Love (or Fangirl?) Detected

Vocaloid © Yamaha. No commercial profit taken.


"KYAAAAAH!"

Suara teriakan nan berlegenda itu memenuhi seluruh perkomplekan suatu gadis. Seseorang dengan suara risau membalas jeritan gadis tadi.

"Biasa aja dong, Li. Seperti tidak pernah pergi ke AnimeComic aja," ucap seseorang di ujung telepon layaknya bergumam. Merli, nama gadis yang tadi menjerit itu, menjulurkan sedikit lidahnya, memasang pose seimut-imutnya. Namun berpose semenggelikan apapun, lawan bicara teleponnya tentu tidak dapat melihatnya.

Karena Merli tidak merasakan tanda-tanda respon dari sahabatnya, maka ia berbicara setelah berpose sekitar satu menit. "Ya sudah, besok kita bertemu di tempat kerja ya," ucap Merli dengan nada suara yang agak menjijikan. Lawan bicaranya yakni sahabatnya sendiri, aku yakin dia sedang menyerit.

Beberapa detik kemudian, telepon diputus. Merli merentangkan dirinya di ranjang dan berguling-guling senang. Digigitnya ujung bantal miliknya. Senyuman yang tertahan merekah bagaikan bunga. Setelah puas berguling-guling, Merli mengatur napasnya sambil tertawa.

Gadis itu melirik sedikit ke arah laptop dan pentab miliknya. Pandangannya teralih lagi menuju lemari berukuran besar. Ia segera bangun, membuka lemari bewarna putih itu dan memejamkan matanya. Ia dapat merasakan hembusan angin luar biasa yang keluar saat lemari tersebut dibuka. Yah, semua itu hanya ilusi sesaat, tapi perasaan Merli memang dapat digambarkan seperti itu. Deretan buku manga cantik tersusun rapi, tidak lupa di bagian paling bawah laci terdapat bermacam ragam merchandise karakter yang begitu manisnya.

Wajah Merli terlihat begitu kalem dan mengambil sebuah buku diantara banyak buku yang lain. Ia mengelusnya sambil mengeluarkan suara seperti dengkuran kucing. Namun kalau diperhatikan, sampul buku yang sedang dielus itu mirip dengan karakter dalam laptop Merli yang sedang menyala. Tidak, itu malah sama persis! Namun pose dan latarnya begitu berbeda.

Gadis itu kembali menatap laptopnya. Ia menscroll beberapa gambar di sana. Tidak diragukan lagi, gambar-gambar di laptop Merli sama persis dengan isi dalam buku tadi. Gadis itu mengeluarkan cengirannya.


"Selamat siang!"

"Selamat siang, Merli," ucap beberapa orang dalam kantor. Setelah menyapa, orang-orang tadi kembali bertekun dalam pekerjaannya masing-masing. Merli celingukan, mencari sesosok gadis yang sangat ia kenal. Begitu ia menemukannya, Merli langsung berlari dan memeluk gadis itu dari belakang.

"NANA!" ucap Merli di tengah pelukannya. Gadis berambut pirang yang sedang dipeluk menutup telinganya dan mendesis tajam.

"AISH," desis gadis tadi. Nama pena gadis itu adalah Sweet Ann, namun Merli memanggilnya Nana. Merli hanya melukiskan garis lengkung di sekitar bibirnya, menyunggingkan senyuman manis.

"Oke," seorang laki-laki berdiri di tengah ruangan, membuat para orang yang sedang bekerja mengalihkan perhatian mereka dan bersiap mendengarkan pengumuman. Ann maupun Merli tampak tidak lebih gelisah dari teman kerja mereka. "Dalam event besok di AnimeComic, di sanalah kita pertama kali 'menduniakan' komik kita. Sekaligus merayakan ulang tahun TimeBlass ke-1, kita akan mengadakan launching besar-besaran. Beberapa diantara kalian pasti sudah diberitahukan oleh Sweet Ann, bukan?"

Walaupun kemarin Merli telah mendengar pengumuman itu, dadanya tidak berhenti berdebar-debar. Senyuman yang sedari tadi merekah dalam wajahnya tidak terlihat akan sirna. Rasanya ia ingin berteriak saat itu juga.

