Tittle: The Pass Chapter 6
Cast: Cho Kyuhyun, Lee Donghae as Cho Donghae, Park Jungsoo and other
Genre: brotheship, family, sad (maybe)
.
.
Warning: OOC, typos, author masih baru, cerita pasaran, alur membingungkan, membosankan dan kekurangan lainnya.
.
Note: Di bagian awal bakal balik lagi ke 21 Agustus 2004, soalnya apa? Karena di chap kemaren alur saya cepatkan bagian ini jadi ke cut deh. Padahal bakal ada pemain tambahan lagi disini. Apa saya membuat image tuan Park antagonis disini? nggak kok tuan park baik sebenernya, jadi jangan marah-marah sama tuan park lagi ya hehehe. Di chap ini saya bakal mengungkap jati diri tuan Park sebenarnya. Mian jika lama. Ini aja saya ninggalin pr fisika saya, udah nggak tahu gimana cara gerjainnya, udah gelap banget otak saya maka dari itu saya milih lanjutin nulis nih ff aja hehe. Bagi yang belum baca ff Horor Clas(numpang promosi hehe) silakan baca ya. Chap 1 udah update!
Oke deh itu aja dari saya, mian jika chap ini mengecewakan. Jangan lupa review chingudeul! Ok see you bye bye!
.
This story is mine
All cast milik tuhan dan diri mereka sendiri
.
.
Happy reading^_^
.
.
21 Agustus 2004
"Sial! Bagaimana mungkin mereka tidak mau menerima suap dariku huh! Gagal sudah rencanaku untuk menguasai perdagangan negara ini!" Terlihat namja parus baya dengan sedikit uban di sana-sini mengumpat dan memaki kasar stir tak bersalah dihadapanya. Sesekali tangannya memukulnya, membuat klakson itu otomatis berbunyi.
Kim Jung Hun, namja paruh baya itu baru saja mengalami kegagalan dalam rencana besarnya menguasai perdagangan di negrinya ini. Namja paruh baya yang merupakan pengusaha senior dan sangat disegani oleh masyarakat Korea karena prestasinya dalam berbisnis yang jujur dan baik, dermawan kepada kalangan tak berada juga membuat lapangan pekerjaan bagi ratusan ribu warga Korea, tanpa mereka tahu ada kebusukan yang ada dibalik semua prestasinya. Dilahirkan dari keluarga pengusaha dan mengenal perusahaan sejak kecil, membuat namja paruh baya ini sangat berambisi untuk menguasai semua bidang perdagangan di Korea hingga melakukan apapun untuk mewujudkan keinginannya, termasuk cara curang sekalipun.
Namun sayang sekali, niat buruknya kali ini tersendat akibat suap yang ia lakukan tak membuahkan hasil. Ternyata masih ada saja pihak yang memegang teguh amanat yang diberikan tanpa tergiur uang berlimpah yang ia berikan.
"Sial! Sial!" Namja paruh baya itu nampak merapalkan kalimat yang sama, menunjukkan seberapa kesal hatinya sekarang. Tuan Kim nampaknya lupa jika berkendara dalam suasana hati yang buruk dapat membuat celaka.
Lihat saja, ia sama sekali tak fokus dengan jalanan dihadapannya. Ia bahkan sesekali melepas stir kemudinya hanya untuk mengacak rambutnya kesal. Ia sama sekali tak menghiraukan rambu lalu lintas.
Hingga ia tak menyadari lampu berwarna merah, tanda ia harus berhenti. Mobilnya terus terpacu dan...
Nyaris saja ia membuat seseorang penyebrang jalan celaka. Untunglah ia sempat menginjak rem, jadi kemungkinan seseorang itu hanya tersenggol atau mungkin sedikit syok.
.
.
.
"Hey! Anak siapa yang kau bawa itu?" Kim Yura, yeoja paruh baya dengan tubuh gemuk itu menghardik suaminya yang baru pulang dengan membawa seorang tubuh anak kecil baru saja ia tabrak.
