"Ada apa, Luce?" ucap Natsu menyadarkanku.

"Ah.. tidak, aku.." aku gugup, tidak bisa menjawab dengan benar. Natsu menatapku dengan kening berkerut, menungguku. Iris gelapnya yang indah membuat dadaku sesak dan perasaanku membuncah. Ini saatnya untuk berterus terang. "Aku masih ingin bertemu denganmu, Natsu," jawabku jujur.

Natsu terkejut mendengar pernyataanku. Irisnya melebar dan mulutnya terbuka. Aku menunduk malu, sedikit menyesali ucapanku. Tapi kemudian sebuah tangan hangat mengelus kepalaku dengan lembut. Aku menangkap manik gelap Natsu, dan senyum lembut terukir di wajahnya. "Jangan khawatir, Luce" ucapnya menenangkan.

Aku sedikit tidak mengerti maksudnya. Tapi hati kecilku sedikit bersorak riang. Mengambil kesimpulan bahwa Natsu mengijinkan aku terus bertemu dengannya..

.

.

.

Unlucky?

.

.

.

Fairy Tail (c) Hiro Mashima

Warning: AU, OOC, Typo(s), Bad Diction, Mature Content, dan segala keanehan lainnya yang menyertai

.

.

^DLDR^

.

Aquaflew

present

.

Aku membanting tubuhku di atas tempat tidur dan meresap wangi seprai kesukaanku. Ughh, aku sangat merindukan kamarku! Aku mendengar suara tawa seseorang di belakangku, Natsu. Ia mengantarku pulang karena Cana tidak bisa menjemput.

Aku segera terduduk, mengamati Natsu meletakkan barang-barangku di lantai apartemen dan mengucapkan terima kasih. Ia menuju ruang tengah, sementara aku melesat ke arah dapur dan mengambil minuman. Well, dia tamu istimewaku. Aku duduk di sampingnya di ruang tengah, dan menyalakan televisi. Aku mengulurkan minuman kaleng padanya.

"Minumlah.. Apa kau suka jus?"

"Ya. Terima kasih," ucapnya. Natsu membuka segel penutup kaleng sebelum meminumnya.

"Apa kau akan segera pergi? Maksudku, apa kau sibuk?" tanyaku pelan.

Natsu sedikit berdeham, "ya, lumayan. Tapi aku sedikit senggang hari ini."

Aku tersenyum mendengarnya. "Maukah kau menemaniku? Kalau kau tidak punya urusan lain.. maksudku, aku ingin mengucapkan terima kasih, dengan memasakkanmu sesuatu," terangku gugup.

"Tentu saja, Luce. Aku ingin merasakan masakanmu," ucap Natsu sambil terkekeh.

Tangannya yang besar membelai kepalaku. Membuatku sedikit menahan napas. Wajahku memerah saat menatapnya, iris gelapnya masih saja mempengaruhiku. Entah siapa yang memulai, jarak diantara kami perlahan terhapus dan bibir kami bertemu.

Aku merindukannya. Aku merindukan berciuman dengannya.

Bibir Natsu mengecupku dengan lembut. Menyusuri setiap inci sudut bibirku dengan kecupan memabukkan. Sebelah lengan Natsu menyusup ke belakang leherku dan memijatnya. Lengannya yang lain memeluk pinggangku erat, hingga dada kami saling menempel.

Aku membalas ciuman Natsu dengan mendamba. Suara erangan hasrat mengiringi kegiatan kami. Jemariku menariknya mendekat, melingkari lehernya, dan sedikit memiringkan kepalaku memperdalam ciuman kami.

Lidah basah Natsu membelai celah bibirku, memohon agar aku memberikan akses ke dalamnya. Lidahnya melesak masuk saat bibirku terbuka. Kecapan manis terasa saat lidahnya menekan lidahku, membelitnya, dan menjelajah di rongga mulutku.

Eranganku lolos begitu saja saat Natsu mulai menghisap pelan bibir bawahku. Lidah kami beradu dan saling bertukar saliva. Jemariku mengepal di surai uniknya, menarik helaian merah muda lembut itu dan membuatnya semakin berantakan. Tubuhnya semakin bersandar padaku, mendesakku menempel pada pinggiran sofa. Kami masih berciuman panas dan menuntut, sebelum udara semakin menipis, dan tautan bibir kami terlepas.

Dahi kami saling menempel. Ujung hidung kami saling bersentuhan. Bibir kami hanya berjarak beberapa senti. Wajahku memerah seperti kepiting rebus, aku yakin. Dan aku menatap Natsu yang masih memejamkan mata, ia tampak bernapas dengan teratur. Tidak sepertiku yang meraup pasokan udara dengan rakus seperti habis berlari maraton. Aku tersenyum kecil. Ciumannya memang luar biasa.

"Ahhh," desahku saat sesuatu yang keras menggesek diantara kakiku yang terbuka.

Natsu membuka kelopak matanya dan menatap tepat ke irisku. Senyuman jahil tergambar di wajah tampannya. Kedua lengannya sudah berada di antara kepalaku, menjadi tumpuan badan kekarnya. Aku merasa seperti terbakar ketika menyadari bukti gairah Natsu terus menggesekku. Aku menggeliat di bawah kukungan tubuh atletisnya. Dada kami saling menempel, dan tubuh Natsu semakin menindihku.