"Besok saat event, kalian akan menemukan beberapa cosplayer yang akan menjadi mascot TimeBlass." Pengumuman singkat itu menimbulkan banyak pertanyaan dari para pekerja di ruangan itu. Tentu saja Ann dan Merli ikutan melongo. Tentu Ann sudah memberitahu ke Merli. Mereka kira dengan masuk kantor hari ini, mereka akan mendapat informasi yang mendalam. Tapi sama seperti yang Ann sampaikan. Hanya satu kalimat itu.

Sebelum banyak yang menyadari keganjilan dari informasi tersebut, sang pengumum, Longya, sudah kembali bekerja, merasa cuek dengan karyawan-karyawan lain yang masih berpikir.

Merli kembali ke tempat duduknya, yaitu di seberang Longya, beda tiga bangku dari Ann. Tidak berusaha menggali informasi lagi, ia membuka tasnya dan mengeluarkan laptopnya serta pentabnya. Setelah ia memasang alat di laptopnya, Merli hanya bertopang dagu dan mencoret-coret kanvas dalam program komputer itu.

Dalam hati sebenarnya ia sudah sangat tidak sabar untuk besok. Namun di sisi lain ia sangat kebingungan dan merasa sangat ingin tahu soal besok. Semoga besok cepat datang…


Merli menguap begitu sampai di depan gerbang AnimeComic. Gadis itu merentangkan tangannya sambil memancarkan senyuman lebar, lalu berjalan memutar menuju pintu staff.

Dari pintu staff untuk menuju bagian booth untuk berjaga, para staff harus melewati pintu ruang para cosplayer. Dengan usil Merli mengintip ke dalamnya. Dengan cepat ia mengenali karakter yang sedang diperankan para cosplayer. Ada yang menjadi putri duyung, karakter yang menggunakan baju besi, yang berpakFaian seksi, yang bertubuh mungil dan lainnya. Namun ia tidak dapat melihat satupun karakter dari perusahaan komiknya. Gadis itu menghela napas kecil dan lanjut berjalan.

Begitu sampai di booth tempat ia harus berjaga, ia dapat melihat Ann dan kakak laki-lakinya, Longya, sudah ada di sana dan sibuk menyusun barang-barang mereka. Longya, laki-laki tidak banyak bicara itu dapat menangkap sosok Merli dalam matanya dengan cepat. Ia langsung melambaikan tangannya, menyuruh gadis itu menghampiri mereka.

"Nah, Merli duduk sini," ucap Longya menyuruh gadis berkulit hitam itu duduk.

"Aku duduk?" ucap gadis itu heran. Kenapa ia disuruh duduk dan tidak disuruh bantu membereskan barang jualan dan lainnya?

Ann langsung mengeluarkan sebuah papan nama dan mendirikannya di depan Merli. Papan itu tertulis, "Merli, komik manga Cinderella, gadis pemarah dan bersepatu tua". Merli melonggokkan kepalanya. Ia melihat beberapa papan lain dengan bermacam nama. Tapi ia merasa bahwa papannyalah yang paling panjang.

Tidak lama, teman-teman satu kantornya sudah hadir sambil membawa stok. Begitu gadis itu hendak berdiri, ia tidak dapat melakukan apa-apa. Semua teman kerjanya sudah mengambil alih setiap pekerjaan, dan yang bisa dilakukan Merli hanya duduk. Sebenarnya, jauh di dalam hatinya ia terasa sedih. Tapi mau bagaimana lagi. Alhasil yang ia lakukan hanya membuka pentabnya, menyambungkannya dengan laptop, lalu menggoreskan pena elektroniknya ke layar pentab. Sambil melamun, ia menggambar dengan rasa malas dan tidak bersemangatnya.

PLOK.

Merli terlonjak kaget. Ia segera menoleh ke belakangnya dan mendapati gadis berambut pirang menepuk pundaknya dengan kasar. Bukannya memandang tidak suka, Merli berbalik berdiri, memeluk Ann dengan gembira.

"Ada apa Nana?" ucap Merli mengembangkan senyuman. Ann juga tersenyum.

"Merli, kita ganti baju yuk."