"Diamlah" Tuan Kim membawa tubuh kecil itu menuju salah satu kamar di rumah mewah miliknya.
"Jawab aku dulu! Anak siapa itu?!" Merasa belum puas dengan jawaban sang suami, yeoja itu ikut mengikut tuan Kim dan mencoba bertanya kembali.
"Aku baru saja menabrak orang" ujar tuan Kim setelah membaringkan Kyuhyun di ranjang king size kamar itu.
"APA?! KAU MENABRAK ORANG?!"
"Ssssttt! Jangan keras-keras! Jika ada yang mendengar bagaimana?" Tuan Kim segera membekap mulut istrinya agar tak bersuara keras.
"Mmmhh...lepas" nyonya Kim mulai menerka, apalagi ia dapat melihat lutut anak kecil itu sedikit lecet "Apa anak kecil itu? Anak kecil itu yang kau tabrak?"
"Benar" dengan berat hati tuan Kim mengangguk.
"Astaga! Bagaimana bisa?"
"Aku tidak fokus mengemudi. Kau tahu, aku sangat kesal karena rencanaku gagal"
"Kau ini! Bagaimana jika ada orang yang tahu? Bagaimana jika reputasimu buruk karena ketahuan mengemudi mobil tak tahu aturan bahkan menabrak seseorang huh?" Nyonya Kim mulai memarahi sang suami. Ia khawatir jika reputasi sang suami yang selama ini baik akan tercemar karena hal ini. Tentu saja akan berimbas kepada perusahaan sang suami.
"Tidak akan terjadi apapun, kau tenang saja"
"Apa orang-orang mengenalimu?"
"Tentu saja tidak, aku tidak bodoh Kim Yura. Sebelum keluar aku memakai topi dan masker, jadi mustahil ada yang mengenaliku"
"Bagus kalau begitu. Lalu...sekarang apa yang kau lakukan dengan anak itu?!" Nyonya Kim menunjuk Kyuhyun yang masih belum sadarkan diri.
"Kita buang saja anak itu ke hutan, sebelum dia sadarkan diri. Bagaimana?" Tuan Kim memberi usul yang sangat tidak manusiawi.
"Kau bodoh! Kalau kita membuangnya, dan ada yang melihat, hancur sudah reputasimu tuan Kim!" Ujar nyonya Kim pedas.
"Lalu bagaimana?!"
"Kita adopsi dia. Dengan begitu tidak akan ada berita yang macam-macam"
"Bagaimana dengan para media? Apa kata mereka jika aku tiba-tiba mengadopsi anak tanpa angin tanpa apa"
"Kau bilang saja jika dia anak yatim piatu yang tersesat, kau kasihan padanya kemudian mengadopsinya. Lagipula setelah mendengar kau melakukan adopsi, orang-orang akan mengelu-elukanmu karena kebaikan hatimu"
Tuan Kim tersenyum licik "Kau benar! Tidak sia-sia aku punya istri sepertimu Yura. Kau sangat pintar"
.
.
.
26 Agustus 2004
"Donghae-ya, kau dari mana saja huh?" Tuan Park yang sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan sebuah laptop dihadapannya langsung menghampiri Donghae yang berjalan dengan gontai memasuki rumah dengan baju setengah basah.
Terdapat nada marah sekaligus khawatir pada keadaan sang putra bungsu yang baru saja kabur dari pengawalnya. Sontak saja tuan Park murka dan langsung memecat semua pengawal yang tak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, dan mencari penggantinya.
Donghae tak menjawab, ia tetap berjalan pelan seolah menyeret langkahnya dengan kepala terus merunduk.
"Hae, jawab appa!" Tuan Park mengulang pertanyaannya sembari sedikit mengguncang bahu putranya.
'Bruk'
Tubuh yang terasa panas itu ambruk seketika. Untung saja tuan Park yang berada dihadapannya dengan sigap menehan berat tubuhnya sehingga ia terjatuh dipelukan sang appa.
"Hae! Donghae-ya! Bangunlah!" Tuan Park yang panik menepuk-nepuk pipi yang terasa panas luar biasa itu.
