YES! THAT STUDENT IS MY HUSBAND!

Author : SHIN RAEWOO

Rate : T

Main Cast: CHANYEOL x BAEKHYUN

Other Cast: WILL APPEAR ONE BY ONE!

Genre: ROMANCE, HUMOR, DRAMA, MARRIAGE LIFE

Warning: YAOI, BOY x BOY, TYPO, BAHASA SUKAR DI FAHAMI(?)

.

.

.

.

"Aishh jinjja kenapa telpon nya gak di angkat. Ayo angkat. Jebal." Ini sudah sekian kalinya Baekhyun menelpon nombor yang sama. Hampir dua jam ngomong. Tapi hampa tidak ada jawaban.

"Baekhyun-ah ini sudah terlalu lewat hampir tiga jam, pendeta yang akan menikahkan kalian juga bilang dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Baekhyun memandang sekilas wajah ibunya yang sedang berdiri di depan pintu kamar. Raut gusar terlihat jelas di wajah wanita itu.

"Eomma . Sebentar lagi. Beri aku waktu aku yakin dia akan datang." Nyonya Byun mengangguk faham dan meninggalkan Baekhyun sendirian di kamar rias.

"Baek ottae?" Luhan yang baru memasuki kamar juga dengan wajah yang terlihat sedikit khawatir langsung menanyakan soalan yang telah di tanyakan berulang kali sejak 30 menit yang lalu.

Luhan menghela nafas setelah Baekhyun mengelengkan kepala dengan ponsel yang masih melekap di telinganya.

"Aku rasa dia tidak akan datang. Dia kabur Baek."

"Ahniyo! Aku yakin dia akan datang. Dia mencintaiku. Hubungan kami baik-baik aja. Aku yakin dia akan datang. Mungkin dia menghadapi sedikit kesulitan. Tapi dia akan datang."

Luhan memutarkan bola matanya. Setiap kali ada yang bertanya, Baekhyun bersikuh keras mengatakan perkahwinan mereka akan tetap berlangsung.

"Terserah. Aku sudah memperingati mu Baek."

Baekhyun memerhatikan tubuhnya yang di baluti dengan tuxedo putih gading di hadapan cermin. Solekan tipis di wajahnya menambahkan lagi kecantikkan yang di milikki. Baekhyun tersenyum tipis. Hari ini adalah hari yang paling di nantikan. Hari yang akan menyatukan dirinya dengan orang yang sangat di cintai.

Sudah 3 jam berlalu dari waktu yang sepatutnya. Baekhyun khawatir? Tentu saja. Namu dia tetap meyakinkan dirinya bahawa perkahwinan ini akan tetap berlangsung sebagaimana yang telah di rancang 4 bulan yang lalu.

Bunyi deringan LINE menyadarkan Baekhyun dari lamunannya. Senyumannya menggembang ketika melihat nama penghantar LINE di ponselnya. Namun senyumannya luntur ketika dia membaca isi pesan tersebut. Pandangannya berubah menjadi kosong.

"Waeyo Baekhyun?" Luhan yang memerhatikan perubahan di raut wajah Baekhyun, melontarkan pertanyaan dengan nada khawatir di hujungnya.

Alih-alih menjawab, Baekhyun menjatuhkan dirinya terduduk di atas lantai karpet di kamar hotel yang menjadi kamar persalinanya. Luhan dengan ceketan langsung meluru ke arah Baekhyun. Perasaannya benar-benar tidak enak melihat keadaan Baekhyun saat ini.

"Baek kenapa Baek?" Luhan mencengkam lembut kiri dan kanan bahu sahabat baiknya itu. Sedikit menggoyangkan tubuh yang sama munggilnya dengan tubuhnya. Baekhyun tetap tidak bergeming. Dia menundukkan kepalanya memandang lantai.

Luhan yang kesabarannya hampir hilang, merampas ponsel yang masih berada di dalam genggaman Baekhyun. Membaca isi pesan itu satu persatu.