"Hm? Tapi aku tidak bawa baju…"

"Tenang saja, Kakak sudah mengurus semuanya."

"Mengurus apa?"

Sebelum Merli terus-terus mengajukan pertanyaan, Ann menggandeng, atau lebih tepatnya menarik paksa, temannya memasuki ruangan cosplayer yang sudah mulai sunyi.

"Nana, kita mau ngapain?" ucap Merli mulai berkeringat dingin. Namun Ann hanya kembali berjalan, mencari-cari sesuatu tanpa memedulikan ucapan temannya yang kewalahan.

"Ah!" ucap gadis itu. Ia segera berbicara dengan seorang laki-laki dengan cepatnya dan menunjuk-tunjuk Merli yang tengah kebingungan. Laki-laki itu mengangguk, dan berbicara lagi dengan beberapa orang lain, kembali menunjuk Merli. Gadis itu sungguh ketakutan, entah apa yang direncanakan Ann.

Tak lama, laki-laki tadi menghapiri Merli, dan berbicara dengan logat yang aneh.

"Selamat pagi Nona, ijinkan saya mempermak anda," ucapnya. Setelah berbicara seperti itu, ia kembali berbicara dengan teman-temannya, namun dengan bahsa yang tidak Merli mengerti. Mungkin bahasa Spanyol, Portugis atau bahasa India.

Begitu Merli celingukan mencari Ann, gadis pirang itu sudah tidak dapat ia temukan. Merli berkeringat.


"Ah, sempurna!" ucap laki-laki gemulai tadi dan menepuk tangannya. "Kerja bagus, semua!"

Merli membuka matanya. ia tidak tahu apa yang diperbuat laki-laki itu kepada dirinya. Ia hanya merasakan tangan-tangan menyentuh rambutnya, menyentuh wajahnya, dan melepaskan pakaiannya saat digiring ke ruangan lain. Ia dapat melihat Ann tersenyum bangga.

"Kamu cantik sekali, Ann!" ucap Merli menggenggam tangan Ann. Sweet Ann yang sudah mengganti pakaiannya dengan sebuah pakaian manis berenda, atau dikenal dengan istilah Lolita, tersenyum sambil membalas menggenggam tangan Merli.

"Cermin!" ucap Ann. Beberapa orang yang tadi bersama laki-laki gemulai mengambilkan cermin berukuran besar dan menunjukkannya di hadapan Ann dan Merli. Kedua gadis itu berdampingan. Mereka sama-sama tercengang, melihat begitu manisnya diri mereka.

Merli menatap tubuhnya dari atas sampai bawah. Sepasang sepatu indah melekat pada kakinya, rok yang mengembang dan berpita begitu sesuai dengan tubuhnya. Seperti sudah dibuat khusus untuknya. Rambutnya yang bewarna biru gelap dikepang dan diberi bunga putih, layaknya seorang putri hutan.

Gadis itu menutup wajahnya, begitu bahagia.

"Lho? Merli, kok nangis!?"

"Enggak, enggak nangis kok," ucap gadis itu mengusap kedua matanya dengan lembut.

"Ayo kembali ke booth," ucap Ann mengandeng sahabatnya.

Begitu sampai di stand, para teman kerja mereka begitu terkejut. Mereka dapat dikatakan cukup mencolok, terutama Merli dengan kulitnya yang hitam di negeri berkulit putih ini.

"Kalian cantik banget," puji teman kerja mereka. Beberapa di antaranya bersiul pelan.

Ann dan Merli secara bergiliran digodai mereka, dengan pura-pura sesi acara salam dan tanda tangan. Ann tertawa geli.

"Dasar," ucapnya.

Begitu ramainya mereka, barulah Ann sadar hilangnya kakak laki-lakinya alias pemimpin TimeBlass. Namun ia hanya mengangkat bahunya, mengetahui saat tadi ia dipermak, muncul sebuah SMS yang tidak sempat ia baca. Pasti itu dari kakaknya.


Pukul 10.00, gerbang dibuka. Para pengunjung menyerbu bagaikan lautan manusia ke dalam gedung berukuran besar itu. Merli tersenyum kecil, saat beberapa pengunjung menyalaminya dan mengajaknya foto bareng. Bahkan ada beberapa yang begitu histeris saat menemuinya.