Apa? Panas. Astaga bodohnya dia yang tak menyadari jika tubuh itu telah menggigil kedinginan sejak tadi, bibir Donghae sedikit membiru akibat dingin yang sejak tadi tak henti menyapa tubuhnya. Nafas putranya nampak tersengal.
Dengan segera tuan Park membopong tubuh sang putra menuju kamarnya.
Setelah membaringkan Donghae dikasurnya, dengan cekatan tuan Park mengganti pakaian Donghae yang hampir mengering dengan pakaian kering agar Donghae lebih nyaman kemudian menyelimuti tubuh itu dengan selimut tebal.
"Pak Jang! Hubungi Jungsoo, bilang padanya jika Donghae sudah pulang!" Suruhnya pada seorang maid paruh baya yang sedari tadi mengikutinya, berinisiatif untuk membantu sang tuan besar merawat putranya untuk menghubungi putra sulungnya yang sejak tadi tak berhenti mencari Donghae hingga belum pulang sampai saat ini.
"Baik tuan!" Maid itu sedikit membungkukkan badannya kemudian menjalankan perintah sang tuan besar.
Dengan sayang tuan Park menyibak rambut Donghae yang terasa basah dan lengket karena keringat dingin yang entah sejak kapan mulai keluar dari tubuh Donghae. Dengan telaten tangan masih nampak kokoh itu mengambil baskom kemudian mengisinya dengan air. Mengambil handuk kemudian mengompres kening Donghae.
Jujur saja, dalam hati kecil taun Park, ia sangat senang dapat sedekat ini dengan putra bungsunya. Beberapa hari Donghae tinggal disini, Donghae sama sekali tak menunjukkan sikap baik padanya. Donghaenya yang dulu saat masih kecil sangat baik dan penurut, sekarang berbanding 180 derajat. Donghae bersikap dingin padanya. Tak pernah mau berbicara padanya, bahkan lebih parah lagi Donghae mulai berani berontak. Seperti saat ini, Donghae yang nekat kabur. Terkadang ia bahkan iri melihat Donghae yang bermanja ria pada Jungsoo.
Ia sadar jika Donghae sedikit atau mungkin membenci dirinya karena ia memisahkan Donghae dengan adiknya. Anak dari mantan istri yang masih sangat dicintainya. Ia tak sanggup melihat buah hati dari penghianatan yang dilakukan Kim Hanna padanya. Masih terekam dengan jelas diotaknya saat melihat sang istri tengah berciuman panas dengan pria lain dan itu adalah tuan Cho.
Saat itu ia baru saja pulang dari Singapura untuk menghadiri rapat pemegang saham yang dilaksanakan disana. Dan tak tahunya ketika ia pulang, ia menemukan pemandangan yang membuat hatinya hancur berkeping melihat penghianatan yang dilakukan oleh sosok yang teramat ia cintai.
Dan setelahnya ia hanya diam. Tak berniat mengungkap apapun tentang ia yang sudah mengetahui penghianatan yang telah dilakukan istrinya. Ia mencoba bersabar. Berharap dengan kesabarannya ini sang istri menyadari kesalahannya.
Namun dirinya salah. Sang istri bahkan sudah bermain lebih jauh dari ada apa yang ia bayangkan. Membuatnya mengambil keputusan untuk bercerai dengan belahan jiwa yang telah tega padanya.
Dan sejak saat itulah, sikapnya yang hangat dan kebapakan seolah terganti dengan es. Ia sangat dingin dan nampak kejam dihadapan semua orang, kecuali kepada Jungsoo kecil yang saat itu bersamanya.
Sebeku apapun hatinya, namun dia adalah seorang ayah yang memiliki rasa sayang yang teramat kepada putra-putranya.
.
"Appa Donghae sudah pulang?!" Jungsoo yang barus saja memasuki rumahnya segera berjalan cepat menuju kamar sang dongsaeng setelah diberitahu pak Jang tadi.