"Aish Byun Baekhyun." Luhan langsung memeluk tubuh Baekhyun yang terlihat sangat rapuh setelah selesai membaca isi pesan tersebut. Membelai lembut pundak sahabat masa kecilnya untuk menenagkan hati sahabat yang sudah di anggap seperti adiknya sendiri.

"Menangis lah Baek." Dan setelah itu hanya terdengar suara tangisan kesedihan yang keluar dari mulut namja kecil itu.

Hari ini hari yang paling di nantikan Baekhyun. Hari di mana dia akan di satukan dengan orang yang paling di cintainya, tapi sayangnya 'dia menghancurkannya'.

From My Heart:

Baekhyun… Maaf.. perkahwinan ini.. aku tidak bisa meneruskannya. Aku telah terlanjur dengan teman baikku, dan dia sedang mengandungkan anakku, dan aku tidak bisa menipu diriku lagi bahawa aku juga mencintainya. Maafkan aku Baekhyun. Semoga kau akan bahagia bersama orang yang benar-benar akan mencintaimu.

C

x

B

Baekhyun langsung terduduk dari pembaringannya. Dia terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah. Jantungnya berdegup laju. Peluh membasahi wajah dan tubuhnya.

Baekhyun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sebelum mengusap wajahnya kasar. Kejadian itu muncul lagi di dalam mimpinya. Sudah seminggu setelah Baekhyun menerima panggilan dari orang yang paling di bencinya, dan setelah itu kejadian itu sering menghantui mimpinya. Kejadian yang telah tiga tahun di lupakan muncul kembali dalam ingatannya.

Baekhyun menuju ke kamar mandi yang terletak di kamarnya. Membasuh wajahnya dengan air untuk menenangkan fikirannya sebelum aroma makanan yang enak menyapa indera penciumannya yang tajam.

Dengan cepat Baekhyun mengelap wajahnya yang basah menggunakan handuk kecil dan melangkahkan kaki kecilnya menuju ke dapur tempat di mana aroma enak berasal.

Baekhyun dapat melihat jelas, Chanyeol yang sedang berkutat dengan pancinya. Park Chanyeol, laki-laki itu meski lebih muda 5 tahun darinya, namun Chanyeol lebih dewasa dari dirinya sendiri.

Baekhyun tersenyum kecil melihat Chanyeol yang masih tidak menyadari kehadiran Baekhyun yang sedang berdiri di pintu ruangan dapur. Chanyeol yang sesekali mencicipi masakkannya kemudian mengkerutkan keningnya apabila ada yang kurang dengan masakan tersebut, benar-benar terlihat seperti tukang masak professional.

"Tampan." Baekhyun menutup mulutnya setelah menyadari perkataan keramat yang keluar dari mulutnya. Dia menggelengkan kepalanya dan memukul kepalanya sendiri.

'Ya ampun Baek apa yang kau bilang? Channyeol tampan? Kau pasti sudah gila Byun Baekhyun.'

"Selamat pagi Baekkie." Suara berat itu menyadarkan Baekhyun dari kekonyolan yang sedang di lakukan terhadap dirinya. Baekhyun menatap Chanyeol yang sedang tersenyum lebar ke arahnya sambil membawa sepiring telor dadar gulung ke meja makan.

"Selamat pagi Chanyeol." Baekhyun tersenyum kikuk. Dalam hati, Baekhyun sedang menerka apa Chanyeol mendengar ucapan tak sengaja yang keluar dari mulutnya.

"Kemarilah. Ayo kita sarapan bersama-sama." Baekhyun mengangguk dan berjalan kearah meja makan mengambil tempat duduk berhadapan Chanyeol.

"Wah." Baekhyun berdecak kagum. Mulut kecilnya sampai-sampai terbuka gara-gara melihat hidangan sarapan yang begitu enak menurutnya. Selama 3 Tahun di Jepang, dia hanya memakan roti selai strawberry kadang-kadang meminum air kosong. Tidak lebih dari itu.