"KYAA! Kakak ini cosplayer, ya!? Kakak cosplay jadi Artariel, kan!?" ucap salah satu pengunjung. Artariel adalah sebuah tokoh yang diciptakan Ann, dalam komiknya yang berjudul Lorelei. Merli tersenyum dengan kaku begitu diajak foto oleh banyak orang. Ia tidak biasa dikerumuni orang banyak seperti ini. Menurutnya, seharusnya ia ada di belakang panggung, tersenyum menikmati hasil karyanya yang dinikmati banyak orang.

Begitu Merli menubruk punggung seseorang, para pengunjung makin menjerit. Ann yang sama kewalahannya dengan Merli, mengutuk dirinya sendiri yang menyiapkan ide gila macam ini.

"KYAA! Artariel dan Maura!" Maura adalah tokoh yang diciptakan Merli dalam cerita Cinderella, gadis pemarah dan bersepatu tua. Dalam cerita, baik Cinderella maupun Lorelei, kedua judul itu saling bersenimbangunan. Maura dalam cerita Cinderella merupakan saudara tiri dari Artariel. Artariel adalah gadis yang pergi mengembara. Dua cerita yang terajut menjadi satu alur.

Begitu kedua gadis itu secara berantian menoleh ke belakang booth yang sangat ramai, akhirnya salah satu teman kerja mereka, Bruno, melihat mereka. Merli memasang tampang memohon, sedangkan Ann memasang tampang tersiksa. Tanpa berkata-kata, Bruno menunjuk mereka ke luar sambil memandang tegas. Kedua gadis itu bertatapan.

"Mer," bisik Ann.

"Ya?"

"Aku rasa Bruno menyuruh kita untuk kembali bekerja, namun ke medan perang yang lebih sulit."

"Apa…"

"Kita harus maju, tidak boleh berdiri di sini terus."

Merli tersenyum palsu. Dengan cepat ia mengapit tangan Ann, dan berjalan sesantai-santainya, melewati kerumunan fans yang menggila.

Makin heboh, Ann membalas menggendeng tangan Merli. Mereka berdua saling berpegangan agar tidak jatuh terinjak atau terpeleset. Begitu mengerikan untuk mereka menggunakan sepatu hak 7 senti. Mereka berdua seperti anak rusa yang ditaruh di atas es. Mereka mengetahui, bahwa mereka sama sekali tidak bisa memakai sepatu berhak, maka mereka saling berpegangan.

Akhirnya, dengan keputusan yang sangat berat, keduanya berpisah. Mereka berjalan secara berlawanan arah. Mereka ingin membuka jalan dan memisahkan para pengunjung agar dapat mengakses booth mereka dengan mudah.

Setelah beberapa waktu, Merli dapat melihat di sela-sela orang banyak, Bruno dengan santainya menunjuk dirinya kepada beberapa orang yang menunjuk bangku yang seharusnya diduduki Merli. Gadis itu mendesis pelan. Beberapa orang tadi segera menghampirinya dengan mata lapar, sambil membawa buku buatannya dan bullpen.

Begitu ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain, ia melihat seorang laki-laki yang tampak familiar di matanya, sedang menyalami orang satu per satu. Ia begitu terbalak saat melihat laki-laki itu. Segera ia berlari pelan menghampiri orang itu, menghiraukan rasa sakit setiap menapakkan langkahnya. Dengan ragu ia menepuk pundak laki-laki itu. Merli terkesiap.

"Kau… Arases, kan?" ucapnya histeris. Arases adalah tokoh dalam cerita Cinderella, yang menjadi teman seperjuangan Maura. Perlu kita ketahui, Merli adalah seorang penulis dan mangaka yang sangat mencintai karakternya sendiri. Terdengar seperti orang sakit, memang. Tapi memang begitulah dia.

Gadis itu segera menggenggam tangan cosplayer Arases situ dan menyalaminya dengan antusias. Rasanya ia ingin berteriak saat itu juga. Tapi tangannya yang berkeringat dingin, menyalami si Arases ini membuat dirinya begitu minder. Segera ditarik tangannya, lalu tersenyum manis di hadapan Arases.