Jungsoo tertegun melihat sang appa yang dengan telaten merawat dongsaengnya yang nampaknya sedang demam itu. Hatinya menghangat ketika mengingat dulu ketika masih kecil sang appa juga rela menungguinya semalaman ketika ia sedang sakit. Ah! Kenapa ia jadi iri begini.
Jungsoo menggelengkan kepalanya. Itu sudah berlalu Jungsoo, kau jangan iri begitu. Salahmu sendiri telah membuat appamu kecewa hingga perlakuan dingin itu kau terima.
"Ah, kau sudah pulang..." nada suaranya datar. Tuan Park berdiri dari tempat duduknya "Periksa dan rawat dongsaengmu! Aku ada sedikit pekerjaan yang harus kuselesaikan" tuan Park berlalu setelah mengucapkan itu.
Kini tinggalah Jungsoo yang mulai memeriksa keadaan dongsaengnya menggunakan stetoskop miliknya.
.
.
.
27 Agustus 2004
"Ugh..." suara lenguhan pelan itu terdengar dari bibir yang nampak mulai berwarna milik Donghae.
"Pusing..." dengan reflek tangan kanannya memengang kepalanya yang terasa pusing. Eoh? Ada kompresan di keningnya. Siapa yang merawatnya?
Dengan segera telinganya dapat menangkap suara dengkuran halus seseorang yang sedang tertidur dalam keadaan tertelungkup disamping ranjangnya. Ada Jungsoo disana. Ah pasti hyungnya ini yang merawatnya.
Dengan perlahan Donghae bangkit, susah payah ia mendudukan diri, melakukannya setenang mungkin agar tidak mengganggu tidur lelap sang hyung. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya yang masih teras lemas dikepala ranjang.
Diliriknya jam weker disampingnya, jam yang masih berdetik itu menunjukkan pukul 3.45 pagi. Ini masih sangat pagi, dan nampaknya ia terbangun karena terlalu lama tidur. Entahlah, ia lupa. Tidur? Tidak, ia pingsan tadi. Jadi saat ini ia baru saja tersadar dari pingsannya kah?
Dirabanya lagi keningnya, sedikit hangat, ia demam ternyata. Tentu saja dirinya pasti demam, mana ada orang yang tidak demam setelah hujan-hujanan kemudian berjalan-jalan dengan baju basah kuyub selama berjam-jam.
"Kyuhyunie..." lirih Donghae menyerupai bisikan "Dimana kau saeng...?" Air mata perlahan mengalir menuruni wajahnya. Semakin deras disetiap detiknya saat ia mengingat bagaimana keadaan sang dongsaeng.
Dongsaengnya sedang sakit, bagaimana mungkin Kyuhyun pergi begitu saja. Atau anak-anak panti mengusirnya saat ibu tidak ada? Atau mungkinkah? Mungkinkah Kyuhyun pergi mencarinya? Kyuhyun terlalu lama menunggunya. Ia tahu dengan jelas Kyuhyunnya tak bisa jauh darinya.
"Hiks...Kyuhyunie...mianhe, maafkan hyung saengie..." rasa bersalah memenuhi hati Donghae, mengapa dirinya tak bisa menjaga Kyuhyun. Bisa-bisanya dia meninggalkan Kyuhyun di panti berisikan anak-anak yang jelas-jelas membenci dongsaengnya yang tengah sakit itu meskipun terpaksa. Bagaiman jika semua itu benar? Bagaimana jika terjadi suatu hal buruk pada Kyuhyun? Satu hal yang sangat ia khawatirkan, KYUHYUNNYA SEDANG SAKIT!
"Hikkss..." isakannya mulai terdengar semakin keras hingga mampu membangunkan Jungsoo yang tengah lelap dalam tidurnya.
"Hae...?" Penglihatannya belum terkoneksi dengan otaknya. Maklum saja, ia baru bangun tidur.
"Astaga Hae!" Jungsoo langsung bangkit untuk memeluk Donghae saat menyadari apa yang terjadi. Dongsaengnya menangis begitu pilu saat ini.
