sana."
"…"
Donghae memandang Hyukjae yang masih tertidur. Dengan berat hati Donghae terpaksa harus meninggalkannya. Sepertinya ada hal penting yang akan dibicarakan dengan teman-temannya.
"Yeoboseyo, Sungmin-ah. Aku butuh bantuanmu."
.
.
.
.
.
"Mwo? Tapi kenapa, Yesung hyung?" tanya Donghae.
"Sebentar lagi kita ujian, aku ingin fokus belajar," jawab Yesung.
"We are all too!" kata Kyuhyun.
"Lagipula ini tahun terakhir kita, kita tidak mungkin mengikuti pertandingan besar. Jadi tidak masalah kan, kalau aku keluar?"
"Justru karena itu hyung, kenapa harus sekarang?" tanya Kyuhyun kesal.
"Kyuhyun benar, Sungie-ah. Kenapa harus keluar?" kali ini Hangeng yang bertanya.
"Apa kalian lupa kenapa aku tinggal kelas tahun kemarin? Aku tidak bisa membagi waktuku antara belajar dan bermain basket," kata Yesung sedih mengingat kejadian tahun lalu.
"Kau pikir kami hanya akan bermain basket dan lulus ujian? Kami juga harus belajar, hyung, dan kita bisa belajar bersama," kata Siwon menenangkan.
"Ya, Kyuhyun bisa menyusun jadwal belajar bersama untuk kita," usul Zhoumi.
"Tidak masalah," kata Kyuhyun setuju. "Well, the problem fix, waktunya mengunjungi uri Hyukkie di rumah sakit."
"Guys—" panggil Yesung.
"Sebaiknya kita membeli buah," kata Zhoumi.
"Dan bunga," tambah Kyuhyun.
"—GUYS!" semuanya menoleh ke arah Yesung, "Aku tetap akan keluar," kata Yesung keras kepala.
"Mwo? What the hell!" umpat Kyuhyun.
"Kyu!" tegur Hangeng. Kyuhyun mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Kali ini apa lagi, Sungie-ah?"
"Aku sudah mengambil keputusan dan aku harap kalian bisa menerimanya," jawab Yesung.
"Keputusan yang bodoh," sindir Kyuhyun.
"Dan sejak kapan aku jadi lebih pintar?" tanya Yesung marah.
"Oleh karena itu, kau harus mendengarkan kami!" jawab Kyuhyun emosi.
"Aku tidak mungkin bertanya pada kalian apa yang harus kulakukan seumur hidupku! Aku juga ingin membuat keputusan sendiri," balas Yesung.
"Tidak ada yang bermaksud mengatur hidupmu Yesung hyung, tapi kau tidak perlu keluar dari tim," kata Siwon. Siwon merasa gagal sebagai kapten kalau sampai Yesung benar-benar keluar dari tim. Tiba-tiba Sungmin datang dengan berlari.
"Sungmin-ah, kenapa kau ada di sini, bukankah—"
"Hyukjae kabur," kata Sungmin cepat.
"Mwo? Bukankah aku menyuruhmu menjaganya? Sekarang dia di mana?" tanya Donghae bertubi-tubi.
"Aku-aku menungguinya di rumah sakit. Saat dia bangun, dia langsung pergi. Dan sekarang aku tidak tahu dia di mana," jelas Sungmin.
"Kenapa kau tidak mencarinya dan malah ke sini?" tanya Donghae frustasi.
"Aku tidak tahu harus mencarinya di mana, Hae-ah," jawab Sungmin.
"Aku tidak peduli kalau kau harus mengelilingi Seoul untuk mencarinya. Kenapa kau masih di sini? Cepat cari dia!" teriak Donghae panik.
"Kau tidak perlu berteriak pada Sungmin, Hae-ah," protes Kyuhyun.
"Kau tahu kan dia sedang sakit. Bagaimana—?"
"Aku akan segera mencarinya," kata Sungmin akhirnya.
"Anni, biar aku yang mencarinya," Donghae menyambar jaket dan kunci mobilnya.
"Tapi kita belum selesai, Hae-ah. Kita bisa mencarinya bersama-sama kalau—" kata Siwon mencoba menahan Donghae.
"Mian, aku harus pergi sekarang," potong Donghae.
"Siwon benar Hae-ah, aku yakin Hyukkie baik-baik saja. Dia pasti pulang ke rumahnya," kata Kyuhyun.
"Aku tidak percaya kau bisa setenang itu, Kyuhyun-ah. Kau bilang kau mencintainya, apa seperti ini reaksi orang yang jatuh cinta?" tanya Donghae sinis.
"Kau sendiri bereaksi berlebihan untuk ukuran seseorang yang hanya ingin berteman dengannya," balas Kyuhyun tidak kalah sinisnya.
"Pergilah!" kata Yesung.
"Mian, Yesung hyung," kata Donghae sebelum meninggalkan cafe tersebut.
"Aku juga ingin pulang. Sampai jumpa besok, gomawo," pamit Yesung.
"Donghae-ah, Yesung hyung, chakkaman," panggil Siwon.
"Aku juga permisi," pamit Sungmin.
"Biar aku mengantarmu," kata Kyuhyun.
"Anni, tidak perlu. Sebaiknya kau menyusul Donghae," kata Sungmin mengingatkan.
"Aku akan menyusulnya setelah mengantarkanmu," kata Kyuhyun final. Sungmin tidak mengatakan apa-apa, tetapi dia mengikuti Kyuhyun keluar. "Mian, Siwon-ah, Hangeng hyung, kami pergi dulu," pamit Kyuhyun.
Siwon memandang pasrah kepergian teman-temannya. Hangeng menepuk bahunya, "Jangan khawatir, kita masih bisa membahas ini besok," katanya memberi semangat.
"Gomawo hyung, sebaiknya kita juga pulang," kata Siwon.
"Bagaimana denganmu, Zhoumi-ah?" tanya Hangeng.
"Aku ikut denganmu saja, hyung," jawab Zhoumi. Mereka meninggalkan café tersebut bersama-sama.
Sebenarnya Siwon juga khawatir dengan keadaan Hyukjae. Tetapi situasi yang dihadapinya sekarang membuatnya tidak bisa berpikir. Walaupun Yesung benar, tim mereka tidak akan menghadapi pertandingan besar selama sisa tahun ini, tetapi tetap saja keputusannya untuk keluar tidak bisa diterimanya. Siwon harus memikirkan cara untuk membujuk Yesung agar merubah keputusannya besok.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Semua review yang masuk akan saya balas di setiap chapter. Baik itu ff oneshoot ataupun multichapter. Yang review lewat akunnya, saya balas di akun masing-masing ya ^^
Elfishy : hahha, hyuk gak mau tuh mesra2an sama donghae :p
anchofishy : iya nih, donghae malu2 tapi mau, kyuhyun playboy kelas teri *ditimpuk*
Anonymouss : manggil eon berarti kenal sama aku ya, tulis nama kek biar aku tahu-_-)a sungmin kan orangnya baik dan secara sepupu donghae jadi udah maklum sama sikap donghae. Lanjut~
Lee Eun Jae : cheonmaneyo~ fighting!
Chen Clouds : kamsa^^
Guest : lain kali tulis nama ya, biar aku tahu yang review namanya siapa^^ lanjut~!
lee maria : mianhae~ updatenya lama, banyak kerjaan(?)
Kota Daeng, 02-05072012