Merli tidak dapat berbicara apapun. Ia kehabisan kata-kata yang selama ini ia ingin tumpahkan di depan tokohnya sendiri. Bahkan ia bisa saja menangis terharu, melihat seseorang yang memerankan tokoh ciptaannya sendiri begitu dalam dan menghayati. Bahkan Arases ini memiliki bekas jahitan di dahinya yang tidak terlalu menonjol dalam penokohannya!

"ARASES!" para pengunjung melihat sang Arases dan berlarian menghampirinya. Merli yang mulai terseret arus menundukkan tubuhnya sedikit, agar mendapat cahaya penglihatan. Namun tiba-tiba saja, Arases mengangkat tubuhnya dengan mudah, menghindari anak itu dari kerumunan orang.

"Kau tidak apa-apa?" suara sosok Arases begitu indah dan menggiurkan saat didengar. Wajah Merli merah padam, agak tersipu. Ia mengangguk kecil. Arases segera menurunkan gadis itu dan membantunya menapak.

"KYAAAAAAA!" jeritan para penggemar memenuhi otak Merli. Ia langsung menutupi sebagian wajahnya menggunakan lengan baju. Gadis itu habis-habisan ingin mengembangkan senyuman, namun logikanya berkata tidak.

Arases yang melirik gadis itu dan mengetahui bahwa anak itu mati-matian menahan senyum, menggenggam erat tangan Merli. Merli tersentak kaget, wajahnya makin panas. Ia memejamkan matanya sambil setengah menggigit bibirnya.

Arases adalah tokoh dalam cerita Cinderella. Ia adalah seorang teman seperjuangan Artariel, yang sangat usil dan sering membuat suasana menjadi awkward. Leluconnya yang tidak lucu dan sifatnya yang bisa bikin gadis merah padam adalah ciri khas yang dimilikinya. Dan sang cosplayer ini, sangat memperdalam perannya sehingga begitu memahami apa yang diinginkan pengunjung. Sama seperti Merli, dia membuat penikmati tidak bisa menebak apa gerak-gerik berikutnya.

Bahkan Merlipun, penciptanya, tidak tahu apa yang akan dilakukan Arases ini.

Arases mendongakkan kepalanya. Merli terheran-heran dengan perilaku orang ini. Tiba-tiba saja ia berteriak dengan suara besar.

"Yak!"

Arases menarik tangan Merli, membawanya kabur. Gadis itu terheran-heran dalam hati. Ia mengikuti irama langkah sang Arases, namun setiap langkahnya, Merli menahan sakit yang berasal dari kakinya.

Setelah beberapa jauh mereka berlari, Merli tidak kuat lagi. Ia terjatuh. Arases segera menghentikan langkahnya.

"Ada apa?" ucapnya lembut.

Merli menggeleng pelan. Namun Arases dengan kesal menarik tangan Merli yang menutupi pergelangan kakinya. Dapat kita lihat, pergelangan kaki gadis itu lecet dan mengeluarkan darah. Merli menyerit saat Arases menyentuh pergelangan kakinya. Arases segera melepaskan selendang yang terikat di pinggangnya, dan membalut pegelangan kaki Merli yang berdarah. Setelah itu, ia berdiri dan mengulurkan tangannya.

"Bisa berjalan?" ucapnya dengan tenang. Merli meraih tanganya dan berusaha berdiri.

"Kalau pelan-pelan, bisa. Tapi untuk berlari lagi, entahlah," ucapnya berdiri dengan hati-hati.

"Tidak apa-apa, ayo kita berjalan dengan lambat dan santai," kata Arases menggandeng gadis berusia 18 tahun itu. Merli tersenyum dan mengangguk.

Mereka berjalan dengan nyaman, menikmati penuhnya gedung berlampu kelap-kelip. Mereka berdua tidak banyak bicara, hanya anggukan dan gelengan. Entah kenapa, Merli merasa nyaman sekali bersama Arases ini. Padahal mereka tidak saling mengenal. Namapun tidak tahu. Namun yang Merli tahu pasti, walaupun Arases adalah tokoh buatannya, Arases yang satu ini bukanlah Arases yang ia ciptakan. Arases yang ia ciptakan adalah Arases yang ramai dan selalu membuat suasana menjadi canggung. Tapi Arases yang ini adalah Arases yang tenang, sosok Arases yang jarang ia tampakkan.