Dibiarkannya dongsaengnya menangis dipundaknya, dibiarkannya sang dongsaeng melepaskan segala kegundahan hatinya melalui tangis itu.
Jungsoo tahu apa yang menyebabkan Donghae seperti ini, tentu saja, siapa lagi jika bukan Kyuhyun. Kyuhyun yang diketahuinya menghilang dari panti asuhan.
Benar, ia sudah mengetahui itu. Saat berputar-putar mencari Donghae selama hampir setengah hari bahkan merelakan absensinya satu hari di tempat kerjanya, ia baru terpikir untuk mengunjungi panti asuhan dimana Kyuhyun berada. Bodohnya dia, tempat mana lagi yang akan dituju Donghae selain panti asuhan itu. Bukankah Donghae tadi mengatakan jika ia akan menjemput dongsaengnya, pabbo Jungsoo.
Dan ketika ia sampai disana...yah, jawaban yang sama Jungsoo dapatkan dari nyonya Go.
"Hae...apa yang terjadi?" Tanya Jungsoo lembut pada Donghae yang telah nampak tenang.
"Kyuhyunie..."
"Sssttt... Hyung tahu, kita akan mencarinya bersama-sama ne?!"
.
.
.
'Jepret'
'Jepret'
'Jepret'
"Tuan Kim, mengapa anda memilih untuk mengadopsi seorang putra?"
"Bukankah anda sudah memiliki penerus?"
"Tuan Kim, apa ini karena putra anda yang memilih profesi sebagai dokter? Sehingga tidak dapat menggantikan anda?"
Suara bidikan kamera juga pertanyaan beruntun dari para wartawan bergema kelas di sebuah aula sebuah hotel bintang lima tempat tuan Kim yang berniat mengumumkan putra barunya pada publik.
Tuan Kim nampak berpakaian elegan dengan setelan jas mahalnya. Tak lupa senyum lebar tersunging dibibirnya.
Tuan Kim mulai menjawab satu persatu pertanyaan para wartawan itu "Ini tidak ada hubungannya saya memiliki penerus atau tidak. Niat saya mengadopsi anak ini adalah hanya untuk membantunya, saya merasa sangat bersimpati ketika menemukannya tersesat dijalan dan dia bipang bahwa dirinya yatim piatu, jadi tidak ada salahnya jika saya mengangkatnya menjadi putraku"
"Tuan Kim, anda pasti akan dikenang sebagai salah satu pengusaha dengan hati malaikat" puji seorang wartawan.
"Ahh tidak begitu juga" tuan Kim mencoba merendah, padhahal didalam hatinya ia tertawa puas berhasil membohongi para media dengan cerita khayalnya.
"Lalu siapa nama putra angkat anda tuan Kim, mengapa anda tidak membawanya ke depan media?" Tanya seorang reporter wanita.
"Saya belum menyiapkan nama yang cocok untuknya. Dan lagi dia sangat pemalu, jadi maaf jika saya belum bisa memperlihatkannya secara langsung pada teman-teman media"
.
.
.
'Klik'
Dengan beringas Heechul menejan tombol off di remote tvnya. Mematikan siaran langsung yang tengah terpampang di televisi tersebut. Siaran mengenai tuan Kim, yang adalah appa dari seorang Kim Heechul mengadopsi seorang anak.
"Orang tua itu, apa maksudnya? Mengadopsi anak hah?" Heechul kesal bukan main. Jangan kaget jika Heechul menyebut ayahnya sendiri dengan sebutan yang.. yah, agak sedikit tak sopan. Ia memang seperti itu. Tak ada yang mempermasalahkannya.
Bukannya apa, appanya sama sekali tak memberitahunya mengenai rencana ini.
Hey, dia adalah anaknya, setidaknya dirinya harus tahu lebih dulu dari mulut orang tuanya sendiri dibandingkan tahu melalui siaran televisi? Sungguh tidak elit sama sekali untuk Kim Heechul.
"Heh, nampaknya aku harus pulang kerumah sepulang kerja!"