"Coba ini." Chanyeol menyodorkan sesudu nasi goreng di hadapan Baekhyun. Baekhyun bergantian melihat wajah Chanyeol yang sedang tersenyum dan tangan yang memegang sudu di tepat di hadapan mulut Baekhyun.

"Kau mau menyuapi ku?"

"Eung~"

Baekhyun membuka mulutnya kembali. Menerima suapan nasi goreng dari Chanyeol. Baekhyun mengunyah perlahan. Sesaat kemudian dia menghentikan kunyahannya dan memandang tepat ke wajah Chanyeol yang duduk berhadapan dengannya.

"Ottae?"

Baekhyun kembali mengunyah makanannya dan menelannya dengan cepat.

"Wah ini enak sekali Chanyeol. Bahkan nasi goreng eomma tidak seenak ini?"

"Jinjja? Aku senang kalau kau suka. Ini nasi goreng kimchi." Chanyeol berucap senang hati sambil menyendoki nasi goreng juga member sepotong telor dadar gulung ke pinggan Baekhyun.

Mata Baekhyun berbinar melihat nasi goreng di pinggannya. Tanpa aba-aba, Baekhyun menyuapi makanan itu masuk ke mulut kecilnya. Chanyeol tersenyum lebar melihat kelakuan Baekhyun ketika makan. Persis anak kecil dan terlihat lucu serta menggemaskan di mata Chanyeol.

"Ini benar-benar enak Chanyeol. Ini resep eomma Park kah?"

Chanyeol menggelengkan kepalanya membuat si kecil menaikkan sebelah alisnya.

"Ahniya. Ini resep ku sendiri. Aku memang gemar memasak dan mencoba resep-resep terbaru ciptaan ku sendiri."

Sekali lagi Baekhyun berdecak kagum. Dia tidak menyangka Chanyeol benar-benar bisa memasak. Berbanding dirinya yang hanya bisa memasak air dan mi instant.

Mereka makan dengan suasana yang sangat riuh dengan ocehan masing-masing. Terkadang Chanyeol akan tertawa besar saat mendengar ocehan lucu dari Baekhyun begitu juga Baekhyun, akan tertawa ketika Chanyeol melemparkan leluconnya.

Chanyeol itu happy virus sangat mesra dengan orang lain. Meskipun di sekolah dia seperti pangeran es, tapi ternyata Chanyeol seorang yang sangat hangat.

Baekhyun itu mood maker. Sesiapa yang berada di dekatnya, akan mempunyai susana hati yang sangat baik. Semua akan tertawa dengan tingkahnya atau leluconnya yang lucu.

Dan Chanyeol mahu pun Baekhyun tiba-tiba merasakan berdamai adalah bukan sesuatu perkara yang buruk.

"Chanyeol-ah.. apakah aku bisa selalu makan masakkan mu?"

"Kau menyukainya?"

"Iya aku saaaaaangat menyukainya." Baekhyun menjawab dengan semangat dan tangannya membuat bulatan besar di tambah lagi senyuma lebarnya yang memunculkan mata bulan sabit indahnya.

Chanyeol tertawa kecil melihat kelakuan lucu Baekhyun. Chanyeol tidak habis fikir. Apa benar namja di depannya ini berumur 24 tahun? Kelakuannya sangat berbalik dengan umurnya. Benar-benar tidak konstan.

"Kurae. Aku akan memasak untukmu. Setiap hari."

"Jinjja?"

"Nde. Aku kan sudah bilang untuk menjadi suami yang baik meski tidak ada rasa cinta di antara kita. Dan aku akan mengotakannya. Kalau kau suka masakanku, aku dengan senang hati akan memasakkannya untuk mu."

"Ya ampun terima kasih Chanyeol. Aku sangat menyukainya." Tanpa sadar Baekhyun menaikkan tubuhnya ke atas meja makan dan memeluk tubuh Chanyeol. Entah kenapa, Baekhyun sangat senang dengan pernyataan dia akan makan masakkan Chanyeol setiap hari.

Baekhyun itu tubuhnya kecil. Tetapi dia sangat suka dengan apa yang di panggil makanan. Dia juga menyimpan impian mahu mengelilingi dunia untuk merasa setiap makanan di setiap negara yang berbeda.