Begitu ia tersadar, ia menyadari bahwa sedari tadi ia mengamati sosok Arases ini. Arasespun menoleh ke arahnya. Dengan rasa malu memenuhi dadanya, Merli memalingkan wajahnya. Benar-benar suasana yang awkward.

Sambil berjalan dan berpegangan tangan, Merli terus-terusan menutupi rasa malunya. Kadang saat bertemu pandang dengan Arases, bahkan walau hanya lirikanpun, gadis itu langsung menoleh ke arah lain. Beberapa kali mereka bertemu para pengunjung yang meminta foto dengan mereka. Kadang Merli yang tidak sengaja melihat Arases yang sedang difoto sambil dirangkul pengunjung membuatnya cemburu. Walaupun mungkin saja Arases tidak berpikiran hal-hal lain tentangnya. Mungkin saja dia hanya ingin membantunya.

"Astariel," Merli menoleh. Saat ia memalingkan wajahnya, menghadap sumber suara, Arases langsung menyematkan sesuatu di rambutnya. Dengan perlahan, gadis itu menyentuh benda itu. Sebuah bunga bewarna putih dan lembut menghiasi rambutnya yang bewarna biru gelap.

Gadis itu tersenyum dengan gembira. "Terima kasih!" katanya mengeratkan gengaman tangannya dengan Arases. Sekali dari waktu mereka pertama kali bertemu, akhirnya Arases mengeluarkan senyumannya, walaupun tipis.

"Eh, eh, Arases," ucap Merli gembira. "Boleh foto bareng, enggak?"

"Ya," ucapnya singkat. Merli segera mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu menyetel kamera yang menghadap depan.

Timer berjalan, dan berhasillah mengambil gambar momen yang tidak akan dilupakan Merli seumur hidup. Wajahnya begitu gembira.

"Terima kasih!" cup. Dengan refleks Merli berjinjit dan mengecup pipi Arases secara singkat. Gadis itu tersadar, dan menutup wajahnya dengan tangan.

"Ah, maaf!" Merli perlu memalingkan wajahnya agar wajahnya tidak terlihat begitu panas dan memerah.

Arases menghilangkan senyuman di wajahnya, dan kembali menarik Merli dengan agak kasar. Merli kelimbungan untuk menyesuaikan irama langkah Arases.

"Arases," panggil gadis itu pelan. Namun Arases tidak merespon. Ia terus berjalan dengan cepat, membiarkan Merli berusaha keras mengikuti langkahnya. "Araseeees," panggilnya sekali lagi. Dan lagi-lagi Arases tidak merespon apapun. Akhirnya gadis itu harus berteriak agak keras. "Arases Lindonrofth! Tunggu!"

Bruk. Gadis itu terjatuh tersungkur. Napasnya tersenggal-senggal, dan terasa nyeri luar biasa di kakinya. Dengan tangan kiri yang masih digenggam Arases, tangan kanannnya mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata.

Kali ini bukan saja rasa sakit dari pergelangan kakinya, namun dengan tambahan lututnya yang lecet akibat terseret. Arases segera berjongkok, menyentuh pundak gadis itu. Merli mendongakkan wajahnya.

"Ada apa denganmu? Tadi bersifat baik, kali ini tidak peduli! Kenapa? Kenapa kamu membuatku sangat bingung!?" ucap Merli dengan wajah berkaca-kaca. Tidak dapat ditahan lagi, air mata kembali mengalir di wajahnya. Tangan kanannya masih menyentuh pipinya, berusaha mengusap berkali-kali air mata yang terus-terusan keluar.

"Maafkan aku," lanjut gadis itu. "Maafkan aku sudah melakukan hal yang tidak kamu sukai. Maafkan aku." Kali ini ia tidak lagi memandang Arases. Ia menunduk sambil mengusap air matanya bibirnya yang nyaris memekikkan tangisan tertahan.