Heechul bertekad pulang kerumah orang tuanya, memang selama ini ia tinggal seorang diri di apartement miliknya dengan alasan lebih dekat dengan rumah sakit tempatnya bekerja. Orang tuanya harus menjelaskan tentang alasan dibalik ini semua. Dia sangat mengenal sang appa, mana mungkin appanya mau memelihara anak yang bukan anak kandungnya.
.
.
.
Kim Yura hanya memandang sebal sesosok namja kecil yang sedari tadi terus menerus menangis lirih , terbaring diatas ranjang dibalik selimut tebal yang dikenakannya. Jika dihitung-hitung hampir setiap hari sejak berada disini Kyuhyun terus-menerus menangis sambil memanggil-manggil nama 'Hae' yang Kim Yura sendiri tak tahu siapa.
"Hey bocah! Berhentilah menangis, apa kau tidak lelah huh!" Bukannya menenangkan, nyonya Kim ini malah membentak Kyuhyun kecil, hingga bocah itu nampak ketakutan.
Dengan kasar yeoja itu menghembuskan nafasnya kemudian mendekati Kyuhyun. Manatap bubur yang masih utuh berada dinakas sebelah ranjang. Saat ini Kyuhyun tengah demam, ia menyuruh salah seorang maidnya membuatkan bocah kecil ini bubur, dan nyatanya tak tersentuh sama sekali.
"Kau ini sedang demam, kenapa tidak makan sama sekali huh!" Meski kesal, nyonya Kim tak mungkin mengabaikan anak yang sedang sakit begitu saja.
"Hiks...Hae hyung..." Kyuhyun sama sekali tak menghiraukan apapun yang dikatakan nyonya Kim. Ia sendiri tengah sibuk terisak karena merindukan sang hyung.
"Yura-ah!" Terdengar suara teriakan tuan Kim dari depan. Dengan segera nyonya Kim beranjak nenghampiri sang suami yang nampaknya sedang gembira itu, nampak jelas dari nada suaranya tadi.
"Ne, ada apa kau teriak-teriak begitu?" Tanya nyonya Kim kepada sang suami yang tengah tersenyum sumringah kepadanya.
"Kau tahu...! Rencanamu berja an mulus, dan kini orang-orang bahkan memujiku sebagai malaikat"
"Jinja? Ah, aku memang benar-benar pintar menanfaatkan situasi"
"Maka dari itu, hari ini aku akan mengajakmu berbelanja sepuasmu sebagai hadiahnya. Bagaimana?"
"Belanja? Tentu saja aku mau. Kajja!"
Kedua Kim senior itu pergi menuju pusat perbelanjaan elit di Seoul. Bahkan saking bahagianya, nyonya Kim melupakan Kyuhyun yang saat ini sedang sakit.
.
Sepeninggal nyonya Kim, Kyuhyun yang sedari tadi terbaring lemah di tempat tidur mulai meringkukan badannya menahan sakit. Tangannya meremat seprai dengan kuat. Bibirnya yang sewarna salju kini mengeluarkan erangan-erangan tertahan. Erangan yang semakin keras berbanding lurus dengan intensitas rasa sakit yang kini mendera tubuhnya.
Demam bagi penderita leukimia bukanlah hal yang main-main. Hal ini bisa menandakan ada sesuatu yang tak beres dengan tubuhnya. Namja kecil itu mulai sibuk mengatur nafasnya yang terasa sesak. Oh, paru-parunya ini benar-benar tak bisa diajak bekerja sama.
Rasa sakit menjalar sepanjang tulang belakangnya membuatnya harus terus menerus menekuk tubuhnya. Kyuhyun sama sekali tak berani meluruskan tubuhnya, ia takut tak dapat menahan rasa sakit jika punggungnya yang diyakininya telah banyak terdapat lebam kebiruan itu tertekan sedikit saja, bahkan dengan barang lembut macam kasur.
Beberapa bagian tubuhnya juga terdapat lebam biru, tanda jika terjadi pendarahan dalan yang terasa amat sakit jika mendapat tekanan lembut. Bahkan saat inipun Kyuhyun merasa ada rasa anyir darah didalam mulutnya. Mungkin gusinya juga mengalami pendarahan.