"Ah Mianhae." Baekhyun yang tersadar dirinya sedang memeluk Chanyeol melepaskan pelukannya. Dia merutuki dirinya sendiri yang lancing memeluk pria bertelinga lebar itu.

"Gwenchana."

Suasan canggung tiba-tiba menyelimuti mmereka. Baekhyun memakan sarapannya dengan diam, sedangkan Chanyeol berpura-pura bermain dengan ponselnya. Namja tinggi itu hanya mengeser layarnya ke kiri ke kanak ke atas ke bawah. Mereka berdua sama-sama salah tingkah.

Chanyeol bangun dari kerusinya, dan berdiri membelakangi Baekhyun. Membuat Baekhyun menarik nafasnya lega. Sekurang-kurangnya dia bisa bernafas saat Chanyeol tidak lagi berada di hadapannya.

"Ini." Suapan Baekhyun terhenti saat melihat kotak bekal makanan di hadapannya.

Baekhyun mendongakkan kepalanya memandang Chanyeol yang saat ini sudah berdiri di sebelahnya.

"Itu kotak bekal makanananmu Baekkie-ah untuk makan siang mu."

"Haha.. enggak usah repot-repot Chanyeol. Aku bisa membelinya di kantin sekolah."

"Jadi kau tidak menyukainya? Oke aku mengerti." Chanyeol mengerucutkan bibirnya.

Baekhyun mengerjapkan matanya saat Chanyeol mengambil kotak bekalan makanannya kembali menuju ke tong sampah yang berada di sudut dapur.

Baekhyun membulatkan matanya ketika Chanyeol membuka penutup tong sampah dan hampir membuka penutup kotak bekal makanannya.

'Apa Chanyeol ingin membuang makanan itu?'

"Kyaaa Chanyeol nanti dulu!" Dengan cekatan Baekhyun mengambil kotak makanan yang berada di tangan Chanyeol.

"Aku akan membawanya."

"Cih. Tadi kau menolaknya Baekkie."

Chanyeol menyedekapkan kedua tangannya ke hadapan dada. Dan jangan lupa bibirnya yang masih mengurucut. Kini dia dan Baekhyun tidak ada perbedaannya ketika merajuk. Sama-sama seperti anak kecil.

"Aku tidak menolaknya dan berhenti memanggilku Baekkie. Aku bukan anak kecil."

"Kenapa? Aku suka dengan nama itu."

"Tetapi aku tidak suka!"

"Shireo! Tidak ada penolakkan. Aku tetap akan memanggilmu Baekkie. Titik tidak pakai nokhtah."

"Cih apa-apaan itu titik tidak pakai nokhtah?"

"Kyaaa suka hatiku lah mau bilang apa pun. Pokoknya kau mau harus ku panggil Baekkie."

"Terserah. Sudah aku mau bersiap. Nanti aku telat lagi ke sekolah. Kau pun harus bersiap Chanyeol."

Baekhyun melangkahkan kakinya meninggalkan dapur namun langkahnya terhenti saat Chanyeol menarik tangannya dan membalikkan tubuhnya.

"Apa lagi Chanyeol? Aku harus bersiap ke sekolah sekarang kau juga."

Cup

Sebuah kecupan lembut hinggap di dahi Baekhyun. Membuatkan tubuh kecil menegang dengan mata yang membulat.

"Aku akan bersiap ke sekolah sekarang. Kau juga nanti di sekolah hati-hati nae? Aku akan menjaga dan memerhatimu Byun saem."

Chanyeol mengusap-usap rambut Baekhyun lembut dan meninggalkan Baekhyun yang masih berdiri seperti patung.

Baekhyun memegang dahinya yang di kecup Chanyeol dan mempoutkan bibirnya sambil mengusap dahinya.

"Cih apa-apaan anak itu, dia pikir aku anak kecil apa? Menyebalkan."