"Tenanglah, Luce.." desis Natsu. "Kau membuat tubuh kita saling bergejolak," suara berat Natsu seolah menandakan ia sedang menahan sesuatu. Jantungku berdegup kencang. Aku yakin ia menyadarinya mengingat dada kami saling menempel.

Natsu menyusupkan wajahnya ke perpotongan leherku. Bibirnya mengecup sepanjang leherku hingga mencapai telingaku. Ia meniup pelan daun daun telingaku sebelum mengulumnya dan membuat seluruh tubuhku bergetar menghantarkan listrik statis. Sial, dia berniat menggodaku.

"Lucy.." Erang Natsu diikuti ereksinya yang masih menggesek pangkal pahaku. Ciumannya berpindah menuju leherku dan berlama lama di sana. Natsu menjilat dan menggigitinya. Meninggalkan jejak basah dan ruam-ruam kemerahan.

"Enghh…" napasku semakin terengah dan tubuhku semakin memanas. Ciuman Natsu mendesak kerah kaos biru yang ku kenakan, menariknya dengan giginya agar memperlihatkan kulit di bawah leherku. Lidahnya menyapu sepanjang kulitku, membasahinya dan memberikan sensasi hangat dan basah. "Na-Natsu.." desahku semakin tidak tertahankan. Lidah Natsu merambat di belahan dadaku dan berlama-lama di sana. Menggelitik kulit sensitifku dan membuatku menggelinjang. Dadanya yang menempel semakin mendesakku. Sesak dan gairah kami mencapai ubun-ubun.

Natsu mengerang keras sebelum bangkit dari tubuhku. Rambut dan pakaian kami sama-sama berantakan. Kami terengah-engah, aku tetap pada posisi berbaringku. Merapatkan kakiku yang terbuka, berusaha menutupi bagian bawah yang sejak tadi mulai basah. Dalam hati bersyukur mengenakan celana pendek, bukan rok mini seksi yang tadi ku perhitungkan.

Kami masih terdiam. Napas terengah Natsu sudah mulai teratur kembali. Aku bangkit dan duduk, melipat kakiku dan memeluknya. Dadaku masih berdegup kencang, tidak berani melirik pria di sampingku.

"Maaf," ucap Natsu akhirnya. Aku menoleh padanya. Antara terkejut dan bingung. Pria itu bangkit dan tanpa melihat mataku, ia mengusap kepalaku sekilas. "Beristirahatlah hari ini," bisiknya seraya melangkah pergi.

Aku menggigit bibirku. "Kenapa?" ucapku, membuat langkahnya terhenti sejenak, "kenapa kau memperlakukanku seperti ini?"

"…"

"Apa kau merasa aku tidak pantas? Karena telah di sentuh oleh maniak menjijikkan itu?" isakan kecil lolos dari bibirku.

Aku merasa terhina dengan sikapnya. Menciumku tiba-tiba, membuatku berharap lebih, dan akhirnya hanya meninggalkanku tanpa penjelasan. Apa aku sangat tidak pantas? Butiran air mata meluncur begitu saja, menganak sungai di kedua belah pipiku. Aku menyapunya dengan kasar, tidak ingin terlihat lemah. Tidak akan.

"Selamat siang, Luce. Sampai jumpa," ucap Natsu akhirnya dan melangkah pergi begitu saja.

Tidak ada suara isakan memilukan yang terdengar. Hanya air mata bisu yang terus membanjir keluar membasahi wajahku. Ya, aku menangisinya dalam diam. Cukup untuk menyadarkan pemikiran naïfku, bahwa aku tidak berarti apa-apa baginya.

.

~Lucy POV End

.

.

Di depan sebuah pintu apartemen, seorang pria hanya terdiam seraya bersandar. Wajahnya tidak terlihat karena helaian uniknya menutupi wajahnya yang menunduk. Tangannya terkepal erat. Punggungnya terlihat rapuh. Wajahnya sejenak menengok ke arah pintu di belakangnya sebelum pergi dengan langkah putus asa. "Maaf, Luce.." bisiknya.

.

.

.

TBC

.

A/N:

GYAAAA ini makin kesini kayaknya makin gajeeeeee! T_T myaaaa maafkan saya Minna-san, otak saya sedang berkabut. Pengen banget lanjutin MC saya yang lain, tapi masih kesulitan nulisnya! Sedikit buka kartu, saya belum bisa menentukan antara membuat konflik yang rumit apa yang sederhana T,T *plak*

TERIMA KASIH BANYAK buat kalian yang meninggalkan jejak, saya sangat senang membaca reviewnya, hehe. Maaf belum bisa membalasnya :') PM terbuka kalau mau menanyakan sesuatu.*modus* Nah, maafkan saya karena tidak bisa menyajikan word panjang, biar ngeditnya gampang ;) *dikubur* sampai jumpa akhir UAS yaaa :))/~ *kabur*

P.S: saya ingin menghadiahkan fic lemon untuk yang kemaren pertama kali review :) yaitu Fic of Delusion, tapi.. Update fic itu akan lama walaupun sudah sepertiga jalan XD :) #duar Nah..sampai jumpa,Minna-san

.

.

RnR, Please?