"Sakit..." air mata saat ini mengiringi sebuah kata yang mewakili semua yang tengah dirasakannya.
'Tess'
Sebuah titik berwarna merah pekat terukir jelas diseprai berwarna baby blue itu.
'Tes'
'Tes'
Tetesan sewarna darah itu mulai banyak berjatuhan, membuat banyak noda di seprai yang mulanya bersih.
Kyuhyun hanya dapat terdiam, memandang nanar tetesan darah yang berasal dari hidungnya itu, tubuhnya terasa lemas dan sakit, ia tak mampu menggerakkan tubuhnya, hanya bisa terdiam ditengah kesakitannya dan tarikan nafasnya yang berat.
"Hyungie.. sakit...hiks...hh...sesak.."
.
'Brak'
Dengan kasar Heechul membuka pintu besar di rumah orang tuanya. Sungguh tidak sopan, tapi, hey ini rumah orang tuanya yang berarti adalah rumahnya juga bukan? Jadi untuk apa menjaga sopan santun. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Heechul.
"Hey! Katakan padaku dimana appa dan umma berada" tanya Heechul dengan nada tak sabar sekaligus membentak kepada seorang gadis muda berpakaian maid yang kebetulan lewat didepannya.
"Mi-mian tuan. Anda siapa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah bertanya dengan gugup kepada sosok namja berwajah cantik dihadapannya.
"Kau tidak tahu aku?" Heechul menunjuk dirinya sendiri dengan wajah semakin kesal. Bisa-bisanya orang yang bekerja dirumah appa dan ummanya ini tak tahu kalau kedua majikannya ini memiliki putra tampan seperti Heechul.
"Kau maid baru ya? Kalau begitu kuberitahu kau.. Aku adalah putra tuan dan nyonya Kim, dengan kata lain aku juga majikanmu nona"
Gadis muda itu terbelalak kaget dan langsung membungkukan badannya berulang kali meminta maaf "Maaf...maaf tuan, saya benar-benar tidak mengetahui hal ini. Saya masih baru disini... Mohon jangan pecat saya!"
"Aishh...sudahlah" Heechul mengibas-ngibaskan tangannya tidak peduli "Cepat katakan padaku dimana appa dan umma!"
"Mianhe tuan, saya tidak tahu tuan dan nyonya besar kemana, yang jelas saya tadi melihat mereka pergi"
"Ah...begitu, baiklah kau boleh lanjutkan pekerjaanmu"
"Baik tuan" gadis muda itu membungkuk kemudian pergi.
"Astaga!" Heechul menepuk dahinya sendiri "Kenapa aku tidak tanyakan tentang anak yang baru saja diadopsi appa"
"AAA!" Tiba-tiba terdengar teriakan yang memekakan telinga membuat Heechul terkejut.
Sontak saja Heechul langsung menuju arah datangnya suara yang nampaknya berasal dari salah satu kamar dengan pintu yang terbuka itu.
"Ada apa?" Tanya Heechul pada seorang maid paruh baya yang saat ini nampak mematung. Tubuhnya bergetar dengan jari menunjuk kearah ranjang.
"Ya tuhan! Kenapa dengan anak kecil itu?!" Heechul ikut berteriak begitu menengok ke arah ranjang dan bergegas ke sana. Terlihat disana, diatas ranjang terlihat sesosok namja kecil dengan keadaan mengenaskan.
Posisi namja kecil itu tertelungkup, hingga Heechul tak dapat melihat wajah si namja kecil. Yang jelas ada cairan menggenang serupa darah yang membuat Heechul ikut panik.
Dengan segera Heechul memeriksa keadaan namja kecil itu. Dikeluarkannya segala kemampuan medis yang dimilikinya. Mulai dari memeriksa pernafasan, denyut jantung dan respon tubuh.