Sesaat kemudian sebuah senyuman terukir di bibir tipis itu dan jangan lupakan tangannya masih memegang dahi yang di kecup Chanyeol sebentar tadi.

C

x

B

Luhan berjalan mundar mandir di hadapan pintu sebuah apartment. Sesekali dia melirik jam di tangannya. Sudah hampir 1 jam dia berada di situ, tetapi sosok yang di tunggunya tetap juga tidak keluar dari apartment mewah itu.

Luhan memuncungkan bibirnya. Dia melirik jamnya lagi, dan memandang pintu apartment itu buat beberapa saat. Helaan putus asa keluar dari bibir kecilnya.

Dia mengeluarkan kertas dari dalam saku seluarnya. Melihat alamat yang tertulis di atas carikan kertas itu lalu mengangguk mantap dan yakin ini memang alamatnya.

Kenapa Luhan tidak memecet bel apartment itu? Oh itu karena Luhan ingin membuat sebuah kejutan.

Sekali lagi dia menghela nafasnya. Orang yang di tunggu-tunggu tetap tidak tidak menampakkan kemunculannnya.

"Mungkin lain kali aku akan datang lagi." Luhan bergumam kepada dirinya sendiri. Berjalan menjauh dari apartment itu.

Cklek

Luhan yang baru beberapa meter berjalan meninggalkan apartment itu membalikkan badannya semula. Kali ini wajahnya berbinar saat melihat sosok yang di tunggunya akhirnya keluar memunculkan diri.

Dia membawa kakinya cepat ke arah sosok itu dengan senyuman mengembang di wajahnya.

"Selamat pagi!" Luhan kini betul-betul berdiri di hadapan sosok yang sedang membungkuk membetulkan tali kasutnya.

"Sela.. Luhan?!"

"Hai.. Sehun."

"Kau.. Ah bagaimana kau bisa mengetahui apartment ku?"

Jelas-jelas Sehun terkejut dengan kehadiran Luhan yang tiba-tiba di apartmentnya di pagi hari. Sehun tidak pernah bertemu dengan Luhan lagi selepas dia mencium Luhan dengan tiba-tiba di hari pernikahan Chanyeol dan Baekhyun kemarin.

Kalau boleh, Sehun langsung tidak mahu bertemu dengan namja rusa itu lagi. Dia takut Luhan membencinya di tambah lagi Luhan hanya diam setelah ciuman mereka. Membuatkan Sehun mempunyai pemikiran yang buruk-buruk dengan reaksi Luhan saat ini.

Dan pagi ini dia di kejutkan dengan kedatangan Luhan, dan lihat senyuman yang terukir di wajah cantik yang berjaya mempesonakan hati seorang Oh Sehun, sepertinya Sehun harus hati-hati dengan senyuman itu.

"Kau tidak harus tahu mengenai itu. Ayo kita sarapan bersama."

Dan setelah itu Sehun hanya pasrah saat tangannya di tarik paksa oleh Luhan.

C

x

B

Luhan dan Sehun duduk berhadapan. Di hadapan mereka terdapat secawan Espresso panas untuk Sehun, secawan Americano panas untuk Luhan juga dua piring pancake honey butter.

Mereka saat ini berada di sebuah café yang berdekatan dengan apartment Sehun. Tiada percakapan yang terjadi di antara mereka sejak 10 menit yang lalu.

Sehun memerhatikan orang-orang yang berlalu lalang di hadapan café itu, sedangkan Luhan hanya menyesapi Americanonya dan sesekali masukkan sepotong pancake ke dalam mulutnya.

"Sehun, kau tahu kan, kemarin kau menciumku, dan itu merupakan ciuman pertamaku."

Sehun memandang tepat ke wajah Luhan yang masih meminum Americanonya denga santai. Tiba-tiba Sehun di serang rasa bersalah karena telah mencuri ciuman pertama Luhan.

"Maafkan aku Luhan-ssi…-"

"Luhan."

"Ah iya. Maafkan aku Luhan. Aku benar-benar rasa bersalah."