"Bukan," ucap Arases kelabakkan. "Aku yang seharusnya meminta maaf…"

"Akulah yang membuatmu tidak nyaman, maafkan aku…" ucap gadis itu lagi.

Ia kembali tersedu-sedu. Kali ini Arases terdiam. Ia tidak berkata satu patah katapun. Kecanggungan menyelimuti mereka berdua. Beberapa orang menonton mereka. Namun para pengunjung segera menghiraukan saat melihat dengkul dan pergelangan kaki Merli mengeluarkan darah. Mereka berpikir pasti gadis itu menangis akibat luka yang ia dapatkan. Akhirnya Arases mengeluarkan kata-kata.

"Merli."

Merli? Darimana ia tahu namaku Merli? Gadis itu mendonggakkan kepalanya. Tiba-tiba saja Merli merasakan sensasi nyaman luar biasa yang berada di bibirnya. Sentuhan lembut yang membuat gadis itu tidak dapat berhenti berdebar-debar menyelimuti hatinya. Merli memejamkan matanya, menikmati rasa getaran yang membuat dirinya begitu lega.

Setelah beberapa detik, kedua mahluk itu dipisahkan. Kali ini, wajah Arases terlihat begitu berkilauan dan begitu tampan.

"Maafkan aku," ucap Arases menunduk. Sebelum Merli bertanya apa-apa, pemuda itu menarik rambutnya sehingga jatuh helaian bewarna putih dan hitam di pundaknya. Merli terkesiap.

"Longya," ucap gadis itu nyaris berbisik. Pemuda berambut panjang itu menundukkan kepalanya sedikit. "Kamu…"

"Maafkan aku," kata Longya, atau Arases, mengulangi lagi. "Sebenarnya, aku sudah jatuh cinta denganmu sebelum kita bertemu. Waktu SMA, aku melihatmu saat menjemput Ann. Kamu tampak begitu cantik. Dan beruntung sekali saat kamu masuk ke dalam penerbitanku," ucapnya. Ia menarik napas yang dalam, lalu melanjutkannya. "Namun hal keberuntungan seperti ini tidak dapat menaikkan rasa percaya diriku. Aku semakin malu dan nyaris tidak pernah bicara denganmu. Kupikir, saat inilah saat yang tepat untuk mendekatimu."

Merli menutup mulutnya. Ia tampak berpikir keras. Longya merasa jantungnya berdebar-debar, tidak dapat tenang sedikitpun. Namun, akhirnya senyuman mengembang pada wajah gadis berkulit hitam itu.

"Tapi, aku sangat menyukaimu. Bukan saat kamu menjadi Arases ataupun menjadi pekerja keras di kantor, tapi saat kamu menjadi dirimu apa adanya. Longya yang tidak banyak bicara dan sangat pemalu," ucap Merli tersenyum begitu manis.

Longya membalas senyuman Merli. Wajah mereka didekatkan, berciuman bagaikan hanya merekalah makhluk yang ada di dunia ini. Saling mengikat, tidak mau saling kehilangan. Rasa gentir yang memenuhi dada kedua orang itu memang begitu mengganggu, tapi cinta yang meluap tidak dapat menutupinya.

Begitu wajah mereka dipisahkan, keduanya tertawa kecil.


Saat mereka kembali ke booth mereka, tidak ada satupun yang merasa curiga terhadap keduanya. Namun semua dapat dengan mudah mengenali pemimpin penerbitan mereka itu. Tidak untuk Merli. Sampai akhir, dia tidak dapat mengenali Longya sama sekali.

"Merli, kenapa kamu tiba-tiba bisa bersama kakak?" ucap Ann heran. Namun Merli hanya tersenyum simpul. Tangannya yang bergandengan dengan Longya tidak ia lepaskan sekalipun.

"Hei, Nana."

"Ya?"

"Kau tahu, aku semakin mencintai Arases!"

"Haa? Bukannya sejak dulu kamu sudah menyukai tokohmu itu?"

"Ufufufu," gadis itu tertawa kecil.

"Longya? Ada apa dengan wajahmu!? Begitu merah! Kamu habis olahraga, ya!?"

"Berisik."

Love Detected.

Gotcha.