Lemah, semuanya lemah. Apalagi pernafasannya, namja kecil ini bahkan sudah tak dapat menghirup udara dengan benar. Hingga tak ada respon sama sekali saat Heechul menekan titik syaraf di beberapa bagian tubuh. Bahkan ia tak sengaja melihat lebam biru dibeberapa bagian itu. Lebam yang abnormal, lebam yang Heechul ketahui hanya dimiliki oleh penderita lekemia. Mungkinkah?
"Aku akan membawanya ke rumah sakit!" Seru Heechul melihat buruknya keadaan namja kecil ini.
.
.
.
Heechul memandang kasihan pada namja kecil yang terbaring lemah di ranjang pasien. Selang infus tertambat di lengan kirinya beserta trafusi sekantong darah. Bajunya yang tadi bersimbah darah pun telah dihmganti dengan pakaian khas pasien rumah sakit yang lebih nyaman.
Nampak sebuah masker oksigen menutupi mulut dan hidung mungil miliknya, membantu dalam mendapatkan udara meski nafasnya masih terlihat berat dan tersengal. Kyuhyun baru saja ditangani oleh para dokter. Kenapa tidak dia menangani Kyuhyun sendiri?
Heechul membawanya ke sebuah rumah sakit tak terlalu besar dekat rumahnya. Bukan Seoul hospital, terlalu jauh dan menghawatirkan jika Kyuhyun tidak segera ditangani. Jadi meskipun dirinya dokter, dia tak punya hak untuk menangani pasien di rumah sakit ini.
"Dari gejala fisik yang tampak, kami menyimpulkan pasien mengidap leukemia tahap berat. Namun untuk lebih jelasnya, kami masih memerlukan pemeriksaan selanjutnya"
Heechul mengingat perkataan seorang uisa paruh baya yang menangani Kyuhyun tadi. Dan gocha! Perkiraan dokter itu sama dengan perkiraannya. Bocah kecil ini mengidap leukemia.
"Aish...sebenarnya siapa bocah kecil ini. Apa mungkin ini bocah yang diadopsi orang tua itu?"
Heechul mulai berargumen akan keberadaan namja kecil yang bahkan dia tak tahu namanya.
.
.
.
20 Januari 2004
Seorang namja menatap dengan santai pemandangan memilukan dihadapannya. Seringaian puas tercetak dibibir miliknya. Matanya memandang sinis, tanpa ada sorot belaa kasihan sama sekali terhadap sosok dihadapannya.
Dihadapannya, Kyuhyun tengah berusaha keras menahan rasa sakit yang seolah ingin menyerbu tubuhnya secara bertubi-tubi. Tubuhnya berguling ke kanan-kiri mencoba mencari posisi nyaman untuk tubuhnya yang sedang bergelung dengan rasa sakit.
"Nikmati saja sisa hidupmu Kyuhyunie..." namja muda itu berkata pelan dengan nada mengerikan sambil memainkan suntikan yang telah kosong isinya, suntikan yang ia gunakan untuk mengalirkan zat asing ke dalam tubuh Kyuhyun.
Kyuhyun tak mampu berbuat lebih banyak saat ini. Ia hanya bisa terbaring lemah dengan nafas tersengal hebat, menunggu siapa saja menyelamatkannya atau membantunya keluar dari situasi yang menakutkan baginya.
Mata Kyuhyun yang nampak sayu memandang sedih namja yang telah melepas masker yang dipakainya itu. Dengan payah Kyuhyun berujar...
"H-hyung...hh... kenapa...ugh.. kau te-tega..hh.. la-kukan...ini...hhh.."
.
.
.
'Bough'
Secepat kilat, kepalan tangan Heechul membentur wajah mulus milik Jungsoo. Jungsoo yang sedang sibuk dengan beberapa laporan cek up para pasiennya ini sontak saja memandang kaget.
"Apa-apaan kau!" Jungsoo bangkit dari jatuhnya dan menghampiri Heechul.
"Kau yang apa-apaan! Kenapa kau meracuni Kyuhyun hah?! Kau tahu dia kembali kritis karena perbuatanmu!"
"MWO?"
.
TBC...