Sehun menundukkan kepalanya. Tidak berani memandang wajah Luhan. Di tambah lagi terdapat nada serius dalam nada bicara Luhan. Luhan pasti marah besar kepadanya.

"Aku mahu kau bertanggungjawab."

Sontak Sehun mengangkat kepalanya memandang Luhan yang kini menatap tajam ke arahnya.

"Aku mahu kau menjadi pacarku."

"MWO?!" Saking kagetnya, Sehun tanpa sadar berteriak membuatkan pengunjung di café itu memandang ke araah mereka.

Sehun tersenyum malu, dia membungkukkan badannya meminta maaf kepada pengunjung yang terganggu dengan teriakkannya.

"Kau gila Luhan. Aku hanya berusia 19 tahun dan aku masih bersekolah."

"Emang kenapa? Ada yang salah? Chanyeol dan Baekhyun juga memiliki perbedaan yang sama dengan kita, lagipula aku mencintaimu Sehun ah, saat pertama kali kita bertemu di toko bunga ku."

Luhan mengalihkan pandangannya memandang ke luar jendela café. Sama seperti Sehun, Luhan juga mula menyukai Sehun saat pertama kali melihat namja putih itu. Bahkan setiap malam Sehun muncul dalam mimpinya.

"Tapi aku…"

"Oke aku mengerti. Mungkin kau sudah mempunyai kekasih. Dan maafkan aku yang lancang telah meminta kau menjadi pacarku. Dan soal ciuman itu aku tidak mempermasalhkannya. Aku pergi dulu dan aku akan membayar semuanya."

Luhan bangun meninggalkan Sehun yang masih diam di tempat duduknya. Sehun menolaknya dan itu membuatkan hatinya sesak. Luhan meninggalkan café setelah membayar bil makanan mereka, berjalan menjauh tanpa menoleh kepalanya.

Sehun yang melihat Luhan berjalan meninggalkan café mengacak rambutnya kasar. Dengan cepat dia mengejar Luhan dan menarik tangan namja yang memiliki nama rusa membuatkan tubuh Luhan membalik menghadap Sehun.

"Sehun."

Cup

Sebuah ciuman mendarat di bibir Luhan. Sebelah tangan Sehun masih memegang tangan Luhan dan sebelah tangannya memegang sebelah wajah Luhan.

Luhan yang awalnya kaget dengan ciuman tiba-tiba itu, akhirnya terbuai dengan ciuman lembut memabukkan yang di berikan Sehun.

Luhan memejamkan matanya saat Sehun melumat bibir bawahnya perlahan. Dan tanpa ragu Luhan juga turut melumat bibir atas Sehun. Ciuman yang menyalurkan perasaan masing-masing tanpa nafsu. Tanpa menghiraukan mata-mata yang sedang memerhatikan mereka saat ini.

Sehun melepaskan ciuman mereka. Lelaki tinggi itu tersenyum melihat wajah Luhan yang memerah. Dia menghapuskan sisa saliva menggunakan ibu jarinya di sudut bibir Luhan.

"Sehun.. itu.."

Belum sempat Luhan melanjutkan perkataannya, Sehun telah menarik Luhan kedalam pelukkannya. Kepala Luhan tepat berada di dada bidang Sehun, bahkan dia bisa mendengarkan detakkan jantung Sehun yang melaju.

"Itu jawapan ku. Aku juga mencintaimu. Saranghae Luhan."

Luhan melepaskan pelukkan Sehun. Menatap Sehun dengan tatapan tidak percaya.

"Jadi apa kita…"

"Iya mulai saat ini kita pacaran."

"Benarkah?"Sehun menanggukkan kepalanya yang membuatkan Luhan terpekik senang. melompat lalu memeluk tubuh Sehun dan Sehun juga balas memeluk tubuh Luhan.

"Ayo."

Luhan mendongakkan kepalanya menatap Sehun sedang menatapnya juga membuatkan Luhan merona parah menatap wajah Sehun yang sangat tampan ketika melihat dengan jarak sedekat ini.

"Ke mana? Kau kan harus bersekolah?"

"Aku membolos untuk berkencan dengan kekasihku. Kau mau?"

"Dengan senang hati, Sehunnie."

C

x

B

Baekhyun yang kini sedang berdiri di balkon sekolah tersenyum sendirian saat melihat Chanyeol sedang bermain basket di lapangan. Entah sejak kapan, tanpa sadar Baekhyun diam-diam telah mengagumi sosok suaminya sendiri, Park Chanyeol. Semua tentang Chanyeol membuatkan Baekhyun terpesona.

Baekhyun salah tingkah saat Chanyeol melambaikan tangan dengan senyuman lebar khasnya di berikan kepada Baekhyun. Baekhyun membesarkan matanya dan hanya dibalas kekehan dari Chanyeol.

Baekhyun menggelengkan kepalanya dan berjalan memasuki ruang guru. Dia melihat Yoona sudah berada di mejanya yang bersebelahan dengan meja Baekhyun.

"Selamat pagi Yoona."

"Ah Baekhyunee selamat pagi. Kau baru datang?"

"Aku dari ruang kepala sekolah, dia mahu melihat rekor prestasiku."

Yoona menangguk tanda mengerti. Tiba-tiba matanya melihat kearah cincin yang berada di jari manis di tangan kanan Baekhyun.

"Kau sudah menikah Baekhyunee? Cincin ini, cincin pernikahan bukan?"

Yoona memegang tangan kanan Baekhyun untuk melihat cincin yang melingkari jari lentik itu dengan lebih dekat lagi dan setelah itu dia menatap Baekhyun yang sedang mengaruk kepalanya.

"Ah iya… ini.. aku sudah menikah sudah hampir satu bulan ku kira."

"Ommo benarkah? Ya ampun kenapa kau tidak memberitahu ku? Apa dia tampan?"

"Mwo?"

"Suami mu apa dia tampan?"

"kenapa kau fikir aku menikah dengan laki-laki?"

"Aigoo.. wajahmu cantik Baekhyunee, masa kau menikah dengan yeoja, lagipula cincin yang ada di jarimu adalah cincin perkahwinan khas jika menikah dengan laki-laki. Jadi apa dia tampan?"

Baekhyun memikir jawaban yang sesuai untuk diberikan kepada Yoona. Chanyeol? Apa dia tampan?

"Iya… Dia tampan." Baekhyun tersenyum malu. Pipi tembamnya juga ikut memerah dengan jawaban yang di berinya sendiri.

"Aigoo Baekhyunee, pipimu merah. Pasti dia sangat tampan eoh? Kapan-kapan kenalkan ke aku ya?" Yoona menyenggolkan tubuhnya ke bahu Baekhyun membuatkan namja cantik itu bertambah malu.

"Nde." Baekhyun menaggukkan kepalanya dengan senyuman malu terukir di bibirnya, membuatkan Yoona tidak dapat menahan diri untuk mencubit pipi tembam itu.

"Oh ya , kau tahu Baekhyunee ada guru baru yang akan mengajar di sini."

"Siapa?"

Belum sempat Yoona menjawab mereka dikejutkan dengan pintu ruangan guru yang dibuka secara tiba-tiba, sontak mereka memandang sosok yan baru melangkah masuk keruangan guru tersebut.

"Annyeonghaseyo, Jung Daehyun imnida."

"Itu dia guru baru itu Baekhyunee." Yoona setengah berbisik kepada Baekhyun yang masih menatap Daehyun yang berdiri tidak jauh dari mejanya.

Daehyun memberikan senyuman manisnya kepada Baekhyun, sedang Baekhyun tetap menatap Daehyun yang masih tersenyum kepadanya dengan pandangan yang sulit diarikan dan kedua tangan yang terkepal erat di bawah meja.

TBC.

Annyeong.. Ottae?

Yeay akhirnya Hunhan jadian. Untuk next chapter aku akan menceritakan tentang kisah lalu Chanyeol. Semoga kalian terhibur dengan Chapter ini. Terima kasih karena sudah membaca.

LINE ID : nfateha.

Read & Review?